Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS NILAI ZENITH TROPOSPHERIC DELAY (ZTD) CORS ULPC UNILA DENGAN METODE PRECISE POINT POSITIONING (PPP) Sari, Atika; Fajriyanto; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i01.4216

Abstract

ABSTRACT The propagation of GNSS signals from satellites orbiting at an altitude of approximately 22,000 km above the Earth's surface to the receiver must pass through the Earth's atmosphere. Within the atmospheric layers, the signals encounter numerous interferences, which are a significant source of errors in position determination using GNSS. Zenith Tropospheric Delay (ZTD) is one of these sources of signal delay errors, which can be determined using the Precise Point Positioning (PPP) method. This study utilizes GNSS data from the CORS ULPC station at the University of Lampung, as well as temperature and humidity data obtained from the Maritime Meteorological Station in Panjang. The GNSS data format used is RINEX. This research uses RINEX data from CORS ULPC for the year 2022, consisting of 20 RINEX doy (date of year) data, and for the year 2023, consisting of 19 RINEX doy data. The processing to produce ZTD values using the PPP method was carried out using an online platform, which requires additional data such as ocean tide loading data. From the processing of GNSS data, the highest ZTD value in 2022 was 2644.12204, and the highest ZTD value in 2023 was 2611.6535. For ZWD (Zenith Wet Delay), the highest value in 2022 was 377.4454, and in 2023 it was 340.9047. The correlation between ZWD values from CORS ULPC and BMKG data showed a correlation coefficient of 0.55 for 2022 and 0.58 for 2023.  Keywords : ZTD, ZWD, CORS ULPC, PPP   ABSTRAK Perambatan sinyal GNSS dari satelit yang mengorbit pada ketinggian sekitar 22.000 km di atas permukaan bumi ke receiver harus melalui lapisan atmosfer bumi, pada lapisan atmosfer bumi sinyal akan melalui banyak gangguan yang menyebabkan salah satu sumber kesalahan dalam penetuan posisi menggunakan GNSS. Zenith Tropospheric Delay (ZTD) merupakan salah satu dari sumber kesalahan dari perlambatan sinyal yang dapat ditentukan dengan menggunakan metode Precise Point Positioning (PPP). Penelitian ini menggunakan data GNSS dari stasiun CORS ULPC Universitas Lampung dan data temperature serta kelembapan yang diperoleh dari stasiun Meteorologi Maritim Panjang. Format data GNSS yang digunakan adalah RINEX, pada penelitian ini menggunakan data RINEX CORS ULPC Tahun 2022 dengan 20 data RINEX doy (date of year) dan data 2023 dengan jumlah 19 data RINEX doy. Pengolahan yang dilkukan dalam menghasilkan nilai ZTD dengan menggunakan metode PPP adalah menggunakan platform online dengan membutuhkan data tambahan berupa data ocean tide loading. Dari hasil pengolahan menggunakan data GNSS nilai ZTD tertinggi pada tahun 2022 adalah 2644, 12204 mm dan nilai ZTD tertinggi pada tahun 2023 adalah 2611,6535 mm. Pada nilai ZWD didapatkan nilai tertinggi pada tahun 2022 adalah 377,4454 mm dan pada tahun 2023 adalah sebesar 340,9047 mm. Hasil korelasi hubungan antara ZWD dari data CORS ULPC dan BMKG didapatkan  koefisien korelasi tahun 2022 sebesar 0,55 Dan pada tahun 2023 didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,58.  Kata Kunci : ZTD, ZWD, CORS ULPC, PPP
Canva and Google Maps Training for Printing MSMEs in Bandar Lampung City Dewi, Citra; Fadly, Romi; Anisa, Rahma; Rahmadi, Eko
Indonesian Journal of Community Services Cel Vol. 3 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Community Services Cel
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70110/ijcsc.v3i3.81

Abstract

One of the post-pandemic impacts has been the near cessation of many businesses, including printing MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises). The rapid advancement of the digital era also requires business actors, particularly MSMEs, to engage in public marketing to broaden their reach and make it easier for consumers to locate their business premises. Observations in the field reveal that some MSMEs are still unprepared for the changes brought about by digital marketing and promotion due to limited knowledge among their human resources. This community service activity aims to transfer technology and knowledge to printing MSMEs in Bandar Lampung City through training on using Canva and Google Maps software applications to support their business publicity. The method employed involved delivering materials and practical sessions, with pretests and posttests conducted to assess the participants' skills. Following the training, participants could design using Canva, and the locations of the printing MSMEs were successfully uploaded online. The training results showed a 34% increase in participants' understanding of the material presented.
KAJIAN PERUBAHAN SPASIAL LAHAN VEGETASI DAN CADANGAN KARBON TERSIMPAN Rahma Anisa; Citra Dewi; Romi Fadly
Jurnal Tekno Global Vol. 13 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v13i02.4669

Abstract

ABSTRACT The University of Lampung, commonly referred to as Unila, is known as a green campus with open green spaces featuring various types of vegetation, such as shrubs, trees, and grasslands. The university consists of several faculties, including the Faculty of Engineering. However, in recent years, land use changes have occurred within the Faculty of Engineering, where vegetated areas have been converted into built-up areas, such as the construction of retention ponds and new buildings. This change has impacted the available carbon stock. The reduction in vegetated land is directly proportional to the decrease in carbon reserves stored in plants, which contributes to climate change. In relation to climate change caused by deforestation and land degradation, it is necessary to conserve and manage vegetated lands, as well as enhance carbon reserves, to measure the extent of changes (reduction in carbon emissions) resulting from land conservation efforts (Hairiah et al., 2007). The more abundant the carbon stored in plant biomass; the more CO2 is absorbed by the plants. Biomass measurement can be conducted in two ways: non-destructively and destructively. The non-destructive method is considered effective because it requires less time, cost, and effort. One technology that can be used for biomass measurement is aerial photography using unmanned aerial vehicles (UAVs) or drones, which tend to be effective and efficient. The Object-Based Image Analysis (OBIA) approach is an object-based method that has high accuracy in determining the available carbon stock due to dynamic changes in the extent of vegetated land in the Faculty of Engineering area at Unila between 2019 and 2024. The vegetated area on the OBIA-processed map in 2019 was 6.9886 hectares. In 2024, the vegetated area on the OBIA-processed map was 6.6652 hectares. The change in vegetated land between 2019 and 2024 was 0.3234 hectares, indicating a reduction in vegetated land due to infrastructure development in the Faculty of Engineering area. The calculation of stored carbon stock, based on field measurements, was 197.129764 tons of carbon per hectare. Keywords : Universitas Lampung, Vegetation, UAV, Carbon, OBIA   ABSTRAK Universitas Lampung atau disebut dengan Unila merupakan universitas yang dikenal sebagai kampus hijau (green campus) yang memiliki ruang terbuka hijau dengan vegetasi berupa semak belukar, pepohonan serta padang rumput. Universitas Lampung terdiri dari beberapa fakultas, salah satunya fakultas teknik. Namun, belakangan tahun terakhir terjadinya alih fungsi lahan di fakultas teknik dari lahan vegetasi menjadi lahan terbangun seperti dibangunnya embung, serta gedung-gedung baru. Hal tersebut mempengaruhi jumlah cadangan karbon yang tersedia. Pengurangan area vegetasi secara langsung berhubungan dengan penurunan cadangan karbon yang terdapat pada tanaman, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dalam konteks perubahan iklim yang disebabkan oleh deforestasi dan degradasi lahan, sangat penting untuk melaksanakan upaya konservasi serta pengelolaan lahan vegetasi, sekaligus meningkatkan cadangan karbon. Hal ini bertujuan untuk memahami sejauh mana perubahan (penurunan emisi karbon) terjadi akibat kegiatan konservasi tersebut (Hairiah dkk., 2007).Jumlah karbon yang tersimpan dalam biomassa tanaman merupakan indikator dari seberapa banyak CO2 yang dapat diserap. Terdapat dua metode untuk mengukur biomassa, yaitu metode non-destruktif dan destruktif. Metode non-destruktif lebih disukai karena efisiensinya dalam hal waktu, biaya, dan tenaga. Salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk pengukuran biomassa adalah pemotretan udara dengan menggunakan drone (UAV), yang menunjukkan efektivitas dan efisiensinya. Pendekatan Object Based Image Analysis (OBIA) adalah metode berbasis objek yang menawarkan akurasi tinggi dalam menentukan cadangan karbon yang tersedia akibat perubahan luas lahan vegetasi di Fakultas Teknik Unila antara tahun 2019 dan 2024.. Luasan vegetasi pada peta hasil pengolahan OBIA tahun 2019 luas vegetasi sebesar 6.9886 Ha. Dan untuk luasan vegetasi pada peta hasil pengolahan OBIA tahun 2024 luas vegetasi sebesar 6.6652 Ha. Hasil perubahan lahan vegetasi antara tahun 2019 dan 2024 sebesar 0.3234 Ha artinya terdapat pengurangan lahan vegetasi karena adanya pembangunan infrastruktur di area Fakultas Teknik. Perhitungan cadangan karbon tersimpan diperoleh berdasarkan pengukuran di lapangan sebesar 197.129764 Ton-C/ha Kata Kunci : Universitas lampung, Vegetasi,  Karbon, UAV, OBIA.
Pelatihan Penggunaan RTK-NTRIP Untuk Pemetaan Batas Bidang Tanah Bagi Siswa SMK Geomatika Kota Bandar Lampung Fadly, Romi; Dewi, Citra; Anisa, Rahma; Rahmadi, Eko
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang akan dicapai dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih peserta agar mampu memahami teori dasar pengukuran batas bidang tanah menggunakan RTK-NTRIP, melatih peserta untuk mengenal dan mengoperasikan alat survey GNSS metode RTK-NTIP, serta melatih peserta agar mempu melakukan pengukuran batas bidang tanah menggunakan GNSS metode RTK-NTRIP. Metode kegiatan yang dilakukan berupa: 1). Penyampaian materi melalui ceramah dikelas tentang teori dasar pengukuran batas bidang tanah menggunakan alat GNSS metode RTK-NTRIP. 2). Praktik pengenalan dan mengoperasikan peralatan GNSS, yang dilakukan di lapangan dengan memberi kesempatan setiap siswa mengoperasikan peralatan tersebut. 3). Pelatihan langsung di lapangan untuk pengukuran batas bidang tanah. Pengukuran bidang tanah ini di bagi beberapa kelompok, setiap kelompok mengukur batas bidang tanah yang telah ditentukan. 4) Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pengabdian kepada masyarakat terkait peningkatan pengetahuan dan keterampilan dengan memberikan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan keterampilan peserta sebesar 44,92% terkait penggunaan alat GNSS untuk pemetaan batas bidang tanah dengan metode RTK-NTRIP setelah dilakukan pelatihan. Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil pre-test dan post-test masing-masing sebesar 48,63% dan 93,55%. Kegiatan pelatihan berjalan efektif dilihat dari nilai N-Gain sebesar 0.87. Selama pelatihan para peserta sangat serius, tekun, aktif, dan responsif, serta aktif melakukan diskusi. Kegiatan juga menghasilkan peta sampel batas bidang bidang tanah hasil pengukuran saat latihan praktik.
RELATIONSHIP BETWEEN LAND COVER CHANGES AND THE SURFACE AREA OF LAKE RANAU Naimullah, Muhammad; Dewi, Citra; Anisa, Rahma; Fadly, Romi
Jurnal Belantara Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Forestry Study Program University Of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbl.v8i1.1109

Abstract

Ranau Lake is one of Indonesia's 30 national priority lakes facing pressures from climate change and human activities, negatively impacting its water quality and ecosystem. This study aims to analyze land cover changes in the catchment area, measure the changes in the lake's surface area, and examine the relationship between land cover changes and Ranau Lake's surface area from 2016–2022. The data includes Sentinel-1A IW GRDH imagery, ESRI land cover maps, and Google Earth images. The analysis employed Support Vector Machine (SVM) classification, spatial analysis, and linear regression. The results reveal that water bodies, vegetation, and built-up land categories experienced an increase of 36.78 hectares, 33.96 hectares, and 9.1 hectares, respectively, while bare land decreased by 80.03 hectares. Ranau Lake's surface area increased by 28.3 hectares, showing a significant relationship between land cover changes in water bodies (R² = 99.88%), bare land (R² = 94.92%), vegetation (R² = 66.06%), and built-up land (R² = 56.85%) and the lake's surface area. These findings highlight the critical role of land cover changes in influencing the dynamics of lake surface area, an essential indicator of ecosystem health. This study emphasizes the importance of sustainable land cover management in supporting Ranau Lake's conservation. Continuous use of SAR-based remote sensing technology is recommended for land cover monitoring, enabling data-driven decision-making in water resource management.
Pelatihan Penggunaan RTK-NTRIP Untuk Pemetaan Batas Bidang Tanah Bagi Siswa SMK Geomatika Kota Bandar Lampung Fadly, Romi; Dewi, Citra; Anisa, Rahma; Rahmadi, Eko
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sakai Sambayan Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jss.v9i1.540

Abstract

Tujuan yang akan dicapai dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih peserta agar mampu memahami teori dasar pengukuran batas bidang tanah menggunakan RTK-NTRIP, melatih peserta untuk mengenal dan mengoperasikan alat survey GNSS metode RTK-NTIP, serta melatih peserta agar mempu melakukan pengukuran batas bidang tanah menggunakan GNSS metode RTK-NTRIP. Metode kegiatan yang dilakukan berupa: 1). Penyampaian materi melalui ceramah dikelas tentang teori dasar pengukuran batas bidang tanah menggunakan alat GNSS metode RTK-NTRIP. 2). Praktik pengenalan dan mengoperasikan peralatan GNSS, yang dilakukan di lapangan dengan memberi kesempatan setiap siswa mengoperasikan peralatan tersebut. 3). Pelatihan langsung di lapangan untuk pengukuran batas bidang tanah. Pengukuran bidang tanah ini di bagi beberapa kelompok, setiap kelompok mengukur batas bidang tanah yang telah ditentukan. 4) Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pengabdian kepada masyarakat terkait peningkatan pengetahuan dan keterampilan dengan memberikan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan keterampilan peserta sebesar 44,92% terkait penggunaan alat GNSS untuk pemetaan batas bidang tanah dengan metode RTK-NTRIP setelah dilakukan pelatihan. Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil pre-test dan post-test masing-masing sebesar 48,63% dan 93,55%. Kegiatan pelatihan berjalan efektif dilihat dari nilai N-Gain sebesar 0.87. Selama pelatihan para peserta sangat serius, tekun, aktif, dan responsif, serta aktif melakukan diskusi. Kegiatan juga menghasilkan peta sampel batas bidang bidang tanah hasil pengukuran saat latihan praktik.
Perbandingan Nilai Ketelitian Geometri Hasil Pengolahan Foto Udara Dengan UAV Wingtra One Gen II Dan Mavic 3 Enterprise (Studi Kasus: Proyek Jalan Tol Cimanggis Cibitung) Silaban, Regina Marito; Fadly, Romi; Anisa, Rahma; Dewi, Citra
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.4878

Abstract

ABSTRACT The UAVs used for photogrammetric mapping have become increasingly diverse, each with distinct specifications. The Wingtra One Gen II has a relatively large size, making it difficult to access steep terrains, while the Mavic 3 Enterprise, with its smaller size, is more capable of reaching even the most challenging areas. This research aims to determine the better UAV based on geometric accuracy, data processing time, and orthophoto quality.The study utilized aerial imagery captured by the Wingtra One Gen II and Mavic 3 Enterprise UAVs in the CCTW Toll Road project. Data processing was carried out using Agisoft Metashape software. The outputs—DEM and orthomosaic—were analyzed and compared for geometric accuracy using 10 Ground Control Points (GCPs) and 9 Independent Check Points (ICPs) as references for data validation, following the guidelines of the Head of the Geospatial Information Agency Regulation No. 6 of 2018 on Technical Standards for Basic Map Accuracy.The results showed that the Wingtra One Gen II had superior geometric accuracy for orthophotos, with better LE90 and CE90 values compared to the Mavic 3 Enterprise. However, in terms of processing time, the Mavic 3 Enterprise was faster, completing the task in 9 hours, 18 minutes, and 13 seconds, compared to the Wingtra One Gen II, which took 2 days, 7 hours, and 16 minutes. The planimetric quality of the orthophotos produced by both UAVs was equally good, aligning perfectly with field conditions.   Keywords: photogrammetry, Wingtra One Gen II, Mavic 3 Enterprise, geometric accuracy   ABSTRAK Wahana atau UAV yang digunakan pada pemetaan dengan metode fotogrametri semakin banyak jenisnya dengan spesifikasi yang berbeda. Wingtra One Gen II memiliki ukuran yang relatif besar sehingga sulit untuk menjangkau area yang terjal sedangkan Mavic 3 Enterprise memiliki ukuran kecil sehinggga mudah menjangkau medan area yang terjal sekalipun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan wahana yang lebih baik berdasarkan nilai ketelitian geometrik, waktu pemrosesan data, dan kualitas othophoto.Penelitian ini menggunakan data foto udara hasil perekaman wahana Wingtra One Gen II dan Mavic 3 Enterprise pada proyek Jalan Tol CCTW. Software pengolahan menggunakan agisoft metashape. Hasil pengolahan yaitu DEM dan Orhomosaic dari kedua wahana dianalisis dan dibandingkan berdasarkan nilai ketelitian geometrik, dengan memanfaatkan titik kontrol tanah yaitu Ground Control Points (GCP) sebanyak 10 titik  dan Independent Check Point (ICP) sebanyak 9 titik sebagai referensi untuk validasi datanya dengan menggunakan panduan Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial No. 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Teknik Ketelitian Peta Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wahana Wingtra One Gen II memiliki nilai ketelitian geometrik orthopoto LE 90 dan CE 90 lebih baik daripada wahana Mavic 3 Enterprise. Sedangkan dalam waktu pemrosesan, wahana Mavic 3 Enterprise lebih cepat yaitu 9 jam 18 menit 13 detik dibandingkan Wingtra One Gen II dengan waktu pemrosesan 2 hari 7 jam 16 menit. Kualitas planimetris orthophoto dari kedua wahana sama-sama menghasilkan kualitas yang baik yaitu tegak lurus sesuai dengan kondisi di lapangan.  Kata kunci: fotogrametri, Wingtra One Gen II, Mavic 3 Enterprise, ketelitian geometric
Studi Akurasi Sensor Ultrasonik Tipe US-015 Untuk Pengukuran Pasang Surut Air Laut Daerah Bergelombang Hartoto, Dwi Nanda Putra; Fadly, Romi; Zakaria, Ahmad
Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain Vol. 8 No. 1 (2020): Edisi Maret 2020
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jrsdd.v8i1.1261

Abstract

The technology in observing tides has developed, with the discovery of sensors that can make observations of tides automatically. one of the sensors that can be used for tidal observation is an ultrasonic sensor that works based on the principle of ultrasonic waves. Natural phenomena that occur such as sea level waves can affect the accuracy of tidal readings using ultrasonic sensors. This study aims to design an ultrasonic sensor-based tide instrument that can reduce sea wave interference and calculate the accuracy of the reading results of the instrument. Data collection was observed per 1 second, then the data was divided into several intervals, that is 1 second, 5 minutes, 15 minutes and 30 minutes. The accuracy of the instrument is calculated based on the observed manual data per 30 minute interval, after that the data will be tested for correlation and significance between the variables of closed automatic instrument, automatic open instrument and manual observed. This study produces equipment for automatic tide measurement that can reduce waves with ultrasonic sensors. The results of testing the data from 3 observations obtained accuracy of the closed automatic instrument has better accuracy that is 99.1981%, 99.3007%, 99.3156%. Keywords: Tides, Ultrasonic sensor, Microcontroller, Arduino uno.
Monitoring Deformasi Gunung Api Anak Krakatau Berdasarkan Data GPS Kontinu Periode Januari – Maret 2023 Septiani, Putri Regina; Fajriyanto; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi; Lusyana, Efrita; Ardi
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Api Anak Krakatau, yang terletak di perairan Selat Sunda, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Gunung ini pertama kali tercatat meletus pada tahun 1883, dan sejak itu muncul Anak Krakatau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji deformasi Gunung Api Anak Krakatau melalui analisis pergeseran dari stasiun PNJG, SRTG, dan TNJG selama periode Januari hingga Maret 2023. Metode yang digunakan untuk memantau deformasi adalah metode GPS. Data GPS yang dikumpulkan diproses secara berkelanjutan menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK untuk menentukan posisi, arah, dan besaran pergeseran titik pengamatan. Hasil pengolahan ini membantu memperkirakan inflasi atau deflasi di lokasi pusat gunung api. Selama periode tersebut, arah dan besaran pergeseran dari ketiga stasiun menunjukkan pergeseran horizontal antara 3,32 mm hingga 40,86 mm setiap bulan. Stasiun PNJG dan TNJG menunjukkan kecenderungan pergeseran ke arah tenggara dengan kecepatan 3,32 hingga 40,86 mm/tahun. Sebaliknya, stasiun SRTG, yang berada di sisi kiri gunung, bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan -26,93 hingga -30,34 mm/tahun. Selain itu, perubahan vertikal dari ketiga stasiun menunjukkan adanya deflasi pada Gunung Api Anak Krakatau. Informasi ini penting untuk memahami aktivitas vulkanik dan keberadaan kantong magma di gunung api tersebut.
Analisis Pergeseran Horisontal Akibat Gempa Bawean 22 Maret 2024 Menggunakan Pengamatan GPS Kontinu Justiono, Ahmad Adiguna; Fajriyanto; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada kejadian gempa bumi dengan magnitudo 6,5 yang terjadi di Kepulauan Bawean pada 22 Maret 2024. Gempa ini berkaitan dengan aktivitas seismik pada zona sesar tua meratus di Laut Jawa, yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap dinamika tektonik di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deformasi yang terjadi akibat gempa tersebut dengan memanfaatkan data dari pengamatan GPS kontinu, guna memperdalam pemahaman tentang pergerakan kerak bumi di sekitar zona tersebut dan mengidentifikasi pola deformasi yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan analisis data dari tujuh stasiun GPS yang tergabung dalam jaringan InaCORS, yaitu CLMG, CMJT, CSBY, CSID, CSMP, CPCR, dan CSTBN. Data GPS diproses menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan posisi stasiun sebelum dan sesudah terjadinya gempa. Validitas pergeseran dilakukan dengan menggunakan uji T-Student dengan 1,96 adalah nilai T-Tabel. Hasil pengolahan data menunjukkan kecepatan pergeseran horisontal ke arah tenggara sebesar 15,06 mm/tahun sampai 37,47 mm/tahun. CPCR memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah Timur Laut sebesar 33,61 mm/tahun. CSMP memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah Barat Laut sebesar 52,88 mm/tahun sedangkan pergeseran horisontal setelah gempa sebesar 1,81 mm sampai dengan 30,64 mm dengan kecepatan pergeseran setelah gempa pada stasiun CLMG, CMJT, dan CTBN memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah timur laut sebesar 7,79 mm/tahun sampai 40,97 mm/tahun. CPCR, CSBY, CSID dan CSMP memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah tenggara sebesar 11,11 mm/tahun sampai 73,92 mm/tahun.