Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pemetaan Komoditas Basis di Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar Muhammad Anshar; Irsyadi Siradjuddin
TATALOKA Vol 23, No 3 (2021): Volume 23 No. 3, August 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.23.3.354-362

Abstract

The policy for commodity development in Polongbakeng Utara District has not been able to optimize its natural resource potential. One of the efforts to optimize this potential is the identification of food crops basis commodities by potential mapping in each village in Polongbangkeng Utara District. This study aims to identify the food crops commodity which is a basis commodity and to make the basis commodities mapping in Polongbangkeng Utara District. The analytical method used is LQ analysis and Ar-GIS mapping. The results showed that the food crops commodities which were the basis commodities in Polongbangkeng Utara District were rice, corn, green beans, cassava and sweet potatoes. Palleko is a village that has the most basis commodities with 4 basis commodities, namely rice, green beans, cassava and sweet potato. Rice and sweet potato commodities are the most basis commodities because they are the basis for 12 villages out of 18 villages in Polongbangkeng Utara district. Base commodity mapping was carried out on 5 food crop commodities. Mapping results show that there are more non-basis commodity polygons (50 polygons) than basis commodity polygons (40 polygons).
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN BERKELANJUTAN DI DESA WATOBUKU, KECAMATAN SOLOR TIMUR, KABUPATEN FLORES TIMUR Faujan Al Mukarim; Irsyadi Siradjuddin; Siti Fatimah
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v10i1.18017

Abstract

Minapolitan adalah kawasan yang terdiri dari sentra-sentra produksi perdagangan komoditas kelautan dan perikanan. pengembangan sector perikanan hanya dapat dirumuskan secara cepat dan tepat, baik perikanan budi daya maupun perikanan tangkap. Desa Watobuku merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan permukiman dan perdagangan khususnya hasil laut. Sehingga  dalam pengembangan kawasan permukiman pesisir di Desa Watobuku sebagai kawasan minapolitan adalah melalui langkah-langkah yang strategis dalam rangka menciptakan kesejahteraan nelayan. Langkah-langkah tersebut adalah: 1) Bagaimana potensi perikanan di Desa Watobuku dalam mendukung pengembangan kawasan minapolitan? Dan. 2) Bagaimana strategi untuk mewujudkan Kawasan Minapolitan yang berkelanjutan  di Desa Watobuku?. Metode dalam penelitian ini adalah analisis Location Quotient  (LQ) dan analisis SWOT. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir Desa Watobuku melalui konsep pengembangan kawasan minapolitan berkelanjutan.
Studi Perkembangan Kawasan Permukiman di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Yuliana Sari; Irsyadi Siradjuddin; Andi Idham AP.
Jurnal Penataan Ruang Vol 16, No 1 (2021): Jurnal Penataan Ruang 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v16i1.8145

Abstract

Pembangunan kawasan permukiman di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat seiring dengan adanya kebijakan percepatan pmbangunan nasional. Adanya perkembangan kawasan permukiman meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari skala lokal kawasan hingga nasional. Salah satu daerah dengan pengembangan kawasan permukiman yang pesat adalah Kecamatan Somba Opu. Kecamatan Somba Opu memiliki pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kebutuhan permukiman yang tinggi. Pertumbuhan penduduk pada 5 tahun terakhir meningkat 143.761 jiwa pada tahun 2014 kemudian menjadi 162.855 jiwa pada tahhun 2019. Peningkatan tersebut berdampak kebutuhan perumahan dan permukiman yang semakin pesat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan permukiman tahun 2009 -2019, menganalisis kesesuaian lahan permukiman Kecamatan Somba Opu. Metode analisis menggunakan analisis overlay pada penggunaan lahan di Kecamatan Somba Opu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terdapat kenaikan perubahan lahan menjadi lahan permukiman sebesar 236,62 Ha serta banyak ditemukan ketidaksesuaian penggunaan lahan permukiman. Kesesuaian lahan permukiman sebesar 1.066,59 Ha (71,29%) dan terdapat 429,61 Ha (28 71%) lahan yang tidak memiliki kesesuaian dengan RTRW Kabupaten Gowa.
Evaluasi Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Bulukumba Nurfaila Tasni; Irsyadi Siradjuddin; Fadhil Surur
Uniplan: Journal of Urban and Regional Planning Vol 2, No 2 (2021): September
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.31 KB) | DOI: 10.26418/uniplan.v2i2.46721

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bulukumba, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Bulukumba ditetapkan sebagai kawasan pembangunan minapolitan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 35 / KEPMEN-KP / 2013, untuk melihat optimalisasi program pembangunan maka diperlukan monitoring sebagai bentuk evaluasi, sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat infrastruktur yang tersedia di kawasan Minapolitan dan untuk mengetahui sejauh mana implementasi program di kawasan Minapolitan Kabupaten Bulukumba. Batasan t penelitian ini adalah melihat kesesuaian dokumen perencanaan dengan kondisi eksisting, mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan perencanaan, produksi perikanan, dan kendala dalam pengembangannya serta cakupan wilayahnya merupakan kawasan Minapolitan Bulukumba yang terdapat pada Kawasan Minapolitan Bulukumba. Rencana. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2011 - 2031. Untuk menjawab rumusan masalah pertama dan kedua digunakan analisis skala likert dengan metode scoring berdasarkan hasil observasi dan wawancara sebagai langkah evaluasi, dimana proses evaluasi dilaksanakan dengan rencana yang seharusnya. Hasil dalam penelitian ini untuk masalah pertama menyatakan hasil evaluasi bahwa implementasi kawasan minapolitan berdasarkan ketersediaan fasilitas mencapai 44,6% dengan kategori prasarana kurang baik mencapai 66% pada kategori sedang sehingga masih banyak yang dibutuhkan. untuk direalisasikan dan jawaban dari rumusan masalah kedua yaitu Tingkat implementasi program dalam pembangunan kawasan minapolitan di Kabupaten Bulukumba sudah mencapai 80% dengan kategori baik secara keseluruhan program telah dilaksanakan, namun perlu adanya optimasi. Sehingga dampak program tersebut menyentuh seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat yang membutuhkan bantuan pemerintah seperti pemberian permodalan (home industry) sehingga memudahkan masyarakat dalam menjalankan usahanya sendiri.
Land Suitability and Potential Agriculture Analysis to Regional Development Based on Agro-Tourism Muhammad Anshar; Irsyadi Siradjuddin; Muhammad Rezki; Amirin kusmiran
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 2 (2022): JPWK Volume 18 No. 2 June 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i2.37531

Abstract

Bontolempangan District is one of the districts included in the spatial planning area of the Gowa Regency. The development of tourism potential and agricultural land resources is a major part of the Gowa Regency spatial plan (RTRW 2012-2032). Therefore, this research investigates the potential of agricultural commodities and the carrying capacity of their land so that they can be used as a reference to become an agricultural-based tourism area. The agricultural potential was analyzed using the location quotient (LQ) and dynamic location quotient (DLQ) methods, while the carrying capacity of agricultural land was analyzed using land suitability analysis. From the LQ and DLQ analysis, robusta coffee, cocoa, cashew, candlenut, and arabica coffee are the leading agricultural commodities. Based on the land suitability analysis, the carrying capacity of the land for superior agricultural commodities is categorized into themoderate suitable level (S2) with an area of 2968.22 ha for Robusta coffee, 1202.30 ha of cocholate, 2227.22 ha of cashew nuts, 2253.47 ha of candlenut, 3235.91 ha of Arabica coffee ha, and sweet potatoes covering an area of 952.78 ha. Thus, leading agricultural commodities can be developed into agricultural-based tourism areas or agro-tourism.
Strategi Pengembangan Kecamatan Enrekang Berbasis Indeks Desa Membangun Zalfa Salsabila; Irsyadi Siradjuddin; Nurfatimah Nurfatimah
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v8i1.2024.30-40

Abstract

The implementation of village development has been regulated by the government throught Law No. 6/2014 on Villages. Article 78 of the Village Law states that village development is an activity that aims to improve the welfare and quality of life of the village community through the fulfillment of basic needs, the development of village facilities and infrastructure, and the development of the local economy through the sustainable use of resources.  To determine the target locus for alleviating underdeveloped villages, the government developed the Village Development Index (IDM), which serves as a map for village development. The IDM consists of the Social Resilience Index (IKS); Economic Resilience Index (IKE); and Environmental Resilience Index (IKL), which is a translation of the development needs set out in article 74 paragraph (2) of the Village Law. The Village Development Index is not only useful to determine the development status of each village, which is closely related to its characteristics, but can also be developed as an instrument for targeting village development. The purpose of this study was to determine the classification of village status and to determine the development strategy of village development in Enrekang Sub-district. The benefit of this research is as a reference for the local government in implementing village development programs in Enrekang District. The research methods used in this study are qualitative and quantitative methods with research locations located in 12 villages in Enrekang District, Enrekang Regency. The analysis technique used is Village Development Index Analysis and SWOT Analysis with data collection techniques namely observation, interviews, and questionnaires. The results of this study determine the classification of village status of 12 villages in Enrekang Sub-district and determine the strategy for developing village potential in Enrekang Sub-district.
Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan Berbasis Potensi Pertanian Siradjuddin, Irsyadi
REKA RUANG Vol 6 No 1 (2023): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/rkr.v6i1.2275

Abstract

The village of Pa'rappunganta has a large agricultural area, but there is no sustainable agricultural zone development. Establishing a sustainable rural zone requires identifying the main crops and creating strategies and guidelines for sustainable rural zone development. The purpose of the research is to identify main crops and create strategies and guidelines for sustainable rural zone development in Pa'rappunganta village. The research was conducted from March to June 2019 using LQ, Shift Share, Classification Typology, and SWOT analysis methods. The results showed that the main crop is sugarcane, while corn and chili are the secondary crops. Sugarcane is used to supply the Takalar Sugar Factory, while corn and chili are consumed by households and also supplied to other areas for food and horticulture needs. The strategy for developing Pa'rappunganta village as a sustainable agricultural zone is by developing the potential sector, which is the agricultural sector (sugarcane, corn, and chili), as it has suitable land resources. The guidelines for development in Pa'rappunganta village include the establishment of agroindustrial infrastructure, empowering the community, developing basic crops and high-value crops to increase export value outside the region, diversifying agricultural products to increase sales value, and establishing rural zone organizations/communities.
Strategi pengembangan potensi desa berbasis indeks desa membangun Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang Akbar, Muhammad Yarham; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani
Teknosains Vol 18 No 1 (2024): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v18i1.41772

Abstract

Indeks Pembangunan Desa atau dikenal dengan IDM bertujuan untuk mengintensifkan upaya pencapaian tujuan pembangunan desa dan kawasan perdesaan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 (RPJMN 2015-2019). Tujuan pembangunan tersebut memerlukan kejelasan lokasi (desa) dan status pembangunannya. Pemerintah telah menempuh berbagai bentuk dan program untuk mempercepat pembangunan desa, namun pengaruhnya dalam peningkatan kualitas hidup tidak signifikan dan kesejahteraan rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis potensi desa yang ada di Kecamatan Baraka, mengetahui kemajuan dan kemandirian desa, serta mengetahui arah strategi pengembangan potensi desa yang ada di Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang berdasarkan Indeks Pembangunan Desa. Penelitian ini melakukan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan mengembangkan analisis indeks desa dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian ini Kecamatan Baraka termasuk dalam kategori berkembang dengan skor rata-rata 0,631. Terdapat 12 desa di Kecamatan Baraka, salah satunya merupakan desa maju. Hasil analisis SWOT pada tahap kualitatif dan kuantitatif Kecamatan Baraka menunjukkan bahwa 11 dari 12 desa berada di kuadran I (positif, positif), dan 1 desa berada di kuadran II (positif, negatif). Strategi yang direkomendasikan adalah strategi diversifikasi.
Analisis pembangunan desa Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa melalui Indeks Desa Membangun Anshar, Muhammad; Siradjuddin, Irsyadi; Sari, Yuliana
Teknosains Vol 18 No 1 (2024): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v18i1.42700

Abstract

Pemetaan potensi desa dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan berguna untuk merumuskan strategi pengembangan desa. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu Indeks Desa Membangun untuk menilai klasifikasi kemandirian desa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembangunan desa se-Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa melalui potensi desa berdasarkan hasil identifikasi Indeks Desa Membangun (IDM) dan memetakan status pembangunan desa. Penelitian dilakukan di lima desa di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa dengan metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dan kualitatif menggunakan indikator IDM dari Kementerian Desa kemudian dibuat pemetaan status pembangunan desa menggunakan aplikasi GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi desa berdasarkan rataan nilai indeks ketahanan sosial sebesar 0,778, menunjukkan bahwa Kecamatan Parangloe memiliki potensi dalam membangun dan menjaga kesejahteraan sosial masyarakatnya. Rataan nilai indeks ketahanan ekonomi sebesar 0,663, menunjukkan bahwa Kecamatan Parangloe memiliki kegiatan ekonomi yang cukup beragam, didukung dengan keberadaan pasar dan toko/warung kelontong yang memadai. Sedangkan rataan nilai indeks ketahanan lingkungan sebesar 0,720 yang menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pemetaan pembangunan desa berdasarkan nilai IDM di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa terdapat 3 desa maju yaitu Desa Bulapunranga, Desa Lonjoboko, dan Desa Borisallo. Sedangkan 2 desa lainnya yaitu Desa Bontokassi dan Desa Belabori pada indeks berkembang sehingga nilai IDM Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa sebesar 0,721, menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kondisi pembangunannya berada pada status maju. Hal ini mengindikasikan bahwa secara keseluruhan Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa memiliki tingkat pembangunan yang relatif baik, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Arah Kebijakan dan Strategi Program Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau 2019-2024 Irdon; Gevisioner; Karyanti; Zakia, Ismon; Erwan, Edi; Romus, Mahendra; Taslapratama, Irwan; Yendraliza; Ali, Aryadi; Siradjuddin, Irsyadi; Efendi Harahap, Anwar; Misrianti, Restu
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran kegiatan penelitian dan pengembangan (kelitbangan) diharapkan mampu menghasilkan berbagai terobosan baru dalam mendukung optimalisasi kinerja pemerintah daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah secara tepat sasaran dan berdaya saing. Tujuan penelitian adalah menyusun rencana induk kelitbanganyang mengakomodir berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan dalam satu konsep rencana kelitbangan secara komprehensif dan sinergis. Jenis penelitian adalah kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara FGD dan studi literature. Beberapa peluang Kelitbangan Provinsi Riau adalah sebagai berikut: 1) Hasil kelitbangan berpeluang menjadi referensi utama dalam perumusan kebijakan di Provinsi Riau, 2) Menghasilkan berbagai inovasi untuk mempercepat pembangunan daerah, 3) Rujukan sumber data kelitbangan dan potensi Daerah. Untuk mewujudkan hal tersebut indikasi program prioritas kelitbangan daerah yang harus dilakukan dalam periode 2019-2024 adalah : 1) Program tata kelola pemerintahan danpelayanan publik, 2) Program sosial dan kemasyarakatan, 3) Program ekonomi dan pembangunan daerah, 4) Program inovasi dan pengembangan iptek.