Sri Sedjati
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Marine Science Techno Park, Universitas Diponegoro

Published : 58 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan Mikroalga Chaetoceros calcitrans Pada Kultivasi Dengan Intensitas Cahaya Berbeda Linggar Dirgantara Prasetyo; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.31698

Abstract

Chaetoceros calcitrans can be used for natural food in aquaculture. Microalgae growth is influenced by several factors, one of which is light intensity. This study aims to determine the intensity of light that can produce the best growth in C. calcitrans microalgae. The study design used was a completely randomized design (CRD) with two replications. This study uses a treatment (light intensity) with  four levels of treatment, namely 1000 (control), 1500, 2000 and 2500 lux with a duration of lighting 12 hours light: 12 hours dark. Calculation of density and measurement of water quality parameters are carried out every day during the cultivation process. Harvesting is done in a stationary phase. The results showed that different light intensities affected the growth of C. calcitrans microalgae (p=0,000). Light intensity of 2500 lux in medium scale C. calcitrans (60 L) culture can produce the highest growth on the tenth day which is 67x10⁵ cells/ml and biomass 13,75 grams.Chaetoceros calcitrans merupakan mikroalga yang dapat digunakan sebagai pakan alami. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas cahaya yang dapat menghasilkan pertumbuhan terbaik pada mikroalga C. calcitrans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua kali pengulangan. Penelitian ini menggunakan  perlakuan (intensitas cahaya) dengan empat taraf perlakuan yaitu 1000 (kontrol), 1500, 2000 dan 2500 lux dengan durasi pencahayaan 12 terang : 12 gelap. Perhitungan kepadatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap hari selama proses kultivasi. Pemanenan dilakukan pada fase stasioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya yang berbeda mempengaruhi pertumbuhan mikroalga C. calcitrans (p=0,000). Intensitas cahaya 2500 lux pada kultur C. calcitrans skala medium (60 L) dapat menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada hari ke sepuluh yaitu 67 x 105 sel/ml dan biomasa kering 13,75 gram.
Pemanfaatan Kitosan untuk Menurunkan Kadar Logam Pb dalam Perairan yang Tercemar Minyak Bumi Rima Rosema; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.31051

Abstract

Kitosan telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia, salah satunya dijadikan sebagai adsorben logam berat. Logam berat timbal (Pb) merupakan polutan yang mencemari perairan dan bersifat toksik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kapasitas dan daya adsorpsi larutan kitosan komersial dan non komersial (produk sendiri) dalam konsentrasi berbeda terhadap logam Pb. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Faktorial 2 Aras dengan menggunakan 1 kontrol (0 %) dan 4 perlakuan yaitu konsentrasi 0,5% (A), 1% (B), 1,5% (C) dan 2% (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara sumber kitosan dengan konsentrasi kitosan untuk menurunkan kandungan Pb. Dosis terbaik yang mampu menurunkan logam Pb untuk kitosan komersial yaitu pada konsentrasi 1% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,228 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 87,870 %. Sedangkan kitosan non komersial mampu menurunkan logam Pb pada konsentrasi 1,5% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,143 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 82,660 %.  Chitosan has been widely used in various fields of human life, one of which is used as a heavy metal adsorbent. Lead heavy metals (Pb) is a pollutants that pollutes the waters and is toxic. This study aims to examine the capacity and adsorption capacity of commercial and non-commercial chitosan  solutions  (own products) in  different concentrations of Pb metal. The research method used is an experimental laboratories with chitosan from the isolation itself and commercial chitosan. The research method used is an experimental laboratory with 2 Aras factorial experimental design using 1 control  (0%) and 4 treatments namely a concentrations of 0.5% (A), 1% (B), 1.5% (C) and 2% (D). The results showed that there was an interaction between chitosan sources and chitosan concentration to reduce Pb content. The best dose that can reduce Pb metal for commercial chitosan is at a concentration of 1% with an adsorption capacity of 0.228 mg/g, and an adsorption ability of 87.870 %. while non-commercial chitosan can reduce Pb metal at a concentration of 1.5 % with an adsorption capacity of 0.143 mg/g and an adsorption ability of 82.660 %.  
Kandungan Bahan Organik dan Karakteristik Sedimen di Perairan Betahwalang, Demak Jamaludin Jamaludin; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.30046

Abstract

Betahwalang is a coastal village located in Demak Regency. As a village located in a coastal area, the local population mostly relies on the fisheries sector sourced from sea products. Betahwalang Village has a Mangrove Ecosystem, which is included in the tidal river area of Betahwalang Village. This study aims to look at the comparison of organic matter levels in sediments during tidal and receding river water. Sampling in the field was conducted in March 2019. Sediment samples were taken from 5 stations divided into jetty, mangrove, estuary, and beach areas, where each station was repeated 3 times during high tide and low tide. Analysis of organic matter content of sediment samples using gravimetric methods and data analysis using Non-Parametric Kruskal-Wallis H. The results showed the highest levels of sediment organic matter at station 5 were 74.87 ± 1.81% (low tide) and 66.99 ± 0.38% (high tide) and the lowest sediment organic matter content. at station 4 were 31.56 ± 2.14% (low tide) and 26.93 ± 2.51% (high tide). These results indicate that the organic matter content in the sediment at low tide is higher than at high tide with results that are not significantly different (sig = 0.05).  Betahwalang adalah desa pesisir yang terletak di Kabupaten Demak. Sebagai desa yang terletak di wilayah pesisir, penduduk setempat sebagian besar mengandalkan sektor perikanan yang bersumber dari hasil laut. Desa Betahwalang memiliki Ekosistem Mangrove yang termasuk dalam wilayah sungai pasang surut di Desa Betahwalang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kondisi perairan sungai Betahwalang ditinjau dari kandungan bahan organik dalam sedimen selama pasang dan surut. Pengambilan sampel di lapangan dilakukan pada bulan Maret 2019. Sampel sedimen diambil dari 5 stasiun yang dibagi menjadi area dermaga, mangrove, muara dan pantai, di mana setiap stasiun diulang 3 kali selama pasang dan surut. Analisis kandungan bahan organik sampel sedimen menggunakan metode gravimetri, dan analisis data menggunakan Non-Parametrik Kruskal-Wallis H. Hasil penelitian menunjukkan kadar bahan organik sedimen tertinggi di stasiun 5 sebesar 74,87 ± 1,81% (air surut) dan 66,99 ± 0,38 % (air pasang) dan  kandungan bahan organik sedimen terendah. di stasiun 4 sebesar 31,56 ± 2,14 % (air surut) dan 26,93 ± 2,51% (air pasang). Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan bahan organik dalam sedimen pada saat air surut lebih tinggi daripada saat air pasang dengan hasil yang tidak berbeda nyata (sig=0,05). 
Kajian Pencemaran Perairan Pulau Panjang, Jepara Berdasarkan Indeks Saprobik dan Komposisi Fitoplankton Endang Supriyantini; Munasik Munasik; Sri Sedjati; Sri Yulina Wulandari; Ali Ridlo; Eka Mulya
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i1.27276

Abstract

Indeks saprobik adalah indeks yang digunakan untuk mengetahui status pencemaran suatu perairan dengan menggunakan keberadaan organisme seperti fitoplankton. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pencemaran di perairan Pulau Panjang, Jepara berdasarkan indeks saprobik dan komposisi fitoplankton. Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif.Sampel fitoplankton diambil dari 12 titik sampling di sekitar perairan Pulau Panjang. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling. Sampel plankton diperoleh secara aktif menggunakan plankton net dengan mesh size 37 μm diameter 21 cm. Hasil penelitian menunjukkankomposisi fitoplankton di P. Panjang terdiri dari 32 genus, termasuk ke-dalam 4 kelas yaitu Bacillariophyceae (18 genus), Dinophyceae (12 genus), Cyanophyceae (1 genus),Chlorophyceae (1 genus). Indek keanekaragaman dan keseragamannya  termasuk dalam kriteria sedang dan tidak ada genus yang mendominasi. Nilai indeks saprobik berkisar antara 0.0 s/d 0.5, yaitu dengan tingkat pencemaran ringan (β/α- mesosaprobik) hingga sedang (α/β- mesosaprobik) oleh bahan organik.Berdasarkan hasil tersebut perairan P. Panjang, Jepara termasuk kedalam perairan yang tercemar rendah hingga sedang. A saprobic index is an index used to determine the status of pollution in waters by using the presence of organisms such as phytoplankton. The purpose of this study was to determine the level of pollution in the waters of Island Panjang, Jepara, based on the saprobic index and phytoplankton composition. The method used is descriptive explorative. Phytoplankton samples were taken from 12 sampling points around Panjang Island by a purposive sampling method. Plankton sampling was carried out using the plankton net with a mesh size of 37 μm in diameter of 21 cm. The results showed that there were 4 classes in  Panjang Island, namely Bacillariophyceae (18 genera), Dinophyceae (12 genera), Cyanophyceae (1 genus), Chlorophyceae (1 genus).  The index of diversity and uniformity are moderate and no dominant genus. The saprobic index was ranged from 0.0 to 0.5, which was light (β / α-mesosaprobic) to moderate (α / β-mesosaprobic) pollution levels of organic matter. Based on the results,  Panjang Island waters in Jepara were polluted in low to-moderate category.
Kandungan Klorofil dan Fukosantin serta Pertumbuhan Skeletonema costatum pada Pemberian Spektrum Cahaya Yang Berbeda Rizqi Umi Arifah; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.166 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19986

Abstract

Skeletonema costatum mengandung klorofil-a, klorofil-c, dan fukosantin yang menyebabkan selnya berwarna hijau kecoklatan. Klorofil dan fukosantin memiliki berbagai manfaat, salah satunya dalam bidang kesehatan sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-obesitas, anti-diabetes. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan pigmen pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum cahaya yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan fukosantin S. costatum. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2018 di Laboratorium Biologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro dan pengujian laboratoris di Laboratorium BPIK Srondol, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Diatom S. costatum dikultivasi dengan tiga spektrum cahaya yang berbeda yaitu putih, biru, dan merah. Pertumbuhan sel S. costatum diamati sampai 2 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa kering hasil kultivasi diekstraksi menggunakan metanol. Kadar pigmen ekstrak metanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan identifikasi pigmen dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya putih secara signifikan meningkatkan kandungan klorofi- a S. costatum dibandingkan spektrum cahaya merah, namun tidak berbeda nyata terhadap spektrum cahaya biru. Pertumbuhan, kandungan klorofil-c dan fukosantin S. costatum pada pemberian spektrum cahaya yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata. Skeletonema costatum contains chlorophyll-a, chlorophyll-c, and fucoxanthin giving to its cells. Chlorophyll and fucoxanthin have various benefits, e.g. in the medicine field as anti-bacterial, anti-oxidant, anti-inflammatory, anti-obesity, and anti-diabetes. Light is one of the environmental factor that affects the growth and pigment content of microalgae. This study aims to determine the spectrum of light that influences growth, chlorophyll content and fucoxanthin of S. costatum. This research was conducted in January-March 2018 at the Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and laboratory testing at the BPIK Srondol Laboratory, Semarang. The method used was a laboratory experimental method. Diatom S. costatum was cultivated with three different spectrums of light (white, blue, and red). Growth of S. costatum cells was observed up to 2x24 hours and then harvested for biomass calculations. Dry biomass was extracted using methanol. Pigment content of The S. costatum methanol extract was analyzed using UV-Vis spectrophotometer and pigments identification using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the chlorophyll content of S. costatum under white light spectrum was significantly higher from the red light spectrum, but not significantly different from blue light spectrum. Growth, chlorophyll-c and fucoxanthin content of S. costatum didn’t show significant differences under different light spectra.
Pengaruh Pencahayaan terhadap Kandungan Pigmen Tetraselmis chuii sebagai Sumber Antioksidan Alami Nada Kristiani Ginting; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.287 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i2.19995

Abstract

Tetraselmis chuii merupakan alga hijau yang mengandung senyawa bioaktif seperti pigmen klorofil dan karotenoid. Pigmen klorofil dapat menurunkan risiko terkena kanker dan berpotensi sebagai antioksidan. Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh  terhadap kandungan pigmen adalah cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna pencahayaan terhadap biomassa, kandungan  pigmen dan aktivitas antioksidan T. chuii. Rancangan penelitian yang digunakan adalah  rancangan acak blok dengan tiga kali pengulangan. Perlakuan pencahayaan yang diberikan adalah putih, merah, dan biru. Perhitungan kepadatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap hari. Pemanenan dilakukan pada saat fase stasioner hari ke – 4. Kadar pigmen (klorofil a, b dan karotenoid) dilakukan secara spektrofotometri dan uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan sel tertinggi terdapat pada perlakuan pencahayaan putih sebesar 95.800 sel/ml. Kandungan pigmen klorofil a dan klorofil b total tertinggi terdapat pada  pencahayaan merah (48,28 dan 40,86 μg/ml), serta karotenoid total tertinggi terdapat pada pencahayaan biru (6,70 μg/ml). Perlakuan perbedaan pencahayaan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan pigmen (klorofil a, dan b). Aktivitas antioksidan ekstrak T. chuii  semua perlakuan tergolong sangat lemah ( IC50 lebih dari 200 ppm). Effect of Lighting on Pigments Content Tetraselmis chuii  a Source of Natural Antioxidants Tetraselmis chuii is a green algae which is containing bioactive compounds such as chlorophyll and carotenoid pigments. Chlorophyll may reduce the risk of cancer and potentially as an antioxidant. This research aims to know the effect of light colour  on biomass, pigment and antioxidant activity content of T. chuii. The research design used was a complete randomized design with three repetitions. The light treatments provided are white, red, and blue. Calculation of density and measurement of water quality parameters on daily basis. Harvesting is done during the stasionary phase at fourth day. Pigment levels (chlorophyll a, b and carotenoids) were performed by spectrophotometer and an antioxidant activity test was performed by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrilhidrazil). The results showed that different colour lighting treatments had an effect (P <0.05) on pigment content (chlorophyll a, b, and carotenoid).The highest total chlorophyll content of a and chlorophyll b were found in the highest red light (48.28 and 40.86 μg/ ml) and the highest total carotenoids were in blue light (6.70 μg /ml). The highest cell desity in white lighting treatment is 95,800 cell/ml. Potential antioxidant activity of T. chuii extract for all treatments were very low (IC50 more than 200 ppm). 
Akumulasi Logam Berat Zn (seng) pada Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Kartini Jepara Endang Supriyantini; Sri Sedjati; Zidny Nurfadhli
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.112 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i1.11291

Abstract

Lamun (seagrass) adalah tanaman air yang berbunga (Antophyta) dan mempunyai kemampuan beradaptasi untuk hidup dan tumbuh di lingkungan laut. Pantai Kartini merupakan kawasan yang strategis, karena sebagai jalur transportasi laut menuju obyek wisata Taman laut Nasional Karimunjawa dan Pulau Panjang. Pantai Kartini merupakan dermaga bagi kapal-kapal besar dan kapal-kapal pariwisata, kegiatan perdagangan, pariwisata serta fasilitas wisatawan yang diduga menjadi sumber logam berat Seng (Zn). Keberadaan lamun di laut dapat menjadi bioindikator pencemaran logam berat karena meyerap dan mengakumulasi bahan pencemar. Logam berat umumnya mempunyai sifat toksik dan berbahaya bagi organisme hidup, walaupun beberapa diantaranya diperlukan dalam jumlah kecil E. acoroides dan T. hemprichii diambil dari 3 stasiun penelitian yang telah ditetapkan. Pengambilan sampel lamun E. acoroides dan lamun T. hemprichii dilakukan dengan memilih lamun yang tua dengan ciri-ciri warna daun lebih pekat dan memiliki tekstur daun yang lebih keras, serta memiliki bagian-bagian yang lengkap dan pengambilan sampel dilakukan dengan cara mencabut hingga akar-akarnya sebanyak 3 tegakan setiap stasiun. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH dan arus diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai akumulasi logam berat Zn (Seng) pada akar E. acoroides berkisar antara 0,98 – 2,06 mg/kg dan pada Daun 0,60 – 1,01 mg/kg, sedangkan akumulasi logam berat Zn (Seng) pada akar T. hemprichii berkisar antara 0,32 – 0,53 mg/kg dan pada daun 0,95 – 1,21 mg/kg. Kemampuan lamun   E. acoroides dan Thalassia hemprichii di Pantai Kartini dalam mengakumulasi logam berat Seng (Zn) termasuk dalam kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata-rata < 250.   Kata Kunci : E. acoroides, T. hemprichii, Seng (Zn), Faktor Biokonsentrasi (BCF)
Potency of Chitosan and Chitooligochitosan (COS) as Prebiotics for Streptococcus thermophillus and Lactobacillus bulgaricus Probiotics Ervia Yudiati; Sri Sedjati; Adha Susanto; Nuril Azhar; Rabia Alghazeer
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 1 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i1.9925

Abstract

Lately, chitosan as a result of chitin deacetilation has known as potencial compound as food industry, pharmacy and environmental agents. The weakness of chitosan is the low water solubility and high viscosity. The size reduction by cutting the β-1, 4 glicosidic bond to improve the bioactivity is the alternative solution. This research aims to find out the addition of chitosan and COS for the Streptococcus thermophillus FNCC – 0041 and Lactobacillus bulgaricus FNCC – 0040 probiotics bacteria culture. S. thermophillus and L. bulgaricus were cultured in the MRS Broth media with addition of Commercial Chitosan (CC), Commercial Oligochitosan (COC), Self-production Chitosan (PC) and Self-production Oligochitosan (POC) in different doses (0.05; 0.1; and 0.2 mg.ml-1). Percentage DD on those treatments was similar. The spectra vibration of  The FT-IR analysis of PC and POC were fit to the CC and COC. In chitosan treatments, the best growth of S. thermophilus was reached at 0.2 mg/mL PC, while in chitooligochitosan was from 0.20 mg/mL COC treatments, respectively. The addition of different type of chitosan have a significant effect (p<0.05) to the growth of S. thermophillus, but have not resulted the significant effect to the L. bulgaricus (p>0.05) growth. So, therefore the addition of chitosan and COS as prebiotics for the probiotics were in dose dependant manner. Compare to chitosan commercial, our chitosan production have a good potency to be developed.
Pemanfaatan Jamur Simbion Sponge dalam Bioisomerasi Asam Lemak pada Dedak untuk Menghasilkan Asam Lemak Cis Agus Trianto; Sri Sedjati; Ocky Karna Radjasa; Rachmat Afriyanto; Sakti Imam Muchlisin; Septhy Kusuma Radjasa; Muhammad Syaifudien Bahry
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.209 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3559

Abstract

Utilization of Sponges Symbiotic Fungus in the Bioisomeration  of Fatty Acids in Brans to Produce Cis Fatty Acid  Trans fatty acids are known to have a negative impact on human health such as triggering the coronary heart and blood vessel related diseases. However, many food and animal feed contain trans fatty acids.  Bran, which is widely used as animal feed has high fatty acid content and the majority are trans fatty acids. This study aims to determine the potential of Trichoderma harzanum, a sponge symbiont fungus, in the process of fatty acid bioconversion in bran. Bran was fermented in saline and non-salin condition for 15 days in the room temperature. Both fermented and not bran was extracted with methanol, and the extracts were concentrated with rotary evaporator. Fatty acid extracts were analyzed on the GC with hydrolysis and methylation as pre-treatments. The test results showed the fatty acid composition changed, and the was formation of new fatty acids. The bioisomeration process occurs in the Trans-9-Elaidic acid Methyl esther into Cis-9-Oleic Methyl ester. Cis-9-oleic acid is known as oleic acid which is widely found in olive and sunflowers oil. The fungus has potential as biocatalys for production of cis fatty acid. Asam lemak trans dikenal mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia seperti memicu terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit terkait pembuluh darah. Namun asam lemak trans banyak terkandung dalam berbagai jenis bahan makanan maupun pakan ternak diantaranya adalah dedak.  Dedak banyak digunakan sebagai pakan ternak mempunyai kandungan asam lemak yang tinggi dan mayoritas adalah asam lemak trans.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jamur simbion spons Trichoderma harzanum dalam proses biokonversi asam lemak pada dedak.  Fermentasi dedak dilakukan dalam kondisi salin dan unsalin selama 15 hari pada suhu ruang. Dedak yang difermentasi maupun tidak kemudian diekstrak dengan metanol kemudian dipekatkan dengan rotari eveporator.  Ekstrak asam lemak degan GC dengan pre-treatment meliputi hidrolisis dan metilasi. Hasil uji menunjukan adanya perubahan komposisi dan terbentuknya asam lemak baru. Proses bioisomerasi terjadi pada Trans-9-Elaidic acid Methyl estermenjadi Cis-9-Oleic Methyl ester. Cis-9-oleic acid yang dikenal dengan asam oleat yang banyak terdapat dalam minyak zaitun dan bunga matahari. Jamur T. Harzianum mempunyai potensi sebagai biokatalis untuk memproduksi asam lemak cis.
Bioenkapsulasi Naupli Artemia dengan Spirulina sp. dan Resistensinya terhadap Bakteri Vibrio spp. Sri Sedjati; Ervia Yudiati; Endang Supriyantini; Nuril Azhar; Chika Velita Anindya Yulian
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 1 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i1.12763

Abstract

Artemia is usually given as live feed in shrimp and fish hatcheries. Bioencapsulation of Artemia with Spirulina sp. is thought to increase disease resistance. One disease that often harms aquaculture is infection by Vibrio. The study aimed to determine the significance of artemia's nauplii biocapsulation to increased resistance against infection by Vibrio spp. The research method used is experimental laboratories with a non-parametric approach. The resistance variable is measured as the survival rate. Bioencapsulation of Artemia uses 4 levels of Spirulina sp. concentration: 0 (control), 300, 600, 900 mg/L, while the challenge test uses 8 levels of Vibrio: Non-Vibrio (control), Vibrio vulnificus (Vv), V. harveyi (Vh), V. parahaemolyticus (Vp), a combination of the two: (Vv+Vh), (Vv+Vp), (Vh+Vp), as well as a combination of the three: (Vh+Vp+Vv). Kruskal Wallis test was conducted to find out the difference in artemia survival rates between groups, then the U Mann-Whitney test to find out pairs between groups that have significant differences. Kruskal Wallis analysis showed only spirulina sp concentrations that produce a significant effect (p=0.00) on the survival rate of nauplii Artemia, while Vibrio spp. have no effect (p=0.32). Based on the U Mann-Whitney test, all spirulina sp concentration groups are significantly different from control (p<0.05), and only the group 300 to 600 mg/L is not different (p=0.42). Spirulina sp. 300 mg/L can increase survival rates to 77.92%, 600 mg/L to 77.50%, and 900 mg/L to 66.67%. In conclusion, it is optimal to increase Artemia's resistance to Vibrio spp. can be done with bioencapsulation of Spirulina sp. 300 mg/L.  Artemia biasa diberikan sebagai pakan hidup pada usaha pembenihan udang maupun ikan. Bioenkapsulasi Artemia dengan Spirulina sp. diduga dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit. Salah satu penyakit yang sering merugikan usaha akuakultur adalah infeksi oleh bakteri Vibrio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat signifikansi bioenkapsulasi naupli Artemia terhadap peningkatan resistensi melawan infeksi oleh Vibrio spp. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan pendekatan non-parametrik. Variabel resistensi diukur sebagai tingkat kelangsungan hidup. Bioenkapsulasi Artemia menggunakan 4 taraf konsentrasi Spirulina sp.: 0 (kontrol), 300, 600, 900 mg/L,sedangkan uji tantang menggunakan 8 taraf jenis Vibrio: Non-Vibrio (kontrol), Vibrio vulnificus (Vv), V. harveyi (Vh), V. parahaemolyticus (Vp), kombinasi dari dua Vibrio: (Vv+Vh), (Vv+Vp), (Vh+Vp), serta kombinasi dari ketiganya: (Vh+Vp+Vv). Uji Kruskal Wallis dilakukan untuk mengetahui perbedaan tingkat kelangsungan hidup Artemia antar kelompok, selanjutnya dilakukan uji U Mann-Whitney untuk mengetahui pasangan antar kelompok yang memiliki perbedaan signifikan. Hasil analisis Kruskal Wallis menunjukkan bahwa hanya konsentrasi Spirulina sp. yang menghasilkan pengaruh signifikan (p=0,00) terhadap tingkat kelangsungan hidup naupli Artemia, sedangkan jenis Vibrio spp. tidak berpengaruh (p=0,32). Berdasarkan uji U Mann-Whitney, semua kelompok konsentrasi Spirulina sp berbeda secara signifikan terhadap kontrol (p<0,05), dan hanya kelompok. 300 terhadap 600 mg/Lyang tidak berbeda (p=0,42). Pemberian Spirulina sp. sebanyak 300 mg/Ldapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup menjadi 77,92%, 600 mg/Lmenjadi 77,50%, dan 900 mg/Lmenjadi 66,67%. Kesimpulannya, secara optimum untuk meningkatkan resistensi Artemia terhadap Vibrio spp. dapat dilakukan dengan bioenkapsulasi Spirulina sp. 300 mg/L. 
Co-Authors Aan Pratama Adam Sojuangon Pasaribu Adella, Alisa Sukma Adha Susanto Adi Santosa Adi Santoso Agus Trianto Ali Ridlo Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Annisa Afifah Nugroho Ardiani Widya Wandira Arif Maa’ruf Al Ayyub Arvianto Wibowo Azhar, Riza Nur Aziz Rifai Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Budhy Wiyarsih Chika Velita Anindya Yulian Delianis Pringgenies Deska Dwi Iriana Dewi Meynita, Dewi Dhimas Firmansyaf Dinda Ayuniar Zanjabila Dwi Haryo Ismunarti Eka Mulya Eksa Novritasari Elis Indrayanti Endang Supriyantini Ervia Yudiati Faith Dibri Kimberly Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Gita Wismayanti Hadi Endrawati Haeruddin Haeruddin Hafida Salma Haqqu, Alir Adn Ighwerb, Mostafa Imhmed Ikhlasul Amal Irene Ulsadriatny Iriana, Deska Dwi Jamaludin Jamaludin Khoirunnisah Riswanti Kirana Fatika Brilianti Larasati, Stefanie Jessica Henny Lilik Maslukah Limbong, Maria Fransiska Linggar Dirgantara Prasetyo M. Hafizulhaq Mahadika Fanindhita Sany Max Rudolf Muskananfola McCauley, Erin Mhevy Nadya Pasaribu Muhammad S. Bahry Muhammad Syaifudien Bahry Nada Kristiani Ginting Nadiah Humairoh Mufidah Savitri Nirwani Soenardjo Nur Islamiah Sulastri Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pasaribu, Adam Sojuangon Pradhika, Vicky Dimas Pramastuti, Fransisca Ria Rabia Alghazeer Rachmat Afriyanto Raden Ario Rahmawati, Tiara Rani Agustian Rizkina Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Rima Rosema Rini Pramesti Riska Novianti Putri Risma Pratiwi Risnita Tri Utami Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Sakti Imam Muchlisin Saniyatul Ulya Sari, Intan Swastika Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Septhy Kusuma Radjasa Sibero, Mada Triandala Sri Redjeki Sri Yulina Wulandari Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Vicky Dimas Pradhika Victoria Ratna Widiyanti Victorina Yulina Santi Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wandira, Ardiani Widya Widiyanti, Victoria Ratna Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zalsabila Sulistiana Zidny Nurfadhli