Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Dari Mimbar ke Algoritma: Politik Identitas dan Produksi Otoritas Agama di Era Digital Suhudi; Uswatun Hasanah; Nyimas Umi Kalsum
Edupro: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): Edupro: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (April)
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/e-jppkm.2026.68

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pola otoritas agama dalam masyarakat Muslim kontemporer dari yang sebelumnya berbasis institusi dan sanad keilmuan menuju legitimasi yang dibentuk melalui popularitas digital dan budaya algoritmik. Fenomena munculnya ustaz digital, dakwah viral, dan kontestasi narasi keagamaan di ruang media sosial menunjukkan bahwa algoritma turut berperan dalam membentuk otoritas agama baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi antara algoritma media sosial, politik identitas, dan produksi otoritas agama di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui dokumentasi berbagai jurnal, buku, dan konten digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis wacana kritis dan pendekatan genealogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma media sosial berfungsi sebagai mekanisme produksi legitimasi keagamaan yang memperkuat echo chamber, polarisasi identitas, dan krisis otoritas keilmuan. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi digital keagamaan serta rekonstruksi moderasi beragama sebagai respons terhadap budaya algoritmik di era digital.
Dinamika Filologi Di Era Digital: Jembatan Kemudahan Atau Pengikisan Otentisitas? Agus Srimudin; Nyimas Umi Kalsum; Oman Fathurahman; Lukman; Novasriady; M. Rasya Alfarizi Srimudin
Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS) Vol. 5 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/ijoms.v5i1.2560

Abstract

The development of digital technology has permeated all areas of classical scholarship, including philology. The aim of this study is to examine the dynamics of philological development in the digital age. It seeks to assess the extent to which digitalisation acts as a tool that can facilitate research or, conversely, erode the distinctive characteristics of classical philology. The approach in this study is a qualitative descriptive approach, using a literature review method that examines the implementation of traditional philology and digital philology. The findings of this study indicate that the digital era has inevitably permeated every sphere, offering convenience to society whilst simultaneously bringing about certain impacts: digitalisation democratises access to manuscripts, facilitates efficient text preservation, and ensures ease of access; yet, on the other hand, this digital space poses a significant risk of eroding the authenticity of manuscripts, reducing sensory-based physical analysis (codicology), and may even lead to the decline of manual palaeographic skills and the next generation of philologists. It can be concluded that digital technology for the generation of digital philologists must be positioned as an instrument of acceleration, The wise integration of classical and digital methods is key to maintaining the relevance of philology without losing its academic identity in the future.
Reconstructing Muslim Feminist Hermeneutics: Patriarchal Exegesis, Maqaṣidi Reading, and Substantive Gender Justice in Contemporary Islamic Thought Amrullah; Uswatun Hasanah; Nyimas Umi Kalsum
Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 3 (2026): Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/j.tanwiruna.2026.110

Abstract

Gender bias in contemporary Islamic thought intensifies when historical exegesis and fiqh are treated as final theological rulings that restrict women’s experiences. This study formulates a reconstruction of Muslim feminist hermeneutics grounded in maqāṣid al-sharī‘ah and substantive justice. It applies library research by examining academic literature on Islam, gender, Muslim feminism, patriarchal exegesis, and Islamic family law. The findings show that patriarchal exegesis is shaped by androcentrism in knowledge production, atomistic readings of gender-related verses, and the absolutization of fiqh as divine will. A rereading of qiwāmah, polygamy, inheritance, and testimony affirms the need for holistic, contextual, and maqāṣid-oriented interpretation. Muslim feminist hermeneutics offers an interpretive framework grounded in Qur’anic authority while advancing reciprocity, public welfare, and substantive justice.
Rekonfigurasi Otoritas Keagamaan Islam di Era Digital: Genealogi Ulama, Negara, Fatwa, dan Platform Media Sosial Ahmad Rojali; Uswatun Hasanah; Nyimas Umi Kalsum
Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 1 (2026): Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/j.tanwiruna.2026.109

Abstract

Perkembangan media digital telah merekonfigurasi otoritas keagamaan Islam dengan mempertemukan legitimasi keilmuan ulama, kewenangan negara, produksi fatwa, dan mekanisme platform media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi otoritas keagamaan Islam di era digital, memetakan kesinambungan dan perubahan sumber legitimasi, serta merumuskan kerangka konseptual yang mengintegrasikan genealogi ulama, negara, fatwa, dan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan model tinjauan literatur naratif. Data utama berasal dari 30 artikel jurnal terbitan 2021–2026 yang dipilih secara purposif dari jurnal SINTA 1–2 dan jurnal internasional terindeks Scopus. Data dianalisis menggunakan analisis tematik refleksif melalui proses pengodean deduktif dan induktif. Hasil penelitian menghasilkan empat dimensi otoritas, yaitu genealogis-keilmuan, institusional-politis, diskursif-fatwa, dan digital-algoritmik. Otoritas keagamaan tidak berpindah secara linear dari ulama tradisional kepada pendakwah digital, melainkan terbentuk secara hibrida melalui proses akumulasi, konversi, negosiasi, dan kontestasi berbagai sumber legitimasi. Negara tetap berperan dalam formalisasi otoritas, sementara fatwa berkembang menjadi instrumen normatif, legitimatif, regulatif, dan mobilisatif, sedangkan media sosial membentuk otoritas melalui visualitas, popularitas, partisipasi audiens, dan algoritma. Penelitian ini menawarkan kerangka integratif untuk memahami otoritas keagamaan sebagai konstruksi berlapis dan relasional serta menegaskan pentingnya literasi keagamaan digital, transparansi kelembagaan, dan standar kredibilitas keilmuan.
Transmisi Keilmuan dan Jaringan Ulama Tafsir Al-Qur’an Sumatera Selatan Abad 18-20 H Reli Sulyani; Muhajirin; Nyimas Umi Kalsum; M. Riyan Hidayat
Contemporary Quran Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/cq.v5i2.7602

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi tafsir Al-Qur’an di Sumatera Selatan dengan fokus pada pola transmisi keilmuan, manuskrip lokal, dan genealogi intelektual ulama tafsir dari abad ke-18 hingga abad ke-20 Masehi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola transmisi keilmuan tafsir dari ulama Timur Tengah ke ulama lokal Sumatera Selatan, bagaimana manuskrip tafsir lokal mencerminkan tradisi penafsiran yang adaptif terhadap konteks sosial-budaya, serta peran genealogi intelektual ulama dalam membentuk jaringan transmisi keilmuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif historis-hermeneutik, memadukan analisis filologi dan studi jaringan intelektual. Data diperoleh dari manuskrip tafsir lokal, termasuk karya Masagus Muzammil, Ahmad al-Habsyi, dan KH. Fahrurrozi Seribandung, serta dokumen sejarah terkait ulama dan Kesultanan Palembang. Analisis menelusuri pola penyebaran tafsir, struktur jaringan guru-murid, serta karakteristik tekstual dan fisik manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi keilmuan berlangsung melalui jaringan guru-murid yang terstruktur antara ulama lokal dan ulama dari Aceh, Hadramaut, dan Haramain. Manuskrip lokal menggunakan bahasa Melayu Palembang dan aksara Jawi, menunjukkan adaptasi terhadap konteks lokal, sedangkan karya KH. Fahrurrozi mempertahankan bahasa Arab untuk menjaga otoritas klasik. Genealogi intelektual ulama membentuk jaringan luas yang memungkinkan pengetahuan tafsir ditransmisikan lintas generasi dan menjaga kontinuitas tradisi keilmuan, bahkan tanpa selalu menghasilkan karya tulis baru. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tafsir Sumatera Selatan menampilkan perpaduan antara konservasi otoritas klasik dan adaptasi lokal, sekaligus memperlihatkan kapasitas ulama dalam membangun jaringan epistemik yang kokoh dan berkelanjutan.
When Preservation Threatens: Risks to the Integrity of Ancient Islamic Manuscripts in Indonesia Nyimas Umi Kalsum; Naffa Rachmadini; Kayyisah Safira Amalina; Reza Aprianti
Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol. 14 No. 1 (2025): HERITAGE OF NUSANTARA
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/hn.v14i1.810

Abstract

This article examines efforts to preserve ancient Islamic manuscripts in Indonesia, with particular emphasis on the risks associated with current conservation practices. Using a qualitative approach, the study analyzes data sourced from social media platforms such as Facebook, Instagram, and relevant websites. The data collection follows a desk-review method, in which content is gathered and categorized based on predefined criteria. This information is then filtered and analyzed to map the threats emerging from preservation efforts. The findings reveal three primary risks in the implementation of manuscript conservation: (1) physical damage resulting from improper preservation methods; (2) the loss of contextual or historical identity of the manuscripts; and (3) the discontinuity or fragmentation of textual content. These risks underscore the need for a comprehensive review of existing government policies and Standard Operating Procedures (SOPs) for manuscript preservation. Such policies must be contextually adapted to Indonesia’s specific environmental and institutional conditions to guide preservation actors effectively.
SUFIS’ UNDERSTANDING ON TWENTY ATTRIBUTES OF ALLAH IN MA'DIN AL-ASRĀR FI MANHAJ AL-ABRĀR MANUSCRIPT Rahmat Hidayat; Titik Pudjiastuti; Nyimas Umi Kalsum; Haji Muhammad Yamin bin Haji Abdul Ranni
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.322

Abstract

In Islamic history of Palembang, manuscript has contributed to the transmission of knowledge. Religious works was an achievement for the Muslim scholars in the past. One of Palembang's cultural heritage is the Ma'din al-Asrār manuscript. This text contains theological teachings. In terms of theology, Palembang's Muslim scholars adhered to the understanding of the nature of God. As with observations on theological works that talk about nature 20, it is found that the majority of his studies use the Kalam Science approach (reasoning approach). This is different from the description of the 20 characteristics contained in the Ma'din al-Asrār manuscript. The purpose of study is to analyse how Sufis understand on the 20 attributes of Allah. This article uses a library research, with the primary data source is the book Alih Aksara Naskah Ma'din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Data collection uses literature study, and data analysis uses text interpretation methods. This research concludes that the 20 attributes which is understood by the Sufis is more orientated to theological-sufistic, where the discussion of aqidah is attempted to feel it (żauq). For example, wujud they understood as a substance, ta’ayyunāt (entity), maẓhar (appearance), tajalliyāt (manifestation), aṡar (former or influence); qidam is understood by being which is not preceded by even nothingness ('adam); baqā' with azaliyah (a being that existed before something existed) and aḥadiyatu'Llāh (oneness of God, and except Him the call muqayyad (being dependent on others); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ is denying everything except Him even  the being of human himself, and many other discussion. Dalam sejarah Islam di Palembang, naskah berkontribusi besar dalam transmisi keilmuan. Menulis masalah-masalah keagamaan menjadi satu prestasi bagi ulama-ulama silam. Salah satu satu warisan budaya tulis masa lampau Palembang adalah naskah Ma‘din al-Asrār. Naskah ini memuat ajaran-ajaran teologis. Dalam hal teologis, ulama-ulama silam Palembang menganut paham sifat 20 Allah. Sebagaimana pengamatan terhadap karya-karya teologi yang berbicara tentang sifat 20, didapati bahwa mayoritas kajian-kajiannya menggunakan pendekatan Ilmu Kalam (pendekatan akal). Hal ini berbeda dengan uraian sifat 20 yang terdapat di dalam naskah Ma‘din al-Asrār, dimana sifat tersebut mereka memahaminya dengan pendekatan sufistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan pemahaman ulama sufi terhadap sifat 20. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan sumber data primer buku Alih Aksara Naskah Ma‘din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Pengumpulan data menggunakan studi literatur, dan analisa datanya menggunakan metode interpretasi teks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sifat 20 yang dipahami oleh kaum sufi lebih berorientasi pada teologis-sufistik, dimana pembahasan akidah diupayakan untuk merasainya (żauq). Misalnya wujud mereka pahami dengan zat, ta’ayyunāt, maẓhar (penampakan), tajalliyāt (manifestasi), aṡar (bekas atau pengaruh), bahkan wahm atau khayālī dapat dikategorikan juga sebagai wujud; qidam dipahami dengan wujud yang tidak didahului oleh ketiadaan sekalipun (‘adam); baqā’ dengan aḥadiyatu’Llāh (keesaan Allah) dan azaliyah, dan selain-Nya adalah wujud muqayyad (wujud yang bergantung dengan yang lain); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ dipahami dengan menafikan segala sesuatu selain-Nya hingga pada diri manusia itu sendiri. dan lain-lain seterusnya.
Transformasi dan Pelestarian Aksara Ulu di Kota Lubuk Linggau: Tinjauan Kebijakan Pemerintah Daerah Putra Madani Arifin; Endang Rochmiatun; Fitriah; Nyimas Umi Kalsum; Muhammad Affan Ridhollah; Berlian Susetyo
Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara Vol. 1 No. 3 (2026): Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara
Publisher : Susilo Academic Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67200/kajang.v1i3.30

Abstract

Aksara Ulu is an ancient written cultural heritage that developed in the inland region of South Sumatra, including Lubuk Linggau City. This study aims to examine the existence, transformation, and preservation efforts of Aksara Ulu in Lubuk Linggau within a modern context. The method used is descriptive qualitative, utilizing primary data in the form of archives, ancient manuscripts, field observations, and interviews, as well as secondary data from books, journals, and other supporting documents. The results show that the existence of Aksara Ulu in Lubuk Linggau is evidenced by the discovery of ancient manuscripts made of bamboo (gelumpay), buffalo horn, and other traditional media. In the past, this script was used for customary purposes, medicine, law, family genealogy, and social communication. Historically, Aksara Ulu in Lubuk Linggau is closely related to the writing tradition of the Musi Ulu region and shows similarities to the Rejang Script (KaGaNga) in Bengkulu. However, the use of this script has declined due to the influence of colonialism, the introduction of Jawi script, the dominance of the Latin alphabet, and weak intergenerational transmission. Preservation efforts have been carried out through digitalization, literacy training, development of learning media, integration into arts and culture, and policies of the Lubuk Linggau City Government through local content curricula in elementary and junior high schools. This study concludes that Aksara Ulu is not only valuable as a historical legacy but also has strategic potential as a local cultural identity relevant to be developed in the modern era.