Sri Sedjati
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Marine Science Techno Park, Universitas Diponegoro

Published : 58 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pemanfaatan Chitosan Dari Limbah Cangkang Rajungan (Portunus pelagicus) sebagai Adsorben Logam Timbal (Pb) Endang Supriyantini; Bambang Yulianto; Ali Ridlo; Sri Sedjati; Amtoni Caesario Nainggolan
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.261 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2399

Abstract

Chitosan is able to be one solution to reducing the pollution of heavy metals in waters, as capable of binding of heavy metal ions by utilizing the amine and hydroxyl groups on chitosan. This research aims to know the adsorption ability of chitosan against heavy metals lead (Pb). Chitosan is made from the waste of a small crab attaching shells were taken from the village of Betahwalang, Demak. The method used is the method with the demineralisasi using 1 N HCl for 1 hour, deproteinasi with 3.5% NaOH for 1 h, and deasetilasi using NaOH 50% for 2 hours. FTIR analysis of the results showed the degree of Deasetilasi Chitosan of 80.30% with 36.84% yield. Solution of Pb of Pb (CH3COO)2 at a concentration of 10 mg/L is used as pollutants, and the concentration of chitosan used in adsorption process i.e. 1, 2, 4, and 8%. Stirring on the process of adsorption using a magnetic stirrer with a speed of 200 rpm for 30 minutes. The metal content of Pb in the chitosan is then analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). The results showed that chitosan obtained from shell small crab attaching has the potential as a bioadsorben metals Pb, the concentration of chitosan 1, 2, 4, 8% & each have an absorbance of 8.31; 35.62; 45.24 & 57.74%.Kitosan mampu menjadi salah satu solusi mengurangi pencemaran logam berat di perairan, karena mampu mengikat ion-ion logam berat dengan memanfaatkan gugus hidroksil dan amina yang terdapat pada chitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorpsi chitosan terhadap logam berat Timbal (Pb). Chitosan dibuat dari limbah cangkang rajungan yang diambil dari desa Betahwalang, Demak. Metode yang digunakan adalah metode kimia dengan demineralisasi menggunakan HCl 1 N selama 1 jam, deproteinasi dengan NaOH 3,5 % selama 1 jam, dan deasetilasi menggunakan NaOH 50 % selama 2 jam. Hasil analisis FTIR menunjukkan Derajat Deasetilasi kitosan sebesar 80,30 % dengan rendemen 36,84 %. Larutan Pb dari Pb(CH3COO)2 pada konsentrasi 10 mg/L digunakan sebagai polutan, dan konsentrasi chitosan yang digunakan pada proses adsorpsi yaitu 1, 2, 4, dan 8 %. Pengadukan pada proses adsorpsi menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 200 rpm selama 30 menit. Kandungan logam Pb yang ada di dalam chitosan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). Hasil penelitian menunjukkan bahwa chitosan yang didapatkan dari cangkang rajungan mempunyai potensi sebagai bioadsorben logam Pb, konsentrasi chitosan 1, 2, 4, & 8 % masing-masing memiliki daya serap sebesar 8,31; 35,62 ; 45,24 & 57,74 %.
Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Senyawa Fenolik Makroalga Coklat Sargassum sp. Sri Sedjati; Suryono Suryono; Adi Santosa; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.632 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1737

Abstract

Present research was to evaluated the antioxidant activities of extracts from macroalga Sargassum sp.  In this study, seven filtrates from maceration (methanol pa and technical grade, ethanol pa and techinal grade, methanol technical grade 50%,  infused hot water, boiled water) were analyzed for total phenolic compound (TPC) and for antioxidant activities (DPPH method).  The results revealed that the water filtrates possessed more TPC and antioxidant antivity than alcoholic filtrates, and the highest was water filtrate from boiled Sargassum sp. (TPC =1,36±0,01 mgGAE/g  dry weight; % inhibtion DPPH = 81,35±0,42 %). The high positive correlation between TPC and antioxidant activity (r = 0.99 ) suggested that phenolic compound  were the mayor antioxidant components.  The effect of TPC (dependent variable) on DPPH radical inhibition (independent variable) with regression formula y = 55,39 x + 5,18.  Penelitian ini mengevaluasi potensial aktivitas antioksidan ekstrak Sargassum sp.  Pada kajian ini, 7 filtrat hasil maserasi (metanol pa dan teknis, etanol pa dan teknis, metanol teknis 50%, perendaman air panas/hot infused, dan perebusan dengan air) dianalisis kandungan total fenoliknya (TPC) dan aktivitas antioksidannya (metoda DPPH).  Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa filtrat air memiliki kandungan TPC dan antioksidan yang relatif lebih tinggi dibanding filtrat alkohol dan yang tertinggi adalah filtrat hasil perebusan Sargassum sp. (TPC =1,36±0,01 mgGAE/g  berat  kering;  inhibisi DPPH = 81,35±0,42 %),  Korelasi positif yang tinggi antara TPC dan aktivitas antioksidan (r = 0.99) menunjukkan bahwa  kandungan senyawa fenolik merupakan komponen utama yang menghasilkan  aktivitas  antioksidan.  Pengaruh  TPC (variabel bebas)  terhadap inhibisi radikal DPPH (variabel terikat)  sesuai dengan persamaan regresi  y = 55,39 x + 5,18.  
Kandungan Pigmen, Total Fenolik Dan Aktivitas Antioksidan Sargassum sp. Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Nirwani Soenardjo; Victorina Yulina Santi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.309 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3329

Abstract

Pigmen content, total phenolic compound and antioxidant activity Sargassum sp.   Sargassum sp. contains secondary metabolites which potentially act as natural source of antioxidant. The purpose of this study was to determine bioactive contents (pigments, total phenolic compounds), and antioxidant activities of Sargassum sp. The method of this research is descriptive-explorative.  Sample was extracted with methanol, while pigments extraction with aseton 80%.  Chlorophyll a, b and carotenoids were carried out with spectrophotometer method. The total phenolic compounds were analyzed by spectrophotometer method using Follin-Ciocalteu reagent, and antioxidant activities were measured using DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhidrazyl) method. The result of this research showed that methanol extract of Sargassum sp. had the presence of chlorophyll a 2.84 mg/g, chlorophyll b 1.15 mg/g, and carotenoids 2.63 μmol/g sample. The total phenolic compounds of methanol extract were 57.97 mg GAE/g sample. Methanol extract of Sargassum sp. was showing a strong antioxidant activity that could be seen in IC50 value (69,27 ppm) in less than 100 ppm concentration. Sargassum sp. mengandung beberapa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji komponen bioaktif (pigmen, total fenolik) dan aktivitas antioksidan dari rumput laut Sargassum sp. Metoda penelitian ini adalah diskriptif eksploratif.  Sampel Sargassum sp. basah diekstraksi dengan cara maserasi dengan pelarut  metanol, sedangkan ekstraksi pigmen menggunakan aseton 80%. Penentuan kadar pigmen (klorofil a, b, karotenoid ), total fenolik dan aktivitas antioksidan berdasarkan metode spektrofotometri. Total fenolik diukur berdasarkan uji Follin-Ciocalteu, dan   aktivitas antioksidan  berdasarkan uji DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhidrazyl). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak metanol Sargassum sp.  mengandung pigmen klorofil a sebesar 2,84 mg/g, klorofil b sebesar 1,15 mg/g, dan karotenoid sebesar 2,63 μmol/g. Kadar total fenolik ekstrak metanol adalah 57,97 mgGAE/g, sementara aktivitas antioksidannya  (IC50) sebesar 69,27 ppm.  Berdasarkan nilai IC50nya, ekstrak metanol Sargassum sp berpotensi sebagai antioksidan kuat (kurang dari 100 ppm).
Antimicrobial Activity of Fungal Extract of The Aspergillus flavus from Hiri Island, North Maluku to Pathogenic Bacteria Sri Sedjati; Ambariyanto Ambariyanto; Agus Trianto; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Muhammad S. Bahry; Rizky Rifatma Jezzi; Mahadika Fanindhita Sany
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.7049

Abstract

Antibacterial compounds from sponge association fungi are one of the alternatives to search for new antibiotics against resistant bacteria. This study aims to explore the secondary metabolites potential from sponge association fungi as MDR pathogens antibacterial and to cultivate these fungi using a variety of cultivation media. TE-BO-09.1. Isolate can inhibit 3 bacteria, K. pneumoniae, B subtilis, and S. aureus, but is not able to inhibit E. coli and P. aeruginosa. Cultivation using standard media of Malt Extract Agar (MEA) and media modified from fish broth (M1, M2) and cassava infusion (M3, M4) produce secondary metabolites with varying quantities and antimicrobial activity. The inhibition zone of the produced extract with 500 μg/disc concentration ranged from 7.14 to 10.32 mm. The strongest potential was shown by ethyl acetate extract from isolates cultured with M2 (9 days cultivation), of which is able to produce 10.32 mm inhibition zones against S. aureus and methanol extracts from isolates cultured with M4 (6 days cultivation), and able to produce 10.05 mm inhibition zones against K. pneumoniae. In conclusion, the fungus  Aspergillus flavus can be culture using fish broth added glucose and cassava infusion water added peptone media to potentially produce antibacterial compounds against MDR pathogens.
Aktivitas Antagonis Bakteri yang Berasosiasi dengan Teritip (Balanus sp.) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus Gita Wismayanti; Sri Sedjati; Agus Trianto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.786 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3244

Abstract

Marine invertebrates are the most productive source of bioactive compounds.  However, most of the compounds originally produced by the microorganisms living associated with the invertebrates.  Barnacle is an invertebrate that has a unique interaction with bacteria. Escherichia coli and Bacillus cereus are the cause of the foodborne disease that causes of remarkedly losses in the food industry.  The barnacle was collected from Panjang Island, Jepara.  The bacterial isolates were obtained by serial dilution followed by isolation based on morphological characteristics.  The antagonistic assay to E. coli dan B. cereus was utilized for screened the isolates.  Then, the active isolates were cultured for the further test with the disc diffusion agar method of the supernatant followed by the extracts.  The most active isolates were identified based on molecular method.  A total of 14 isolates were obtained from the Balanus sp., which six of them have activity against the E. coli and B. cereus.  The isolates TJ 5.4 and TJ 5.5 have the strongest activity the bacteria.  Base on the analyses of the BLAST and phylogenetic tree the isolates showed 99% homology the Bacillus wiedmannii (TJ 5.4) and Lysinibacillus macroides (TJ 5.5). Invertebrata laut merupakan salah satu sumber bahan bioaktif yang paling produktif. Sebagian senyawa yang terdapat dalam biota laut, sejatinya diproduksi oleh mikroorganisme yang hidup berasosiasi dengan biota laut tersebut.  Teritip merupakan salah satu hewan invertebrata yang memiliki berbagai interaksi unik dengan bakteri. Bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus merupakan dua dari beberapa bakteri patogen yang sering menjadi agen penyebab foodborne disease.  Teritip dikoleksi dari Pulau Panjang, Jepara. Isolat bakteri diperoleh dengan metoda pengenceran bertingkat dan dilanjutkan isolasi berdasarkan karakteristik morfologis. Uji antagonis terhadap E. coli dan B. cereus digunakan untuk menskrining bioaktivitas isolat.  Isolat yang aktif dikultur untuk uji lanjut yaitu supernatant dan dilanjutkan ekstraknya dengan metoda disc diffusion agar.  Bakteri yang paling aktif diidentifikasi secara molekuler untuk mengetahui spesiesnya.  Sebanyak 14 isolat bakteri diperoleh dari Balanus sp. dimana enam diantaranya memiliki aktivitas terhadap bakteri uji.  Isolat TJ 5.4 dan TJ 5.5 memiliki aktivitas paling kuat terhadap E. coli dan B. cereus. Berdasarkan pengolahan sekuen dan analisis pohon filogenetik, dua isolat bakteri tersebut memiliki homologi 99% terhadap bakteri Bacillus wiedmannii (TJ 5.4) dan Lysinibacillus macroides (TJ 5.5). 
Mikroplastik pada Kedalaman Sedimen yang Berbeda di Pantai Ayah Kebumen Jawa Tengah Ali Ridlo; Raden Ario; Arif Maa’ruf Al Ayyub; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.7424

Abstract

Microplastics are one of the most significants pollutan in the marine environment and accumulate in sediments. The purpose of this research is to know the abundance of microplastics at different sediment depth in Ayah Beach Kebumen Central Java. The sediment samples were collected from three depth, 0-5 cm, 6–10 cm and 11–15 cm. microplastics were separated from sediment through density fracxination using NaCl solutiaon and ZnCl2 solution respectively. This study demonstrated that microplastics were consistenly found in all depth. The type of microplastics found were fiber, fragment and film. Fiber was the most frequent type (> 70%) in all samples. At 0–5 cm depth were found  578 microplastisc particle, at 6–10 cm depth were 459 particles, and at 11–15 cm depth were 610 particles.     Mikroplastik merupakan salah satu polutan penting di laut dan terakumulasi di sedimen.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan mikroplastik di sedimen Pantai Ayah kebumen Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan mikroplastik pada kedalaman sedimen 0-5 cm, 6–10 cm dan 11–15 cm. Mikroplastik dipisahkan dari sedimen dengan cara fraksinasi berdasarkan densitasnya berturut-turut menggunakan larutan NaCl dan larutan ZnCl2. Hasil penelitian menunjukkan mikroplastik ditemukan pada setiap kedalaman. Bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fragmen, fiber dan film. Bentuk fiber menyusun lebih dari 70 % mikroplastik dalam sedimen di ketiga tingkat kedalaman. Pada kedalaman 0–5 cm terdapat 578 partikel mikroplastik, pada kedalaman 6–10 cm ditemukan 459 partikel, dan pada kedalaman 11–15 cm terdapat  610 partikel. 
Kandungan Total Fenolat pada Ekstrak Rhizophora sp Dari Teluk Awur, Jepara Ali Ridlo; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.741 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4304

Abstract

The antioxidant activity and total phenolic content of 18 extracts from different plant parts (leaves and stem bark) of 3 mangroves R. mucronata,  R. apiculata andR. stylosa from Teluk Awur, Jeparawere examined. The content of total phenolics in the extracts was calculated as gallic acid equivalent (GAE) and antioxidant activity was estimated as IC50 values using 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). The samples were extracted with n-hexane, ethyl acetate, and methanol respectively. The result showed that ethyl acetate extract of stem bark of R. apiculata holded the highest antioxidant activity with IC50 47.52ppm. Rates of total phenolic content ranged from 5.15 ± 1.02 to 64.79 ± 2.75 mg GAE/g.There was a significant correlation between total phenolic content and antioxidant activity. The results indicated promising mangrove Rhizophora sp. for the utilization as significant source of natural antioxidant. Telah dilakukan uji kandungan total fenolat dan aktivitas antioksidan 18 ekstrak dari bagian tanaman (daun dan kulit batang) 3 spesies mangrove asal Teluk Awur Jepara, yaitu mangroves R. mucronata,  R. apiculatadan R. stylosa. Kandungan total fenolat ditentukan sebagai ekuivalen asam galat (GAE) dan aktivitas antioksidan ditentukan berdasarInhibition Concentration 50 (IC50) dengan menggunakan radikal bebas DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Sampel diekstraksi secara bertngkat menggunakan n-heksana, etil asetat dan metanol. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etil asetat kulit kayu mangrove R. apiculata memiliki aktivitas antioksidan terbaik dengan IC5047.52ppm. Nilai kandungan total fenolat ekstrak berkisar antara 5.15 ± 1.02 sampai  64.79 ± 2.75 mg GAE/g. Terdapat korelasi kuat antara kandungan total fenolat dengan aktivitas antioksidan. Hasil ini menunjukkan bahwa mangrove Rhizophora sp. dapat dijadikan sebagai sumber senyawa antioksidan alami.
Pengaruh Cahaya Terhadap Produksi Fukosantin Chaetoceros calcitrans (Paulsen) Takano 1968 (Bacillariophyceae: Chaetocerotaceae) Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Ervia Yudiati; Linggar Dirgantara Prasetyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.617 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.5633

Abstract

Fucoxanthin is a pigment of the carotenoid group that can be used in the food and human health. The demand for natural carotenoid in the global market is quite high for food nutrition, food colorant, medicine, and cosmetic. Chaetoceros calcitrans included sea diatom rich in carotenoid, mainly fucoxanthin. This research aim  is to optimize C. calcitrans cultivation using different light intensity treatment to create high fucoxanthin quantity. Light intensity treatment consisted of 4 levels : 1.000, 1.500, 2.000, and 2.500 lx with 2 replications. The culture process was done in medium-scale (60 L) for 14 days, enriched with diatom’s fertilizer, vitamin B, silica at  temperature 25-27oC, salinity 32-33‰, pH 8-8,5, and DO 7-9 mg/g. Biomass and pigments were harvested in stationer phase, two days after the peak of logarithmic growth. Pigments analysis used Spektrofotometry method, absorbance values were measured in wavelengths 445, 632, 649, 663, 665, and 696 nm. The results showed that light intensity treatment was not significant in biomass weight (p=0,06), but it is very significant to cells density (p=0,01) and fucoxanthin production (p=0,01).  In conclusion, the light intensity of 2.500 lx was effective to  obtain the highest fucoxanthin  at the amount of 10,13 ±1,62 mg dw with productivity at  0,17±0,03 mg/g culture media. The increase of light intensity correlated positively with the increase of fucoxanthin production with regression equation  y = 0,006x-4,938 (r = 0,96). The increase in light intensity reaching 2500 lx in Chaetoceros calcitrans culture is proven can accelerate fucoxanthin biosynthesis, therefore the method can be applied to increase its  production. Fukosantin merupakan salah satu karotenoid yang bermanfaat dalam bidang pangan dan kesehatan manusia. Permintaan karotenoid alami di pasar global besar sekali untuk berbagai kegunaan dalam bidang nutrisi makanan, pewarna makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Chaetoceros calcitrans  termasuk diatom laut yang kaya karotenoid, terutama fukosantin. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi kultur C. calcitrans dengan menggunakan perlakuan intensitas cahaya berbeda agar memproduksi fukosantin yang tinggi. Perlakuan intensitas cahaya terdiri dari 4 taraf : 1.000, 1.500, 2.000, dan 2.500 lx dengan 2 kali ulangan.  Kultur dilakukan dalam skala medium (60 L) selama 14 hari, diperkaya dengan pupuk diatom, vitamin B, silikat pada suhu 25-27oC, salinitas 32-33‰, pH 8-8,5, dan DO 7-9 mg/g.   Pemanenan biomassa dilakukan saat fase stasioner, yaitu 2 hari setelah puncak logaritmik.  Analisis pigmen menggunakan metode Spektrofotometri, nilai absorbansi diukur pada panjang gelombang 445, 632, 649, 663, 665, dan 696 nm.  Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan intensitas cahaya tidak berpengaruh nyata (p=0,06) terhadap berat biomassa, tetapi sangat berpengaruh nyata terhadap kepadatan sel (p=0,01) dan produksi fukosantin (p=0,01). Pemberian intensitas cahaya 2.500 lx menghasilkan produksi fukosantin tertinggi, yaitu sebesar 10,13 ±1,62 mg dw dengan produktivitas sebesar 0,17±0,03 mg/g media kultur. Kenaikan intensitas cahaya berkorelasi positif dengan kenaikan produksi fukosantin dengan persamaan regresi  y = 0,006x - 4,938 (r = 0,96).  Peningkatan intensitas cahaya sampai 2500 lx  pada kultur Chaetoceros calcitrans terbukti dapat memacu biosintesis  fukosantin, sehingga metode tersebut  bisa diaplikasikan untuk menaiknya produksinya.
Karakteristik Biofilm Komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp pada Perlakuan dengan Kalsium Klorida Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Oetari Kusuma Putri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13773

Abstract

Bioplastics are plastics made from renewable raw materials such as polysaccharides, proteins and lipids. One of the alternative sources of bioplastic raw materials is hydrocolloid from seaweed, which is abundantly available in Indonesia, so that this hydrocolloid-based bioplastic is very prospective to be developed, and can increase the added value of seaweed. The physical and mechanical properties of alginate bioplastics can be improved by combining them with other materials into biocomposite materials that have superior properties and meet specifications. This study aims to determine the effect of calcium chloride (CaCl2) on the physical and mechanical properties of the CMC-Glycerol-Alginate composite bioplastic from Sargassum sp. Bioplastics were made by mixing 0.5 g of alginate flour, added CMC (1.5 g), and 100 ml of distilled water, then stirred with a magnetic stirrer for 10 minutes at 90oC. After that, the temperature was lowered to 40oC and 5 ml of glycerol was added and then homogenized again for 15 minutes. The mixture was filtered and then poured into a glass mold and the surface was leveled using a stainless steel cylinder, then dried in an oven at 80oC for 12 hours. After that the bioplastic is released from the glass plate. In the soaking method, the bioplastic sheets were immersed in a 2% CaCl¬2 solution for 5 minutes, then dried and stored in a desiccator. In the mixing method, 1 gram of CaCl¬2 was put directly into the alginate-CMC-glycerol mixture and homogenized with a magnetic stirrer at 90oC for 15 minutes, then printed on a glass plate, then dried at 100oC for 12 hours. CaCl2 treatment by mixing and soaking decreased elongation, tensile strength, biodegradability and transparency, but increased water resistance and thickness of the alginate-CMC-glycerol composite bioplastic, and changed the surface properties of the bioplastic to be rougher. No new functional groups were formed due to the interaction between alginate, CMC, glycerol, distilled water and CaCl2.  Bioplastik adalah plastik yang dibuat dari bahan baku terbarukan seperti polisakarida, protein dan lipida. Salah satu alternatif sumber bahan baku bioplastik adalah hidrokoloid dari rumput laut yang tersedia melimpah di Indonesia, sehingga bioplastik berbahan hidrokoloid ini sangat prospektif untuk dikembangkan, serta dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut.Sifat fisik dan mekanik bioplastik alginat dapat ditingkatkan dengan cara dikombinasi dengan bahan lain menjadi material biokomposit yang memiliki sifat unggul dan memenuhi spesifikasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium klorida (CaCl2) terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik komposit CMC- Gliserol-Alginat dari Sargassum sp.Bioplastik dibuat mdengan mencampurkan tepung alginat sebanyak 0,5 g ditambahkan CMC ( 1,5 g), dan akuades 100 ml, lalu diaduk dengan magnetic stirrer selama 10 menit pada suhu 90oC. Setelah itu, suhu diturunkan sampai 40oC dan ditambahkan gliserol 5 ml lalu dihomogenkan lagi selama 15 menit. Campuran disaring lalu dituang dalam cetakan kaca dan diratakan permukaannya menggunakan silinder stainless steel, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 80oC selama 12 jam. Setelah itu bioplastik dilepaskan dari pelat kaca. Pada metoda soaking lembaran bioplastik direndam dalam larutan CaCl­2 2% selama 5 menit, lalu dikeringkan dan disimpan dalam desikator. Pada metoda mixing, CaCl­2 sebanyak 1 gram dimasukkan langsung ke dalam campuran alginat-CMC-gliserol dan dihomogenkan dengan magnetic stirrer pada suhu 90oC selama 15 menit, lalu dicetak dalam pelat kaca, lalu dikeringkan pada suhu 100oC selama 12 jam. Perlakuan CaCl2 dengan cara mixing dan soaking menurunkan elongasi, kuat tarik, biodegradabilitas dan transparansi, tetapi meningkatkan ketahanan air dan ketebalan bioplastik komposit alginat-CMC-gliserol, serta mengubah sifat permukaan bioplastik menjadi lebih kasar. Tidak terdapat gugus fungsi baru yang terbentuk akibat interaksi antara alginat, CMC, gliserol, akuades dan CaCl2.
KORELASI KONSENTRASI LOGAM Pb DAN Cd DENGAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI PLUMBON, MANGKANG, SEMARANG, JAWA TENGAH M. Hafizulhaq; Haeruddin Haeruddin; Sri Sedjati
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/marj.v6i3.20585

Abstract

 ABSTRAK Sungai Plumbon mempunyai potensi tingkat pencemaran yang cukup tinggi, dikarenakan berbagai aktivitas di sekitar sungai seperti rumah tangga, industri, dan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam Pb dan Cd dalam sedimen, struktur komunitas makrozoobentos, hubungan antara konsentrasi logam dengan kelimpahan makrozoobentos dan mengetahui status pencemaran berdasarkan kurva ABC. Metode sampling yang digunakan yaitu purposive sampling pada 3 stasiun dengan 2 kali sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juli 2015 di Sungai Plumbon, Mangkang, Semarang, Jawa Tengah. Hasil pengukuran logam Pb stasiun I berkisar antara 6,55 – 6,89 mg/kg, stasiun II berkisar antara 3,92 – 7,34 mg/kg, dan stasiun III berkisar antara 4,77 – 5,85 mg/kg dan nilai konsentrasi logam Cd pada stasiun I berkisar antara 1,35 mg/kg, nilai Cd stasiun II berkisar antara 1,63 – 2,13 mg/kg, nilai Cd stasiun III berkisar antara 2,09 – 2,47 mg/kg. Hasil uji makrozoobentos menunjukkan hasil kelimpahan individu dengan pada stasiun I 258.04-774,12 ind/m3, stasiun II 129,02-903,14 ind/m3 dan stasiun III 129,02-903,14 ind/m3. Uji korelasi yang dilakukan antara logam Pb dengan kelimpahan individu menghasilkan korelasi positif lemah dan logam Cd dengan kelimpahan menghasilkan korelasi negatif kuat. Ditinjau dari kurva ABC maka sungai Plumbon masuk dalam kategori sungai tergolong tercemar ringan hingga berat. Kata kunci : Logam Berat (Pb dan Cd); Makrozoobentos; Sungai Plumbon ABSTRACT Plumbon river has high potential of pollution level, because various activities around the river like: homes, industry, and aquacultures. This research aimed to knows concentration of Pb and Cd in sediments, community structure of macrozoobenthos, relation between metals concentration and macrozoobenthos abundance. Beside to know state of pollution based on ABC curve. The sampling method used purposive sampling on 3 stations with 2 sampling times. This research was carried out in May – July 2015 in the river Plumbon, Mangkang, Semarang, Central Java. The results of measurements of heavy metals Pb on station I are 6.55-6.89 mg/kg, station II are 3.92-7.34 mg/kg, and station III are 4.77-5.85. The results of the measurement of metal Cd on station I are 1.63-2.13 mg/kg, station II are 1.63-2.13 mg/kg, and station III are 2.09-2.47 mg/kg. Test results showed the abundance of individuals on station I are 258.04-774,12 ind/m3, station II are 129,02-903,14 ind/m3 and station III are 129,02-903,14 ind/m3. Correlation test conducted between metal Pb with individual abundance show weak and positive correlation and metal Cd with individual abundance show strong and negative correlation. Based on ABC curve, Plumbon river is categorized as moderately to heavily polluted river. Keywords: Heavy Metal (Pb and Cd); Macrozoobenthos; Plumbon River
Co-Authors Aan Pratama Adam Sojuangon Pasaribu Adella, Alisa Sukma Adha Susanto Adi Santosa Adi Santoso Agus Trianto Ali Ridlo Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Annisa Afifah Nugroho Ardiani Widya Wandira Arif Maa’ruf Al Ayyub Arvianto Wibowo Azhar, Riza Nur Aziz Rifai Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Budhy Wiyarsih Chika Velita Anindya Yulian Delianis Pringgenies Deska Dwi Iriana Dewi Meynita, Dewi Dhimas Firmansyaf Dinda Ayuniar Zanjabila Dwi Haryo Ismunarti Eka Mulya Eksa Novritasari Elis Indrayanti Endang Supriyantini Ervia Yudiati Faith Dibri Kimberly Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Gita Wismayanti Hadi Endrawati Haeruddin Haeruddin Hafida Salma Haqqu, Alir Adn Ighwerb, Mostafa Imhmed Ikhlasul Amal Irene Ulsadriatny Iriana, Deska Dwi Jamaludin Jamaludin Khoirunnisah Riswanti Kirana Fatika Brilianti Larasati, Stefanie Jessica Henny Lilik Maslukah Limbong, Maria Fransiska Linggar Dirgantara Prasetyo M. Hafizulhaq Mahadika Fanindhita Sany Max Rudolf Muskananfola McCauley, Erin Mhevy Nadya Pasaribu Muhammad S. Bahry Muhammad Syaifudien Bahry Nada Kristiani Ginting Nadiah Humairoh Mufidah Savitri Nirwani Soenardjo Nur Islamiah Sulastri Nuril Azhar Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Pasaribu, Adam Sojuangon Pradhika, Vicky Dimas Pramastuti, Fransisca Ria Rabia Alghazeer Rachmat Afriyanto Raden Ario Rahmawati, Tiara Rani Agustian Rizkina Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Rima Rosema Rini Pramesti Riska Novianti Putri Risma Pratiwi Risnita Tri Utami Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Sakti Imam Muchlisin Saniyatul Ulya Sari, Intan Swastika Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Septhy Kusuma Radjasa Sibero, Mada Triandala Sri Redjeki Sri Yulina Wulandari Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Vicky Dimas Pradhika Victoria Ratna Widiyanti Victorina Yulina Santi Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wandira, Ardiani Widya Widiyanti, Victoria Ratna Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yusup Bayu Permadi Yusup Bayu Permadi Zalsabila Sulistiana Zidny Nurfadhli