Claim Missing Document
Check
Articles

KELIMPAHAN, KEANEKARAGAMAN DAN SPESIES KHAS DARI KUMPULAN FORAMINIFERA BENTIK PADA SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN TAMBELAN Isnaniawardhani, Vijaya; Muhammadsyah, Faizal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 3 (2015): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.905 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v13i3.8413

Abstract

Thirty-five surficial sediment samples in Tambelan Seas were studied to identify foraminifera assemblages in the sediments as marine resources. Samples were collected from the strait to the open sea (<100 m), coral reefal (<12 m), sandy beaches and mangrove. Benthic foraminifera assemblages classified in 58 genera of suborder Textulariina, Spirillinina, Miliolina, Lagenina, Buliminina, and Rotaliina. Sub-ordo Textulariina was represented by genera Ammobaculites, Dorothia, Karreriella, Bigerina, Sahulia, Textularia, and Clavulina. Genus Spirilliina is included in the sub-ordo Spirillinina. Genera Adelosina, Nummulopyrgo, Spiroloculina, Agglutinella, Ammomassilina, Lachlanella, Quinquelo-culina, Miliolinella, Pyrgo, Triloculina, Peneroplis, and Marginopora were classified into Suborder Miliolina. Suborder Lagenina was represented by genus Lagena, Guttulina, Oolina, Fissurina and Glandulina; whereas Suborder Buliminina by genus Bolivina, Siphogenerina, and Reussella. Genus Cancris, Valvuli-neria, Eponides, Orbitina, Neoconorbina, Rosalina, Siphoninoides, Discorbia, Lobatula, Planorbulinella, Cymbaloporella, Cymbaloporetta, Gypsina, Epistomaroides, Amphistegina, Nonionoides, Heterolepa, Gyroidina, Hanzawaia, Pararotalia, Rotalia, Ammonia, Asterorotalia, Pseudorotalia, Baculogypsinoides, Calcarina, Elphidium, Parrellina, Assilina, and Heterostegina included in Suborder Rotaliina. Some broken milliolidae can’t be determined. Surficial sediments on open sea generally content a high number of individu as well as high diversity; Sub-ordo Rotaliina dominated. Benthic foraminifera are abundant on reefal, decreased on sandy beach, while are rare in magrove swamp. Benthic foraminifera near reef showed higher diversity than sandy beach and mangove swamps. Amphistegina lessonii was recorded on open marine and coral reefal sediments around Tambelan archipelago. Assilina ammonoides is typical species in open marine; Calcarina calcar in coral reefal; and in contrast, these species were not founded on the sandy beach and mangrove swamps. Abundancy, diversity and appearance of typical species were influenced environment factors as depth/bathimetry, water supply, temperature, sunlight intensity, substrate/sediment type, turbidity, wave and current. The study result is very useful as a reference of benthic foraminifera taxonomy in Indonesia.
FENOMENA MORFOTEKTONIK PADA CITRA STRM DI WILAYAH TELUK KENDARI Yasin, Andi Makawaru; Sukiyah, Emi; Sulaksana, nana; Isnaniawardhani, Vijaya
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.626 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i2.9802

Abstract

Kendari bay has a strategic position in Southeast Sulawesi. In this region there is a city of Kendari, the capital of the province. The unique shape is a product of the collision of tectonic plates, occupies the southeast arm of Sulawesi. There might be a strong tectonic control in the region. The up lift process continues sustainable, evidence was also recorded in the landscape. The phenomenon morphotectonic show unique patterns that are easily recognizable on remote sensing data. The data used in this study is derived from SRTM imagery. Besides lineament associated with geological structure, the DEM can also be obtained from that image. Sun-shading technique used to clarify the appearance of lineament associated with geological structure. The lineament data plotted into a rosette diagram to determine the general trend. The lineament density data obtained by calculating the ratio of the total length of lineament in each grid of 5x5 sq km. The results showed that the morphotectonic phenomenon easily recognizable in the SRTM imagery. Sun-shading techniques can clarify lineament patterns associated with the presence of fault. Zone of lineament density increase indicates an irregular pattern and generally at the level of more than 400 meters above sea level, located in the northern and southern approached Wolasi Mountains. At an elevation of less than 400 meters above sea level, low lineament density between 0 to 8 km /sq km. This phenomenon indicates that the area has undergone a process of denudation. Lineament pattern trending NE-SW reflect the release of the compression process LAWANOPO shear fault trending NW-SE. Keywords: Morphotectonic, SRTM image, lineament, GIS, Kendari Bay Teluk kendari memilki nilai strategis di Provinsi Sulawesi Tenggara. Di wilayah ini terdapat Kota kendari yang merupakan ibu kota provinsi. Bentuknya yang unik merupakan produk tumbukan lempeng tektonik, berada di lengan tenggara Sulawesi. Tidak salah jika ada kontrol tektonik yang cukup kuat di wilayah ini. Proses pengangkatan secara berkesinambungan terus berlangsung, bukti-buktinya juga terekam pada bentang alam di wilayah ini. Fenomena morfotektonik menunjukkan pola-pola yang unik sehingga mudah dikenali pada data penginderaan jauh. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dari citra SRTM.  Di samping kelurusan yang berasosiasi dengan struktur geologi, dari citra tersebut juga diperoleh DEM. Teknik sun-shading digunakan untuk memperjelas kenampakan kelurusan-kelurusan yang berasosiasi dengan struktur geologi. Data hasil interpretasi kelurusan diplot ke dalam diagram rose untuk mengetahui arah umum. Data kerapatan kelurusan diperoleh dengan cara menghitung perbandingan total panjang kelurusan dalam setiap grid yang berukuran 5x5 km2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena morfotektonik mudah dikenal pada citra SRTM. Teknik sun-shading dapat memperjelas pola-pola kelurusan yang berasosiasi dengan keberadaan sesar. Zona peningkatan densitas kelurusan menunjukkan pola yang tidak teratur dan secara umum berada pada level > 400 mdpl, terdapat di bagian utara dan selatan mendekati Pegunungan Wolasi. Pada elevasi < 400 mdpl, densitas kelurusan rendah antara 0 sampai 8 km/km2. Fenomena ini menunjukkan bahwa daerah tersebut telah mengalami proses denudasi. Pola kelurusan berarah NE-SW mencerminkan realese dari proses compression sesar geser LAWANOPO berarah NW-SE.   Kata Kunci : Morfotektonik, citra SRTM, kelurusan, SIG, Teluk Kendari
Pengaruh Kontrol Struktur Geologi Daerah Vulkanik terhadap Aliran Air Tanah di Daerah Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Ismawan, Ismawan; Hendarmawan, Hendarmawan; Hutabarat, Johanes; Isnaniawardhani, Vijaya
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.046 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.18683

Abstract

Aliran air dari hulu ke hilir dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama adalah jenis batuan penyusun di daerah resapan serta intensitas deformasinya. Kombinasi struktur sesar dan kekar dapat memodifikasi variasi permeabilitas dari sangat permeabel (akuifer bagus) sampai dengan sangat kedap (akuiklud). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi geologi, baik kondisi geologi permukaan maupun bawah permukaan yang terdiri atas batuan penyusun, tatanan tektonik dan pola strukturnya serta pengaruhnya terhadap aliran airtanah. Secara administratif daerah penelitian meliputi daerah Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.Daerah penelitian dibagi menjadi 3 satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Tubuh Gunungapi Strato, Satuan Geomorfologi Kaki Gunungapi Strato dan Satuan Geomorfologi Perbukitan. Urutan satuan stratigrafinya, dari yang tua sampai yang muda, adalah Satuan Breksi Tuff, Satuan Breksi Vulkanik, Satuan Tuff Breksian, Satuan Lava Andesit dan Lava Basaltik. Batuan di daerah penyelidikan umumnya berasal dari endapan volkanik dan dapat dikelompokan berdasarkan kisaran nilai tahanan jenisnya. Sesar-sesar yang ada di permukaan adalah : Sesar Gekbrong, Sesar Cibeleng dan Sesar Cipadang, ketiganya berarah relatif baratdaya – timurlaut, sedangkan sesar di bawah permukaan berarah timurlaut – baratdaya tidak diberi nama. Daerah resapan dibatasi sesuai dengan batas sesar yang berarah timurlaut – baratdaya, mengindikasikan bahwa sesar ini bertindak sebagai sealing fault.Kata Kunci: Gekbrong, Endapan Vulkanik, Struktur Geologi, Daerah Resapan, Resistivitas 
KORELASI BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA PLANKTON DAN NANNOPLANKTON TERSIER INDONESIA BAGIAN TIMUR (Studi Kasus: Pulau Sumba) Isnaniawardhani, Vijaya; Abdullah, Chalid Ilham; Pratiwi, Santi Dwi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.33039

Abstract

ABSTRAKStudi korelasi biostratigrafi Tersier dilakukan di Pulau Sumba yang tersusun oleh batuan sedimen klastik hasil pengendapan di lingkungan laut dalam. Foraminifera plankton dan nannoplankton dijumpai melimpah pada singkapan-singkapan batuan yang secara stratigrafi bisa ditelusuri kemenerusannya. Zonasi biostratigrafi foraminifera plankton dan korelasinya dengan zonasi biostratigrafi nannoplankton ditentukan berdasarkan batas pemunculan dan kepunahan spesies indeks. Tatanan biostratigrafi foraminifera plankton Pulau Sumba dapat dikelompokkan menjadi 12 zona, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut: (1) zona selang Globigerina tripartita - Globorotalia centralis, (2) zona kisaran Globorotalia mexicana, (3) zona kisaran Globorotalia centralis, (4) zona kisaran Globigerina tapuriensis, (5) zona kisaran Globigerina ampliapertura, (6) zona kisaran Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus, (7) zona kisaran Praeorbulina glomerosa curva, (8) zona kisaran Sphaeroidinella subdehiscens, (9) zona selang Globorotalia acostaensis – Globorotalia plesiotumida, (10) zona selang Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida, (11) zona selang Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens, dan (12) zona kisaran Sphaeroidinella dehiscens. Tatanan biostratigrafi nannoplankton Pulau Sumba dapat dibedakan menjadi 11 zona, yaitu: (1) zona kisaran Discoaster tani nodifer, (2) zona selang Chiasmolithus oamaruensisSphenolithus pseudoradians, (3) zona selang Sphenolithus pseudoradians – Sphenolithus distentus, (4) zona selang Sphenolithus distentus – Discoaster druggi, (5) zona selang Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura, (6) zona selang Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus, (7) zona kisaran Discoaster hamatus, (8) zona selang Discoaster hamatus – Discoaster quinqueramus, (9) zona kisaran Discoaster quinqueramus, (10) zona selang Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus, dan (11) zona kisaran Discoaster asymmetricus. Korelasi biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton dan nannoplankton pada urutan batuan Paleogen yang umumnya tersingkap di Sumba Barat; maupun Neogen yang tersingkap di Sumba Barat dan Timur menunjukkan resolusi yang baik dalam penentuan umur.Kata Kunci:biostratigrafi, foraminifera plankton, sumba barat, paleogen, penentuan umur.ABSTRACTTertiary biostratigraphy correlation studies were carried out on Sumba Island which is composed of clastic sedimentary rocks deposited in the deep-sea environment. Plankton foraminifera and nannoplankton are abundantly found in rock outcrops which can be traced stratigraphically. The plankton foraminifera biostratigraphy zonation and its correlation with the nannoplankton biostratigraphy zonation was determined based on the occurrence and extinct of index species. The plankton foraminifera succession on Sumba Island can be grouped into 12 zones, from old to young as follows: (1) Globigerina tripartita - Globorotalia centralis interval zone, (2) Globorotalia mexicana range zone, (3) Globorotalia centralis range zone, (4) ) Globigerina tapuriensis range zone, (5) Globigerina ampliapertura range zone, (6) Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus range zone, (7) Praeorbulina glomerosa curva range zone, (8) Sphaeroidinella subdehiscens range zone, (9) Globorotalia acostaensis - Globorotalia plesiotumida interval zone, (10) Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida interval zone, (11) Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens interval zone, and (12) Sphaeroidinella dehiscens range zone. The nannoplankton biostratigraphic succession on Sumba Island can be divided into 11 zones, namely: (1) Discoaster tani nodifer range zone, (2) Chiasmolithus oamaruensis - Sphenolithus pseudoradians interval zone, (3) Sphenolithus pseudoradians - Sphenolithus distentus interval zone, (4) Sphenolithus distentus - Discoaster druggi interval zone, (5) Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura interval zone, (6) Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus interval zone, (9) Discoaster hamatus range zone, (8) Discoaster hamatus - Discoaster quinqueramus interval zone, (9) Discoaster quinqueramus range zone, (10) Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus interval zone, and (11) Discoaster asymmetricus range zone. Biostratigraphic correlation based on foraminifera plankton and nannoplankton in Paleogene rock sequences which are generally exposed in West Sumba; and Neogene exposed in West and East Sumba show a good resolution in age determination.Keyword: biostratigraphy, plankton foraminifera, west sumba, paleogen, age determination.
KARAKTERISTIK SEDIMEN DAN MIKROORGANISMA PERMUKAAN DASAR LAUT PERAIRAN MADURA BAGIAN UTARA -, Vijaya Isnaniawardhani
Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 1 (2012): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.952 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v10i1.8275

Abstract

Characteristics of the river basin in Citanduy landslide prone areas are showing behaviors that canThe study was conducted to investigate the characteristics of the sediment, particularly sediment texture, and the amount and spread of microorganisms (nannoplankton and foraminifera) at the seafloor surface sediments of the northern waters of Madura. Karaktersistik sediment analysis is intended to determine the sediment texture, as for the analysis of microorganisms to determine the abundance, genus and species or the dominant characteristic in this area and its relation to bathymetric position on the line pantai.Analisis dab dilakukanterhadap laboratory 15sampel seabed surface waters of the North Madura, with a depth range between 5-77 m. Based on sediment texture can be seen that the sediment is composed of clay, silt and clay lanauan pasiran, which generally contains shell fragments microorganisms. On the seafloor surface sediments can be determined 20 species of nannoplankton and planktonic foraminifera and 30spesies 16spesies Benton foraminifera, with an abundance of being. Abundance and diversity increased with increasing depth nannoplanktoncenderung and proximity to the shoreline. Abundance and keanekaragamanterendah around the northern coastline of the island of Java and Madura Strait. This is probably due to the influence of antripogenik in this area. Species that were found relatively evenly and always appear in each sample was Emiliania huxleyi and Gephyrocapsa Oceanica. Gephyrocapsa is found predominantly in samples around the shoreline. Planktonic foraminifera abundance and diversity tends to increase with increasing depth and distance to the shoreline. Globigerinoides ruber is very common. Benton foraminifera dominated by Rotalina. The common genus is Ammonia, Quinqueloculina, Spiroloculina, Triloculina, Asterorotalia, Cibicides, Cancris, Elphidium, and Textularia Pseudorotalia, which tend to be more abundant at sites located in the north (away from the beach). Cibicides showed maximum abundance in the relatively distant from the coastline. Ratio of the total abundance of foraminifera plankton foraminifera tend to increase with increasing distance to the shoreline and depth.
FACIES AND PETROGRAPHIC CHARACTERISTICS OF CILETUH FORMATION IN THE MANDRAJAYA AREA, CIEMAS SUBDISTRICT, WEST JAVA Sayaf, Ival Umar; Isnaniawardhani, Vijaya; Hardiyono, Adi; Natasia, Nanda
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.65345

Abstract

The Eocene Ciletuh Formation, exposed within the Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, provides a key record of syn-tectonic sedimentation in West Java. While its general submarine fan setting is known, detailed facies and petrographic studies in specific localities are limited. This study aims to characterize the sedimentology of the Ciletuh Formation sandstone in the Mandrajaya area through an integrated analysis of lithofacies, petrography, and their spatial distribution to reconstruct its depositional environment. The methodology involved geological mapping to document outcrop characteristics and collect samples, followed by petrographic analysis of sandstones and conglomerates. Four primary lithofacies were identified: (a) matrix-supported polymictic conglomerate, (b) graded sandstone, (c) parallel-laminated sandstone, and (d) massive sandstone. Petrographic analysis reveals that the sandstones are texturally immature Lithic Arenites, and the conglomerates contain polymictic clasts of gabbro and recycled sandstone within a similar lithic arenite matrix. The spatial distribution of these facies delineates a submarine fan architecture, characterized by channel-fill deposits (conglomerates and massive sandstones) flanked by associated levee and overbank deposits (graded and laminated sandstones). The lithofacies association and petrographic composition confirm deposition within a dynamic submarine fan system sourced from a "Recycled Orogenic" belt, specifically the uplifted Ciletuh mé‎lange complex, within a tectonically active Paleogene fore-arc basin.Keywords: Submarine Fan, Lithic Arenite, Conglomerate, Fore-arc Basin, Sedimentation, Turbidite, Eocene.
Facies Characteristics and Depositional Environment Reconstruction of the Minahaki Formation, “DM” Field, Banggai Basin Sayaf, Ival Umar; Isnaniawardhani, Vijaya; Muljana, Budi; Suganda, Wingky
JURNAL GEOCELEBES Vol. 9 No. 2: October 2025
Publisher : Departemen Geofisika, FMIPA - Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/geocelebes.v9i2.45784

Abstract

The Miocene Minahaki Formation in the Banggai Basin represented a key hydrocarbon reservoir, but its pronounced heterogeneity posed a challenge for field development. This study aimed to characterize the formation's carbonate facies and reconstruct its depositional environment in the “DM” field to establish a predictive model for reservoir distribution. The research employed an integrated subsurface analysis of core, cuttings, and wireline log data from seven wells. Four principal lithofacies (Bioclastic Coralline Floatstone, Dolomitic Algae Bioclastic Packstone, Argillaceous Dolomitic Foraminifers Bioclastic Wackestone, and Bioclastic Wackestone) were identified and subsequently grouped into two distinct facies associations: a high-energy Reef Margin Complex (FA-1) and a lower-energy Fore-Reef Slope (FA-2). Spatial correlation of these associations revealed a clear proximal-to-distal environmental gradient from west to east. The depositional architecture of the Minahaki Formation in the study area was interpreted as a rimmed carbonate platform. This model accounts for the observed reservoir heterogeneity, concluding that higher-quality reservoir bodies, characterized by moldic, vuggy, and intercrystalline porosity, are concentrated within the single reefal buildup that defines the western margin of the field. This finding provides a direct, geology-based predictive tool for optimizing future drilling activities and serves as a useful analogue for similar carbonate systems elsewhere.
PENENTUAN KAWASAN PERTAMBANGAN BERBASIS SEKTOR KOMODITAS UNGGULAN SUMBERDAYA NIKEL KABUPATEN KONAWE DAN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Nursahan, Iwan; Isnaniawardhani, Vijaya; Sulaksana, Nana
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8 No 2 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v8i2.79

Abstract

Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara merupakan bagian dari Kawasan Strategis Nasional (KSN) Soroako dan sekitarnya, yang dicanangkan sebagai wilayah dengan komoditi unggulan pertambangan nikel. Penentuan kawasan pertambangan berbasis komoditi unggulansumberdaya nikel ini menggunakan pendekatan Satuan Genetika Wilayah (SGW) dan memanfaatkan Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).Valuasi matrik holistik SGW menghasilkan 204 nilai SGW di Kabupaten Konawe dan 248 nilai SGW di Kabupaten Konawe Utara. Valuasi matrik holistik tersebut, menunjukkan adanya keterkaitan  aspek potensi dan kendala wilayah terhadap total nilai valuasi SGW. Berdasarkan valuasi SGW dan analisis SWOT  kawasan pertambangan prioritas I, maka dapat direkomendasikan bahwa SGW Pedataran Patahan Batuan Ultramafik daerah Langikima dan Wiwirano serta SGW Pedataran Batuan Ultramafik daerah Asera, Andowia, Wiwirano dan Molawe sebagai Kawasan Andalan Pertambangan Nikel, dengan total sumberdaya sekitar 1,14 Milyar Ton, dan nilai valuasi skenario dikembangkan/ditambang berkisar 248 hingga 298.
FASIES PENGENDAPAN BATUBARA SEAM X25 FORMASI BALIKPAPAN BERDASARKAN LOG INSIDE CASING DI DAERAH SEPARI, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Margaesa, Dany; Isnaniawardhani, Vijaya; Mardiana, Undang
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 8 No 3 (2013): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v8i3.90

Abstract

Cekungan Kutai terletak di Kalimantan Timur menyimpan banyak kandungan sumber daya alam yang melimpah, seperti endapan batubara. Daerah penelitian secara geologi termasuk ke dalam Formasi Balikpapan yang dicirikan oleh keterdapatan litologi batupasir lepas (loose sand). Penggunaan Log Inside Casing merupakan salah satu solusi terbaik dalam pengambilan data well logging di Formasi Balikpapan ini untuk mengatasi beberapa kendala, seperti runtuhnya lubang bor dalam batuan sedimen lepas. Dengan metode Log Inside Casing ternyata terjadi penurunan kualitas pembacaan log sekitar 50% terutama pada Log Density. Namun demikian Log Gamma Ray masih sangat baik digunakan dalam interpretasi tekstur batuan sedimen sehingga suksesi sedimen dapat dipelajari sebagai aplikasi dari elektrofasies.Batubara seam X25 dibedakan menjadi dua fasies berbeda dan diendapkan pada lingkungan Transitional Lower Delta Plain yang dicirikan oleh pola fasies crevasse splay, channel, levee dan interdistributary bay berdasarkan model Horne (1978). Penelitian ini dapat mengkoreksi korelasi litostratigrafi dan perhitungan sumberdaya batubara berdasarkan genesa batubaranya secara tepat, akurat dan ilmiah.
Distribusi Nannofosil dan Foraminifera pada Batas Pliosen-Plistosen Formasi Batilembuti di Pulau Yamdena, Provinsi Maluku dan Relevansinya dengan Tektonik Regional Widhiyatmoko, Maskur; Vijaya Isnaniawardhani; Moh Heri Hermiyanto Zajuli
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 24 No. 1 (2023): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v24i1.737

Abstract

Analisis mikropaleontologi (foraminifera dan nannofosil) merupakan data pendukung dalam merekonstruksi stratigrafi sedimen laut. Studi ini dilakukan untuk menganalisis keragaman dan kelimpahan nannofosil serta foraminifera untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan, serta hubungannya dengan aktifitas tektonik. Berdasarkan kumpulan nannofosil yang terkandung pada empat sampel dari Formasi Batilembuti, batuan ini berumur NN18-NN19, atau batas Pliosen-Plistosen, yang ditandai oleh akhir kemunculan Discoaster brouweri dan awal kemunculan Gephyrocapsa caribbeanica. Berdasarkan foraminifera planktonik, batuan tersebut berumur N21-N22, yang ditentukan dari akhir kemunculan Globigerinoides trilobus fistulosus, Sphaeroidinellopsis seminulina, Globorotalia multicamerata, dan Globigerinoides obliquus extremus dan awal munculnya Globorotalia truncatulinoides. Kumpulan foraminifera bentonik mengindikasikan Formasi Batilembuti diendapkan pada lingkungan batial atas. Rekonstruksi stratigrafi menggambarkan Formasi Batilembuti ditutupi secara tidak selaras oleh batugamping Formasi Batimafudi yang terbentuk pada lingkungan lebih dangkal (sublitoral luar atau neritik luar). Hal ini relevan dengan tektonik regional collision, berlangsung sejak dua juta tahun lalu (batas Pliosen-Plistosen), yang mengakibatkan Kepulauan Tanimbar mengalami pengangkatan hingga akhirnya muncul di permukaan. Katakunci: Foraminifera, nannofosil, Pliosen, Plistosen, Yamdena.
Co-Authors Abdullah, Chalid Ilham Abdurrokhim ⠀ Abdurrokhim, . Achmad Djumarma Wirakusumah Adi Hardiyono, Adi Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudrajat Agus Didit Haryanto Andi Makawaru Yasin, Andi Makawaru Ardhyastuti, Sri Aton Patonah, Aton Bambang Prianggoro -, Bambang Prianggoro Bambang Sugiarto Benyamin Benyamin Benyamin Benyamin, Benyamin Benyamin, Benyamin Bernadeta Subandini Astuti Bombom Rahmat Suganda, Bombom Rahmat Budi Muljana Budiman, Zahra Hanifah Dany Margaesa Dicky Muslim Dietriech Geoffrey Bengen Dina Oktavia Edy Sunardi Emi Sukiyah Emy Sukiyah Erni Suminar Faizal Muhamadsyah Faizal Muhamadsyah -, Faizal Muhamadsyah Faizal Muhammadsyah, Faizal Febriwan Mohammad Fery Erawan Gaspersz, Gabriela C. N. GASPERSZ, GABRIELA.C.N. Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan, Hendarmawan Hendarmawan, . Heryadi Rachmat Hilarius Rodriguez Hilarius Rodriguez, Hilarius Ildrem Syafri Ismawan Ismawan, Ismawan Ismawan, . Isni Nurruhwati Isni Nurruhwati Iwan Nursahan Iyan Haryanto Johanes Hutabarat Margaesa, Dany Margaesa, Dany Martha Magdalena Nanlohy Moeh. Ali Jambak Moeh. Ali Jambak, Moeh. Ali Moh Heri Hermiyanto Zajuli Muhamadsjah, Faizal Muhamadsyah, Faisal Muhammad Abdillah Hasan Qonit Muhammad Kurniawan Alfadli Nana Sulaksana Nana Sulaksana Nanda Natasia Nisa Nurul Ilmi Nurdrajat Nurdrajat Nursahan, Iwan Nursahan, Iwan Panji Ridwan Ratih C. F. Ratumanan Richardus Kaswadji Richardus Kaswadji Ridwan, Panji Rieuwpassa, Lilian C Rieuwpassa, Lilian Cornelia Rodriguez, Hilarius Rosana, Mega Fattima Rusman Rinawan -, Rusman Rinawan Sato, Tokiyuki Sayaf, Ival Umar Sudarjat Sudarjat Sudarjat Suganda, Wingky SYARIFUL MUBAROK Teti Syahrulyati, Teti Undang Mardiana Widhiyatmoko, Maskur Winantris Winantris Yudi Darlan Yuyun Yuniardi Zufialdi Zakaria