Claim Missing Document
Check
Articles

UMUR FORMASI CANTAYAN DI SUNGAI CIBEET CIANJUR Abdurrokhim, .; Isnaniawardhani, Vijaya; Muhamadsjah, Faizal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v17i1.21490

Abstract

ABSTRAKFormasi Cantayan yang tersingkap di Sungai Cibeet disusun oleh batupasir dalam berbagai ukuran butir dan ketebalan, breksi dan batulempung. Di bagian bawah disusun oleh perselingan batupasir kasar, dengan ketebalan bervariasi antara 30 sampai dengan 60 cm, dan dapat bisa menumpuk hingga ketebalan lebih dari 5 meter. Sisipan batulempung sesekali muncul diantara batupasir tersebut. Lapisan breksi dijumpai hanya di bagian bawah dari formasi ini. Semakin ke atas batulempung semakin dominan dan batupasir semakin tipis dan halus.Sebanyak 15 (lima belas) contoh batuan telah dipilih untuk analisa paleontologi. Delapan contoh diambil pada lintasan bagian timur dan tujuh contoh telah diambil pada lintasan bagian barat. Sedikitnya 3 (tiga) datum umur dapat ditentukan dari kemunculan beberapa fosil indek yang penting diantaranya adalah: Globoroalia menardii, Globorotalia acostaensis, Globorotalia menotumida dan Hestigerina pelagica. Ketiga datum tersebut adalah N14-N15, N16 dan N17. Dengan demikian Formasi Cantayan yang tersingkap di Sungai Cibeet, Cianjur adalah berumur dalam rentang waktu antara N15 – N 17 (Miosen Akhir).Kata Kunci: Formasi Citayan, Cibeet, Paleontologi, Fosil IndexABSTRACTThe Cantayan Formation which is revealed on the Cibeet River is composed of sandstones in various grain sizes and thicknesses, breccia and claystone. At the bottom are arranged by coarse sandstone intervals, with thicknesses varying from 30 to 60 cm, and can be piled up to a thickness of more than 5 meters. Claystone inserts occasionally appear between these sandstones. The breccia layer is found only at the bottom of this formation. Increasingly the claystone is increasingly dominant and the sandstone is getting thinner and smoother.A total of 15 (fifteen) rock samples have been selected for paleontological analysis. Eight samples were taken on the eastern trajectory and seven samples were taken on the western trajectory. At least 3 (three) datum ages can be determined from the appearance of several important fossil indexes including: Globoroalia menardii, Globorotalia acostaensis, Globorotalia menotumida and Hestigerina pelagica. The three datums are N14-N15, N16 and N17. Thus the Cantayan Formation which was revealed on the Cibeet River, Cianjur is aged in the time span between N15 - N 17 (Late Miocene).Keywords: Citayan Formation, Cibeet, Paleontology, Index Fossil
STRATIGRAFI VULKANIK DI LERENG UTARA GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, DAERAH CISALAK, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT Yuniardi, Yuyun; Hendarmawan, .; Isnaniawardhani, Vijaya; Abdurrokhim, .; Ridwan, Panji
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 3 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2197.751 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i3.24985

Abstract

AbstrakGunung Tangkuban Parahu adalah gunung api aktif di Provinsi Jawa Barat yang merupakan  fase termuda dari kelanjutan sistem vulkanisme Sunda-Tangkuban Parahu yang memiliki sejarah geologi yang cukup rumit dan komplek, khususnya daerah Cisalak dan sekitarnaya, Kabupaten Subang. Metode Fasies Gunungapi dapat digunakan untuk merekonstruksi peristiwa erupsi yang terjadi masa lampau dan juga dapat digunakan untuk memprediksi arah aliran apabila terjadi erupsi berikutnya. Stratigrafi vulkanik daerah penelitian dapat dibagi menjadi enam satuan yang diurutkan dari muda ke tua, yaitu: Aliran Piroklastik 1  Bukittunggul (Ba1) Holosen; Jatuhan Piroklastik Tangkuban Parahu (Tj) Holosen; Aliran Piroklastik Tangkuban Parahu (Ta) Holosen; Aliran Piroklastik 2 Bukittunggul (Ba2) Plistosen awal; Aliran Lava Bukittunggul (Bl) Plistosen awal; dan Aliran Lava Sunda (Sl) Plistosen tengah. Setelah dilakukan analisis fasies diperoleh fasies dengan endapan paling muda yang memiliki material berupa konglomerat dan fasies debris flow, pada fase selanjutnya didapatkan fasies endapan jatuhan piroklastik, kemudian dilanjutkan dengan fasies aliran prioklastik atau ignimbrit, dan fasies berikutnya adalah berupa block dan ash deposit, serta fasies terakhir dengan meterial tertua yang berlitologikan lava adalah fasies lava koheren. Dampak erupsi berupa aliran lahar, awan panas, dan material jatuhan yang terjadi di masa lalu masih sangat mungkin terjadi pada masa yang akan datang. Katakunci: Tangkuban Parahu, Fasies Gunungapi, Erupsi. AbstractTangkuban Parahu Volcano is an active volcano in West Java Province which is the youngest phase of the continuation of the Sunda-Tangkuban Parahu volcanism system which has a fairly complex and complex geological history, especially the Cisalak and surrounding areas, Subang Regency. The Volcanic Facies Method can be used to reconstruct eruption events that have occurred in the past and can also be used to predict the direction of flow when the next eruption occurs. The volcanic stratigraphy of the study area can be divided into six units which are sorted from young to old, namely: Pyroclastic Flow 1 Bukittunggul (Ba1) Holocene; Holocene Tangkuban Parahu (Tj) Pyroclastic Fall; Pyroclastic Flow Tangkuban Parahu (Ta) Holocene; Bukittunggul 2 Pyroclastic Flow (Ba2) Early Plistocene; Bukittunggul Lava Flow (Bl) Early Plistocene; and Sunda Lava Flow (SL) Middle Plistocene. After facies analysis, facies was obtained with the youngest sediment which had material in the form of conglomerates and debris flow facies, in the next phase obtained facies of pyroclastic fall deposits, then proceed with prioclastic flow facies or ignimbrite, and the next facies were blocks and ash deposits, and facies the last with the oldest meterial lava is the coherent lava facies. The impact of the eruption in the form of lava flow, hot clouds, and falling material that occurred in the past is still very likely to occur in the future. Keywords: Tangkuban Parahu, Volcano Facies, Eruption.
SEBARAN NANNOFOSIL PADA ANGGOTA BATUGAMPING FORMASI PAMUTUAN, PANGANDARAN, INDONESIA Rieuwpassa, Lilian Cornelia; Isnaniawardhani, Vijaya; Pratiwi, Santi Dwi; Nurdrajat, .; Gaspersz, Gabriela C. N.
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 2 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i2.33292

Abstract

Pangandaran merupakan daerah yang terdiri dari karakteristik batugamping grainstone, packstone, wackestone dan batugamping kristalin. Studi ini dilakukan untuk mengetahui sebaran spesies calcareous nannofosilyang terdapat dalam satuan batugamping penyusun dari Anggota Batugamping Formasi Pamutuan. Penelitian yang dilakukan pada 2 (dua) titik lokasi measuring section diperoleh 40 lapisan batugamping pada Anggota Batugamping Formasi Pamutuan. Analisis sampel batugamping menggunakan metode suspensi dan dikeringkan dibawah UV light dan observasi preparate slide nannofosil di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x berdasarkan counting technique. Berdasarkan hasil identifikasi, didapatkan spesies nannofosil antara lain Catinaster coalithus, Calcidiscus macintyrei, Calcidiscus leptoporus, Coccolithus miopelagicus, Coccolithus sp., Cyclicargolithus floridanus, Discoaster quinqueramus, Discoaster sp., Hughesius sp., Helicosphaera carteri, Helicosphaera sp., Reticulofenestra spp. (2-3mm), Reticulofenestra spp. (3-4 mm), Reticulofenestra pseudoumbilicus, Sphenolithus abies Sphenolithus heteromorphus, Sphenolithus moriformis, Sphenolithus sp. dan Umbellosphaera irregularis. Selain itu, penelitian ini juga menyajikan catatan Sphenolithus yang memiliki kelimpahan sangat baik dan memiliki distribusi menerus yang tercatat dari umur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir. Sphenolithus adalah salah satu spesies nannofosil yang penting untuk proxy pada kondisi oligotrofik yang mampu beradaptasi dengan peningkatan stratifikasi air laut.
THE FOSSIL ASSEMBLAGE FEATURES OF LIMESTONE AND CLASTIC SEDIMENTARY ROCK IN LULUT AREA, CILEUNGSI DISTRICT, BOGOR, WEST JAVA -, Vijaya Isnaniawardhani; -, Rusman Rinawan; -, Bambang Prianggoro
Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 2 (2012): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2401.181 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v10i2.8281

Abstract

The geological mapping for limestone and clastic sedimentary rock in Lulut area was conducted. The study area was composed of claystone, siltstone, sandstone and limestone intercalations of Jatiluhur Formation formed within neritic setting in Middle Miocene age. This section interfingers with rich coral and algae limestone of Klapanunggal Formation.Larger foraminifera (Milliolids, Nummulites spp., Amphistegina spp., Operculina spp., Cycloclypeous spp.), globigerinids, calcareous red and green algae, corals, Molllucs and Brachiopods shell fragments were recorded in biogenic limestone. The marine invertebrata fossil assemblages (Molluscs, Brachiopods) as well as shallow marine trace fossils (skolithos, cruziana) were recorded in calcareous claystone, siltstone, sandstone and bioclastic limestone. Planktic and small benthic foraminifera assemblages were found in fine clastic sedimentary rock.The identified larger foram, globigerinids, coral and calcareous algae assemblages associated with invertebrate shell fragments can be indicated age and environmental of limestone. Based on the fossil assemblages and morphology characteristics of the study area, the limestone was formed in back-reef zones (northern part, at Bagogog-Cilalay); reef-crest (central part, at Pasir Bali, Kutalingkung, Sibancana, Kuari D); and fore-reef zones (southern part, at Cileungsi, Ciseah). In the southern part, claystone interlaminations and intercalations are commonly recorded. The reef complex grew in Tertiary age within neritic zone.Some index planktic foraminifera (Globigerinoides primordius, Globigerinoides ruber, Globorotalia continousa, Globorotalia siakensis, Globorotalia mayeri, Hastigerina siphonifera and Orbulina suturalis) recorded in carbonaceous clastic sedimentary rock indicated that sedimentary rock of Jatiluhur sections deposited within Middle Miocene Zones N.9 to N.14. Benthic and planktic foraminifera assembalges in the sections indicated that the sediments were deposited in neritic setting. This is supported by the appearance invertebrate fossils and trace fossils.
Biostratigrafi Calcareous Nannofossil Miosen Pada Anggota Batugamping Formasi Pamutuan Pangandaran, Jawa Barat GASPERSZ, GABRIELA.C.N.; Isnaniawardhani, Vijaya; Pratiwi, Santi Dwi; Nurdrajat, .; Rieuwpassa, Lilian C
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.31478

Abstract

Lokasi penelitian terletak di Parakanmanggu, dan Cigugur, Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini difokuskan pada korelasi biostratigrafi Anggota Batugamping Formasi Pamutuan dengan analisis detil pada singkapan satuan batugamping. Anggota Batugamping Formasi Pamutuan terendapkan pada umur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir dengan lingkungan pengendapan laut. Metode penelitian meliputi observasi lapangan dengan menggunakan metode measuring section pada dua lintasan, preparasi nannofossils, dan analisis kualitatif. Empat puluh sampel batugamping yang terdiri dari batugamping kristalin, batugamping grainstone, dan batugamping packstone telah dianalisis dengan metode smear slide dan suspensi. Distribusi calcareous nannofossil menunjukkan pembentukan enam Zona: Sphenolithus heteromorphus dan Coccolithus miopelagicus (NN5); Cyclicargolithus floridanus (NN6); Catinaster coalithus (NN7); Discoaster berggrenii (NN8-NN9); Reticulofenestra small size (NN10-NN11); dan Discoaster quinqueramus (NN12). Berdasarkan distribusi kemunculan awal dan akhir dari nannofossils datum spesies, kami menyimpulkan bahwa Anggota Batugamping Formasi Pamutuan terendapkan pada rentang umur relatif NN5 sampai NN12 atau Miosen Tengah sampai Miosen Akhir.
Identifikasi Umur Batupasir Formasi Bentang di Pangandaran Berdasarkan Kumpulan Nannofosil Gampingan Pratiwi, Santi Dwi; Isnaniawardhani, Vijaya; Sato, Tokiyuki
Bulletin of Scientific Contribution Vol 20, No 1 (2022): Bulletins of Scientific Contribution : Geology
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v20i1.39353

Abstract

ABSTRAKSebanyak 15 sampel yang terdiri dari batupasir dengan semen karbonat dalam berbagai ukuran butir dari Formasi Bentang di daerah Babakan Kabupaten Pangandaran dianalisis pengamatan mikroskopis dan penentuan umur berdasarkan kumpulan nannofosil gampingan. Sisipan batulempung sesekali muncul di antara batupasir di bagian selatan lokasi pengambilan sampel. Kumpulan nannofosil gampingan umumnya banyak hingga sedikit dan preservation nannofosil terawetkan sedang - baik. Kerangka biostratigrafi terdiri dari 5 (lima) peristiwa Zonal berdasarkan kemunculan 21 spesies nannofosil gampingan. Lima spesies datum nannofosil yaitu terdiri dari kemunculan akhir Coccolithus miopelagicus (Zona 10.613 Ma atau NN8); kemunculan awal Discoaster hamatus (10,541 Ma) dan kemunculan akhir Discoaster hamatus (9.560 Ma) atau Zona NN9-NN10; kemunculan awal Discoaster berggrenii (NN11/NN10); dan interval atas Reticulofenestra kecil (7.167 Ma atau NN11 Zone). Lebih khusus lagi, interval umur pada Formasi Bentang daerah Pangandaran berkorelasi pada Miosen Akhir yaitu dari Zona NN8 hingga Zona NN11. Dominasi Reticulofenestra kecil di Zona NN11 menunjukkan korelasi positif dengan kelimpahan produktivitas coccolith di Formasi Bentang. Kata Kunci: Formasi Bentang, Nannofosil Gampingan, Miosen Akhir, Pangandaran ABSTRACTA total of 15 samples composed of sandstones with carbonate cement in various grain sizes from Bentang Formation in the Babakan area of Pangandaran regency were analyzed for microscopic observation and age determination based on the calcareous nannofossil assemblages. Claystone inserts occasionally appear between these sandstones in the southern part of the sampling location. The calcareous nannofossils assemblages are generally common to few  and preservation of sample is moderate to good. The biostratigraphic framework consist of 5 (five) Zonal events based on the occurrences of 21 species of calcareous nannofossil. Five nannofossil datum species are consist of  last occurrence of Coccolithus miopelagicus (10.613 Ma or NN8 Zone); first occurrence  Discoaster hamatus  (10.541 Ma) and last occurrence of Discoaster hamatus (9.560 Ma) or NN9-NN10 Zone; first occurrence of Discoaster berggrenii (NN11/NN10); and top of small Reticulofenestra interval (7.167 Ma or NN11 Zone). More specifically, an age interval at Bentang Formation of Pangandaran area was correlated for the Late Miocene from NN8 Zone to NN11 Zone. The dominance of small Reticulofenestra at NN11 Zone  shows a positive correlation with abundance of coccolith productivity in Bentang Formation.  Keywords : Bentang Formation, Calcareous Nannofosils, Late Miocene, Pangandaran
IDENTIFIKASI NANNOFOSIL PADA SEDIMEN DASAR LAUT WILAYAH TELUK KRUI PERAIRAN PESISIR BARAT, PROVINSI LAMPUNG Budiman, Zahra Hanifah; Isnaniawardhani, Vijaya; Ismawan, .; Ardhyastuti, Sri
Bulletin of Scientific Contribution Vol 21, No 1 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v21i1.45483

Abstract

Daerah penelitian berada pada Teluk Krui, Perairan pesisir Barat, Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi nannofosil pada daerah terkait. pengambilan data dilakukan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan data yang diambil dari Survei hidrografi, geofisika, dan geologi menggunakan kapal Baruna Jaya IV oleh Tim BRIN pada tahun 2020. Data yang diperoleh dan digunakan pada penelitian ini berupa  data gravity core.  Penelitian ini didukung oleh identifikasi nannofosil. Hasil analisis menunjukan terdapat 15 genus dan 27 spesies dari 35 sampel gravity core  titik GC001 dan GC003 yang teridentifikasi dan menunjukan rentang umur  Pleistosene hingga resen, NN19-NN21. kumpulan nannofosil yang terkandung pada sampel gravity core GC001 memiliki variasi kelimpahan abundant hingga common, dengan tingkat preservasi baik (good) hingga buruk (poor), untuk sampel gravity core GC003 memiliki variasi kelimpahan abundant hingga common. 
GEOMORPHOSITES DAN BENTUK LAHAN ANTROPOGENIK DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN GEOHERITAGE DAN GEOKONSERVASI PADA GEOPARK PULAU BELITONG Pratiwi, Santi Dwi; ISNANIAWARDHANI, VIJAYA; Oktavia, Dina
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.013 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i2.22528

Abstract

Geomorphosite adalah salah satu dari beberapa jenis geosites dengan nilai ilmiah dan nilai tambahan (mis., budaya, sejarah, agama, ekologi, sosial / ekonomi, dan estetika) yang dikaitkan dengan pengembangan geopark. Studi geomorphosite dan geoheritage di geopark Pulau Belitong masih terbatas sejak didirikannya pada 2017. Melalui study ini, kami menilai potensi geotourism di Belitung Timur berdasarkan kriteria penilaian geomorphosite yang terdiri dari ScIV (Nilai Ilmiah dan Intrinsik), EdV (Nilai Pendidikan), EcV (Nilai Ekonomis), CV (Nilai Konservasi), AV (Nilai Tambah) dan deskripsi geomorfologi di tiga geosite penting di Belitung Timur (Bukit Samak, Burungmandi, dan Metasediment Permo-Carbon Kelapa Kampit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan nilai ilmiah dari tiga geosit penting dan untuk menyajikan nilai potensial untuk geomorphoturisme dan geokonservasi di geopark Pulau Belitong. Studi kami menunjukkan bahwa Belitung Timur dibagi menjadi empat unit geomorfologi, yaitu perbukitan agak curam, perbukitan bergelombang, dataran bergelombang dan dataran datar yang masing-masing meliputi 12%, 63%, 8%, dan 17% dari total wilayah. Tiga geosite penting di atas masing-masing memiliki karakteristik khusus sebagai geomorphosite. Bukit Samak terdiri dari urutan batuan Carbonaceous hingga Permian, yang disusun oleh batu pasir, batu lempung, dan litologi serpih, dan terletak di dataran tinggi. Geosite ini memiliki tempat keanekaragaman budaya yang penting (kawasan peninggalan perumahan elit Belanda). Burungmandi terdiri dari satuan batuan termuda di Belitung yang merupakan granodiorit dan terletak di bentukan morfologi perbukitan agak curam. Kuil Dewi Kwan Im yang terkait dengan sejarah diaspora Cina dibangun di atas batu granodiorit di situs ini. Open Pit Kelapa Kampit dengan topografi perbukitan bergelombang memiliki litololgi batu pasir merah, kuarsa, dan batuan metamorf. Sejarah penyebaran Islam di Belitung dan tradisi Haka - Cina terdapat di situs ini. Kami menyarankan bahwa daerah-daerah tersebut memiliki sumber daya geomorphotourisme dan geokonservasi yang berharga dan sangat berpotensi untuk direkomendasikan sebagai dasar pengembangan geokonservasi dan geoedukasi di geopark Pulau Belitong.
KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH VOLKANIK KUARTER KAKI TENGGARA GUNUNG SALAK Suganda, Bombom Rahmat; Isnaniawardhani, Vijaya
Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 2 (2014): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v12i2.8370

Abstract

Gunung Salak land forms hills and valleys, composed of typical volcanic deposit that controlled by geology structures. The research was conducted in several stages, there are: references study, field study or geological mapping (observation of geomorphology or landforms, rock type and genesis, geology structure indication) as well as data analysis. Landform of southeast part of Gunung Salak can be devided into steep hill geomorphological unit that lied on high land, formed by Salak volcanic deposits, with radial drainage pattern; and sloping hill geomorphology unit with smooth contours that lied on lowland, formed by Salak and Pangrango mixing volcanic deposits. The southeast part of Gunung Salak foothills from lower to upper consecutively composed by pumiceous tuf volcanic deposit; laharic breccia; lapili and pumiceous tuf with paleosoil layer intercalations; and andesitic lava. Geology structure indications was difficulty observed because of thin soil cover and sloping dip of rock layer (<10º).
KARAKTERISTIK GEOLOGI DAERAH GUNUNGAN LUMPUR CIUYAH -, Faizal Muhamadsyah; -, Edy Sunardi; -, Vijaya Isnaniawardhani
Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 2 (2012): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2682.172 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v10i2.8278

Abstract

The mud flow which identified in Ciuyah area is located in Ciniru village, District Ciniru, Kuningan regency, West Java. Study of morphometry through the deployment of slope classes have described the class as a concentric distribution with location of Ciuyah mud flow in the middle. Annular’s drainage pattern at the regional scale is reflected of the circular in the Ciniru area, at around of site Ciniru extrusion Ciuyah mud mound. Circular patterns of distribution shown by the slope zone, and annular flow patterns in the river a more regional scale is suggest updoming beneath the surface. Interpreted that the migration channel and the possible fluid circulation is controlled by faults that developed in the study area. Structural geology are factors that contribute to the release or migration of fluid to the surface, and provide an outlet for material and fluid under conditions of excessive stress, clayey material which forming of bedrock formations is elusiation experience process, and eventually formed mountains of mud intrusion on the surface
Co-Authors Abdullah, Chalid Ilham Abdurrokhim ⠀ Abdurrokhim, . Achmad Djumarma Wirakusumah Adi Hardiyono, Adi Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudrajat Agus Didit Haryanto Andi Makawaru Yasin, Andi Makawaru Ardhyastuti, Sri Aton Patonah, Aton Bambang Prianggoro -, Bambang Prianggoro Bambang Sugiarto Benyamin Benyamin Benyamin Benyamin, Benyamin Benyamin, Benyamin Bernadeta Subandini Astuti Bombom Rahmat Suganda, Bombom Rahmat Budi Muljana Budiman, Zahra Hanifah Dany Margaesa Dicky Muslim Dietriech Geoffrey Bengen Dina Oktavia Edy Sunardi Emi Sukiyah Emy Sukiyah Erni Suminar Faizal Muhamadsyah Faizal Muhamadsyah -, Faizal Muhamadsyah Faizal Muhammadsyah, Faizal Febriwan Mohammad Fery Erawan Gaspersz, Gabriela C. N. GASPERSZ, GABRIELA.C.N. Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan, Hendarmawan Hendarmawan, . Heryadi Rachmat Hilarius Rodriguez Hilarius Rodriguez, Hilarius Ildrem Syafri Ismawan Ismawan, Ismawan Ismawan, . Isni Nurruhwati Isni Nurruhwati Iwan Nursahan Iyan Haryanto Johanes Hutabarat Margaesa, Dany Margaesa, Dany Martha Magdalena Nanlohy Moeh. Ali Jambak Moeh. Ali Jambak, Moeh. Ali Moh Heri Hermiyanto Zajuli Muhamadsjah, Faizal Muhamadsyah, Faisal Muhammad Abdillah Hasan Qonit Muhammad Kurniawan Alfadli Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nanda Natasia Nisa Nurul Ilmi Nurdrajat Nurdrajat Nursahan, Iwan Nursahan, Iwan Panji Ridwan Ratih C. F. Ratumanan Richardus Kaswadji Richardus Kaswadji Ridwan, Panji Rieuwpassa, Lilian C Rieuwpassa, Lilian Cornelia Rodriguez, Hilarius Rosana, Mega Fattima Rusman Rinawan -, Rusman Rinawan Sato, Tokiyuki Sayaf, Ival Umar Sudarjat Sudarjat Sudarjat Suganda, Wingky SYARIFUL MUBAROK Teti Syahrulyati, Teti Undang Mardiana Widhiyatmoko, Maskur Winantris Winantris Yudi Darlan Yuyun Yuniardi Zufialdi Zakaria