Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Problematika Pencantuman Status Perkawinan yang Belum Tercatat Dalam Kartu Keluarga Perspektif Maslahah Syarif, Mas Abdullah; Saiban, Kasuwi; Yasin, Noer
Sakina: Journal of Family Studies Vol 7 No 4 (2023): Sakina: Journal of Family Studies
Publisher : Islamic Family Law Study Program, Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jfs.v7i4.6064

Abstract

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh munculnya kebijakan pencantuman status perkawinan kawin belum tercatat dalam Kartu Keluarga (KK) yang tentunya menjadi pro kontra dikalangan masyarakat dan kemudian dianalisis menggunakan konsep maslahah Memang merupakan fenomena yang terjadi di Indonesia yang dimuat dalam PERMENDAGRI nomor 109 tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Jenis penelitian yang akan digunakan ini adalah penelitian (library research) yang bersifat kepustakaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menghadirkan data deskriptif beberapa kata tulisan. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya aturan yang memperbolehkan pencantuman status perkawinan kawin belum tercatat dalam KK memberikan perbedaan pendapat tentu dilatar belakangi pada sudut pandang dalam menentukan sebuah kemaslahatan. Pendapat setuju (pro) memandang bahwa kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan nash syara’ karena pencatatan nikah hanyalah perbuatan administratif saja bukan terkait keabsahan nikah yang terletak pada terpenuhinya rukun dan syara’, mengandung kemaslahatan karena merupakan upaya pemerintah untuk mengarahkan masyarakat pada sebuah kebaikan, dan juga termasuk maslahah hajiyah karena memang harus dilakukan oleh pemerintah guna kebaikan warganya dengan tidak menyalahi hukum agama serta peraturan-peraturan yang berlaku serta menghindari efek negatif yang mungkin timbul. Sedangkan disatu sisi pendapat yang kontra memiliki alasan tersendiri.
Tradisi Ketumpangan dalam Hajatan Perspektif Fiqih Muammalah: Studi Kasus di Desa Lumbangrejo Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur: Indonesia Ahmad Luthvan Habiburrahman; Roibin; Noer Yasin
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 3 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i3.5934

Abstract

Indonesia is a country rich in tradition, one of the traditions that runs in the midst of Indonesian society is the tradition of Ketumpangan in celebration. This tradition is commonly known as Buwuh. The tradition of Ketumpangan is a tradition of returning favours to ṣāḥib al-ḥājah, in return for the assistance received, whether in the form of goods or money. This tradition that runs in the community sometimes causes conflict, this is inseparable from differences in people's views about the tradition, shifting the meaning of this tradition and the absence of a contract. This research was conducted with the aim of knowing the practice of the Ketumpangan tradition in the celebration that runs in Lumbangrejo Village, Prigen Subdistrict, Pasuruan Regency, where later the practice of this tradition is reviewed from the perspective of Fiqh Muammalah. This type of research is qualitative research in the form of a case study with a phenomenological approach conducted in Lumbangrejo Village, Prigen District, Pasuruan Regency. Primary data sources were obtained from unstructured interviews with Ketumpangan actors, religious leaders, and cultural experts to obtain information about the practice procedures of the Ketumpangan tradition. Secondary data were obtained from scientific literature related to this research, and various literature references related to the Ketumpangan tradition. The results showed that, First, the Ketumpangan tradition in celebrations that took place in Lumbangrejo Village was based on a sense of harmony between communities, this tradition had a gradual flow starting from planning the event and giving the object of ketumpangan in stages. Second, the Ketumpangan tradition in the celebration that takes place in Lumbangrejo Village is in accordance with the grant contract in fiqh muammalah, both in terms of the pillars or conditions. Keywords: Tradition, Ketumpangan, Hibah