Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

DINAMIKA POLA PIKIR ORANG JAWA DI TENGAH ARUS MODERNISASI Pajar Hatma Indra Jaya
Humaniora Vol 24, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.501 KB) | DOI: 10.22146/jh.1056

Abstract

Yogyakarta masih dipandang sebagai salah satu kiblat budaya Jawa, tetapi pola pikir masyarakat Yogyakarta saat ini telah banyak berubah dari gambaran umumnya masyarakat Jawa. Perubahan tersebut tidak lepas dari berkembangnya lembaga pendidikan modern yang menanamkan rasionalisme yang menggeser mistikisme sebagai basis ideologi dan budaya. Namun demikian, sisa-sisa kepercayaanJawa masih terlihat pada beberapa ritual tradisi yang terkadang telah banyak kehilangan signifikansi ideologinya. Sisa-sisa tersebut juga masih sering muncul kembali ketika rasionalitas tidak mampu memberi jawaban pasti terhadap sebuah permasalahan.Kata Kunci: perubahan pola pikir, mistikisme, rasionalitas, Yogyakarta, Jawa
Distorsi Komunikasi Pembangunan Pemerintahan Presiden Jokowi di Media Sosial Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 14 No. 2 (2017)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.401 KB) | DOI: 10.24002/jik.v14i2.999

Abstract

Jokowi’s image as a leader is populist-nasionalist. However, there were some contradictory news with the related image in the social media, which is released in December 2016 until January 2017. This research aims to explore those distorted news. It is revealed that the government media framing did not dominate the social media. The news were interpreted or added in accordance with the viewer’s interest that leads to a hoax. This research reinforces Barthes, Baudrillard, and Eco that the era of social media brings the death of reality.
Media sosial, komunikasi pembangunan, dan munculnya kelompok-kelompok berdaya Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 8, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.034 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v8i2.16469

Abstract

Setiap tahun pemerintah telah mengeluarkan banyak dana untuk program pemberdayaan masyarakat, namun hasilnya belum banyak memunculkan kelompok-kelompok berdaya, apalagi menurunkan angka kemiskinan. Meskipun demikian di Yogyakarta ada beberapa komunitas yang muncul, tumbuh, dan berkembang dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Salah satu komunitas berdaya tersebut adalah kelompok Mina Julantoro di Kecamatan Gedungkiwo yang mampu mengelola selokan kotor menjadi destinasi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana proses munculnya kegiatan pemberdayaan masyarakat di kelompok tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan  melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses muncul dan berkembangnya pemberdayaan di kelompok Mina Julantoro terjadi karena proses peniruan dari video tentang keberhasilan program pengelolaan selokan di Singosaren Bantul yang viral dan menyebar secara cepat di media sosial. Keberhasilan program selokan bersih di Dusun Singosaren Bantul memengaruhi munculnya kegiatan serupa di tempat lain. Media sosial menjadi saluran komunikasi pembangunan dalam penyebaran gagasan positif sehingga memunculkan gerakan masyarakat untuk melakukan peniruan. Proses pemberdayaan melalui media sosial dimulai dengan pendokumentasian dalam bentuk video yang kemudian dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan cara diunggah di YouTube dan diviralkan di grup WhatsApp. Tayangan tersebut membuat masyarakat tertarik untuk melihat, berkunjung, belajar, dan meniru. Ketika masyarakat telah mempunyai semangat dan gagasan pembangunan dari media sosial maka penyuluh pembangunan tinggal berperan sebagai enabler (pemungkin) untuk menjadi broker dan menjalankan peran teknis.
Da’wah Culture: The Way of Bumi Langit Institute in Popularizing Tayib Lifestyle at Imogiri Bantul Pajar Hatma Indra Jaya
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Vol. 25 No. 2 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v25i2.1308

Abstract

This research attempts to describe the Islamic preaching way used at Bumi Langit Institute in fostering Islamic lifestyle, especially tayib food consumption pattern, so as to be accepted by the society, including non-Moslems. In order to get an answer to such issue, the researcher conducted interviews to 15 informants, observation, and documentation study. This research found that a superiority of the preaching way at Bumi Langit Institute is the ability to unite some lessons contained in the Qur’an with some current empirical realities as well as present an example of living Qur’an, starting from food to the management of agriculture which can directly be learn, practiced, enjoyed, selfie, and adopted as a lifestyle at home. Bumi Langit gives a lot of scientific surprises showing that the long-left lifestyle and the unimagineable Islamic knowledge reserve far more priceless benefits than the lifestyle that is currently upheld. In addition to logical preaching messages that could be proven by empirical data, the preaching messages delivered at Bumi Langit are also supported with other uniqueness, starting from the figures of the preachers and the establishment of Islamic preaching segmentation for young-middle class who are familiar with gadget. Copyright (c) 2017 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v25i2.1308
RESOLUSI KONFLIK DALAM KERJA PENGEMBANGAN MASYARAKAT Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.025 KB)

Abstract

Dakwah bil hal dimaknai sebagai kerja-kerja pengembangan masyarakat. Meskipun tidak diharapkan, kerja-kerja pengembangan masyarakat seringkali menimbulkan konflik. Dalam beberapa kasus di balik konflik terkadang terkandung manfaat ataupun hikmah yang besar. Namun demikian dalam kasus-kasus yang lain, konflik dapat mengurangi, menghambat efektifitas-efisiensi kerja, bahkan menjadi sumber masalah sosial. Dengan demikian dibutuhkan pengetahuan, prinsip, dan juga alat analisis untuk membaca konflik agar konflik dapat di manajemen dengan baik. Prinsip peer merupakan salah satu etika yang harus dipegang pekerja pengembangan masyarakat dalam menyelesaikan konflik. Selain itu Stage of Conflict Analisis dan analisis actor merupakan alat yang penting untuk digunakan dalam membaca situasi.
DAKWAH PEMBEBASAN: Sebuah Cerita Dari Saung Balong, Majalengka, Jawa Barat Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.586 KB) | DOI: 10.14421/jd.2012.13202

Abstract

Kemiskinan dan tekanan akan kebutuhan hidup dewasa ini sungguh berat, akibatnya muncul perilaku menyimpang dan masalah sosial. Pindah keyakinan agama, ngemplang hutang, mencuri, jual organ, jual diri, bahkan sampai bunuh diri terjadi sebagai akibat dari tekanan hidup-keduniawian. Untuk itu dibutuhkan metode intervensi (dakwah) yang tidak sekedar aktifitas verbalism doktrinasi nilai-nilai, namun dakwah yang dimaknai sebagai usaha untuk melakukan pembebasan dari beban akan masalah-masalah keduniawian. Kegiatan dakwah harus bersifat holistik, meliputi 1). usaha pembebasan ekonomi berupa pemenuhan kebutuhan dasar (dakwah charity) dan dakwah pemberdayaan, 2). dakwah pembebasan teologi berupa transformasi nilai-nilai keislaman. Usaha dakwah yang parsial sering mengarah pada kegagalan. Tulisan ini memberikan gambaran akan satu praktik dakwah holistik yang memadukan transformasi nilai-nilai Islam dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Drs. Khoeruman (Ponpes Saung Balong) di Tegal Simpur, Cisambeng, Palasah, Majalengka, Jawa Barat. Drs. Khoeruman mampu men-transformasi masyarakat “gelap” yang dekat dengan maksiat, menjadi tobat dan memunculkan masyarakat baru yang lebih Islami dan berdaya secara ekonomi. Usaha dakwah tersebut juga mampu merubah mad’u mustahik menjadi muzakki.
The dynamics of public support for the king in Yogyakarta Pajar Hatma Indra Jaya
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol. 31 No. 1 (2018): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.903 KB) | DOI: 10.20473/mkp.V31I12018.84-93

Abstract

The background of this research is the support of the people of Yogyakarta to the sultan to lead Daerah Istimewa Yogyakarta. This paper is aimed at examining the relationship between a king and the community in the democracy era. The cases examined specifically in this study were the case of the proposed law of Yogyakarta in the Sutet region, and the ore mining case in Kulonprogo. Research was conducted qualitatively by collecting data through documentation, observation and interview. Informant retrieval technique is done by cluster technique. This research is analyzed by rational choice theory which assumes that people are always trying to optimize the choices that bring benefits (Mallarangeng 2008: 9, Kuper & Kuper 2000: 895). The study had various findings, such that public support of the king could not be explained by the concept of Javanese power and that logical consideration in the form of the interest proximity of each group becomes a concept of public support against the king. When the group interests are closer, they show their support, but, when the gap becomes wider, they readily change their support without fear of karma.
‘Mas Zakky’: Model Zakat Pemberdayaan dari Baznas Kota Yogyakarta Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.023 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-02

Abstract

The model of zakat management in the modern era is divided into two, namely the charity model (consumptive zakat) and the productive zakat model (zakat empowerment). So far, zakat distribution uses a lot of charity models so that it does not give long-term contribution because it is consumptive. Through this article, I would like to explain the marketing of productive zakat (empowerment model) with the name of the program Mas Zakky and see its impact on society. Distribution Mas Zakky’s model is done in four stages, namely the determination of the right muztahiq (recipient program), debriefing, giving power, and mentoring are tightly controlled. This study found that the keyword for the success of the zakat empowerment program is that it should not stop at giving assistance, but must be assisted within one year so that new habits are formed from the mustahiq. The new habit arises because of awareness, habituation, and strict control through monitoring of good financial management, which mustahiq are required to provide daily business reports, monthly profit reports, savings obligations of at least 2.5 percent of gross sales every month, and learn to invest input “sedino sewu” (one day one thousand rupiah) cans in their place of business. Mas Zakky’s program has an impact on the loss of the mustahiq conditions due to the emergence of new jobs, the growing awareness that trading business is a form of profitable work, the emergence of awareness to save, diligently praying Dhuha, the formation of tissue, and the emergence of habits of infaq (donation).Model pengelolaan zakat di era modern dibagi menjadi dua, yaitu model carity (zakat konsumtif) dan model zakat produktif (zakat pemberdayaan). Selama ini penyaluran zakat banyak menggunakan model carity sehingga kurang memberi kontribusi jangka panjang karena sifatnya konsumtif. Melalui artikel ini penulis hendak menjelaskan pentasarufan zakat produktif (model pemberdayaan) dengan nama program Mas Zakky dan melihat dampaknya bagi masyarakat. Pentasarufan model Mas Zakky dilakukan dengan empat tahap, yaitu penentuan muztahak yang tepat, pembekalan, pemberian daya, dan pendampingan yang terkontrol secara ketat. Penelitian ini menemukan bahwa kata kunci keberhasilan program zakat pemberdayaan adalah tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan, namun harus dilakukan pendampingan dalam waktu satu tahun sehingga terbentuk kebiasaan baru dari para mustahik. Kebiasaan baru tersebut muncul karena penyadaran, pembiasaan, serta kontrol ketat lewat pemantauan tentang manajemen keuangan yang baik, yangmana mustahik diwajibkan untuk memberikan laporan usaha harian, laporan keuntungan bulanan, kewajiban menabung minimal 2,5 persen dari penjualan kotor setiap bulan, dan belajar berinfaq dengan menaruh kaleng “sedino sewu” di tempat usaha mereka. Program Mas Zakky berdampak pada mulai hilangnya kondisi fakir para mustahik karena munculnya pekerjaan baru, tumbuhnya kesadaran bahwa usaha dagang merupakan bentuk pekerjaan yang menguntungkan, munculnya kesadaran untuk menabung, rajin sholat dhuha, terbentuknya jaringan, dan munculnya kebiasaan berinfak.
Rekontruksi Mantra Pemberdayaan: Memikirkan Ulang Model KKN UIN Sunan Kalijaga Pajar Hatma Indra Jaya
Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama Vol. 16 No. 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/aplikasia.v16i2.1181

Abstract

Penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat merupakan tiga kegiatan yang diamanahkan negara kepada perguruan tinggi. Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu wujud dari tugas pengabdian masyarakat. Di masa lalu KKN dinanti-nanti masyarakat, namun saat ini mulai terasa tanda-tanda bahwa yang membutuhkan KKN bukan lagi masyarakat, namun mahasiswa. Untuk itu diperlukan pemikiran ulang (dekonstuksi) guna membangun model KKN yang lebih tepat. Untuk merumuskan model KKN ini dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan KKN melalui kajian dokumen laporan KKN, Focus Group Discussion, serta wawancara kepada mahasiswa pasca KKN. Studi ini menemukan ada beberapa prinsip yang harus dirubah dari KKN UIN Sunan Kalijaga, mulai dari penentuan tujuan, lokasi, sampai metode KKN.
Sepuluh Tahap Mewujudkan Kampung Mandiri Sampah: Ten Stages of Realizing a Trash Independent Village Pajar Hatma Indra Jaya; Agung Prasetyo
Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): April-Juni
Publisher : Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.148 KB) | DOI: 10.33860/pjpm.v3i2.912

Abstract

Most cities in Indonesia have trash problems. The local governments send the city's trash to the landfills. However, the longer the trash volume in the landfill is increasing, the fuller some landfills are going to be running out of space in a short time. Kampung Mandiri Sampah (The Independent Trash Village) is one of the city's solutions to reduce trash in the landfills. However, many people still have difficulties to create Kampung Mandiri Sampah. This paper aimed to provide a guideline regarding the stages of creating a Trash Independent Village with the trash donation method. To describe these stages, the Practicum Team of the Community Development Departement, Dakwah and Communication Faculty, UIN Sunan Kalijaga conducted an experiment to create a Trash Independent Village using participatory action research methods in Blimbingsari Hamlet, Caturtunggal Village, Depok Sub-district, Sleman District. It took six months. We conclude that there are ten stages that can be taken by the community to create a Trash Independent Village with the Trash Donation methods. The result of this program is to make household waste no longer disposed of in a landfill, but it is sorted and processed so that it provides economic benefits for the community. Kampung Mandiri Sampah sorts of waste from the house. The conclusion is that Kampung Mandiri Sampah is able to reduce the waste disposal volume in the landfill. ABSTRAK Hampir semua kota di Indonesia mempunyai masalah dengan sampah. Sampah kota dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun semakin hari volume sampah di TPA semakin banyak sehingga beberapa TPA tidak lagi mampu menampung sampah. Kampung Mandiri Sampah merupakan salah satu solusi kota untuk mengurangi kecepatan penuhnya sampah di TPA. Namun banyak orang yang masih kesulitan untuk mewujudkan Kampung Mandiri Sampah. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan guideline terkait tahapan mendirikan Kampung Mandiri Sampah dengan metode sedekah sampah. Metode yang digunakan adalah ceramah, focus group discussion, dan eksperimen dalam bentuk aksi bersama masyarakat Dusun Blimbingsari, Caturtunggal, Depok, Sleman. Kegiatan dilakukan oleh tim Praktikum Prodi Pengembangan Masyarakat, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga dengan memakan waktu enam bulan. Dari kegiatan tersebut disimpulkan terdapat sepuluh langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mewujudkan Kampung Mandiri Sampah metode sedekah sampah. Hasil program ini membuat sampah rumah tangga tidak lagi langsung di buang ke TPA, namun sampah dipilah dan diolah sehingga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kampung Mandiri Sampah memilah sampah sejak dari rumah sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya Kampung Mandiri Sampah mampu mengurangi volume pembuangan sampah ke TPA.