Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Inovasi Sosial dalam Mengatasi Masalah Stunting di Lombok Barat Pajar Hatma Indra Jaya; Saptoni Saptoni; Ahmad Izudin; Rahadiyand Aditya; Saparwadi Saparwadi; Maryani Maryani
Inovasi Vol 20 No 2 (2023): JURNAL INOVASI VOL. 20 NO. 2 OKTOBER 2023
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33626/inovasi.v20i2.690

Abstract

Stunting is still a social problem that the Indonesian government must resolve. The currentgovernment prioritizes one hundred districts to address the problem. Although not all stuntingprevention programs run well, one district considered capable of solving the stunting problemwell is West Lombok Regency. This research is essential because many regions in Indonesia arestill struggling to find a suitable stunting management model. This study aims to find a model forhandling stunting in this area to reduce stunting rates significantly. For this purpose, researchersconducted qualitative research by conducting interviews with the government and people of WestLombok in overcoming stunting. This study found no determinant factors that caused stunting inWest Lombok. Stunting is influenced by many factors, from health, economy, people awareness,environment-sanitation, to culture. Social protection programs in the form of conditionalassistance from the central government for the poor can also not overcome stunting. Theexistence of families receiving assistance but still experiencing stunting proves the aboveassumption. West Lombok government carried out the method of handling stunting in a top-downmanner through mainstreaming stunting handling in government programs. The Regent put a"coercion" mechanism to all agencies within the West Lombok government to create a socialinnovation program to overcome stunting. As a result, all agencies in the West Lombokgovernment have programs with unique names and ways to participate in reducing stunting. Withthis mainstreaming, everyone understands the problem of stunting and makes it a commonproblem that must be solved together so that the stunting rate in West Lombok has decreasedsignificantly.Keywords: stunting, program mainstreaming, social innovation, top-down policy, socialassistance
DAKWAH PEMBEBASAN: Sebuah Cerita Dari Saung Balong, Majalengka, Jawa Barat Indra Jaya, Pajar Hatma
Jurnal Dakwah Vol. 13 No. 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.2012.13202

Abstract

Kemiskinan dan tekanan akan kebutuhan hidup dewasa ini sungguh berat, akibatnya muncul perilaku menyimpang dan masalah sosial. Pindah keyakinan agama, ngemplang hutang, mencuri, jual organ, jual diri, bahkan sampai bunuh diri terjadi sebagai akibat dari tekanan hidup-keduniawian. Untuk itu dibutuhkan metode intervensi (dakwah) yang tidak sekedar aktifitas verbalism doktrinasi nilai-nilai, namun dakwah yang dimaknai sebagai usaha untuk melakukan pembebasan dari beban akan masalah-masalah keduniawian. Kegiatan dakwah harus bersifat holistik, meliputi 1). usaha pembebasan ekonomi berupa pemenuhan kebutuhan dasar (dakwah charity) dan dakwah pemberdayaan, 2). dakwah pembebasan teologi berupa transformasi nilai-nilai keislaman. Usaha dakwah yang parsial sering mengarah pada kegagalan. Tulisan ini memberikan gambaran akan satu praktik dakwah holistik yang memadukan transformasi nilai-nilai Islam dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Drs. Khoeruman (Ponpes Saung Balong) di Tegal Simpur, Cisambeng, Palasah, Majalengka, Jawa Barat. Drs. Khoeruman mampu men-transformasi masyarakat “gelap” yang dekat dengan maksiat, menjadi tobat dan memunculkan masyarakat baru yang lebih Islami dan berdaya secara ekonomi. Usaha dakwah tersebut juga mampu merubah mad’u mustahik menjadi muzakki.
RESOLUSI KONFLIK DALAM KERJA PENGEMBANGAN MASYARAKAT Indra Jaya, Pajar Hatma
Jurnal Dakwah Vol. 12 No. 1 (2011)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah bil hal dimaknai sebagai kerja-kerja pengembangan masyarakat. Meskipun tidak diharapkan, kerja-kerja pengembangan masyarakat seringkali menimbulkan konflik. Dalam beberapa kasus di balik konflik terkadang terkandung manfaat ataupun hikmah yang besar. Namun demikian dalam kasus-kasus yang lain, konflik dapat mengurangi, menghambat efektifitas-efisiensi kerja, bahkan menjadi sumber masalah sosial. Dengan demikian dibutuhkan pengetahuan, prinsip, dan juga alat analisis untuk membaca konflik agar konflik dapat di manajemen dengan baik. Prinsip peer merupakan salah satu etika yang harus dipegang pekerja pengembangan masyarakat dalam menyelesaikan konflik. Selain itu Stage of Conflict Analisis dan analisis actor merupakan alat yang penting untuk digunakan dalam membaca situasi.
Hambatan dan Strategi Bertahan Para Penyintas Covid-19: Studi Kasus Wirausaha Kuliner di Yogyakarta Jaya, Pajar Hatma Indra
Jurnal Aspirasi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Pusat Analisis Keparlemenan Badan Keahlian Sekretariat Jenderal DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46807/aspirasi.v14i1.3204

Abstract

This study explores the survival strategies employed by Covid-19 survivors to improve their economic activities, with a specific focus on culinary entrepreneurs. Despite recovering from the virus, these individuals continue to face obstacles in resuming their businesses. Limited research has been conducted on the strategies adopted by survivors after their recovery, particularly in the culinary sector. This paper presents qualitative data collected through observation, document study, and interviews. The study includes twelve informants from six cases of Covid-19 transmission, purposively selected to investigate their perceptions and practices regarding economic survival post-recovery. The findings reveal that Covid-19 survivors encounter social exclusion in the form of isolation when attempting to resume work. The fear of societal stigmatization and maintaining distance from survivors results in a lack of community support, leading to economic stagnation for over a month. Despite efforts to obtain a health certificate from the government, the survivors struggle to restore normalcy. Consequently, they adopt various survival strategies, although these methods often require a considerable amount of time to achieve full recovery. To address this issue, the Indonesian House of Representatives should provide support, including oversight of government policies. It is recommended that when the government forces the closure of a business, they must also offer assistance and facilitate the official reopening after the recovery period. This approach will help restore consumer confidence and expedite economic recovery. It is crucial to learn from these findings to better prepare for similar situations in the future.Abstrak:Penelitian ini mengeksplorasi strategi bertahan yang digunakan oleh penyintas Covid-19 untuk meningkatkan aktivitas ekonomi mereka, dengan fokus khusus pada para pengusaha kuliner. Meskipun telah sembuh dari virus, mereka ini tetap menghadapi hambatan dalam melanjutkan usaha mereka. Penelitian mengenai strategi yang diadopsi oleh mereka setelah pulih, terutama di sektor kuliner, masih terbatas. Makalah ini menyajikan data kualitatif yang dikumpulkan melalui observasi, studi dokumen, dan wawancara. Penelitian ini melibatkan dua belas informan dari enam kasus penularan Covid-19, yang dipilih secara sengaja untuk menyelidiki persepsi dan praktik mereka terkait bertahan secara ekonomi setelah pulih. Temuan menunjukkan bahwa mereka yang selamat dari Covid-19 menghadapi eksklusi sosial dalam bentuk isolasi saat mencoba untuk kembali bekerja. Rasa takut akan stigmatisasi sosial dan menjaga jarak dari mereka yang sembuh mengakibatkan kurangnya dukungan komunitas, yang mengakibatkan stagnasi ekonomi selama lebih dari sebulan. Meskipun telah berusaha mendapatkan hasil tes negatif dari pemerintah, mereka masih kesulitan kembali ke kondisi normal. Oleh karena itu, mereka mengadopsi berbagai strategi bertahan, meskipun metode ini sering kali membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai pemulihan penuh. Untuk mengatasi masalah ini, Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia sebaiknya memberikan dukungan, termasuk pengawasan terhadap kebijakan pemerintah. Direkomendasikan agar ketika pemerintah memaksa penutupan suatu bisnis, mereka juga harus menawarkan bantuan dan memfasilitasi pembukaan kembali resmi setelah masa pemulihan. Pendekatan ini akan membantu mengembalikan kepercayaan konsumen dan mempercepat pemulihan ekonomi. Sangat penting untuk belajar dari temuan ini agar dapat lebih siap menghadapi situasi serupa di masa depan.
Mendiskusikan Kembali Trickle Down Effect Sebagai Sebuah Formula Pembangunan Era Modern Wafidhi, Arif; Jaya, Pajar Hatma Indra
Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 8, No 1 (2024): Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/cdjpmi.v8i1.24993

Abstract

Teori Trickle Down Effect sudah dianggap menemui kematiannya sendiri pada tahun 1970an. Anggapan ini membuat teori ini jarang digunakan lagi untuk pembangunan pada era ini. Teori ini dianggap memiliki banyak kekurangan di berbagai lini. Seperti terlalu menguntungkan pemilik modal atau negara-negara yang menjadi lokomotif. Teori ini berkembang ketika Amerika mengalami semacam kejatuhan ekonomi yang disebut sebagai the great depression. Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan kembali apakah teori trickle down effect masih dipraktikan dan berdampak positif sebagi formulasi pembangunan di era modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif dengan mengambil lokasi di Ponorogo dan Madiun. Peneliti juga menambahkan studi kepustakaan untuk menambah kekayaan data guna membuktikan praktik teori trickle down effect. Hasil yang didapat adalah bahwa teori trickle down effect masih diaplikasikan untuk pembangunan di era modern. Konsep yang digunakan adalah fokus pada satu pusat pertumbuhan, invisible hand, peniruan, menghasilkan trickle down effect, dan pajak.
Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah, Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial Barqah, Yulita Jumada; Jaya , Pajar Hatma Indra; Widayanti , Sri
Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 2 (2024): Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklat-bangprof), Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v13i2.3360

Abstract

Sociopreneur merupakan kegiatan inovasi dengan motif menyelesaikan masalah sosial, sekaligus mengembangkan aspek bisnisnya. Banyak orang percaya bahwa kegiatan sociopreneur merupakan solusi untuk mengatasi persoalan sosial dewasa ini. Munculnya banyak startup sociopreneur menandakan adanya optimisme masyarakat terhadap sosiopreneur. Namun jika melihat perkembangan sociopreneur dewasa ini muncul kekhawatiran karena banyak aktivitas sociopreneur yang mati suri, meskipun ada juga yang berkembang. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa ada sociopreneur yang mati suri, namun ada juga yang terus berkembang. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dalam kegiatan sociopreneur bank sampah-sedekah sampah, maggot, dan serbat jahe. Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan sociopreneur dapat berjalan ketika aktivitas bisnisnya berjalan dengan baik dan kegiatan sociopreneur lama kelamaan akan mati jika kegiatan yang berjalan hanya kegiatan sosial. Kegiatan sociopreneur pada bank sampah-sedekah sampah dan maggot mengalami mati suri karena mempunyai fokus terbalik, yaitu mementingkan kegiatan pada aktivitas sosial dan mengesampingkan aktivitas bisnisnya. Penelitian ini memberikan pengetahuan bahwa untuk menjamin sustainability program pemberdayaan sosial maka aktivitas tersebut harus menghasilkan keuntungan ekonomi. 
Peran Pendamping dalam Meningkatkan Kemandirian pada Anak di Yayasan Sayap Ibu Cabang D.I. Yogyakarta Siska Hermalida; Pajar Hatma Indra Jaya
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 11: Oktober 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i11.2304

Abstract

A companion (social worker) is someone whose job is to provide services, guidance and guidance so that children not only increase their knowledge but also their independence. This research aims to determine (a) the role of companions in increasing independence in children at the Sayap Ibu Foundation, D.I. Branch. Yogyakarta; and (b) supporting and inhibiting factors in increasing independence in children at the Sayap Ibu Foundation, D.I. Branch. Yogyakarta. The method used in this research uses a qualitative approach and descriptive research type. The subjects of this research consisted of companions (social workers). Data collection techniques consisted of observation, interviews and documentation. Data analysis techniques consist of data reduction, data collection, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that the role of companions in increasing children's independence can be realized well, such as; implementing writing activities, calistung, making creative batik, splattered batik, painting and sewing. From making creative batik and cipra batik, the products can be marketed. The children also seemed enthusiastic about carrying out various programmed activities themselves without involving other people, so that the role of companions was one of the influences.
Adaptive dynamic pattern of alternative educational institution in Java, Indonesia Fahmi MR, Moh Irsyad; Widiastuti, Anik; Widodo, Syukri Fathudin Achmad; Marhumah, Marhumah; Jaya, Pajar Hatma Indra
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 14, No 5: October 2025
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v14i5.33654

Abstract

Alternative educational institutions in Indonesia deal with significant problems in maintaining their unique pedagogical approaches, meeting regulatory requirements and societal expectations. This study addresses the problem of balancing institutional autonomy with systemic integration by introducing the adaptive dynamic of alternative education (ADAE) pattern. Using a qualitative approach, data was collected through two focus group discussions (FGDs) with purposively selected participants representing three distinct alternative education institutions: Tanoker in East Java, Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) in Central Java, and Sekolah Alam Sukahaji in West Java. The sample comprised 12 participants (3 institution heads and 9 teachers) chosen based on their understanding of their respective institution’s social situations. Additionally, two education experts with expertise in mainstream and alternative education were interviewed. The findings of the study reveal that ADAE is built on three integrated philosophical pillars: theomorphic, eduhumanistic, and futuristic. The pattern demonstrates how alternative educational institutions navigate between autonomy and integration through dynamic positioning influenced by external and internal factors. The research found the practical implications include a framework for alternative institutions that implementation of ADAE enables institutions to maintain their innovative practices, achieving legitimacy through measurable community impact.
Localizing the SDGs: A Case Study of Collaborative Models between BUM Desa and Pesantren in Central Java Marimin, Agus; Ardiansyah, Misnen; Indra Jaya, Pajar Hatma
Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): IN PROGRESS
Publisher : Faculty of Islamic Economics and Business, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/share.31500

Abstract

Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) at the village level requires collaboration across institutions. However, such collaboration is often hindered by differing institutional orientations and interests. Village-Owned Enterprises (BUM Desa), which aim to strengthen the local economy, hold significant potential for strategic partnerships. Unfortunately, cooperation between BUM Desa and other institutions such as Islamic boarding schools (pesantren), remains limited. Pesantren, as socio-religious institutions, have strong community networks and considerable influence. This study explores a collaboration model between BUM Desa and the Modern Islamic Boarding School (PPMI) Assalam in Sukoharjo Regency. It aims to analyze how these institutions, despite their distinct orientations, work together to support SDG implementation. Using a qualitative case study approach, data were gathered through interviews with BUM Desa managers, pesantren leaders, village officials, and community figures, alongside observations and document analysis. Thematic analysis was conducted through data collection, condensation, presentation, and conclusion stages. Findings reveal nine joint initiatives: four in the economic sector, three in the social sector, and two in the environmental sector. The success of this collaboration is driven by five key factors: (1) initial conditions, (2) institutional design, (3) facilitative leadership, (4) collaborative dynamics such as trust, dialogue, and shared understanding, and (5) tangible outcomes aligned with SDG targets. This study integrates collaborative governance, social enterprise, stewardship, and sharia enterprise theories. Practically, it offers guidance for policymakers and local leaders to develop culturally grounded partnerships that connect economic innovation with social and spiritual legitimacy, accelerating SDG achievement at the village level. Abstrak Mewujudkan SDGs di Tingkat Lokal: Studi Kasus Model Kolaborasi antara BUM Desa dan Pesantren di Jawa Tengah. Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat desa memerlukan kolaborasi antar-lembaga. Namun, kolaborasi ini sering terhambat oleh perbedaan orientasi dan kepentingan kelembagaan. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), yang bertujuan memperkuat ekonomi lokal, memiliki potensi besar untuk membangun kemitraan strategis. Sayangnya, kerja sama antara BUM Desa dan lembaga lain seperti pesantren, masih terbatas. Padahal, pesantren sebagai lembaga sosial-keagamaan memiliki jaringan kuat dan pengaruh besar di masyarakat. Penelitian ini mengkaji model kolaborasi antara BUM Desa dan Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam di Kabupaten Sukoharjo. Tujuannya adalah menganalisis bagaimana kedua lembaga dengan orientasi berbeda dapat bekerja sama dalam mendukung implementasi SDGs. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan, dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan pengelola BUM Desa, pimpinan pesantren, aparat desa, dan tokoh masyarakat, serta observasi dan analisis dokumen. Analisis tematik dilakukan melalui tahapan pengumpulan, kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan sembilan inisiatif bersama: empat di sektor ekonomi, tiga di sektor sosial, dan dua di sektor lingkungan. Keberhasilan kolaborasi ini didorong oleh lima faktor utama: (1) kondisi awal, (2) desain kelembagaan, (3) kepemimpinan fasilitatif, (4) dinamika kolaboratif seperti kepercayaan, dialog, dan pemahaman bersama, dan (5) hasil nyata yang selaras dengan target SDGs. Studi ini menggabungkan teori tata kelola kolaboratif, kewirausahaan sosial, stewardship, dan kewirausahaan syariah. Secara praktis, studi ini memberikan panduan bagi pembuat kebijakan dan pemimpin lokal untuk merancang kemitraan berbasis budaya yang menghubungkan inovasi ekonomi dengan legitimasi sosial dan spiritual dalam percepatan SDGs di tingkat desa.
INNOVATOR, SOCIAL MEDIA, AND THE EMERGENCE OF A TOURISM DESTINATION IN GILI KETAPANG PROBOLINGGO Jaya, Pajar Hatma Indra
Jurnal Sosial Humaniora Vol. 15 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jsh.v15i1.12796

Abstract

Many regions in Indonesia have tourism assets that take work to develop into new tourist destinations. Seeking any pattern in developing a new tourism destination applicable to Indonesia with excellent tourism potential, this study becomes essential. It analyses how Gili Ketapang, a village in Probolinggo, East Java, became a new tourism destination. The researchers used a qualitative descriptive-analytical method. The data collection applies observation, documentation, and interviews with twelve informants involved in a snowball method. The primary analysis is an interactive analytical model. This research found that Gili Ketapang’s growth into a tourism destination started with an initiative from an innovator aware of the tourist assets. The innovator had the confidence and courage to package and offer the tourism assets via social media. Once the business was successful, it encouraged other local people to get involved, and eventually, the region became a new tourist destination. Creating a tourist destination does not require big investors but an innovator. This research provides recommendations for building a tourist destination to portray their tourism assets vividly, build big dreams, design tourism packages, and broadcast them to the public through effective media communications.