Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Kinerja Sistem Gaussian Minimum Shift Keying (GMSK) untuk Pengiriman Citra dari Satelit Nano ke Stasiun Bumi Muhammad Rizal Habibi; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.416 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.114

Abstract

Satelit nano IiNUSAT merupakan satelit nano pertama yang dibuat dan diluncurkan oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Riset terkait satelit nano IiNUSAT telah mencapai tahap kedua yang bernama IiNUSAT II. Sistem komunikasi satelit nano IiNUSAT II memiliki dua lintasan transmisi, yaitu uplink dengan frekuensi carrier 145,995 MHz dan downlink dengan frekuensi carrier 2,4 GHz. Satelit nano IiNUSAT II dipersiapkan untuk melakukan surveillance terhadap bumi, sehingga sinyal informasi yang dikirimkan dalam lintasan downlink adalah sinyal informasi yang berasal dari citra. Satelit nano IiNUSAT II berorbit pada Low Earth Orbit (LEO) dengan kecepatan tertentu. Pergerakan relatif satelit terhadap stasiun bumi mengakibatkan adanya pergeseran frekuensi kerja satelit  yang dikenal dengan Doppler shift. Doppler shift terbesar terjadi saat satelit berada pada jarak terjauh dengan terminal di bumi. Pada lintasan transmisi downlink, Doppler shift maksimum adalah sebesar 51,1 kHz. Di samping Doppler shift, pada kanal sistem komunikasi satelit ini juga terdapat gangguan lain yang berupa Additive White Gaussian Noise (AWGN). Berdasarkan hasil simulasi, dapat diketahui bahwa Doppler shift tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lintasan downlink yang digunakan dalam proses pengiriman citra dari satelit nano menuju stasiun bumi.
Kajian Implementasi Standar Long-Term Evolution (LTE) pada Sistem Komunikasi Taktis Militer Aris Pradana; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.123 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.117

Abstract

Sistem komunikasi taktis memungkinkan banyak pengguna dengan mobilitas tinggi, memiliki kemampuan network recovery dan network entry yang baik, serta diperkuat dengan sistem keamanan transmisi yang tahan terhadap jamming. Di sisi lain kemajuan telekomunikasi mendorong dikembangkannya LTE (Long-Term Evolution). LTE meningkatkan kapasitas sistem, cakupan area, high peak data rates, didukung dengan sistem keamanan yang baik guna mewujudkan pelayanan komunikasi menjadi lebih baik. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan pengkajian penggunaan standar teknologi LTE agar mampu mendukung dan meningkatkan kualitas sistem komunikasi taktis militer. Simulasi dilakukan untuk menguji kemampuan LTE terhadap jamming. Dari hasil simulasi dan pengkajian didapatkan bahwa sistem uplink LTE, dengan penambahan convolutional coding dan interleaver 8×8, memiliki ketahanan terhadap jamming dengan amplitudo di bawah 2,5 V, serta lebih tahan terhadap multitone-jamming pada sub-carrier yang berbeda daripada multitone-jamming pada sub-carrier yang sama. Arsitektur LTE dengan dukungan teknik AMC, AAA server, dan fast cell selection mampu mendukung sistem super network, network entry, dan network recovery pada sistem komunikasi taktis.
Kajian Penggunaan Standar Mobile Wimax untuk Sistem Komunikasi Taktis Militer Dyah Ayu Kusumaningtyas Harsono; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.205 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.127

Abstract

Sistem komunikasi taktis merupakan sistem komunikasi yang diterapkan di area yang luas dengan kriteria tertentu diantaranya mampu menjadi Super Network akibat banyaknya unit yang bergabung dalam sebuah operasi militer, menuntut transfer data yang relatif cepat, diperkuat dengan keamanan transmisi, serta memungkinkan diterapkan pada infrastruktur yang tidak tetap. Pada penelitian ini dilakukan pengkajian  mengenai pemilihan teknologi Mobile Wimax sebagai teknologi komunikasi alternatif yang bisa diterapkan di daerah taktis. Pengkajian yang dilakukan menggunakan dua metode, yaitu dengan simulasi untuk menguji kemampuan security pada Mobile Wimax terhadap gangguan jamming dan studi pustaka mengenai kriteria yang harus dipenuhi dalam sistem komunikasi taktis seperti kemampuan Mobile Wimax menjadi Super Network, perbaikan rute apabila suatu saat terjadi pemblokan rute pada proses pentransmisian informasi, dan mekanisme yang membolehkan apabila sebuah unit baru ingin bergabung dalam sebuah jaringan mesh yang sudah aktif sebelumnya. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sistem Orthogonal Frequency Division Muliplexing (OFDM) yang ada pada Mobile Wimax harus dimodifikasi dengan memberikan convolutional coding dan interleaver agar tahan terhadap gangguan  jamming. Sedangkan pada hasil dari studi pustaka menunjukkan bahwa teknologi Mobile Wimax mampu memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Perancangan dan Perakitan Modulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transmiter Payload Satelit IINUSAT-01 Ahmad Muhiddin; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.223 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.137

Abstract

Tren disain sistem komunikasi satelit setelah debut selama hampir setengah abad silih berganti bagaikan sebuah negara dengan 100 musim. Tren disain satelit yang sudah lama muncul namun tetap hangat diperbincangkan adalah satelit dengan ukuran mini, yaitu micro dan nano satelit. Menyusutkan ukuran juga berarti menyusutkan biaya pembuatan dan juga operasional dari sebuah satelit. Indonesia sebagai salah satu negara yang potensial untuk dapat memanfaatkan layanan komunikasi satelit tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan teknologi ini. Melalui program Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research and Education (INSPIRE) Indonesia mencoba mengembangkan satelit ilmiah nano yang dimulai dari proyek IiNUSAT-01. Penelitian ini berfokus pada perakitan perangkat modulator payload komunikasi IiNUSAT-01 yang memiliki kecepatan transfer data sebesar 9600 bps (baud) dengan tipe modulasi FSK. Perangkat modulator dirancang agar dapat memodulasi sinyal carrier dengan deviasi frekuensi tertentu sesuai dengan masukan sinyal logic informasi. Melalui proses disain analitis, perakitan dan pengujian alat, didapatkan sebuah perangkat modulator FSK 9600 baud berbasis IC tranceiver ADF7021-N. Perangkat modulator ini dapat memodulasi frekuensi sinyal carrier pada sisi downlink IiNUSAT-01 (436.915 MHz) dengan deviasi frekuensi ± 1.08 kHz.
Manajemen Interferensi Femtocell pada LTE-Advanced dengan Menggunakkan Metode ACCS (Autonomous Component Carrier Selection) Gatra Erga Yudhanto; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.999 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.140

Abstract

Dalam bidang telekomunikasi yang berkembang pesat, maka tekonologi LTE (Long term Evolution) telah berkembang lagi menjadi LTE-Advanced dengan harapan bandwidth yang disediakan bisa mencapai 100 MHz, maka hal itu diciptakan berbagai macam teknik, salah satunya adalah CA (Carrier Aggregation), yaitu teknik untuk menggabungkan alokasi frekuensi yang terpisah-pisah. Manfaat dari teknik CA ini adalah memperbesar bandwith  demi memenuhi kecepatan data yang tinggi. Dalam sistem komunikasi terdapat interferensi dari masing-masing user yang ada di dalam sistem tersebut. Dalam proses manajemen interferensi yang terjadi dalam sistem, interferensi tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Maka dari itu banyak sekali diriset tentang manajemen interferensi pada sistem komunikasi bergerak. Femtocell merupakan salah satu perangkat yang ada dalam sistem LTE-Advanced yang berfungsi sebagai penguat sinyal dalam ruangan, yang tersambung langsung pada arsitektur LTE-Advanced. Didalam Penelitian ini akan membahas Analisis performansi femtocell atau bisa disebut HeNB (Home e Node B) pada LTE-Advanced dengan memakai teknik CA dan metode Autonomous component carrier selection (ACCS) untuk manajemen interferensi.
Evaluasi Kinerja Sistem Komunikasi LTE-Advanced dengan Relay Berbasis Orthogonal Resource Allocation Algorithm Farandi Febrianto Pratama; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.152 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.168

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi akan memasuki era LTE-Advanced (4G) yang memiliki beberapa kemampuan. Salah satu kemampuan yang dimiliki adalah peningkatkan performa cell edge. Peningkatan performa tersebut, dilakukan dengan meletakkan relay pada daerah cell edge. Dalam teknologi ini terdapat permasalahan mengenai inter-cell interference (ICI) dan nilai throughput pada cell edge.Tugas akhir ini memberikan penjelasan mengenai Orthogonal Resource Allocation Algorithm (ORAA) yang diterapkan pada sistem LTE-Advanced dengan relay. Dengan menggunakan algoritma yang memiliki kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya frekuensi pada setiap user yang ada yang diterapkan pada relay dan eNB, pelayanan yang diberikan kepada pengguna yang berada di ujung cakupan akan memiliki nilai SINR (Signal to Interference plus Noise Ratio) dan throughput yang lebih tinggi lalu ICI akan berkurang karena diatur pemakaian frekuency reuse factor sama dengan 1.Dari hasil pengujian, sistem LTE-Advanced dengan relay memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem yang tidak menggunakan relay. Kinerja tersebut ditunjukkan dengan nilai SINR dan throughput. Selain itu performa sistem pada daerah tepian sel pada sistem dengan relay juga lebih baik jika dibandingkan dengan tanpa relay
Desain Antena Monopole UHF untuk Uplink pada Satelit Iinusat-02 Yahya Syukri Amrullah; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.463 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.590

Abstract

Pada generasi awal seperti sekarang ini Indonesia sedang dilakukan riset pembuatan payload satelit Iinusat-02. Dalam Penelitian ini dibahas mengenai salah satu bagian payload yaitu antena uplink yang beroperasi pada frekuensi UHF. Antena uplink untuk payload satelit Iinusat-02 ini menggunakan model monopole. Antena monopole tersebut terbuat dari stainless steel yang memiliki panjang 172 mm dan diameter 1 mm. Antena monopole yang dibutuhkan sebanyak dua buah dimana  instalasi kedua antena monopole tersebut berada pada tengah sisi satelit Iinusat-02 yang saling tegak lurus. Sebelum fabrikasi, desain antena monopole  disimulasikan pada software CST Studio 2011. Dari beberapa percobaan desain antena monopole pada software CST Studio 2011 diperoleh suatu desain antena yang memiliki performansi seperti yang diinginkan, yaitu memliki nilai retrun loss sebesar -18,64 dB, VSWR sebesar 1.26 pada frekuensi kerja 436,5 MHz, lebar bandwidth sekitar 78,2 MHz dan pola radiasi yang mendekati bentuk bola. Dari hasil pengukuran antena monopole hasil fabrikasi diperoleh nilai return loss dan VSWR sebesar -18,5 dB dan 1,31, lebar bandwidth sebesar 35 MHz dan pola radiasi yang diperoleh mendekati bola. Mengacu pada hasil simulasi dan pengujian, dapat disimpulkan disain antena ini bisa dijadikan refrensi untuk antenna uplink satelit Iinusat 02 yang tumbling selama mengorbit.
Komputasi Penghamburan dan Penyerapan Gelombang Elektromagnetik karena Titik Hujan dengan Metode Analitis pada Frekuensi diatas 10 GHz Muhammad Yahya Batubara; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1825.547 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1264

Abstract

Pertumbuhan pesat yang terjadi pada dunia komunikasi mendesak para engineer untuk mengembangkan sistem komunikasi gelombang mikro yang bekerja pada frekuensi yang lebih tinggi. Dalam penggunaannya, frekuensi diatas 10 GHz rentan terhadap redaman yang disebabkan oleh partikel-partikel di atmosfer yang akan menurunkan keandalan dan kinerja dari hubungan komunikasi radar dan ruang terkait. Partikel-partikel tersebut meliputi oksigen, ice crystals, hujan, kabut, dan salju. Diantara partikel tersebut, redaman terbesar disebabkan oleh titik-titik hujan. Memprediksi kinerja sistem yang terganggu akibat endapan lapisan ini sangat penting dengan melakukan pengujian.Pengujian dilakukan dengan asumsi titik hujan tersebut berbentuk bola (spherical). Untuk intensitas curah hujan yang tinggi, bentuk oblate spheroidal-lah yang lebih realistis. Pembangkitan dan pengalokasian titik hujan menggunakan lima distribusi, yaitu distribusi Eksponensial Marshall-Palmer, Eksponensial Le Wei Li, Eksponensial Lince, Weibull Sekine, dan Weibull Lince. Metode perhitungan redaman yang dilakukan adalah metode redaman hujan spesifik dan metode analitik.Berdasarkan hasil analisis, besar redaman hujan berbanding lurus dengan besar curah hujan dan frekuensi kerjanya. Semakin tinggi curah hujan dan semakin besar frekuensi kerjanya, maka gelombang akan mengalami redaman yang makin besar pula. Redaman hujan mulai berpengaruh pada frekuensi 10 GHz dan mengalami nilai tertinggi pada frekuensi antara 100 hingga 120 GHz.
Analisis Komputasi Penyerapan Gelombang Elektromagnetik oleh Titik Hujan dengan menggunakan Methods of Moment Dika Oktavian Prasetya; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.166 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1261

Abstract

Redaman hujan menjadi permasalahan yang cukuppenting dalam propagasi elektromagnetik. Hal ini dikarenakanperkembangan teknologi telekomunikasi berkembang dengansangat cepat yang ditandai dengan penggunaan frekuensi tinggisampai dalam orde GHz, akibatnya adalah panjang gelombangmenjadi semakin pendek dan dalam perjalanannya akan mudahterganggu, termasuk oleh hujan yang akan menimbulkanpenghamburan dan penyerapan gelombang elektromagnetik.Pada penelitian ini dilakukan simulasi sebuah titik hujanberbentuk spherical dengan permitivivitas imajiner yang didapatdari penelitian sebelumnya dengan menggunakan metode momenyang hasilnya akan dibandingkan dengan hasil penelitiansebelumnya. Pada langkah awal penelitian akan dibentuk sebuahcubic sphere berbentuk spherical lalu menentukan koordinatpusat tiap cell dan menggunakan metode momen untukmenyelesaikannya.Berdasarkan analisa hasil komputasi didapatkan hasil bahwapada frekuensi 30 GHz,untuk titik hujan berukuran 1mm & 2mmdengan cubic sphere berukuran 0.25 mm, rata – rata daya yangterserap secara berurutan adalah 2.77 dBm dan 6.87 dBm.Pengukuran lain dilakukan dengan cubic sphere berukuran0.5mm dan diperoleh rata – rata daya yang terserap secaraberurutan adalah 3.40 dBm dan 6.13 dBm. Pada frekuensi300GHz, titik hujan berukuran 1mm & 2mm dengan cubic sphereberukuran 0.25mm, rata – rata daya yang terserap secaraberurutan adalah 2.38 dBm dan 0.68 dBm. Pengukuran laindilakukan dengan cubic sphere berukuran 0.5mm dan diperolehrata – rata daya yang terserap secara berurutan adalah 15.58dBm dan 5.51 dBm.
Perancangan dan Implementasi Demodulator GMSK untuk Pengiriman Citra pada Sistem Komunikasi Satelit Nano 2,4GHz Ikhwanti Indahsari; Suwadi Suwadi; gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.521 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2317

Abstract

Stasiun bumi merupakan suatu ground segment yang berfungsi sebagai pemancar dan penerima, ke dan dari satelit, untuk komunikasi data satelit, khususnya satelit nano. Stasiun bumi pada Tugas Akhir ini hanya berfungsi pada arah downlink saja, yakni hanya menerima data yang dipancarkan dari satelit nano. Stasiun bumi terdiri dari berbagai macam modul seperti antenna, RF Downlink, baseband (demodulator), decoder, dan PC untuk mencuplik data hasil pemrosesan. Demodulator berfungsi mengembalikan sinyal hasil modulasi ke bentuk semula. Penelitian yang diambil dari Tugas Akhir ini bertujuan merancang dan membuat perangkat demodulator GMSK yang bekerja pada baudrate 19200 baud/s. Demodulator ini diimplementasikan dengan demodulator FM pendekatan PLL dan filter Gaussian dengan BT 0,5. Hasil pengujian menunjukan bahwa demodulator bisa mendemodulasi sinyal analog dengan baud rate 19200 baud/s. Hasilnya sudah sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan untuk baseband stasiun bumi. Demodulator ini telah diuji dengan menggunakan perangkat modulator dengan frekuensi output sebesar 9,517 KHz. Pada akhir pengujian disarankan pemilihan demodulator FM dengan pendekatan demodulator IQ karena akan menghasilkan demodulasi GMSK yang maksimal saat diintegrasikan dengan filter Gaussian.  
Co-Authors Achmad Affandi Achmad Mauludiyanto Achmad Mauludyanto Achmad, Fariz Agriniwaty Paulus Ahmad Maulidiyanto Ahmad Muhiddin Ainun Jariyah Aji Hidayat Muryono Alan Sujadi Amarulla Octavian Amin Suharjono Andi Nurul Utami Husain Arif Fathoni Aris Pradana Aryo Darma Adhitya Boedinoegroho, Hany Bura, Romie O. Destya Arisetyanti Devy Kuswidiastuti Dewa Made Wiharta Dika Oktavian Prasetya Dwicahyono, Taufik Dyah Ayu Kusumaningtyas Harsono Endang Widjiati Endroyono Endroyono Endroyono, E Eni Dwi Wardihani Fadhli, Mohammad Fannush Shofi Akbar Farandi Febrianto Pratama Fathur Zaini Rachman Firmansyah, Mohammad Rifqi Fitri Adi Iskandarianto Fitri Amillia Fredy Indra Oktaviansyah Gatot Kusrahardjo Gatra Erga Yudhanto Gilang Almaghribi Sarkara Putra Harinto Mukti Legowo I Made Oka Widyantara Ikhwanti Indahsari Iwan Hendrianto Kalvein Rantelobo Krisdaniawan, Darien Raditya Krisnatianto Tanjung Mohammad Ariza Fardhiyansyah Muhammad Dwi Rifqi Muhammad Fachry Nova Muhammad Hasan Mahmudy Muhammad Rendy Anggara Muhammad Rizal Habibi Muhammad Yahya Batubara Niko Permana R.W. Ninik D. Yundariani Nisa Rachmadina Novalia Pertiwi Nur Ikhwan Nyoman Putra Sastra Octiana Widyarena Prasetiyono H Mukti Prasetiyono Hari Mukti Prima Kristalina Puji Handayani Pujo Widodo, Pujo Purwoko Adhi Rahayu, Sri Rheyuniarto Sahlendar Asthan Riyan Eka Pratama Rochmawati Ada Wiyah Rufiyanto, Arief Safirina Febryanti Saharani, Aulia Sardjono Trihatmo Septiawan, Reza Setijadi, Eko SRI RAHAYU Sri Rahayu Suwadi Suwadi Theresia Dwi Lestari Londong Titiek Suryani Tri Budi Santoso Walid Maulana Hadiansyah Wibowo, Reyhan Adinathan Widyanto Dwiputra Pradipta Wikantyoso, A Krisna Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wismanu Susetyo Wismanu Susetyo Yahya Syukri Amrullah Yuyu Wahyu