Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

INOVASI BUDIKDAMBER SEBAGAI SARANA PENINGKATAN LIFE SKILLS DAN KEMANDIRIAN PENYANDANG DISABILITAS DI SLBM SURYA GEMILANG LIMBANGAN KENDAL Setyawan, Hendrik Anggi; Jayanto, Bogi Budi
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 05 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyandang disabilitas sering menghadapi tantangan dalam mencapai kemandirian, terutama dalam hal keterampilan hidup yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Program peningkatan keterampilan hidup, seperti budikdamber, berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui kegiatan praktis yang melibatkan budidaya ikan dan tanaman dalam ember. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan teknis dan soft skillspenyandang disabilitas di SLBM Surya Gemilang Limbangan Kendal. Metode yang digunakan dalam program ini mencakup pelatihan teori dan praktik mengenai teknik budikdamber, pendampingan intensif, serta evaluasi berkala. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan teknis, seperti pemeliharaan ikan dan tanaman, serta pengembangan soft skills, termasuk pemecahan masalah dan manajemen waktu. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, motivasi untuk berwirausaha, dan kemandirian ekonomi. Program ini juga memiliki dampak positif pada kesejahteraan sosial dan ekonomi penyandang disabilitas. Sebagai kesimpulan, program Budikdamber tidak hanya berhasil meningkatkan keterampilan hidup, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas. Untuk keberlanjutan, disarankan untuk memperluas skala budikdamber dan melibatkan teknologi digital dalam pemantauan serta pemasaran hasil produksi, sehingga lebih banyak penyandang disabilitas dapat merasakan manfaatnya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKAPAN IKAN TERUKUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAMPERAN, PACITAN, JAWA TIMUR Nugroho, Prasetyo Catur; Suherman, Agus; Jayanto, Bogi Budi; Hernuryadin, Yayan; Suroso, Wawi; Kurohman, Faik
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.91-104

Abstract

Penangkapan ikan terukur (PIT) merupakan kebijakan pemerintah untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan dengan mengatur zona penangkapan (penetapan pelabuhan perikanan) dan menyesuaikan jumlah tangkapan dengan potensi sumber daya ikan. PPP Tamperan-Pacitan berada di Zona IV merupakan pelabuhan perikanan dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), aktivitas pendaratan ikan tertinggi di Selatan Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor keberhasilan implementasi PIT, menilai persepsi dan pengalaman pelaku perikanan, serta menguji hubungan keduanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling dan sensus, melibatkan 33 responden dari pemilik kapal, pengurus, petugas pelabuhan, dan pengawas. Hasil penelitian menunjukkan persepsi pelaku perikanan cenderung positif, pengalaman cukup baik meski terkendala fasilitas, modal, dan literasi digital. Uji Chi-Square menghasilkan nilai Pearson 57,433 (sig. 0,000 < 0,05) dengan koefisien kontingensi 0,66, yang menandakan hubungan kuat antara persepsi dan pengalaman. Faktor yang memengaruhi keberhasilan PIT meliputi komunikasi, sarana prasarana, sikap pelaksana, struktur pengelola, dan pelaksanaan kebijakan. Disimpulkan bahwa semakin positif persepsi nelayan, semakin baik pengalaman mereka, sehingga diperlukan peningkatan sosialisasi, penyediaan fasilitas, dan penguatan kapasitas nelayan agar PIT berjalan efektif dan berkelanjutan.Quota-Based Fishing (QBF) is a government policy that aims to maintain the sustainability of fish resources by determining fishing zones and quotas. PPP Tamperan-Pacitan is a fishing port with the highest landing activity in South East Java and is located in Zone IV PIT. This study aims to analyze the factors influencing the successfull implementation of QBF, assess the perceptions and experiences of fishery actors, and examine their relationship. A quantitative descriptive method was employed, utilizing purposive sampling, with 33 respondents comprising vessel owners, managers, port officers, and field supervisors. The results show that the factors influencing the successful implementation of QBF include communication, infrastructure, implementers’ attitudes, management structure, and policy execution, all of which were generally rated as good by respondents. Furthermore, the perception of fisheries actors toward the QBF policy tends to be positive. At the same time, their experiences fall into the moderate category, although challenges remain, such as limited facilities, capital, and digital literacy. The Chi-Square test yielded a Pearson value of 57.433 (p < 0.05) with a contingency coefficient of 0.66, indicating a strong and significant relationship between the perceptions and experiences of fisheries actors regarding the implementation of the QBF policy.
Differences in catching time and baits on the catch results of Krendet in Coastal Fishing Port (CFP) Sadeng, Gunungkidul, Yogyakarta Putri, Riris Amaylia; Suherman, Agus; Jayanto, Bogi Budi
Depik Vol 11, No 2 (2022): August 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.2.25948

Abstract

Krendet is one of the fishing gears used to catch Lobster in the South Coast of Java. Krendet is a passive fishing gear. Lobster is a fishery commodity that has high economic value. This research was conducted to determine the difference in lobster catches based on differences in fishing time and bait types on Krendet fishing gear. The method used in this research is experimental fishing with 4 treatment combinations and 6 repetitions. The difference in fishing time used was morning afternoon and afternoon morning, while the bait used was trash fish and no bait as a control. This research was carried out in February 2021 in the waters around the Sadeng area, Gunung Kidul. The analysis carried out in this study used the Two Way Anova Test method. The results showed that the time difference had an effect on the number of catches. The effective time to catch Lobster is at night. This can be caused by Lobster's behavior or habits which tend to be active at night. Giving bait to Krendet is also able to increase the number of catches. The trash fish bait is able to lure the Lobster to come closer to Krendet. Giving bait to Krendet is also able to increase the number of catches. The trash fish bait is able to lure the Lobster to come closer to Krendet so that the Lobster can be trapped.Keywords:KrendetLobsterCoastal Fishing PortSadeng