Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN SINTAKSIS KALIMAT TUNGGAL BERPREDIKAT VERBA TRANSITIF DALAM CERPEN TERBAIK DI CERPENMU.COM Setyawati, Nanik; Indrariani, Eva Ardiana; Kurniawan, Latif Anshori
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1358

Abstract

The ability to captivate and bind readers' hearts with the sentences presented needs to be mastered by prose writers. A single sentence with a transitive verb predicate can be used to present short story works of fiction. The aim of this research is to describe the role of syntax in single sentences with transitive verbs in the best short stories on cerpenmu.com. Theories about syntactic roles from Fillmore (1968), Ramlan (1987),  Sudaryanto (1987), Mastoyo (1993), Damaianti & Sitaresmi (2005) as well as theories about transitie verbs from Damaianti & Sitaresmi (2005), Chaer (2009), and Moeliono et al. (2017), will be used by researchers to achieve research objectives.  This research is qualitative research. Data collection was carried out using the technique of listening to language use in short stories. Data analysis was carried out using the agih method and the matching method. The results of data analysis are presented using informal methods. Based on the analysis carried out, it was found that there were 29 variations in syntactic roles in 60 sentences. The largest variations in syntactic roles are Actor–Action–Sufferer with 16 sentences; second position, Time–Doer–Action–Sufferer number 5 sentence; and third position, Experience–Condition–Sufferer and Experience–Condition–Result, each with 3 sentences. The syntactic role variations are under three sentences, namely 8 syntactic role variations of 2 each and 17 syntactic role variations of only 1 sentence each. There is a tendency for authors to prioritize human characters as actors and experiences in an activity or event.Kepiawaian memikat dan mengikat hati pembaca dengan kalimat yang disajikan perlu dikuasai oleh pengarang prosa. Kalimat tunggal dengan predikat verba transitif dapat digunakan untuk menyajikan karya fiksi berjenis cerpen. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peran sintaksis dalam kalimat tunggal berpredikat verba transitif dalam cerpen terbaik di cerpenmu.com. Teori tentang peran sintaksis dari Fillmore (1968), Ramlan (1987), Sudaryanto (1987), Mastoyo (1993), dan Damaianti & Sitaresmi, (2005) serta teori tentang verba transitif dari Damaianti & Sitaresmi (2005), Chaer (2009), dan Moeliono et al. (2017) akan peneliti manfaatkan untuk mencapai tujuan penelitian.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik penyimakan pemakaian bahasa pada cerpen. Analisis data dilakukan dengan metode agih dan metode padan. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan adanya 29 variasi peran sintaksis dalam 60 kalimat. Variasi peran sintaksis terbanyak yaitu Pelaku–Perbuatan–Penderita asejumlah 16 kalimat; posisi kedua, Waktu–Pelaku–Perbuatan–Penderita sejumlah 5 kalimat; dan posisi ketiga, Pengalam–Keadaan–Penderita dan Pengalam–Keadaan–Hasil, masing-masing sejumlah 3 kalimat. Variasi peran sintaksis di bawah tiga kalimat, yaitu 8 variasi peran sintaksis masing-masing 2 kalimat dan 17 variasi peran sintaksis masing-masing hanya 1 kalimat. Ada kecenderungan pengarang mengedepankan tokoh insani sebagai pelaku dan pengalam dalam suatu aktivitas atau peristiwa.
PUBLIC SPEAKING UNTUK MASYARAKAT MULTIKULTURAL STUDI KASUS DI HULU LANGAT, MALAYSIA Indrariani, Eva Ardiana; Sukmaningrum, Rahmawati; Wahyuhastuti, Novika; Setyoadi, Yuris; Prayito, Muhammad; Ulumuddin, Arisul
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 1 (2025): Februari
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i1.1895

Abstract

Program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan public speaking bagi para profesional di Hulu Langat, Malaysia, dengan fokus pada penguatan kepercayaan diri, sensitivitas budaya, dan komunikasi efektif dalam lingkungan multikultural. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman diterapkan melalui simulasi praktis, role-playing, dan umpan balik konstruktif. Metode campuran digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program, dengan penilaian sebelum dan sesudah pelatihan serta wawancara peserta. Program ini melibatkan 50 profesional dari berbagai industri yang dipilih berdasarkan minat mereka dalam meningkatkan keterampilan komunikasi. Pelatihan terdiri dari tiga modul utama, yaitu membangun kepercayaan diri, sensitivitas budaya, dan komunikasi efektif. Penilaian pasca-pelatihan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri sebesar 70% di kalangan peserta. Kemampuan menyesuaikan gaya komunikasi dengan audiens multikultural meningkat dari 30% menjadi 75%. Latihan simulasi, analisis video, dan role-playing terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap komunikasi lintas budaya. Peningkatan signifikan juga diamati dalam penguasaan komunikasi verbal dan non-verbal, termasuk diksi, intonasi, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah. Pelatihan ini berhasil meningkatkan kompetensi public speaking di lingkungan profesional multikultural. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pengalaman dapat diterapkan secara lebih luas untuk meningkatkan keterampilan komunikasi. Evaluasi lanjutan dan replikasi program di wilayah lain direkomendasikan untuk mengukur skalabilitas dan dampak jangka panjangnya. Kata Kunci: Public Speaking, Sensitivitas Budaya, Pembelajaran Berbasis Pengalaman, Komunikasi Multikultural, Penguatan Kepercayaan Diri  
Kohesi dan Koherensi dalam Video Food Vlogger Farida Nurhan Rimbawati, Kiki; setyawati, Nanik; Indrariani, Eva Ardiana
Sasindo : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/sasindo.v12i1.18377

Abstract

 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud kohesi gramatikal dan leksikal yang terdapat dalam video food vlogger Farida Nurhan, mendeskrisikan wujud koherensi yang terdapat dalam video food vlogger Farida Nurhan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.  Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan yang terkandung dalam video food vlogger Farida Nurhan yang diperoleh sejak Januari sampai Desember 2019. Teknik penyediaan data menggunakan teknik simak dan teknik catat. Teknik penyajian hasil analisis data dilakukan dengan cara informal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan 55 data kohesi gramatikal berupa 19 data persona, 7 data demostratif, 2 data, elipsis 5 data komperatif, i 4 data substitus, 18 data konjungsi dilanjutkan 34 data kohesi leksikal yang berupa 8 data repetisi, 21 data hiponimi, 5 data kolokasi,  dan diakhiri 18 data koherensi berupa spesifik-generik, generik-spesifik, hubungan sebab akibat, hubungan sarat simpulan, dan hubungan makna alasan (argumentatif). 
Analisis Wujud Konjungsi dalam Cerbung “Sang Tandak” pada Surat Kabar Suara Merdeka Larasati, Dwi; Indrariani, Eva Ardiana; Utami, H.R.
Sasindo : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/sasindo.v12i1.18373

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud konjungsi dalam cerbung “Sang Tandak” pada Surat Kabar Suara Merdeka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitiatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan teknik catat. Berdasarkan hasil analisis ditemukan penggunaan konjungsi dalam cerbung “Sang Tandak” pada Surat Kabar Suara Merdeka yang terdiri dari 53 data konjungsi koordinatif, 5 data konjungsi korelatif, 82 data konjungsi subordinatif, dan 14 data konjungsi antarkalimat. Konjungsi koordinatif meliputi penggunaan konjungsi yang menyatakan penambahan, pendampingan, pemilihan atau pilihan, dan perlawanan. Konjungsi subordinatif meliputi penggunaan konjungsi yang menyatakan waktu, syarat, tujuan, konsesif, pembandingan, sebab, hasil, alat, cara, komplementasi, dan atributif. Konjungsi antarkalimat meliputi penggunaan konjungsi yang meyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya dan akibat. Saran diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian cerita pada objek kajian berbeda. AbstractThe purpose of this study is to describe the form of conjunctions in the story of “Sang Tandak” in Suara Merdeka Newspaper. The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques in this study used listening techniques and note-taking techniques. Based on the results of the analysis, it was found that the use of conjunctions in “Sang Tandak” in the Suara Merdeka Newspaper consisted of 53 coordinating conjunction data, 5 correlative conjunction data, 82 subordinating conjunction data, and 14 inter-sentence conjunction data. Coordinative conjunctions include the use of conjunctions that express addition, assistance, selection or choice, and resistance. Subordinating conjunctions include the use of conjunctions that express time, condition, purpose, concession, comparison, cause, result, means, method, complementation, and attributive. Conjunctions between sentences include the use of conjunctions that express opposition to the previous state and result. Suggestions are expected that further researchers can conduct story research on different study objects.
Analisis Nilai-Nilai Pendidikan yang Terkandung dalam Novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi Adianto, Ratno; Indrariani, Eva Ardiana; Nayla, Azzah
Sasindo : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/sasindo.v12i1.16171

Abstract

The purpose of this study is to describe the educational values contained in the novel Negeri 5 Menara. Approach The method used in this research is descriptive qualitative with literature study technique. Data collection techniques used using reading and note-taking techniques. The results of the research that have been carried out have found that there are four educational values contained in the novel Negeri 5 Menara, namely the value of moral education, the value of social education, the value of cultural education and the value of aesthetic education.ABSTRAKTujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Negeri 5 Menara. Pendekatan Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka. Teknik pengumpulan data yang digunakan menggunakan teknik baca dan catat. Hasil penelitan yang telah dilakukan ditemukan adanya empat nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Negeri 5 Menara yaitu nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan budaya dan nilai pendidikan estetika. 
ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN 100 HARI GEBRAKAN PRABOWO- GIBRAN DI DUNIA PENDIDIKAN PADA MEDIA KOMPAS.COM Wiji Mustainah; Mukhlis; Eva Ardiana Indrariani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 03 (2025): Volume 10 No. 3 September 2025 In Order
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i03.34087

Abstract

This study examines media ideology in the coverage of Prabowo–Gibran’s 100 Days of Breakthroughs in Education on Kompas.com using Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA) model. Data consist of five news articles published between January and February 2025, selected through purposive sampling. The analysis was conducted qualitatively across three dimensions: text (macro, micro, and superstructure), social cognition, and social context. The findings reveal that the media do not merely report education policies but actively construct public opinion through linguistic strategies, issue framing, and rhetorical devices. While policies such as the 13-year compulsory education and teacher allowance improvements are portrayed as achievements, issues of educational equity and the welfare of honorary teachers are critically addressed. These results support earlier studies (Sari, 2020; Widodo, 2021) but provide a novel contribution by highlighting how the media simultaneously legitimize and criticize government policies during the early phase of a new administration. The study concludes that media coverage functions as an ideological arena where government, society, and media interact, emphasizing the need for transparency and broader public participation in education policy formulation. Keywords: Critical Discourse Analysis, Media Ideology, Education Policy, Prabowo–Gibran
Kidung Rumekso Ing Wengi sebagai Simbol Spiritualitas dan Instrumen Sosial: Membaca Ulang Tradisi Lokal dalam Konteks Budaya Jawa Kontemporer Khusniyah, Aziizatul; Indrariani, Eva Ardiana
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.22229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang peran ulang dan makna sosial-spiritual Kidung Rumekso Ing Wengi , sebuah teks kidung Jawa kuno, dalam membentuk identitas budaya dan spiritual masyarakat Jawa di era modern. Fenomena meningkatnya popularitas kidung ini di media sosial menandakan adanya kebangkitan spiritualitas lokal di tengah krisis identitas dan tekanan modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui analisis teks, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam, studi ini mengeksplorasi bagaimana kidung ini tidak hanya berfungsi sebagai doa perlindungan tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan ketahanan budaya. Mengacu pada teori identitas sosial, pertukaran sosial, dan adaptasi budaya, hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidung Rumekso Ing Wengi memainkan peran dinamis dalam kehidupan masyarakat Jawa sebagai simbol spiritual yang terus beradaptasi, sekaligus menjadi cermin sosial yang memfasilitasi pemaknaan ulang atas tradisi di tengah transformasi sosial. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam kajian ilmu sosial, khususnya dalam memahami interaksi antara spiritualitas lokal, identitas budaya, dan dinamika sosial kontemporer.
Gaya Bahasa Persuasif dalam TikTok Delta Hesti Rahma Fadilah, Alifa; Eva Ardiana Indrariani; Latif Anshori Kurniawan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.42208

Abstract

ABSTRACT This study analyzes how persuasive language style is used by Delta Hesti in sales activities through TikTok, especially in live streaming and product reviews, with the theoretical aim of adding to sociolinguistic studies in the context of digital business communication by exploring the role of persuasive language style in increasing consumer satisfaction with sales activities on social media, both directly through live streaming or indirectly through product reviews. Meanwhile, the practical aim is to provide insight for business actors who use the TikTok platform as a sales tool regarding the importance of selecting and using persuasive language to increase consumer satisfaction and loyalty. Using a descriptive qualitative method with non-participatory observation, data was collected from live streaming videos of Delta Hesti TikTok sales account. The results of the analysis show that there are two types of persuasive language styles used, namely language style based on sentence structure, namely repetition, and language style based on the indirectness of meaning, namely hyperbole and metonymy. The most dominant language style found is repetition.