Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Humaniora

Glembuk, Strategi Politik dalam Rekrutmen Elite Penguasa di Desa Pulungansari Yogyakarta Bambang Hudayana
Humaniora Vol 23, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.954 KB) | DOI: 10.22146/jh.1005

Abstract

Credibility is the power resource of village elites in Java that has ability to find out influence to the people. However, village elites also still require glembuk as a strategy to generate credibility, or to make the people merely under their control even though without legitimacy. Glembuk is implemented through conducting political transaction between the elites and the peoples, the elites persuate and negosiate their interest, and offer a compensation in term of services, goods, money or something that is important, or valuable for the peoples. Elites become to rely more on glembuk in the contestation of rulling elite recruitment such as village staff (pamong) and headman (lurah) direct election because they have no sufficient credibility requirement. The winers are the elites enabling to produce glembuk that manipulate and show off their potential as the credible leaders.
Pembauran Identitas Etnik di Kalangan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Bambang Hudayana
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1775.358 KB) | DOI: 10.22146/jh.2034

Abstract

Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan perguruan tinggi terbesar di Indonesia. UGM memiliki 18 fakultas untuk program sarjana, satu fakultas untuk program pascasarjana, dan 15 pusat penelitian. UGM juga memiliki beberapa program studi D3. Pada tahun 1997, jumlah mahasiswa UGM adalah sekitar 35.000 orang. Sebagai universitas nasional, jumlah mahasiswa ini tidak hanya berasal dan Jawa yang umumnya beridentitas etnik Jawa, tetapi berasal pula dari luar Jawa yang memiliki latar belakang etnik ber1ainan. Pembauran identitas etntk pada mahasiswa UGM merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Dalam studinya tentang stereotipe etnik dan jarak sosial di kalangan mahasiswa UGM, Scnawetzer (1979) tidak melihat adanya proses pembauran antaretnik ke dalam suatu identitas sosiat-budaya milik bersama. Hal ini karena ia melihat bahwa setiap etnik mempunyai suatu kepribadian kelompok yang tidak berubah. Akan tetapi, tulisan ini melihat bahwa identitas etnik itu akan mengalami perubahan ketika individu berinteraksi sosial dengan kelompok etnik lain (out-group). Hal ini karena untuk melakukan interaksi sosial antaretnik dipel1ukan suatu bentuk adaptasitertentu yang mendorong munculnya gejala perubahan identitas etnik. Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian pembauran identitas etnik antarmahasiswa dalam komunitas akademik. Secara rinci penelitian ino mempunyai tiga pertanyaan pokok. Pertama, mengetahui pendapat mahasiswa UGM tentang identitas etniknya (in group) dan identitas etnik bukan kelompoknya (out group). Kedua, mengetahui bentuk interaksi sosial antarmahasiswa dengan fokus perhatian pada usaha memahami jarak sosial antarmahasiswa yang berlainan etnik. Ketiga, memahami pembauran budaya di kalangan mahasiswa yang berlainan etnik di kampus dan di Yogyakarta pada umumnya.
KONSEP RESIPROSITAS DALAM ANTROPOLOGI EKONOMI Bambang Hudayana
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.591 KB) | DOI: 10.22146/jh.2076

Abstract

Antropologi ekonomi mempunyai kecenderungan yang khas dalam mengkaji masalah perekonomian yaitu banyak menaruh perhatian terhadap berbagai gejala penukaran yang tidak melibatkan penggunaan uang sebagai mekanisme pertukaran. Berbagai geiala pertukaran tersebut sering dikenal dengan nama resiprositas dan redistribusi. Kecenderungan disiplin antropologi ekonomi seperti itu bekaitan dengan orientasi studi antropologi yang banyak menaruh perhatian pada masyarakat-masyarakat di luar Eropa. Ketika awal perkembangan disiplin antropologi ekonomi, umumnya gejala-gejala penukaran yang terjadi dalam perekonomian di masyarakat-masyarakat di luar Eropa tersebur tidak menggunakan mekanisme uang sebagaimana seperti terjadi di Eropa. Kecenderungan antropologi ekonomi banyak menaruh perhatian padagejala penukaran resiprositas dan redistribusi disertai pula dengan cara kerja disiplin ini yang berbeda dengan disiplin ilmu ekonomi. Dalam melihat gejala pertukaran, antropologi ekonomi tidak hanya melihat gejala tersebut sebagai gejala ekonomi semata,  melainkan sebagai gejala kebudayaan yang keberadaannya berdimensi luas, tidak sekedar berdimensi ekonomi, tetapi juga agama, teknologi, ekologi, politik dan organisasi sosial.
ANTROPOLOGI EKONOMI VERSUS ILMU EKONOMI KAJIAN AWAL TENTANG MASALAH SEJARAH, OBYEK DAN METODE Bambang Hudayana
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.389 KB) | DOI: 10.22146/jh.2090

Abstract

Antropologi ekonomi sebagai salah satu cabang disiplin antropologi nampak paling: banyak berurusan dengan ilmu ekonomi. Ini terjadi bukan sekedar karena kedua bidang studi tersebut sama-sama mengkaji fenomena ekonomi, melainkan berhubungan dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ahli antropologi untuk benar tidaknya meminjam teori, konsep ataupun metodologi llmu ekonomi. Penganut pendekatan formalis menghendaki dipakainya teori-teori ekonomi yang bersifat universal dalam studi antropologi sedangkan pendekatan substantif menolak universalitas teori ekonomi dan mencobe mengembangkan teori-teori yang dipandanglebih empiris.
The Power of a Leader in the Samin People’s Opposition Movement to the Development of a Cement Factory in the North Kendeng Mountains Enkin Asrawijaya; Bambang Hudayana
Humaniora Vol 33, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jh.56224

Abstract

This paper explores the role of a leader in the Samin people’s opposition movement to the construction of a cement factory in the Kendeng Mountains, Java, Indonesia, using Agency Theory. Using Agency Theory can readily explain why the Samin people, who undertook passive opposition to state hegemony, were later able to undertake active and open opposition. Agency became an important factor enabling the Samin people to mount an opposition that was active, open and organized. This agency is about the person of Gunretno. Data were collected using the interview and participation‒observation methods. Interviews were conducted regarding a leader who acted as an agent for opposition actions, and with informants drawn from Samin residential circles and stakeholders who supported the Samin people’s opposition movement. The results revealed that agency is a major contributor to interpreting an opposition movement’s ideological formulation, development of networks, stakeholder support, opposition movement actions of advocacy, and peaceful demonstrations. The Samin people’s opposition actions enhanced their credibility, thus contributing to their movement’s victories through the courts. These findings contribute to social movement theory, particularly in relation to farmers’ movements and traditional communities.