Articles
Penerapan Model Beneish (1999) dan Model Altman (2000) dalam Pendeteksian Kecurangan Laporan Keuangan
Kartikasari, Rima Novi;
Irianto, Gugus
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 1, No 2 (2010): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (818.128 KB)
Financial fraud is costly and it can be done by almost everyone within (and outside of) an organization. Prevention through early detection of fraud is an important way to reduce fraud. The objective of this research is to prove whether certain models may be utilized to detect financial statement fraud. This study is using Beneishâs (1999) and Altman (2000) models to detect financial statement fraud. Two selected samples that meet with pre-determined criterion have been selected and explored. The result of the study shows that those models can be used to detect financial statement fraud.
Konsep Harga Jual Kejujuran: Meraih Keuntungan Menggapai Kemaslahatan
Alimuddin, Alimuddin;
Triyuwono, Iwan;
Irianto, Gugus;
Chandrarin, Grahita
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 2, No 1 (2011): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (536.685 KB)
Honesty Based Selling Price Concept: Achieving Gain Reaching Goodness. This article aims to reconstruct honesty-based selling price concept in Islam. The research involved owners and management of YDT, Kopontren DT in Bandung, Charniâs Productions in Yogyakarta, as well as Kedai Assalamuâalaikum and Bismillah Restaurant in Malang. Analysis was conducted by using bayani, burhani and irfani epistemology. Honesty-based selling price concept could be classified as cost-plus pricing consistency, conditioned market mechanism, and balanced/equibrium market mechanism according to bayani, burhani and irfani epistemology respectively. Generally, honesty-based selling price concept in Islam is consistency market mechanism which is the determination of price at the very beginning until the complete consumption of products. Konsep Harga Jual Kejujuran: Meraih Keuntungan Menggapai Kemaslahatan. Makalah ini bertujuan menyusun konsep harga jual berbasis nilai kejujuran dalam Islam. Penelitian dilakukan pada pemilik dan manajemen YDT dan Kopontren DT di Bandung, Charniâs Productions di Yogyakarta, serta Kedai Assalamuâalaikum dan rumah makan Bismillah di Malang. Analisis dilakukan dengan menggunakan epistemologi bayani, burhani, dan irfani. Konsep harga jual berbasis nilai kejujuran dapat diklasifikasikan menjadi consistency cost-plus pricing, mekanisme pasar bersyarat serta mekanisme pasar keseimbangan dari epistemologi bayani, burhani dan irfani. Secara umum konsep harga jual berbasis nilai kejujuran di dalam Islam adalah consistency market mechanism, yaitu suatu konsep penetapan harga jual secara konsisten melalui mekanisme pasar sejak dari awal penetapan harganya hingga produk tersebut habis terjual.
Nilai-Nilai Konvensional dalam Implementasi Sistem Pengendalian Internal Pada Pembiayaan Musyarakah: Sebuah Studi Fenomenologi
Putriandini, Silviana;
Irianto, Gugus
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1240.706 KB)
Abstract: Conventional Values on Internal Control Sistem Implementation of Musyarakah Financing: A Phenomenology Study. This study aims to reveal the values ââcontained in the internal control system implementation of musharakah financing in syariah banking. The research took place in BRI Syariah, Malang. This research is a qualitative research that uses a phenomenological approach. The result shows that the conventional values are still inherent in the Musharakah financing which is syariah banking product. There are three conventional values found: unbelief (suudzon), vigilance, and dishonesty (lies). These values are (still) present because of the desire of banks to achieve maximum profit (profit oriented). Abstrak: Nilai-Nilai Konvensional dalam Implementasi Sistem Pengendalian Internal Pada Pembiayaan Musyarakah: Sebuah Studi Fenomenologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung dalam sistem pengendalian internal pada pembiayaan musyarakah di perbankan syariah. Penelitian ini dilakukan di BRI Syariah Cabang Malang. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai konvensional (masih) melekat pada pembiayaan musyarakah yang berbasis syariah. Nilai-nilai konvensional tersebut yaitu nilai ketidakpercayaan (suâudzon), nilai kewaspadaan dan nilai ketidakjujuran. (Masih) melekatnya ketiga nilai tersebut disebabkan oleh keinginan bank untuk mencapai laba maksimal (profit oriented).
SYSTEM-DRIVEN (UN) FRAUD: TAFSIR APARATUR TERHADAP âSISI GELAPâ PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Setiawan, Achdiar Redy;
Irianto, Gugus;
Achsin, Mohammad
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 4, No 1 (2013): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1319.616 KB)
Abstract: System-Driven (Un)Fraud: Actorâs Meaning of the âDark Sideâ of Local Government Financial Management. The purpose of this study is to uncover the actual practices of local government financial management in the smallest scope, namely SKPD (local government work units). This research focuses on the meaning of âthe dark sideâ(a reality which stands behind the formal procedures and documentation that are displayed) from the actors who are government apparatus. Hermeneutics Gadamerian was chosen as the research methodology. Traces of "fraud" pivots on what is termed "Dana Taktisâ. Actors interpreted the mechanism of "Dana Taktis" not as a form of fraud. This was based on the fact that existing internal procedures of âDana Taktisâ practices on SKPD was not hidden. All parties recognnised each other as parts ofa system. We name this phenomena as âsystem-driven (un) fraudâ.Abstrak: System-Driven (Un)Fraud: Tafsir Aparatur terhadap âSisi GelapâPengelolaan Keuangan Daerah. Tujuan penelitian ini pada mulanya adalahuntuk menyingkap laku aktual pada entitas terkecil, yaitu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Berikutnya, penelitian ini difokuskan untuk menggali makna âsisi gelapâ (realitas yang bersembunyi di balik prosedur dan dokumentasi formal yang tertampakkan) dari para aktor aparatur. Hermeneutika Gadamerian dipilih sebagai metodologi penelitian. Jejak âfraudâ berpusat pada apa yang diistilahkan aktor sebagai âDana Taktisâ. Aktor memaknai âDana Taktisâ bukanlah bentuk âfraudâ sepenuhnya. Hal ini dilandasi fakta bahwa mekanisme âDana Taktisâ bukanlah sebuah praktik yang tersembunyi. Seluruh pihak yang terkait saling mengetahui satu sama lain. Inilah yang kami namakan âsystem-driven un(fraud)â
AKUNTABILITAS PERPULUHAN GEREJA
Patty, Agustina Christina;
Irianto, Gugus
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 4, No 2 (2013): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (386.645 KB)
Abstract: The church tithe accountability. The purpose of this research is to seek the meaning of perpuluhan accountability by GPM Bethel Allang congregation. This research use Husserlâs transcendental phenomenology. The finding of this research is the existence of eight sense accountability dimension by congregation of GPM Bethel Allang, that is: perpuluhan accountability perpuluhan as belong to God, perpuluhan accountability as sign of confession, perpuluhan accountability as care and humble, perpuluha.Abstrak: Akuntabilitas Perpuluhan Gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari makna akuntabilitas perpuluhan oleh jemaat GPM Bethel Allang. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi transendental Husserl. Hasil analisis menemukan adanya delapan dimensi pemaknaan akuntabilitas oleh jemaat GPM BETHEL Allang yaitu: akuntabilitas perpuluhan sebagai milik Tuhan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda pengakuan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda kasih dan kemurahan hati, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda iman dan kepercayaan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab diri terhadap gereja, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab sosial terhadap orang-orang yang membutuhkan. Hasilnya, realita perpuluhan yang terjadi di jemaat GPM BETHEL Allang dipenuhi dengan berbagai persepsi yang melekat pada pemikiran anggota jemaat.
âKAMUFLASEâ DALAM PRAKTIK ROTASI AUDITOR
Irianto, Gugus;
Novianti, Nurlita;
Wulandari, Putu Prima
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 5, No 3 (2014): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (539.751 KB)
Abstrak: âKamuflaseâ dalam Praktik Rotasi Auditor. Penelitian ini bertujuan menemukan makna praktikrotasi auditor dari perspektif auditor. Melalui metode fenomenologi transendental Husserl, ditemukan bahwa rotasi auditor memiliki tujuan mulia di antaranya untuk menjaga dan meningkatkan independensi auditor, kualitas audit, sharing knowledge and profit, serta mencegah terjadinya kolusi antara auditor dengan klien. Di sisi lain, adanya ketergantungan ekonomik auditor pada klien mengakibatkan adanya praktik âkamuflaseâ dalam menyikapi regulasi tentang rotasi auditor, di antaranya melalui praktik ârotasi auditor semuâ dan praktik âreinkarnasiâ kantor akuntan publik. Diperlukan aturan yang lebih membumi dan kesadaran etika auditor dan auditee par excellence terkait rotasi auditor. Abstract: The âcamouflageâ in Auditor Rotation Practice. This study aims to reveal the meaning of auditor rotation practices from the perspective of the auditor. By employing Husserlâs transcendental phenomenology, this study indicates that auditor rotation has been understood as having noble objectives which are to maintain auditorsâ independence, to secure and improve quality audit, to share knowledge and profit, and to prevent collusion between auditors and their clients. On the other hand, auditorsâ economic dependence on the client results in âcamouflageâ auditor rotation practices, including âpseudo auditor rotationâ and âreincarnationâ of public accounting firm. Mundane rules and par excellence ethical awareness of the auditors and auditees are needed concerning auditor rotation.
FENOMENOLOGI KONVENSIONAL DALAM IMPLEMENTASI SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA PEMBIAYAAN MUSYARAKAH
Silviana Putriandini;
Gugus Irianto
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1240.706 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2012.04.7150
Abstract: Conventional Values on Internal Control Sistem Implementation of Musyarakah Financing: A Phenomenology Study. This study aims to reveal the values contained in the internal control system implementation of musharakah financing in syariah banking. The research took place in BRI Syariah, Malang. This research is a qualitative research that uses a phenomenological approach. The result shows that the conventional values are still inherent in the Musharakah financing which is syariah banking product. There are three conventional values found: unbelief (su'udzon), vigilance, and dishonesty (lies). These values are (still) present because of the desire of banks to achieve maximum profit (profit oriented). Abstrak: Nilai-Nilai Konvensional dalam Implementasi Sistem Pengendalian Internal Pada Pembiayaan Musyarakah: Sebuah Studi Fenomenologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung dalam sistem pengendalian internal pada pembiayaan musyarakah di perbankan syariah. Penelitian ini dilakukan di BRI Syariah Cabang Malang. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai konvensional (masih) melekat pada pembiayaan musyarakah yang berbasis syariah. Nilai-nilai konvensional tersebut yaitu nilai ketidakpercayaan (su’udzon), nilai kewaspadaan dan nilai ketidakjujuran. (Masih) melekatnya ketiga nilai tersebut disebabkan oleh keinginan bank untuk mencapai laba maksimal (profit oriented).
AKUNTABILITAS PERPULUHAN GEREJA
Agustina Christina Patty;
Gugus Irianto
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 4, No 2 (2013): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (386.645 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2013.08.7191
Abstract: The church tithe accountability. The purpose of this research is to seek the meaning of perpuluhan accountability by GPM Bethel Allang congregation. This research use Husserl’s transcendental phenomenology. The finding of this research is the existence of eight sense accountability dimension by congregation of GPM Bethel Allang, that is: perpuluhan accountability perpuluhan as belong to God, perpuluhan accountability as sign of confession, perpuluhan accountability as care and humble, perpuluha.Abstrak: Akuntabilitas Perpuluhan Gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari makna akuntabilitas perpuluhan oleh jemaat GPM Bethel Allang. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi transendental Husserl. Hasil analisis menemukan adanya delapan dimensi pemaknaan akuntabilitas oleh jemaat GPM BETHEL Allang yaitu: akuntabilitas perpuluhan sebagai milik Tuhan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda pengakuan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda kasih dan kemurahan hati, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanda iman dan kepercayaan, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab diri terhadap gereja, akuntabilitas perpuluhan sebagai tanggung jawab sosial terhadap orang-orang yang membutuhkan. Hasilnya, realita perpuluhan yang terjadi di jemaat GPM BETHEL Allang dipenuhi dengan berbagai persepsi yang melekat pada pemikiran anggota jemaat.
SYSTEM-DRIVEN (UN) FRAUD: TAFSIR APARATUR TERHADAP “SISI GELAP” PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Achdiar Redy Setiawan;
Gugus Irianto;
M Achsin
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 4, No 1 (2013): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1319.616 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2013.04.7184
Abstract: System-Driven (Un)Fraud: Actor’s Meaning of the “Dark Side” of Local Government Financial Management. The purpose of this study is to uncover the actual practices of local government financial management in the smallest scope, namely SKPD (local government work units). This research focuses on the meaning of “the dark side”(a reality which stands behind the formal procedures and documentation that are displayed) from the actors who are government apparatus. Hermeneutics Gadamerian was chosen as the research methodology. Traces of "fraud" pivots on what is termed "Dana Taktis”. Actors interpreted the mechanism of "Dana Taktis" not as a form of fraud. This was based on the fact that existing internal procedures of “Dana Taktis” practices on SKPD was not hidden. All parties recognnised each other as parts ofa system. We name this phenomena as “system-driven (un) fraud”.Abstrak: System-Driven (Un)Fraud: Tafsir Aparatur terhadap “Sisi Gelap” Pengelolaan Keuangan Daerah. Tujuan penelitian ini pada mulanya adalah untuk menyingkap laku aktual pada entitas terkecil, yaitu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Berikutnya, penelitian ini difokuskan untuk menggali makna “sisi gelap” (realitas yang bersembunyi di balik prosedur dan dokumentasi formal yang tertampakkan) dari para aktor aparatur. Hermeneutika Gadamerian dipilih sebagai metodologi penelitian. Jejak “fraud” berpusat pada apa yang diistilahkan aktor sebagai “Dana Taktis”. Aktor memaknai “Dana Taktis” bukanlah bentuk “fraud” sepenuhnya. Hal ini dilandasi fakta bahwa mekanisme “Dana Taktis” bukanlah sebuah praktik yang tersembunyi. Seluruh pihak yang terkait saling mengetahui satu sama lain. Inilah yang kami namakan “system-driven un(fraud)”
“KAMUFLASE” DALAM PRAKTIK ROTASI AUDITOR
Gugus Irianto;
Nurlita Novianti;
Putu Prima Wulandari
Jurnal Akuntansi Multiparadigma Vol 5, No 3 (2014): Jurnal Akuntansi Multiparadigma
Publisher : Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (539.751 KB)
|
DOI: 10.18202/jamal.2014.12.5029
Abstrak: “Kamuflase” dalam Praktik Rotasi Auditor. Penelitian ini bertujuan menemukan makna praktikrotasi auditor dari perspektif auditor. Melalui metode fenomenologi transendental Husserl, ditemukan bahwa rotasi auditor memiliki tujuan mulia di antaranya untuk menjaga dan meningkatkan independensi auditor, kualitas audit, sharing knowledge and profit, serta mencegah terjadinya kolusi antara auditor dengan klien. Di sisi lain, adanya ketergantungan ekonomik auditor pada klien mengakibatkan adanya praktik “kamuflase” dalam menyikapi regulasi tentang rotasi auditor, di antaranya melalui praktik “rotasi auditor semu” dan praktik “reinkarnasi” kantor akuntan publik. Diperlukan aturan yang lebih membumi dan kesadaran etika auditor dan auditee par excellence terkait rotasi auditor. Abstract: The “camouflage” in Auditor Rotation Practice. This study aims to reveal the meaning of auditor rotation practices from the perspective of the auditor. By employing Husserl’s transcendental phenomenology, this study indicates that auditor rotation has been understood as having noble objectives which are to maintain auditors’ independence, to secure and improve quality audit, to share knowledge and profit, and to prevent collusion between auditors and their clients. On the other hand, auditors’ economic dependence on the client results in “camouflage” auditor rotation practices, including “pseudo auditor rotation” and “reincarnation” of public accounting firm. Mundane rules and par excellence ethical awareness of the auditors and auditees are needed concerning auditor rotation.