Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN PROTOTIPE SISTEM MONITORING MINUM OBAT BAGI ODHA Mufti Syawaludin; Izzati Muhimmah; Rahadian Kurniawan
JIKO (Jurnal Informatika dan Komputer) Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Journal Of Informatics and Computer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jiko.v4i2.2226

Abstract

ODHA adalah sebutan bagi orang-orang yang telah terjangkit penyakit HIV/AIDS. Agar para ODHA tetap dapat dalam kondisi baik, dibutuhkan obat yang secara resmi direkomendasikan oleh pemerintah yaitu berupa terapi antiretroviral (ART). Dalam menjalankan terapi ARV harus meminum obat dengan disiplin ketat dan terus menerus seumur hidup ODHA untuk menghambat replikasi virus HIV, namun dalam kenyataanya banyak ODHA yang tidak mendapatkan hasil yang optimal dalam menjalankan terapi tersebut, karena kurangnya tingkat kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat ARV dan juga tidak termonitoring dengan baik oleh para pendamping. Untuk itu dipandang perlu untuk merancang desain prototipe sistem monitoring minum obat bagi ODHA sebagai solusi masalah tersebut. Metode penelitian yang digunakan dengan studi pustaka, review aplikasi sejenis dan wawancara dengan petugas klinik pengobatan HIV/AIDS, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan Pendamping ODHA. Sistem ini dikembangkan dengan metode Participatory Design yaitu Teknik Design dengan melibatkan users. Hasil dari penelitian ini berupa desain prototipe sistem monitoring minum obat bagi ODHA. Desain prototipe yang dihasilkan kemudian di uji menggunakan metode Questionnaire for User Interface Satisfaction (QUIS). Hasil pengujian dengan indikator penilaian keseluruhan sistem menunjukan nilai 72%, penilaian tampilan layar menunjukkan 77%, penilaian istilah dan informasi menunjukan 66%, penilaian mempelajari sistem mununjukan 80% dan perhitungan persentase indikator pengujian untuk penilaian kemampuan sistem 76%. Sehingga dilihat dari persentase hasil pengujian desain prototipe menunjukan sangat baik.
IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DI SULAWESI TENGGARA Darmawan -; Izzati Muhimmah; Kariyam -
Jurnal Infokes Vol 7 No 1 (2017): Volume I, Nomor 1, Februari 2017
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/infokes.v7i1.170

Abstract

Kesehatan  masyarakat  adalah  ilmu  dan  seni  untuk  mencegah  penyakit memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dan efisiensi dengan menggerakkan potensi  seluruh  masyarakat.  Konsep  kesehatan  masyarakat  berkaitan  dengan perubahan  perilaku  sehat  dan  akan  lebih  terbentuk  dan  bertahan  lama  bila  dilandasi kesadaran  sendiri  (internalisasi)  sehingga konsep  upaya  sehat  dari  oleh  dan  untuk masyarakat  sangat  tepat  di  terapkan.Untuk  melihat  kondisi  kesehatan  pada  suatu masyarakat  dilihat  dari  derajat  kesehatannya,  semakain  baik  derajat  kesehatannya maka  semakin  baik  kondisi  kesehatan  masyarakat.  Dalam  derajat  kesehatan masyarakat,  terdapat  beberapa  indikator  yang  dapat  digunakan.  Indikator-Indikator tersebut  pada  umumnya  tercermin  dalam  kondisi  morbiditas  (angka  kematian), mortalitas  (angka  kesakitan)  dan  status  gizi,  serta  upaya  kesehatan  lingkungan. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  Untuk  mengetahui  pengelompokan  kecamatan  di Sulawesi  Tenggara  berbasis  indikator  kesehatan.  Serta  Untuk  mengetahui  profil kelompok  kecamatan  di  Sulawesi  Tenggara.  Populasi  penelitian  adalah  seluruh kecamatan  di  Sulawesi  Tenggara.  Analisis  Statistik  yang  digunakan  adalah  analisis dengan  metode  K-Means  dan  uji  rata-rata  dua  populasi.Teknik  clustering  merupakan sebuah  teknik  pengelompokan  sejumlah  data/obyek  ke  dalam  cluster  (group)  sehingga dalam setiap cluster akan berisi data yang semirip mungkin. Pada penelitian ini, teknik clustering tersebut akan diterapkan pada dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Teknik  clustering  akan  mengelompokan  kecamatan  berdasarkan  indikator  masalah kesehatan,  kecamatan-kecamatan  yang  dikelompokan  berdasarkan  indikator  masalah kesehatan  akan  digunakan  sebagai  bahan  analisis  untuk  mempermudah  dinas kesehatan  untuk  pengambilan  keputusan  yang  bertujuan  untuk  mempermudah  dalam mencegah terjadinya masalah yang serius dalam masyarakat, dan dapat meningkatkan derajat kesehatan pada masyarakat. kata kunci : Derajat Kesehatan, Clustering, K-Means
Desain Kerangka Kerja Permainan Digital Sebagai Media Terapi Kemampuan Sosial Anak Autis Rahadian Kurniawan; Restu Rakhmawati; Izzati Muhimmah; Dimas Panji Eka Jalaputra
Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Vol 8 No 3: Agustus 2019
Publisher : Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.83 KB)

Abstract

This study discusses the process of design, implementation and evaluation of game frameworks to enhance social skills therapy for children with autism. Children with autism have unique characters, so they have special preferences. The design of a digital game framework for children with autism is also still very limited. The framework design process is obtained from the analysis of commercial digital game components played by children with autism, research that discusses the design of digital games for children with autism, and consultation with experts, psychologists, and therapists. The proposed framework is then used as a guideline for developing multiplayer games. The multiplayer games is a proof of concept of the proposed framework. From the result of evaluation, this multiplayer game has been able to be used to enhance eye gaze tracking, initiation, and reciprocal interaction in children with autism.
Survei Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi Penggalih M Herlambang; Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i2.521

Abstract

Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed.Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Survai Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi Penggalih M Herlambang; Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i6.520

Abstract

Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed. Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Desain Sistem Pertolongan Pertama (First Aid) Pada Anak Usia 0-24 Bulan di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta Muhammad Atnang; Izzati Muhimmah; Tien Budi Febriani
JUSTINDO (Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi Indonesia) Vol 7, No 1 (2022): JUSTINDO
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/justindo.v7i1.5528

Abstract

Kesehatan pada anak yang senada dengan studi pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals, Data Profil Kesehatan Kabupaten Bantul 2017-2020 menunjukkan tingginya angka kematian yang terjadi pada bayi tahun 2019 naik jika dibandingkan dengan tahun 2018. Sehingga sangat diharapkan adanya upaya preventif dan kuratif dalam peningkatan kesehatan anak. Desain sistem pertolongan pertama (First Aid) pada anak usia 0-24 bulan melalui tahapan analisis kebutuhan yaitu dengan mengimplikasikan orangtua sebagai responden dengan maksud untuk mengetahui impresif dari user terhadap sistem pertolongan pertama (First Aid) pada anak usia 0-24 bulan, focus group discussion dengan dokter spesialis anak Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia yang dihadiri oleh 4 dokter anak  dan 1 dokter umum dalam diskusi mufakat menggunakan media zoom sehingga diperoleh tatalaksana yang dapat diberikan kepada anak sehingga dapat meminimalisir kegawatan yang terjadi pada anak melalui pendekatan orangtua dan adapun hasil dari penelitian validitas setiap item diuji dengan menggunakan metode Bivariate Pearson dengan jumlah responden adalah 32 orang (N = 32; df = 30), dengan menggunakan nilai signifikansi sebesar 0,05 (2-tailed), maka r-tabel yang digunakan adalah 0,3494. Penelitian ini lebih spesifik dengan pertimbangan faktor iklusi dari responden yang bertujuan sebagai tahapan dalam peningkatan kesehatan anak untuk 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pengujian Usabilitas dengan Cognitive Walkthrough dan System Usability Scale terhadap Aplikasi UII Skin Analyzer Nurastuti Wijareni; Izzati Muhimmah; Septia Rani
AUTOMATA Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : AUTOMATA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan kulit wajah (skincare) menjadi hal yang sangat digemari, tidak hanya usia dewasa bahkan sejak seseorang menginjak usia remaja telah aware terhadap kondisi kulit wajahnya. Pada saat ini, kemajuan teknologi semakin pesat dan ditandai dengan penggunaan smartphone menjadi hal yang biasa digunakan oleh anak-anak. UII Skin Analyzer merupakan aplikasi android berbasis smartphone yang dikembangkan untuk mempercepat proses deteksi dan analisis permasalahan kulit wajah. UII Skin Analyzer memperhatikan aspek UI/UX yang sesuai dengan kebutuhan dan relevan dengan isi aplikasi tersebut. UI (User Interface) bagian dari suatu aplikasi yang berfungsi sebagai penghubung antara suatu mesin komputer dengan pengguna. UX (User Experience) pengalaman pengguna atau semua respon dari interaksi pengguna dengan sistem mulai dari emosi, perasaan, hingga pikiran pengguna. Pentingnya peran UI/UX dalam sebuah aplikasi sejalan dengan pentingnya pengembangan UI/UX terhadap aplikasi UII Skin Analyzer. Pengembangan ini bertujuan untuk memastikan bahwa aplikasi tersebut dapat berjalan sesuai fungsionalitas yang sudah dirancang dan dapat diterima oleh masyarakat. Pada penelitian ini, pengembangan UI/UX aplikasi dilakukan dengan pengujian usabilitas menggunakan metode Cognitive Walkthrough dan System Usability Scale (SUS). Berdasarkan dua metode tersebut diperoleh hasil pengujian menggunakan Cognitive Walkthrough sebesar 96% responden dapat mengerjakan tugasnya dan dengan System Usability Scale diperoleh nilai sebesar 82.6%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi UII Skin Analyzer berada pada nilai A dan menurut skala Likert memiliki kategori Sangat Baik.
Survai Model Sistem Tele-expertise untuk Kasus Dermatologi Penggalih M Herlambang; Izzati Muhimmah
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 2 (2019): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i2.508

Abstract

Background: Tele-expertise as part of telemedicine can be developed to overcome the problem of uneven distribution of specialist services, especially in dermatology. A technical framework is needed to guide the development of a tele-expertise system to suit the conditions and needs in Indonesia. Methods: The research was carried out in stages, the first stage was needs analysis by survey on general practitioners and dermato-venereologists. The second stage is a literature study and the third stage is the preparation of a tele-expertise framework model. Results and Discussion: In the first phase, 10 general practitioners and 2 skin specialists were willing to fill out the survey. In the second stage, various technical factors were found in telemedicine implementation. A framework model was compiled consisting of 4 main components including workflow, clinical content, infrastructure and interface. Conclusion: A tele-expertise framework model was prepared, especially in the field of dermatology. Further research is needed in the form of prototype testing based on the model for evaluation and development of the framework. In addition, the non-technical approach framework includes ethics, law and draft regulations need to be developed. Latar belakang: Tele-expertise sebagai bagian dari telemedisin dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan penyebaran layanan dokter spesialis yang belum merata. Untuk itu dibutuhkan kerangka kerja (framework) teknis sebagai panduan pengembangan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Metode: Penelitian bertahap, tahap pertama adalah analisis kebutuhan dengan survei Tahap kedua studi literatur kerangka kerja untuk telemedisin dan tahap ketiga penyusunan model kerangka kerja tele-expertise. Hasil dan Pembahasan: sebuah model framework disusun berdasarkan survei dan literatur yang terdiri dari 4 komponen utama meliputi alur kerja, konten klinis, infrastruktur dan antarmuka. Simpulan: Model kerangka kerja tele-expertise disusun khususnya untuk dermatologi. Diperlukan penelitian lanjut berupa pengujian purwarupa berdasarkan model tersebut untuk evaluasi dan pengembangan kerangka kerja. Selain itu kerangka-kerja pendekatan non-teknis meliputi etika, hukum dan rancangan regulasi perlu dikembangkan.
Human Centered Design Dalam Perancangan Dashboard Ibu Hamil Di RS Universitas Islam Indonesia Izzati Muhimmah; Lailiyatus Sa'adah; Yasmini Fitriyati
JATISI (Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi) Vol 10 No 1 (2023): JATISI (Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) STMIK Global Informatika MDP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35957/jatisi.v10i1.3636

Abstract

Rumah sakit Universitas Islam Indonesia adalah salah satu rumah sakit swasta yang berada di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Berdasarkan wawancara dengan dokter spesialis obgyn, RS UII memerlukan sebuah media khusus untuk pelaporan ibu hamil risiko tinggi. Selama ini data pasien ibu hamil di rumah sakit masih tercampur dengan data yang lain di dalam suatu database. Sehingga ketika seluruh data tersebut disajikan pihak manajemen rumah sakit termasuk dokter masih kesulitan dalam membaca informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti banyaknya pasien ibu hamil risiko tinggi yang Hari Perkiraan Lahir (HPL) bulan ini, indikator kehamilan risiko tinggi, rating penyebab kehamilan risiko tinggi, dan pelaporan berperiode. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah dashboard yang bisa memudahkan dalam proses menampilkan informasi secara visual. Adanya suatu Dashboard Monitoring Ibu Hamil Risiko Tinggi ini diharapkan mampu memprediksi keadaan yang akan terjadi di masa mendatang dengan lebih baik. Berdasarkan permasalahan yang ada, pada penelitian ini dilakukan Perancangan Dashboard Monitoring Ibu Hamil Risiko Tinggi dengan mengadaptasi Human Centered Design (HCD) karena melibatkan pemangku kepentingan dalam prosesnya. Hasil dari penelitian ini berupa desain prototype yang sudah disepakati oleh para pengguna, dimana dalam pengambilan keputusan dilakukan pendekatan Focus Group Discussion (FGD).
Integration of Microscopic Image Capturing System for Automatic Detection of Mycobacterium Tuberculosis Bacteria Agus Darmawan; Izzati Muhimmah; Rahadian Kurniawan
Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem dan Teknologi Informasi) Vol 7 No 2 (2023): April 2023
Publisher : Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29207/resti.v7i2.4495

Abstract

The Ministry of Health of the Republic of Indonesia is running a program to eliminate Tuberculosis (TB) by 2030. At the Primary Health Care level, AFB (acid-fast bacteria) examination confirms the TB diagnosis. In this process, the patient's sputum is prepared in the form of preparation and observed by the laboratory analyst through the lens of a microscope. The reporting process to establish this diagnosis requires calculating the number of TB bacteria in 100 fields of view per preparation. This manual microscopic observation process is tedious, and the reading results are subjective. This study offers an integrated design for automatic microscopic imaging with a computer-integrated TB bacteria detection system. The process of taking pictures is automatically obtained with the help of a driving motor added to the microscope. With the addition of this motor, the process of taking microscopic images for 100 fields of view takes ±450 seconds. The proposed system integration process can reduce laboratory analysts' work fatigue in conducting microscopic observations manually. The TB bacteria detection system utilizes the working principle of image processing techniques by combining color-deconvolution, segmentation, and contour-detection methods. The comparative value of the TB object detection system with experts resulted in a sensitivity value of 77% and a specificity value of 68%. However, the low detection rate is because the image obtained is still blurry. Thus, further investigation is needed to determine the driving motor's movement rate and the right timing for taking microscopic images so that the resulting image is not blurry. The final result that is the focus of this paper is the successful integration of the system carried out between the motor drive system on the preparation stand and the TB bacteria detection system to become a unified system.
Co-Authors -, Indrayanti adelia sukma ardana Adeniar Yusnina Agung Purwo Wicaksono Agus Darmawan Ainan Nur Andhika Pratama Arif Sulaksana Putra Arrie Kurniawardhani Astrianty, Ledy Elsera Ause Labellapansa, Ause Azhari, M. Fauzan Aziz, Muhammad Thariq Dan Jeric Arcega Rustia Darmawan - Deny Rahmalianto Dhina Puspasari Wijaya, Dhina Puspasari Dhomas Hatta Fudholi Dimas Panji Eka Jalaputra Dimas Panji Eka Jalaputra Erika RE Denton Erlina Marfianti, Erlina Fajarwibowo, Dhimas Fajriyah, Rohmanul Franz, Annafi’ Galang Prihadi Mahardhika, Galang Prihadi Gracianna Devi, Micha Heksaputra, Dadang Helmi Roichatul Jannah Herlambang, Penggalih M Herman Yuliansyah Ika Fidianingsih Ika Firdianingsih Indrayanti, Indrayanti Indrayanti, Indrayanti Indri Dwi Febriani Irawan, Dudi Ivantoni, Redha Jamhari Jamhari July Arifianto Kariyam - Khairul Hafidh Komariyuli Anwariyah Kusumaningrum, Shinta Dewi Lailiyatus Sa'adah Lalu Mutawalli Lantip Rujito Latriwulansuci, Latriwulansuci Lestari, Tri Mukti Linda Rosita Lizda Iswari Meilita . Milano, Muhammad Khalifah Moh Reza Syaifur Rizal Mufti Syawaludin Muhammad Atnang Nazarudin, Zohan Novian Mahardika Putra Novyan Lusiyana Nurastuti Wijareni Nurdana Ahmad Fadil Oktavianto, Hardian Penggalih M Herlambang Penggalih M Herlambang Prabowo, Mei Rahadian Kurniawan Raisha Amini Rakhmawati, Restu Ratri Agung Nugraheni Reyer Zwiggelaar Riyanto, Didik Rizki Surtiyan Surya Rizky Eka Listanto Rohmatul Fajriyah Rohmatul Fajriyah Rositasari, Annisa S, Andika Bayu Sahriani Sasmito, Dinda Eling K Septia Rani Silvia Nurul Fata Smulders, Marinus J.M. Sri Kusumadewi Sri Winiarti TAUFIQ HIDAYAT Tien Budi Febriani Tito Yuwono, Tito Ummi Athiyah Wayan Tunas Artama Wigatning, Lestari H Wilda, Anisa Nurul Yasmini Fitriyati Yasmini Fitriyati, Yasmini Yuliansyah, Herman Yulianti, Ana ZAINUL ARIFIN