Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Keberlanjutan Program Sociopreneur pada Kegiatan Bank Sampah, Proyek Magot, dan Serbat Jahe untuk Menangani Masalah Sosial Barqah, Yulita Jumada; Jaya , Pajar Hatma Indra; Widayanti , Sri
Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 2 (2024): Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Kesejahteraan Sosial (Pusdiklatbangprof Kesos), Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v13i2.3360

Abstract

Sociopreneur merupakan kegiatan inovasi dengan motif menyelesaikan masalah sosial, sekaligus mengembangkan aspek bisnisnya. Banyak orang percaya bahwa kegiatan sociopreneur merupakan solusi untuk mengatasi persoalan sosial dewasa ini. Munculnya banyak startup sociopreneur menandakan adanya optimisme masyarakat terhadap sosiopreneur. Namun jika melihat perkembangan sociopreneur dewasa ini muncul kekhawatiran karena banyak aktivitas sociopreneur yang mati suri, meskipun ada juga yang berkembang. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa ada sociopreneur yang mati suri, namun ada juga yang terus berkembang. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dalam kegiatan sociopreneur bank sampah-sedekah sampah, maggot, dan serbat jahe. Penelitian ini menemukan bahwa kegiatan sociopreneur dapat berjalan ketika aktivitas bisnisnya berjalan dengan baik dan kegiatan sociopreneur lama kelamaan akan mati jika kegiatan yang berjalan hanya kegiatan sosial. Kegiatan sociopreneur pada bank sampah-sedekah sampah dan maggot mengalami mati suri karena mempunyai fokus terbalik, yaitu mementingkan kegiatan pada aktivitas sosial dan mengesampingkan aktivitas bisnisnya. Penelitian ini memberikan pengetahuan bahwa untuk menjamin sustainability program pemberdayaan sosial maka aktivitas tersebut harus menghasilkan keuntungan ekonomi.
‘Mas Zakky’: Model Zakat Pemberdayaan dari Baznas Kota Yogyakarta Jaya, Pajar Hatma Indra
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-02

Abstract

The model of zakat management in the modern era is divided into two, namely the charity model (consumptive zakat) and the productive zakat model (zakat empowerment). So far, zakat distribution uses a lot of charity models so that it does not give long-term contribution because it is consumptive. Through this article, I would like to explain the marketing of productive zakat (empowerment model) with the name of the program Mas Zakky and see its impact on society. Distribution Mas Zakky’s model is done in four stages, namely the determination of the right muztahiq (recipient program), debriefing, giving power, and mentoring are tightly controlled. This study found that the keyword for the success of the zakat empowerment program is that it should not stop at giving assistance, but must be assisted within one year so that new habits are formed from the mustahiq. The new habit arises because of awareness, habituation, and strict control through monitoring of good financial management, which mustahiq are required to provide daily business reports, monthly profit reports, savings obligations of at least 2.5 percent of gross sales every month, and learn to invest input “sedino sewu” (one day one thousand rupiah) cans in their place of business. Mas Zakky’s program has an impact on the loss of the mustahiq conditions due to the emergence of new jobs, the growing awareness that trading business is a form of profitable work, the emergence of awareness to save, diligently praying Dhuha, the formation of tissue, and the emergence of habits of infaq (donation).Model pengelolaan zakat di era modern dibagi menjadi dua, yaitu model carity (zakat konsumtif) dan model zakat produktif (zakat pemberdayaan). Selama ini penyaluran zakat banyak menggunakan model carity sehingga kurang memberi kontribusi jangka panjang karena sifatnya konsumtif. Melalui artikel ini penulis hendak menjelaskan pentasarufan zakat produktif (model pemberdayaan) dengan nama program Mas Zakky dan melihat dampaknya bagi masyarakat. Pentasarufan model Mas Zakky dilakukan dengan empat tahap, yaitu penentuan muztahak yang tepat, pembekalan, pemberian daya, dan pendampingan yang terkontrol secara ketat. Penelitian ini menemukan bahwa kata kunci keberhasilan program zakat pemberdayaan adalah tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan, namun harus dilakukan pendampingan dalam waktu satu tahun sehingga terbentuk kebiasaan baru dari para mustahik. Kebiasaan baru tersebut muncul karena penyadaran, pembiasaan, serta kontrol ketat lewat pemantauan tentang manajemen keuangan yang baik, yangmana mustahik diwajibkan untuk memberikan laporan usaha harian, laporan keuntungan bulanan, kewajiban menabung minimal 2,5 persen dari penjualan kotor setiap bulan, dan belajar berinfaq dengan menaruh kaleng “sedino sewu” di tempat usaha mereka. Program Mas Zakky berdampak pada mulai hilangnya kondisi fakir para mustahik karena munculnya pekerjaan baru, tumbuhnya kesadaran bahwa usaha dagang merupakan bentuk pekerjaan yang menguntungkan, munculnya kesadaran untuk menabung, rajin sholat dhuha, terbentuknya jaringan, dan munculnya kebiasaan berinfak.
Philanthropy among the Poor: Social Welfare Insights from the Family Hope Program Beneficiaries in Indonesia Hatma Indra Jaya, Pajar; Saptoni, Saptoni
JSP (Jurnal Ilmu Sosial dan ilmu Poltik) Vol 29, No 1 (2025): July
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsp.100207

Abstract

To address social welfare issues, governments require public participation through philanthropic activities. As philanthropy is often viewed as the domain of the wealthy, many studies focus on elite philanthropy, with only few examining the contributions of the poor. Despite their circumstances, people in poverty have the potential to engage in philanthropic activities. Recent research indicates that individuals experiencing poverty can indeed become philanthropists. This study gathered information from beneficiaries of the Family Hope Program (Program Keluarga Harapan, PKH), a social assistance initiative for poor households in Yogyakarta, Indonesia. The findings reveal that philanthropic practices exist among the poor, albeit with distinct characteristics compared to those of the wealthy. Three key differences distinguish the philanthropy of the poor from that of the rich: form, motive, and effectiveness. Wealthy philanthropists typically donate substantial amounts of money or goods, whereas poor philanthropists offer a variety of contributions, including small amounts of money, goods, free assistance, lending household appliances, time, and even prayers. Many scholarly works show that wealthy individuals tend to engage in philanthropy during significant social welfare crises that attract public attention. In contrast, poor philanthropists are active whenever a community member faces social welfare issues. Instead of economic or political incentives, the motives for philanthropic activities among the poor stem from spiritual fervour and communal culture. Although the economic value of their contributions may be minimal, the philanthropy of low-income individuals effectively addresses welfare issues within their communities.
MODEL SUAKA IKAN UNTUK PENGELOLAAN SUNGAI DI JAWA: STUDI DI SUNGAI WINONGO YOGYAKARTA Jaya, Pajar Hatma Indra; Suhud, Moh. Abu
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v11i2.9996

Abstract

Laju penurunan spesies dan populasi ikan di sungai-sungai di Jawa terus terjadi sehingga perlu sebuah model yang tepat untuk menghentikan fenomena tersebut. Salah satu konsep yang dapat dipertimbangkan adalah model suaka ikan. Model ini telah diperkenalkan oleh pemerintah sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004, namun tidak banyak sungai di Jawa yang mempraktikkan suaka ikan. Meskipun demikian ada sejumlah pihak yang mencoba mempraktikkan model ini di Sungai Winongo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor penting yang mendukung praktik suaka ikan di Sungai Winongo. Penelitian ini dilakukan berdasar pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan empat metode pengumpulan data, yakni: (i) observasi yang bersifat partisipatori, (ii) wawancara, (iii) dokumentasi dan reviu literatur, dan (iv) Focus Group Discussion (FGD). Hasil menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dalam suakaikan merupakan faktor penting mutlak; hal ini terutama karena masyarakat merupakan pemangku kepentingan utama, yang mampu menjaga sungai selama 24 jam, Namun, partisipasi masyarakat dalam program suaka ikan murni konservasi sulit terjadi karena tidak ada keuntungan yang didapat. Penelitian merekomendasikan dilakukannya modifikasi model suaka ikan. Kerangka model suaka ikan harus mengakomodasikan dua aspek sekaligus, yakni aspek konservasi dan aspek kepentingan ekonomi masyarakat. Kedua aspek tersebut dapat terakomodir dalam suaka ikan yang diterapkan dengan sistem zonasi. Modifikasi suaka ikan dari murni konservasi ke model zonasi ini bisa menjadi alternatif model kebijakan pengelolaan sungai di Jawa. Title: Fish Sanctuary Model For River Management In Java: Study In Winongo River YogyakartaThe decline of species and population fish in Java rivers continually occurs. There is a need for a breakthrough related to the river management model to discontinue the phenomenon. One of the concepts to discontinue the decreasing rate is through fish asylum. The government has introduced this model since the enactment of Law Number 31 of 2004, but not many rivers in Java have practiced the fish asylum. However, there is a group of people attempting to practice the fisheries reserve in Winongo River. This research aims to describe and analyze some of important factors that enable the fisheries reserve in Winongo River. This research was conducted using a qualitative descriptive method using four data collection methods, namely participatory observation, interviews, documentation-literature, and Focus Group Discussion (FGD). This research found that the community’s involvement in fisheries reserves is needed since the community becomes the only stakeholders that can maintain the river.However, the community participation in fisheries reserve program using pure conservation seemed hard to be realized considering no profit obtained by the community. Therefore, a modification of the fisheries reserve model is needed to be done. Fisheries reserve needs to concern with the conservational aspect and the economic interest of the community. Both principles can be accommodated in the zone Fisheries reserve model. The modification of fisheries reserve from the pure conservation to zone model can be an alternative for the policy model in river management in Java.
Pengaruh Jejaring Sosial Terhadap Pencegahan Bullying di Kalangan Remaja Pajar Hatma Indra Jaya; Mudfainna; Hidayatus Sholichah
Journal of Community Development Vol. 3 No. 3: Desember 2024
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh jejaring sosial terhadap pencegahan bullying di kalangan remaja. Berdasarkan teori jejaring sosial, penelitian ini mengeksplorasi peran jejaring sosial sebagai alat untuk menyebarkan kesadaran, membangun empati, dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Melalui pendekatan mix method, data dikumpulkan dari hasil survei dan dari wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus dengan remaja berusia 13–18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejaring sosial dapat berfungsi sebagai ruang aman untuk berbagi pengalaman, mendukung korban bullying, serta mempromosikan nilai-nilai positif. Dukungan teman sebaya, model perilaku positif, dan edukasi tentang dampak bullying merupakan elemen kunci dalam mencegah perilaku ini. Namun, penggunaan jejaring sosial yang tidak bijak juga dapat memperburuk bullying. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang holistik untuk memanfaatkan jejaring sosial secara optimal dalam mencegah bullying di kalangan remaja.
Da’wah Culture: The Way of Bumi Langit Institute in Popularizing Tayib Lifestyle at Imogiri Bantul Pajar Hatma Indra Jaya
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 25 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v25i2.1308

Abstract

This research attempts to describe the Islamic preaching way used at Bumi Langit Institute in fostering Islamic lifestyle, especially tayib food consumption pattern, so as to be accepted by the society, including non-Moslems. In order to get an answer to such issue, the researcher conducted interviews to 15 informants, observation, and documentation study. This research found that a superiority of the preaching way at Bumi Langit Institute is the ability to unite some lessons contained in the Qur’an with some current empirical realities as well as present an example of living Qur’an, starting from food to the management of agriculture which can directly be learn, practiced, enjoyed, selfie, and adopted as a lifestyle at home. Bumi Langit gives a lot of scientific surprises showing that the long-left lifestyle and the unimagineable Islamic knowledge reserve far more priceless benefits than the lifestyle that is currently upheld. In addition to logical preaching messages that could be proven by empirical data, the preaching messages delivered at Bumi Langit are also supported with other uniqueness, starting from the figures of the preachers and the establishment of Islamic preaching segmentation for young-middle class who are familiar with gadget. Copyright (c) 2017 by KARSA. All right reserved DOI: 10.19105/karsa.v25i2.1308