Claim Missing Document
Check
Articles

Kinerja Sistem Komunikasi Satelit Ka-band Menggunakan Site Diversity Di Daerah Tropis Krisnatianto Tanjung; Gamantyo Hendrantoro; Achmad Mauludiyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.374 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.95

Abstract

Frekuensi Ka-band yang dapat digunakan pada sistem komunikasi satelit adalah sebesar 20 GHz (Downlink) dan 30 GHz (Uplink). Namun, pada kondisi daerah tropis dimana intensitas curah hujan yang cukup tinggi dapat menyebabkan kondisi sistem komunikasi satelit akan teredam di sisi penerima. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghindari dampak adanya redaman hujan adalah dengan metode site diversity. Metode site diversity adalah metode dengan proses transmisi dari satelit ka-band ke lebih dari satu lokasi stasiun bumi. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai signal to noise ratio (SNR). Penerapan metode site diversity pada sistem komunikasi satelit ka-band mengakibatkan adanya peningkatan kinerja sistem komunikasi bila dibandingkan dengan sistem komunikasi tanpa site diversity. Hal tersebut dapat dilihat pada probabilitas 0,1% nilai SNR pada link perak dengan kondisi downlink dan uplink sebesar -4,349 dB dan 0,09804 dB, sedangkan dengan menggunakan teknik selection combining menghasilkan nilai SNR kondisi downlink dan uplink sebesar 10,31 dB dan 25,15 dB.
Estimasi Doppler Spread pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dengan Metode Phase Difference Walid Maulana Hadiansyah; Gamantyo Hendrantoro; Titiek Suryani
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.192 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.97

Abstract

Doppler spread akan menyebabkan terjadinya pelebaran spektral sinyal informasi sehingga menganggu ortogonalitas antar subcarrier atau biasa disebut  Inter Carrier Interference (ICI) pada sistem OFDM. Pengestimasian doppler spread akan berguna  untuk mengetahui besarnya efek doppler spread pada sistem dan membantu untuk meningkatkan optimasi pentransmisian sinyal informasi serta membantu untuk mengembangkan algoritma yang mampu meminimalkan efek ICI. Pada penelitian ini, estimasi doppler spread dengan metode Phase Difference menggunakan pola tipe-comb dalam penyisipan pilotnya. Selanjutnya estimasi kanal yang digunakan adalah Piece-wise Linear. Estimasi kanal bertujuan  untuk mencari 1 kanal yang dominan di antara kanal-kanal yang ada. Kanal diasumsikan menggunakan model kanal  rekomendasi ITU Vehicular dan model mobile-to-fix Clarke. Pa­­da kanal ITU Vehicular , ter­da­pat 6 tap yang me­­miliki delay time dan average power yang ber­be­­da-be­da. Setelah melakukan simulasi, dapat disimpulkan bahwa semakin besar doppler spread, semakin kecil jumlah simbol pilot yang dibutuhkan untuk membentuk satu lingkaran pada diagram konstelasi, dan sebaliknya. Rentang nilai doppler spread yang bisa diestimasi adalah 0.0117-0.2997. Untuk rentang SNR 10-30 dB, besarnya error adalah ± 64.72%, sedangkan untuk rentang SNR 40-80 dB, besarnya error adalah ± 35.81%.
Evaluasi Kinerja Sistem Gaussian Minimum Shift Keying (GMSK) untuk Pengiriman Citra dari Satelit Nano ke Stasiun Bumi Muhammad Rizal Habibi; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.416 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.114

Abstract

Satelit nano IiNUSAT merupakan satelit nano pertama yang dibuat dan diluncurkan oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Riset terkait satelit nano IiNUSAT telah mencapai tahap kedua yang bernama IiNUSAT II. Sistem komunikasi satelit nano IiNUSAT II memiliki dua lintasan transmisi, yaitu uplink dengan frekuensi carrier 145,995 MHz dan downlink dengan frekuensi carrier 2,4 GHz. Satelit nano IiNUSAT II dipersiapkan untuk melakukan surveillance terhadap bumi, sehingga sinyal informasi yang dikirimkan dalam lintasan downlink adalah sinyal informasi yang berasal dari citra. Satelit nano IiNUSAT II berorbit pada Low Earth Orbit (LEO) dengan kecepatan tertentu. Pergerakan relatif satelit terhadap stasiun bumi mengakibatkan adanya pergeseran frekuensi kerja satelit  yang dikenal dengan Doppler shift. Doppler shift terbesar terjadi saat satelit berada pada jarak terjauh dengan terminal di bumi. Pada lintasan transmisi downlink, Doppler shift maksimum adalah sebesar 51,1 kHz. Di samping Doppler shift, pada kanal sistem komunikasi satelit ini juga terdapat gangguan lain yang berupa Additive White Gaussian Noise (AWGN). Berdasarkan hasil simulasi, dapat diketahui bahwa Doppler shift tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lintasan downlink yang digunakan dalam proses pengiriman citra dari satelit nano menuju stasiun bumi.
Kajian Implementasi Standar Long-Term Evolution (LTE) pada Sistem Komunikasi Taktis Militer Aris Pradana; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.123 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.117

Abstract

Sistem komunikasi taktis memungkinkan banyak pengguna dengan mobilitas tinggi, memiliki kemampuan network recovery dan network entry yang baik, serta diperkuat dengan sistem keamanan transmisi yang tahan terhadap jamming. Di sisi lain kemajuan telekomunikasi mendorong dikembangkannya LTE (Long-Term Evolution). LTE meningkatkan kapasitas sistem, cakupan area, high peak data rates, didukung dengan sistem keamanan yang baik guna mewujudkan pelayanan komunikasi menjadi lebih baik. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan pengkajian penggunaan standar teknologi LTE agar mampu mendukung dan meningkatkan kualitas sistem komunikasi taktis militer. Simulasi dilakukan untuk menguji kemampuan LTE terhadap jamming. Dari hasil simulasi dan pengkajian didapatkan bahwa sistem uplink LTE, dengan penambahan convolutional coding dan interleaver 8×8, memiliki ketahanan terhadap jamming dengan amplitudo di bawah 2,5 V, serta lebih tahan terhadap multitone-jamming pada sub-carrier yang berbeda daripada multitone-jamming pada sub-carrier yang sama. Arsitektur LTE dengan dukungan teknik AMC, AAA server, dan fast cell selection mampu mendukung sistem super network, network entry, dan network recovery pada sistem komunikasi taktis.
Kajian Penggunaan Standar Mobile Wimax untuk Sistem Komunikasi Taktis Militer Dyah Ayu Kusumaningtyas Harsono; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.205 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.127

Abstract

Sistem komunikasi taktis merupakan sistem komunikasi yang diterapkan di area yang luas dengan kriteria tertentu diantaranya mampu menjadi Super Network akibat banyaknya unit yang bergabung dalam sebuah operasi militer, menuntut transfer data yang relatif cepat, diperkuat dengan keamanan transmisi, serta memungkinkan diterapkan pada infrastruktur yang tidak tetap. Pada penelitian ini dilakukan pengkajian  mengenai pemilihan teknologi Mobile Wimax sebagai teknologi komunikasi alternatif yang bisa diterapkan di daerah taktis. Pengkajian yang dilakukan menggunakan dua metode, yaitu dengan simulasi untuk menguji kemampuan security pada Mobile Wimax terhadap gangguan jamming dan studi pustaka mengenai kriteria yang harus dipenuhi dalam sistem komunikasi taktis seperti kemampuan Mobile Wimax menjadi Super Network, perbaikan rute apabila suatu saat terjadi pemblokan rute pada proses pentransmisian informasi, dan mekanisme yang membolehkan apabila sebuah unit baru ingin bergabung dalam sebuah jaringan mesh yang sudah aktif sebelumnya. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sistem Orthogonal Frequency Division Muliplexing (OFDM) yang ada pada Mobile Wimax harus dimodifikasi dengan memberikan convolutional coding dan interleaver agar tahan terhadap gangguan  jamming. Sedangkan pada hasil dari studi pustaka menunjukkan bahwa teknologi Mobile Wimax mampu memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Perancangan dan Perakitan Modulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transmiter Payload Satelit IINUSAT-01 Ahmad Muhiddin; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.223 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.137

Abstract

Tren disain sistem komunikasi satelit setelah debut selama hampir setengah abad silih berganti bagaikan sebuah negara dengan 100 musim. Tren disain satelit yang sudah lama muncul namun tetap hangat diperbincangkan adalah satelit dengan ukuran mini, yaitu micro dan nano satelit. Menyusutkan ukuran juga berarti menyusutkan biaya pembuatan dan juga operasional dari sebuah satelit. Indonesia sebagai salah satu negara yang potensial untuk dapat memanfaatkan layanan komunikasi satelit tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan teknologi ini. Melalui program Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research and Education (INSPIRE) Indonesia mencoba mengembangkan satelit ilmiah nano yang dimulai dari proyek IiNUSAT-01. Penelitian ini berfokus pada perakitan perangkat modulator payload komunikasi IiNUSAT-01 yang memiliki kecepatan transfer data sebesar 9600 bps (baud) dengan tipe modulasi FSK. Perangkat modulator dirancang agar dapat memodulasi sinyal carrier dengan deviasi frekuensi tertentu sesuai dengan masukan sinyal logic informasi. Melalui proses disain analitis, perakitan dan pengujian alat, didapatkan sebuah perangkat modulator FSK 9600 baud berbasis IC tranceiver ADF7021-N. Perangkat modulator ini dapat memodulasi frekuensi sinyal carrier pada sisi downlink IiNUSAT-01 (436.915 MHz) dengan deviasi frekuensi ± 1.08 kHz.
Manajemen Interferensi Femtocell pada LTE-Advanced dengan Menggunakkan Metode ACCS (Autonomous Component Carrier Selection) Gatra Erga Yudhanto; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.999 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.140

Abstract

Dalam bidang telekomunikasi yang berkembang pesat, maka tekonologi LTE (Long term Evolution) telah berkembang lagi menjadi LTE-Advanced dengan harapan bandwidth yang disediakan bisa mencapai 100 MHz, maka hal itu diciptakan berbagai macam teknik, salah satunya adalah CA (Carrier Aggregation), yaitu teknik untuk menggabungkan alokasi frekuensi yang terpisah-pisah. Manfaat dari teknik CA ini adalah memperbesar bandwith  demi memenuhi kecepatan data yang tinggi. Dalam sistem komunikasi terdapat interferensi dari masing-masing user yang ada di dalam sistem tersebut. Dalam proses manajemen interferensi yang terjadi dalam sistem, interferensi tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Maka dari itu banyak sekali diriset tentang manajemen interferensi pada sistem komunikasi bergerak. Femtocell merupakan salah satu perangkat yang ada dalam sistem LTE-Advanced yang berfungsi sebagai penguat sinyal dalam ruangan, yang tersambung langsung pada arsitektur LTE-Advanced. Didalam Penelitian ini akan membahas Analisis performansi femtocell atau bisa disebut HeNB (Home e Node B) pada LTE-Advanced dengan memakai teknik CA dan metode Autonomous component carrier selection (ACCS) untuk manajemen interferensi.
Evaluasi Kinerja Sistem Komunikasi LTE-Advanced dengan Relay Berbasis Orthogonal Resource Allocation Algorithm Farandi Febrianto Pratama; Gamantyo Hendrantoro; Devy Kuswidiastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.152 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.168

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi akan memasuki era LTE-Advanced (4G) yang memiliki beberapa kemampuan. Salah satu kemampuan yang dimiliki adalah peningkatkan performa cell edge. Peningkatan performa tersebut, dilakukan dengan meletakkan relay pada daerah cell edge. Dalam teknologi ini terdapat permasalahan mengenai inter-cell interference (ICI) dan nilai throughput pada cell edge.Tugas akhir ini memberikan penjelasan mengenai Orthogonal Resource Allocation Algorithm (ORAA) yang diterapkan pada sistem LTE-Advanced dengan relay. Dengan menggunakan algoritma yang memiliki kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya frekuensi pada setiap user yang ada yang diterapkan pada relay dan eNB, pelayanan yang diberikan kepada pengguna yang berada di ujung cakupan akan memiliki nilai SINR (Signal to Interference plus Noise Ratio) dan throughput yang lebih tinggi lalu ICI akan berkurang karena diatur pemakaian frekuency reuse factor sama dengan 1.Dari hasil pengujian, sistem LTE-Advanced dengan relay memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem yang tidak menggunakan relay. Kinerja tersebut ditunjukkan dengan nilai SINR dan throughput. Selain itu performa sistem pada daerah tepian sel pada sistem dengan relay juga lebih baik jika dibandingkan dengan tanpa relay
Desain Antena Monopole UHF untuk Uplink pada Satelit Iinusat-02 Yahya Syukri Amrullah; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.463 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.590

Abstract

Pada generasi awal seperti sekarang ini Indonesia sedang dilakukan riset pembuatan payload satelit Iinusat-02. Dalam Penelitian ini dibahas mengenai salah satu bagian payload yaitu antena uplink yang beroperasi pada frekuensi UHF. Antena uplink untuk payload satelit Iinusat-02 ini menggunakan model monopole. Antena monopole tersebut terbuat dari stainless steel yang memiliki panjang 172 mm dan diameter 1 mm. Antena monopole yang dibutuhkan sebanyak dua buah dimana  instalasi kedua antena monopole tersebut berada pada tengah sisi satelit Iinusat-02 yang saling tegak lurus. Sebelum fabrikasi, desain antena monopole  disimulasikan pada software CST Studio 2011. Dari beberapa percobaan desain antena monopole pada software CST Studio 2011 diperoleh suatu desain antena yang memiliki performansi seperti yang diinginkan, yaitu memliki nilai retrun loss sebesar -18,64 dB, VSWR sebesar 1.26 pada frekuensi kerja 436,5 MHz, lebar bandwidth sekitar 78,2 MHz dan pola radiasi yang mendekati bentuk bola. Dari hasil pengukuran antena monopole hasil fabrikasi diperoleh nilai return loss dan VSWR sebesar -18,5 dB dan 1,31, lebar bandwidth sebesar 35 MHz dan pola radiasi yang diperoleh mendekati bola. Mengacu pada hasil simulasi dan pengujian, dapat disimpulkan disain antena ini bisa dijadikan refrensi untuk antenna uplink satelit Iinusat 02 yang tumbling selama mengorbit.
Komputasi Penghamburan dan Penyerapan Gelombang Elektromagnetik karena Titik Hujan dengan Metode Analitis pada Frekuensi diatas 10 GHz Muhammad Yahya Batubara; Eko Setijadi; Gamantyo Hendrantoro
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1825.547 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1264

Abstract

Pertumbuhan pesat yang terjadi pada dunia komunikasi mendesak para engineer untuk mengembangkan sistem komunikasi gelombang mikro yang bekerja pada frekuensi yang lebih tinggi. Dalam penggunaannya, frekuensi diatas 10 GHz rentan terhadap redaman yang disebabkan oleh partikel-partikel di atmosfer yang akan menurunkan keandalan dan kinerja dari hubungan komunikasi radar dan ruang terkait. Partikel-partikel tersebut meliputi oksigen, ice crystals, hujan, kabut, dan salju. Diantara partikel tersebut, redaman terbesar disebabkan oleh titik-titik hujan. Memprediksi kinerja sistem yang terganggu akibat endapan lapisan ini sangat penting dengan melakukan pengujian.Pengujian dilakukan dengan asumsi titik hujan tersebut berbentuk bola (spherical). Untuk intensitas curah hujan yang tinggi, bentuk oblate spheroidal-lah yang lebih realistis. Pembangkitan dan pengalokasian titik hujan menggunakan lima distribusi, yaitu distribusi Eksponensial Marshall-Palmer, Eksponensial Le Wei Li, Eksponensial Lince, Weibull Sekine, dan Weibull Lince. Metode perhitungan redaman yang dilakukan adalah metode redaman hujan spesifik dan metode analitik.Berdasarkan hasil analisis, besar redaman hujan berbanding lurus dengan besar curah hujan dan frekuensi kerjanya. Semakin tinggi curah hujan dan semakin besar frekuensi kerjanya, maka gelombang akan mengalami redaman yang makin besar pula. Redaman hujan mulai berpengaruh pada frekuensi 10 GHz dan mengalami nilai tertinggi pada frekuensi antara 100 hingga 120 GHz.
Co-Authors A. Sjamsjiar Rachman Achmad Affandi Achmad Mauludiyanto Achmad Mauludyanto Achmad, Fariz Agriniwaty Paulus Ahmad Maulidiyanto Ahmad Muhiddin Ainun Jariyah Aji Hidayat Muryono Alan Sujadi Amarulla Octavian Amin Suharjono Andi Nurul Utami Husain Arif Fathoni Aris Pradana Aryo Darma Adhitya Boedinoegroho, Hany Bura, Romie O. Destya Arisetyanti Devy Kuswidiastuti Dewa Made Wiharta Dika Oktavian Prasetya Dwicahyono, Taufik Dyah Ayu Kusumaningtyas Harsono Endang Widjiati Endang Widjiati Endroyono Endroyono Endroyono, E Eni Dwi Wardihani Fadhli, Mohammad Fannush Shofi Akbar Farandi Febrianto Pratama Fathur Zaini Rachman Firmansyah, Mohammad Rifqi Fitri Adi Iskandarianto Fitri Amillia Fredy Indra Oktaviansyah Gatot Kusrahardjo Gatra Erga Yudhanto Gilang Almaghribi Sarkara Putra Harinto Mukti Legowo I Made Oka Widyantara Ikhwanti Indahsari Iwan Hendrianto Kalvein Rantelobo Krisdaniawan, Darien Raditya Krisnatianto Tanjung Mauridhi Hery P Mohammad Ariza Fardhiyansyah Muhammad Dwi Rifqi Muhammad Fachry Nova Muhammad Hasan Mahmudy Muhammad Rendy Anggara Muhammad Rizal Habibi Muhammad Yahya Batubara Niko Permana R.W. Ninik D. Yundariani Nisa Rachmadina Novalia Pertiwi Nur Ikhwan Nyoman Putra Sastra Octiana Widyarena Prasetiyono H Mukti Prasetiyono Hari Mukti Prima Kristalina Puji Handayani Pujo Widodo, Pujo Purwoko Adhi Rahayu, Sri Rheyuniarto Sahlendar Asthan Riyan Eka Pratama Rochmawati Ada Wiyah Rufiyanto, Arief Safirina Febryanti Saharani, Aulia Sardjono Trihatmo Septiawan, Reza Setijadi, Eko Sri Rahayu SRI RAHAYU Suwadi Suwadi Theresia Dwi Lestari Londong Titiek Suryani Tri Budi Santoso Tri Budi Santoso Walid Maulana Hadiansyah Wibowo, Reyhan Adinathan Widyanto Dwiputra Pradipta Wikantyoso, A Krisna Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wirawan Wismanu Susetyo Wismanu Susetyo Yahya Syukri Amrullah Yuyu Wahyu