Claim Missing Document
Check
Articles

KELIMPAHAN FORAMINIFERA BENTIK RESEN PADA SEDIMEN PERMUKAAN DI PERAIRAN TELUK JAKARTA Isni Nurruhwati; Richardus Kaswadji; Dietriech G. Bengen; Vijaya Isnaniawardhani
Jurnal Akuatika Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.779 KB)

Abstract

Perairan Teluk Jakarta merupakan wilayah perairan dangkal dengan kedalaman perairan sangat bervariasi, umumnya memiliki kedalaman 30 meter meskipun di beberapa lokasi hingga 70 meter seperti di utara Pulau Pari dan di utara Pulau Semak Daun. Habitat  foraminifera terdiri dari semua kedalaman laut dari tepi pantai sampai pada laut dalam. Secara umum, spesies  bentik hidup pada kedalaman tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan jenis-jenis foraminifera bentik resen yang terdapat pada sedimen permukaan di perairan Teluk Jakarta. Sebanyak 25 sampel sedimen permukaan yang diambil dari  25 buah core milik Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan yang berada di dalam cold storage di Cirebon. Sampel yang diperoleh dianalisis jenis sedimennya dan kandungan foraminifera bentik resen didalamnya. Jumlah yang ditemukan 85  spesies yang termasuk dalam 42 genus. Spesies yang banyak melimpah ditemukan di perairan iniOperculina ammonoides (Gronovlus), Elphidium indicum (Cushman),Planulina  floridana (Cushman) dan Asterorotalia trispinosa (Thalmann). Jenis sedimen yang mendominasi perairan Teluk Jakarta adalah lempung ( 21 stasiun) dan lanau  (4 stasiun).
FORAMINIFERA ASSEMBLAGES AS A MARKER OF MUD ERUPTION SOURCE IN CIUYAH, CINIRU – KUNINGAN, WEST JAVA Vijaya Isnaniawardhani; Faizal Muhamadsyah; Adjat Sudrajat
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1271.768 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.509

Abstract

Mud eruptions that rise claystone to sandstone-size fragments, liquid, gas, and heat to the surface have been identified in Ciuyah, Ciniru District, Kuningan. Field observation and sampling were conducted on host rock as well as mud in Ciuyah. Forty-two planktic and forty-two benthic foraminiferal species were identified in rock samples; while 89.28% of them are recorded in mud samples. Foraminifera contained in claystone and sandstone of Pemali and Halang Formations reveals the age of Middle to Late Miocene. Based on their stratigraphic ranges, planktic foraminifera assemblages in mud represent four age-marker groups, there are: older than Zone N.10 / Middle Miocene (indicated by the appearance of Globorotalia archeomenardii), ranges of Zone N.11 – N.12 / Middle Miocene (marked by the appearance of Globorotalia fohsi lobata and Globorotalia praemenardii), ranges of Zone N.13–N.14 / Middle Miocene (Globorotalia siakensis and Globorotalia mayeri), and ranges of Zone N.15–N.17 / Late Miocene (Globorotalia acostaensis acostaensis and Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Benthic foraminifera can be grouped into outer neritic and bathyal typical assemblages. That several age-marker planktic foraminifera groups mixing and deep marine typical benthic occurrence in mud samples is produced by reworking process during turbidity sedimentation, as well as erosion and elution of base- and side-rock composed by Pemali and Halang Formations.Semburan lumpur yang membawa fragmen-fragmen berukuran batulempung hingga batupasir, cairan, gas dan panas ke permukaan telah teridentifikasi di Ciuyah, Kecamatan Ciniru, Kuningan. Observasi  lapangan dan pengambilan sampel dilakukan terhadap batuan induk serta lumpur di Ciuyah dan sekitarnya. Empat puluh dua spesies foraminifera planktik dan empat puluh dua spesies bentik teridentifikasi dalam sampel batuan; dengan 89,28% di antaranya terekam dalam sampel lumpur. Foraminifera yang terkandung dalam batulempung dan batupasir Formasi Pemali dan Halang menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Akhir. Berdasarkan rentang stratigrafinya, kumpulan foraminifera planktik dalam lumpur menunjukkan empat kelompok penanda umur, yaitu: lebih tua dari Zona N.10 / Miosen Tengah (ditunjukkan oleh kehadiran Globorotalia archeomenardii), rentang Zona N.11 - N.12 / Miosen Tengah (ditandai oleh kehadiran Globorotalia fohsi lobata dan Globorotalia praemenardii), rentang Zona N.13 -N.14 / Miosen Tengah (Globorotalia siakensis dan Globorotalia mayeri), dan rentang Zona N.15 - N.17 / Miosen Akhir (Globorotalia acostaensis acostaensis dan Neogloboquadrina dutertrei dutertrei). Foraminifera bentik dapat dikelompokkan dalam kumpulan neritik luar dan batial. Beberapa kelompok penanda umur foraminifera planktik dan kehadiran bentik laut dalam pada lumpur dihasilkan oleh pengerjaan ulang selama sedimentasi turbidit, serta erosi dan elusi batuan dasar dan batuan samping yang tersusun oleh Formasi Pemali dan Halang.
Pendugaan Akifer Airtanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Lereng Utara Gunungapi Tangkubanparahu Yuyun Yuniardi; Hendarmawan Hendarmawan; Abdurrokhim Abdurrokhim; Vijaya Isnaniawardhani; Febriwan Mohammad; Muhammad Kurniawan Alfadli; Panji Ridwan
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1051

Abstract

Airtanah sangat diperlukan dan meningkatnya jumlah penduduk akan menyebabkan pengurangan cadangan airtanah yang tersedia. Gunung Tangkubanparahu merupakan daerah endapan vulkanik yang memiliki potensi sistem akuifer airtanah yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi airtanah dari sistem akuifer vulkanik berdasarkan pengamatan geologi dan pengukuran geolistrik 1D sebanyak 100 titik. Hasil penelitian menunjukkan empat kelompok nilai resistivitas yang merepresentasikan kondisi geologi bawah permukaan. Kelompok pertama mempunyai nilai 0-100 ohm.m, berupa kelompok batuan piroklastik yang tercampur tanah. Kelompok kedua mempunyai nilai resitivitas 101-250 ohm.m, berupa kelompok batuan perselingan antara pasir tufan dan tuf kasar. Kelompok ketiga mempunyai nilai 251-600 ohm.m, berupa kelompok batuan breksi. Kelompok keempat  mempunyai nilai resistivitas >600 ohm.m, berupa kelompok batuan aliran lava. Sistem airtanah yang dapat diasumsikan sebagai akifer tersebar merata pada kedalaman 50 m, 75 m, dan 100 m berupa kelompok batuan tuf.Groundwater is the primary source of water and the increase in population will cause an decrease in groundwater reserves. Mt.Tangkubanparahu is a volcanic deposition area that has high potential groundwater aquifer systems. The purpose of this study was to determine the groundwater potential of the volcanic aquifer system based on geology mapping and 1D geoelectric measurements at 100 stations. The results indicated four groups of resistivity values, which represent subsurface geological conditions. The first group has a resistivity value of 0-100 ohms.m in the form of pyroclastic rocks. The second group has a resistivity value of 101-250 ohms.m in the form sand tuff and coarse tuff. The third group has a value of 251-600 ohm.m in the form of breccia rocks. And the fourth group has resistivity values> 600 ohms in the form of lava flow rock groups. In the groundwater system, the layer that can be assumed as aquifer is evenly distributed at depths of 50 m, 75 m, and 100 m in the form of tuff groups.  
Facies and Diagenetic Level of the Upper Cibulakan and Parigi Formation, in Randegan and Palimanan Area Moeh. Ali Jambak; Ildrem Syafri; Vijaya Isnaniawardhani; Benyamin Benyamin; Hilarius Rodriguez
Indonesian Journal on Geoscience Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.933 KB) | DOI: 10.17014/ijog.2.3.157-166

Abstract

DOI:10.17014/ijog.2.3.157-166This research aims to determine the facies and diagenetic level of limestone of the Upper Cibulakan and Parigi Formations, and also aims to determine the structural correlation between surface and subsurface limestones. Based on thin section analyses taken from the core and outcrop samples, there are four types of lithofacies on the Upper Cibulakan Formation, i.e. mudstone-wackestone, wackestone-packstone, packstone-grainstone, and grainstone facies, and also four types of lithofacies on the Parigi Limestone Formation, i.e. mudstone-wackestone, wackestone-packstone, packstone-grainstone, and lower mudstone-wackestone facies. The analysis of surface and subsurface limestone facies of the Upper Cibulakan and Parigi Formations led to the knowledge of the proportionality and variation of the limestone characteristics on both positions. Limestone of the Upper Cibulakan Formation was deposited locally and discontinuously, whilst the Parigi Formation limestone was deposited evenly and continuously. The structural correlation between the surface and subsurface limestone indicates that these formations were uplifted/exposed due to a local force, likely caused by the intrusion of igneous rocks, as happened in the Kromong Complex. The presence of residual hydrocarbon on the surface of the limestone samples suggests the possibility of potential hydrocarbon trapped in the limestone beneath the surface.
Sedimentation Process of Rambatan Formation in Larangan Brebes, North Serayu Range, Central Java Bernadeta Subandini Astuti; Vijaya Isnaniawardhani; Abdurrokhim Abdurrokhim; Adjat Sudradjat
Indonesian Journal on Geoscience Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2520.882 KB) | DOI: 10.17014/ijog.6.2.141-151

Abstract

DOI:10.17014/ijog.6.2.141-151Rambatan Formation in the western part of North Serayu Basin, Brebes, Central Java, comprises generally flysch facies of turbidite sediments deposited in a deep marine environment. This formation is equivalent to Merawu Formation found in the eastern part of the basin and deposited in the environment of tidal flat to subtidal. The turbidite sediments were highly controlled by a rapid downward movement taking place continuously during Early to Late Miocene. The variation of the depositional environment has been the object of this research which aims to understand the sedimentation process of Rambatan Formation in this type locality with a modern turbidite approach. Rambatan Formation was deposited in N13-N19, as a deep marine sediment channel, turbidite, and deep marine tidal zone. The sedimentation was affected by gravity flow and contourite. The sediments on N13-N14 were marked by turbidite sediments until Middle N17. The sediment supply increased on Middle N17, as a sediment filler on a channel marked by contourite mud layer (muddy slump) and debris flow, with sources from the north. The increase of sediment supply was followed by an environmental transformation from a deep marine channel into deep marine tidal area. In N19, the sediments were redeposited as turbidite sediment, starting with debris flow in Middle N18.
KARAKTERISTIK PENURUNAN DASAR LAUT PERAIRAN TELUK JAKARTA Yudi Darlan; Ildrem Syafri; Vijaya Isnaniawardhani; Adjat Sudradjat
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7953.612 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.645

Abstract

Penurunan permukaan tanah wilayah pesisir Teluk Jakarta diyakini sebagai dampak dari pembangungan. Dari tahun 1974 sampai dengan 2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di sejumlah daerah DKI Jakarta antara -0.25 m dan -4.1 m. Kawasan perairan Teluk Jakarta sebagian besar masih dalam kondisi alamiah, belum mengalami beban pengembangan yang dapat menimbulkan penurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung penurunan dasar laut Teluk Jakarta melalui pendekatan tektonik, lingkungan, dan kosolidasi  sedimennya sebagai penyebab penuruan. Metode yang digunakan adalah pengembangan data sedimen inti bor dan rekaman sesimik pantul dangkal meliputi analisis besar butir, mikrofauna, pentarihan umur radiokarbon C14 dan analisis srtatigrafi seismik. Hasilnya penurunan lapisan sedimen perairan Teluk Jakarta telah terjadi sejak masa ribuan tahun yang lalu (Late Glacial Maximum, LGM). Penurunan tersebut terjadi akibat adanya gerakan vertikal lapisan sedimen (tektonik) dan konsolidasi sedimen. Penurunan lapisan sedimen di wilayah barat antara 0.1m dan 0.3m pertahun, dan 0.4m dan 0.5m pertahun di wilayah timur Teluk Jakarta. Kecepatan pengendapan sedimennya berkisar antara 0.57cm dan 1,84cm pertahun lebih kecil dari penurunan. Jika terjadi gangguan pada lapisan sedimen pasir maka penuruan dasar laut perairan barat Teluk Jakarta cenderung akan meningkat. Pengembangan perairan Teluk Jakarta untuk pembangunan infrastruktur sebaiknya mengikutsertakan data dan informasi geologi kelautan untuk memperkecil resiko dampak penurunan.Kata kunci: karakteristik, penurunan, dasar laut, perairan, Teluk Jakarta Land subsidence of the Jakarta Bay coastal area has been supposed to be as the impact of coastal development. From 1974 to 2010 land subsidence occurred in a number of DKI Jakarta areas between -0.25 m and -4.1 m. The Jakarta Bay waters is in most natural condition which has no records of subsidence as an impact of the development. This research aims to estimate seabed subsidence rate of the Jakarta Bay waters through approaches such as tectonics, sedimentary environments, and consolidation of sediment as causes of the subsidence. The method used in this research is improvement data of sediment cores and reflection seismic records through particle size analyses of sediment, microfossil analyses, radiometric dating C14, and seismic stratigraphy analyses. Results, the accidents of seabed subsidence of the Jakarta Bay waters has been occurred since last thousands years (Late Glacial Maximum, LGM). The subsidence occurred due to vertical movement of sediment layers and consolidation. The subsidence of sediment layer for west area between 0.1m and 0.3 per a year and between 0.4m and 0.5m per year for eats area of the Jakarta Bay waters. Depositional rates of its sediment between 0.57cm and 1.84cm per a year that are less than subsidence. If there is disruption in the sand sedimentary layer, seabed subsidence for western area of the Jakarta Bay will progressively increase. The development of the Jakarta Bay waters for coastal infrastructures marine geological data and information should be included in order to minimize risks of subsidence impact. Keywords: Characteristic, subsidence, seabed, waters, the Jakarta Bay.
Peningkatan Pemahaman Masyarakat Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran Mengenai Teknik Perbanyakan Tanaman Buah Naga Sudarjat; Erni Suminar; Vijaya Isnaniawardhani; Muhammad Abdilah Hasan Qonit; Syariful Mubarok
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2020): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v5i1.1247

Abstract

Buah naga adalah salah satu komoditas buah yang termasuk dalam jenis kaktus yang dapat tumbuh di daerah kering dan lahan yang kurang produktif seperti di Kabupaten Pangandaran. Pengetahuan masyarakat sekitar tentang buah naga bagus, tetapi pengetahuan tentang budidaya dan perbanyakan buah naga masih kurang. Sehingga pasokan bahan tanaman masih sulit diperoleh dan membutuhkan biaya tinggi bagi petani karena semakin banyaknya peminat dalam budidaya buah naga. Untuk mengatasi masalah ini dengan menyediakan bahan tanam secara mandiri. Teknik perbanyakan tanaman tanaman buah naga seperti perbanyakan vegetatif yang dapat meningkatkan kualitas hasil dan nilai ekonomi buah naga. Untuk meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan bantuan dalam teknik perbanyakan tanaman tanaman buah naga. Daerah yang digunakan sebagai mitra dalam kegiatan ini adalah Desa Cintaratu, Kabupaten Parigi, Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan dalam kegiatan pendampingan adalah pengobatan perbanyakan buah naga, praktik perbanyakan, dan pembuatan demplot penanaman. Hasil pengayaan menunjukkan bahwa antusiasme dan minat yang tinggi dari masyarakat dalam mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang teknik perbanyakan tanaman buah naga di daerah tersebut dan bersedia bekerja sama dalam program berikutnya.
ENVIRONMENTAL CONTROL OF NANNOPLANKTON AND FORAMINIFERA ASSEMBLAGES IN MADURA WATERS Vijaya Isnaniawardhani
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 24, No 1 (2009)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.769 KB) | DOI: 10.32693/bomg.24.1.2009.10

Abstract

Nannoplankton is widely used for determining age of sediments following the other microorganism foraminifera since the late 1960s; and it was started being used for marine geography study in the year of 1984. This topic interests to be done in Indonesia as one of the tropic region. The research covered a study about environment using nannoplankton and it is compared with the same study using foraminifera. Methods of the study include: (1) collecting secondary data and samples; (2) collecting field data record; (3) laboratory analyses upon sediment samples to determine the content of nannoplankton and foraminifera (micropaleontology analyses), the texture and composition of minerals (by means of grain size, petrology megascopic and microscopic analyses) (4) intergrating all of the analyses result. Madura waters can be divided into four zones, among all : (I) inner shelf (water depth less than 30 m) in Madura Strait, (II) inner shelf in open marine north of Madura, (III) outer shelf (water depth 30 to 80 m) in Madura Strait, and (IV) outer shelf in open marine north of Madura. Inner shelf in the Madura Strait (Zone I) is characterized by less than 1% sediment of nannoplankton (are made up of Gephyrocapsa oceanica); rare assemblages of benthic foraminifera only (Ammonia spp., arenaceous carbonate test taxa such as : Ammobaculites spp., Textularia agglutinans, Haplophragmoides spp., and milliolidae). Inner shelf open marine north of Madura (Zone II) yielded few nannoplankton assemblages, dominated by Gephyrocapsa oceanica with low number of Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. walichii and Pontosphaera spp; common foraminifera assemblages consist of rare planktic Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, G. conglobatus with one or two dominant benthic (Elphidium spp, Ammonia spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp.). Outer shelf of Madura Strait (Zone III) assigned by common nannoplankton assemblages, dominated by Gephyrocapsa oceanica and Emiliania huxleyi with few to common Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis and Umbilicosphaera spp.; common benthic foraminifera assemblages Elphidium spp, Ammonia spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., and Asterorotalia spp. with rare planktic Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, and G. conglobatus. In the outer shelf open marine north of Madura (Zone IV), it is recorded abundant of nannoplankton Gephyrocapsa oceanica, Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Discoaster spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; the presence of moderate divers and abundance of planktic foraminifera Globigerina calida, Pulleniatina obliquiloculata, Orbulina universa, Hastigerina aequilateralis with common abundance benthic Bolivina spp., Bulimina spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp., Lenticulina spp., Cassidulina spp., Siphonina spp., the presence of Uvigerina spp. are noted. The most significant physical environment parameter of each zone controlling appearance of marker species and abundancy of microorganism assemblages are bathymetry, salinity, temperature, pH and sediment due to fluvial supply. Keywords : nannoplankton, foraminifera, environment, marker species, Madura Waters Nannoplankton telah digunakan secara luas untuk penentuan umur sedimen di samping mikroorganisme lain, foraminifera, sejak tahun 1960-an; dan mulai digunakan untuk studi geografi laut pada tahun 1984. Kajian ini menarik untuk dilakukan di Indonesia yang termasuk daerah tropis. Studi ini mempelajari perubahan lingkungan berdasarkan analisis nannoplankton, dibandingkan dengan foraminifera yang umum dipakai untuk kegunaan sejenis. Metode penelitian mencakup : (1) pengumpulan data sekunder dan sampel; (2) pengambilan data lapangan; (3) pekerjaan laboratorium meliputi analisis mikropaleontologi dan petrologi ; serta (4) integrasi seluruh hasil analisis. Perairan Madura dapat dibedakan menjadi empat zona, yaitu: (I) Paparan dalam (kedalaman muka air laut kurang dari 30 m) di Selat Madura; (II) Paparan dalam pada laut terbuka di Perairan Utara Madura; (III) Paparan luar (kedalaman muka air laut 30 hingga 80 m) di Selat Madura; dan (IV) Paparan luar pada laut terbuka di Perairan Utara Madura. Paparan dalam di Selat Madura (Zona I) dicirikan oleh kumpulan nannoplankton kurang dari 1% total sedimen (Gephyrocapsa oceanica); foraminifera bentik jarang (Ammonia spp., cangkang gamping pasiran seperti Ammobaculites spp., Textularia agglutinans, Haplophragmoides spp., dan miliolida). Paparan dalam di laut terbuka (Zona II) dicirikan oleh nannoplankton kurang melimpah yang didominasi oleh Gephyrocapsa oceanica dengan beberapa Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. walichii, Pontosphaera spp; foraminifera cukup melimpah dengan plankton Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, G. conglobatus dalam jumlah jarang serta satu atau dua jenis bentik yang dominan (Elphidium spp, Ammonia spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp.). Paparan luar di Selat Madura (Zona III) dicirikan oleh nannoplankton dalam jumlah yang umum, didominasi oleh Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi dengan beberapa Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; foraminifera bentik jumlahnya umum seperti Elphidium spp, Ammonia spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., dan Asterorotalia spp. dengan foraminifera planktik seperti Globigerinoides ruber, G. trilobus sacculiferus, dan G. conglobatus dalam jumlah jarang. Di paparan luar laut terbuka (Zona IV) teridentifikasi nannoplankton yang melimpah seperti Gephyrocapsa oceanica, Emiliania huxleyi, Helicosphaera carteri, H. pavimentum, H. wallichii, Pontosphaera spp., Discoaster spp., Calcidiscus leptoporus, Umbellosphaera irregularis, Umbilicosphaera spp.; dan beragam jenis foraminifera planktik seperti Globigerina calida, Pulleniatina obliquiloculata, Orbulina universa dan Hastigerina aequilateralis serta foraminifera bentik seperti Bolivina spp., Bulimina spp., Cibicides spp., Pseudorotalia spp., Asterorotalia spp., Lenticulina spp., Cassidulina spp., Siphonina spp. dan Uvigerina spp. dalam jumlah yang umum. Parameter lingkungan fisik yang paling berpengaruh dalam mengontrol kehadiran spesies penunjuk (indikator) dan kelimpahan kumpulan mikroorganisma adalah: batimetri, salinitas, temperatur, pH dan sedimen. Katakunci : nannoplankton, foraminifera, lingkungan, spesies penunjuk, Perairan Madura
Zonation of Marine Geological Environment of Wangi-wangi Island Waters and Adjacent Area Wakatobi Districs Southeast Celebes Province Agus Didit Haryanto; Yudi Darlan; Vijaya Isnaniawardhani; Nisa Nurul Ilmi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3150.509 KB) | DOI: 10.32693/bomg.33.1.2018.546

Abstract

Wakatobi is one of coastal and marine tourism destination in South–East Celebes Indonesia. Coastal and marine characteristics of this area is composed of diverse biota as the main tourism attraction. Unfortunately, increasing human needs and activities, particularly coral reefs exploitation for construction and other life aspect, endanger the sustainability of marine environment of Wakatobi and the surrounding area. The purpose of this study is to determine marine geology environmental zonation in Wangi–wangi– Kapota Islands, as a consideration for local government in monitoring and regulating the coastal area. The methods that were applied in this study are coastal characteristic mapping, sedimentology, and mineralogy analyses from 34 marine surface sediments. Marine surface sediments have been collected by Marine Geological Institute (MGI) team in 2014. The result indicates that coastal and marine characteristic of Wangi–wangi and Kapota are influenced by geological processes since Middle Miocene. The seafloor morphology is characterized by gentle slopes around coastline that is abruptly changed to very steep slopes seaward. In general, the surficial sediments consisted of biogenic sands that are distributed around coastlines and trapped within coral reefs. Coastal types of this area are generally white coral sand beaches, coral reef platforms, and notches. The area of Wangi–wangi and Kapota can be divided into 4 (four) environmental zone: Flat Plain (Zone I), Sandy Beach (Zone II), Limestone and Coral Reef (Zone III), and Sedimentary Flat (Zone IV). Zone IV in the centre area between Wangi–wangi and Kapota island is considered as the most vulnerable area due to both natural and anthropogenic factor. Keywords: zonation, seafloor morphology, tourism, Wangi–wangi–Wakatobi, Southeast Celebes ProvinceWakatobi adalah salah satu tujuan wisata pantai dan laut yang menarik dikunjungi di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Karakteristik pantai dan laut daerah ini disusun oleh keragaman biota laut yang merupakan daya tarik bagi pariwisata. Sayangnya, seiring dengan berkembangnya aktifitas dan kebutuhan manusia, terutama meningkatnya eksploitasi pemanfaatan terumbu karang untuk konstruksi bangunan dan berbagai aspek kehidupan, mengancam kelestarian lingkungan alami Wakatobi dan sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat zonasi lingkungan pantai dan sekitarnya di Pulau Wangi–wangi dan Kapota, sehingga bisa memberikan pertimbangan bagi pemerintah setempat dalam pengawasan dan regulasi lingkungan kawasan pantai dan sekitarnya. Untuk penelitian ini, metode yang dilakukan adalah pemetaan karakteristik pantai, analisis sedimentologi dan mineralogi yang dilakukan terhadap 34 sedimen permukaan dasar laut. Pengambilan sampel sedimen permukaan dasar laut telah dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pantai dan laut Wangi–wangi dan Kapota dipengaruhi oleh proses geologi yang telah berlangsung sejak Miosen Tengah. Morfologi dasar laut dicirikan oleh lereng landai di sekitar tepi pantai dan berubah dengan tegas menjadi curam ke arah laut lepas. Pada umumnya tekstur sedimen permukaan dasar laut terdiri atas pasir biogenik tersebar di sekitar garis pantai, dan mengisi di dalam terumbu koral. Jenis pantai sebagian besar berupa pantai pasir koral berwarna putih, pedataran pantai terumbu koral, serta morfologi pantai berupa takik. Kawasan pantai Wangi–wangi dan Kapota bisa dibagi ke dalam 4 (empat) zonasi lingkungan: Flat Plain (Zona I), Sandy Beach (Zona II), Limestone and Coral Reef (Zona III), dan Sedimentary Flat (Zona IV). Zona IV di area tengah antara Pulau Wangi–wangi dan Pulau Kapota merupakan area yang paling rentan mengalami kerusakan lingkungan akibat faktor alami dan aktifitas manusia. Kata kunci: zonasi, morfologi dasar laut, wisata, Wangi–wangi–Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara
Sosialisasi Budidaya Buah Naga Untuk Daerah Pesisir di Desa Cintaratu, Parigi, Kabupaten Pangandaran Sudarjat Sudarjat; Vijaya Isnaniawardhani; Muhamad Abdilah Hasan Qanit; Syariful Mubarok
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.183 KB) | DOI: 10.30653/002.201722.27

Abstract

SOCIALIZATION OF DRAGON FRUIT CULTURE FOR COASTAL REGION IN CINTARATU VILLAGE, PARIGI, DISTRICT OF PANGANDARAN. Dragon fruit is one type of potential fruits to be developed in the lowlands such as Pangandaran. Knowledge of dragon fruit cultivation in this area. An effort for the process of empowerment and community development for dragon fruit cultivation is with the socialization activities about the technology of dragon fruit cultivation. The purpose of this activity is to introduce dragon fruit plants to be cultivated in coastal areas of Pangandaran as one of the sources of food that rich with nutrition and support the improvement the nutrition of the community and allows to be an additional income for community. This activity was conducted in Cintaratu Village, Parigi, Pangandaran City by seminar and making the demonstration plot. The seminar was introduction of dragon fruit, explanation about the superiority and importance of dragon fruit as a source of nutrition, and also technology of dragon fruit cultivation in coastal area. In addition to making the demonstration plot (demplot) of dragon fruit on farmers' land. The results of this activities showed that there looks enthusiastic society to know more about what is the dragon fruit and how the dragon fruit culture techniques, so the dragon fruit in the area can develop. Keywords: Community, Cultivation, Dragon fruit, Pangandaran.
Co-Authors Abdullah, Chalid Ilham Abdurrokhim ⠀ Abdurrokhim, . Achmad Djumarma Wirakusumah Adi Hardiyono, Adi Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudrajat Agus Didit Haryanto Andi Makawaru Yasin, Andi Makawaru Ardhyastuti, Sri Aton Patonah, Aton Bambang Prianggoro -, Bambang Prianggoro Bambang Sugiarto Benyamin Benyamin Benyamin Benyamin, Benyamin Benyamin, Benyamin Bernadeta Subandini Astuti Bombom Rahmat Suganda, Bombom Rahmat Budi Muljana Budiman, Zahra Hanifah Dany Margaesa Dicky Muslim Dietriech Geoffrey Bengen Dina Oktavia Edy Sunardi Emi Sukiyah Emy Sukiyah Erni Suminar Faizal Muhamadsyah Faizal Muhamadsyah -, Faizal Muhamadsyah Faizal Muhammadsyah, Faizal Febriwan Mohammad Fery Erawan Gaspersz, Gabriela C. N. GASPERSZ, GABRIELA.C.N. Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan, Hendarmawan Hendarmawan, . Heryadi Rachmat Hilarius Rodriguez Hilarius Rodriguez, Hilarius Ildrem Syafri Ismawan Ismawan, Ismawan Ismawan, . Isni Nurruhwati Isni Nurruhwati Iwan Nursahan Iyan Haryanto Johanes Hutabarat Margaesa, Dany Margaesa, Dany Martha Magdalena Nanlohy Moeh. Ali Jambak Moeh. Ali Jambak, Moeh. Ali Moh Heri Hermiyanto Zajuli Muhamadsjah, Faizal Muhamadsyah, Faisal Muhammad Abdillah Hasan Qonit Muhammad Kurniawan Alfadli Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nanda Natasia Nisa Nurul Ilmi Nurdrajat Nurdrajat Nursahan, Iwan Nursahan, Iwan Panji Ridwan Ratih C. F. Ratumanan Richardus Kaswadji Richardus Kaswadji Ridwan, Panji Rieuwpassa, Lilian C Rieuwpassa, Lilian Cornelia Rodriguez, Hilarius Rosana, Mega Fattima Rusman Rinawan -, Rusman Rinawan Sato, Tokiyuki Sayaf, Ival Umar Sudarjat Sudarjat Sudarjat Suganda, Wingky SYARIFUL MUBAROK Teti Syahrulyati, Teti Undang Mardiana Widhiyatmoko, Maskur Winantris Winantris Yudi Darlan Yuyun Yuniardi Zufialdi Zakaria