Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Litera

KONSEP DIRI PEREMPUAN DI PERSIMPANGAN BUDAYA DALAM AUTOBIOGRAFI STUPEUR ET TREMBLEMENTS KARYA AMÉLIE NOTHOMB Yeni Artanti
LITERA Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i1.30465

Abstract

Identitas atau konsep diri merupakan representasi seseorang.  Konsep diri pengarang  dapat direkonstruksi pembaca melalui karya-karyanya, salah satunya autobiografi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep diri perempuan di persimpangan budaya, mencakup gambaran diri, harga diri, dan harapan diri. Sumber data penelitian ini adalah roman autobiografi Stupeur et Tremblements karya Amélie Nothomb.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis interpretatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca, mencatat, mengklasifikasikan, dan mengkoding.  Hasil penelitian menunjukkan adanya konsep diri sebagai berikut. Pertama, kegagalan usaha peleburan diri tokoh Aku atau Amélie, sosok perempuan Belgia terdidik, menguasai bahasa Jepang dan diterima bekerja di Perusahaan Yumimoto sebagai penerjemah Jepang-Belgia/Prancis,  namun terpaksa harus menerima dirinya diperkerjakan  sebagai pembersih toilet, agar diterima dan melebur sebagai seorang Jepang. Dia mencoba menghapus dirinya dan mencoba melebur dalam cara pikir dan  budaya Jepang, tempat ia dilahirkan dan tumbuh sampai usia lima tahun. Kedua,  self-esteem atau harga diri yang selalu direndahkan oleh atasannya, wanita Jepang bernama Mori Fubuki, Saito dan Omichi. Hal itu  berbenturan dengan keyakinan dan penilaian dirinya sebagai perempuan yang tumbuh di Barat. Ketiga,  ideal self tokoh Amélie di Jepang yang tidak tercapai.  Tokoh ini mengalami  self-discrepancies, yaitu harapan dirinya berbeda dengan kenyataan. Pada akhirnya ia dapat mengaktualisasikan diri menjadi penulis setelah kembali ke  Belgia. Kata Kunci: identitas, feminisme, barat-timur, autobiografi, konsep diri WOMEN'S SELF-CONCEPT IN CULTURAL JUNCTION IN AMÉLIE NOTHOMB’S STUPEUR ET TREMBLEMENTS AUTOBIOGRAPHY AbstractIdentity is closely related to self-concept. Through an autobiography, authors reconstruct their concepts through their works. This study is aimed at describing women’s self-concepts in a cross-cultural setting which includes their self-images, self-esteem, and self-ideals. The main source of this study is “Stupeur et Tremblements”, an autobiography written by Amélie Nothomb. This study is a descriptive qualitative research using interpretive analysis techniques. Data collection is done by reading, collecting, classifying, and coding. The results show that self-concepts consist of (1) dissolution of selves marked by the figure of ‘I’ as  Amélie, a Belgian woman, 22 years, educated, mastering Japanese, accepted to work at Yumimoto as a Japanese-French translator but working as toilet janitor in this company. She tried to fuse into the Japanese way of thinking and culture, the country where she was born and grew until she was five years old; (2) her self-esteem is always demeaned by his direct supervisor, a Japanese woman named Mori Fubuki and also Omichi. It clashes with her beliefs and considerations as a woman who grew up as a Western woman; and (3) Amélie’s ideal self in Japan was disapproved because she faced self-discrepancies and pushed her to return to Belgium and became a successful writer. Keywords: identity, feminism, east-west, autobiography, self-concept
EKSISTENSI DIRI TIGA PEREMPUAN DALAM TROIS FEMMES PUISSANTES KARYA MARIE NDIAYE Yeni Artanti; Diajeng Sofyanti; Muhammad Deni Reza P.; Wiwin Hartanti
LITERA Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i3.36011

Abstract

Manusia sepanjang hidupnya secara terus-menerus melakukan tindakan-tindakan untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan eksistensi diri ketiga perempuan yang  terepresentasi dalam Trois Femmes Puissantes karya Marie Ndiaye.  Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik analisis interpretatif dengan menggunakan pendekatan eksistensialisme sebagai acuan analisis.  Data-data berupa kata, frasa, kalimat atau paragraf terkait eksistensi ketiga tokoh perempuan, yaitu Norah, Fanta, dan Khady Demba yang terkumpul melalui pembacaan secara berulang, pencatatan, pengelompokan  atau pengklasifikasian kemudian dianalisis dan diinterpretasikan untuk disajikan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga perempuan yaitu Norah, Fanta, dan Khady Demba merepresentasikan tokoh-tokoh yang mencoba melakukan perlawanan terhadap dominasi kulit putih, dunia patriarki, dan kapital dengan mencoba menjadikan diri mereka ‘ada.’  Ketiganya meng’ada’ dengan menjadi pribadi yang bertindak terhadap hidup mereka. Kecemasan, ketakutan, kepedihan, penderitaan, pengalaman traumatis, emosi dan juga keputusasaan yang seringkali mengungkung perempuan, dijadikan sebagai pengalaman eksistensi untuk meng‘ada’ sebagai perempuan dan pribadi. Kegetiran hidup Norah karena trauma kehilangan sosok ayah, ikatan cinta suami Fanta yang memenjarakan, dan jeratan kebutuhan ekonomi yang melilit Khady Demba tidak membuat tiga perempuan ini putus asa, tetapi justru menjadikan mereka sebagai individu yang konkret dan unik dalam memilih eksistensi mereka sendiri, yaitu sebagai pengacara, ibu rumah tangga, atau pekerja seks, setidaknya mereka memilih untuk bertindak dengan sadar. Ketiganya menyadari keberadaannya sebagai manusia. Kata Kunci: eksistensi, perempuan, Ndiaye, kedirian, pergumulan batin  THE SELF-EXISTENCE OF THREE WOMEN IN MARIE NDIAYE'S TROIS FEMME PUISSANTES AbstractHumans throughout their life continuously take actions to show their existence. The purpose of this research is to describe the existence of the three women represented in Marie Ndiaye's “Trois Femmes Puissantes.” This research is a qualitative descriptive study by using interpretive analysis techniques and an existentialism approach as a reference for analysis. Data in the form of words, phrases, sentences or paragraphs related to the existence of the three female characters, namely Norah, Fanta, and Khady Demba which were collected through repeated reading, note taking, grouping or classifying, and analysing or interpreting.  The results showed that the three women stated represented figures who tried to fight against white domination, patriarchy and capital domination. The three of them are becoming individuals who act and own their life to show their existence. Anxiety, fear, pain, suffering, traumatic experiences, emotions, and despair that often confine women, are interpreted as their experiences as a woman and as a person. Norah's life bitterness due to the traumatic feeling  of losing a father’s figure, the love bond of Fanta's imprisoned husband, and the bondage of economic necessity that surrounds Khady Demba did not make these three women despair, but instead made them concrete and unique individuals in choosing their own existence, explicitly as lawyer, housewife, or sex worker. They choose to act and show their existence consciously.  Keywords: existence, women, Ndiaye, self, inner struggle
Berharap pada gen-z melalui film komedi "Pourris Gâtés" karya Nicolas Cuche: Naratif pedagogi Yeni Artanti; Otta Orsya; Siti Sumiyati
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v22i1.58521

Abstract

Film adalah karya seni yang memiliki peran mendidik, selain juga memberikan hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai film komedi keluarga yang ditayangkan melalui Netflix, Pourris Gâtés (2021) karya Nicolas Cuche melalui paradigma berpikir pedagogi kritis Henry Giroux dan psikologi sosial Erich Fromm. Sebagai penelitian kualitatif, teknik analisis yang digunakan  adalah interpretatif reflektif. Data visual dan lisan dalam bentuk gambar,  percakapan, dan tulisan dalam film Pourris Gâtés (Cuche, 2021) yang produksi  oleh Borsalino Productionspartners  secara tematik diidentifikasi dan diklasifikasikan untuk mendapatkan pesan dan kebermaknannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa harapan terhadap generasi-z ditampilkan melalui konflik dalam keluarga Francis Bartek, seorang ayah tunggal yang kaya raya, salah satu pengusaha terbaik di bidang konstruksi di Monako yang mencoba mendidik anak-anaknya, yaitu  Philippe Bartek, Stella Bartek, dan Alexandre Bartek untuk bertanggung jawab  terhadap hidup mereka sendiri dengan bekerja. Harapan Francis Bartek agar anak-anaknya memahami konsep perencanaan, seperti menabung, penganggaran, investasi, dan mengelola keuangan, termasuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidup mereka. Konsep dan keterampilan literasi keuangan disajikan melalui adegan dan dialog yang lucu dan akrab saat Stella, Philippe, dan Alexandre Bartek berjuang untuk bertahan hidup dengan bekerja atau berbisnis mulai dari nol. Harapan yang disertai tindakan aktif Francis Bartek terhadap anak-anaknya memunculkan keyakinan, ketabahan, dan kebangkitan dalam memaknai kehidupan mereka sendiri. Dengan berharap seseorang menjadi gigih, mampu kerja keras, bertanggung jawab dengan penuh kesadaran. Jadi, naratif pedagogi Pourris Gâtés (Cuche, 2021) menunjukkan bahwa harapan merupakan aspek psikis manusia untuk terus tumbuh dan mengada.Kata kunci: literasi keluarga, narasi, film, Monako, komedi, harapan, Fromm Pinning hopes on gen-z through Nicolas Cuche's Pourris Gâtés comedy film: Narrative pedagogy AbstractFilms, like novels, plays, poems, music, paintings, and sculptures, are effective mediums for both education and entertainment. This research aims to interpret Nicolas Cuche's family comedy Pourris Gâtés (2021) using Henry Giroux's critical pedagogical thinking paradigm and Erich Fromm's social psychology. The analytical techniques used in qualitative research are reflective and interpretive. To obtain the message and meaning, visual and oral data in the form of images, conversations, and writings in the film Pourris Gâtés (2021), produced by Borsalino Productionspartners and directed by Nicolas Cuche, are thematically identified. The findings indicated that Francis Bartek, a successful businessman in construction and a wealthy single father, experienced family conflict as he attempted to teach his children—Stella  Bartek, Philippe Bartek, and Alexandre Bartek—to be accountable and self-sufficient by means of employment. Francis Bartek hopes her children understand financial concepts like saving, budgeting, investing, managing finances, and making sound decisions. Stella, Philippe, and Alexandre Bartek struggle to survive by working or starting a business from scratch, and financial literacy concepts and skills are presented through hilarious and familiar scenes and dialogues. The hope that was accompanied by Francis Bartek's active actions towards his children gave rise to conviction, fortitude, and awakening in interpreting their own lives. By expecting someone to be persistent, able to work hard, and take responsibility with full awareness. Thus, the pedagogical narrative of Pourris Gâtés (Cuche, 2021) shows that hope is a psychic aspect of the human being to continue to grow and exist.Keywords: finance literacy, narrative pedagogy, film, Monaco, comedy, hope, Fromm
Community attitude to the news of pandemic Covid-19 Rohali Rohali; Siti Perdi Rahayu; Herman Herman; Yeni Artanti; Dwiyanto Djoko Pranowo
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.53338

Abstract

This study aims to describe the themes and attitudes of the community towards news about the Covid-19 pandemic on WhatsApp. By conducting critical discourse analysis, it is hoped that an understanding will be formed that can enlighten the public on how to interpret and understand the information about the COVID-19 pandemic that they receive through the WhatsApp application and be selective in sending this information to others. The results of the study show the following. Fisrt, the attitude of affection contains 4 themes, namely religious, health, education, and economic themes. There are two functions of a religious theme, namely a request to God and an expression of gratitude. The health theme has three functions, namely an invitation to maintain progress, vaccination recommendations, and health humour. The theme of education is represented in the form of public attitudes regarding the readiness of universities for offline learning. The function of the economic theme is related to expressions of concern and ironism towards the deteriorating Indonesian economy. Second, the attitude of the community's cognition is realized with the theme of health which has the function of protest, fake news, and health humour. Thirth, dehavioral attitudes carry three themes, namely health, education, and economy. The function of the health theme is behaviour in responding to the funeral process for Covid-19 victims and vaccination. The function of the educational theme is related to the behaviour of the community towards the preparation of offline learning. The economic theme is represented by behavioural deviations from health protocols during the implementation of PPKM.Keywords: discourse analysis, attitude, covid-19, WA SIKAP MASYARAKAT TERHADAP BERITA PANDEMI COVID-19 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskipsikan tema dan sikap masyarakat terhadap berita tentang pandemi Covid-19 di WhatsApp. Dengan melakukan analisis wacana kritis, diharapkan akan terbentuk pemahaman yang dapat mencerahkan masyarakat bagaimana memaknai dan memahami informasi tentang pandemi covid-19 yang mereka terima melalui aplikasi WhatsApp dan selektif dalam mengirimkan informasi tersebut ke orang lain. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, sikap afeksi memuat 4 tema yaitu tema religius, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Ada dua fungsi tema religius yaitu permohonan kepada Tuhan dan ungkapan syukur. Tema kesehatan memiliki tiga fungsi yaitu ajakan menjaga prokes, anjuran vaksinasi, dan humor kesehatan. Tema pendidikan direpresentasikan dalam bentuk sikap masyarakat terkait kesiapan perguruan tinggi dalam pembelajaran luring. Fungsi tema ekonomi berkaitan dengan ungkapan kekhawatiran dan ironisme terhadap ekonomi indonesia yang semakin memburuk. Kedua, sikap kognisi masyarakat diwujudkan dengan tema kesehatan yang memiliki fungsi protes, berita bohong, dan humor kesehatan. Ketiga, sikap perilaku mengusung tiga tema yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Fungsi tema kesehatan adalah perilaku menyikapi proses pemakaman korban Covid-19, dan vaksinasi. Fungsi tema pendidikan berkaitan dengan perilaku masyarakat terhadap persiapan pembelajaran luring. Tema ekonomi direpresentasikan dengan penyimpangan perilaku terhadap protokol kesehatan di tengah pemberlakuan PPKM.Kata kunci : analisis wacana, sikap, covid-19, WA