Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

ANALISIS PEMBANGUNAN DESA MELALUI INDEKS DESA MEMBANGUN KECAMATAN PAJJUKUKANG KABUPATEN BANTAENG BERBASIS GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) MUHAMMAD ANSHAR; IRSYADI SIRADJUDDIN; YULIANA SARI
Jurnal INSTEK (Informatika Sains dan Teknologi) Vol 8 No 2 (2023): OCTOBER
Publisher : Department of Informatics Engineering, Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/instek.v8i2.42262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembangunan desa kecamatan Pajjukukang Kabupaten Bantaeng melalui potensi desa dan pemetaan status pembangunan desa melalui Geographic Informasi System (GIS). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif menggunakan indikator IDM dari Kementerian Desa menggunakan aplikasi Geographic Informasi System GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi desa didapatkan nilai rataan skor sebesar 0,728. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Pajukukang berada pada status Maju dalam hal pembangunan desa. Selanjutnya, dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai rataan indeks ketahanan sosial di Kecamatan Pajukukang sebesar 0,778, nilai rataan indeks ketahanan ekonomi sebesar 0,713 dan nilai rataan indeks ketahanan lingkungan sebesar 0,693. Hal ini menunjukkan bahwa kecamatan ini berhasil mencapai kemajuan dalam ketiga aspek tersebut. Nilai rataan yang tinggi pada ketiga indeks tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Pajukukang memiliki tingkat ketahanan yang baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan.
TINJAUAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN DALAM MENDUKUNG PRODUKTIVITAS PERTANIAN PERTANIAN DI DESA WATU KECAMATAN MARIORIWAWO KABUPATEN SOPPENG Ameilia, Aulia; G, Henny Haerany; Siradjuddin, Irsyadi
Jurnal Administrative Reform Vol 12, No 2 (2024): JURNAL ADMINISTRATIVE REFORM
Publisher : Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jar.v12i2.8288

Abstract

This research is a review of rural infrastructure in supporting agricultural productivity in Watu Village, Marioriwawo District, Soppeng Regency. The main problem in this research is how the availability of rural infrastructure affects agricultural productivity in Watu Village. This problem is viewed with a regional system approach and is discussed using the scoring analysis method and Chi Square analysis. The potential of the agricultural sector in Watu Village is quite large and the majority of the population make a living as farmers. The review of rural infrastructure in supporting agricultural productivity is one step to determine the extent of the influence of rural infrastructure in increasing agricultural productivity. The availability of adequate infrastructure is certainly able to support the increase in the area and existing agricultural products so that it can help improve the community's economy.
Strategi Pengembangan Infrastruktur Perdesaan Dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Pertanian Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone Indriani, Iin; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; Anshar, Muhammad
TATALOKA Vol 27, No 2 (2025): Volume 27 No. 2 May 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.27.2.138-160

Abstract

Kebijakan pengembangan infrastruktur kawasan perdesaan di Kecamatan Lappariaja belum mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Hal tersebut terlihat dari beberapa sarana seperti gudang pangan yang belum tersedia, jaringan jalan yang rusak, pemanfaatan jaringan telekomunikasi belum merata, serta ketersediaan jalan tani yang masih sulit di akses oleh para petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kondisi infrastruktur dan fasilitas wilayah perdesaan di Kecamatan Lappariaja, dan merumuskan strategi pengembangan infrastruktur perdesaan dalam mendukung pengembangan kawasan pertanian. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis skoring, sedangkan analisis deskriptif kualitatif yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil analisis tingkat kondisi infrastruktur di Kecamatan Lappariaja dalam kategori terpenuhi yaitu jaringan listrik, jembatan, irigasi, air bersih dan telekomunikasi. Sedangkan infrastruktur kategori sedang yaitu infrastruktur jalan dan jalan tani. Infrastruktur yang tidak terpenuhi yaitu gudang pangan. Strategi pengembangan, yaitu (a) memanfaatkan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sebagai arus distribusi perekonomian dibidang pertanian maupun perdagangan dan jasa. (b) rutin melakukan pemasokan kebutuhan air pada tanaman agar meningkatkan jumlah produktivitas pertanian secara cepat. (c) memanfaatkan ketersediaan listrik untuk menjalankan aktivitas disektor pertanian seperti penggunaan mesin pompa air irigasi ke lahan pertanian. (d) membangun infrastruktur gudang pangan untuk menyimpan dan memproses hasil-hasil tani. (e) perbaikan infrastruktur jalan penghubung antar desa serta perbaikan jalan tani agar dapat memperlancar proses  pengangkutan hasil produksi maupun mobilisasi alat-alat dan mesin pertanian.
Dampak Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng handayani, Sri Putri; Siradjuddin, Irsyadi; Idham AP, Andi; Anshar, Muhammad
Jurnal Kajian Ruang Vol 5, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v5i2.47506

Abstract

ABSTRAKKepadatan penduduk di suatu daerah seringkali memicu terjadinya alih fungsi lahan. Kondisi ini kemudian berdampak pada aspek ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan pertanian dan mengidentifikasi faktor serta dampak ekonominya. Studi ini penting untuk memahami efek jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi analisis data deskriptif kuantitatif, teknik overlay untuk melihat perubahan penggunaan lahan, serta uji Chi-Square guna menentukan faktor dan dampak ekonomi dari alih fungsi lahan pertanian. Hasil menunjukkan lahan pertanian menurun dari 7625,70 Ha (83,01%) pada 2014 menjadi 7164,44 Ha (77,99%) pada 2024 sementara lahan permukiman meningkat dari 562,86 Ha (6,13%) menjadi 860,38 Ha (9,37%). Faktor utama yang memengaruhi alih fungsi lahan meliputi jumlah dan kepadatan penduduk, pendidikan petani, infrastruktur, harga lahan, pendapatan, kebijakan, dan penyerapan tenaga kerja. Dampak positif dari segi ekonomi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru dan pergeseran struktur ekonomi masyarakat dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa. Dampak negatifnya berupa penyusutan lahan pertanian yang mengancam produksi pangan, memicu kenaikan harga bahan pokok, dan mengganggu kestabilan ekonomi petani. Penelitian ini penting bagi negara berkembang untuk memahami dampak jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan lahan.Kata Kunci: Perubahan Penggunaan lahan, Analisis Spasial, Alih Fungsi Lahan Pertanian, Dampak Ekonomi ABSTRACTPopulation density in an area often triggers land use change. This condition then has an impact on economic aspects. This study aims to analyze changes in agricultural land use and identify the factors and economic impacts. This study is important for understanding the long-term effects of land use change on environmental sustainability and community welfare. The methods used include quantitative descriptive data analysis, overlay techniques to observe changes in land use, and Chi-Square tests to determine the factors and economic impacts of agricultural land use change. The results show that agricultural land decreased from 7625.70 Ha (83.01%) in 2014 to 7164.44 Ha (77.99%) in 2024, while residential land increased from 562.86 Ha (6.13%) to 860.38 Ha (9.37%). The main factors influencing land conversion include population size and density, farmer education, infrastructure, land prices, income, policy, and labor absorption. The positive economic impact is the creation of new jobs and a shift in the community's economic structure from the agricultural sector to the industrial and service sectors. The negative impact is the reduction of agricultural land, which threatens food production, triggers an increase in the price of basic commodities, and disrupts the economic stability of farmers. This research is important for developing countries to understand the long-term impact of land conversion on environmental sustainability and welfare, as well as for consideration in land use decision-making.Keywords: Land Use Change, Agricultural Land Conversion, Spatial Analysis, Economic Impact
PENGEMBANGAN KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN LEMBANG TADONGKON BERDASARKAN ANALISIS LQ, SHIFT SHARE, DAN TIPOLOGI KLASSEN Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad
Jurnal Agroteknologi Vol 16, No 1 (2025): Agustus 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ja.v16i1.37998

Abstract

Lembang Tadongkon is a highland area with considerable potential for horticultural development. Its fertile soils, deeply rooted farming traditions, and the availability of local labor make it highly suitable for development as an agropolitan hub. This study aims to identify leading horticultural commodities in the region and formulate strategies for their sustainable development. The methods employed include Location Quotient (LQ) analysis, Shift Share analysis, and SWOT analysis. Data were obtained from both primary and secondary surveys and analyzed in two stages: qualitative SWOT (SWOT matrix) and quantitative SWOT (weighting and scoring). The results of the LQ, Shift Share, and Klassen typology analyses for eleven horticultural commodities in Lembang Tadongkon reveal that five commodities have LQ >1 spinach (1.21), cabe katokkon chili (1.07), long beans (1.24), water spinach (1.09), and eggplant (1.38) indicating that they are base commodities with strong development potential. However, only tomatoes exhibited positive growth in the Shift Share analysis (0.84), while the remaining commodities showed negative growth. According to the Klassen typology, all commodities remain in the “Lagging” category, as both their contribution and growth rates are below the regional average. Accordingly, strategies are required to enhance cultivation technology, post-harvest management, and institutional capacity to transform base commodities into sustainable leading commodities. Quantitative SWOT analysis positions Lembang Tadongkon in Quadrant I (progressive), indicating that the area possesses substantial strengths and opportunities for integrated development. Recommended strategies include production expansion, downstream product development, strengthening farmer organizations, and leveraging agro-tourism potential based on local flagship commodities.
IDENTIFIKASI POTENSI OBJEK DAYA TARIK WISATA DI DESA BISSOLORO SEBAGAI DESA WISATA BERBASIS ALAM Handayani, Sri; Hasyim, Hasan; Siradjuddin, Irsyadi
Teknosains Vol 17 No 1 (2023): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v17i1.33029

Abstract

Wisata alam mempunyai potensi yang besar dalam sistem kepariwisataan. Dalam pengembanganya, wisata alam menguntungkan dengan letak geografis dan keragaman sumber daya alam yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan wisata lainya. Kabupatem Gowa merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki banyak potensi obyek wisata yang menarik untuk dikembangkan, salah satunya wisata alam. Penelitian ini berujuan untuk mengetahui potensi objek daya tarik wisata di Kabupaten Gowa, tepatnya di Kecamatan Bungaya Desa Bissoloro serta untuk mengetahui karakteristik faktor yang menjadi pendukung daya tarik wisata alam di lokasi tersebut. Penelitian ini berlokasi di Desa Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Maret – September tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi objek daya tarik wisata di Desa Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa yaitu faktor yang menjadi pendukung daya tarik wisata alam tersebut sesuai dengan namanya yaitu wisata hutan pinus, antara lain wisata Hutan Pinus Moncong Sipolong, Hutan Pinus Rita Malompoa, Hutan Pinus Panorama, Hutan Pinus Tangkalaka, dan Hutan Pinus Selow adalah hutan pinusnya yang asri dan sejuk. Sedangkan objek wisata Puncak Tinambung Highland memiliki faktor daya tarik dengan pemandangan yang indah serta memiliki variabel dan indikator yang sudah terpenuhi. Hutan Pinus Moncong Sipolong, Hutan Pinus Rita Malompoa, Hutan Pinus Panorama, Hutan Pinus Tangkalaka, Hutan Pinus Selow, dan Puncak Tinambung sudah memenuhi semua indikator dalam karakteristik kawasan wisata alam namun terdapat faktor yang belum terpenuhi yaitu pada variabel something to buy, yaitu kawasan wisata alam ini belum mempunyai produk yang khas untuk diperjualbelikan pada wisatawan yang datang.
ANALYSIS OF SUPERIOR COMMODITIES AND DETERMINATION OF AGROPOLITAN ACTIVITY CENTER IN SANROBONE Siradjuddin, Irsyadi; Sari, Yuliana; Azizah, Nurul Wafiq
Agricultural Socio-Economics Journal Vol. 23 No. 4 (2023): OCTOBER
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agrise.2023.023.4.6

Abstract

The Takalar Regency Spatial Plan designates the Sanrobone sub-district as an area for the cultivation of food crops, horticultural crops, and plantations. Agriculture in Sanrobone plays a crucial role in fulfilling food needs and driving economic growth in rural areas. The research aims to identify superior commodities, determine the agropolitan activity center, and develop strategies for the agropolitan area in the Sanrobone sub-district. The study was conducted from June to November 2022, covering six villages in the Sanrobone sub-district. The analytical techniques employed include LQ analysis, Shift share analysis, Klassen typology, qualitative descriptive analysis, and SWOT analysis. The research findings reveal that the superior commodity of Sanrobone is Chili Pepper, while prospective commodities are Corn and Paddy, and the lagging commodity is Seagrass. The agropolitan activity center is the main farming town in Banyuanyara, with production centers in the village of Tonasa, and farmer collection towns in Paddinging, Ujung Baji, Lagaruda, and Sanrobone. The recommended strategy is a progressive approach, where empowering farmer groups can enhance the economy, especially in the agricultural sector. Encouraging farmer groups in each village to actively participate in established joint farming groups can boost the potential of food crop agriculture in each village and contribute to the development of the agropolitan area.
Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar Wahyuni, Sri; Siradjuddin, Irsyadi; Surur, Fadhil
Juvenil Vol 6, No 4: November (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i4.28326

Abstract

ABSTRAKPemilihan desa Ujung Baji sebagai lokasi penelitian karena merupakan sentra pengembangan rumput laut di Takalar. Mayoritas masyarakat berkegiatan sebagai petani budidaya rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi karakteristik kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar, serta 2) Memetakan kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Metode penentuan titik lokasi perairan dengan teknik random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis skoring dan analisis overlay. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Karakteristik kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji menunjukkan bahwa lahan yang berada pada perairan dalam merupakan lahan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut, hal ini didukung oleh parameter suhu 27 oC – 28 oC, salinitas 28 ppt – 31 ppt dan substrat pasir dengan kisaran sangat sesuai, serta parameter kedalaman 2,9 – 3,3 m, kecerahan 2,5 – 3,1 m, dan pH 7,42 – 7,66 dengan kisaran cukup sesuai. Hasil pemetaan kesesuaian lahan budidaya rumput laut di Desa Ujung Baji menunjukkan bahwa luas lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut yang ditinjau dari parameter-parameter pertumbuhan ekologis perairan menghasilkan dua kategori kesesuaian lahan rumput laut. Kategori lahan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut ditandai dengan warna kuning yang memiliki luas 303,77 ha yang berada pada perairan dan kategori lahan tidak sesuai untuk budidaya rumput laut ditandai dengan warna merah yang memiliki luas 204,37 ha yang berada pada perairan dalam dari total luas lahan keseluruhan yaitu 508,14 ha. Kata Kunci: Kesesuaian lahan, budidaya, rumput laut, Desa Ujung BajiABSTRACTUjung Baji village was chosen as the research location because it is the center for seaweed development in Takalar. The majority of people work as seaweed farmers. The aims of this research are 1) Identifying the suitability characteristics of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency, and 2) Map the suitability of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village, Sanrobone District, Takalar Regency. Method for determining water location points using random sampling technique. The data analysis used is scoring analysis and overlay analysis. Based on the research results, it was found that the suitability characteristics of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village show that land located in deep water is quite suitable land for seaweed cultivation, this is supported by temperature parameters of 27 oC - 28oC, salinity of 28 - 31 ppt and sand substrate. with a very suitable range, as well as depth parameters of 2.9 – 3.3 m, brightness 2.5 – 3.1 m, and pH 7.42 – 7.66 with a quite suitable range. The results of mapping the suitability of seaweed cultivation land in Ujung Baji Village show that the area of land suitable for developing seaweed cultivation in terms of aquatic ecological growth parameters produces two categories of seaweed land suitability. The land category that is quite suitable for seaweed cultivation is marked in yellow which has an area of 303.77 ha which is in waters and the land category which is not suitable for seaweed cultivation is marked in red which has an area of 204.37 ha which is in deep waters of the total area. The total land area is 508.14 ha. Keywords: Land suitability, cultivation, seaweed, Ujung Baji Village
STRATEGI KETERSEDIAAN LAHAN TERHADAP PENGEMBANGAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN KEERA Alvia, Melani; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; A.P., Andi Idham
REKA RUANG Vol. 8 No. 1 (2025): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan dan kebutuhan lahan dalam pengembangan pertanian pangan berkelanjutan di Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo. Dengan latar belakang penurunan luas lahan pertanian dan pertumbuhan populasi yang meningkat, penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan ketahanan pangan. Metode yang digunakan meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif, termasuk analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan yang tersedia di Kecamatan Keera sebesar 11.643,35 ha, sedangkan kebutuhan lahan mencapai 13.758 ha, mengindikasikan defisit lahan di delapan desa. Namun, dua desa, yaitu Desa Ciromanie dan Desa Keera, mengalami surplus lahan. Analisis SWOT menunjukkan bahwa Kecamatan Keera berada di Kuadran I, mencerminkan kondisi yang menguntungkan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan. Rekomendasi strategi mencakup pemanfaatan lahan tidak terpakai, penerapan praktik pertanian berkelanjutan, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lahan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kebijakan tata guna lahan dan pengembangan pertanian di Kecamatan Keera, serta mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.
DEVELOPMENT STRATEGIES OF VILLAGE-OWNED ENTERPRISES (BUMDES) TO SUPPORT ECONOMIC RESILIENCE IN TOMBOLO PAO DISTRICT, GOWA: Strategi Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi di Kecamatan Tombolo Pao, Gowa Anshar, Muhammad; Siradjuddin, Irsyadi
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.489

Abstract

This study aims to analyze the development classification status of Village-Owned Enterprises (Bumdes) and to develop strategies for Bumdes in supporting regional economic resilience in Tombolo Pao District, Gowa Regency. The assessment of Bumdes development is based on Presidential Regulation No. 11 of 2021 concerning Bumdes, covering variables such as institutional framework, regulations, Bumdes operations, administration, reporting and accountability, capital and assets, and the impact of Bumdes on the community. A SWOT analysis method was employed to formulate Bumdes development strategies. The results of the study indicate that the classification status of Bumdes development in the Tombolo Pao District is as follows: Advanced Bumdes in two villages, namely Pao with a score of 89 and Kanrepia with a score of 88. Developing Bumdes in four villages, namely Balaromang, Tonasa, Mamampang, and Erelembang, with scores of 83, 82, 81, and 77 respectively. Growing Bumdes are found in two villages, Tabbinjai and Balassuka, with scores of 74 each. The strategy for Bumdes to support regional economic resilience in Tombolo Pao is as follows: Advanced Bumdes need to maintain good performance, continue innovating, and expand their business networks. Developing Bumdes should strengthen governance, improve access to capital, and diversify their business ventures. Growing Bumdes need to build a strong foundation, develop human resource capacity, and focus on developing profitable businesses