Articles
DESAIN PROTOTIPE SISTEM MONITORING MINUM OBAT BAGI ODHA
Mufti Syawaludin;
Izzati Muhimmah;
Rahadian Kurniawan
JIKO (Jurnal Informatika dan Komputer) Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Journal Of Informatics and Computer
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33387/jiko.v4i2.2226
ODHA adalah sebutan bagi orang-orang yang telah terjangkit penyakit HIV/AIDS. Agar para ODHA tetap dapat dalam kondisi baik, dibutuhkan obat yang secara resmi direkomendasikan oleh pemerintah yaitu berupa terapi antiretroviral (ART). Dalam menjalankan terapi ARV harus meminum obat dengan disiplin ketat dan terus menerus seumur hidup ODHA untuk menghambat replikasi virus HIV, namun dalam kenyataanya banyak ODHA yang tidak mendapatkan hasil yang optimal dalam menjalankan terapi tersebut, karena kurangnya tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat ARV dan juga tidak termonitoring dengan baik oleh para pendamping. Untuk itu dipandang perlu untuk merancang desain prototipe sistem monitoring minum obat bagi ODHA sebagai solusi masalah tersebut. Metode penelitian yang digunakan dengan studi pustaka, review aplikasi sejenis dan wawancara dengan petugas klinik pengobatan HIV/AIDS, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Pendamping ODHA. Sistem ini dikembangkan dengan metode Participatory Design yaitu Teknik Design dengan melibatkan users. Hasil dari penelitian ini berupa desain prototipe sistem monitoring minum obat bagi ODHA. Desain prototipe yang dihasilkan kemudian di uji menggunakan metode Questionnaire for User Interface Satisfaction (QUIS). Hasil pengujian dengan indikator penilaian keseluruhan sistem menunjukan nilai 72%, penilaian tampilan layar menunjukkan 77%, penilaian istilah dan informasi menunjukan 66%, penilaian mempelajari sistem mununjukan 80% dan perhitungan persentase indikator pengujian untuk penilaian kemampuan sistem 76%. Sehingga dilihat dari persentase hasil pengujian desain prototipe menunjukan sangat baik.
IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DI SULAWESI TENGGARA
Darmawan -;
Izzati Muhimmah;
Kariyam -
Jurnal Infokes Vol 7 No 1 (2017): Volume I, Nomor 1, Februari 2017
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47701/infokes.v7i1.170
Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dan efisiensi dengan menggerakkan potensi seluruh masyarakat. Konsep kesehatan masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku sehat dan akan lebih terbentuk dan bertahan lama bila dilandasi kesadaran sendiri (internalisasi) sehingga konsep upaya sehat dari oleh dan untuk masyarakat sangat tepat di terapkan.Untuk melihat kondisi kesehatan pada suatu masyarakat dilihat dari derajat kesehatannya, semakain baik derajat kesehatannya maka semakin baik kondisi kesehatan masyarakat. Dalam derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-Indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas (angka kematian), mortalitas (angka kesakitan) dan status gizi, serta upaya kesehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui pengelompokan kecamatan di Sulawesi Tenggara berbasis indikator kesehatan. Serta Untuk mengetahui profil kelompok kecamatan di Sulawesi Tenggara. Populasi penelitian adalah seluruh kecamatan di Sulawesi Tenggara. Analisis Statistik yang digunakan adalah analisis dengan metode K-Means dan uji rata-rata dua populasi.Teknik clustering merupakan sebuah teknik pengelompokan sejumlah data/obyek ke dalam cluster (group) sehingga dalam setiap cluster akan berisi data yang semirip mungkin. Pada penelitian ini, teknik clustering tersebut akan diterapkan pada dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Teknik clustering akan mengelompokan kecamatan berdasarkan indikator masalah kesehatan, kecamatan-kecamatan yang dikelompokan berdasarkan indikator masalah kesehatan akan digunakan sebagai bahan analisis untuk mempermudah dinas kesehatan untuk pengambilan keputusan yang bertujuan untuk mempermudah dalam mencegah terjadinya masalah yang serius dalam masyarakat, dan dapat meningkatkan derajat kesehatan pada masyarakat. kata kunci : Derajat Kesehatan, Clustering, K-Means
Desain Kerangka Kerja Permainan Digital Sebagai Media Terapi Kemampuan Sosial Anak Autis
Rahadian Kurniawan;
Restu Rakhmawati;
Izzati Muhimmah;
Dimas Panji Eka Jalaputra
Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Vol 8 No 3: Agustus 2019
Publisher : Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1145.83 KB)
This study discusses the process of design, implementation and evaluation of game frameworks to enhance social skills therapy for children with autism. Children with autism have unique characters, so they have special preferences. The design of a digital game framework for children with autism is also still very limited. The framework design process is obtained from the analysis of commercial digital game components played by children with autism, research that discusses the design of digital games for children with autism, and consultation with experts, psychologists, and therapists. The proposed framework is then used as a guideline for developing multiplayer games. The multiplayer games is a proof of concept of the proposed framework. From the result of evaluation, this multiplayer game has been able to be used to enhance eye gaze tracking, initiation, and reciprocal interaction in children with autism.
Survei Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi
Penggalih M Herlambang;
Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i2.521
Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed.Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Survai Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi
Penggalih M Herlambang;
Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i6.520
Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed. Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Desain Sistem Pertolongan Pertama (First Aid) Pada Anak Usia 0-24 Bulan di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
Muhammad Atnang;
Izzati Muhimmah;
Tien Budi Febriani
JUSTINDO (Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi Indonesia) Vol 7, No 1 (2022): JUSTINDO
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32528/justindo.v7i1.5528
Kesehatan pada anak yang senada dengan studi pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals, Data Profil Kesehatan Kabupaten Bantul 2017-2020 menunjukkan tingginya angka kematian yang terjadi pada bayi tahun 2019 naik jika dibandingkan dengan tahun 2018. Sehingga sangat diharapkan adanya upaya preventif dan kuratif dalam peningkatan kesehatan anak. Desain sistem pertolongan pertama (First Aid) pada anak usia 0-24 bulan melalui tahapan analisis kebutuhan yaitu dengan mengimplikasikan orangtua sebagai responden dengan maksud untuk mengetahui impresif dari user terhadap sistem pertolongan pertama (First Aid) pada anak usia 0-24 bulan, focus group discussion dengan dokter spesialis anak Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia yang dihadiri oleh 4 dokter anak dan 1 dokter umum dalam diskusi mufakat menggunakan media zoom sehingga diperoleh tatalaksana yang dapat diberikan kepada anak sehingga dapat meminimalisir kegawatan yang terjadi pada anak melalui pendekatan orangtua dan adapun hasil dari penelitian validitas setiap item diuji dengan menggunakan metode Bivariate Pearson dengan jumlah responden adalah 32 orang (N = 32; df = 30), dengan menggunakan nilai signifikansi sebesar 0,05 (2-tailed), maka r-tabel yang digunakan adalah 0,3494. Penelitian ini lebih spesifik dengan pertimbangan faktor iklusi dari responden yang bertujuan sebagai tahapan dalam peningkatan kesehatan anak untuk 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pengujian Usabilitas dengan Cognitive Walkthrough dan System Usability Scale terhadap Aplikasi UII Skin Analyzer
Nurastuti Wijareni;
Izzati Muhimmah;
Septia Rani
AUTOMATA Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : AUTOMATA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perawatan kulit wajah (skincare) menjadi hal yang sangat digemari, tidak hanya usia dewasa bahkan sejak seseorang menginjak usia remaja telah aware terhadap kondisi kulit wajahnya. Pada saat ini, kemajuan teknologi semakin pesat dan ditandai dengan penggunaan smartphone menjadi hal yang biasa digunakan oleh anak-anak. UII Skin Analyzer merupakan aplikasi android berbasis smartphone yang dikembangkan untuk mempercepat proses deteksi dan analisis permasalahan kulit wajah. UII Skin Analyzer memperhatikan aspek UI/UX yang sesuai dengan kebutuhan dan relevan dengan isi aplikasi tersebut. UI (User Interface) bagian dari suatu aplikasi yang berfungsi sebagai penghubung antara suatu mesin komputer dengan pengguna. UX (User Experience) pengalaman pengguna atau semua respon dari interaksi pengguna dengan sistem mulai dari emosi, perasaan, hingga pikiran pengguna. Pentingnya peran UI/UX dalam sebuah aplikasi sejalan dengan pentingnya pengembangan UI/UX terhadap aplikasi UII Skin Analyzer. Pengembangan ini bertujuan untuk memastikan bahwa aplikasi tersebut dapat berjalan sesuai fungsionalitas yang sudah dirancang dan dapat diterima oleh masyarakat. Pada penelitian ini, pengembangan UI/UX aplikasi dilakukan dengan pengujian usabilitas menggunakan metode Cognitive Walkthrough dan System Usability Scale (SUS). Berdasarkan dua metode tersebut diperoleh hasil pengujian menggunakan Cognitive Walkthrough sebesar 96% responden dapat mengerjakan tugasnya dan dengan System Usability Scale diperoleh nilai sebesar 82.6%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi UII Skin Analyzer berada pada nilai A dan menurut skala Likert memiliki kategori Sangat Baik.
Survai Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi
Penggalih M Herlambang;
Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 2 (2019): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i2.508
Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed. Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Human Centered Design Dalam Perancangan Dashboard Ibu Hamil Di RS Universitas Islam Indonesia
Izzati Muhimmah;
Lailiyatus Sa'adah;
Yasmini Fitriyati
JATISI (Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi) Vol 10 No 1 (2023): JATISI (Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) STMIK Global Informatika MDP
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35957/jatisi.v10i1.3636
Rumah sakit Universitas Islam Indonesia adalah salah satu rumah sakit swasta yang berada di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Berdasarkan wawancara dengan dokter spesialis obgyn, RS UII memerlukan sebuah media khusus untuk pelaporan ibu hamil risiko tinggi. Selama ini data pasien ibu hamil di rumah sakit masih tercampur dengan data yang lain di dalam suatu database. Sehingga ketika seluruh data tersebut disajikan pihak manajemen rumah sakit termasuk dokter masih kesulitan dalam membaca informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti banyaknya pasien ibu hamil risiko tinggi yang Hari Perkiraan Lahir (HPL) bulan ini, indikator kehamilan risiko tinggi, rating penyebab kehamilan risiko tinggi, dan pelaporan berperiode. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah dashboard yang bisa memudahkan dalam proses menampilkan informasi secara visual. Adanya suatu Dashboard Monitoring Ibu Hamil Risiko Tinggi ini diharapkan mampu memprediksi keadaan yang akan terjadi di masa mendatang dengan lebih baik. Berdasarkan permasalahan yang ada, pada penelitian ini dilakukan Perancangan Dashboard Monitoring Ibu Hamil Risiko Tinggi dengan mengadaptasi Human Centered Design (HCD) karena melibatkan pemangku kepentingan dalam prosesnya. Hasil dari penelitian ini berupa desain prototype yang sudah disepakati oleh para pengguna, dimana dalam pengambilan keputusan dilakukan pendekatan Focus Group Discussion (FGD).
Integration of Microscopic Image Capturing System for Automatic Detection of Mycobacterium Tuberculosis Bacteria
Agus Darmawan;
Izzati Muhimmah;
Rahadian Kurniawan
Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol 7 No 2 (2023): April 2023
Publisher : Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29207/resti.v7i2.4495
The Ministry of Health of the Republic of Indonesia is running a program to eliminate Tuberculosis (TB) by 2030. At the Primary Health Care level, AFB (acid-fast bacteria) examination confirms the TB diagnosis. In this process, the patient's sputum is prepared in the form of preparation and observed by the laboratory analyst through the lens of a microscope. The reporting process to establish this diagnosis requires calculating the number of TB bacteria in 100 fields of view per preparation. This manual microscopic observation process is tedious, and the reading results are subjective. This study offers an integrated design for automatic microscopic imaging with a computer-integrated TB bacteria detection system. The process of taking pictures is automatically obtained with the help of a driving motor added to the microscope. With the addition of this motor, the process of taking microscopic images for 100 fields of view takes ±450 seconds. The proposed system integration process can reduce laboratory analysts' work fatigue in conducting microscopic observations manually. The TB bacteria detection system utilizes the working principle of image processing techniques by combining color-deconvolution, segmentation, and contour-detection methods. The comparative value of the TB object detection system with experts resulted in a sensitivity value of 77% and a specificity value of 68%. However, the low detection rate is because the image obtained is still blurry. Thus, further investigation is needed to determine the driving motor's movement rate and the right timing for taking microscopic images so that the resulting image is not blurry. The final result that is the focus of this paper is the successful integration of the system carried out between the motor drive system on the preparation stand and the TB bacteria detection system to become a unified system.