Sri Sedjati
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Marine Science Techno Park, Universitas Diponegoro

Published : 58 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kitosan sebagai Bioadsorben Logam Besi (Fe) pada Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) Pramastuti, Fransisca Ria; Supriyantini, Endang; Pramesti, Rini; Sedjati, Sri; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.41095

Abstract

Logam besi (Fe) merupakan logam berat essensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia dalam jumlah sedikit.  Jika jumlahnya melebihi batas ambang dapat menimbulkan efek racun karena bersifat karsinogenik. Salah satu upaya mengurangi kadar logam Fe pada daging kerang tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan kitosan atau turunan kitosan yaitu karboksimetil kitosan (KMK) sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi KMK dan kitosan terhadap kapasitas dan daya adsorpsi, serta konsentrasi terbaik dalam menurunkan kandungan logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Metode penelitian secara eksperimental laboratoris. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu sumber kitosan yang digunakan yaitu kitosan dan karboksimetil kitosan (KMK) dan faktor kedua yaitu variasi konsentrasi yaitu kontrol (0%); 0,5%; 1%; 1,5% dan masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Konsentrasi logam berat Fe awal pada kerang hijau sebesar 13,17 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi kitosan dan KMK terhadap kapasitas dan daya adsorpsi logam berat Fe pada jaringan lunak kerang hijau. Konsentrasi terbaik pada kitosan 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 2,43 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi sebesar 0,72 mg/g dan daya serap 81,56%, sedangkan KMK 1,5% dapat menurunkan logam berat Fe menjadi 3,68 mg/kg dengan kapasitas adsorpsi 0,63 mg/g dan daya serap sebesar 72,04%.  Fe is an essential heavy metal needed by humans in small amounts, if the amount exceeds the threshold, it can cause toxic effects because it is carcinogenic. To reduce the metal content of Fe in mussel meat, it can be done by utilizing chitosan or chitosan derivatives, namely carboxymethyl chitosan (KMK) as an adsorbent. This study aims to determine the effect of variations in the concentration of KMK and chitosan on the adsorption capacity and power as well as the best concentration in reducing the heavy metal content of Fe in the soft tissue of green mussels. The research method is experimental laboratory. The research design used a completely randomized design (CRD) with 2 factors. The first factor is the source of chitosan used, namely chitosan and carboxymethyl chitosan (KMK) and the second factor is the variation in concentration used, namely control (0%), 0.5%, 1%, and 1.5% and each treatment 3 repetition. The initial heavy metal concentration of Fe in green mussels was 13.17 mg/kg. The results showed that there was an effect of variations in the concentration of chitosan and KMK on the capacity and adsorption ability of heavy metal Fe in green mussel meat. The best concentration of 1.5% chitosan can reduce heavy metal Fe to 2,43 mg/kg with adsorption capacity of 0.72 mg/g and absorption ability of 81.56%. Meanwhile, KMK 1.5% can reduce heavy metal Fe to 3.68 mg/kg with adsorption capacity of 0.63 mg/g and absorption ability of 72.04%. 
Kandungan Karbon Pada Sedimen Dan Struktur Komunitas Mangrove Di Kelurahan Lalowaru, Sulawesi Tenggara Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti; Retno Hartati; Sri Sedjati; Aan Pratama
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.44048

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan dalam upaya mitigasi dalam fenomena perubahan iklim. Mangrove dapat berfungsi sebagai penyerap karbon yang signifikan, yakni menyumbang sekitar 30% dari total penyerapan karbon di ekosistem pesisir. Mangrove dapat menyimpan karbon secara efektif pada bagian sedimen, oleh karena itu dilakukannya penelitian untuk mengkaji struktur mangrove dan kandungan karbon pada sedimen. Penelitian dilakukan pada 8-10 November 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskripstif. Pengambilan data mangrove dilakukan dengan menggunakan transek line plots dengan ukuran 10x10 m. Pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan menarik garis transek sepanjang 100 meter. Sampel diperoleh dari 3 stasiun dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm pada jarak 0 meter, 50 meter dan 100 meter dari titik surut terendah dengan menggunakan sediment core. Analisis karbon sedimen menggunakan metode Loss on Ignition (LOI), sedangkan analisis ukuran butir sedimen menggunakan metode granulometri. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kelurahan Lalowaru memiliki kerapatan termasuk kedalam kategori sedang hingga padat yaitu berkisar 1.367 ind/ha-2.367 ind/ha yang didominasi oleh Rhizopora mucronata di setiap stasiun. Jenis sedimen mangrove di Kelurahan Lalowaru  didominasi oleh pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Kandungan karbon yang diperoleh yaitu sebesar 4.426,3 ton karbon. Stasiun 3 memiliki kerapatan tertinggi berkisar 2.367 ind/ha dengan kandungan karbon rata-rata sebesar 27,2 ton/ha. Mangroves are one of the coastal ecosystems that play a role in mitigation efforts in the phenomenon of climate change. Mangroves can serve as a significant carbon sink, contributing about 30% of total carbon sequestration in coastal ecosystems. Mangroves can store carbon effectively in the sediment section, therefore research was conducted to examine the structure of mangroves and carbon content in sediments. The study will be conducted on November 8-10, 2023. The research method used is descriptive. Mangrove data collection was carried out using transect line plots with a size of 10x10 m. Sediment sampling is carried out by drawing a transect line 100 meters long. Samples were obtained from 3 stations with depths of 0-20 cm and 20-40 cm at distances of 0 meters, 50 meters and 100 meters from the lowest low tide point using sediment cores. Sediment carbon analysis uses the Loss on Ignition (LOI) method, while sediment grain size analysis uses the granulometry method. The results showed that Lalowaru Village has a density included in the medium to dense category, which ranges from 1,367 ind / ha to 2,367 ind / ha which is dominated by Rhizopora mucronata at each station. The type of mangrove sediment in Lalowaru Village is dominated by muddy sand and sandy mud. The carbon content obtained is 4,426.3 tons of carbon. Station 3 has the highest density of 2,367 ind/ha with an average carbon content of 27.2 tons/ha
Eksplorasi Kegunaan Medis Ekstrak Daun Mangrove Acanthus ilicifolius Sebagai Antibakteri Risma Pratiwi; Delianis Pringgenies; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.49119

Abstract

Resistensi bakteri terhadap antibiotik dan dampak dari sifat resistensi tersebut menjadi sebuah masalah yang dihadapi, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan untuk terus mencari alternatif antibiotik baru yang berasal dari bahan alam, tak terkecuali tumbuhan mangrove. Ekstrak daun mangrove diketahui menunjukkan aktivitas terhadap berbagai strain bakteri. Keberadaan mangrove Acanthus ilicifolius yang melimpah di ekosistem mangrove membuka peluang besar untuk eksplorasi metabolit yang berpotensi sebagai agen antibakteri alami. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu ekstraksi, evaporasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri. Ekstrak daun Acanthus ilicifolius diketahui positif mengandung alkaloid, tanin, steroid, saponin, dan flavonoid. Ekstrak daun juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan S. aureus yang dilihat dari zona bening yang terbentuk disekitar kertas cakram. Bacterial resistance to antibiotics and the impact of this resistance are problems that are being faced, so ongoing efforts are needed to look for new antibiotic alternatives derived from natural ingredients, including mangrove plants. Mangrove leaf extract is known to show activity against various bacterial strains. The abundant presence of Acanthus ilicifolius mangroves in mangrove ecosystems opens up great opportunities for the exploration of metabolites that have the potential to act as natural antibacterial agents. This research was carried out through several stages, extraction, evaporation, phytochemical screening, and antibacterial activity test. Acanthus ilicifolius leaf extract is known to contain alkaloids, tannins, steroids, saponins, and flavonoids. Leaf extract also has antibacterial activity against E. coli and S. aureus bacteria as seen from the clear zone that forms around the paper disc.
Karakteristik Biodegradable Film Refined Carrageenan dari Kappaphycus alvarezii dengan Pemlastis Gliserol Zalsabila Sulistiana; Ali Ridlo; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.39209

Abstract

Kappaphycus alvarezii merupakan spesies rumput laut merah yang mengandung senyawa hidrokoloid karaginan dan dapat diekstraksi menjadi semi refined carrageenan (SRC) dan refined carrageenan (RC). Refined carrageenan merupakan karaginan yang didapat melalui ekstraksi dan filtrasi. Sifatnya dapat membentuk lembaran film dan mudah larut dalam air. Biodegradable film dari RC berpotensi sebagai pengganti kemasan plastik. Konsentrasi RC yang tepat diperlukan untuk mendapatkan karakteristik biodegradable film RC dapat terurai secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi RC terhadap karakteristik biodegradable film RC dengan pemlastis gliserol. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories. Tahapan penelitian terdiri dari ekstraksi RC, karakterisasi RC, pembuatan biodegradable film, dan karakterisasi biodegradable film. Biodegradable film dibuat dengan variasi RC (2%, 3%, 4%), gliserol 15 ml dan akuades hingga total volume 150 ml, lalu dipanaskan dan dihomogenkan dengan hot plate dan magnetic stirrer pada suhu 70-80℃ selama 45 menit, kemudian dicetak dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 60℃ selama 12-18 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi RC berpengaruh (p<0,05) terhadap kuat tarik, elongasi, dan ketebalan, tetapi tidak berpengaruh (p≥0,05) terhadap laju transmisi uap air dan kelarutan air biodegradable film. Konsentrasi RC yang tepat untuk biodegradable film dengan pemlastis gliserol yaitu 3% karena nilai kelarutan airnya yang tinggi (85,9%) sehingga dapat terurai dengan mudah.                                                                                                                      Kappaphycus alvarezii is a red seaweed species containing carrageenan hydrocolloid compounds and can be extracted into semi-refined carrageenan (SRC) and refined carrageenan (RC). Refined carrageenan is carrageenan obtained through extraction and filtration. Its properties can form film sheets and dissolve easily in water. Biodegradable films from RC have the potential to replace plastic packaging. Appropriate concentration of RC is needed to obtain biodegradable characteristics of RC films that can decompose naturally. This study aims to determine the effect of RC concentration on the characteristics of biodegradable RC films with glycerol plasticizers. The research method used is experimental laboratories. The research stages consisted of RC extraction, RC characterization, biodegradable film production, and biodegradable film characterization. Biodegradable films were made with RC variations (2%, 3%, 4%), 15 ml glycerol, and distilled water to a total volume of 150 ml, then heated and homogenized with a hot plate and magnetic stirrer at 70-80℃ for 45 minutes, then printed. and dried in an oven at 60℃ for 12-18 hours. The results showed that RC concentration (p<0.05) affected tensile strength, elongation, and thickness. Still, they had no effect (p≥0.05) on the water vapor transmission rate and water solubility of biodegradable films. The appropriate RC concentration for biodegradable films with glycerol plasticizers is 3% because of its high water solubility value (85.9%), which means it can decompose easily.
Pembentukan Zona Hambat Patogen Staphylococcus aureus dan Escherichia coli terhadap Pigmen Fukosantin Ekstrak Sargassum polycystum C. Agardh Mhevy Nadya Pasaribu; Rini Pramesti; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.47898

Abstract

Pigmen fukosantin merupakan pigmen yang terdapat dari rumput laut cokelat Sargassum polycystum yang kadarnya tertinggi dari pigmen lainnya. Pigmen ini dapat digunakan sebagai sediaan bahan kosmetik dan  obat – obatan. Dalam bidang farmasi tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai anti-obesitas, anti-diabet, antiinflamasi dan antibakteri. Sampel diperoleh dari perairan Pulau Panjang, Jepara. Tujuan penelitian mengetahui proses isolasi pigmen fukosantin dan potensi antibakteri pigmen fukosantin S. polycystum. Identifikasi fukosantin menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Isolasi fukosantin dengan metode kromatografi kolom. Uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram. Bakteri patogen yang digunakan S. aureus dan E. coli. Konsentrasi ekstrak fukosantin sebagai sampel uji digunakan 150 µg/disk, 250 µg/disk dan 500 µg/disk. Pengamatan zona hambat selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak pigmen fukosantin memiliki aktivitas antibakteri. Rerata diameter zona hambat terbesar terdapat pada jam ke-24 terhadap patogen S. aureus adalah 10,6 ± 0,057 mm dan zona hambat terbesar terdapat pada jam ke -24 pada patogen E. coli adalah 10,1 ± 0,014 mm. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas pigmen fukosantin berpotensi sebagai antibakteri. 
Identifikasi Molekuler dan Uji Potensi Khamir Laut sebagai Penghasil Enzim Esktraseluler Wa Ode Rima Alam Sari Bolu; Wilis Ari Setyati; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.41806

Abstract

Khamir merupakan jamur bersel tunggal yang memiliki fase reproduksi aseksual berupa pembelahan sel serta reproduksi seksual yang tidak membentuk badan buah. Penelitian mengenai keanekaragaman khamir pada lingkungan terestrial telah dieksplorasi dengan baik, namun penelitian mengenai khamir laut tergolong relatif sedikit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi khamir laut secara molekuler dan menentukan potensi khamir laut sebagai penghasil enzim ekstraseluler. Metode dalam penelitian ini yaitu peremajaan isolat, uji aktivitas enzim, karakterisasi morfologi khamir secara makroskopis meliputi bentuk koloni, margin, elevasi, appearance, tekstur, dan warnanya, serta karakterisasi mikroskopis meliputi bentuk koloni dan kenampakan pertunasan sel. Identifikasi molekuler dilakukan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan tahapan ekstraksi DNA, amplifikasi DNA, pengecekan kualitas DNA, analisis sekuens DNA dan pembuatan pohon filogenetik. Berdasarkan identifikasi molekuler menggunakan primer universal (ITS1 dan ITS4) dengan nilai percent similarity sebesar 99.05%, isolat PB3.2 teridentifikasi sebagai spesies Candida tropicalis. Isolat ini tidak menunjukkan adanya kemampuan dalam memproduksi enzim amilase dan enzim protease.  Yeast is a unicellular fungus with a phase of asexual reproduction through cell division and lacks the formation of fruiting bodies during sexual reproduction. Research on yeast diversity in terrestrial environments has been well-explored; however, research on marine yeast is relatively limited. This study aims to molecularly identify marine yeast and determine their potential as producers of extracellular enzymes. The methods employed in this study include strain isolation, enzyme activity assays, macroscopic morphological characterization of yeast, encompassing colony shape, margin, elevation, appearance, texture, and color, as well as microscopic characterization, involving colony shape and budding patterns. Molecular identification was performed through the stages of DNA extraction, DNA amplification, DNA quality assessment, DNA sequence analysis, and the construction of a phylogenetic tree. Based on molecular identification using universal primers (ITS1 and ITS4) with a percent similarity value of 99.05%, isolate PB3.2 was identified as Candida tropicalis species. This isolate did not exhibit the ability to produce amylase and protease enzymes.
Karakteristik Edible Straw dari Karagenan Setelah Penambahan Sorbitol Nadiah Humairoh Mufidah Savitri; Sri Sedjati; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39637

Abstract

: Pemakaian sedotan plastik tidak hanya mencemari lingkungan namun juga dapat menyebabkan kematian pada hewan laut. Pemecahan masalah sedotan plastik telah dilakukan dengan mengganti bahan sedotan agar mudah terurai atau dapat dimakan (edible). Bahan yang telah digunakan untuk membuat edible straw misalnya karagenan yang diekstraksi dari rumput laut. Karagenan yang diekstraksi dari rumput laut Kappaphycus alvarezii paling banyak diproduksi dibandingkan jenis rumput laut lainnya. Kappa karagenan merupakan jenis karagenan hasil ekstraksi K. alvarezii dengan tingkat kemurnian tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan plasticizer sorbitol terhadap karakteristik edible straw yang meliputi kuat tarik, kelarutan, dan ketebalan. Metode penelitian mengacu pada eksperimental laboratoris dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 kelompok perlakuan yaitu sorbitol 0% (ESS0), sorbitol 2% (ESS2), sorbitol 4% (ESS4), dan sorbitol 6% (ESS6). Konsentrasi karagenan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 1,5% pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan sorbitol, maka kuat tarik semakin rendah namun kelarutan dan ketebalan meningkat. Formulasi terbaik didapatkan pada penambahan sorbitol 2% (ESS2) dengan kuat tarik 6,364 Mpa, kelarutan 41%, dan ketebalan 749,6 µm.
Natural Pigment Screening: Comparative Analysis of Chlorophyll and Carotenoid Content and Antioxidant Potential in Various Seaweed Species Sedjati, Sri; Setyati, Wilis Ari; Ridlo, Ali; Sari, Intan Swastika; Rahmawati, Tiara
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 1 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The present study aimed to evaluate the levels of chlorophyll and carotenoids, as well as the antioxidant potential of various seaweed species collected from the waters of Kartini Beach, Jepara, Central Java, Indonesia. Nine seaweed samples were extracted using methanol, and the pigment content was determined using spectrophotometric analysis. The antioxidant activity of the extracts was assessed using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging assay. The findings indicated that the green seaweed Caulerpa serrulata exhibited the highest concentrations of chlorophyll a (489.42 µg/g) and carotenoids (248.83 µg/g). Conversely, the brown seaweed Sargassum echinocarpum demonstrated superior antioxidant properties, with DPPH radical scavenging activities of 92.59%, followed by C. serrulata extracts at 76.43%.  The antioxidant activity of these extracts exceeded that of ascorbic acid at a concentration of 20 µg/mL (71.21%). A moderate positive correlation was observed between pigment content and antioxidant activity. The variations in pigment composition among different seaweed species significantly influenced their antioxidant potential, with carotenoid-rich brown seaweeds exhibiting higher antioxidant activity compared to green seaweeds. The study's findings reveal the potential of C. serrulata and S. echinocarpum extracts as natural pigments with antioxidant properties. These extracts offer promising applications in the food, nutraceutical, and cosmetic industries as safe and sustainable alternatives to synthetic antioxidants and colorants.
Co-Authors Aan Pratama Adam Sojuangon Pasaribu Adella, Alisa Sukma Adha Susanto Adi Santosa Adi Santoso Agus Trianto Ali Ridlo Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Annisa Afifah Nugroho Ardiani Widya Wandira Arif Maa’ruf Al Ayyub Arvianto Wibowo Azhar, Riza Nur Aziz Rifai Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Budhy Wiyarsih Chika Velita Anindya Yulian Delianis Pringgenies Deska Dwi Iriana Dewi Meynita, Dewi Dhimas Firmansyaf Dinda Ayuniar Zanjabila Dwi Haryo Ismunarti Eka Mulya Eksa Novritasari Elis Indrayanti Endang Supriyantini Ervia Yudiati Faith Dibri Kimberly Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Gita Wismayanti Hadi Endrawati Haeruddin Haeruddin Hafida Salma Haqqu, Alir Adn Ighwerb, Mostafa Imhmed Ikhlasul Amal Irene Ulsadriatny Iriana, Deska Dwi Jamaludin Jamaludin Khoirunnisah Riswanti Kirana Fatika Brilianti Larasati, Stefanie Jessica Henny Lilik Maslukah Limbong, Maria Fransiska Linggar Dirgantara Prasetyo M. Hafizulhaq Mahadika Fanindhita Sany Max Rudolf Muskananfola McCauley, Erin Mhevy Nadya Pasaribu Muhammad S. Bahry Muhammad Syaifudien Bahry Nada Kristiani Ginting Nadiah Humairoh Mufidah Savitri Nirwani Soenardjo Nur Islamiah Sulastri Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pasaribu, Adam Sojuangon Pradhika, Vicky Dimas Pramastuti, Fransisca Ria Rabia Alghazeer Rachmat Afriyanto Raden Ario Rahmawati, Tiara Rani Agustian Rizkina Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Rima Rosema Rini Pramesti Riska Novianti Putri Risma Pratiwi Risnita Tri Utami Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Sakti Imam Muchlisin Saniyatul Ulya Sari, Intan Swastika Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Septhy Kusuma Radjasa Sibero, Mada Triandala Sri Redjeki Sri Yulina Wulandari Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Vicky Dimas Pradhika Victoria Ratna Widiyanti Victorina Yulina Santi Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wandira, Ardiani Widya Widiyanti, Victoria Ratna Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zalsabila Sulistiana Zidny Nurfadhli