Claim Missing Document
Check
Articles

Kualitas dan Daya Simpan Benih Hasil Panen Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merill) yang Ditanam dengan Aplikasi Mikoriza dan Rhizobium Khoiru Ridho; Sri Muhartini; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.188 KB) | DOI: 10.22146/veg.37142

Abstract

Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium dapat dijadikan alternatif dalam upaya peningkatan produksi kedelai hitam di lahan marjinal, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium terhadap kualitas benih selama penyimpanan, dan juga mendapatkan perlakuan yang mampu mermperpanjang umur simpan dari benih hasil panen kedelai hitam yang ditanam sebelumnya dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih dan Rumah Kaca, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada bulan Oktober 2016 hingga Maret 2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.Perlakuan yang diberikan adalah tanpa aplikasi mikoriza dan Rhizobium (kontrol), aplikasi mikoriza, aplikasi Rhizobium, dan aplikasi gabungan mikoriza dan Rhizobium. Pengujian benih dilakukan setiap bulan selama 6 bulan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, indeks vigor hipotetik, dan kadar air benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih yang dihasilkan dari budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza, Rhizobium, maupun dengan gabungan mikoriza dan Rhizobium belum mampu memperbaiki kualitas fisiologi benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol). Budidaya kedelai hitam dengan aplikasi mikoriza dan Rhizobium secara umum belum mampu memperbaiki atau memperpanjang umur simpan benih dibandingkan tanpa mikoriza dan Rhizobium (kontrol). 
Pengaruh Aplikasi Tiga Jenis Arang dan Klon terhadap Pertumbuhan Vegetatif Dan Serapan Unsur Silika (Si) Tebu (Saccharum Officinarum L.) PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri Priyo Dwi Siswanto; Dody Kastono; Nasih Widya Yuwono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.344 KB) | DOI: 10.22146/veg.37162

Abstract

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang merupakan tanaman yang menghasilkan gula. Produksi gula nasional mengalami penurunan karena produktivitas tanaman tebu yang rendah. Pemberian bahan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi tanah baik fisika, kimia maupun biologi disebut amandemen (ameliorasi). Bahan alam yang dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi hara dan meningkatkan efisiensi pemupukan yaitu dengan pemberian arang. Tanaman tebu sangat membutuhkan unsur Si dalam pertumbuhannya. Salah satu bahan organik yang mengandung Si tinggi yaitu arang. Kandungan Si dari berbagai sumber berbeda-beda, Si pada arang sekam padi merupakan yang tertinggi. Selain faktor pemupukan, faktor klon yang sesuai dengan lahan juga sangat penting untuk meningkatkan produksi tebu. klon merupakan suatu langkah yang ditempuh untuk memberbaiki sifat suatu tanaman baik dari segi kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi antara jenis arang dengan klon yang memiliki hasil pertumbuhan dan serapan hara paling baik. Penelitain dilakukan di lahan PT. Perkebunan Nusantara X Jengkol Kediri menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu jenis arang dan yang kedua yaitu jenis klon tebu. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2017-Februari 2018. Kombinasi perlakuan arang sekam padi dan klon tebu Bululawang mampu meningkatkan hasil pertumbuhan vegetatif tanaman tebu. Tebu klon Bululawang yang diaplikasikan dengan arang sekam padi mampu memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan tebu Klon PS 882 yang diaplikasikan dengan arang kayu mampu meningkatkan serapan unsur Silika (Si). Arang sekam padi mampu meningkatkan diameter batang dan kandungan Si jaringan batang pada umur 140 hspt.
Fungsi Ekologis Vegetasi Taman Denggung Sleman sebagai Pengendali Iklim Mikro dan Peredam Kebisingan Alun Erdianto; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.987 KB) | DOI: 10.22146/veg.41374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi ekologis vegetasi sebagai pengendali iklim mikro dan peredam kebisingan, menganalisis jenis vegetasi Taman Denggung serta membuat rekomendasi tata hijau Taman Denggung berdasarkan aspek fungsi ekologisnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Juli 2018 di Taman Denggung, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Studi ini menggunakan metode survei dengan pengambilan data lapangan dan analisis deskriptif untuk tujuan fungsi pereduksi kebisingan, pemecah angin, dan penurun suhu di Taman Denggung. Hasil inventarisasi dianalisis berdasarkan kriteria fungsi ekologis yang kemudian dibandingkan dengan literatur. Teknik penilaian fungsi ekologis menggunakan rumus Key Performance Index (KPI) untuk memberi nilai pada masing-masing kriteria. Keberadaan vegetasi berupa pohon di Taman Denggung mampu mereduksi kebisingan sebesar 8,6 dBA, mengurangi suhu sebesar 2,25 °C dan meningkatkan kelembaban udara sebesar 5,3 % serta mampu memperlambat kecepatan angin sebesar 0,60 m/s. Jenis vegetasi di Taman Denggung yang memiliki karakteristik morfologi baik sebagai peredam kebisingan 57,47 %, sebagai penurun suhu 57,34 %, sebagai kontrol kelembaban udara 38,53 %, dan sebagai penahan angin 95,41 %.
Hubungan Sifat Perakaran dan Ketahanan Kekeringan Lima Kultivar Kedelai (Glycine max L.) Roosanna Purbowahyuani; Dody Kastono; Didik Indradewa
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.819 KB) | DOI: 10.22146/veg.42712

Abstract

Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya tanaman kedelai di Indonesia. Salah satu upaya menanggulangi penurunan hasil yang disebabkan oleh kekeringan adalah dengan menggunakan kultivar kedelai yang tahan terhadap cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan di rumah plastik di Kebun Tridharma Banguntapan, sub Laboratorium Ilmu Tanaman dan Laboratorium Ekologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dari bulan April-Agustus 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara sifat perakaran dan toleransi cekaman kekeringan lima kultivar kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi (split plot) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah pemberian air yang terdiri dari dua aras yaitu disiram sehari sekali dan disiram tujuh hari sekali. Anak petak berupa kultivar kedelai terdiri dari kultivar Anjasmoro, Burangrang, Demas 1, Dering 1, dan Devon 1. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis varian (ANOVA). Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan, dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) Tukey dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kultivar kedelai yang paling tahan terhadap kekeringan adalah Demas 1. Kultivar kedelai yang tahan kekeringan memiliki permukaan akar yang lebih luas dibanding kultivar kedelai yang rentan kekeringan.
Perbandingan Perakaran Beberapa Kultivar Kedelai (Glycine max L.) yang Mengalami Kekeringan dengan Metode Pengamatan Berbeda Yudha Pratiwi; Dody Kastono; Didik Indradewa
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.913 KB) | DOI: 10.22146/veg.42714

Abstract

Penelitian mengenai ”Perbandingan hasil pengukuran perakaran lima kultivar kedelai (Glycine max L.) dengan metode berbeda” dilakukan di rumah plastik di Kebun Tridharma Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sedangkan analisis pertumbuhan tanaman dilakukan di Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman Sub Laboratorium Ilmu Tanaman dan Ekologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian berlangsung dari bulan Maret-Agustus 2018. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari sifat perakaran pada kondisi berbeda (cukup air dan kekeringan) dan membandingkan hasil pengukuran parameter perakaran dengan metode berbeda (manual dan area meter). Rancangan lingkungan yang dipakai berupa split plot dengan dua faktor yang diuji coba yaitu perlakuan kekeringan sebagai faktor pertama dan kultivar sebagai faktor kedua. Perlakuan kekeringan terdiri dari 2 aras yaitu cukup air dengan disiram 1 hari sekali dan kekeringan dengan disiram 3 hari sekali. Kultivar yang digunakan terdiri dari 5 macam kultivar kedelai, yaitu kultivar Anjasmoro, Burangrang, Demas 1, Dering 1, dan Devon 1. Data yang diperoleh kemudian dilakukan analisis varians (ANNOVA) dan apabila terdapat beda nyata, dilakukan uji lanjut Honest Significant Difference (Beda Nyata Jujur) Tukey 5 %. Pada metode penelitian ini sifat perakaran dalam kondisi kekeringan cenderung mengalami penurunan yang signifikan. Pengukuran perakaran kedelai dengan metode berbeda menunjukkan bahwa pengukuran secara manual memberikan nilai panjang akar total, volume akar, dan luas permukaan akar yang lebih besar.
Pengaruh Macam Pupuk Organik Cair dan Dosis Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.) Yogie Muhamad Mas'ud Irsyad; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.41 KB) | DOI: 10.22146/veg.42715

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi antara macam pupuk organik cair dengan dosis pupuk anorganik yang mampu mendukung pertumbuhan dan hasil jagung terbaik. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2018 di Kebun Pusat Inovasi Agroteknogi (PIAT) UGM. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) untuk menguji lima macam pupuk organik cair serta dosis pupuk anorganik yang terdiri atas 0 %, 35 %, dan 75 % dari rekomendasi Dinas Pertanian. Kontrol merupakan dosis pupuk anorganik 100 %, yaitu urea 300 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha. Data pertumbuhan dan komponen hasil dianalisis varian menurut kaidah rancangan acak kelompok lengkap dilanjutkan dengan uji HSD dengan taraf kepercayaan masing-masing 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam pupuk organik cair memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil jagung tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung. Dosis pupuk anorganik 75 dan 100 % rekomendasi nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 25 % dan meningkatkan produktivitas sebesar 50 % jika dibandingkan tanpa pupuk anorganik. Pupuk organik cair dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik sebesar 25 % terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Pemberian dosis pupuk anorganik rekomendasi Dinas Pertanian belum mampu mengoptimalkan potensi hasil jagung.
Pengaruh Takaran Mikoriza terhadap Pertumbuhan Bibit Teh (Camellia sinensis) Klon Gambung 7 di Afdeling Pagilaran, Andongsili dan Kayulandak Mohammad Yanuar Setya Wibowo; Taryono Taryono; Dody Kastono
Vegetalika Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.101 KB) | DOI: 10.22146/veg.45909

Abstract

Permasalahan utama yang sering terjadi pada saat pembibitan teh dengan setek adalah lambatnya pembentukan akar yang dapat menyebabkan kematian bibit. Salah satu cara dalam membantu merangsang pembentukan akar dan kalus serta proses penyerapan hara bagi tanaman adalah dengan pemberian agensia hayati Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan bibit teh Gambung 7 dan takaran mikoriza yang tepat pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan Split-Plot dengan ketinggian sebagai plot utama terdiri dari 3 aras yaitu afdeling Pagilaran (P) dengan ketinggian 980 m dpl, afdeling Andongsili (A) dengan ketinggian 1100 m dpl, dan afdeling Kayulandak (K) dengan Ketinggian 1200 m dpl. Kemudian takaran mikoriza menempati anak petak terdiri dari 4 faktor yaitu dosis 0, 3, 6, 9 gram/polibag. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara takaran mikoriza dengan ketinggian pada variabel berat kering akar. Nilai berat kering akar tertinggi terdapat pada Afdeling Pagilaran perlakuan kontrol sebesar 1,16 gram, sedangkan hasil paling rendah terdapat pada Afdeling Andongsili perlakuan 9 gram/polibag sebesar 1,02 gram. Tinggi tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit Gambung 7 dengan persentase setek hidup tertinggi pada afdeling Kayulandak sebesar 95 %, selanjutnya pada afdeling Pagilaran sebesar 79,75 %, dan afdeling Andongsili sebesar 70,50 %.
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP HASIL BAWANG MERAH (Allium cepa L. Aggregatum group) DI LAHAN PASIR Fannisa Fatirahma; Dody Kastono
Vegetalika Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.157 KB) | DOI: 10.22146/veg.47792

Abstract

Tanaman bawang merah memerlukan ketersediaan hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dalam jumlah yang cukup dan berimbang di dalam tanah untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis pupuk organik cair yang cocok untuk tanaman bawang merah di lahan pasir pantai. Penelitian lapangan dilakukan di daerah pantai Bugel-Panjatan (Kulon Progo), dari bulan September sampai dengan Oktober 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 1 faktor yaitu pupuk organik cair. Pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul (POC A), pupuk organik cair Super Natural Nutrition (POC B), pupuk kombinasi Hormon Tanaman Unggul dan Super Natural Nutrition (POC C), dan tanpa pemupukan pupuk organik cair (Kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada beda nyata pada komponen pertumbuhan sedangkan pada hasil produksi terdapat beda nyata antara perlakuan kontrol dan pupuk Super Natural Nutrition. Dosis pupuk yang digunakan yaitu 3 ml/ l air, diaplikasikan dengan interval waktu 2 minggu sekali pada umur 3 mst dan 5 mst. Hasil produksi tanaman bawang merah memiliki berat segar umbi 1.056,94 g/10,5 m2 dan berat kering umbi 449,72 g/10,5 m2. Dalam konversinya hasil produksi berat segar umbi sebesar 16,77 ton/ha sedangkan untuk berat kering umbi sebesar 7,13 ton/ha.
Tanggapan Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.) Terhadap Monosodium Glutamat (MSG) Berbagai Konsentrasi Syam Widi Nugroho; Dody Kastono
Vegetalika Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.47801

Abstract

Pertambahan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan pangan dan huga gizi salah satunya melalui tanaman sayuran. Kangkung merupakan salah satu tanaman yang digemari masyarakat dan memiliki umur pendek dan kandungan gizi yang cukup tinggi. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui tanggapan pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) dengan pemberian beberapa konsentrasi monosodium glutamat. Penelitian dilakukan di Rumah Kawat, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan April-Mei 2019. Penelitian disusun dengan rancangan acak lengkap dan perlakuan berupa konsentrasi monosodium glutamat yang terdiri dari 0,5 g/l, 1 g/l, dan 1,5 g/l. Sebagai kontrol digunakan konsentasi 0 g/l. Metode yang digunakan adalah pengukuran kuantitatif beberapa parameter, kemudian dimasukkan dalam rumus perhitungan analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjut menggunakan duncan’s multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan mulai pemberian monosodium glutamat 1 g/l mampu meningkatkan tinggi tanaman (14,13%), jumlah daun (28,85%), bobot segar total (84,21%), bobot segar tajuk (109,25%), bobot kering total (50,61%), bobot kering tajuk (94,84%), dan luas daun (114,011%) dibanding kontrol pada 35 hari setelah tanam.
Pengaruh Pemangkasan Batang Utama dan Cabang Primer terhadap Hasil dan Kualitas Pare (Momordica charantia L.) Qaanitatul Hakim Ipaulle; Dody Kastono
Vegetalika Vol 9, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.49845

Abstract

Pare merupakan jenis tanaman sayur yang banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia di bidang kuliner, kosmetik, hingga obat herbal. Banyaknya kebutuhan masyarakat tersebut harus seimbang dengan produktivitas pare. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dapat dilakukan dengan teknik pemangkasan yang tidak banyak dilakukan oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara perlakuan pemangkasan batang utama dengan cabang primer untuk meningkatkan hasil dan kualitas pare. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Juni 2019 di dusun Kuden, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Rancangan penelitian disusun dengan rancangan petak terbagi faktorial 2 x 5, tiga blok sebagai ulangan. Petak utama terdiri dari dua taraf yaitu pemangkasan dan tanpa pemangkasan cabang primer. Anak petak terdiri dari lima taraf yaitu tanpa pemangkasan batang utama, pemangkasan menyisakan 13, 16, 19, dan 21 ruas. Data diuji menggunakan analisis varians, jika terdapat signifikansi diantara perlakuan kemudian dilanjutkan dengan uji Honestly Significant Difference dengan taraf kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan batang utama dan cabang primer memberikan pengaruh nyata pada jumlah cabang primer dengan interaksi antar faktor, namun tidak berbeda nyata terhadap jumlah bunga betina dan bunga jantan per tanaman, rasio bunga betina: jantan, fruit set, jumlah buah per tanaman, bobot segar buah, panjang dan diameter buah. Hal tersebut mengindikasi perlakuan pemangkasan batang utama dan cabang primer yang dilakukan nyatanya malah menurunkan jumlah buah per tanaman, bobot segar buah per buah, sehingga bobot buah per tanaman juga menurun. Meski begitu, hasil uji korelasi antar ketiga variabel tersebut dengan produktivitas tanaman menunjukkan hubungan signifikan korelasi positif yang cukup-sangat kuat.