Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

TINJAUAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN DALAM MENDUKUNG PRODUKTIVITAS PERTANIAN PERTANIAN DI DESA WATU KECAMATAN MARIORIWAWO KABUPATEN SOPPENG Ameilia, Aulia; G, Henny Haerany; Siradjuddin, Irsyadi
Jurnal Administrative Reform Vol 12, No 2 (2024): JURNAL ADMINISTRATIVE REFORM
Publisher : Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jar.v12i2.8288

Abstract

This research is a review of rural infrastructure in supporting agricultural productivity in Watu Village, Marioriwawo District, Soppeng Regency. The main problem in this research is how the availability of rural infrastructure affects agricultural productivity in Watu Village. This problem is viewed with a regional system approach and is discussed using the scoring analysis method and Chi Square analysis. The potential of the agricultural sector in Watu Village is quite large and the majority of the population make a living as farmers. The review of rural infrastructure in supporting agricultural productivity is one step to determine the extent of the influence of rural infrastructure in increasing agricultural productivity. The availability of adequate infrastructure is certainly able to support the increase in the area and existing agricultural products so that it can help improve the community's economy.
Strategi Pengembangan Infrastruktur Perdesaan Dalam Mendukung Pengembangan Kawasan Pertanian Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone Indriani, Iin; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; Anshar, Muhammad
TATALOKA Vol 27, No 2 (2025): Volume 27 No. 2 May 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.27.2.138-160

Abstract

Kebijakan pengembangan infrastruktur kawasan perdesaan di Kecamatan Lappariaja belum mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Hal tersebut terlihat dari beberapa sarana seperti gudang pangan yang belum tersedia, jaringan jalan yang rusak, pemanfaatan jaringan telekomunikasi belum merata, serta ketersediaan jalan tani yang masih sulit di akses oleh para petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kondisi infrastruktur dan fasilitas wilayah perdesaan di Kecamatan Lappariaja, dan merumuskan strategi pengembangan infrastruktur perdesaan dalam mendukung pengembangan kawasan pertanian. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis skoring, sedangkan analisis deskriptif kualitatif yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil analisis tingkat kondisi infrastruktur di Kecamatan Lappariaja dalam kategori terpenuhi yaitu jaringan listrik, jembatan, irigasi, air bersih dan telekomunikasi. Sedangkan infrastruktur kategori sedang yaitu infrastruktur jalan dan jalan tani. Infrastruktur yang tidak terpenuhi yaitu gudang pangan. Strategi pengembangan, yaitu (a) memanfaatkan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sebagai arus distribusi perekonomian dibidang pertanian maupun perdagangan dan jasa. (b) rutin melakukan pemasokan kebutuhan air pada tanaman agar meningkatkan jumlah produktivitas pertanian secara cepat. (c) memanfaatkan ketersediaan listrik untuk menjalankan aktivitas disektor pertanian seperti penggunaan mesin pompa air irigasi ke lahan pertanian. (d) membangun infrastruktur gudang pangan untuk menyimpan dan memproses hasil-hasil tani. (e) perbaikan infrastruktur jalan penghubung antar desa serta perbaikan jalan tani agar dapat memperlancar proses  pengangkutan hasil produksi maupun mobilisasi alat-alat dan mesin pertanian.
Dampak Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng handayani, Sri Putri; Siradjuddin, Irsyadi; Idham AP, Andi; Anshar, Muhammad
Jurnal Kajian Ruang Vol 5, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jkr.v5i2.47506

Abstract

ABSTRAKKepadatan penduduk di suatu daerah seringkali memicu terjadinya alih fungsi lahan. Kondisi ini kemudian berdampak pada aspek ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan pertanian dan mengidentifikasi faktor serta dampak ekonominya. Studi ini penting untuk memahami efek jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Metode yang digunakan meliputi analisis data deskriptif kuantitatif, teknik overlay untuk melihat perubahan penggunaan lahan, serta uji Chi-Square guna menentukan faktor dan dampak ekonomi dari alih fungsi lahan pertanian. Hasil menunjukkan lahan pertanian menurun dari 7625,70 Ha (83,01%) pada 2014 menjadi 7164,44 Ha (77,99%) pada 2024 sementara lahan permukiman meningkat dari 562,86 Ha (6,13%) menjadi 860,38 Ha (9,37%). Faktor utama yang memengaruhi alih fungsi lahan meliputi jumlah dan kepadatan penduduk, pendidikan petani, infrastruktur, harga lahan, pendapatan, kebijakan, dan penyerapan tenaga kerja. Dampak positif dari segi ekonomi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru dan pergeseran struktur ekonomi masyarakat dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan jasa. Dampak negatifnya berupa penyusutan lahan pertanian yang mengancam produksi pangan, memicu kenaikan harga bahan pokok, dan mengganggu kestabilan ekonomi petani. Penelitian ini penting bagi negara berkembang untuk memahami dampak jangka panjang alih fungsi lahan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, serta sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan lahan.Kata Kunci: Perubahan Penggunaan lahan, Analisis Spasial, Alih Fungsi Lahan Pertanian, Dampak Ekonomi ABSTRACTPopulation density in an area often triggers land use change. This condition then has an impact on economic aspects. This study aims to analyze changes in agricultural land use and identify the factors and economic impacts. This study is important for understanding the long-term effects of land use change on environmental sustainability and community welfare. The methods used include quantitative descriptive data analysis, overlay techniques to observe changes in land use, and Chi-Square tests to determine the factors and economic impacts of agricultural land use change. The results show that agricultural land decreased from 7625.70 Ha (83.01%) in 2014 to 7164.44 Ha (77.99%) in 2024, while residential land increased from 562.86 Ha (6.13%) to 860.38 Ha (9.37%). The main factors influencing land conversion include population size and density, farmer education, infrastructure, land prices, income, policy, and labor absorption. The positive economic impact is the creation of new jobs and a shift in the community's economic structure from the agricultural sector to the industrial and service sectors. The negative impact is the reduction of agricultural land, which threatens food production, triggers an increase in the price of basic commodities, and disrupts the economic stability of farmers. This research is important for developing countries to understand the long-term impact of land conversion on environmental sustainability and welfare, as well as for consideration in land use decision-making.Keywords: Land Use Change, Agricultural Land Conversion, Spatial Analysis, Economic Impact
IDENTIFIKASI POTENSI OBJEK DAYA TARIK WISATA DI DESA BISSOLORO SEBAGAI DESA WISATA BERBASIS ALAM Handayani, Sri; Hasyim, Hasan; Siradjuddin, Irsyadi
Teknosains Vol 17 No 1 (2023): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v17i1.33029

Abstract

Wisata alam mempunyai potensi yang besar dalam sistem kepariwisataan. Dalam pengembanganya, wisata alam menguntungkan dengan letak geografis dan keragaman sumber daya alam yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan wisata lainya. Kabupatem Gowa merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki banyak potensi obyek wisata yang menarik untuk dikembangkan, salah satunya wisata alam. Penelitian ini berujuan untuk mengetahui potensi objek daya tarik wisata di Kabupaten Gowa, tepatnya di Kecamatan Bungaya Desa Bissoloro serta untuk mengetahui karakteristik faktor yang menjadi pendukung daya tarik wisata alam di lokasi tersebut. Penelitian ini berlokasi di Desa Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Maret – September tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi objek daya tarik wisata di Desa Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa yaitu faktor yang menjadi pendukung daya tarik wisata alam tersebut sesuai dengan namanya yaitu wisata hutan pinus, antara lain wisata Hutan Pinus Moncong Sipolong, Hutan Pinus Rita Malompoa, Hutan Pinus Panorama, Hutan Pinus Tangkalaka, dan Hutan Pinus Selow adalah hutan pinusnya yang asri dan sejuk. Sedangkan objek wisata Puncak Tinambung Highland memiliki faktor daya tarik dengan pemandangan yang indah serta memiliki variabel dan indikator yang sudah terpenuhi. Hutan Pinus Moncong Sipolong, Hutan Pinus Rita Malompoa, Hutan Pinus Panorama, Hutan Pinus Tangkalaka, Hutan Pinus Selow, dan Puncak Tinambung sudah memenuhi semua indikator dalam karakteristik kawasan wisata alam namun terdapat faktor yang belum terpenuhi yaitu pada variabel something to buy, yaitu kawasan wisata alam ini belum mempunyai produk yang khas untuk diperjualbelikan pada wisatawan yang datang.
ANALYSIS OF SUPERIOR COMMODITIES AND DETERMINATION OF AGROPOLITAN ACTIVITY CENTER IN SANROBONE Siradjuddin, Irsyadi; Sari, Yuliana; Azizah, Nurul Wafiq
Agricultural Socio-Economics Journal Vol. 23 No. 4 (2023): OCTOBER
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agrise.2023.023.4.6

Abstract

The Takalar Regency Spatial Plan designates the Sanrobone sub-district as an area for the cultivation of food crops, horticultural crops, and plantations. Agriculture in Sanrobone plays a crucial role in fulfilling food needs and driving economic growth in rural areas. The research aims to identify superior commodities, determine the agropolitan activity center, and develop strategies for the agropolitan area in the Sanrobone sub-district. The study was conducted from June to November 2022, covering six villages in the Sanrobone sub-district. The analytical techniques employed include LQ analysis, Shift share analysis, Klassen typology, qualitative descriptive analysis, and SWOT analysis. The research findings reveal that the superior commodity of Sanrobone is Chili Pepper, while prospective commodities are Corn and Paddy, and the lagging commodity is Seagrass. The agropolitan activity center is the main farming town in Banyuanyara, with production centers in the village of Tonasa, and farmer collection towns in Paddinging, Ujung Baji, Lagaruda, and Sanrobone. The recommended strategy is a progressive approach, where empowering farmer groups can enhance the economy, especially in the agricultural sector. Encouraging farmer groups in each village to actively participate in established joint farming groups can boost the potential of food crop agriculture in each village and contribute to the development of the agropolitan area.
STRATEGI KETERSEDIAAN LAHAN TERHADAP PENGEMBANGAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN KEERA Alvia, Melani; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; A.P., Andi Idham
REKA RUANG Vol. 8 No. 1 (2025): Reka Ruang
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan dan kebutuhan lahan dalam pengembangan pertanian pangan berkelanjutan di Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo. Dengan latar belakang penurunan luas lahan pertanian dan pertumbuhan populasi yang meningkat, penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan ketahanan pangan. Metode yang digunakan meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif, termasuk analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan yang tersedia di Kecamatan Keera sebesar 11.643,35 ha, sedangkan kebutuhan lahan mencapai 13.758 ha, mengindikasikan defisit lahan di delapan desa. Namun, dua desa, yaitu Desa Ciromanie dan Desa Keera, mengalami surplus lahan. Analisis SWOT menunjukkan bahwa Kecamatan Keera berada di Kuadran I, mencerminkan kondisi yang menguntungkan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan. Rekomendasi strategi mencakup pemanfaatan lahan tidak terpakai, penerapan praktik pertanian berkelanjutan, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lahan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kebijakan tata guna lahan dan pengembangan pertanian di Kecamatan Keera, serta mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.
DEVELOPMENT STRATEGIES OF VILLAGE-OWNED ENTERPRISES (BUMDES) TO SUPPORT ECONOMIC RESILIENCE IN TOMBOLO PAO DISTRICT, GOWA: Strategi Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk Mendukung Ketahanan Ekonomi di Kecamatan Tombolo Pao, Gowa Anshar, Muhammad; Siradjuddin, Irsyadi
Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v21i2.489

Abstract

This study aims to analyze the development classification status of Village-Owned Enterprises (Bumdes) and to develop strategies for Bumdes in supporting regional economic resilience in Tombolo Pao District, Gowa Regency. The assessment of Bumdes development is based on Presidential Regulation No. 11 of 2021 concerning Bumdes, covering variables such as institutional framework, regulations, Bumdes operations, administration, reporting and accountability, capital and assets, and the impact of Bumdes on the community. A SWOT analysis method was employed to formulate Bumdes development strategies. The results of the study indicate that the classification status of Bumdes development in the Tombolo Pao District is as follows: Advanced Bumdes in two villages, namely Pao with a score of 89 and Kanrepia with a score of 88. Developing Bumdes in four villages, namely Balaromang, Tonasa, Mamampang, and Erelembang, with scores of 83, 82, 81, and 77 respectively. Growing Bumdes are found in two villages, Tabbinjai and Balassuka, with scores of 74 each. The strategy for Bumdes to support regional economic resilience in Tombolo Pao is as follows: Advanced Bumdes need to maintain good performance, continue innovating, and expand their business networks. Developing Bumdes should strengthen governance, improve access to capital, and diversify their business ventures. Growing Bumdes need to build a strong foundation, develop human resource capacity, and focus on developing profitable businesses
Evaluasi Infrastruktur Desa Sebagai Dasar Perumusan Strategi Pengembangan Di Lembang Rinding Batu Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad; Fitriani
Jurnal Rekayasa Infrastruktur Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Rekayasa Infrastruktur
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jri.v11i2.305

Abstract

Mapping the potential of agropolitan areas from the perspective of basic infrastructure is essential for formulating regional development strategies. This study aims to analyze the availability of basic facilities and infrastructure as well as to formulate development strategies in Rinding Batu Village, Kesu District, North Toraja Regency. The research employed a descriptive quantitative and qualitative approach through infrastructure availability analysis and SWOT analysis. Data were collected through field surveys, questionnaires distributed to 44 respondents, and documentation from related institutions. The results show that the average availability of infrastructure reached 87% and facilities reached 87.8%, with the main weaknesses found in sanitation, drainage, and the suboptimal condition of several facilities. Quantitative SWOT analysis placed Rinding Batu Village in Quadrant I (x = 0.97; y = 1.16), indicating the dominance of strengths and opportunities for sustainable area development. The development strategy is therefore focused on optimizing the advantages of basic infrastructure while improving weaker aspects to support equitable and sustainable development.
Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi Masyarakat Akibat Pembangunan Jalur Rel Kereta Api Kecamatan Barru Kabupaten Barru Nurdin, Tawir; Siradjuddin, Irsyadi; Usman, Khairul Sani; Handayani, Risma
Teknosains Vol 20 No 1 (2026): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v20i1.64135

Abstract

Pembangunan sarana transportasi merupakan indikator perubahan dan kemajuan suatu negara. Dalam hal ini, pemerintah memegang peranan strategis melalui kebijakan yang mendorong kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak sosial dan ekonomi pembangunan jalur rel kereta api di Kecamatan Barru, Kabupaten Barru. Pembangunan rel kereta api sebagai proyek strategis nasional perlu dikaji untuk mendukung pembangunan wilayah yang berkelanjutan dan berkeadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap dampak sosial dan ekonomi pembangunan rel kereta api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak sosial berada pada kategori sedang hingga tinggi dengan nilai rata-rata 69,5% (aspek sosial), yang mencakup adaptasi sosial sebesar 78,2%, perubahan struktur sosial 48,1% (kategori sedang-rendah), serta persepsi rasa aman dan kenyamanan 78,4% dan konflik sosial 73,4%. Sementara itu, dampak ekonomi berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 79%, yang meliputi peluang ekonomi baru 76%, perubahan harga tanah 75,6%, penambahan pekerjaan 81,6%, serta perubahan pendapatan masyarakat 81,7%. Secara keseluruhan, pembangunan rel kereta api di Kecamatan Barru memberikan dampak yang lebih dominan pada aspek ekonomi dibandingkan sosial, dengan kecenderungan positif terhadap peningkatan aktivitas ekonomi, peluang kerja, dan nilai lahan, meskipun tetap terdapat dinamika perubahan sosial yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Evaluasi Ketersediaan dan Distribusi Persampahan Berdasarkan Pola Spasial Timbulan Sampah di Kecamatan Belopa Basri, Munadhil; Siradjuddin, Irsyadi; Nurfatimah
Jurnal EkoRegion Vol 1 No 1 (2026): Ekoregion
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ekoregion.v1i1.67479

Abstract

Limited waste management facilities in Belopa District have not been able to meet service demands due to increasing community activities and waste generation, leading to the emergence of illegal dumping points. This study aims to analyze the spatial distribution of waste generation and to formulate optimal strategies for waste management and facility distribution. The methods used include field surveys, interviews, Average Nearest Neighbor (ANN) analysis, Hot Spot Analysis (Getis-Ord Gi*), and spatial analysis based on buffer and overlay using a geographic information system. The results show that there are 14 waste generation points, dominated by 11 illegal points. The ANN value of 903.75 with a z-score of 6461.99 and a p-value of 0.000000 indicates a dispersed and statistically significant distribution pattern. Hotspot analysis identifies 3 points as priority zones, with the highest waste volume reaching 1,200 kg/day. In addition, the service coverage of waste facilities remains limited, leaving many areas unserved. Based on the needs analysis, additional facilities are required, including 2 area-scale units, 4 containers, 3 communal bins, and 4 arm roll trucks with a service capacity of up to 51 m³/day. The novelty of this study lies in the integration of spatial statistical analysis and facility distribution planning based on existing conditions to produce more targeted recommendations.