Ridjal, Abraham Mohammad
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 59 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Penggunaan Warna Interior Masjid Tionghoa sebagai Ruang Beribadah (Studi Kasus Masjid Muhammad Cheng Hoo Pasuruan, Jawa Timur) Oktavia Eka Megayanti; Rinawati P Handajani; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Mohammad Cheng Hoo merupakan masjid yang memiliki karakter kuat padapenggunaan warna dan nilai arsitektural bangunannya yang mencirikan kenangansejarah bangsa Cina. Warna-warna yang dihadirkan pada interior ruang masjid inisangat menarik dan berani yaitu dominasi warna merah dan perpaduan warnakuning dan hijau di segala sisi. Tentunya pewarnaan tersebut sangatlahberpengaruh bagi manusia di dalamnya ketika beribadah dan hal tersebut dapatdikaitkan kebenarannya melalui teori penggunaan warna yang baik pada ruangsesuai fungsi ruangan tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kualitatifyaitu mengangkat suatu permasalahan yang berkaitan dengan hal-hal yangmenyangkut kesan penggunaan warna. Tahap selanjutnya berupa deskriptif analitis,yaitu data dianalisis dan disandingkan dengan beberapa teori warna yang ada untukditemukan sintesisnya dan diklasifikasikan berdasarkan karakter warna padamasjid dengan kenyamanan yang baik. Serta analisis kualitatif berdasarkanobservasi. Hasil yang didapatkan melalui perbandingan tersebut menyatakan bahwapersentase antara penggunaan, penempatan dan teori warna seimbang yaitu adanyahasil negatif pada kurang tepatnya penggunaan jenis warna dan hasil positif padatepatnya peletakan dan pembagian warna di dalam masjid Cheng Hoo.Kata kunci: warna interior masjid, teori warna, aktivitas ibadah
Pola Ruang Dalam Rumah Panggong di Kampung Bontang Kuala Yazid Dwi Putra Noerhadi; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.191 KB)

Abstract

Kampung Bontang Kuala merupakan kampung di pinggiran laut Kota Bontang. Dulunya mata pencaharian utama masyarakat kampung ini adalah sebagai nelayan. Rumah tradisional Kampung Nelayan Bontang Kuala berbentuk seperti Panggung yang terletak di atas permukaan air sungai atau laut sehingga disebut Rumah Panggong. Seiring perkembangan zaman, menjadi nelayan bukan satu-satunya mata pencaharian di kampung ini. Berdagang dan jasa menjadi salah satu alternatif pencaharian saat ini. Hal itu mempengaruhi pola ruang dalam tempat masyarakat itu bermukim. Metode yang digunakan dalam studi adalah metode analisis kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Metode analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan kemudian menganalisis pola ruang dalam pada rumah, sehingga ditemukan karakteristik ruang dalam pada bangunan Rumah Panggong. Studi bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola ruang dalam Rumah Panggong yang terdapat di Kampung Bontang Kuala.Kata Kunci: pola ruang dalam, Rumah Panggong
Penerapan Prinsip Ruang Kolektif Pada Pusat Komunitas Musik (Studi Pada Galeri Malang Bernyanyi) Dionisius Dino Briananto; Tito Haripradianto; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.474 KB)

Abstract

Ruang arsitektur nusantara dimengerti sebagai ruang berkehidupan bersama, yang menunjukkan bahwa ruang berkembangnya adalah arsitektur bagi fitrah manusia. Kolektif; yang merupakan hakikat fitrah berbeda dengan eksklusifitas, sehingga muncul persoalan krisis ruang publik, karena nyatanya hegemoni kota secara spasio-visual didominasi individu terkuat saja secara privat. Terlebih di era open society, tekanan simplifikasi paham global dan ciri-ciri individualisme generasi millenial Kota Malang yang jumlahnya dominan, kurang memberi ruang bagi keragaman dalam kebersamaan masyarakat. Potensi komunitas kesenian kolektif spesifik malah tidak sebanding dengan ketidak-tersediaan ruang berkesenian. Penyebabnya antara lain karena faktor eksternal: ruang berkesenian kurang representatif bagi pelakunya. Menggunakan metode penelusuran 'buku garing' dan 'buku teles', penelitian difokuskan pada Galeri Malang Bernyanyi (GMB) yang memiliki potensi kolektif namun tidak ditunjang dengan ruang berkegiatan representatif sesuai karakternya. Hasil integrasi pemetaan lapangan dan penelusuran kajian teoritik paradigma kontekstual Weak Architecture sebagai solusi krisis arsitektur di ruang publik, kemudian menjadi landasan metode perancangan sebelum proses desain. Hasil perancangan GMB menitik-beratkan pendekatan perilaku untuk mendapat parameter dasar karakter penggunaan ruang yang melalui pemetaan perilaku terhadap setting, atribut dan teritorialitas ruang. Dan variabel penerapan ruang kolektif untuk mendorong hadirnya interaksi, fleksibilitas, dan konektivitas. Yang ketiganya dibagi menjadi 3 tahap sesuai konsep Weak Architecture dalam pustaka Primitive Future.Kata kunci: ruang kolektif, weak architecture, pusat komunitas musik, perilaku
Penerapan Material Pada Kontruksi Rumah Adat Tradisional Minangkabau di Nagari Pariangan, egi satya dharma; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Nagari Pariangan sebagai asal-muasal masyarakat Minangkabau itu sendiri yang artinya Pariangan menjadi Nagari tertua di Ranah Minang. Di Nagari Pariangan sendiri masih banyak terdapat Rumah Gadang yang masih berdiri kokoh yang terlihat sangat tua yang akan menyambut para pengunjung Nagari Pariangan dengan nuansa Minangkabau yang sangat kental. Pada saat ini keberadaan Rumah Gadang di Nagari Pariangan sedikit memprihatinkan karena kurangnya kepedulian dan pemahaman masyarakat tentang rumah adat tradisional Minangkabau sehingga dapat mengancam kelestarian dari Rumah Gadang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengindentfikasi penerapan material pada kontruksi rumah adat tradisional minangkabau di Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Pada penelitian ini motode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan mengidentifikasi karakter struktural dan jenis material yang digunakan pada struktur utama dari Rumah Gadang. Salah satu contoh Rumah Gadang di Nagari Pariangan yang masih terjaga keasliannya yang dapat dilihat dari karakter struktural dan jenis material bangunannya yaitu Rumah Gadang Datuk Mangkudun yang sudah berdiri lebih kurang hampir 250 tahun. Hasil dari identifikasi dan analisis Rumah Gadang Datuk Mangkudun secara material dan struktural adalah penerapan material struktur utama pada Rumah Gadang di bagi menjadi tiga bagian yaitu penerapan material pada  struktur utama bagian bawah, penerapan material pada struktur utama bagian tengah, dan penerapan material pada struktur utama bagian atas.  
Efisiensi dan Efektivitas Tata Ruang Area Pahat pada Perancangan Pusat Pelatihan Seni Ukir di Jepara Raissa Vedayanti; Noviani Suryasari; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Pelatihan Seni Ukir di Mulyoharjo Jepara merupakan salah satu cara pemerintahJepara untuk menyiasati minimnya tingkat regenerasi pengrajin ukir yang ada di Jepara.Perancangan Pusat Pelatihan Seni Ukir direncanakan berada pada sentra-sentra ukiragar kegiatan ini dapat diawasi oleh seluruh masyarakat ukir disana. Salah satu sentraukir berpotensi adalah Desa Mulyoharjo yang terkenal dengan sentra ukir relief danpatung. Salah satu kebutuhan ruang pada pusat pelatihan ini adalah area pahat patungyang memerlukan area terbuka dan luas. Kegiatan memahat patung memerlukanmaterial yang besar dan alat mesin sehingga dapat memproduksi limbah yang tidaksedikit. Padahal kenyataannya belum adanya ruang kegiatan dan standar pelaksanaanmembuat kegiatan ini terlihat berantakan dan terkesan mengabaikan keselamatan.Perancangan tata ruang yang efisien dan efektif dapat menjadi solusi agar kegiatanpelatihan pahat dapat berjalan kondusif dengan aman dan ruang yang digunakanmenjadi lebih efisien.Kata kunci: tata ruang, pusat pelatihan seni ukir, efisiensi dan efektivitas
Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam di Kabupaten Gresik dengan Pendekatan Metafora Tangible Ajeng Dyosta Lucandhary; Herry Santosa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.222 KB)

Abstract

Tidak tersedia fasilitas untuk mewadahi kegiatan budaya Islam sehingga pengenalan dan pengembangan budaya Islam pada generasi penerus dan seniman lokal kurang optimal. Hal tersebut mengakibatkan kebudayaan Islam punah dan membawa dampak pada hilangnya identitas suatu daerah. Untuk itu perlu dilakukan upaya pelestarian budaya dengan menyediakan fasilitas budaya yang dapat digunakan sebagai sarana pengenalan dan pengembangan kebudayaan Islam. Fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai penanda ciri khas suatu daerah sekaligus menguatkan identitas dan citra Islami suatu kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Pelestarian Kebudayaan Islam. Terdapat 2 metode yang digunakan, metode deskriptif-analitik yang difokuskan untuk pemecahan masalah. Sedangkan untuk perancangan pusat pelestarian kebudayaan Islam menggunakan metode metafora tangible pola gerak tari. Selain itu ditunjang analisa formal dan analisa non formal. Analisa formal meliputi analisis fungsi, pelaku dan aktivitas, alur aktivitas pelaku, analisis ruang. Analisis non formal meliputi analisis jurus, tahapan, makna, dan anatomi keseluruhan tahapan tari serta penafsiran-penafsiran tahapan dan jurus. Penelitian ini menghasilkan desain pusat pelestarian kebudayaan memiliki susunan tata massa dan tata ruang melinggkar yang membentuk kesatuan massa, Fasilitas utama yang terakomodasi meliputi galeri seni, gedung pertunjukan, ruang seminar dan studio, penguat citra Islam direkomendasikan menggunakan ornamen Islam kontemporer pada tampilan bangunan dan tata lansekap dengan menggunakan konsep pola taman Islami.Kata Kunci: metafora, tangible, pola gerak tari
Semiotika Arsitektur Masjid Jamik Sumenep-Madura Femy Andromedha Atthalibi; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan prasejarah dan wujud produk karya seni arsitektur dengan perpaduan kebudayaan dan kepercayaan. Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara memiliki bentuk yang khas tampilan visual fasad bangunan yang dimana terdapat tanda atau simbol arsitektur dalam bentuk ragam hias maupun elemen arsitektur bangunan yang perlu dikaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dan memaparkan obyek studi yang kemudian hasil pemaparan tersebut dianalisa dengan menggunakan teori semiotika arsitektur sintaksis, pragmatik dan semantik. Hasil penelitian ini dapat mengetahui relasi tanda dalam bentuk visual fasad bangunan dan fungsi karya arsitektur dalam membentuk bahasa tanda dan makna yang terdapat pada Masjid Jamik Sumenep, gapura dan menara.Kata Kunci : Semiotika, Masjid Jamik Sumenep, sintaksis, pragmatik, semantik
Sekolah Alam di Dusun Magersari Tulungagung dengan Konsep Permakultur Prima Adi Yudha; Chairil Budiarto Amiuza; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.346 KB)

Abstract

Kebutuhan masyarakat mengenai ruang belajar dengan konsep yang mampumembangun dan mendukung pembelajaran mengenai alam dan nilai-nilai kulturmasyarakat diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan lingkungandengan sistem berkelanjutan. Maka, perlu adanya konsep perancangan sekolah alamyang mampu menyikapi permasalahan tersebut dengan bijak yang sesuai denganpotensi alam dan kultur masyarakat.Ruang lingkup studi pada konsep perancangan sekolah alam terletak di kawasanDusun Magersari, Kabupaten Tulungagung. Dusun Magersari merupakan kawasanyang memiliki potensi alam yang tinggi dan masyarakat Dusun Magersari menjaganilai-nilai kultur untuk menjaga alam dengan baik. Metode yang digunakan adalahmetode deskriptif dan analisa sebagai dasar perancangan sekolah alam denganpemahaman fenomena berupa visual kultur sosio-ekologi diikuti denganpemahaman secara mendalam mengenai lingkungan eksisiting site yaitu DusunMagersari. Metode desain yang digunakan adalah metode pragmatis.Penerapan konsep permakultur pada sekolah alam, dapat membuat desain sekolahalam menjadi lebih ramah lingkungan dengan sistem desain sekolah alam yangmemiliki sifat berkelanjutan sesuai dengan potensi wilayah Dusun Magersari.Sistem desain sekolah alam yang berkelanjutan, berkaitan dengan sistemperkebunan, sistem peternakan, sistem utilitas, sistem sirkulasi, desain dan tataletak bangunan, dan zonasi permakultur.Kata kunci: sekolah alam, permakultur, sistem berkelanjutan
Toleransi Pedagang Lokal Dalam Aktivitas Perdagangan di Pasar Tradisional Youtefa, Abepura Viva Virginia Suhartawan; Abraham Mohammad Ridjal; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.471 KB)

Abstract

Pasar Youtefa memiliki jumlah pedagang ±2.821 pedagang yang berasal dari berbagai suku asal, dengan persentase 24% pedagang lokal (masyarakat asli), dan 76% pedagang pendatang. Walaupun berbeda, keduanya dapat berjualan pada satu lokasi yang sama, yaitu kondisi dimana pedagang masyarakat asli berjualan didekat area berjualan pedagang pendatang. Pada kondisi ini terdapat persinggungan antara kedua jenis pedagang dengan perbedaan seting ruang pedagang yang dibentuk oleh masing-masing pedagang. Oleh sebab itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui bentuk toleransi pedagang lokal terhadap pedagang pendatang sehingga keduanya dapat berjualan pada satu lokasi yang sama. Aspek-aspek yang dapat mempengaruhi terbentuknya ruang aktivitas masing-masing pedagang diantaranya adalah aspek seting, pelaku, aktivitas dan waktu. Berdasarkan hasil analisis, aspek yang paling berpengaruh dalam membentuk ruang aktivitas pedagang adalah aspek seting yang terdiri dari elemen-elemen pembentuk ruang dagang baik secara tetap (fixed element), semi tetap (semifixed element), serta tidak tetap (non-fixed element) yang dibentuk oleh pedagang dalam melakukan aktivitas jual beli. Dimana pedagang lokal menggunakan los pedagang dengan elemen pembentuk ruang berjualan yang bersifat semi tetap (semifixed element), sedangkan pedagang pendatang menggunakan elemen pembentuk ruang bersifat tetap (fixed element) yang melingkup ruang kios permanen. Selain seting, bentuk toleransi lainnya yaitu berupa jenis komoditi yang dijual antar pedagang dapat berbeda antara kedua jenis pedagang.Kata kunci: ruang aktivitas, seting, pedagang, pasar tradisional
Laboratorium Alam SMA Trensains Tebuireng dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan Fatma Zahrotun Nisa'; Abraham Mohammad Ridjal; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kurikulum 2013 dilatarbelakangi fakta pada sebagian besar sekolahdi Indonesia yang lebih mengedepankan sistem pembelajaran dalam ruangan yangcenderung statis, khususnya pada mata pelajaran sains kealaman. Untuk itu,pengembangan kurikulum ditekankan pada relevansi dengan kebutuhan kehidupan,artinya tidak memisahkan peserta didik dengan lingkungan alam. SMA Trensains(pesantren sains) memiliki rencana pengembangan laboratorium hidup untukmempelajari ayat-ayat semesta, sehingga dibutuhkan wadah untukmengintegrasikan pembelajaran dengan lingkungan alam berupa laboratoriumalam. Perancangan laboratorium yang terintegrasi dengan alam dapat menghasilkandesain yang optimal dengan mengimplementasikan gagasan desain arsitekturberkelanjutan yang terbebas dari label tertentu. Pragmatik kontekstual merupakanmetode perancangan yang digunakan untuk menerapkan parameter desainarsitektur berkelanjutan, metode tersebut bersifat deduktif dan induktif yang dapatkontekstualkan dengan lingkungan alam yang lebih fleksibel. Hasil rancanganlaboratorium alam menerapkan pendekatan arsitektur berkelanjutan berdasarkanparameter pendekatan eco-technic, eco-centric, eco-aesthetic, eco-cultural, ecomedical,dan eco-social. Perancangan laboratorium alam melalui pendekatan desainberkelanjutan bertujuan mewadahi aktivitas pembelajaran SMA Trensains dalammata pelajaran sains kealaman. Selain itu, pemahaman dan sikap peduli terhadaplingkungan merupakan pesan yang dapat tersampaikan melalui perancanganlaboratorium alam kepada masyarakat pelajar.Kata kunci: sains; laboratorium alam; arsitektur berkelanjutan