Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Social Empirical

Sudut Pandang Spiral of Silence Theory Dalam Kelompok Minoritas Aziz, Muhammad Hanif; Mutiara Maharani; Ayu Adriyani; AB Sarca Putera
Social Empirical Vol. 1 No. 2 (2024): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v1i2.36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) sebagai kaum minoritas menggunakan teori spiral of silence. Penelitian ini penting karena menunjukkan hubungan antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, opini publik tersebar di media massa dapat mempengaruhi perilaku komunikasi dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research), metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber tertulis yang relevan, termasuk buku, artikel jurnal, dan laporan penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teori spiral of silence, yang disebutkan oleh Elizabeth Noelle-Neumann, mengatakan bahwa individu cenderung untuk tetap diam jika pandangan mereka berlawanan dengan opini mayoritas yang didukung oleh media massa. Namun pada contoh kasus yang penulis buat kaum minoritas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) telah memudarkan persepsi dari Teori spiral of silence karena yang sepatutnya hanya diam, kini berani bersuara.
Identitas yang Terbuka: Doxing dan Urgensi Keamanan Serta Etika Komunikasi di Era Media Baru Hazel Revano Akbar; Hasanatul Awaliyah; Halimah Tusaddiyah; Disty Adinda Putri; Dea Nanda Nayla Aprilia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.197

Abstract

Saat ini, kita telah memasuki era perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, perkembangan ini mencakup berbagai bidang. Salah satu bidang yang juga mengalami perkembangan pesat adalah bidang komunikasi, komunikasi digital adalah bentuk dari perkembangan teknologi digital yang menghasilkan media sosial. Media sosial merupakan bentuk komunikasi baru yang membuat orang bisa bebas berekspresi di dalamnya, namun banyak orang yang menyalahgunakan kebebasan ini seperti menyebarkan informasi pribadi seseorang yang disebut dengan doxing. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana bentuk kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap praktik doxing. Penelitian ini juga memperluas pembahasan pada upaya edukatif dan kesadaran digital yang harus dibangun agar dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab di media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang melibatkan beberapa informan dengan mengumpulkan data atau jawaban informan terkait masalah doxing dengan cara wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ternyata masih banyak orang yang belum memahami masalah doxing dan menganggap hal itu sepele. Hal ini tentu perlu diatasi salah satunya dengan membuat konten tentang doxing atau melibatkan lembaga komunikasi untuk membuat sosialisasi mengenai bahayanya doxing dan pentingnya etika dalam media sosial.
Fenomena Flexing Influencer di Media Sosial: Antara Gaya Hidup dan Pengaruh ke Audiens Zultan, Aquina; Dimas Naufal Kurniawan; Hafizh Ramadhan; Alysha Ayuna Azzahra; Ervina Nisa Septiani; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.201

Abstract

Fenomena flexing di media sosial semakin marak seiring dengan berkembangnya budaya digital dan meningkatnya peran influencer sebagai pembentuk opini publik. Flexing tidak hanya dimaknai sebagai pamer harta kekayaan, tetapi juga sebagai strategi membangun citra diri dan identitas digital di ruang publik virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana influencer memanfaatkan konten flexing sebagai bagian dari personal branding serta bagaimana pengaruhnya terhadap audiens. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan analisis isi terhadap konten flexing yang diunggah oleh dua influencer TikTok, yaitu Reuzuki Ari dan Reza Gladys. Data dikumpulkan melalui observasi konten, dokumentasi, serta analisis komentar audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing digunakan sebagai alat komunikasi simbolik untuk menunjukkan status sosial, keberhasilan finansial, dan legitimasi diri di media sosial. Konten seperti unboxing barang mewah, pamer koleksi, dan gaya hidup eksklusif mampu meningkatkan interaksi audiens sekaligus membentuk standar kesuksesan yang bersifat materialistik. Namun, fenomena ini juga berpotensi mendorong perbandingan sosial dan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa flexing merupakan bentuk self-disclosure yang dikomodifikasi dalam budaya populer digital dan memiliki dampak signifikan terhadap persepsi audiens mengenai gaya hidup dan kesuksesan.
Mengidentifikasi Peran Platform Media Baru dalam Memfasilitasi dan Menghambat Penyebaran Revenge Porn Fitri Muliani; Azzizullah Cardova; Dirga Wira Sakti; Farelino Ernata; Habib Maulana; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.211

Abstract

Dengan kemajuan teknologi tindak pidana tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata tetapi juga bisa dilakukan di dunia maya salah satunya adalah revenge porn. Revenge porn atau porno balas dendam merupakan bentuk utama dari kekerasan berbasis gender online (KBGO). Tindakan ini merujuk pada penyebaran foto atau vidio intim seseorang tanpa persetujuan dari sang korban. Hal ini sering dilakukan oleh mantan pasangan yang sakit hati, sering kali dilakukan dengan motif balas dendam dengan tujuan untuk mempermalukan korban di ruang digital. Dengan kemajuan teknologi revenge porn dapat dilakukan dengan mudah melalui platform / aplikasi digital. Salah satu platform digital tersebut meliputi whatsapp, Instagram, telegram, dan tiktok. Pelaku bertujuan untuk membuat korban mengalami kerugian psikologis, sosial, dan ekonomi yang mendalam. Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk mengidentifikasi platform digital yang memfasilitasi dan menghambat penyebaran revenge porn. Hasil penelitian ini menyimpulkan whatsapp dan Instagram memiliki system keamanan yang kurang terhadap konten foto atau video yang diupload oleh pengguna. Ini menyebabkan pelaku dapat dengan mudah menyebarkan dan mengupload materi visual korban. Baik di akun pelaku maupun di akun korban sendiri.
Fenomena AI Polaroid: Alasan di Balik Tren Visual yang Diikuti Remaja Ariiq Sean Qois; Fesra Cania; Hana Azzahra; Indah Reztu Putri; Irma Aulia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.399

Abstract

Teknologi kecerdasan buatan (AI) belakangan ini berkembang sangat pesat sehingga membawa pengaruh besar bagi kehidupan remaja. Salah satu yang sedang ramai di media sosial terutama Tiktok dan Instagram adalah tren penggunaan aplikasi "AI Polaroid". Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana tren AI Polaroid tersebut berpengaruh terhadap perilaku, cara pandang diri (persepsi diri), dan proses pembentukan identitas di kalangan remaja bahkan pembentukan makna setiap individu. Untuk mengetahuinya, kami menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan melakukan wawancara mendalam dengan tiga remaja yang aktif menggunakan AI Polaroid serta mengamati media sosial untuk menganalisis bagaimana kalangan remaja mengikuti tren tersebut, serta membaca penelitian lain yang berkaitan dengan dampak visual AI terhadap pembentukan diri remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya latarbelakang yang mempengaruhi remaja untuk mengikuti tren AI Polaroid dimana mereka menggunakan AI Polaroid karena visual yang dihasilkan menarik bahkan adanya hasil penggabungan foto dengan pasangan, idol bahkan orang yang telah meninggal serta alternatif dalam pembentukan diri serta pemaknaan dalam bentuk cinta dikalangan remaja. Tren ini ternyata juga memunculkan tekanan sosial agar remaja menampilkan versi diri mereka yang lebih ideal di dunia maya. Lebih jauh, fenomena ini menimbulkan beberapa masalah etika, seperti manipulasi gambar, pandangan yang keliru terhadap identitas diri, serta bahaya ketergantungan pada pengakuan atau validasi sosial (misalnya, jumlah like atau pujian). Kesimpulannya, tren AI Polaroid ini mencerminkan cara baru berkomunikasi menggunakan gambar (visual) di era digital. Hal ini perlu diimbangi dengan literasi media dan kesadaran di kalangan remaja akan manipulasi data. Tujuannya agar remaja dapat menggunakan AI bijak dan sesuai kebutuhan untuk meminimalisir resiko yang tidak diinginkan.
Pola Komunikasi dalam Interaksi Daring pada Aplikasi Bumble Rivansa, Andika; Vayra, Atha; Zenika, Athifah Farraz; Purwita, Chelsi Anggraini; Aulia, Devina Miranda; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.401

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara individu membangun dan mempertahankan hubungan, termasuk dalam proses mencari pasangan melalui aplikasi kencan online. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis bagaimana komunikasi digital memiliki peranan yang penting untuk membangun kedekatan emosional antar individu yang terlibat dalam hubungan daring. metode Penelitian yang digunakan pada paper ini menerapkan metode kualitatif melalui hasil observasi yang disertakan dengan dokumentasi serta analisis konten yang diperkuat dengan literatur pendukung untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai pola komunikasi dalam aplikasi Bumble. Hasil penelitian terhadap pengalaman pengguna Bumble menunjukkan bahwa interaksi yang terbentuk di dalam aplikasi mencerminkan karakteristik utama komunikasi digital dan media baru. Namun, komunikasi dalam bumbble juga rentan tidak berlanjut. Banyak percakapan berhenti tiba-tiba, baik karena tidak adanya kecocokan, rasa bosan, ataupun ketidaknyamanan dalam berinteraksi. Pemanfaatan Bumble menunjukkan bahwa komunikasi digital dapat membangun hubungan sosial yang bermakna, meskipun efektivitasnya juga dipengaruhi oleh kualitas interaksi, etika berkomunikasi, serta kesadaran pengguna dalam menggunakan platform tersebut.
Dinamika Tantangan dalam Praktik Street Photography di Era Digital Yussania, Ramadhani; Fitri Khairani Daulay; Hafizhah Zulfha; Azalia Evandriani; Anggara Okta Syahputra; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.402

Abstract

Street photography merupakan jenis fotografi yang merekam aktivitas kehidupan sehari-hari di ruang publik secara spontan dan apa adanya. Dalam praktiknya, street photography menghadapi berbagai tantangan yang semakin berkembang, terutama seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan norma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membahas tantangan yang dihadapi fotografer jalanan dalam praktik street photography masa kini. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah berbagai literatur akademik, seperti artikel jurnal dan buku yang membahas street photography. Hasil kajian menunjukkan bahwa fotografer jalanan menghadapi berbagai persoalan yang saling berkaitan, meliputi aspek etika, moral subjek, hukum, dan dampak teknologi. Tantangan etika muncul dari pertentangan antara kebebasan berekspresi fotografer dan penghormatan terhadap privasi serta martabat subjek foto. Dari sisi hukum, aturan mengenai fotografi di ruang publik berbeda-beda di setiap wilayah hukum, sehingga memengaruhi praktik fotografi yang dilakukan. Selain itu, perbedaan budaya menuntut fotografer untuk memahami norma dan aturan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Penyebaran foto melalui media digital juga menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab fotografer terhadap subjek dan komunitas yang difoto. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik street photography masa kini membutuhkan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial, serta kesadaran fotografer terhadap dampak dari foto yang mereka ambil dan bagikan.
Analisis Feminist Standpoint Theory: Perempuan Sebagai Objek Dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Yuliandra, Nisrina Alifah; M. Tsaqif Al Hakim; Miftahul Jannah; AB Sarca Putera; Ayu Adriyani; Syifa Chairunnisa Viandra
Social Empirical Vol. 1 No. 2 (2024): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v1i2.31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” merepresentasikan kebudayaan Minangkabau yang matrilineal dan bagaimana film tersebut terkait dengan teori feminisme. menganalisis permasalahan gender terutama tokoh perempuan yang ada di dalam film dan dengan memahami kasus tenggelamnya kapal van der wijck dengan mengkaitkan teori feminist standpoint theory agar peneliti dapat menganalisis dan memahami bagaimana perempuan dipersentasikan dalam film tersebut dan bagaimana melihat konflik yang terjadi dalam masyarakat adat minangkabau di dalam film serta bagaimana kasus tersebut terkait dengan paham patriarki yang dianut oleh pemerintah. Pentingnya penelitian ini karena membantu memahami bagaimana film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” merepresentasikan Kebudayaan Minangkabau yang matrilineal dan bagaimana itu terkait dengan teori feminisme. Hasil penelitian ini juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perempuan dalam masyarakat dan bagaimana mereka dapat berkontribusi setara dengan laki-laki. Film juga menceritakan hal yang dialami oleh perempuan, serta sosok perempuan yang lemah dan tak berdaya, sedangkan laki-laki dipresentasikan sebagai sosok yang kuat dan mampu bertahan dengan segala keterpurukannya.
Penerapan Agenda Setting Theory dalam Podcast Youtube Deddy Corbuzier Episode Ragil Mahardika Velisa, Nadia Kirana Velisa; Nadiva Nadiva; Najwa Nabilah; AB Sarca Putera; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 1 No. 2 (2024): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v1i2.32

Abstract

Agenda setting theory merupakan konsep dalam media massa yang berfokus pada bagaimana media memengaruhi topik dalam agenda publik dan juga menghitung seberapa besar media memengaruhi topik yang dianggap penting oleh publik. Artikel ini menyoroti penerapan agenda setting theory pada salah satu podcast YouTube Deddy Corbuzier yaitu episode Ragil Mahardika. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa isu-isu yang mendominasi dalam media berpengaruh terhadap pengaturan agenda publik, serta pemilihan isu tertentu dalam media dapat menarik perhatian serta membentuk persepsi publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan penelusuran dan pengumpulan data historis, serta konten terdahulu yang berhubungan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa episode Ragil Mahardika tersebut berhasil memengaruhi audiens secara dominan dalam sisi negatif, dibuktikan dengan kecaman para audiens melalui komentar pada media sosial karena, YouTuber tersebut menyajikan konten pasangan lawan jenis (LGBT) dan dianggap memberi panggung terhadap perilaku yang menyimpang tersebut. Seperti yang diketahui, di Indonesia pasangan lawan jenis (LGBT) mendapatkan penolakan dari berbagai lapisan masyarakat, hal ini juga menjadi penyebab terjadinya kecaman dan komentar negatif dari pada audiens.
Transformasi Ekonomi di Era Network Society: Penggunaan Gopay Sebagai E-Wallet Okvita, Kristin Okvita; Muhammad Zulrifky Ramadhan; AB Sarca Putera; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 1 No. 2 (2024): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v1i2.34

Abstract

Network Society merupakan salah satu dari banyaknya teori yang digagas oleh para ahli untuk menjelaskan perubahan dan fenomena aktivitas komunikasi yang terjadi di kalangan masyarakat jaringan. Network Society Theory atau yang lebih dikenal sebagai teori masyarakat jaringan ini merupakan teori yang pertama kali dikenalkan oleh Mc Luhan dalam konsep global village electronic age miliknya. Teori ini lalu dikembangkan lagi dan kemudian dikemukakan oleh Manuel Castells. Dalam penelitiannya Castells memberikan wawasan mendalam tentang cara masyarakat dan interaksi sosial dibentuk oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), sampai pada transformasi ekonomi yang terjadi dikalangan masyarakat jaringan, salah satu contohnya adalah penggunaan aplikasi GoPay sebagai E-Wallet, yang menjadi fokus penelitian pada artikel ini. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana peran dan dampak penggunaan GoPay sebagai e-wallet pada masyarakat jaringan di Indonesia. Hal ini menjadi sangat penting untuk dipelajari karena memberikan pemahaman tentang dampak dan perubahan ekonomi yang dialami masyarakat selama menggunakan GoPay sebagai E-Wallet untuk bertransaksi, belanja hingga mengelola keuangan. Dalam penulisan artikel ini penulis menggunakan metode studi pustaka untuk mendapatkan data serta informasi yang relevan yang bersumber dari buku, artikel, hingga penelitian terdahulu mengenai topik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan GoPay sebagai E-Wallet memberikan dampak perubahan pada perilaku konsumen serta tantangan yang dihadapi oleh masyarakat jaringan seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin berkembang pesat.