Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ARSHI Veterinary Letters

Gambaran kristal urin pada hewan model nefrolitiasis hasil induksi etilen glikol Rini Madyastuti Purwono; Ietje Wientarsih; Setyo Widodo; Erni H Purwaningsih; Eva Harlina
ARSHI Veterinary Letters Vol. 3 No. 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.24 KB) | DOI: 10.29244/avl.3.1.19-20

Abstract

Tingginya tingkat keterulangan kasus urolitiasis baik pada hewan maupun manusia, menuntut penelitian dalam mencari solusi menurukan angka keterulangan. Penelitian urolitiasis membutuhkan hewan model urolitiasis yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Salah satu metode yang digunakan adalah menciptakan kondisi hiperoksaluria. Penggunaan induksi etilen glikol menjadi metode yang paling umum digunakan. Induksi ini menghasilkan kristal kalsium oksalat monohidrat. 
Pathology of cutaneous blastomycosis in a cat Vetnizah Juniantito; Eva Harlina; . Jumari; Vici Eko Handayani; Iis Ismawati
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 1 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.815 KB) | DOI: 10.29244/avl.4.1.3-4

Abstract

Cats are common as pet animals in Indonesia and live in close vicinity of human neighborhood, which make them potential for transmitting diseases to human. Blastomycosis is infectious disease caused by Blastomyces spp yeast. Here we describe morphopathology of blastomycosis found in skin of a Persian Cat. Grossly, the lesion were characterized by ulcerated wounds and multiple subcutaneous small nodules (2-5 mm in diameter) in the base of tail. Skin biopsy was made and further processed for histopathology. Microscopically, the lesion consist of epidermal necrosis, dermatitis, with coalescing dermal granulomatous inflammation, characterized by epitheloid and foreign type giant cells infiltrates. Numerous spherical-shaped structures and pseudohyphae which are Periodic Acid Schiff (PAS)-positive consistent with yeast morphology were found within the granulomas; morphology is also consistent with Blastomyces spp yeasts. Conclusively, multiple granulomatous dermatitis with evidence of Blastomyces yeasts is a hallmark of cutaneous blastomycosis. Exposure to Blastomyces spp yeast may possess infection threat to pet owners.
Histopatologi hati ayam broiler (Gallus domesticus): sebuah model forensik veteriner pada 48 jam pasca kematian Az Zahra, Shafiyyah; Harlina, Eva; Subangkit, Mawar; Wiranti, Rahayu Woro; Priosoeryanto, Bambang Pontjo
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 4 (2023): ARSHI Veterinary Letters - November 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.4.79-80

Abstract

Ilmu forensik veteriner belum mendapat perhatian yang memadai di Indonesia, sehingga perlu ditingkatkan pengembangannya. Penelitian ini bertujuan mempelajari ilmu forensik veteriner melalui histopatologi hati ayam broiler 48 jam pasca kematian. Ayam broiler sebanyak 75 ekor berumur 7 hari dieutanasia dan dibagi menjadi 25 kelompok berdasarkan jam nekropsi pasca-eutanasia (n=3). Kadaver ayam dinekropsi setiap 2 jam postmortem, organ hati dikoleksi untuk dibuat potongan histopatologi dan diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Histopatologi hati evaluasi dan hasil yang didapat dianalisis menggunakan software ImageJ versi 1.53a. Hubungan peubah histopatologi dengan waktu postmortem dianalisis dengan metode Pearsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembusukan dimulai pada jam ke-18 post mortem yang ditandai dengan jumlah inti sel hepatosit, jam ke-20 ditemukan bakteri pembusuk, dan jam ke-22 terjadi peningkatan jarak antar hepatosit. Berdasarkan nilai korelasi Pearson, jumlah inti sel hepatosit, jarak antar hepatosit dan keberadaan bakteri pembusuk mempunyai hubungan kuat hingga sangat kuat dengan waktu postmortem sehingga hasil ini dapat menjadi parameter penentu waktu kematian (Post Mortem Interval/PMI) pada hewan.