Boedi Hendrarto
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto, SH Semarang

Published : 62 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBYEK WISATA ALAM PANTAI SUWUK KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya; Sulardiono, Bambang; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.39 KB)

Abstract

Obyek wisata alam Pantai Suwuk merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen. Terletak pada jalur lintas selatan Pulau Jawa, yakni di desa Tambakmulyo. Keindahan pantai dan alam yang masih alami menjadi daya tarik bagi wisatawan, sehingga obyek wisata tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan. Akan tetapi terdapat permasalahan yaitu minimnya partisipasi masyarakat setempat dalam ikut serta mengelola obyek wisata alam Pantai Suwuk tersebut. Oleh karena itu, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola obyek wisata alam Pantai Suwuk saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitan ini bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara terstruktur terhadap 93 responden dengan teknik purposive sampling. Selain itu, dilakukan  observasi  Data hasil penelitian,  selanjutnya dilakukan analisis statistika deskriptif dengan teknik menggunakan skala likert dengan lima kategori yaitu (1) sangat tidak terlibat; (2) tidak terlibat; (3) ragu; (4) terlibat; (5) sangat terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sangat terlibat 1%, terlibat 12,4%, Ragu 21,8%, Tidak terlibat 50,62%, dan sangat tidak terlibat 14,1%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipan masyarakat dalam pengelolaan obyek wisata alam masih sangat minim, meskipun wilayah ini memiliki sumberdaya alam yang menunjang  . Semestinya masyarakat ikut diberdayakan dalam sistem pariwisata melalui pendekatan partisipatif melalui perantara pemerintah desa.Natural attractions suwuk Beach is one of the attractions that exist in Kebumen. Located on the path across the southern island of Java, namely in the village Tambakmulyo. Beautiful beaches and unspoiled nature becomes an attraction for tourists, so tourism is very potential to be developed. But there are problems, namely the lack of participation of local communities to participate in managing the natural attractions of the suwuk Beach. Therefore, the formulation of the problem in this research is how the participation of local communities in managing natural attractions suwuk Beach today. The method used in this research is descriptive. Data were collected through a structured interview of the 93 respondents with a purposive sampling technique. In addition, the results of research carried out observation data, then performed a descriptive statistical analysis technique using a Likert scale with five categories: (1) is not involved; (2) not engaged; (3) doubt; (4) involved; (5) is very involved. The results showed that 1% of the respondents are very involved, involved 12.4%, 21.8% doubt, not involved 50.62%, and very involved 14.1%. The study concluded that participants communities in the management of natural attractions still very low, even though the region has natural resources that support. Empowered society should participate in the system of tourism through a participatory approach through the intermediary of the village government. 
PENGARUH VARIASI JENIS MAKANAN TERHADAP IKAN KARANG NEMO (Amphiprion ocellaris Cuvier, 1830) DITINJAU DARI PERUBAHAN WARNA, PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN Sari, Okta Viana; Hendrarto, Boedi; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.939 KB)

Abstract

 Salah satu cara untuk  mencegah ikan nemo (Amphiprion ocellaris) dari kepunahan  adalah melakukan pelestarian jenis dengan menjaga kesehatan ikan yang dapat dilihat dari warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya. Makanan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui warna, pertumbuhan, dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) yang diberikan jenis makanan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah pemberian jenis makanan yang berbeda yaitu perlakuan A, B dan C berupa pemberian makanan pelet dan udang rebon, pelet dan cacing darah, serta pelet dan nauplius Artemia dengan metode pemberian makanan secara ad libitum (sampai kenyang). Ikan yang digunakan adalah benih dengan ukuran ± 3 cm dan rata – rata bobot awal 0,59 yang berasal dari kegiatan pembenihan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang dipelihara dalam 9 stoples berisi 3L air laut selama 28 hari. Warna ikan nemo dinilai dengan menerapkan modifikasi Adobe Photoshop dengan menggunakan metode Hue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis makanan yang berbeda berpengaruh signifikan (Menggunakan T-tset, P=0,3) terhadap kecerahan warna ikan nemo (A. ocellaris). Pemberian jenis makanan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelulushidupan ikan nemo namun memberikan pengaruh yang kurang signifikan terhadap pertambahan berat dan panjang totalnya. Pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan C dengan nilai b tertinggi yaitu sebesar 1,5646. Kualitas air selama penelitian yaitu salinitas 32-33‰; suhu 26-280C; DO 3,74–6,4 mg/l; pH 7,73–8,03; NO2-N 0,002–0,727 mg/l; NH3-N 0,022–1,598 mg/l.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa makanan terbaik untuk warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) adalah makanan pelet dan nauplius Artemia. One way to prevent clownfish (Amphiprion ocellaris) from extinction is by preserve this species by keeping their health that can be seen from brightness colors, growth and survival rate. Food is one of important factor in life of the fish. The  research was aimed to know colors,  growth, and survival rate of clownfish (A. ocellaris) which  given a different kind of food. The method that used in this reaserch was a random complete design (RAL) with 3 treatments and 3 replicates. Different kind of food applied in the treatment were A, B and C or pellet and brine shrimp, pellet and blood worms, and pellet and nauplius of, respectively. Fish were feed ad libitum (until full). The fish size was  ± 3 cm with average body weigth was 0.59 from the hatchery in Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.  Fishes were kept in 9 containers filled with 3 l seawater and the fish was reared for 28 days. The color of clownfish was assessed by applying modificated of Adobe Photoshop using hue method. Results showed that by giving a different kind of  foods affected significantly (by using t-test, p=0,3) to color of clownfish. Different kind of food also affected significantly to survival rate but different kind of food did not affect significantly on the increase of weight and total length of clownfish (A. ocellaris). The best growth occurred at treatment C with the highest level of b that was 1,5646.  Water qualities during the research that was salinity 32 - 33‰; temperature 26 - 280C; DO 3,74 - 6,4 mg/l; pH 7,73 - 8,03; NO2-N 0,002 - 0,727 mg/l; NH3-N 0,022 - 1,598 mg/l. It can be concluded the best food to enlighten colors, growth and survival rate of clownfish (A. ocellaris) was pellet and naupliusof  Artemia.
KESUBURAN PERAIRAN DITINJAU DARI KANDUNGAN KLOROFIL-A FITOPLANKTON : STUDI KASUS DI SUNGAI WEDUNG, DEMAK Adani, Nabila Ghassani; Hendrarto, Boedi; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.858 KB)

Abstract

Perairan Sungai Wedung merupakan ekosistem pesisir yang banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan manusia. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan Sungai Wedung. Kesuburan di perairan tersebut dipengaruhi oleh plankton, faktor kimia, fisika dan juga kandungan Klorofil-A. Pengukuran kandungan klorofil-a fitoplankton merupakan salah satu alat pengukuran kesuburan suatu perairan. Klorofil-a fitoplankton adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peran penting dalam berlangsungnya proses fotosintesis perairan. Penelitian dilakukan pada bulan April – Mei 2013 di Sungai Wedung, Demak bertujuan untuk mengetahui aktivitas manusia terhadap sebaran klorofil-a, keterkaitan antara klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton dan tingkat kesuburan perairan berdasarkan kandungan klorofil-a fitoplankton. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode “Sample Survey Method”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis data klorofil menggunakan metode anova tersarang (nested anova) diperoleh nilai P untuk stasiun cukup besar sehingga tidak memberikan perbedaan yang nyata pada taraf kepercayaan 95 %. Akan tetapi perbedaan akan nyata pada taraf 90%. Hubungan antara klorofil-a dengan kelimpahan fitoplankton  secara linear menunjukkan nilai keeratan yang tinggi dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,93 dan koefisien determinasi sebesar 0,8633 dimana 86% klorofil-a dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton. Berdasarkan nilai rata-rata klorofil-a yang diperoleh sebesar 1,039863 mg/l dapat disimpulkan bahwa perairan Sungai Wedung tergolong kedalam perairan yang bersifat oligotrofik.
KANDUNGAN NITROGEN TOTAL DAN FOSFAT SEDIMEN MANGROVE PADA UMUR YANG BERBEDA DI LINGKUNGAN PERTAMBAKAN MANGUNHARJO, SEMARANG Chrisyariati, Ika; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.14 KB)

Abstract

Daerah mangrove merupakan daerah dengan produktivitas primer yang tinggi. Produktivitas primer sangat mempengaruhi pertumbuhan mangrove. Salah satu indikator pertumbuhan mangrove dipengaruhi oleh sedimen tempat hidupnya yang banyak mengandung makro dan mikronutrien, oksigen, serta air tawar untuk menjaga keseimbangan kadar garam dalam fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Nitrogen Total dan Fosfat dalam sedimen mangrove dan hubungannya terhadap umur mangrove. Sampel diambil dari tiga stasiun yang memiliki umur mangrove berbeda dengan tujuh titik replikasi. Kedalaman pengambilan sampel adalah 30 cm. Pada masing-masing titik diambil sampel tanah untuk analisa tekstur dan analisa kandungan bahan organik. Pengukuran tinggi pohon dilakukan di setiap titik yang diasumsikan sebagai umur mangrove. Analisa data menggunakan uji regresi linear dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara Nitrogen Total dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,025 < P 0,05). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang nyata antara Fosfat dengan tinggi pohon (regresi linear P = 0,524 > P 0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti iklim, suhu, pH, dan jenis sedimen yang terdapat pada lokasi penelitian. Mangrove was an area with high primary productivity. The primary productivity greatly affects mangrove growth.One of the indicator mangrove growths was sediments by its place that contains macro and micronutrients, oxygen and fresh water to maintain salinity balanced in the physical. The purpose of this study was to determine the content of total nitrogen and phosphate in sediments of mangrove and mangrove relation to age and the results of this study were expected to provide an overview and information about the nutrient content in the form of Total Nitrogen and Phosphate in sediment of Mangunharjo village, Semarang. Samples were taken from three mangrove stations which have a different age with a seven point replication. Samples were collected from three stations of different ages of mangrove with seven replication points. The depth of sampling was 30 cm. At each of these points, soils were sampled for texture analysis and analysis of Total Nitrogen and Phosphate contents. Measurementstree height was applied at each point of different age of the mangrove. Analysis of the data used linear regression and correlation tests. The results showed that there was a significant relationship between Total Nitrogen with height of trees (linear regression P = 0,025 < P 0,05). Otherwise, there was no significant relationship between the phosphates with high of trees (linear regression P = 0,524 > P 0,05). It may be caused by other factors such as climate, temperature, pH, and type of sediment found in the study sites. 
DESKRIPSI KAWASAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN SIFAT BIOFISIK DAN FAKTOR SOSIAL DI MAROON MANGROVE EDUPARK DESA TUGUREJO SEMARANG, JAWA TENGAH (Description of Area in Mangrove Forest Based on Biophysical Properties and Social Factors in Maroon Mangrove EduPark, Tugurejo Village, Semarang, Central Java ) Sinaga, Riris Rezeki; Hendrarto, Boedi; Supriharyono, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.065 KB)

Abstract

Kawasan sekitar Pantai Maron menjadi salah satu objek wisata baru di Kota Semarang bernama Maroon Mangrove EduPark (MMEP). MMEP merupakan kawasan seluas 1,5 hektar dengan kondisi hutan mangrove yang cukup luas. Rendahnya pengetahuan dan informasi pengelola merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan. Tujuan penelitian ini mengetahui permasalahan dalam pengelolaan melalui karakteristik komunitas mangrove beserta kualitas perairan disekitarnya dari aspek nutrisi dan faktor-faktor penting dari aspek sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan metode sampling. Data terdiri atas data utama dan penunjang. Data utama meliputi biofisik lingkungan dan sosial. Data penunjang meliputi data yang sudah diukur sebelumnya. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan pengujian menggunakan Analisa Faktor. Kawasan mangrove di Maroon Mangrove EduPark yang terdapat di Desa Tugurejo Kecamatan Tugu memiliki beberapa jenis tumbuhan mangrove tetapi yang paling dominan yaitu Rizhophora dengan nilai kerapatan berkisar antara 800-2000 P/ha. Kondisi kualitas perairan di MMEP adalah suhu dengan nilai rata -rata yaitu 33- 34 °C, Nilai pH dengan nilai rata-rata 6, Salinitas air berkisar antara 25 – 26 0/00, kandungan Nitrat berkisar antar 0,8 – 1,6 mg/L dan kandungan Fosfat berkisar antara 0,034 – 0,051 mg/L. Faktor penting untuk pengembangan wisata didapatkan dua buah yaitu faktor (1) fungsi ekosistem mangrove untuk masyarakat dan faktor (2) estetika dan kondisi hutan mangrove. Faktor penting yang didapatkan diharapkan dapat menjadi solusi dalam pengelolaan. The area around Maroon Beach became one of the new tourist attraction in Semarang City named Maroon Mangrove EduPark (MMEP). MMEP is an area of 1.5 hectares with extensive mangrove forest conditions. The lack of knowledge and managerial information are a main problem in management. Purpose of this study was to know the problems in management through the characteristics of mangrove community and quality of surrounding waters from nutritional aspects and important factors from the social aspect. The research is used descriptive and sampling methods. Data consisted of main and supporting data. Primary data included environmental biophysics and social. The supporting data includes previously measured data. Data analysis were done descriptively and testing using Factor Analysis. Mangrove area in Maroon Mangrove EduPark located in Tugurejo Village Tugu District had several species of mangrove plants but the most dominant is Rizhophora with density values ranging between 800-2000 P / ha. The water quality condition in MMEP was temperature with average value of 33-34 ° C, pH value with average value 6, water salinity ranged from 25 - 26 0/00, Nitrate content ranges between 0,8 – 1,6 mg / L and Phosphate content ranges from 0,034 – 0,051 mg / L. Important factors for tourism development were two factors: (1) mangrove ecosystem function for community and factor (2) aesthetics and condition of mangrove forest. Important factors were expected to be a solution in the management.
KEMAMPUAN ECENG GONDOK (Eichhornia sp.), KANGKUNG AIR (Ipomea sp.), DAN KAYU APU (Pistia sp.) DALAM MENURUNKAN BAHAN ORGANIK LIMBAH INDUSTRI TAHU (SKALA LABORATORIUM) Indah, Lutfiana Sari; Soedarsono, Prijadi; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.453 KB)

Abstract

Limbah tahu mengandung bahan organik yang tinggi, dikarenakan bahan baku pembuatan tahu (kedelai) mengandung protein hingga 40 – 60%. Bila limbah cair tahu langsung dibuang ke sungai akan menyebabkan pencemaran, merusak habitat biota serta mengurangi estetika. Salah satu upaya yang mudah, murah dan aplikatif untuk mengurangi dampak tersebut adalah secara fitoremediasi menggunakan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam menurunkan kandungan bahan organik limbah tahu dengan menggunakan tanaman eceng gondok (Eichhornia sp.), kangkung air (Ipomea sp.) dan kayu apu (Pistia sp.), serta mengetahui kondisi fisik tanaman dan air yang dilihat dari nilai hue.Metode yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dengan menggunakan wadah percobaan berupa ember bervolume 15 L yang diisi dengan limbah tahu dengan konsentrasi 25% sebanyak 10 L. Variabel utama penelitian adalah kandungan bahan organik pada media percobaan yang didukung  dengan berat basah tanaman, nilai hue air dan daun serta kualitas air (pH dan suhu). Rancangan percobaan adalah RBD (Randomize Block Design) dengan 2 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan pertama jenis tanaman (eceng gondok, kangkung air dan kayu apu), perlakuan kedua sebagai blok adalah waktu (hari ke-7, ke-14, ke-21 dan ke-28). Data bahan organik dianalisis dengan Analysis of Variant (Anova) dan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf signifikan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eceng gondok (Eichhornia sp.) memberikan hasil terbaik dalam menurunkan bahan organik limbah tahu hingga menjadi 195±48.61 mg/l dengan daun masih tampak hijau dan warna air coklat bening.
KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTOS PADA DUA UMUR TANAM Rhizophora sp. DI KELURAHAN MANGUNHARJO, SEMARANG Kusumaningsari, Sandra Devita; Hendrarto, Boedi; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.913 KB)

Abstract

Mengingat pentingnya fungsi hutan mangrove dalam penyediaan habitat beragam jenis biota yang berasosiasi didalamnya, maka masalah kerusakan hutan mangrove yang terjadi perlu diatasi dengan upaya pengelolaan seperti melakukan kegiatan penanaman kembali hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos serta mengetahui pengaruh perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. terhadap kelimpahan hewan makrobentos di Mangunharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi kasus sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Langkah pertama yaitu menentukan lokasi sampling dimana stasiun A yaitu Rhizophora sp. umur 3 bulan dan stasiun B yaitu Rhizophora sp. umur 12 bulan. Setiap stasiun ditentukan 3 titik sampling dimana tiap titik sampling dilakukan 3 kali ulangan. Pengambilan sampel hewan makrobentos pada setiap titik sampling digunakan pipa paralon berdiameter 10 cm dengan cara menekannya ke dalam substrat sampai kedalaman 30 cm. Sampel yang diperoleh dibawa ke laboratorium kemudian diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi dari FAO serta dilakukan checklist. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014, di Kelurahan Mangunharjo, Semarang. Hasil penelitian ini ditemukan sepuluh genera dari dua stasiun yaitu Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca dan Sesarma. Kelimpahan individu hewan makrobentos yang terdapat pada stasiun A sebanyak 1250 Ind/m3 dan stasiun B sebanyak 2450 Ind/m3. Indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A sebesar 1,15 dan stasiun B sebesar 1,46. Indeks keseragaman (e) pada stasiun A adalah 0,60 dan stasiun B adalah 0,67. Hasil analisa menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. berpengaruh terhadap kelimpahan masing-masing spesies makrobentos. Given the importance of the function of mangrove forests in the provision of diverse habitat types associated biota in it, then the problem of destruction of mangrove forests that occur need to be addressed by management efforts such as conducting replanting mangrove forests. This study aimed to determine the diversity and abundance of animals and determine the effect of age differences in the two planting Rhizophora sp. against animal abundance makrobentos in Mangunharjo.The method used in this research is descriptive method of case studies while sampling using purposive sampling method. The first step is determining the location of sampling where station A is Rhizophora sp. 3 months of age and station B is Rhizophora sp. the age of 12 months. At each station is determined three sampling points where each point of sampling performed 3 repetitions. Macrobenthic animals sampling at each sampling point used the pipe diameter of 10 cm by pushing it into the substrate to a depth of 30 cm. The samples obtained were taken to the laboratory and then identified using identification book from FAO and do checklist. This study was conducted in May 2014, in the village Mangunharjo, Semarang. The results obtained in this study were found of ten genera at two stations are Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca and Sesarma. Macrobenthic abundance of individual animals that are on station A 1250 Ind/m3 and station B as much as 2450 Ind/m3. Diversity index (H') at station A and station B at 1,15 by 1,46. Uniformity index (e) at station A and station B is 0,60 is 0,67. Chi-Square test showed that the difference in the two age planting Rhizophora sp. makrobentos effect on frequency of occurence.
SUMBERDAYA PERIKANAN BENTOS: Terebralia sp. DI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE (STUDI KASUS DI KAWASAN MANGROVE DESA BEDONO, KEC. SAYUNG, KAB. DEMAK) Noersativa, Farah Nabila; Anggoro, Sutrisno; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.624 KB)

Abstract

Terebralia sp. merupakan salah satu jenis gastropoda yang menjadi indikator kestabilan dari ekosistem mangrove Keberadaan struktur dan distribusi populasi bentos Terebralia sp. dapat melihat seberapa jauh keberhasilan penghijauan yang ada di kawasan hutan mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan distribusi populasi serta pola pertumbuhan bentos Terebralia sp. di kawasan mangrove, dan mengetahui hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi bentos Terebralia sp.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengambilan sampel siput Terebralia sp. menggunakan metode plot sampling yang terdiri dari 3 stasiun. Setiap stasiun terdiri dari line transek sepanjang 100 m  yang dibentangkan tegak lurus dari garis pantai memotong hutan mangrove yang kemudian dibagi menjadi 20 plot dan dilakukan pemeriksaan siput Terebralia sp. dengan kuadran 0,5x0,5m. Sampel yang diperiksa dicatat panjang cangkang dan berat basah. Distribusi dan pola persebaran siput Terebralia sp. dianalisis dengan Indeks Morisita. Pola dan sifat pertumbuhan dianalisis dengan analisis panjang berat dan faktor kondisi. Analisis komunitas vegetasi mangrove dianalisis dengan metode inventarisasi.  Analisis hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan Terebralia sp. dilakukan dengan uji statistik korelasi non paramterik. Hasil penelitian didapatkan struktur populasi Terebralia sp. terdiri dari kepadatan populasi tertinggi sebanyak 152 individu/m2, pola sebaran populasi Terebralia sp. ketiga stasiun adalah dengan pola mengelompok, distribusi frekuensi panjang paling banyak adalah pada kelas interval 25-28 mm yaitu sebanyak 74 individu, pola pertumbuhan siput Terebralia sp. berdasarkan hubungan panjang dan berat adalah allometrik negatif dan nilai faktor kondisi Stasiun 1, 2, dan 3 berkisar antara 4,54 – 5,12 . Hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi Terebralia sp. ditemukan memiliki korelasi sangat lemah (r = 0,118). Terebralia sp. is one type of gastropods as indicators of the mangrove ecosystem stability. The existence of the population structure and distribution of Terebralia sp. could determined how much the success of reforestation in the area of mangrove forests in Bedono village, District Sayung, Demak. This research was conducted in order to know the population structure and distribution and growth patterns of Terebralia sp. in mangrove areas, and determining the relationship between mangrove density and Terebralia sp  density. The methods that used in this research is using sampling plot methods that consist of 3 stasions. Each stations are consist of 100 metres transect line whixh was stretched perpendicular to the shoreline and cut off the mangrove forest area. The transect line was divided to 20 plots. The examination of lenght and weight of  Terebralia sp. was did with 0,5x0,5 metres quadrant at each plots. The distribution pattern of Terebralia sp. was analyzed by Morisita Index. The growth pattern of Terebralia sp. was analyzed by weight and lenght analysis and condition factor analysis. The mangrove comunity analysis was analyzed by Inventarisation method. The  relationship between mangrove density and Terebralia sp. density is performed using a statistical test of non-parametric correlation. The results showed that a population structure Terebralia sp. consists of the highest population density as much as 152 individuals/m2, the pattern of population distribution Terebralia sp. at all station showed a clustered pattern, the length frequency distribution at the most is as many as 74 individuals on the 25-28 mm class intervals, the pattern of growth Terebralia sp. based on the length and weight relationship is negative allometric, and the value of condition factors of Station 1, 2, and 3 is about 4.54 -  5.12. The relationship between mangrove density and Terebralia sp. density found that they have a very weak correlation (r = 0.118).
RESPON IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) TERHADAP MAKANAN BUATAN PADA SKALA LABORATORIUM Sembiring, Asrika Yupina; Hendrarto, Boedi; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.254 KB)

Abstract

Indonesia memiliki sumberdaya alam yang mendukung untuk kegiatan budidaya ikan sidat. Salah satu faktor utama dalam budidaya untuk meningkatkan pertumbuhan adalah asupan makanan yang baik dan memiliki kandungan gizi yang cukup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ikan Sidat yang mendekat dan yang mengkonsumsi pakan buatan yang diberikan; untuk mengetahui berapa lama waktu ikan Sidat mendekati pakan; dan untuk mengetahui nilai FCR pakan buatan yang diberikan kepada ikan Sidat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen laboratoris dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pemberian jenis pakan yang berbeda digunakan sebagai perlakuan A, B dan C yaitu pemberian pakan keong mas, ikan rucah dan udang rebon. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 10,14 gram/ulangan. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Sidat (Anguilla bicolor) pada stadia yellow eel dengan rata-rata bobot awal 7-10 gram. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran (100x30x50) cm3 yang diisi dengan 40 liter air tawar. Lama pemeliharaan selama 30 hari dengan padat tebar 5 ekor/akuarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan Sidat yang paling banyak mendekat dan mengkonsumsi pakan pada pengamatan pagi hari maupun sore hari terdapat pada perlakuan C, diikuti dengan perlakuan B dan yang paling sedikit terdapat pada perlakuan A. Berdasarkan hasil yang didapat selama penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa respon ikan Sidat berbeda terhadap makanan buatan yang diberikan. Udang rebon merupakan jenis makanan yang paling direspon oleh ikan Sidat baik dari jumlah ikan yang mendekat maupun yang mengkonsumsi pakan. Nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang paling tinggi adalah pada perlakuan A yaitu 17,82 dan yang paling rendah adalah pada perlakuan C yaitu 15,38. Indonesia has a natural cultivation to increase the growth is good food intake that enough nutrients contains. The purpose of this research were to find out the respond of Eel which approach and consume the artificial food; to know the approaching time to the feed; and to know Food Convertion Ratio (FCR) value of the artificial food given to Eel. The method used in this research was laboratory experimental using a random complete design (RCD) with 3 treatments and 3 replications. The treatments of different kond of food applied as A, B and Ctreatments were golden anails, trash fish and brine shrimp. The amount of feed that given as much as 10,14 grams for each treatments. The experimental fish that used in this research was yellow eel with average body weigth of 7-10 grams. The Eel were kept in 100x30x50 cm3 size aquarium filled with 40 liter fresh water. The Eel stock density was 5/container and be reared for 30 days. The result showed that the highest number of Eels approaching and comsuming the feed in the morning and afternoon observation days was treatment C, followed by treatment B and the last found in treatment A. Based on the results obtained during the research could be inferred that Eel respond was different toward the given artificial food. Brine Shrimp was a kind of feed that are most responded by Eel, both in the number of fish that approach and consume the feed. The highest Food Convertion Ratio (FCR) values was in the treatment A (17,82) and the lowest was in the treatment C (15,38).
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG PADA BOLA KARANG (REEF BALL) DI PERAIRAN PULAU PANJANG, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Azhari, Muhammad Yusuf Muhar; Hendrarto, Boedi; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.816 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu objek wisata didaerah Jepara. Daya tarik dari wisata pulau Panjang yaitu terdapat ekosistem terumbu karang yang dimanfaatkan oleh wisatawan, dan masyarakat setempat. Adanya kegiatan wisata tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap ekosistem terumbu karang yang menjadi rusak, yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas perikanan dan perairan. Sehubungan dengan hal tersebut dapat dilakukan upaya rehabilitasi terumbu karang yang rusak dengan rehabilitasi menggunakan bola karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ikan karang, dan mengetahui struktur komunitas ikan karang yang berada dikawasan bola karang terkait dengan perbedaan waktu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April dan bulan September 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meteode visual sensus dengan melakukan pengamatan, pencatatan, dan identifikasi terhadap ikan karang yang berada dikawasan bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 dengan melakukan berenang bebas berjarak 4,5 meter dari setiap bola karang. Analisis data yang digunakan yaitu indeks komunitas, analisis uji t test, dan analisis uji chi-square. Hasil penelitian ikan karang di bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 terdapat 10 genus yang terdiri dari 15 spesies, dan terjadi peningkatan jumlah ikan karang. Analisis uji chi-square menyatakan ada perbedaan komposisi kelimpahan ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013. Indeks komunitas ikan karang pada bulan September lebih baik dibandingkan bulan April. Analisis uji t menyatakan ada perbedaan indeks komunitas ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 di setiap bola karang yang terdapat di perairan pulau Panjang, Jepara. Panjang Island is one of the attractions in Jepara. The attraction of the Panjang Island tourism is coral reefs ecosystem which are utilized by the tourists, and the local community. The existence of  tourist activities can give a negative impact on coral reefs ecosystem, fisheries and aquatic productivity. In relation with that, it can rehabilitate damaged coral reefs use reef balls. The purpose of this study to was determine the reef fish species and the community structure of reef fish in the reef ball. This study was conducted in April and September 2013. This study used visual census method by observed, recorded, and identificated of reef fish in reef ball areas, on the observations in April and September 2013 by free-swimming within 4.5 meters of each reef balls. Data was analysis with community index,  t test, and chi-square analysis. The result of this study showed that, there were 10 genus consisted of 15 species, and there were increase of of reef fish in April and September. Chi-square test showed that there were significant differences between abundance of reef fish composition in April and September 2013. Community index of reef fish in September better than that in April. This was supported by t test analysis which stated that there were significant differences between community index of reef fish in April and September 2013 in every reef ball in Panjang Island, Jepara.
Co-Authors - Ruswahyuni - Supriharyono Achmad Fama agung Suryanto Agus Hadiyarto Agus Hartoko Agus Wahyudi Alfian Zulfikar, Alfian Aly Handartoputra Amalia Nur Istigfarin, Amalia Nur Angela Merici Dwi Widiyanti Anhar Solichin Anugrah Dwi Fahreza Ari Wibowo Arini Indah Lestari, Arini Indah Asrika Yupina Sembiring Ayu Putri Kusumaningrum, Ayu Putri Bambang Sulardiono Bambang Sulardiono Christian B.C. Churun Ain D Diarto Dewi, Hilda Kumala Dyah Pertiwi Jaya Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya Egar Dwi Prayudha Ekowati Chasanah Fadhilah Maharani Fajrin, Fadhilah Maharani Fandi Maulana Farah Nabila Noersativa Fentika Rahma Mentari Frida Purwanti Haeruddin Haeruddin Halimatus Sa’diyah Hapsari, Rania Widia Hedi Indra Januar Hida Rizki Aini, Hida Rizki Iin Rahmawati Ika Chrisyariati Inchan Faolo Silaen Irwan Ramadhan Ritonga Jafron W. Hidayat Jafron Wasiq Hidayat Kismartini Kismartini Lusiana Rahmawati Lutfiana Sari Indah Marina Alin Rahajeng Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Melina Setya Ayuningsih Mochammad Yenny Muhammad Saiful Adip Muhammad Yusuf Muhar Azhari Mulyaningsih, Dwi Munafi’ah, Ayu Mustofa Niti Supardjo Mustofa Nitisupadjo Mustofa Nitisupardjo Mustofa Nitisuparjo Nabila Ghassani Adani Niniek Widyorini Novi Andriani, Novi Nugraha, Muhammad Rizky Nurul Fhitriany Putri Nurul Khaqiqoh Ocky Karna Radjasa Okta Viana Sari Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Purnomo, Pudjiono Wahyu Putri March F Hia Rifky Annisa Fatmawati, Rifky Annisa Rimty Mayuftia Rina Mariana Rizki Pramuditya Kurniatama, Rizki Pramuditya Roswita Larosa S. Supriharyono Sandra Devita Kusumaningsari, Sandra Devita Sinaga, Riris Rezeki Siti Rudiyanti slamet budi prayitno Sri Suryoko Sri Wahyuni Subiyanto Subiyanto Supriharyono ,, Supriharyono Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti - Sutrisno Anggoro Suyono ,, Suyono Suyono Suyono Tarigan, Novia Putri Tri Kusuma Oktaviana Untung Ismoyo