Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN AGRESIVITAS YANG DIMEDIASI STRES OPERASIONAL PADA ANGGOTA PENGENDALIAN MASSA Fitria, Ade Ratri; Pertiwi, Yuarini Wahyu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6361

Abstract

This study examines the relationship between workload, operational stress, and aggressiveness in members of Mass Control (Dalmas). Adopting a quantitative approach, this study involved 125 male respondents from the Dalmas unit of Polda X, with the majority aged 17-25 years and less than five years of service. Data were collected using psychological scale questionnaires, namely the Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) for aggressiveness, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) for operational stress, and NASA TLX for workload. Data analysis was conducted using JASP software, with Spearman's rho correlation test and bootstrapping mediation test because the data were not normally distributed. The research findings show a significant positive relationship between workload and aggressiveness, both directly and indirectly through operational stress as a partial mediator. An increase in workload directly correlates with an increase in the level of aggressiveness of Dalmas members. Although operational stress mediated this relationship, the direct effect of workload on aggressiveness was found to be more dominant. These findings indicate that the intense physical and emotional stress of Dalmas duties can trigger fatigue and lower emotion regulation abilities, which in turn contribute to aggressive behavior. However, the research also suggests that stress is not always negative and can promote self-control if managed well. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji hubungan antara beban kerja, stres operasional, dan agresivitas pada anggota Pengendalian Massa (Dalmas). Mengadopsi pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 125 responden laki-laki dari unit Dalmas Polda X, dengan mayoritas berusia 17-25 tahun dan masa kerja kurang dari lima tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala psikologi, yaitu Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) untuk agresivitas, Police Stress Questionnaire Operational (PSQ-OP) untuk stres operasional, dan NASA TLX untuk beban kerja. Analisis data dilakukan menggunakan software JASP, dengan uji korelasi Spearman's rho dan uji mediasi bootstrapping karena data tidak berdistribusi normal. Temuan penelitian memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dengan agresivitas, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui stres operasional sebagai mediator parsial. Peningkatan beban kerja secara langsung berkorelasi dengan peningkatan tingkat agresivitas anggota Dalmas. Meskipun stres operasional memediasi hubungan ini, hubungan langsung beban kerja dengan agresivitas ditemukan lebih dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tekanan fisik dan emosional yang intens dalam tugas Dalmas dapat memicu kelelahan dan menurunkan kemampuan regulasi emosi, yang pada akhirnya berkontribusi pada perilaku agresif. Namun, penelitian juga mengemukakan bahwa stres tidak selalu berdampak negatif dan dapat mendorong pengendalian diri jika dikelola dengan baik.
THE ROLE OF SOCIAL CONTROL AND OPTIMIZATION OF JUSTICE POLICY RESTORATIVE ON JUVENILE OFFENDING Pertiwi, Yuarini Wahyu; Saimima, Ika Dewi Sartika
Jurnal Hukum dan Peradilan Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25216/jhp.11.1.2022.109-133

Abstract

The West Java Child Special Penitentiary (LPKA) noted that in 2020 there were 241 juvenile detainees and 429 juvenile prisoners. Criminal behaviour in children is related to low social control such as attachment, responsibility, involvement, and the belief that the higher the social control, the lower the possibility of a child violating the law. The main issue in the settlement of juvenile criminal cases is the criminal justice system that does not take sides with children because the handling in this system has not implemented a restorative justice policy. Children who commit crimes ideally need to be returned to their original condition, not just punished for their actions. In fact, data on juvenile detainees and juvenile prisoners show an indication of suboptimal restorative justice policies. The purpose of this study was to determine the role of social control over children as perpetrators of criminal acts and to determine the policy of restorative justice in the process of resolving cases. This research is a descriptive study, using qualitative data analysis techniques with normative and empirical juridical approaches. The research subjects were 22 juvenile prisoners and detainees in one of the Penitentiaries of the West Java region. The results of the study indicate that social control plays a role in children as perpetrators of criminal acts, as well as the settlement of child criminal cases based on restorative justice policies, is not optimal. There are many diversion failures and a fairly high percentage of prison sentences that should be a last resort. There is also a large public stigma against the statement that children who violate the law should be imprisoned. On the other hand, trauma due to the examination process, prison life, and stereotypes as ex-convicts will greatly affect the psychological function of children. This can lead to low self-confidence, feeling worthless, and becoming the cause of recidivists because they feel unforgivable even though they have served their sentence.
TIPOLOGI WHITE COLLAR CRIME DI INDONESIA: PENDEKATAN PSIKOLOGI Sinaga, Okta Eliza; Wardani , Kusuma; Florence , Rahel Laura; Pertiwi, Yuarini Wahyu
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 3 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

White Collar Crime atau Kejahatan Kerah Putih adalah kejadian yang terus menerus berulang di berbagai negara, khususnya di Indonesia. White Collar di Indonesia mengarah pada serangkaian suatu perilaku kriminal yang dilakukan oleh seorang atau anggota dengan latar belakang seorang yang profesional terhadap suatu hal atau ekonomi tinggi, seperti pejabat, pengusaha, atau eksekutif perusahaan. Latar belakang dari adanya kejahatan ini seringkali melibatkan penyalahgunaan kepercayaan, manipulasi informasi, korupsi, pencucian uang, dan pelanggaran hukum lainnya yang berkaitan dengan keuangan. Di Indonesia, fenomena White Collar Crime memerlukan perhatian serius dan upaya bersama dari pemerintah, lembaga penegak hukum, sektor swasta, dan masyarakat untuk mencegah dan menegakkan keadilan. White Collar Crime mempunyai hubungan erat dengan tipologi terorisme karena kejahatan tersebut dilakukan dengan melakukan korupsi, kecurangan, dan penipuan yang merugikan masyarakat maupun negara. Adapun suatu artikel ini dibuat dengan maksud dan tujuannya ialah untuk menganalisa lebih mendalam mengenai tipologi kejahatan serta menjelaskan profil psikologis dari pelaku Kejahatan Kerah Putih. Suatu pendekatan yang digunakan dalam artikel yang dibuat ini adalah dengan metode literature review dengan metode pengumpulan tinjauan pustaka, membaca dan mencatat hasil penelitian terlebih dahulu, serta memperoleh data penelitian secara objektif, sistematis, analitis, dan kritis tentang tipologi kejahatan dan solusi untuk memberantas White Collar Crime. Dengan pemahaman yang mendalam mengenai tipologi kejahatan serta implementasi solusi yang tepat, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari White Collar Crime dan menciptakan lingkungan yang lebih adil dan berintegritas.
DAMPAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK Hidayat, Taufik; Pramesty, Jihan Adira; Kusuma, Pande Ketut Gitta; Fadhillah, Achmad; Pertiwi, Yuarini Wahyu
Afeksi: Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 3 (2024): Afeksi: Jurnal Psikologi
Publisher : Afeksi: Jurnal Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/afeksi.v3i3.2004

Abstract

Kekerasan sendiri merupakan suatu perbuatan ataupun tindakan fisik secara sengaja yang merugikan orang lain baik secara fisik maupun psikologis. Kekerasan dalam rumah tangga seringkali melibatkan anak yang ikut terseret sehingga menjadi korban kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam apa saja dampak yang terjadi kepada anak yang mengalami kekerasan didalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur kuallitatif dengan sumber data yang berasal dari kajian – kajian terdahulu. Didapatkan 10 jurnal utama yang berasal dari platform Google Scholar, Sciencedirect, dan Pubmed yang membahas dampak psikologis anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Stres, cemas, maupun trauma menjadi beberapa dampak yang dominan terjadi kepada anak – anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Efek Tayangan Demonstrasi Sebagai Stimulus Untuk Pengaruhi Aktivitas Denyut Jantung Sebagai Representasi Reaksi Kemarahan Hutahaean, Erik Saut H; Pertiwi, Yuarini Wahyu; Dayita Pohan , Hema; Perdini, Tiara Anggita; Bastoro, Ryan
Jurnal Kajian Ilmiah Vol. 21 No. 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Publikasi (LPPMP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.029 KB) | DOI: 10.31599/jki.v21i2.572

Abstract

Abstract Heart rate is an indicator to see mental activity in humans. Anger is a mental activity that has been investigated in many previous studies. There have been uses of impressions as a stimulus, but not yet in 360 format (virtual reality). This study is a preliminary study to determine the impact of demonstration impressions on heart rate activity. Impressions are made in two forms; Riot demonstrations and peaceful demonstrations, which were given to the subjects using the Virtual Reality Box. A total of 40 subjects were involved to reject their heartbeats and were given the intervention of broadcast 1 for riot demonstration and broadcast 2 for peace. Heart rate is measured through the blood flow read by a sensor bracelet, to further differentiate heart rate differences that occur in subjects. The results of the observation analysis found that there was a difference in the subject's heart rate when given 1 and 2 impressions. The results of comparative trials have proven that demonstration impressions can have an impact on different heart rates when compared to peaceful demonstrations. Keywords: Anger, Demonstrations, Heart Rate, Impressions Abstrak Denyut jantung menjadi indikator untuk melihat aktivitas mental pada manusia. Kemarahan merupakan aktivitas mental yang banyak dipelajari pada penelitian yang sebelumnya. Penggunaan tayangan sebagai stimulus sudah pernah ada yang melakukannya, tetapi format tayangannya belum dalam format 360 (virtual realitiy). Studi ini merupakan kajian awal untuk menggali dampak tayangan demontrasi terhadap aktivitas denyut jantung. Tayangan dibuat dalam dua bentuk; demontrasi rusuh dan demontrasi damai, yang diberikan kepada subjek dengan menggunakan Virtual Reality Box. Sebanyak 40 subjek dilibatkan untuk diukur denyut jantungnya dan diberikan intervensi tayangan 1 untuk demontrasi rusuh serta tayangan 2 untuk demonstrasi damai. Denyut jantung diukur melalui aliran darah yang terbaca oleh sensor wristband, untuk selanjutnya diperiksa perbedaan-perbedaan heart rate yang terjadi pada subjek. Hasil analisis pengamatan mendapatkan adanya perbedaan heart rate pada subjek saat diberikan tayangan 1 dan diberikan tayangan 2. Hasil hitung uji perbandingan berhasil membuktikan bahwa tayangan demontrasi rusuh dapat berdampak kepada heart rate secara berbeda ketika dibandingkan dengan demontrasi yang damai. Kata kunci: Kemarahan, Demontrasi, Heart Rate, Tayangan
Rasa Aman Sebagai Prediktor Kepercayaan Masyarakat dengan Hadirnya Polisi Febrieta, Ditta; Pertiwi, Yuarini Wahyu
Mediapsi Vol 4 No 2 (2018): DECEMBER
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2018.004.02.2

Abstract

The spread of information or people’s direct experience with police will affect police image, either negative or positive. Unpleasant police behavior can cause distrust among people who are perceiving that police should act with good governance characteristics, with their main responsibility to protect and serve community. The feeling of distrust will make people feel insecured or even feared with the presence of police. This study aims to investigate the role of the sense of feeling secured to the public trust towards police presence. One hundred and fifty six participants were recruited from civil society. Scales to measure trust and the sense of feeling secured were employed to collect data from participants. This study was using quantitative approach with regression analysis technique. The results showed positive correlation between both variables, with the sense of feeling secured contributed 71 percent to the variable of public trust to police.Beredarnya informasi ataupun pengalaman yang langsung dialami masyarakat akan memberikan pengaruh terhadap citra kepolisian, baik berupa citra negatif maupun positif. Tindakan polisi yang kurang baik akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap keberadaan polisi yang semestinya memliki karakteristik good governance, dengan tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Perasaan tidak percaya tersebut akan membuat masyarakat menjadi merasa tidak aman bahkan merasa takut jika ada polisi di dekatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran rasa aman dalam memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran polisi. Subjek penelitian ini adalah masyarakat sipil berjumlah 156 orang. Skala Kepercayaan dan Skala Rasa Aman digunakan untuk mengumpulkan data. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara kedua variabel, dengan rasa aman memberikan sumbangan efektif sebesar 71 persen terhadap kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran polisi.
Co-Authors Achmad Fadhillah Afghani, Ghifazil Abu Al-Amin Amirul Muminin Anisabellita Ashim Aulia, Della Aziz Sinaga, Malim Abdul Bastoro, Ryan Dayita Pohan , Hema Dina Indriyani Erik Saut H Hutahaean, Erik Saut H Fadhillah, Achmad Fajriah, Alfira Husnia Farida Novitasari Febrieta, Ditta Fitria, Ade Ratri Florence , Rahel Laura Gina, Fathana Hannafiani, Hannafiani Hariko, Rezki Hema Dayita Pohan Hema Dayita Pohan Indrawati, Erdina Ismail Ismail Jansa, Siti Nabila Jihan Adira Pramesty Katherine Valenciana Kusuma Wardani Kusuma, Pande Ketut Gitta Luthfi Nabillah, Jihan Maemun, Hafidz Fadzil Miranu Triantoro Muminin, Amirul Muzzamil, Ferdy Nasution, MHD Kharisma Fikri Netrawati, Netrawati Neviyarni, Neviyarni Novitasari , Farida Novitasari, Farida Nuraini, Vivi Meida Nurfitriani, Aisyah Okta Eliza Sinaga Oktian, Nur Alim Reza Pande Ketut Gitta Kusuma Perdini, Tiara Anggita Permadi, Fridya Rizkyaputri Permatasari, Wahyuning Tyas Pohan, Hema Dayita Pramesty, Jihan Adira Putri , Rizki Amalia P Rahel Laura Florence Rijal Abdillah Rizki Amalia P Putri Ryan Bastoro Ryan Bastoro Saimima, Ika Dewi Sartika Saputra, Farhan Saputra, Raihan Saputri, Desi Eka Sari, Elen Nofita Sinaga, Okta Eliza Sintha, Juwita Mutiara Surya , Maulana Syafebti, Dita Tarisa Trihandayani Taufik Hidayat Taufik Hidayat Thamrin, Djuni Tiara Anggita Perdini Tiara Anggita Perdini Tiara Anggita Perdini Tiara Anggita Perdini Tiara Anggita Perdini Utami, Lisa Dewi Wahyudi, M Luthfi Wardani , Kusuma Wijaya, Catherine Putri Yulia Fitriani, Yulia