Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KAJIAN KEKUATAN PUTUS (BREAKING STRENGTH) JARING POLYAMIDE (PA) RASCHEL KNOTLESS 210D/72 MESH SIZE 2 INCI BAGIAN KANTONG PURSE SEINE PADA USIA PEMAKAIAN YANG BERBEDA Hidayat, Tegar Indera; Jayanto, Bogi Budi; Kurohman, Faik
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.4.2024.180-189

Abstract

Jaring berbahan Polyamide (PA) banyak digunakan pada alat penangkapan ikan purse seine yaitu pada bagian badan jaring, sayap, dan kantong. Pertambahan lama pemakaian jaring menjadi faktor utama penurunan kualitas jaring, termasuk kekuatan putusnya. Penurunan kekuatan putus jaring perlu diperhatikan karena berpotensi menurunkan efektivitas dan produktivitas alat tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kekuatan putus jaring polyamide Raschel knotless ukuran 210D/72 mesh size 2 inci dengan lama pemakaian yang berbeda, mengetahui hubungan antara lama pemakaian jaring dengan breaking strength, serta pengaruh lama pemakaian terhadap breaking strength. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan mengacu pada metode SNI ISO 1806-2002. Pengumpulan data dilakukan pada kondisi kering dengan sampel jaring pada lama pemakaian 0, 8, 16, dan 24 bulan. Hasil penelitian menunjukkan nilai breaking strength jaring polyamide (PA) Raschel knotless menurun seiring dengan lamanya pemakaian jaring. Terdapat hubungan yang sangat erat antara lama pemakaian jaring dengan nilai kekuatan putus, serta terdapat pengaruh signifikan antara lama pemakaian terhadap breaking strength jaring. KATA KUNCI : Kekuatan putus; jaring; polyamide
INOVASI BUDIKDAMBER SEBAGAI SARANA PENINGKATAN LIFE SKILLS DAN KEMANDIRIAN PENYANDANG DISABILITAS DI SLBM SURYA GEMILANG LIMBANGAN KENDAL Setyawan, Hendrik Anggi; Jayanto, Bogi Budi
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 05 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyandang disabilitas sering menghadapi tantangan dalam mencapai kemandirian, terutama dalam hal keterampilan hidup yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Program peningkatan keterampilan hidup, seperti budikdamber, berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui kegiatan praktis yang melibatkan budidaya ikan dan tanaman dalam ember. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan teknis dan soft skillspenyandang disabilitas di SLBM Surya Gemilang Limbangan Kendal. Metode yang digunakan dalam program ini mencakup pelatihan teori dan praktik mengenai teknik budikdamber, pendampingan intensif, serta evaluasi berkala. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan teknis, seperti pemeliharaan ikan dan tanaman, serta pengembangan soft skills, termasuk pemecahan masalah dan manajemen waktu. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, motivasi untuk berwirausaha, dan kemandirian ekonomi. Program ini juga memiliki dampak positif pada kesejahteraan sosial dan ekonomi penyandang disabilitas. Sebagai kesimpulan, program Budikdamber tidak hanya berhasil meningkatkan keterampilan hidup, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas. Untuk keberlanjutan, disarankan untuk memperluas skala budikdamber dan melibatkan teknologi digital dalam pemantauan serta pemasaran hasil produksi, sehingga lebih banyak penyandang disabilitas dapat merasakan manfaatnya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKAPAN IKAN TERUKUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAMPERAN, PACITAN, JAWA TIMUR Nugroho, Prasetyo Catur; Suherman, Agus; Jayanto, Bogi Budi; Hernuryadin, Yayan; Suroso, Wawi; Kurohman, Faik
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.91-104

Abstract

Penangkapan ikan terukur (PIT) merupakan kebijakan pemerintah untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan dengan mengatur zona penangkapan (penetapan pelabuhan perikanan) dan menyesuaikan jumlah tangkapan dengan potensi sumber daya ikan. PPP Tamperan-Pacitan berada di Zona IV merupakan pelabuhan perikanan dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), aktivitas pendaratan ikan tertinggi di Selatan Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor keberhasilan implementasi PIT, menilai persepsi dan pengalaman pelaku perikanan, serta menguji hubungan keduanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling dan sensus, melibatkan 33 responden dari pemilik kapal, pengurus, petugas pelabuhan, dan pengawas. Hasil penelitian menunjukkan persepsi pelaku perikanan cenderung positif, pengalaman cukup baik meski terkendala fasilitas, modal, dan literasi digital. Uji Chi-Square menghasilkan nilai Pearson 57,433 (sig. 0,000 < 0,05) dengan koefisien kontingensi 0,66, yang menandakan hubungan kuat antara persepsi dan pengalaman. Faktor yang memengaruhi keberhasilan PIT meliputi komunikasi, sarana prasarana, sikap pelaksana, struktur pengelola, dan pelaksanaan kebijakan. Disimpulkan bahwa semakin positif persepsi nelayan, semakin baik pengalaman mereka, sehingga diperlukan peningkatan sosialisasi, penyediaan fasilitas, dan penguatan kapasitas nelayan agar PIT berjalan efektif dan berkelanjutan.Quota-Based Fishing (QBF) is a government policy that aims to maintain the sustainability of fish resources by determining fishing zones and quotas. PPP Tamperan-Pacitan is a fishing port with the highest landing activity in South East Java and is located in Zone IV PIT. This study aims to analyze the factors influencing the successfull implementation of QBF, assess the perceptions and experiences of fishery actors, and examine their relationship. A quantitative descriptive method was employed, utilizing purposive sampling, with 33 respondents comprising vessel owners, managers, port officers, and field supervisors. The results show that the factors influencing the successful implementation of QBF include communication, infrastructure, implementers’ attitudes, management structure, and policy execution, all of which were generally rated as good by respondents. Furthermore, the perception of fisheries actors toward the QBF policy tends to be positive. At the same time, their experiences fall into the moderate category, although challenges remain, such as limited facilities, capital, and digital literacy. The Chi-Square test yielded a Pearson value of 57.433 (p < 0.05) with a contingency coefficient of 0.66, indicating a strong and significant relationship between the perceptions and experiences of fisheries actors regarding the implementation of the QBF policy.