Claim Missing Document
Check
Articles

Penggunaan Enzim α-Amilase dari Saccharomycopsis fibuligera R64 untuk Peningkatan Kualitas Roti Komposit Terigu-Ubi Jalar Ungu Agus Safari; Safri Ishmayana; Sylvi Qurrotul Aini; Saadah D. Rachman; Muhammad Yusuf; Muhammad Fadhlillah; Endah Wulandari; Idar Idar
Al-Kimia Vol 5 No 2 (2017): December
Publisher : Study Program of Chemistry - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-kimia.v5i2.3861

Abstract

Purple sweet potato (Ipomoea batatas var. Ayamurasaki) is one of typical sweet tubers which is also commonly well known as Ipomoea blackie due to blackish purple (solid purple) tuber skin and flesh. The sweet potato can be transformed into flour or pasta and used to substitute wheat flour in the production of composite bread. Instead of synthetic chemical compounds, α-amylase isolated from the yeast Saccharomycopsis fibuligera can be added to the flour or dough of the composite bread to improve its quality. The purpose of the present study was to investigate the effect of α–amylase addition on the quality of the purple sweet potato flour and pasta composite bread. The observed properties of the bread were crumbs morphology of the bread, volume increment, bread height, texture, and organoleptic test. The results showed that addition of the α-amylase to the dough of the composite bread increased the volume increment value from 155.0% to 177.1% and from 335.7% to 342.1% for the sweet potato flour and pasta bread composite, respectively. While height of the bread increased from 4.7 to 5.1 cm and from 6.9 to 7.8 cm after addition of the enzyme for the sweet potato flour and pasta bread composite, respectively. Composite bread with α-amylase addition has softer texture and higher preference. Morphology examination result showed that starch granules in the bread crums with α-amylase treatment were disrupted. Most plausibly, the enzymes degrade the starch granules and produced dextrin which inhibited the cross linking formation between starch and protein, and therefore, the speed of hardening process of the bread can be reduced.
Optimisasi Produksi α-Amilase dari Saccharomycopsis fibuligera R64 dengan Response Surface Method-Central Composite Design (RSM-CCD) Agus Safari; Ahsanul Chaliqin Gayo; Saadah Diana Rachman; Muhammad Yusuf; Safri Ishmayana
Al-Kimia Vol 7 No 1 (2019): JUNE
Publisher : Study Program of Chemistry - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-kimia.v7i1.8117

Abstract

α-Amilase (EC 3.2.1.1) is an endoamylase that hydrolyze α-1,4 glycosidic bond in amylose and amylopectin molecules yielding simpler carbohydrate. This enzyme is used to replace starch acid hydrolysis in industrial process. α-Amilase is used in many industrial processes including food, paper, bioethanol, and desizing in textile industries. This enzyme can be found in human, plants and microbes. Most industries use microbes due to their flexibility and require less space and time to culture. In the present study we use Saccharomycopsis fibuligera R64 since this yeast has high amylolytic activity and known as food borne microorganisms. Extrinsic factors are easy to manipulate in the process of enzyme production. The present study intended to determine the optimum condition for α-amylase production by S. fibuligera R64 with agitation speed, pH, and time of incubation as independent variable in the present experiment. The experiment was initiated by rejuvenation of S. fibuligera culture, design of experiment using response surface method, analysis of amylase activity, and determination of protein content. The result of the present study showed that optimum condition for amylase production using S. fibuligera R64 is at pH, agitation speed and incubation time of 3.82, 156 rpm and 49 hours, respectively. The specific activity achieved was 423.8 U/mg based on Fuwa assay.
Studi Pengaruh Kulit Ari Psyllium dan Susu Full Cream Terhadap Kandungan Laktosa, Asam Laktat dan pH Cheese Cream Menggunakan Response Surface Method Agus Safari; Muhammad Fadhlillah; Saadah D. Rachman; Nenden I. Anggraeni; Frida F. Isnanisafitri; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v8.n1.29135

Abstract

Cream cheese merupakan keju yang lunak bertekstur creamy yang diproduksi melalui koagulasi cream atau campuran susu dan cream dengan kultur bakteri asam laktat (BAL). Penambahan BAL ke dalam susu akan menggumpalkan protein berupa kasein karena terjadi fermentasi laktosa menjadi asam laktat sehingga susu menjadi asam dan kasein terkoagulasi. Penggumpalan kasein akibat fermentasi oleh BAL akan mempengaruhi viskositas dan tekstur yang menjadi kriteria dalam penentuan mutu pangan. Bahan penstabil perlu ditambahkan untuk menjaga sifat viskositas, konsistensi fisik, dan stabilitas produk. Kulit ari psyllium (Plantago ovata) mengandung hemiselulosa yang memiliki kapasitas menahan air hingga kira-kira 80 kali beratnya. Penambahan susu full cream dapat digunakan untuk meningkatkan rasa dan juga tekstur yang lebih padat pada produknya. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pemanfaatan kulit ari psyllium dan susu full cream dalam pembuatan cream cheese yang dioptimisasi dengan rancangan Response Surface Method (RSM) menggunakan desain Central Composite Design (CCD) untuk menghasilkan respon kadar laktosa, kadar asam laktat, dan nilai pH optimum. Metode yang digunakan yaitu pembuatan cream cheese yang dilakukan dengan penambahan starter Lactobacillus bulrgaricus kulit ari psyllium dan susu full cream sesuai rancangan RSM-CCD, penentuan kadar laktosa dengan metode ferrisianida basa, penentuan asam laktat dengan metode titrasi dan pengukuran nilai pH cream cheese dengan pHmeter. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar laktosa minimum agar laktosa yang digunakan sebagai substrat untuk pembentukan asam laktat lebih banyak maka penggunaan konsentrasi susu full cream 17,66% dan kulit ari psyllium 0,09% dengan kadar laktosa 0,82%; untuk menghasilkan kadar asam laktat maksimum maka penggunaan konsentrasi susu full cream 9,20% dan kulit ari psyllium 0,58% dengan kadar asam laktat 2,47%; sedangkan untuk dapat menghasilkan pH optimum penggumpalan kasein, maka dapat dilakukan penggunaan konsentrasi susu full cream sebesar 6,34% dan kulit ari psyllium sebesar 0,02%.
PERUBAHAN SIFAT FISIKOKIMIA TEPUNG SORGUM SETELAH HIDROLISIS PARSIAL DENGAN ENZIM α-AMILASE DARI Bacillus Sp. (TERMAMYL®) Muhammad Fadhlillah; Safri Ishmayana; Idar Idar; Soetijoso Soemitro; Toto Subroto
Chimica et Natura Acta Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.479 KB) | DOI: 10.24198/cna.v4.n1.10444

Abstract

Salah satu upaya untuk memperbaiki sifat tepung adalah dengan menggunakan perlakuan enzimatik dengan enzim α-amilase. Sifat fisikokima tepung sorgum yang sudah dihidrolisis sebagian dapat mengalami perubahan. Penelitian kelompok kami sebelumnya menunjukkan bahwa α-amilase komersial (Termamyl®) memiliki kemampuan untuk mendegradasi tepung sorgum. Pada penelitian ini sifat tepung sorgum yang telah didegradasi ditentukan yaitu mencakup volume pengembangan, viskositas, dan kristalinitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan volume pengembangan sebesar 60% pada suhu 95°C, penurunan suhu pembentukan pasta dari 80-85°C menjadi 70-75°C, dan pengurangan refleksi kristalit yang menunjukan perubahan kristalinitas dari semikristalin menjadi amorf pada tepung sorgum terhidrolisis bila dibandingkan dengan tepung sorgum sebelum hidrolisis.
Peranan Ion Logam Kobalt Terhadap Kinerja Fermentasi dan Toleransi Cekaman Lingkungan Sel Ragi Saccharomyces cerevisiae Saadah D. Rachman; Nadia Maulida; Agus Safari; Nenden I. Anggraeni; Muhammad Fadhlillah; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.566 KB) | DOI: 10.24198/cna.v7.n3.26266

Abstract

Semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar fosil mendorong dikembangkannya energi alternatif, salah satunya adalah bioetanol. Selama proses fermentasi bioetanol, ragi Saccharomyces cerevisiae dapat terpapar berbagai cekaman lingkungan yang dapat memberikan dampak negatif bagi sel ragi. Salah satu upaya untuk meningkatkan toleransi sel ragi adalah dengan menambahkan ion logam kedalam media fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi ion kobalt terhadap kinerja fermentasi, toleransi sel ragi terhadap cekaman lingkungan, dan terhadap morfologi sel ragi. Metode penelitian meliputi proses fermentasi yang dilaksanakan selama 120 jam dalam media yeast nitrogen base dengan 10% b/v glukosa sebagai sumber karbon dan variasi penambahan konsentrasi ion kobalt. Sampling dilakukan tiap 6 jam sekali pada 24 jam pertama dan tiap 12 jam sekali sampai jam ke-120. Kurva pertumbuhan ditentukan dengan mengukur OD600 nm sedangkan viabilitas sel ditentukan dengan pewarnaan metilen violet. Kadar glukosa dalam media fermentasi diukur dengan metode kalium ferisianida basa sedangkan kadar etanol ditentukan dengan metode enzimatik menggunakan alkohol dehidrogenase. Selain itu dilakukan penentuan ukuran sel serta tingkat toleransi sel terhadap cekaman lingkungan. Etanol paling tinggi diperoleh sebesar 2,58% pada media yang disuplementasi 40 ppm ion kobalt, lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yang menghasilkan bioetanol sebesar 2,20%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ion kobalt tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja fermentasi sel ragi, toleransi sel ragi dalam menghadapi cekaman lingkungan dan terhadap diameter sel.
FERMENTASI BIAK RENDAM MOLASES DENGAN Aspergillus niger UNTUK PRODUKSI ASAM SITRAT Anne Carolina; Abubakar Sidik; Iman Permana Maksum; Saadah Diana Rachman; Agus Safari; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.699 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n1.9171

Abstract

Asam sitrat terdapat melimpah di alam dan dihasilkan sebagai salah satu zat antara pada siklus asam sitrat saat karbohidrat dioksidasi menjadi karbondioksida. Asam sitrat merupakan penyebab rasa asam pada berbagai buah seperti jeruk, nanas dan pir. Karena kelarutannya yang tinggi, rasanya yang enak dan toksisitasnya yang rendah maka asam sitrat banyak digunakan dalam industri makanan, minuman dan obat-obatan. Salah satu metode yang digunakan untuk produksi asam sitrat adalah dengan metode fermentasi. Aspergilus niger merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat digunakan pada proses produksi asam sitrat. Produksi asam sitrat pada penelitian ini dilakukan dengan tahap pemeliharaan A. niger pada media agar miring, aktivasi kultur A. niger dalam inokulum dan produksi asam sitrat dalam media fermentasi yang mengandung 20, 25, 30 dan 35% konsentrasi molase dengan metode biak rendam. Analisis yang dilakukan mencakup perubahan pH, berat kering sel, konsumsi gula pereduksi, serta konsentrasi asam sitrat yang dihasilkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asam sitrat paling banyak diproduksi pada media yang mengandung 30% molase, yaitu diperoleh 85,8 g/L asam sitrat.
Optimisasi Viskositas Cream Cheese dengan Penambahan Kulit Ari Psyllium (Plantago ovata) dan Susu Full Cream Muhammad Fadhlillah; Agus Safari; Saadah Diana Rachman; Frida F. Isnanisafitri; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cna.v8.n3.32203

Abstract

Cream cheese merupakan keju yang lunak yang biasanya diproduksi melalui proses koagulasi dengan penambahan kultur starter bakteri asam laktat (BAL) yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi asam.  Sifat unik kulit ari psyllium menjadi perhatian dalam menghasilkan produk pangan fungsional. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kondisi optimum penambahan kulit ari psyllium dan susu full cream dalam pembuatan cream cheese dengan Response Surface Method (RSM) menggunakan desain Central Composite Design (CCD) untuk menghasilkan dengan respon viskositas. Metode yang digunakan yaitu pembuatan cream cheese dengan penambahan starter Lactobacillus bulgaricus, kulit ari psyllium dan susu full cream sesuai rancangan RSM-CCD dan viskositas dari produk yang dihasilkan ditentukan dengan viskometer Raypa RP1. Perbandingan penambahan susu full cream dan kulit ari psyllium untuk untuk memperoleh viskositas terbaik dicapai pada dengan penambahan 13,09% susu full cream dan 0,36% kulit ari psyllium dengan nilai viskositas sebesar 166.450 mPas.
Optimisasi pH dan Agitasi pada Produksi Glukoamilase dari Saccharomycopsis fibuligera R64 Menggunakan Response Surface Method Agus Safari; Rudi Hartono; Shabarni Gaffar; Muhammad Yusuf; Saadah D. Rachman; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.49 KB) | DOI: 10.24198/cna.v6.n1.17898

Abstract

Glukoamilase adalah salah satu enzim esktraseluler yang dihasilkan oleh ragi Saccharomycopsis fibuligera. Enzim ini mampu memecah ikatan α-1,4 dan α-1,6 glikosidik pada molekul amilosa dan amilopektin. Pada penelitian ini telah dilakukan produksi enzim glukoamilase dalam media fermentasi yang mengandung sumber karbon yang berbeda, yaitu tepung beras, dedak dan pati. Fermentasi dilakukan dengan sistem lompok pada suhu kamar dengan kecepatan agitasi 150 rpm selama 3 hari. Nilai OD dan aktivitas glukoamilase ditentukan setiap 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras menghasilkan aktivitas glukoamilase tertinggi. Aktivitas glukoamilase tertinggi pada tepung beras terdeteksi pada jam ke-48 dengan nilai 28,48 unit/mL. Dengan kondisi waktu yang sama nilai aktivitas enzim glukoamilase pada media dedak dan pati berturut-turut yaitu 18,08 dan 18,67 unit/mL. Selanjutnya media tepung beras digunakan untuk mengoptimisasi produksi enzim glukoamilase dengan variasi agitasi dan pH menggunakan desain Response Surface Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH berpengaruh signifikan terhadap produksi enzim glukoamilase. Kondisi optimum produksi glukoamilase diperoleh pada agitasi dan pH berturut-turut yaitu 250 rpm dan 5. Nilai aktivitas enzim glukoamilase pada kondisi optimum yaitu 56,22 unit/mL.
PENGARUH KONSUMSI YOGURT YANG DIBUAT DENGAN KULTUR DUA BAKTERI (Sterptococcus thermophillus DAN Lactobacillus bulgaricus) DAN TIGA BAKTERI (Sterptococcus thermophillus, Lactobacillus bulgaricus DAN Lactobacillus acidophilus) TERHADAP KADAR KOLESTEROL SERUM DARAH TIKUS Safri Ishmayana; Asep Juanda; O. Suprijana; Sadiah Djajasoepena; Idar Idar; Saadah D. Rachman
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.154 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n3.9302

Abstract

Tingginya kadar kolestrol serum darah berhubungan dengan meningkatnya resiko aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Produk susu terfermentasi seperti yogurt dapat menurunkan kadar kolesterol serum darah sehingga dapat meningkatkan resiko kedua penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsumsi yogurt yang dibuat dengan dua dan tiga bakteri terhadap kadar kolesterol serum darah tikus putih. Pada percobaan ini 15 tikus putih jenis Wistar dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok tiga atau empat ekor. Kelompok pertama diberi pakan dan air, kelompok kedua diberi pakan dan susu murni, kelompok ketiga diberi pakan dan yogurt 2 bakteri sedangkan kelompok keempat diberi pakan dan yogurt 3 bakteri. Perlakuan diet diberikan selama 56 hari, setiap dua minggu contoh darah tikus diambil dan ditentukan kadar kolesterol serumnya dengan metode Lieberman-Burchard. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya efek hipokolesterolemik, dan efek paling baik teramati pada periode ketiga untuk grup 4, dimana tikus diberi pakan dan yogurt yang dibuat dengan kultur 3 bakteri dimana kadar kolesterolnya sebesar 16,57% lebih rendah dibandingkan kontrol.
KUALITAS YOGHURT YANG DIBUAT DENGAN KULTUR DUA (Lactobacillus bulgaricus DAN Streptococcus thermophilus) DAN TIGA BAKTERI (Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus DAN Lactobacillus acidophilus) Saadah D. Rachman; Sadiah Djajasoepena; Dian S. Kamara; Idar Idar; Roni Sutrisna; Agus Safari; O. Suprijana; Safri Ishmayana
Chimica et Natura Acta Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.243 KB) | DOI: 10.24198/cna.v3.n2.9192

Abstract

Yoghurt merupakan produk susu terfermentasi yang dibuat dengan menambahkan kultur bakteri asam laktat (BAL) ke dalam susu. Kultur BAL yang ditambahkan dapat berupa kultur bakteri tunggal ataupun campuran. Pada umumnya, kultur campuran yang biasa digunakan untuk membuat yoghurt adalah campuran antara Lactobacilus bulgaricus (Lb) dan Streptococcus thermophilus (St). Namun berdasarkan beberapa penelitian kedua bakteri ini tidak bertahan lama pada saluran pencernaan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan penambahan Lactobacillus acidophilus (La) untuk memperbaiki sifat probiotik dari produk yoghurt. Pada pembuatan kultur starter, kultur tunggal bakteri ditumbuhkan pada media susu skim 10%. Kemudian susu sapi hasil pasteurisasi diinokulasi dengan kultur starter dengan perbandingan kultur yang berbeda-beda yaitu 1:1, 1:4 dan 4:1 (Lb:St) untuk kultur dua bakteri serta 1:1:1, 1:4:1 dan 4:1:1 (Lb:St:La) untuk kultur tiga bakteri. Susu yang telah diinokulasi kemudian diinkubasi pada suhu 40°C selama 12 jam. Analisis terhadap produk yoghurt meliputi pengukuran pH, kadar laktosa, kadar asam laktat dan kadar protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan L. acidophilus cenderung memberikan efek penghambatan pembentukan asam laktat, seperti ditunjukkan oleh pH yang lebih tinggi, kadar asam laktat yang lebih rendah serta kadar laktosa sisa yang lebih tinggi pada yoghurt yang menggunakan kultur tiga bakteri.
Co-Authors ', O. Suprijana Abubakar Sidik Abubakar Sidik Ace Tatang Hidayat Agus Safari Agus Safari Agus Safari Agus Safari Agus Safari Agus Safari Agus Safari Agus Safari Ahsanul Chaliqin Gayo Anastasya Firdausi Anggraeni, Nenden I. Anggraeni, Nenden Indrayati Anne Carolina Annisyaban Fatiha Azzahra Ari Hardianto Asep Juanda Budiman, Mulydayana Reanifah Carolina, Anne Ceppy Nasahi Danar Dono Dani Permana Desi Harneti Putri Huspa Devi, Puspitasari Rosiana Dian S Kamara Dian S. Kamara Dian S. Kamara Djajasoepena, Sadiah Djajasoepena, Sadiah DJOKO PRIJONO Ekawardani, Savira Endah Wulandari Fadhlillah, Muhammad Fadhlillah, Muhammad Fahruddin, Muhammad Fahmi Farhan Azhwin Maulana Fazl, Fazli Fazli Fazl Fitri Widiantini Frida F. Isnanisafitri Frida F. Isnanisafitri Frida F. Isnanisafitri Ghina, Sarah Fahma Ginting, Sani D. R. Br Gobel, Khaeriska Rahayu Hafiz, Ersanda Harahap, Winni Suryani Hari R. Haryadi Hasriani, Shela Amelia Herlian E. Putra Herlina Marta Hesti Lina Wiraswati Horasio, Debora Tamaris Husain Akbar Sumeru Ida Indrawati Idar Idar Idar Idar Idar Idar Idar Idar Idar, Idar Ika Wiani Iman Permana Maksum Isnanisafitri, Frida Febriani Juanda, Asep Kamara, Dian S Kamara, Dian S. Kamara, Dian S. Kindi Farabi Latifah, Rina G. Latifah, Rina Gaida Lia Faridah Linar Z Udin Linar Z Udin Linar Z. Udin M. Yusuf Awaluddin Mawalia, Khiftul Muhammad Fadhlillah Muhammad Fadhlillah Muhammad Fadhlillah Muhammad Fadhlillah Muhammad Fadhlillah Muhammad Yusuf Nabila, Najwa Nadia Maulida Nenden I. Anggraeni Nenden I. Anggraeni Neneng S Widayani Neneng Sri Widayani Nurisa Fadillah Isnaeni Nurlelasari Nurlelasari Nurrusyda, Fajriana S Nurrusyda, Fajriana Shafira Nurrusyda, Fajrina Shafira O. Suprijana O. Suprijana PUTRI, RAFIKA Putri, Rafika Nanda Putri, Tysza Ainnunnisa Maulidya R. Arif Malik Ramadhan R. Ukun M.S. Soedjanaatmadja Rachman, Saadah D Rachman, Saadah D. Rachman, Saadah D. Rachman, Saadah Diana Rani Maharani Regaputra Satria Janitra Ridya Widya Pasisca Roni Sutrisna Rudi Hartono Rusky I. Pratama Saadah D Rachman Saadah D. Rachman Saadah D. Rachman Saadah D. Rachman Saadah D. Rachman Saadah D. Rachman Saadah Diana Rachman Saadah Diana Rachman Saadah Diana Rachman Sadiah Djajasoepana Sadiah Djajasoepena Safari, Agus Sani Dwiningrum Rahayu Br Ginting Sani Dwiningrum Rahayu Br Ginting Savira Ekawardhani Septiana, Reysha A. Q. A. Shabarni Gaffar Shabrinna, Hanif Shahab, Ali Ridho Soetijoso Soemitro Soetijoso Soemitro Sofyan Multazam N Aji Sumeru, Husain A. Sumeru, Husain Akbar Suprijana, O. Supriyadi, Isma Yustifania Sutrisna, Roni Sylvi Qurrotul Aini Tambunan, Clara Junita Toto Subroto Tri Mayanti Trianing Tyas Kusuma Anggaeni Udin, Linar Z Unang Supratman Wahyu Widayat Westy Juniaty Widayani, Neneng Sri Wiliandini, Fadilla Yeni W Hartati Yeni Wahyuni Hartati Yogas Dwi Pratiwi Yusuf Hidayat Yusuf Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Zamzahra, Salma