Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Leksikon kepercayaan pemena suku Karo: Kajian ekolinguistik Marlisnawati Br Karo; Dwi Widayati; Alemina Br Perangin-angin
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 8 No. 1 (2026): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v8i1.13830

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk leksikon dalam kepercayaan Pemena suku Karo. Metode penelitian menggunakan pendekatan gabungan kualitatif dengan lokasi penelitian di Desa Kandibata, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 256 leksikon kepercayaan Pemena yang terbagi dalam sembilan kelompok, meliputi leksikon nama-nama upacara ritual dan tradisi (29 leksikon), tempat ibadah (14 leksikon), persembahan sajian (36 leksikon), benda-benda ritual (35 leksikon), tumbuhan (58 leksikon), hewan (6 leksikon), cara mengobati (16 leksikon), dan nama-nama hari (30 leksikon). Penelitian leksikon kepercayaan Pemena suku Karo memiliki keterkaitan erat dengan unsur-unsur alam dan lingkungan, mencerminkan pandangan holistik masyarakat Karo terhadap hubungan manusia dengan alam. Namun, pemahaman terhadap leksikon tradisional ini mengalami pergeseran akibat modernisasi dan pengaruh agama formal, sehingga diperlukan upaya dokumentasi dan pelestarian untuk mencegah kepunahan warisan budaya yang berharga ini.
PERUBAHAN BUNYI BAHASA PROTO AUSTRONESIA KE DALAM BAHASA JAWA DIALEK SUMATERA (KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF) Fahmi Anggia Rizqi; Dwi Widayati
Kulturistik: Jurnal Ilmu Bahasa dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/kulturistik.5.2.3380

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berkaitan tentang kajian linguistik historis komparatif yang membahas tipe-tipe perubahan bunyi dari Bahasa Proto-Austronesia ke dalam Bahasa Jawa Dialek Sumatera. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu dengan teknik rekam dan catat. Sumber data didapatkan dari informan yang merupakan penutur asli bahasa Jawa Dialek Sumatera. Kosakata yang diambil dari rekaman penutur adalah yang terdaftar di daftar swadesh. Pada perubahan bunyi bahasa proto Austronesia ke dalam Bahasa Jawa Dialek Sumatera berdasarkan posisi bunyi hanya ada enam perubahan dari tujuh perubahan yaitu metatesis, afresis, sinkop, apokop, protesis dan paragog. Kata kunci: Comparative Historical Linguistic
Analisis Bentuk Lingual Leksikon Tumbuhan Obat pada Suku Karo di Desa Kuta Gerat, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo: Kajian Ekolinguistik: Analysis of the Lingual Forms of Medicinal Plant Lexicons among the Karo Ethnic Group in Kuta Gerat Village, Tigabinanga District, Karo Regency: An Ecolinguistic Study Della Putri Dwinanda Br Kacaribu; Dwi Widayati; Latifah Yusri Nasution
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendefinisikan leksikon tumbuhan obat pada suku Karo di Desa Kuta Gerat, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo dan mendeskripsikan kognisi pengetahuan masyarakat Desa Kuta Gerat, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo terhadap tumbuhan obat berdasarkan dimensi biologis (ciri-ciri) dan dimensi ideologis (manfaat) dan dimensi sosiologis (interaksi sosial). Penelitian dilakukan melalui empat tahap, yaitu sumber data, pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Pada tahap sumber data didapat melalui wawancara langsung kepada informan. Pengumpulan data digunakan metode cakap dengan teknik pancing dan cakap semuka (CS), serta metode simak dengan teknik sadap, Simak Libat Cakap (SLC), rekam, dan catat. Analisis data menggunakan metode padan referensial dengan teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dan Hubung Banding Membedakan (HBB), sedangkan penyajian hasil dilakukan secara informal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 70 yang terbagi menjadi 37 kata dasar, 23 kata majemuk, dan 10 frasa. Leksikon tumbuhan obat, seperti alia, belo, sibo, ambat tuah, kumis kucing, mahkota dewa, besi-besi sangka simpilet, pede mbiring, dan terabangun meratah, yang diklasifikasikan dalam bentuk kata, dan frasa. Tumbuhan obat tersebut dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit, sakit perut, terkilir, patah tulang. Temuan ini mencerminkan adanya interaksi, interelasi, dan interdependensi antara masyarakat dengan lingkungan alam, serta menunjukkan keterkaitan erat antara bahasa, flora, dan budaya masyarakat setempat.
Sound changes in the Haloban language of the Banyak Islands, Aceh, Indonesia Tasnim Lubis; Dwi Widayati; Amalia Amalia; Liesna Andriany; Mukramah Mukramah
Studies in English Language and Education Vol 12, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v12i2.37945

Abstract

Sound change is a universal phenomenon and is strongly influenced by contextual factors. Variant sounds that appear as cognates across languages can be identified and explained through linguistic analysis within a cultural framework. This study aims to identify sound changes in the Haloban language by comparing them with a related language spoken on Simeulue Island, the Defayan language. A qualitative method was employed in this research. Data were collected through recordings of Halobanese wordlist utterances and interviews with native Halobanese speakers. Six informants participated in the study, comprising three male and three female native speakers. Data collection involved documentation techniques, including recording, transcription, and translation into both Indonesian and English. The data were analyzed for regular and semi-regular (sporadic) sound changes between Proto-Austronesian (PAN) and Haloban. The Haloban language is spoken in only two villages in the Pulau Banyak District, Aceh Singkil Regency, Aceh Province. The results showed a regular sound change in which the PAN sound /b/ becomes /w/ in Haloban. Semi-regular changes included sound loss, addition, fusion, and unpacking. In comparison with the Defayan language, two regular sound changes were identified in Haloban: /b/ and /f/ becoming /w/. These sound changes contribute to the linguistic identity of the Halobanese people.
Understanding mangrove conservation through metaphors in ecological discourse: An ecolinguistics study Muhammad Kiki Kiki Wardana; Dwi Widayati; Mulyadi Mulyadi; Tengku Thyrhaya Zein
Studies in English Language and Education Vol 12, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v12i2.37029

Abstract

Metaphor is deeply pervasive in human life. It is not only used in aesthetic or literary languages but also in everyday colloquial speech. This study aims to investigate conceptual metaphor in ecological discourse related to mangrove conservation on the eastern coast of North Sumatra and decipher the underlying ecosophy. The researchers also sought to figure out the ecosophical values reflected in the metaphor using an ecolinguistics perspective. A qualitative method was employed to explore the metaphorical expressions concerning mangroves. The data were collected from a report and an interview related to mangrove conservation at Pantai Sejarah Tourism Centre and Mangrove Conservation in Belawan, North Sumatra. The data were analyzed using Steens Metaphor Identification Process (MIP). The results showed that there are 23 instances of conceptual metaphors, categorized into five metaphorical conceptualizations: mangroves are war, mangroves are people, mangroves are a valuable commodity, mangroves are building, and mangroves are containers. These conceptual metaphors have specific linguistic expressions that establish the metaphors. Each metaphor was examined under the lens of ecosophy to determine whether or not the language used promotes the ecosophy. The implications of the study reflect that conceptual metaphors indeed exist in ecological discourse on mangrove conservation, indicating that mangroves are cognitively conceptualized in peoples minds, talked about, and integrated into everyday life.
Analisis Variasi Leksikal Bahasa Batak Toba di Kecamatan Siantar Timur: Kajian Dialektologi: A Dialectological Study of Lexical Variation in the Toba Batak Language in Siantar Timur District Indah Destriani Samosir; Dwi Widayati; Rosliana Lubis
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2698

Abstract

Variasi leksikal merupakan aspek penting dalam kajian dialektologi karena mencerminkan persebaran, kontak, dan identitas kebahasaan masyarakat tutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Batak Toba di Kecamatan Siantar Timur serta menentukan status perbedaan leksikal antardaerah pengamatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data berupa bentuk leksikal bahasa Batak Toba yang diperoleh dari informan di empat titik pengamatan, yaitu Kelurahan Asuhan, Siopat Suhu, Merdeka, dan Pahlawan. Data penelitian terdiri atas 200 kosakata daftar Swadesh yang dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik sadap dan simak libat cakap. Data dianalisis menggunakan metode padan, perbandingan leksikal, pemetaan, dan dialektometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 dari 200 kosakata memiliki variasi leksikal. Perhitungan dialektometri menunjukkan jarak leksikal antardaerah pengamatan tergolong rendah, yaitu 8% sampai 11%. Implikasinya, meskipun terdapat variasi leksikal, bahasa Batak Toba pada keempat wilayah tersebut tidak menunjukkan perbedaan dialek.
Lexical Variation of the Karo Language in Karo Regency: Dialectological Study Wahyu Setiawan; Dwi Widayati; Sugihana Sembiring
JALC : JOURNAL OF APPLIED LINGUISTIC AND STUDIES OF CULTURAL Vol. 2 No. 2 (2024): November
Publisher : Rahis Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65787/jalc.v2i2.507

Abstract

" Lexical variation is a different form of lexicon from the same dialect, and its origins can be traced based on the distribution of language users. This research aims to describe the lexical variations that exist in Karo Regency. The theory used is the theory of structural dialectology. The data collection method used in this research is using the skill method and note-taking method. The data analysis method used is the matching method, with the basic technique of selecting certain elements. Then the matching method is continued with mapping and the dialectometry method. The results of this research are 48 words that have lexical variations from the 200 Swadesh vocabulary lists in the research area, namely in the glosses ash, smoke, good, burnt, lots, wet, split (me-), true, swollen, heavy, swim, big, flower, bad, worm, kiss, wash, meat, with, there, push, tail, dig, rub, mountain, hit, delete, liver, suck, count, fish, tie, sew, fall, word (ber- ), flea, other, hold, think, navel, white, day, pull, laugh, tits, sleep, and blunt. Mapping of lexical variations in this study shows that there are more lexical variations in observation areas 3 and 4, namely the Simpang Empat and Naman Teran subdistricts. The status of lexical differences in the Karo language based on dialectometric analysis shows that Barusjahe District, Tigapanah District, Simpang Empat District and Naman Teran District speak the same dialect.”
Sound Changes of Batu Bara Malay Dialect from Proto Austronesian Language Rini Rezeki; Dwi Widayati
Tradition and Modernity of Humanity Vol. 4 No. 2 (2024): May
Publisher : TALENTA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/tmh.v4i2.17108

Abstract

This research aims to analyze the sound changes and how it changes in the Proto-Austronesian language to Batu Bara Dialect Malay. The research method uses quantitative methods. Data collection and collection were obtained in the field using the method of chapping, and recording. The location and time of the research were conducted in the Kampung Lalang Village area, Tanjung Tiram District, Batu-Bara Regency, North Sumatra Province. The data source consists of a list of 200 basic swadesh and PAN vocabulary from the book An Introduction Historical Linguistics Fourth Edition by Crowley and Bowern. Then the data will be analyzed in the form of procedures. Grouping between glosses (200 basic vocabulary), PAN Language, and Batu Bara Dialect Malay Language (MBB). b. Grouping data according to sound changes, c. Analyzing changes in sound changes from both languages between PAN and MBB. The results of the analysis that has been done about the sound changes from PAN to MBB can be concluded that sound changes based on place are found in metathesis, aphaeresis, syncope, apocope, prosthesis, assimilation, paragoge, inheritance of innovation, epenthesis, lenition.