Claim Missing Document
Check
Articles

Curtailed-Gaussian and Cosine Functions for Multihop Doppler Spectrum Modeling Titiek Suryani; Gamantyo Hendrantoro
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 9, No 1: April 2011
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v9i1.671

Abstract

            Wireless channels are characterized among others by their Doppler spectrum. In the cooperative diversity, one of diversity branch may consist of several mobile relays forming multihop link which each hop introduced Doppler shift. With employing amplify-and-forward (AF) relays, the Doppler shift keeps accumulating to the end of the link. Doppler shift value affects the time varying channel rate, which is a challenge in broadband mobile communication system. Hence, the Doppler parameter is very important and must be considered in broadband mobile communication system design and analysis. Unfortunately, it is hard to derive the expressions of this Doppler spectrum in a closed form since a special function under integration such as complete elliptic integral exists.  To solve this problem, curve-fitting method base on least-square is used. In this process, curtailed-Gaussian and cosine functions are proposed as an approximation function. Then, from Kullback-Leiber divergence test, it is showed that both proposed functions, i.e., curtailed-Gaussian and cosine functions have a good approximation as Doppler spectrum modeling of Multihop mobile channel with all gain relays assumed as 1 and all mobile terminals are assumed move with almost same velocity.  
PENJADWALAN PAKET MULTIMEDIA UNTUK JARINGAN OFDM UPLINK BERBASIS PENDEKATAN CROSS-LAYER DI BAWAH REDAMAN HUJAN Adib Nur Ikhwan; Niko Permana R.W.; Gamantyo Hendrantoro; Endroyono .
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2012
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada jaringan yang sudah ada sebelumnya, optimasi sering dilakukan pada lapisan terpisah dan hasilnya kurang optimal. Oleh karena itu, dikembangkan skema baru dengan menggabungkan beberapa lapisan protokol jaringan yang disebut Cross-Layer, misalkan di lapisan fisik dan lapisan link. Penerapan metode Cross-Layer Optimization dengan titik berat pada evaluasi skema penjadwalan transmisi paket data multimedia uplink menggunakan metode Cross-Layer Enhanced Packet Scheduling (CEPS) bertujuan untuk mengumpulkan informasi antrian serta mengendalikan paket dari user menuju base station (BS) dengan sasaran mengurangi banyaknya paket yang hilang saat transmisi dan meningkatkan efisiensi serta fairness. Untuk mengevaluasi metode penjadwalan CEPS, evaluasi kinerja dilakukan dengan memperhatikan kondisi lapisan fisik pada gelombang millimeter yang terganggu oleh redaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan penjadwalan CEPS memberikan pengaruh terhadap trafik video dan suara yang bersifat real-time mendapat prioritas dalam penjadwalan serta packet loss dan delay sekecil mungkin sedangkan trafik data (FTP) dengan delay yang ditoleransi dapat masuk buffer. Pada 64 sub-carrier pertama dijadwalakan trafik dari paket video terlebih dahulu dengan penjadwalan sub-carrier selanjutnya tetap mempertimbangkan fairness dan kondisi lapisan fisik.
Radio Resource Management dalam Multihop Cellular Network dengan menerapkan Resource Reuse Partition menuju teknologi LTE – Advanced Theresia Dwi Lestari Londong; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.152 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.66

Abstract

Multihop Cellular Networks (MCN) dengan relay adalah teknologi yang sedang diteliti untuk diterapkan pada komunikasi LTE – Advanced. Berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan oleh 3GPP untuk IMT-Advanced, diantaranya adalah peak data rate (maksimum kecepatan transfer data) untuk downlink adalah sebesar 1 Gbps dan 500 Mbps untuk uplink, operator telekomunikasi harus menyediakan arsitektur komunikasi pendukung teknologi LTE-Advanced dengan kualitas layanan yang tinggi dan cost efficient. Teknik MCN dengan pengaturan nilai daya pancar Relay Node dapat mengurangi jarak tempuh transmisi dan meningkatkan kualitas kanal komunikasi seiring dengan peningkatan nilai SINR. Pada skenario daya pancar Relay Node sebesar 27 dBm terlihat bahwa SINR sitem dengan relay mengalami penigkatan sebesar 0.0194% dibanding sistem tanpa rela. Metode Resource Reuse Partition (RRP) mampu menekan masalah pemborosan sub carrier akibat penerapan teknik MCN. Dari hasil skenario simulasi dengan variasi nilai Threshold SINR dan nilai pancar Relay Node dapat menekan masalah interferensi dan meningkatkan jumlah User yang mampu dilayani sistem. Nilai pemborosan terkecil pada skenario daya pancar  RN sebesar 27 dBm yaitu 32.55%. Jumlah User yang mampu dilayani sistem mengalami peningkatan 89.46% dibanding sistem dengan skenario daya pancar 40 dBm.
Kinerja Sistem Komunikasi FSO (Free Space Optics) Menggunakan Cell-site Diversity di Daerah Tropis Octiana Widyarena; Gamantyo Hendrantoro; Achmad Mauludiyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.695 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.67

Abstract

Kebutuhan masyarakat akan adanya layanan komunikasi multimedia seperti video conference, high speed internet, video streaming, dan lain sebagainya, saat ini terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perlu adanya suatu sistem komunikasi nirkabel dengan kecepatan tinggi. Salah satunya yaitu dengan menggunakan FSO (Free Space Optics). FSO merupakan sistem komunikasi yang memungkinkan memiliki koneksi layaknya serat optik, namun media transmisi yang digunakan yaitu melalui atmosfer. Penggunaan FSO di daerah tropis memiliki kendala yang cukup serius yaitu tingginya intensitas curah hujan yang dapat mempengaruhi kinerja dari FSO. Semakin tinggi intensitas curah hujan, maka nilai redaman hujan juga semakin besar. Untuk mengatasi dampak redaman hujan tersebut, maka digunakan teknik cell-site diversity dengan selection combining. Penerapan teknik cell-site diversity pada sistem komunikasi FSO menggunakan variasi panjang lintasan 0,5 km, 1 km, 1,5 km, dan 2 km serta variasi sudut antar link sebesar 45°, 90°, 135°, dan 180°. Hasil dari penerapan teknik cell-site diversity menunjukkan bahwa adanya peningkatan kualitas sinyal FSO, dalam hal ini yaitu nilai SNR. Peningkatan nilai SNR terbesar didapatkan pada panjang lintasan 2 km dengan sudut antar link 180° serta pada link availability 99,9 %. Untuk konfigurasi cell-site diversity terbaik didapatkan pada sudut antar link sebesar 90° dan 180°.
Teknik Mitigasi ICI Menggunakan FIR-MMSE FEQ Pada Sistem OFDM Bergerak Harinto Mukti Legowo; Gamantyo Hendrantoro; Titiek Suryani
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.375 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.198

Abstract

Efek Doppler yang ditimbulkan pada komunikasi bergerak (mobile communications) menyebabkan terjadinya ICI yang dapat menurunkan kinerja sistem OFDM. Pengaruh ICI dapat dimitigasi dengan menggunakan frequency-domain equalizer (FEQ) dimana koefisien-koefisien tap filter tersebut didapatkan dari hasil perhitungan invers matrik kanal domain frekuensi (matrik G) berukuran NxN. Namun semakin besar ukuran N, perhitungan invers matrik G akan semakin rumit. Sifat banded dapat dimanfaatkan untuk menyederhanakan perhitungan invers matrik G. Dengan mengasumsikan sifat banded pada matrik G, maka hanya Q (Q << N) diagonal pada matrik G yang digunakan pada perhitungan invers matrik G. Berdasarkan sifat banded tersebut, teknik mitigasi ICI yang bernama finite impulse response (FIR) MMSE FEQ dengan koefisien tap sebanyak Q dapat didesain.
Desain Antena Microstrip dengan Tapered Peripheral Slits untuk Payload Satelit Nano pada Frekuensi 436,5 MHz Alan Sujadi; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.457 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.65

Abstract

Pada penelitian ini akan dibuat desain antena microstrip untuk satelit nano yang bekerja pada frekuensi UHF 436,5 MHz dengan fitur utama miniaturisasi ukuran. Patch yang akan digunakan berbentuk square dengan tapered peripheral slits dan teknik-teknik yang memungkinkan untuk miniaturisasi ukuran antena. Teknik desain tapered peripheral slits digunakan karena dapat secara efektif memperkecil ukuran antena. Air gap diterapkan untuk menghilangkan back lobe dan meningkatkan gain. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan spesifikasi dan rancangan umum dari antena microstrip untuk payload satelit nano dengan desain dan ukuran yang lebih compact.Hasil simulasi serta implementasi menunjukkan bahwa antena microstrip telah memenuhi kriteria desain termasuk ukuran yang sesuai untuk diterapkan pada satelit nano dengan asumsi dimensi Cube-Sat 10 cm × 10 cm. Antena ini menggunakan dual coaxial feeding. Pola radiasi yang dihasilkan merupakan omnidirectional dengan polarisasi horizontal. Nilai return loss dari hasil pengukuran bernilai -21.085 dB dengan VSWR 1.206. Bandwidth yang didapatkan adalah 12.8 % dari frekuensi tengah 436.5 MHz atau sebesar 55.9 MHz. Impedansi hasil pengukuran sebesar 55.706 Ω. Gain antena microstrip 436,5 MHz berdasarkan hasil pengukuran adalah 3.105 dBi.
Desain Antena Array Mikrostrip Tapered Peripheral Slits Pada Frekuensi 2,4 Ghz Untuk Satelit Nano Widyanto Dwiputra Pradipta; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.893 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.64

Abstract

Saat ini ITS sedang berpartisipasi dalam sebuah komunitas bernama INSPIRE yang mengerjakan sebuah proyek pembuatan satelit nano.  Salah satu kriteria dari satelit tersebut adalah memiliki antena mikrostrip dengan frekuensi 2,4 GHz. Pada tugas akhir ini akan dibuat antena mikrostrip square agar sesuai dengan bentuk satelit nano dan susunan array secara paralel. Subtrat yang dipakai adalah FR04 Epoxy dengan konstanta dielektrik 4,3, ukuran subtrat adalah 10x10 cm. Patch square yang digunakan akan mengunakan pola Tapered Peripheral Slit untuk minimalisasi ukuran patch. Antena mikrostrip ini beroperasi pada frekuensi 2,4 GHz dengan parameter Return Loss < -10 dB, VSWR < 2 dan gain < 3,7 dBi. Untuk menghasilkan gain yang tinggi, antena mikrostrip ini menggunakan pencatuan aperture coupled. Teknik cross slot dikombinasikan dengan pencatuan aperture coupled agar menghasilkan polarisasi sirkuler pada antena.Hasil simulasi menunjukkan return loss antena sebesar -15,708 dB dengan bandwidth 34,4 MHz, VSWR 1,3922 dan gain 4,413 dBi. Sedangkan pengukuran pada antena yang telah direalisasikan menghasilkan return loss sebesar -30,894 dB dengan bandwidth 588,67 MHz, VSWR 1,191 dan gain 7,104 dBi.
Desain Antena Helix dan Loop Pada Frekuensi 2,4 GHz dan 430 MHz Untuk Perangkat Ground Station Satelit Nano Muhammad Hasan Mahmudy; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.446 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.63

Abstract

Desain antena helix 2,4 GHz digunakan untuk downlink sedangkan antena loop 430 MHz digunakan untuk uplink satelit IiNUSAT-02. Namun dalam perkembangan penelitian terjadi perubahan frekuensi kerja untuk uplink satelit IiNUSAT-02 menjadi 436,5 MHz. Supaya Antena loop dapat digunakan pada satelit IiNUSAT-02 maka dilakukan perubahan frekuensi pada antena loop menjadi 436,5 MHz. Dari hasil simulasi menggunakan software CST 2012 untuk antena helix 2,4 GHz didapatkan nilai return loss sebesar -64,65 dB, VSWR 1,007, bandwidth 0,7 GHz, dan gain sebesar 7,4 dBi. Untuk antena loop 436,5 MHz didapatkan nilai return loss sebesar -37,608 dB, VSWR 1,02669, bandwidth 5,34 MHz, dan gain sebesar 8,91 dBi. Sedangkan dari hasil pengujian antena helix 2,4 GHz didapatkan nilai return loss sebesar    -26,364 dB, VSWR 1,184, bandwidth 0,33 GHz, dan gain sebesar 5,454 dBi. Untuk antena loop 436,5 MHz didapatkan nilai return loss sebesar -23,154 dB, VSWR 1,197, bandwidth 64,08 MHz, dan gain sebesar 4,148 dBi. Dari hasil simulasi dan pengujian memungkinkan antena tersebut dapat direalisasikan pada ground station satelit IiINUSAT-02.
Optimasi Single Frequency Network pada Layanan TV Digital DVB-T dengan Menggunakan Metode Simulated Annealing Destya Arisetyanti; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.029 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.90

Abstract

Standar Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T) diimplementasikan pada konfigurasi Single Frequency Network (SFN) dimana seluruh pemancar pada sebuah jaringan beroperasi pada kanal frekuensi yang sama dan ditransmisikan pada waktu yang sama. SFN lebih dipilih daripada sistem pendahulunya yaitu Multi Frequency Network (MFN) karena menggunakan frekuensi yang lebih efisien serta jangkauan area cakupan yang lebih luas. Pada sisi penerima memungkinkan adanya skenario multipath dengan menggabungkan sinyal dari pemancar yang berbeda karena konfigurasi SFN ini berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Pada penelitian ini, data ketinggian dan jumlah gedung melalui model prediksi propagasi free space dan knife edge akan diterapkan untuk memperkirakan nilai daya terima dan delay sinyal. Perhitungan nilai carrier (C) dan carrier to interference (C/I) dilakukan untuk mengetahui kualitas sinyal pada sisi penerima. Selanjutnya, optimasi parameter lokasi pemancar diterapkan oleh algoritma Simulated Annealing dengan menggunakan tiga cooling schedule terbaik. Simulated Annealing merupakan algoritma optimasi berdasarkan sistem termodinamika yang mensimulasikan proses annealing. Simulated Annealing telah berhasil memperluas daerah cakupan SFN. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya sebagian besar titik receiver dengan kualitas sinyal dibawah threshold.
Rancang Bangun Demodulator FSK 1200 Baud untuk Perangkat Receiver Payload Satelit IiNUSAT-01 Iwan Hendrianto; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.554 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.93

Abstract

Satelit merupakan suatu space segment yang berfungsi sebagai repeater dari ground segment (stasiun bumi) dapat menerima dan memancarkan kembali sinyal dari stasiun bumi untuk komunikasi data yang memiliki dimensi terbatas (nano satelit). Salah satu bagian dari payload satelit adalah demodulator yang berfungsi mengembalikan sinyal hasil modulasi ke bentuk semula. Dalam makalah ini membahas perancangan dan pemembuatan perangkat demodulator FSK 1200 baud beserta pengujiannya. Demodulator ini dibuat dalam dua rangkaian yaitu demodulator dengan TCM 3105 dan demodulator dengan ADF 7021. Untuk hasil uji demodulator TCM 3105 telah teruji dan bisa mendemodulasikan sinyal yang dikirim dengan baik, pengiriman data teks dengan menggunakan media radio juga memperoleh hasil yang baik. Sedangkan pengujian demodulator ADF 7021 juga dapat mendemodulasikan dengan sinyal yang dikirim dengan baik hanya saja umur pakainya tidak terlalu lama. Dari hasil seluruh pengujian maka demodulator dengan TCM 3105 mimiliki kinerja yang baik dan bisa digunakan komukasi pada satelit Iinusat-01.
Co-Authors A. Sjamsjiar Rachman Achmad Affandi Achmad Mauludiyanto Achmad Mauludyanto Achmad, Fariz Agriniwaty Paulus Ahmad Maulidiyanto Ahmad Muhiddin Ainun Jariyah Aji Hidayat Muryono Alan Sujadi Amarulla Octavian Amin Suharjono Andi Nurul Utami Husain Arif Fathoni Aris Pradana Aryo Darma Adhitya Boedinoegroho, Hany Bura, Romie O. Destya Arisetyanti Devy Kuswidiastuti Dewa Made Wiharta Dika Oktavian Prasetya Dwicahyono, Taufik Dyah Ayu Kusumaningtyas Harsono Endang Widjiati Endang Widjiati Endroyono Endroyono Endroyono, E Eni Dwi Wardihani Fadhli, Mohammad Fannush Shofi Akbar Farandi Febrianto Pratama Fathur Zaini Rachman Firmansyah, Mohammad Rifqi Fitri Adi Iskandarianto Fitri Amillia Fredy Indra Oktaviansyah Gatot Kusrahardjo Gatra Erga Yudhanto Gilang Almaghribi Sarkara Putra Harinto Mukti Legowo I Made Oka Widyantara Ikhwanti Indahsari Iwan Hendrianto Kalvein Rantelobo Krisdaniawan, Darien Raditya Krisnatianto Tanjung Mauridhi Hery P Mohammad Ariza Fardhiyansyah Muhammad Dwi Rifqi Muhammad Fachry Nova Muhammad Hasan Mahmudy Muhammad Rendy Anggara Muhammad Rizal Habibi Muhammad Yahya Batubara Niko Permana R.W. Ninik D. Yundariani Nisa Rachmadina Novalia Pertiwi Nur Ikhwan Nyoman Putra Sastra Octiana Widyarena Prasetiyono H Mukti Prasetiyono Hari Mukti Prima Kristalina Puji Handayani Pujo Widodo, Pujo Purwoko Adhi Rahayu, Sri Rheyuniarto Sahlendar Asthan Riyan Eka Pratama Rochmawati Ada Wiyah Rufiyanto, Arief Safirina Febryanti Saharani, Aulia Sardjono Trihatmo Septiawan, Reza Setijadi, Eko SRI RAHAYU Sri Rahayu Suwadi Suwadi Theresia Dwi Lestari Londong Titiek Suryani Tri Budi Santoso Tri Budi Santoso Walid Maulana Hadiansyah Wibowo, Reyhan Adinathan Widyanto Dwiputra Pradipta Wikantyoso, A Krisna Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wismanu Susetyo Wismanu Susetyo Yahya Syukri Amrullah Yuyu Wahyu