Claim Missing Document
Check
Articles

The Effectiveness of Entomopathogenic Nematode Steinernema spp. on Mortality of Lepidiota stigma F. (Coleoptera: Scarabaeidae) Toto - Sunarto; Aep Wawan Irwan
CROPSAVER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.141 KB) | DOI: 10.24198/cropsaver.v2i2.23947

Abstract

Integrated Pest Management (IPM) is an alternative way to reduce use of synthetic pesticides.  One of them is using the natural enemy of insect pests, such as predatory insects, parasitoid, and entomopathogenic nematodes. So far the control of Lepidiota stigma F. in sweet potatoes carried out with synthetic insecticides that has negative impact to the environment.  Another alternative of L. stigma control with entomopathogenic nematodes (Steinernema spp.). This study aimed to obtain Steinernema spp. concentration that effective against mortality of L. stigma larvae. This experiment was conducted at Plant Nematology Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran from Februari - August 2019. The research used was experiment method with Completely Randomized Design consisted of six treatments and five replications. The treatment were Steinernema spp. concentration of  0,  50,  100,  150,  200 IJ ml-1 of water, and Karbofuran dose of 15 kg ha-1 (0.002 g / 12.56 cm2). The results showed that Sterinernema spp. has an effect on mortality of Lepidiota stigma larvae at 24 HAA (Hours After Application) and 48 HAA.  Steinernema spp. at  concentration of 150 IJ ml-1 capable effectively causing the mortality of Lepidiota stigma larvae of 68% at 48 HAA.
Inisiasi budidaya padi hitam untuk produksi produk pangan eksklusif di desa Cileles kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang Fiky Yulianto Wicaksono; Yudithia Maxiselly; Aep Wawan Irwan; Tati Nurmala
Dharmakarya Vol 7, No 3 (2018): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v7i3.19459

Abstract

Desa Cileles berada di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Desa Cileles memiliki wilayah seluas 320 Ha, dengan fungsi tata guna lahan untuk lahan pertanian sebesar 55% dan sisanya merupakan lahan pemukiman dan fasilitas umum. Sebagian besar profesi penduduk desa Cileles adalah petani dan buruh tani. Permasalahan pertanian yang ada di desa Cileles adalah petani hanya membudidayakan tanaman yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu solusi untuk memecahkan masalah ketiadaan produk bernilai ekonomi tinggi namun masih bisa dikonsumsi sehari-hari adalah dengan mengenalkan budidaya padi/beras hitam. Padi hitam merupakan padi lokal yang mengandung pigmen antosianin yang paling baik sehingga termasuk ke dalam pangan fungsional. Beras hitam juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pengenalan tanaman padi hitam dan teknologi budidayanya di Desa Cileles memiliki tujuan mensosialisasikan tanaman padi hitam di masyarakat agar masyarakat tertarik mengembangkannya. Sosialisasi ini menggunakan metode penyuluhan dan pembuatan demplot partisipatif pada para petani. Keberhasilan metode Pengabdian kepada Masyarakat yang dijalankan dapat diketahui dari kuesioner yang dibagikan pada peserta penyuluhan. Penyuluhan budidaya dan pascapanen padi hitam yang baik disertai pembuatan petak demonstrasi menimbulkan respons yang baik dari petani. Hal ini dapat dilihat dari pengetahuan petani terhadap padi hitam yang meningkat, keinginan masyarakat yang tinggi untuk membudidayakan padi hitam, serta masyarakat antusias untuk memasarkan sendiri produk padi hitam.Kata kunci: Jatinangor, Padi hitam, Pangan fungsional
Pengaruh Pupuk NPK dan Pupuk Hayati BPF Terhadap Karakter Pertumbuhan dan Hasil Empat Genotip Hanjeli (Coix lacryma jobi L.) (The Effect of NPK Fertilizer and Biofertilizer BPF on Growth Character and Yield of Four Genotypes Cereal Grains (Coix Lacryma jobi L.)) Warid Ali Qosim; Tati Nurmala; Aep Wawan Irwan; Martha C. Damanik
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i2.83

Abstract

Tanaman hanjeli (Coix lacryma jobi L.) merupakan salah satu tanaman serealia potensial sebagai bahan pangan (karbohidrat) berbasis tepung. Untuk menunjang ekspresi genetik plasma nutfah hanjeli berdaya hasil dan kandungan lemak tinggi diperlukan kondisi lingkungan yang optimal. Salah satunyaadalah ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Tujuan penelitian adalah menghasilkan genotip hanjeli yang berdaya hasil tinggi dan informasi jenis dan dosis pupuk yang optimal dalam mendukung potensi genetik hanjeli berdaya hasil tinggi. Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Novembar 2012 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad Kampus Jatinangor, Sumedang dengan ketinggian 799 m dpl. Percobaan ditata dalam Rancangan Acak Kelompok dengan dua ulangan. Perlakuan adalah kombinasi genotip hanjeli dan pupuk. Genotip hanjeli, yaitu: #Acc 26 (G1); #Acc 28 (G2); #Acc 37 (G3); #Acc 38 (G4), sedangkan kombinasi pupuk hayati BPF (Bakteri Pelarut Fosfat) dan pupuk NPK, yaitu: pupuk NPK dosis 0 kg/ha (Po); pupuk NPK dosis 300 kg/ha (P1); pupuk NPK dosis 300 kg/ha + BPF (P2); pupuk NPK dosis 200 kg/ha + BPF (P3); pupuk NPK dosis 150 kg/ha + BPF(P4). Data diolah menggunakan uji-F pada taraf 5 persen. Untuk mengetahui tingkat perbedaan karakter yang diamati dilaksanakan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip #Acc 26, #Acc 28, #Acc 37, #Acc 38 memiliki penampilan yang bervariatif akibat dari perlakuan jenis dan dosis pupuk untuk karakter jumlah buku, jumlah dan bobot biji per tanaman, bobot 100 biji dan untuk karakter jumlah biji, bobot biji per tanaman dan bobot biji per plot. Pengaruh perlakuan dosis pupuk NPK 300 kg/ha + BPF dan NPK 200 kg/ha + BPF memberikan perlakuan lebih baik pada genotip #Acc 37 dan #Acc 38 terutama untuk karakter jumlah biji per tanaman dan bobot biji per plot.Job’s tear (Coix lacryma jobi L.) is one of potential cereal crops as flour-based food carbohydrate source. To support the expression of genetic germplasm of Job’s tear with high yielding and fat contents requires optimal environmental conditions, such as availability of nutrient in the soil. The objective of this study was to determine the optimum effect of various NPK and biofertilizer PSB (Phosphate-solubilizing bacteria) doses in supporting the growth and characters of job’s tears with high yielding. The experiment was carried out from March to November 2012 at experimental station of Faculty of Agriculture UNPAD Jatinangor Campus (799 m asl). The experiment was arranged in completly randomized block design with two replications, and with the combination of genotypes and various of NPK doses and biofertilizer PSB. Genotypes of job’s tears were. #Acc 26 (G1); #Acc 28 (G2); #Acc 37 (G3); #Acc 38 (G4), while various NPK doses and biofertilizer PSB were 0 kg/ha (Po); NPK doses of 300 kg/ha (P1); NPK doses of 300 kg/ha + PSB (P2); NPK doses of 200 kg/ha + PSB(P3); NPK doses of 150 kg/ha + PSB (P4). The data were the analyzed using F-test at 5 percent level and Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5 percent level. The results showed that these treatments affected the growth and yield characters of four Job’s tears. Genotypes of #Acc 26, #Acc 28, #Acc 37, #Acc 38 gave the best effect on the number of nodes, number and weight of grain per plant and plot. Application of NPK 300 kg/ha + PSB 2 and NPK 200 kg/ha+ PSB gave the best effect on genotypes #Acc 37 and #Acc 38, especially on the characters of number of grain per plant and weight grain per plot.  
Karakterisasi dan Kekerabatan 23 Genotip Jawawut (Setaria italica L. Beauv) yang Ditanam Tumpangsari dengan Ubi Jalar Berdasarkan Karakter (Agromorfologi Characterization and Relationship of 23 Foxtail Millet (Setaria italica L. Beauv) Genotypes Intercropped With Sweet Potato Based on Agromorphological Traits) Warid Ali Qosim; Alan Randall; Yuyun Yuwariah; Anne Nuraini; Tati Nurmala; Aep Wawan Irwan
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i1.303

Abstract

Diversifikasi pangan lokal merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis pangan akibat pertambahan jumlah penduduk di Indonesia setiap tahun. Produksi dan pengembangan jawawut di Indonesia masih tergolong rendah karena terbatas oleh ketersediaan lahan. Tumpangsari merupakan praktek pertanian berkelanjutan dan alternatif dalam pengembangan jawawut di Indonesia. Namun, sistem tanam tumpangsari dapat menyebabkan kompetisi antar tanaman. Strategi untuk mengurangi tingkat kompetisi antar tanaman dapat dilakukan dengan penanaman dua jenis tanaman yang mempunyai morfologi, perakaran dan umur panen yang berbeda. Budidaya jawawut dan ubi jalar tidak membutuhkan irigasi. Berdasarkan informasi tersebut, jawawut dan ubi jalar dapat dibudidayakan secara tumpangsari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter agromorfologi yang memberikan kontribusi yang nyata terhadap keragaman 23 genotip jawawut yang ditanam secara tumpangsari dengan ubi jalar. Hasil penelitian menunjukkan koefisien ketidakmiripan yang terbentuk di antara 23 genotip jawawut yang diamati karakter agromorfologinya yaitu berkisar antara 0,24 - 2,34, dan membagi dua klaster utama, yaitu klaster A dan B. Karakter tinggi tanaman 14 hst, 28 hst, 42 hst dan 56 hst, jumlah daun 14 hst dan 42 hst, indeks luas daun 49 hst dan umur panen merupakan karakter yang memberikan kontribusi terhadap keragaman paling tinggi yaitu sebesar 46,82 persen.Local food diversification is one of attempt to anticipate food crisis due to population growth in Indonesia every year. Production and development of millet in Indonesia is still relatively low because it is limited by the availability of land. Intercropping is sustainable and alternative farming practices in the development of millet in Indonesia. However, intercropping system may be occur competition between plants. Strategies to reduce the level of competition between plants by planting two types of plants which have different morphology, root and harvesting time. Cultivation of millet and sweet potatoes do not require irrigation. Based on the information millet and sweet potatoes can be cultivated intercropped. The purpose of this study was to determine the agromorplogical traits which make a significant contribution to the diversity of 23 genotypes of millet were planted with sweet potatoes. Result showed that dissimilarity coefficient between 23 genotypes of millet were 0,24 to 2,34, and split two main clusters, cluster A and B. Plant height at 14 DAP, 28 DAP, 42 and 56 DAP, leaf number at 14 DAP and 42 DAP, leaf area index at 49 DAP and harvesting time were the highest character which contributes to the diversity, 46,82 percent. 
Pertumbuhan dan Hasil Jagung Hibrida pada Pola Tanam Tumpangsari dengan Kedelai di Arjasari Kabupaten Bandung Yuyun Yuwariah; Aep Wawan Irwan; Muhammad Syafi'i; Dedi Ruswandi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.899 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i1.1169

Abstract

Jagung dan kedelai merupakan tanaman pangan terpenting setelah padi di Indonesia. Konsumsi jagung dankedelai akan terus mengalami peningkatan setiap tahun dikarenakan pertambahan jumlah penduduk. Salah satu upayauntuk meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan dengan cara tumpangsari. Sistem tumpangsari merupakansistem pertanaman dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman secara serentak pada lahan yang sama dalam waktusatu tahun. Penelitian bertujuan untuk mengetahui genotip jagung hibrida yang terbaik ditumpangsarikan dengankedelai. Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret 2016 sampai bulan Agustus 2016 di Arjasari, Kabupaten Bandungdengan ketinggian tempat mencapai 960 m di atas permukaan laut. Rancangan yang digunakan dalam penelitian iniadalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 20 perlakuan dan diulang sebanyak 2 kali, denganperlakuan 18 genotip dan 2 genotip cek, terdiri dari F1B X 4.8.8, F1E X 1.1.3, F1D X 3.1.4, F1F X G203, F1A X 4.8.8,,F1E X 3.1.4, F1H X G-673, F1I X G203, F1B X 1.1.3, F1E X 3.1.4, F1C X G203-1, F1G X 16.5.15, F1D X 16.5.15,F1H X 1.1.3, F1A X 16.5.15, F1I X G673, F1G X 673, F1C X 4.8.8, Maros 1 x 2 dan Maros 11 x 12 yang masingmasingditumpangsarikan dengan tanaman kedelai. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sistem tanam tumpangsarijagung dan kedelai dapat memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagunggenotip F1F x 3.1.4, Maros 1 x 2, dan Maros 11 x 12. Perlakuan jagung hibrida genotip F1B x 1.1.3, F1B x 4.8.8, F1Cx 4.8.8, F1I x G203-1, Maros 1 x 2 dan Maros 11 x 12 yang ditumpangsarikan dengan kedelai memberikan pengaruhterbaik terhadap bobot biji pipilan kering per petak sebesar 2,60 – 3,30 kg/m2 setara dengan 5,77 – 7,34 ton/ha.Kata kunci : Jagung Hibrida, Kedelai, Tumpangsari
Pertumbuhan, hasil, dan fenologi ratun hanjeli varietas Batu pada kondisi kekeringan Putri, Yuliar Syelvia; Nurmala, Tati; Irwan, Aep Wawan; Wahyudin, Agus
Kultivasi Vol 20, No 1 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i1.26946

Abstract

Abstrak. Tanaman hanjeli (Coix lacryma-jobi) merupakan salah satu tanaman pangan lokal fungsional yang berpotensi sebagai bahan pangan, pengobatan medis, dan kerajinan. Permasalahan pada komoditas hanjeli adalah umur panen yang lama dan produktivitas rendah saat penanaman hanjeli ratun di musim kemarau. Perlakuan ratun diharapkan mampu mempersingkat pertumbuhan vegetatif hanjeli sehingga didapatkan umur panen yang genjah dan memberikan informasi mengenai frekuensi penyiraman yang tepat untuk meningkatkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan, hasil, dan fenologi hanjeli ratun var. stenocarpa. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari Februari hingga September 2019. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif augmented. Tanaman hanjeli ditanam di  kadar air tanah 60% (frekuensi penyiraman setiap hari) dan  kadar air tanah 30% (frekuensi penyiraman empat hari sekali). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada komponen pertumbuhan, hasil, dan fenologi tanaman hanjeli ratun terhadap frekuensi penyiraman berbeda. Waktu panen pada tanaman ratun lebih cepat dibandingkan tanaman utama.Kata Kunci: Fenologi, Frekuensi penyiraman, Hanjeli batu, Ratun.   Abstract. Job’s tears (Coix lacryma-jobi L.) is  local functional food that can be used for food, medical treatment and crafts. The problems are long harvest period and low productivity when cultivate Job Tear’s raton in dry season. The treatment of ratoon is expected to be able to suppress vegetative growth of the job's tears and  give information about appropriate of watering frequency to increase productivity. This research aims to study phenologycal, growth, and yield of job’s tears ratoon. The study was conducted in February 2019–September 2019 at Ciparanje Experimental Station, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, Jatinangor. This research was used descriptive method. Job’s Tears plants were cultivated in 60% of soil water content (daily watering frequency) and 30% soil water content (watering frequency every four days). The result showed there are differences of growth, yield, and phenologycal of the Job Tear’s plant to different watering frequency. Time of harvest Job Tear’s plant ratoon is faster than the main crop.Keywords: Job’s tears var Stenocarpa, Phenology, Ratoon, Watering frequency.  
Pengaruh berbagai sistem tanam terhadap fisiologi, pertumbuhan, dan hasil tiga kultivar tanaman padi di dataran medium Fadhillah, Farhan; Yuwariah, Yuyun; Irwan, Aep Wawan; Wahyudin, Agus
Kultivasi Vol 20, No 1 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i1.31532

Abstract

Abstrak. Terdapat permasalahan dan kendala produksi padi (Oryza sativa L.) seperti luas lahan yang semakin sempit juga sistem budidaya yang masih tradisional. Sawah dataran medium dapat dijadikan perluasan lahan meskipun suhu lebih rendah dibandingkan dataran rendah yang menyebabkan pertumbuhan dan hasil rendah. Perlakuan sistem tanam Legowo dengan penggunaan kultivar unggul diharapkan mampu meningkatkan hasil padi di dataran medium. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi dari sistem tanam Legowodengan benih padi kultivar unggul (Ciherang, IR64, dan Mekongga). Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2019 – Mei 2020 di lahan persawahan Bojongsoang, Kab. Bandung, Jawa Barat dengan ketinggian 662 meter di atas permukaan laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan penelitian adalah rancangan petak terbagi, yang terdiri dari dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu kultivar padi (Ciherang, IR64, dan Mekongga) sebagai petak utama, sementara faktor kedua yaitu sistem tanam (tegel, Legowo 2:1, Legowo 4:1 tipe 1, dan Legowo 4:1 tipe 2) sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan sistem jajar Legowo dan kultivar unggul padi terhadap konduktan stomata dan tinggi tanaman pada umur 6 minggu setelah tanam. Kombinasi sistem Legowo 2:1 dengan kultivar unggul Ciherang memiliki hasil paling tinggi 11,63 kg per petak atau setara dengan 9,69 ton per hektar.Kata Kunci: Ciherang, IR64, Kultivar unggul, Mekongga, Padi, Sistem tanam jajar Legowo Abstract. There are problems on rice production (Oryza sativa L.) such as decreasing land area and the traditional cultivation system. Medium land rice fields can be used as land expansion even though its temperature is lower than the lowlands which causes low growth and yields. The treatment of the row systems with the use of superior cultivars was expected to increase rice yields in medium land. This study aims to study the interaction of the row system with superior cultivar rice seeds (Ciherang, IR64, and Mekongga). The research was conducted in December 2019 - May 2020 in the Bojongsoang rice fields, Bandung, West Java with an altitude of 662 meters above sea level. The method used experimental whose design was a split plot design. The treatment consisted of two factors and three replications. The first factor was rice cultivars (Ciherang, IR64, and Mekongga) as the main plot, while the second factor was the row systems (squares, Legowo 2:1, Legowo 4:1 type 1, and Legowo 4:1 type 2) as subplots. The results showed that there was an interaction between the Legowo row system treatment and superior rice cultivars on the stomatal conductance and plant height at 6 weeks after planting. The combination of the Legowo 2:1 system with the superior cultivar of Ciherang had the best yield of 11.63 kg per plot or the equivalent of 9.69 tonnes per hectare.Keywords: Ciherang, High-yield cultivars, IR64, Jajar Legowo row system, Mekongga, Rice
The addition of phosphorus and potassium fertilizer in the generative stage of Job’s tears affects yield components, yield, and yield quality Wicaksono, Fiky Yulianto; Khairunnisa, Salma; Nurmala, Tati; Irwan, Aep Wawan
Kultivasi Vol 22, No 2 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i2.39004

Abstract

Job’s tears (Coix lacryma-jobi L.) is an indeterminate food crop that requires more than one-time application of fertilizer. This study aims to determine the effect of additional doses of phosphorus and potassium at the beginning of the generative phase as side dressing fertilization on yield components, yield, and yield quality of the Job’s tears plant. The research was conducted in dry season March - August 2021 at the Experimental Field of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran at Jatinangor, Sumedang Regency around 750 m above sea level. The experimental design used randomized block design (RBD) consisting of nine treatments and three replications, namely P and K fertilizers, respectively at doses of: 0, 20, 30, 40, and 50 kg/ha through one or two frequencies of fertilization. Data analysis used analysis of variance and Scott-Knott test at 5% significance level. The results showed that the application of phosphorus and potassium fertilizers affected the number of panicles, seed weight, and harvest index, but no one effect on other yield components and yield quality. The yield component and the Job’s tears yield were decreased compared to previous studies, which were carried out in sufficient water conditions.Keywords: Job’s tears, Drought, Phosphorus, Potassium
Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang Melalui Teknologi Budidaya Hanjeli Dalam Menunjang Diversifikasi Pangan Qosim, Warid Ali; Irwan, Aep Wawan; Anas, Anas; Wahyudin, Agus
Agrikultura Masyarakat Tani Vol 2, No 3 (2025): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrimasta.v2i3.65500

Abstract

Tanaman hanjeli salah satu tanaman serealia potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan (karbohidrat) berbasis tepung, pakan dan ornamen. Kelebihan tanaman hanjeli mudah pemeliharaanya, tahan hama dan penyakit, toleran kekeringan, dan bahan biofarmaka. Tujuan kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui teknologi budidaya hanjeli di Kelompok Tani ‘Amanah Girang’ Desa Buadua, Kecamatan Buahdua, Kabupaten  Sumedang. Kegiatan ini merupakan kegiatan pedampingan kajian tindak (action research) hasil penelitian dan difusi teknologi budidaya hanjeli. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini melibatkan penyuluhan  teknologi budidaya hanjeli, pelatihan, demonstrasi plot serta pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan  bahwa masyarakat desa khususnya petani hanjeli semakin memahami aspek teknologi budidaya tanaman  hanjeli sehingga dapat dipraktekkan dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil hanjeli. Para peserta sangat antusias dalam menerima materi tersebut, dan akan menanam benih hanjeli  1 kg yang diberikan untuk ditanam di lahan masing-masing. Diharapkan para petani   dapat  secara mandiri dalam mengelola usaha budidaya hanjeli, dengan berfokus pada budidaya hanjeli  sebagai usaha utama, sehingga  mencapai hasil yang signifikan dalam menciptakan kesejahteraan dan  kemajuan ekonomi bagi penduduk Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang.
Effectiveness of Several Concentrations of Entomopathogenic Nematode (Steinernema spp.) On Mortality of Spodoptera exigua Hub. in Onions Sunarto, Toto; Natawigena, Wahyu Daradjat; Irwan, Aep Wawan; Tyas, Widya Wening
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.46681

Abstract

Spodoptera exigua is one of the main pests that attack onion. An alternative that can be done to control onion caterpillars is by using the entomopathogenic nematode (Steinernema spp.) that environmentally friendly. This research aimed to obtain the concentration of the entomopathogenic nematode Steinernema spp. that is most effective in causing mortality of S. exigua in onion plants. The experiment was carried out from January to August 2020 at Citeureup, North Cimahi, Cimahi City West Java. The method used in this research was an experimental method with a randomized block design, consisted of six treatments and four replications.  The treatments (number of infective juvenile -IJ) were 0 IJ ml-1 (control), 1000 IJ ml-1, 2000 IJ ml-1, 3000 IJ ml-1, 4000 IJ ml-1, and 5000 IJ ml-1. The results showed that Steinernema spp. application at a concentration of 2000 IJ ml-1 was the most effective concentrations in causing S. exigua mortality in shallot plants (85.0 ± 5.0 %) at 72 hours after application. However, there was a tendency for treatment above a density of 2000 IJ ml-1 to decrease the mortality of S. frugiperda. Therefore, it is very necessary to consider the optimum population of nematoentomopathogens to produce high mortality of target insect pests.