Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN SILICA FUME DAN FLY ASH TERHADAP KUAT LENTUR MORTAR MENGGUNAKAN RECYCLED FINE AGGREGATE (RFA) Filiani Nabila Nurwulan; Eva Arifi; Retno Anggraini
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami perkembangan infrastruktur. Proses pelaksanaan pembangunan infrastruktur material yang sering digunakan ialah beton dan mortar karena memiliki daya tahan yang mendukung untuk infrastuktur. Penggunaan material berlebihan akan menyebabkan limbah konstruksi yang menyebakan permasalahn lingkungan yang serius. Penggunaan kembali agregat daur ulang bisa menjadi solusi dalam permasalahan ini. Agregat daur ulang didapatkan dari peoses penghacuran beton, yang memiliki kualitas kekuatan dibawah agregat alami. Oleh karena itu, mortar yang dihasilkan akan mengalami penurunan kekuatan, sehingga perlu ditambahkan bahan seperti silica fume  dan  fly ash untuk meningkatkan kuat lentur pada mortar. Penggunaan silica fume  dengan variasi 7%, 10%, dan 15% dan fly ash dengan variasi 15% dengan masing-masing terhadap berat semen. Pada penilitian dilakukan pengujian kuat lentur mortar untuk melihat beban lentur sebelum mortar mengalami kerusakan atau keretakan. Kuat lentur mortar akan di uji dengan dengan meletakan balok mortar di dua tumpuan dan pembebanan dilakukan pada titik tengah balok mortar secara tegak lurus terhadap permukaan balok dan akan diberikan pembebanan hingga mortar mengalami patah. Mortar dengan variasi RFA-SF7-FA15 atau dengan tambahan silica fume sebesar 7 % dan fly ash  sebesar 15% menggunakan agregat halus daur ulang (RFA) memiliki nilai yang optimum dibanding variasi lainnya. Kuat lentur pada mortar ini memiliki pengaruh dari tambahan silica fume yang memiliki kandungan SiO2 dan fly ash memiliki kandungan CaO sehingga memberikan rekasi pada hidrasi semen yaitu CaOH membentuk kasium silikat hidrat (C-S-H). Senyawa ini akan menghasilkan mortar dengan mikrostruktur yang padat, sehingga meningkatkan kekuatan lentur pada mortar.
PENGARUH JUMLAH LAPISAN GEOPOLIMER SEBAGAI COATING AGREGAT KASAR DAUR ULANG TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETON M.Rizky Reza; Eva Arifi; Devi Nuralinah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan aktivitas konstruksi di Indonesia menghasilkan volume limbah beton yang signifikan, menimbulkan masalah lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan agregat kasar daur ulang (RCA) dari limbah beton menjadi solusi berkelanjutan untuk melestarikan sumber daya alam. Namun, RCA memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan agregat alami (NCA), ditandai dengan daya serap air lebih tinggi dan berat jenis lebih rendah karena sisa mortar yang menempel. Untuk mengatasi kelemahan ini, diusulkan metode pelapisan (coating) menggunakan geopolimer berbasis abu terbang (Fly Ash) untuk mengisi pori-pori dan meningkatkan ikatan antara agregat dengan pasta semen. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jumlah lapisan geopolimer (satu, dua, dan tiga lapisan) pada RCA terhadap kualitas agregat dan dampaknya pada kuat lentur balok beton. Penelitian ini membandingkan kinerja beton menggunakan agregat kasar alami (NCA), RCA tanpa perlakuan, dan RCA dengan variasi jumlah lapisan geopolimer. Hasil penelitian menunjukkan pelapisan geopolimer meningkatkan kualitas fisik RCA, di mana berat isi meningkat dan penyerapan air menurun seiring penambahan lapisan. Beton dengan RCA tanpa perlakuan mengalami penurunan kuat lentur sebesar 19,9% dibandingkan beton NCA (4,06 MPa). Pelapisan satu kali (RAC1) meningkatkan kuat lentur menjadi 3,54 MPa, dan pelapisan dua kali (RAC2) mencapai nilai optimal sebesar 3,63 MPa (naik 11,7% dari RCA). Namun, penambahan lapisan ketiga (RAC3) secara drastis menurunkan kuat lentur menjadi 3,26 MPa. Disimpulkan bahwa aplikasi dua lapis geopolimer adalah perlakuan optimal untuk meningkatkan kuat lentur balok beton yang menggunakan RCA, karena lapisan berlebih justru bersifat merugikan. Kata kunci: Agregat Kasar Daur Ulang, Geopolimer, Abu Terbang, Coating, Kuat Lentur.
Pengaruh Jumlah Lapisan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton Putri Macdha, Fadya; Eva Arifi; Indra Waluyohadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan agregat kasar daur ulang (RCA) dari limbah beton menjadi alternatif berkelanjutan untuk menggantikan agregat alami. Namun, tingginya porositas dan keberadaan mortar lama yang menempel menurunkan kualitas RCA. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan tersebut adalah dengan pelapisan menggunakan geopolimer berbahan dasar fly ash. Geopolimer ini dibuat dari campuran larutan NaOH 12 M dan Na₂SiO₃ dengan rasio 1:2,5 serta solid-liquid ratio sebesar 2. Pelapisan dilakukan dengan metode perendaman selama lima menit, dengan variasi jumlah lapisan yaitu satu, dua, dan tiga. Penambahan jumlah lapisan geopolimer terbukti menurunkan nilai penyerapan RCA dari 6,24% (RA) menjadi 3,64% (RAC 3), serta meningkatkan berat isi dari 1,36 g/cm³ (RA) menjadi 1,40 g/cm³ (RAC 3). Kuat tekan tertinggi dicapai pada beton RAC2 sebesar 31,19 MPa, sementara pada RAC3 terjadi penurunan. Nilai modulus elastisitas beton RAC 2 juga tercatat paling tinggi di antara semua variasi RCA, yaitu sebesar 30.282,45 MPa, namun mengalami penurunan pada RAC3 menjadi 27.964,63 MPa. Berdasarkan hasil pengamatan SEM dan EDX, penurunan ini dapat disebabkan oleh retakan pada lapisan geopolimer serta reaksi geopolimerisasi yang tidak berlangsung optimal akibat overcoating. Dengan demikian, semakin banyak jumlah lapisan geopolimer dapat meningkatkan kualitas agregat daur ulang, namun pelapisan sebanyak dua kali memberikan hasil yang paling optimal terhadap peningkatan kuat tekan dan modulus elastisitas beton. Kata kunci : Recycled Coarse Agreggate (RCA), Coating Geopolimer, Kuat Tekan Beton, Modulus Elastisitas Beton.
PENGARUH JUMLAH LAPISAN GEOPOLIMER SEBAGAI COATING AGREGAT KASAR DAUR ULANG TERHADAP KUAT TARIK BELAH BETON Abdul Hakim Al-Jauhari Ibnu Zain; Eva Arifi; Devi Nuralinah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recycled Coarse Aggregate (RCA) merupakan solusi berkelanjutan untuk mengurangi limbah beton, namun kualitasnya yang rendah akibat adanya sisa mortar yang menempel seringkali menurunkan performa mekanik beton. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas RCA dan kekuatan tarik belah beton dengan mengaplikasikan lapisan coating geopolimer, serta mengevaluasi pengaruh jumlah lapisan terhadap hasilnya. Lima variasi beton disiapkan: beton kontrol dengan agregat alami (NA), beton dengan RCA tanpa lapisan (RA), dan beton dengan RCA yang dilapisi geopolimer sebanyak satu (RAC1), dua (RAC2), dan tiga (RAC3) lapis. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan dua lapis (RAC2) memberikan performa optimal, meningkatkan kuat tarik belah dari 1,893 MPa (RA) menjadi 2,070 MPa. Meskipun demikian, nilai ini masih di bawah kekuatan beton NA (2,482 MPa). Studi ini menyimpulkan bahwa pelapisan geopolimer adalah metode yang efektif untuk merekayasa RCA, dengan dua lapisan menjadi konfigurasi paling optimal, meskipun belum sepenuhnya mengembalikan kekuatan beton ke level agregat alami. Kata Kunci: Agregat Daur Ulang, Geopolimer, Kuat Tarik Belah, Coating
Pengaruh Pengunaan Recycled Coarse Aggregate ( RCA ) yang di Coating dengan Geopolimer Terhadap Modulus ElastisitasBeton Rajagukguk, Juan Rifki Timotius; Eva Arifi; Indra Waluyohadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan gedung maupun infrastruktur di Indonesia semakin berkembang,  sehingga menyebabkan permintaan akan material konstruksi semakin tinggi, baik  berupa semen, agregat kasar, maupun agregat halus. Pada umumnya pada dunia  konstruksi untuk agregat kasar dan halus, menggunakan material-material alami,  seiring dengan berjalannya waktu sumber daya alam Indonesia akan habis apabila  terus-menerus digunakan untuk material pembangunan, oleh sebab itu perlu  adanya langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan material tersebut. Melalui kajian yang telah disebutkan, dilakukan penelitian dengan menggunakan  metode deskriptif kuantitatif. Metode ini dilakukan dengan pengambilan data  umum maupun teknis sehingga menghasilkan kesimpulan berdasarkan angka angka yang di dapat. Berdasarkan penelitian ini, didapatkan berat isi rata-rata agregat kasar daur ulang  (RCA) sebesar 1393,62 kg/m3. Untuk nilai berat isi rata-rata agregat kasar daur  ulang (RCA) dengan variasi molaritas NaOH dan Solid-Liquid Ratio yaitu M8,  M10, M12, dan M14 berturut-turut sebesar 1329,26 kg/m3, 1315,04 kg/m3,  1358,18 kg/m3, dan 1306,51 kg/m3. Setelah dilakukan coating, berat isi agregat  meningkat menjadi sebesar berturut-turut 1438,60 kg/m3, 1384,97 kg/m3,  1425,71 kg/m3, dan 1385,44 kg/m3. Hal ini dapat diartikan bahwa RCA setelah  ditambahkan coating akan menambah berat isi, namun penambahannya tidak  signifikan.  Kata kunci : RCA, Modulus Elastisitas, Beton
Pengaruh Recycled Fine Aggregate (RFA) dan Substitusi Fly Ash terhadap Kuat Tekan dan Bioreseptivitas Mortar Bioreceptive Adinda Salsabila; Eva Arifi; Desy Setyowulan
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya Construction and Demolition Waste (CDW) dan keterbatasan agregat alami mendorong pemanfaatan Recycled Fine Aggregate (RFA) sebagai agregat halus dalam mortar. Namun, porositas dan daya serap air RFA yang tinggi berpotensi menurunkan kinerja mekanik mortar, sehingga fly ash digunakan sebagai substitusi parsial semen untuk memperbaiki mikrostruktur. Kombinasi RFA dan fly ash juga berpotensi mendukung konsep bioreseptivitas, yaitu kemampuan material mendukung kolonisasi organisme hidup, dengan lumut (Bryophyta) sebagai organisme uji. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh RFA dan variasi persentase fly ash (0%, 10%, 20%, 30%) terhadap kuat tekan mortar serta terhadap tiga parameter bioreseptivitas, yaitu pH permukaan, water absorption, dan laju pertumbuhan lumut, pada umur 28, 56, dan 90 hari. Berdasarkan hasil pengujian, kuat tekan mortar menunjukkan pola fluktuatif bergantung pada setiap umur pengujian. Pada umur 28 hari, nilai kuat tekan mortar meningkat seiring bertambahnya kadar fly ash, terutama pada kadar 30%. Pada umur 56 hari, kuat tekan bersifat non-linear dengan nilai optimum pada kadar fly ash 10%. Pada umur 90 hari, kuat tekan menurun secara konsisten seiring bertambahnya kadar fly ash, dengan nilai tertinggi pada kadar fly ash 0%. Pada mortar dengan lumut, kadar fly ash 10% secara konsisten menghasilkan kuat tekan tertinggi pada umur 56 dan 90 hari. Nilai pH permukaan menurun dari kisaran 12-13 menjadi 9-10 akibat karbonasi dan reaksi pozzolan. Fly ash 10% menunjukkan water absorption tertinggi (7,23% dengan lumut), dinilai menguntungkan bagi retensi kelembapan biologis meskipun secara konvensional diasosiasikan dengan mutu mortar lebih rendah. Evaluasi pertumbuhan lumut dilakukan berdasarkan pengamatan visual, analisis luas penyebaran (ImageJ), serta pengamatan mikroskopis (Dino-Lite) pada umur 90 hari. Seluruh variasi mengalami degradasi jaringan lumut pada sekitar hari ke-35 dan tidak menunjukkan pemulihan hingga akhir pengamatan, sehingga kolonisasi aktif lumut belum dapat disimpulkan secara konklusif dalam periode 90 hari. Kata Kunci: Bioreseptivitas, Bioreceptive Mortar, Fly Ash, Kuat Tekan, Lumut, Recycled Fine Aggregate
Pengaruh Metode Surface Treatment terhadap Kuat Tekan dan Pertumbuhan Lumut Bioreceptive Mortar Herdiyansah, Didi Kurnia; Eva Arifi; Ananda Insan Firdausy
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya urbanisasi global menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Salah satu solusi yang dikembangkan adalah pemanfaatan fasad bangunan sebagai media pertumbuhan lumut melalui konsep bioreceptive mortar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode surface treatment terhadap kuat tekan dan pertumbuhan lumut pada bioreceptive mortar. Surface treatment dilakukan secara kimiawi menggunakan surface retarder dan asam klorida (HCl) 37% yang diaplikasikan pada umur mortar 14 hari. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28, 56, dan 90 hari menggunakan benda uji kubus 5 cm × 5 cm × 5 cm, sedangkan evaluasi pertumbuhan lumut dilakukan menggunakan benda uji panel 10 cm × 10 cm × 2 cm dengan parameter pengamatan visual, analisis luas penyebaran menggunakan ImageJ, dan pengamatan mikroskopis menggunakan Dino-Lite. Parameter pendukung meliputi kekasaran permukaan, pH permukaan, dan water absorption. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan asam klorida menghasilkan kuat tekan tertinggi pada seluruh umur pengujian hingga mencapai 43,20 MPa pada umur 90 hari, sedangkan surface retarder menghasilkan kuat tekan terendah pada umur awal, terjadi pola kenaikan hingga umur 90 hari. Mortar dengan lumut secara konsisten menunjukkan kuat tekan lebih tinggi dibandingkan tanpa lumut, akibat kontribusi tidak langsung lumut membantu proses curing dan penutupan pori mikro. Hal ini dikarenakan hingga umur 90 hari, pertumbuhan lumut secara makroskopis belum teridentifikasi, namun pengamatan Dino-Lite mengkonfirmasi adanya aktivitas biologis pada skala mikro berupa terbentuknya struktur rizoid pada permukaan, dengan indikasi terjelas pada variasi asam klorida (HCl). Kedua metode surface treatment terbukti meningkatkan kekasaran permukaan secara signifikan dan menurunkan pH, dengan asam klorida sebagai metode paling efektif. Keberadaan lumut  menurunkan nilai water absorption mortar pada seluruh variasi. Penelitian ini menyimpulkan periode pengamatan 90 hari belum cukup untuk mengidentifikasi pengaruh variasi surface treatment terhadap laju pertumbuhan lumut secara makroskopis, sehingga diperlukan periode pengamatan lebih panjang. Kata kunci: Bioreceptive mortar, kuat tekan, pertumbuhan lumut, surface treatment
Pengaruh Variasi Persentase Fly Ash terhadap Kuat Tekan dan Pertumbuhan Lumut pada Mortar Bioreseptif Sitanggang, Daniel; Eva Arifi; Desy Setyowulan
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kebutuhan material konstruksi berbasis semen mendorong eksplorasi bahan substitusi yang lebih berkelanjutan. Fly ash sebagai produk sampingan pembakaran batu bara berpotensi menggantikan sebagian semen Portland sekaligus memengaruhi karakteristik bioreseptif mortar. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi fly ash sebesar 0%, 10%, 20%, dan 30% terhadap kuat tekan dan sifat bioreseptif mortar. Pengujian kuat tekan dilakukan pada benda uji kubus 5 × 5 × 5 cm pada umur 28, 56, dan 90 hari, sedangkan evaluasi pertumbuhan lumut dilakukan pada panel 10 × 10 × 2 cm hingga umur 90 hari dengan parameter pH permukaan, water absorption, pengamatan makroskopis, luas penyebaran, dan pengamatan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan substitusi fly ash memengaruhi perkembangan kuat tekan mortar secara berbeda tergantung umur pengujian. Pada umur 28 hari, kuat tekan tertinggi diperoleh pada fly ash 30% sebesar 24,72 MPa, namun pada umur 90 hari mortar fly ash 0% menghasilkan kuat tekan tertinggi sebesar 41,20 MPa, sementara fly ash 10%, 20%, dan 30% hanya mencapai 24,80 MPa, 28,40 MPa, dan 28,80 MPa. Substitusi fly ash hingga 30% belum mampu melampaui kuat tekan mortar fly ash 0% pada umur jangka panjang. Ditinjau dari sifat bioreseptif, peningkatan kadar fly ash mempercepat penurunan pH permukaan mortar, dengan fly ash 30% mencapai pH 10 paling cepat dibandingkan variasi lainnya. Nilai water absorption menurun seiring bertambahnya kadar fly ash, dengan nilai terendah pada fly ash 30% sebesar 3,60% tanpa lumut dan 3,50% dengan lumut. Pengamatan makroskopis belum menunjukkan perbedaan pertumbuhan lumut yang jelas, namun pengamatan mikroskopis Dino-Lite memperlihatkan struktur filamen dan titik pertumbuhan yang lebih berkembang pada fly ash 20% dan 30%. Substitusi fly ash pada kisaran 20–30% menunjukkan potensi lebih baik dalam meningkatkan sifat bioreseptif mortar meskipun belum mampu melampaui kuat tekan mortar fly ash 0% pada umur 90 hari. Kata kunci: Fly ash, kuat tekan, mortar bioreseptif, pertumbuhan lumut
Pengaruh Heat Treatment pada Penggunaan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang terhadap Kuat Tekan dan Cepat Rambat Gelombang Beton Samodra, Zahra; Eva Arifi; Siti Nurlina
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kebutuhan agregat alam akibat pesatnya pembangunan infrastruktur mendorong pemanfaatan agregat kasar daur ulang (recycled coarse aggregate/RCA) dari limbah bongkaran beton sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, RCA memiliki pori yang lebih banyak akibat sisa mortar lama pada permukaannya sehingga daya serap airnya tinggi dan kekuatannya cenderung lebih rendah dibandingkan agregat alami (NCA). Penelitian ini mengkaji efektivitas pelapisan (coating) RCA menggunakan geopolimer berbahan dasar fly ash dengan variasi heat treatment (suhu ruang, 30°C, 60°C, dan 90°C) terhadap kuat tekan dan cepat rambat gelombang ultrasonik beton. Benda uji silinder dibuat menggunakan larutan NaOH 10 M dan rasio Na2SiO3:NaOH sebesar 2,5:1, dengan pengujian pada umur 28 hari melalui hammer test, ultrasonic pulse velocity (UPV), dan uji tekan destruktif. Hasil penelitian menunjukkan pelapisan geopolimer memperbaiki kualitas fisik RCA, ditandai oleh naiknya berat isi dan turunnya penyerapan air, dengan hasil paling optimal pada heat treatment 30°C. Perbaikan ini sejalan dengan meningkatnya kuat tekan beton RCA geopolimer dibandingkan RCA konvensional pada seluruh variasi. Meski demikian, kuat tekan beton RCA geopolimer masih di bawah capaian beton NCA, sementara nilai cepat rambat gelombangnya tidak menunjukkan perbedaan kualitas yang signifikan.
Pengaruh Variasi Persentase Serbuk Kaca dan Fly Ash sebagai Bahan Pengganti Semen terhadap Kuat Tekan Beton dan Nilai Modulus Elastisitas Noufal, Alif; Desy Setyowulan; Eva Arifi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan pembangunan infrastruktur mendorong naiknya produksi semen Portland, yang menyumbang 7-8% emisi CO₂ global, sementara limbah kaca di TPA Supit Urang, Kabupaten Malang mencapai 178820 ton/tahun dengan pengelolaan yang masih rendah. Penelitian ini menganalisis pengaruh substitusi serbuk kaca 0%, 5%, 7,5%, 10% dari berat semen dan kombinasinya dengan fly ash 20% terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton, menggunakan benda uji silinder 15×30 cm pada umur 28 dan 56 hari. Hasil menunjukkan penambahan serbuk kaca meningkatkan kuat tekan dan modulus elastisitas pada umur 28 hari, tetapi menurunkannya pada umur 56 hari. Pada variasi tunggal, hasil optimum dicapai beton kontrol (SK0FA0) di umur 56 hari (26,13 MPa untuk kuat tekan dan 11280,291 MPa untuk modulus elastisitas). Pada kombinasi dengan fly ash, kuat tekan optimum dicapai SK10FA20 (28,03 MPa) pada 56 hari, sedangkan modulus elastisitas optimum dicapai SK0FA20 sebesar 12247,208 MPa. Serbuk kaca dan fly ash berpotensi meningkatkan kualitas beton bila digunakan dalam proporsi tepat, menjadikannya alternatif material konstruksi ramah lingkungan yang menjanjikan, meski dosisnya perlu dikontrol agar mutu beton tetap terjaga. Kata Kunci: kuat tekan, serbuk kaca, fly ash