Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI GOOGLE EARTH ENGINE UNTUK BIDANG PENGINDERAAN JAUH Sukoco, Bayu; Armijon, Armijon; Fadly, Romi
Jurnal Penelitian Geografi (JPG) Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Geografi (JPG)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpg.v10i2.24219

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi di bidang penginderaan jauh menyebabkan perubahan kebutuhan akan pengolahan data yang masif, mudah dan cepat. Trend teknologi kedepan diperkirakan akan mengarah ke sebuah sistem berbasis cloud computing dimana big data dan IOT (Internet of things) saling terintegrasi untuk menyelesaikan permasalahan didunia penginderaan jauh. Salah satu teknologi baru yang tersedia untuk bidang penginderaan jauh adalah Google Earth Engine (GEE). Penelitian ini dilaksanakan di kecamatan Natar dengan fokus studi kasus untuk interpretasi tutupan lahan. Data yang digunakan berupa Citra Sentinel-2 tahun 2021-2022. Metode yang digunakan untuk klasifikasi yaitu dengan eksplorasi machine learning pada GEE. Adapun metode machine learning yang digunakan pada penelitian ini yaitu CART, SVM, RFC dan NBC. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) GEE mampu melakukan proses pengolahan data citra penginderaan jauh dengan cukup baik. Terbukti dengan kegiatan klasifikasi dapat memproses menggunakan 4 metode machine learning hanya dengan memodifikasi formula sesuai kebutuhan. Selanjutnya untuk ketelitian citra yang dihasilkan dengan area satu kabupaten berada pada skala 1:100.000 dengan ketelitian horizontal/CE90 berada pada kelas 2 dan 3, sedangkan ketelitian horizontal/CE90 pada kelas 1 berada pada skala 1:250.000. (2) Fasilitas pengolahan data yang disediakan GEE mampu menyelesaikan analisis penginderaan jauh dengan maksimal meskipun masih terdapat fasilitas yang belum tersedia seperti fasilitas layout peta dengan metode klasifikasi machine learning tertinggi yang mampu menginterpretasi tutupan lahan dengan baik adalah random forest dengan akurasi 93%. Kata Kunci: CART, Cloud Computing, Google Earth Engine, NBC, RFC, SVM. DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpg.v10.i2.24219 Full Text:PDF (BAHASA INDONESIA) ReferencesAnggeriana, H., Kom, S., dan Kom, M. 2011. Cloud Computing. Jurnal Teknik Informatika, 1.Arisondang, V. 2015. Klasifikasi Tutupan Lahan Menggunakan Metode Segmentasi Berbasis Algoritma Multiresolusi (Studi Kasus Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat). Jurnal Teknik Geodesi Universitas Diponegoro: Semarang.Basuki, A. 2007. Pengantar Pengolahan Citra. PENS-ITS Surabaya.Danoedoro, P. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta : ANDI Offset.Edisuryana, M., Isnanto, R. R., dan Somantri, M. 2013. Aplikasi Steganografi Pada Citra Berformat Bitmap Dengan Menggunakan Metode End Of File. Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 2(3), 734-742.Fariz, T. R., Daeni, F., dan Sultan, H. 2021. Pemetaan Perubahan Penutup Lahan Di Sub-DAS Kreo Menggunakan Machine Learning Pada Google Earth Engine. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 8(2), 85-92.Fariz, T. R., Permana, P. I., Daeni, F., dan Putra, A. C. P. 2021. Pemetaan ekosistem mangrove di Kabupaten Kubu Raya menggunakan machine learning pada Google Earth Engine. Jurnal Geografi: Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian, 18(2).Hendrawan, H., Gaol, J. L., dan Susilo, S. B. 2018. Studi kerapatan dan perubahan tutupan mangrove menggunakan citra satelit di Pulau Sebatik Kalimantan Utara. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 10(1), 99-109.Humaidah, N., Sudarsono, B., dan Prasetyo, Y. 2015. Analisis Perbandingan Kepadatan Pemukiman Menggunakan Klasifikasi Supervised Dan Segmentasi (Studi Kasus: Kota Bandung). Jurnal Geodesi Undip, 4(4), 73-80.Julianto, F. D., Putri, D. P. D., dan Safi’i, H. H. 2020. Analisis Perubahan Vegetasi dengan Data Sentinel-2 menggunakan Google Earth Engine. Jurnal Penginderaan Jauh Indonesia, 2(2), 13-18.Johansen, K., Phinn, S., and Taylor, M. 2015. Mapping woody vegetation clearing in Queensland, Australia from Landsat imagery using the Google Earth Engine. Remote Sensing Applications: Society and Environment, 1, 36-49. 
PENDEFINISIAN KOORDINAT ULP2 TERHADAP ITRF 2014 MENGGUNAKAN KOMBINASI SATELIT GPS DAN GLONASS Bimantara, Muhammad Bimo; Fadly, Romi; Rahmadi, Eko
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i01.1916

Abstract

Sistem satelit navigasi dalam perkembangannya saat ini tergabung dalam satu sistem, yaitu sistem GNNS. Sistem GNSS ini terdiri dari beberapa sistem satelit, yaitu GPS, Glonass, Galileo, Compass/Beidou, IRNSS, dan QZSS. Dengan semakin banyaknya sistem satelit GNSS yang beroperasi, maka jumlah satelit yang teramati akan lebih banyak, sehingga geometri satelit akan menjadi lebih baik dan lebih kuat, dan ketelitian serta parameter yang akan diestimasi juga akan semakin baik. Universitas Lampung memiliki satu titik ikat yaitu ULP1 akan tetapi kondisi lingkungan yang berada disekitar titik dapat menyebabkan menurunnya kualitas data yang didapatkan menggunakan pengamatan GNSS, sehingga perlu dilakukan pendefinisian koordinat definitif titik baru bernama titik ULP2 menggunakan sistem satelit GPS, GLONASS, dan kombinasinya.Penelitian ini berfokus pada pendefinisian titik ULP2 serta perbandingan ketelitian koordinat yang dihasilkan dari sistem satelit GPS, GLONASS, dan kombinasinya. Data yang digunakan dalam penelitian  ini meliputi data pengamatan GNSS doy 303 dan 304, serta data pendukung seperti: data pengamatan titik ikat,data final orbit, dan data broadcast ephemeris. Pengolahan menggunakan perangkat ilmiah GAMIT. Penelitian ini menghasilkan nilai koordinat definitif titik ULP2 yaitu -1669327,66710 (X), 6127212,68640 (Y), - 592068,03845 (Z), koordinat geodetik ialah -5,3620393069⸰ (lintang), 105,2400573554⸰(bujur) dan 130,56824 meter (tinggi elipsoid) dan untuk koordinat UTM zona 48S ialah 526596,3370 meter (Timur) dan 9407310,9970 meter (Utara). Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, nilai koordinat yang dihasilkan dari sistem satelit GLONASS secara statistik tidak memiliki perbedaaan dengan nilai koordinat yang dihasilkan dari sistem satelit GNSS ataupun sistem satelit GPS.Kata Kunci: GNSS, definitif, ULP2, GAMIT
PENDEFINISIAN KOORDINAT ULP2 UNIVERSITAS LAMPUNG TERHADAP ITRF 2014 SERTA ANALISA PENGGUNAAN TIGA MACAM RECEIVER YANG BERBEDA Putri, Gita Nindya; Fadly, Romi; Rahmadi, Eko
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i01.1918

Abstract

Survei Global Navigation Satellite System (GNSS) merupakan suatu metode penentuan posisi yang dapat digunakan untuk menentukan Titik Kontrol Geodetik, baik untuk skala nasional, regional, atau global. Universitas Lampung telah memiliki titik kontrol BM (BenchMark) bernama ULP1. Pada saat ini, kondisi di sekitar titik ULP1 telah ditumbuhi banyak pohon tinggi.Hal tersebut dapat menjadi objek penghalang sinyal satelit dan menyebabkan kesalahan yang serius pada hasil ketelitian posisi jika dilakukan pengukuran. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian pengamatan GNSS untuk mendefinisikan titik kontrol baru yaitu titik ULP2. Titik ULP2 berada di Universitas Lampung tepatnya dijalan depan Perpustakaan Unila. Periode penelitian dimulai tanggal 30 Oktober 2018 hingga 28 Januari 2019. Jenis metode pengamatan yang digunakan adalah metode statik dan menggunakan tiga macam receiver GNSS yang berbeda. Data hasilpengamatan diolah menggunakan software TEQC dan GAMIT/GLOBK untuk mendapatkan koordinat. Uji statistik digunakan untuk melihat signifikansi koordinat antara tiga macam receiver GNSS yang berbeda. Hasil pengolahan menggunakan GAMIT/GLOBK adalah koordinat definitif titik ULP2 Universitas Lampung. Koordinat geodetis, 5.3620393436° LS dan 105.2400574228° BT, koordinat kartesian, X = -1669327.66658 m ± 0.01214 m, Y = 6127212.65601 m ± 0.03929 m, dan Z = -592068.03976 m ± 0.00685 m, koordinat UTM 48S, E = 526596.3444 m, N = 9407310.9929 m, h = 130.5390 m. Hasil uji statistik menggunakan uji t tidak menunjukan adanya perbedaan yang signifikan pada semua skenario, yang artinya penggunaan receiver yang berbeda tidak berpengaruh besar terhadap koordinat yang dihasilkan.Kata kunci: pendefinisian titik koordinat, GAMIT/GLOBK, receiver GNSS.
PENDEFINISIAN KOORDINAT ULP2 UNIVERSITAS LAMPUNG TERHADAP ITRF 2014 MENGGUNAKAN TITIK IKAT IGS DAN CORS BADAN INFORMASI GEOSPASIAL Restiana, Restiana; Fadly, Romi; Rahmadi, Eko
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i01.1919

Abstract

Perkembangan teknologi GNNS dapat digunakan untuk penentuan posisi Titik Kontrol Geodetik. Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika FT UNILA telah memiliki Titik Kontrol Geodetik, yaitu titik ULP1. Saat ini, penggunaan titik ULP1 mulai terhambat dengan adanya pepohonan dan bangunan yang menghalangi penerimaan sinyal satelit sehingga mempengaruhi kualitas data pengamatan. Oleh sebab itu, dilakukan pembuatan titik kontrol baru dilokasi yang bebas hambatan dan titik tersebut diberi nama ULP2. Penelitian ini dilakukan untuk mendefinisikan koordinat titik ULP2 menggunakan titik ikat IGS dan CORS BIG terhadap ITRF 2014. Metode pengamatan menggunakan survei GNSS secara statik selama empat hari, yaitu tanggal 30 Oktober sampai dengan 2 November 2018. Pengolahan data dilakukan dengan software GAMIT/GLOBK menggunakan tiga skenario pengolahan untuk mendapatkan koordinat yang teliti. Uji signifikansi dilakukan untuk melihat signifikansi perbedaan koordinat yang dihasilkan secara statistik.Hasil penelitian berupa koordinat definitif titik ULP2 dalam UTM zona 48S arah E = 526596,336 m, N = 9407310,9954 m, dan h = 130,6185 m. Koordinat geodetis 5.3620393213ᴼ LS dan 105.240057347ᴼ BT.Koordinat kartesian 3D sumbu X = -1669327,67933 m ± 0,00232 m, Y = 6127212,73483 m ± 0,00173 m, dan Z = -592068,04474 m ± 0,00984 m. Hasil uji-t menunjukkan bahwa skenario I, II, dan III tidak memilikiperbedaan koordinat yang signifikan. Titik ikat yang paling optimal dihasilkan dari penggunaan titik ikat IGS dengan distribusi titik yang merata. Selain itu, penggunaan titik ikat dengan distribusi titik yang merata dapat menghasilkan konfigurasi jaring yang baik. Panjang baseline yang optimal berkisar antara 565 km sampai dengan 2.806 km dengan nilai simpangan baku yang kecil pada arah E = 2,4 mm, N = 1,8 mm, dan h = 9,9 mm.Kata kunci: GAMIT/GLOBK Pendefinisian koordinat, Titik ikat, ULP2
ANALISIS DEFORMASI GUNUNG SINABUNG BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS PERIODE 2017-2018 Rahmawati, Tania Sari; Fadly, Romi; Rahmadi, Eko
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 02 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i02.2088

Abstract

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia yang terletak di provinsi Sumatera Utara. Gunung Sinabung tercatat tidak pernah meletus sejak tahun 1600an, tetapi pada Agustus 2010 Gunung Sinabung mengalami erupsi untuk pertama kali setelah sekian lama tidak ada aktivitas di Gunung Sinabung. Potensi bahaya yangdihasilkan oleh hasil erupsi Gunung Sinabung mampu menghasilkan material berukuran abu sampai awan panas. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan yang signifikan dan kontinyu terhadap aktivitas Gunung Sinabung ini.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar pergeseran Gunung Sinabung. Metode yang digunakan untuk pemantauan aktivitas Gunung Sinabung dengan metode geodetik yaitu metode pengamatan GPS secara kontinyu. Dengan dilakukannya pemantauan dan analisis pergeseran titik pengamatan pada Gunung Sinabung, diharapkan dapat memberikan gambaran kecenderungan aktivitas Gunung Sinabung, sehingga dapat membantu bagaimana pergeseran yang terjadi pada titik pengamatan Gunung Sinabung. Berdasarkan analisis yang dilakukan, terdapat 2 periode pengamatan yaitu periode 1 deformasi pada stasiun pengamatan Gunung Sinabung bergerak ke segala arah dan mengalami pergeseran yang signifikan dan inflasi yang besar pada semua stasiun pengamatan Gunung Sinabung. Periode 2 deformasi pada stasiun pengamatan Gunung Sinabung bergerak ke segala arah. Namun terdapat perbedaan pada stasiun pengamatan dimana MRDG mengalami deflasi sedangkan KBYK, LKWR dan SNBG terjadi inflasi.Kata kunci: gunung sinabung, deformasi, pergeseran, gps.
KAJIAN PENGARUH PANJANG BASELINE TERHADAP PENGOLAHAN DATA GPS METODE STATIC RADIAL MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK NET DIFF Jurin, M Alfin; Fadly, Romi; Rahmadi, Eko
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 02 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i02.2089

Abstract

Panjang baseline dan perangkat lunak adalah dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengolahan data GPS. Panjang baseline dapat mempengaruhi ketelitian posisi yang dihasilkan. Faktor yang lainnya adalah perangkat lunak, Net Diff adalah perangkat lunak yang belum banyak digunakan oleh praktisi terkait untuk pengolahan data GPS. Oleh karena itu dilakukan kajian terkait faktor-faktor tersebut.Metode pengamatan menggunakan metode static radial, sedanglan pengolahan data secara post processing. Data diambil dengan 6 jam pengamatan, dan panjang baseline berbeda-beda, yaitu ±2 km, ±5 km, ±10 km, ±20 km, ±50 km dari base station. Kemudian dilakukan pengolahan data menggunakan perangkat lunak Net Diff, hasilnya akan di analisis menggunakan hasil dari pengolahan menggunakan GAMIT.Hasil dari penelitian pengolahan data GPS menggunakan perangkat lunak Net Diff, adalah selisih panjang baseline Net Diff terhadap GAMIT paling kecil dengan nilai 0.013 m terjadi di baseline pendek, yaitu titik HJMN, dengan panjang baseline 1595.35 m.Ketelitian koordinat Net Diff terhadap GAMIT paling kecil terjadi di baseline pendek, yaitu titik HJMN dengan nilai parameter X -0.003, dan parameter Z 0.003 m. Kemudian titik PKOR dengan nilai parameter X 0.002 m. Pada penelitian ini, panjang baseline sampai dengan ±50 km, masih memberikan hasil yang baik. Dibuktikan oleh hasil uji t, dengan tingkat kepercayaan 95%.Kata kunci : gamit, net diff, panjang baseline
ANALISIS PERGESERAN DAN REGANGAN WILAYAH LAMPUNG BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS EPISODIK TAHUN 2018-2019 Salsabila, Meylia Sinta; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 02 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i02.2090

Abstract

Lampung berdekatan dengan pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, menyebabkan terbentuknya zona subduksi di Pesisir Lampung. Selain itu, Lampung dilalui“The Great Sumatran Fault”, Sesar Tarahan dan sesar kecil lainnya membuat wilayah Lampung rawan akan aktivitas geodinamika. Tsunami yang melanda wilayah Lampung, gempa tektonik yang menimbulkan korban jiwa, serta aktivitas vulkanisme yang tinggi merupakan implikasi dari geodinamika yang terjadi. Maka diperlukan penelitian untuk menentukan pola deformasi yang terjadi diwilayahLampung. Penelitian ini bertujuan menghitung besar pergeseran, kecepatan pergeseran dan arah pergeseran serta regangan arah horizontal. Data yang digunakan hasil pengamatan GPS di 9 titik CORS yang berada diwilayah Lampung, yaitu CBJY, CMEN, CTCN, CSBK, CWJP, CPRI, CKMN, CKRI, CLGI dan data pengamatan GPS titik ULP2 yang berada di Universitas Lampung. Titik ikat yang digunakan sebanyak 14 stasiun IGS yaitu, BAKO, COCO, CUSV, DARW, DGAR, NTUS, HYDE, IISC, KARR, KAT1, LHAZ, POHN, XMIS, YAR3.Pengolahan dilakukan menggunakan software GAMIT/GLOBK 10.7. Hasil penelitian ini yaitu, pergeseran dengan rentang 0.20 – 29.78 mm untuk sumbu easting, -0.6 – -30.56 mm untuk sumbu northing dan 1.2 – 47.86 mm/tahun untuk perubahan ketinggian. Kecepatan pergeseran horizontal sebesar 7.237 – 18.104 mm/tahun yang didominasi bergerak mengarah ke Barat Daya,  serta regangan yang terjadi didominasi pola kompresi dengan nilai 0.0098  s.d -0.8251 µstrain/tahun. Kata Kunci : Deformasi, GPS, Lampung, Pergeseran, Regangan 
ANALISIS PERGESERAN DAN REGANGAN SELAT SUNDA BERDASARKAN DATA CORS BIG TAHUN2017-2019 Santi, Ely; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 02 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i02.2091

Abstract

Selat Sunda merupakan wilayah perairan yang berada pada pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu lempeng Benua Eurasia dan lempeng Samudera Indo-Australia pertemuan lempeng tersebut membentuk zona subduksi sehingga menyebabkan patahan yang bergerak dan dikenal dengan Sesar Sumatra. Selain Sesar Sumatera di Selat Sunda juga terdapat aktivitas vulkanik yang disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hal tersebut menyebabkan tingginya aktifitas geodinamika dan potensi bencana di Selat Sunda, mengingat wilayah selat sunda dikelilingi oleh provinsi yang padat penduduk dan menjadi jalur tranfortasi laut sehingga jika terjadi bencana maka banyak kerugian yang ditimbulkan. Oleh karena itu perlu adanya mitigasi bencana.Untuk mendukung mitigasi bencana maka dapat dilakuakan pemantauan pergeseran dan regangan Selat Sunda. Penelitian ini bertujuan menghitung besar pergeseran, kecepatan dan regangan Selat Sunda. Data yang digunakan yaitu data episodik titik CORS CGON, CLGI, CPSR, CSBK, CTCN dan CUJK, yang diikatkan ke 14 stasiun IGS BAKO, COCO, NTUS, XMIS, YAR3, DARW, KAT1, LHAZ, POHN, HYDE, DGAR,CUSV, SGOC, IISC, KARR dan pengolahan menggunakan software Gamit/GLOBK 10.7. Hasil penelitian ini yaitu, pergeseran horizontal titik pengamatan sebesar 34,2 – 0,0525 mm dan pergeseran ketinggian sebesar 10,9 mm s.d -45,3 mm. Kecepatan pergeseran horizontal titik pengamatan sebesar  15,832 - 25,875 mm/,   titik pengamatan dominan bergerak ke arah tenggara dengan arah pergeseran sebesar 78,3260- 135,5190. Pola regangan titik pengamatan yaitu, kompresi dengan nilai kompresi -0,4254 μstrain s.d -0.2382 μstrain. Kata Kunci:KecepatanPergeseran, Pergeseran, Regangan, Selat Sunda.
ANALISIS PERUBAHAN TOPOGRAFI GUNUNG ANAK KRAKATAU PASCA ERUPSI TANGGAL 22 DESEMBER 2018 MENGGUNAKAN DATA FOTO UDARA DAN DEMNAS Saputra, I Wayan Indra; Armijon, Armijon; Fadly, Romi
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 1 No. 02 (2021): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v1i02.2092

Abstract

Erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak bulan agustus hingga bulan Desember tahun 2018, membuat bagian puncak GAK tersebut longsor ke laut yang menyebabkan perubahan fisik dan berkurangnya jumlah volume GAK. Analisis perubahan topografi Gunung Anak Krakatau perlu dilakukan guna mendapatkan informasi dan perubahan kondisi sebelum dan setelah mengalami erupsi. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan data DEM Foto Udara terhadap DEMNAS. Perhitungan perubahan jumlah volume GAK menggunakan metode perhitungan kontur dari data kontur DEM NAS dan DEM Foto Udara.Ketinggian puncak Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan dari 260.136 meter menjadi 158.635 meter. Luasnya berubah dari 328.87 ha menjadi 315.876 ha. Terdapat lubang kawah menghadap kearah Barat Daya yang terendam air laut dengan diameter 385 meter seluas 12.64 ha. Sebelum terjadi erupsi, total volume Gunung Anak Krakatau ± 164,871,247.779782 m³ (berdasarkan DEMNAS), setelah erupsi total volume menjadi 126,647,397.3282 m³ (Berdasarkan DEM foto udara). Kata kunci : DEMNAS, Gunung Anak Krakatau, Perubahan Bentuk Fisik Volume, Foto udara
EFEKTIVITAS DAN PERBANDINGAN PENGUKURAN BIDANG TANAH MENGGUNAKAN METODE RTK-NTRIP DENGAN METODE RTK-RADIO Rizkia, M Reza; Murdapa, Fauzan; Fadly, Romi
Datum: Journal of Geodesy and Geomatics Vol. 2 No. 01 (2022): Jurnal Datum Geodesi dan Geomatika
Publisher : Department of Geodesy and Geomatics, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/datum.v2i01.2659

Abstract

Kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dapat dilakukan dengan menggunakan GNSS metode RTK (Real Time Kinematic) baik RTK-Radio maupun RTK-NTRIP. Pada metode RTK-NTRIP terdapat dua jenis yaituRTK- NTRIP Single Base dan Network RTK. Kedua metode tersebut dibedakan berdasarkan jumlah titik ikat CORS yang digunakan sehingga menyebabkan terjadinya variasi data. Dari variasi data yang dihasilkan akanterdapat perbedaan koordinat. Dengan adanya perbedaan koordinat tersebut tentunya akan mempengaruhi hasil jarak antar titik serta luas bidang tanah sehingga data yang dihasilkan tidak akan sama. Oleh karena itu, perludilakukan perbandingan titik koordinat, jarak antar titik, serta luas bidang untuk mengetahui tingkat signifikansinya.Metode penelitian ini mencakup kegiatan pengambilan data menggunakan metode RTK-NTRIP Single Base, Network RTK dan RTK Radio dengan masing-masing 10 bidang tanah, selanjutnya penggambaran hasil pengukuran, perhitungan ketelitian (kordinat, jarak antar titik, luas), menguji dengan menggunakan toleransi yang dikeluarkan oleh BPN, dan menguji ketelitian dengan uji T-student. Pada RTK-NTRIP Single Base,ketelitian posisi (X,Y) memiliki nilai RMS Error sebesar 0,2498 m, kesalahan rata-rata dari jarak antar titik adalah 0,1094 m dengan nilai RMS Error sebesar 0,1358 m, serta selisih rata-rata luas bidang tanah sebesar2,294 m2 dengan nilai RMS Error sebesar 3,087 m. Pada Network RTK ketelitian posisi (X,Y) memiliki nilai RMS Error sebesar 0,2571 m, kesalahan rata-rata dari jarak antar titik adalah sebesar 0,135 m dengan nilai RMSError sebesar 0,2509 m, serta selisi rata-rata luas bidang tanah sebesar 4,778 m2 dengan nilai RMS Error sebesar 5,7268 m. Dari hasil perhitungan uji signifikansi tidak ada perbedaan secara signifikan. Kata kunci: RMS Error, RTK-NTRIP Single Base Nearest, Network RTK, RTK-Radio