Claim Missing Document
Check
Articles

PEMETAAN BATIMETRI UNTUK PENENTUAN ALUR PELAYARAN DI PERAIRAN PULAU BIAWAK, KABUPATEN INDRAMAYU Ramadhan, Muhamad Herdadi; Widada, Sugeng; Ismanto, Aris
Journal of Oceanography Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (840.146 KB)

Abstract

Pulau Biawak merupakan pulau yang terletak di sebelah utara Kabupaten Indramayu. Pulau Biawak dijadikan sebagai wilayah konservasi oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu karena ekosistem yang bervariasi dan sebagian dari wilayahnya dijadikan wilayah pariwisata. Penentuan alur layar di Perairan Pulau Biawak sangat penting untuk keselamatan pelayaran karena kondisi perairan yang dangkal. Tujuan penelitian ini adalahmengetahui dan menganalisa batimetri di wilayah Perairan Pulau Biawakuntuk penentuan alur pelayaran yang aman. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif yang merupakan metode ilmiah karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik atau model.Penelitian dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juli 2015. Hasil penelitian menunjukan Perairan Pulau Biawak termasuk dalam kategori perairan dalam yang memiliki nilai kedalaman -5 m sampai -65 m. Tipe pasang surut di Perairan Pulau Biawak adalah campuran dominan ganda dengan nilai Formzahl 0,57082. Peta batimetri memperlihatkan bahwa pada jarak sekitar 150 m dari pantai memiliki kondisi kontur yang rapat, hal ini menunjukan pada daerah tersebut dikategorikan curam. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil perhitungan kelerengan dasar laut yang menunjukkan bahwa morfologi perairan termasuk dalam kategori curam dengan nilai 12,6 sampai 26,4 %. Alur pelayaran untuk masuk dan keluar dermaga Pulau Biawak hanya bisa digunakan untuk kapal ikan yang memiliki draft paling besar 1,05 m dengan menggunakan sisi kanan dermaga untuk menghindari terjadinya kapal karam akibat adanya gugusan karang yang memiliki kedalaman yang cukup dangkal.
SEBARAN TUMPAHAN MINYAK DENGAN PENDEKATAN MODEL HIDRODINAMIKA DAN SPILL ANALYSIS DI PERAIRAN CILACAP, JAWA TENGAH Widhayanti, Arintika; Ismanto, Aris; Yulianto, Bambang
Journal of Oceanography Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.898 KB)

Abstract

Perairan Cilacap memiliki pelabuhan laut yang berfungsi sebagai pelabuhan ekspor-impor termasuk aktivitas bongkar muat minyak dari kapal-kapal tanker yang menyebabkan perairan Cilacap rentan terhadap tumpahan minyak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola sebaran dan proses pelapukan (weathering) yang meliputi waktu pemaparan, proses disolusi, proses dispersi vertikal, proses emulsifikasi, dan proses evaporasi pada tumpahan minyak mentah dan aspal di Perairan Cilacap yang dimodelkan menggunakan model hidrodinamika 2D dan Spill Analysis. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data arus laut, data pasang surut, data angin, data suhu air laut, data batimetri, data suhu udara, data cloudiness, data oil properties, dan data lalu lintas kapal. Hasil simulasi model sebaran tumpahan minyak mentah dan aspal memperlihatkan sebaran menuju ke arah barat laut saat pasang tertinggi, sebaliknya minyak menyebar ke arah tenggara saat surut terendah. Penyebaran tumpahan minyak berbentuk lintasan saat kondisi perbani dan partikel minyak berbentuk acak saat kondisi purnama. Waktu pemaparan aspal berlangsung lebih lama, yaitu berkisar 280 jam daripada waktu pemaparan minyak mentah, yaitu berkisar 259 jam. Proses pelapukan pada tumpahan minyak terhadap lamanya waktu tumpahan minyak menunjukkan bahwa perubahan laju emulsifikasi berlawanan dengan laju evaporasi dan sebanding dengan laju dispersi vertikal, sedangkan laju disolusi tidak mengalami perubahan signifikan. Tumpahan minyak setelah 24 jam memperlihatkan bahwa proses disolusi, dispersi vertikal, dan evaporasi pada minyak mentah lebih tinggi daripada aspal. Namun, proses emulsifikasi pada aspal lebih tinggi daripada minyak mentah.
STUDI PENGARUH GELOMBANG TERHADAP TRANSPORT SEDIMEN DI PERAIRAN TIMBULSLOKO KABUPATEN DEMAK JAWA TENGAH Astuti, Elia Hendri; Ismanto, Aris; Saputro, Siddhi
Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.893 KB)

Abstract

Desa Timbulsloko adalah salah satu daerah yang terkena dampak erosi dan abrasi di Pesisir Utara Provinsi Jawa Tengah. Suatu pantai akan mengalami erosi atau sedimentasi tergantung pada kesetimbangan sedimen. Laju transportasi sedimen di daerah pantai di pengaruhi oleh ukuran butir sedimen, kemiringan pantai, gelombang dan arus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa gelombang di Perairan Timbulsloko dipengaruhi oleh angin sehingga menimbulkan arus sejajar pantai. Arus sejajar pantai tersebut menimbulkan transport sedimen dasar di lokasi penelitian.Materi yang digunakan pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data sedimen dan data gelombang. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data angin tahun 2010-2014, Peta LPI DISHIDROS skala 1 : 500.000, dan data pasang surut tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan untuk menentukan transport sedimen menggunakan rumus Qs=0,401xP1. Peramalan gelombang diperoleh dari data angin dengan menggunakan metode distribusi angin. Hasil penelitian dikelompokan setiap musim barat, peralihan I timur, dan peralihan II. Hasil penelitian tinggi gelombang berkisar antara  0 – 1,01 meter yang akan membangkitkan gelombang pecah sehingga terjadi arus sejajar pantai yang besarnya berkisar 0 – 1,83 m/detik. Nilai arus sejajar pantai selama 5 tahun lebih tinggi ke arah kanan. Potensi angkutan sedimen signifikan Perairan Timbulsloko berkisar 0 – 1051,34 m3/hari atau 0 – 383739 m3/tahun. Transport sedimen total selama 5 tahun bernilai 1109,11 (m3/hari) dan 404826,35 (m3/tahun). Transport sedimen tersebut lebih besar menuju ke kanan (negatif).
Model Sebaran Penurunan Tanah di Wilayah Pesisir Semarang Aris Ismanto; Anindya Wirasatriya; Muhammad Helmi; Agus Hartoko; Prayogi Prayogi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.729 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.4.189-196

Abstract

Banjir rob merupakan fenomena bencana yang melanda daerah pesisir Kota Semarang sejak 30 tahun terakhir yang sampai saat ini belum dapat tertanggulangi dan bahkan semakin meluas. Penyebab utama timbulnya banjir rob adalah terjadinya penurunan tanah yang dapat mencapai + 15 cm/tahun. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan informasi yang akurat mengenai penurunan tanah yang terjadi, terutama mengenai zona sebaran penurunan tanah yang dikaitkan dengan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial Penurunan Tanah di Pesisir Kota Semarang sehingga diharapkan bisa menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Semarang dalam rangka penanggulangan banjir rob. Data spot height peta RBI dan hasil pengukuran lapangan dengan menggunakan DGPS digunakan dalam penelitian ini. Laju penurunan tanah dihitung berdasarkan perbedaan ketinggian wilayah pada saat ini dengan ketinggian wilayah pada spot height peta RBI, tahun 2001. Data citra satelit IKONOS yang didownload dari Google Earth digunakan untuk mengetahui penggunaan lahan eksisting. Pengolahan data dilakukan berbasis Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan tool Spatial Analyst pada software Arc GIS 9.1. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa Kota Semarang  mempunyai luas 17.073,23 ha dan laju penurunan tanah <1 cm/thn terjadi seluas 3.355,93 ha (19,7%); 1,1-4 cm/thn seluas 6.515,77 ha (38,2%), 4,1-8 cm/thn seluas 5.048,51 (29,6%); 8,1-12 cm/thn seluas 1.685,6 ha (9,9%); dan 12,1-15 cm/thn seluas 467,45 ha (2,7%). Penurunan tanah tersebut menyebar secara spasial di Kecamatan Genuk (8.1-15 cm/th) dan Semarang Utara serta sebagian Semarang Barat (4.1-12 cm/th). Kecamatan Tugu memiliki tingkat penuruan tanah yang relatif rendah, yaitu kurang dari 1 cm/th. Kata kunci: Semarang, Banjir Rob, Penurunan tanah, Since the last 30 years, Tidal flood hazard in the Semarang Coastal Area has never been clearly solved and even getting worse time to time. Most possible cause of this tidal flooding is believed land subsidence which reaches up to 15cm/year. Accurate information of land subsidence distribution, in relation to land use, is therefore needed to ease this flooding problem. The study is aimed to identify spatial distribution of land subsidence in Semarang coastal area which hopefully can be used as scientific reference for Semarang City Government on solving this tidal flooding problem. A spot height data of Indonesian Land Surface (RBI) map was used as the main information of the study collaborated with comprehensive field measurement using DGPS. Land subsidence rate was then calculated as differences between actual height of the location with spot height indicated on 2001 RBI map. An IKONOS satellite image of the same spot was then used to determine existing land use of the area. The dara were processed using a GIS-based analysis ‘Spatial Analyst’ of ArcGIS 9.1. The result showed that among total of 17.073,23 ha of the study area 3.355,93 ha (19,7%) has rate of land subsidence of <1cm/year, 6.515,77 ha (38,2%) of 1.14cm/year, 5.048,51 ha (29,6%) of 4.1-8cm/year, 1.685,6 ha (9,9%) of 8.1-12cm/year and 467,45 ha (2,7%) of 12.1-15cm/year. Spatial distribution of land subsidence in Semarang is spreading in Genuk (8.1-15 cm/th), North Semarang and West Semarang District (4.1-12 cm/th). Land subsidence in Tugu District is relatively lower, that is less then 1 cm/th. Key words: Semarang, tidal flood, land subsidence,
Seasonal Variability of Waves Within the Indonesian Seas and Its Relation With the Monsoon Wind Purwanto Purwanto; Denny Nugroho Sugianto; Muhammad Zainuri; Galuh Permatasari; Warsito Atmodjo; Baskoro Rochaddi; Aris Ismanto; Parichat Wetchayont; Anindya Wirasatriya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.3.189-196

Abstract

The previous studies have simulated the variability of the wave within the Indonesian seas which showed that the variability of wave follows the seasonal pattern. However, their analysis only consider the influence of local wind forcings. The bias and error of their simulated wave were also unclear. In the present study, we investigate the variability of wave within the Indonesian seas and its relation with the surface wind speed using the combination of reanalysis and remote sensing data with high accuracies. We split the analysis into swell and wind wave to obtain the influence of local and remote wind forcings. We show that at the inner seas (i.e., the South China Sea, Java Sea, Flores Sea, Banda Sea and Arafura Sea), the variability of significant wave height (SWH) is majorly influenced by the variability of the speed of monsoon wind. The maximum SWH during Northwest monsoon (NWM) season is located at the South China Sea while during Southeast monsoon (SEM) season is at Arafura Sea. This indicates that the wind wave (sea) is dominant at the inner seas. At the open seas (i.e., Pacific Ocean and Indian Ocean) the variability of SWH less corresponds to the the speed of monsoon wind. The remote wind forcings control the wave variability in the open ocean area. This indicates that swell is dominant at the open seas. In general, the magnitude of SWHswell is also more than SWHsea within the Indonesian seas.
Pemodelan Sebaran Tumpahan Minyak di Perairan Karawang, Jawa Barat Muh Dandi Firmansyah; Aris Ismanto; Sri Yulina Wulandari; Rikha Widiaratih; Azis Rifai; Warsito Atmodjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31736

Abstract

Perairan Karawang merupakan salah satu perairan yang dilintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dimana kapal-kapal besar dan kapal tanker melintasi area perairan ini. Pada bagian utara Perairan Karawang juga terdapat kegiatan pengeboran migas (minyak dan gas) sumur bor milik salah satu perusahaan minyak dan gas nasional, sehingga Perairan Karawang dan sekitarnya mempunyai resiko yang tinggi terhadap tumpahan minyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkirakan luasan pola persebaran tumpahan minyak mentah (crude oil) akibat kebocoran sumur bor di perairan Karawang dan wilayah perairan di sekitarnya. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahapan, yaitu tahap survei lapangan dan tahap pemodelan numerik. Pemodelan numerik terdiri dari pemodelan arus, sebaran tumpahan minyak, dan nasib  (fate) minyak setelah tumpah yang masing-masing dimodelkan menggunakan model matematika dua dimensi Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan untuk menentukan lokasi pengukuran menggunakan metode purposive sampling. Trayektori Sebaran tumpahan minyak mentah (crude oil) dominan bergerak dari sumur bor pada koordinat 107°37′32.52″E dan 06°5’39”S menuju ke arah barat, bergerak dari Perairan Karawang menuju Perairan Bekasi. Hal itu terjadi karena peristiwa minyak tumpah terjadi musim timur, yakni arus dominan bergerak dari arah timur dan tenggara menuju ke arah barat dan barat laut. Daerah terdampak tumpahan minyak ini meliputi Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi, khususnya wilayah Perairan Kecamatan Muara Gembong dengan luasan sebaran tumpahan minyak sekitar 249.91 km2.   Karawang waters is one of the waters crossed by the Indonesian Archipelago Sea Channel (ALKI) where large ships and tankers cross this water area. In the northern part of Karawang Waters, there is also oil and gas (oil and gas) drilling activities which are owned by one of the national oil and gas companies, so that the Karawang waters and surrounding areas have a high risk of oil spills. The purpose of this study was to estimate the extent of the distribution pattern of crude oil spills due to leakage of wells in the waters of Karawang and the surrounding waters. This research was divided into two stages, namely the field survey stage and the numerical modeling stage. Numerical modeling consists of modeling the flow, distribution of oil spills, and the fate of oil after spilling, each of which is modeled using 2 dimension mathematical model. This study uses quantitative methods and to determine the location of measurements using the purposive sampling method. Trajectory The dominant distribution of crude oil spills moves from the wellbore at coordinates 107 ° 37′32.52 ″ E and 06 ° 5'39 "S heading westward, moving from Karawang Waters to Bekasi Waters. This happened because the oil spill event occurred in the east season, which is the dominant current moving from east and southeast to west and northwest. Areas affected by the oil spill include Karawang Regency and Bekasi Regency, especially the waters of the Muara Gembong District with an area of distribution of oil spills around 249.91 km2.
STUDI INVERSI SPARSE SPIKE DENGAN LINIER PROGRAMMING DI LAPANGAN X Aris Ismanto; Suprajitno Munadi; Djoko Rubyanto
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.773 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i3.6952

Abstract

Metoda inversi post-stack merupakan metoda yang paling umum digunakan, karena relatif mudah dilakukan dan ekonomis. Data masukannya harus berupa seismik zero offset, dan hasilnya adalah distribusi Akustik Impedansi (AI) yang menggambarkan perlapisan (layer), bukan lagi bidang batas (interfaces) seperti pada seismik biasa. Hilangnya informasi frekuensi rendah dan frekuensi tinggi adalah salah satu  persoalan yang sering timbul pada proses inversi. Hal ini terjadi karena pita frekuensi wavelet yang terbatas sehingga informasi deret koefisien refleksi di luar lebar pita wavelet tersebut hilang. Dengan kata lain spectrum wavelet atau deret koefisien refleksi tidak memiliki energy pada frekuensi tersebut atau bernilai nol. Sehingga terjadi ketidakakuratan pada log impedansi akustik. Salah satu teknik inversi yang bisa digunakan  untuk mengatasi masalah tersbut adalah metode sparse spike dengan pemrograman linier. Upaya tersebut merupakan  proses dalam  inversi seismik untuk memperoleh gambaran impedansi akustik yang benar dan tepat, sehingga dapat mempermudah dalam proses interpretasi suatu  reservoar serta mengurangi resiko kegagalan dalam pemboran. Pemodelan  ini di kerjakan pada batuan karbonat Formasi Kujung dengan menggunakan data sintetik dan data riil. Implementasi program Inversi sparse spike dengan pemrograman linier secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan bahasa pemrograman MATLAB dan Hampson Russel dengan modul Strata. Hasil inversi berupa penampang impedansi Akustik cukup baik digunakan untuk mengkarakterisasi reservoar. Inversi pemrograman linier sparse spike dengan implementasi Matlab menghasilkan Impedansi akustik yang sama baiknya dengan program yang sudah ada yaitu Hampson Rusell. Metode LP Sparse Spike cukup baik untuk mengestimasi reflektivitas. Namun estimasi wavelet sumber dan model konstrain yang diberikan akan mempengaruhi hasil inversi .   Kata kunci: Linear Programming Sparse Spike Inversion, impedansi akustik, Matlab, Hampson Russel, Strata
Model Arus Permukaan Teluk Lampung pada Musim Peralihan II dengan Pendekatan Hidrodinamika Ayuk Milasari; Dwi Haryo Ismunarti; Elis Indrayanti; Farid Muldiyatno; Aris Ismanto; Aziz Rifai
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.38293

Abstract

Lokasi geografis Teluk Lampung yang terletak di Pulau Sumatra bagian Selatan dan dipisahkan dari Pulau Jawa melalui Selat Sunda mempunyai akses langsung dengan perairan lepas dari Samudera Hindia. Hal ini akan berpengaruh terhadap pola sirkulasi arus permukaan yang terbentuk. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan arus permukaan di Teluk Lampung dengan menggunakan pendekatan model hidrodinamika khususnya pada musim peralihan II (Oktober – November 2020). Verifikasi model dilakukan dengan cara membandingkan hasil model arus dengan hasil pengukuran arus lapangan menggunakan currentmeter valeport yang dilaksanakan dari tanggal 12 Oktober sampai 9 November 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus permukaan dominan dibangkitkan oleh pasang surut dengan prosentase arus pasang surut sebesar 89,09 %. Tipe pasang surut adalah tipe campuran condong harian ganda dengan nilai Formzahl 0,4. Kecepatan arus maksimum 0,168 m/s ke arah 352° dan arus minimum 0,017 ke arah 33°, sehingga arah pergerakan cenderung bolak balik. Pada kondisi pasang, arus bergerak ke utara yaitu dari Selat Sunda masuk ke perairan Teluk Lampung, dan sebaliknya pada saat surut arus bergerak ke arah selatan keluar dari perairan Teluk Lampung menuju Selat Sunda. The geographical location of Lampung Bay, which is located in the southern part of Sumatra Island and separated from Java Island by the Sunda Strait, has direct access to the waters off the Indian Ocean. This will affect the surface current circulation pattern that is formed. This research aims to model surface currents in Lampung Bay using a hydrodynamic model approach, especially in 2nd transitional monsoon (October - November 2020). Model verification is carried out by comparing the results of the current model with the results of field current measurements using a valeport current meter which was carried out from 12 October to 9 November 2020. The results showed that the dominant surface current was generated by tides with a tidal current percentage of 89.09%. The tidal type is a mixed type of mixed tide prevailing semidiurnal with a Formzahl value of 0.4. The maximum current speed is 0.168 m/s in the direction of 352° and the minimum current is 0.017 in the direction of 33°, so that the direction of movement tends to be back and forth. At high tide, the current moves northward from the Sunda Strait into the waters of Lampung Bay, and vice versa at low tide the current moves southward out of the waters of the Lampung Bay towards the Sunda Strait.
Perubahan Garis Pantai dan Dampaknya Terhadap Banjir Rob di Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Privinsi Jawa Tengah Sugeng Widada; Aris Ismanto; Ika Bagus Priambodo; Hendry Siagian
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 1 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i1.13843

Abstract

The coastal area of Pekalongan City, especially in the North Pekalongan District which includes Kandang Panjang Village, Panjang Wetan Village, Krapak Lor Village and Degayu Village is often inundated by tidal floods which are increasingly widespread from year to year. This incident resulted in the destruction of infrastructure and inundation of land so that it greatly disrupted residential areas, economic areas, cultivated land and community activities. The river channel near the estuary and coastal abrasion is the entry point for sea water which causes the tidal flood. This research were to determine the process of abrasion and accretion that causes changes in the coastline which results in the destruction of the coastal embankment and eventually becomes the channel for sea water to flow to the mainland. The results of this study are expected to be a consideration in tidal flood protection by preventing coastal abrasion at crucial points. The mathematical simulation method was used in this study to obtain shoreline changes based on the concept of longshore sediment transport as presented in the integrated littoral processes and coastline kinetics modeling module by Mike 21. Significant wave heights and periods are calculated from wind data using the Sverdrup Munk Bretchneider (SMB) method. The coastline used in the model simulation is the result of digitizing photos taken through ESRI's GeoEYE. Sediment data was obtained by taking samples in the field and granulometric analysis in the laboratory. The results showed that in the west monsoon the largest accretion of 25 m occurred at the west of Slamaran Beach’s Jetty and the largest abrasion was of 10.23 m to the west of the the Banger River’s jetty. Meanwhile, in the east monsoon, the highest accretion was 15.2m in the east of the Loji River’s Jetty and the largest abrasion was 13.5m at Pasir Kencana Beach. Locations of abrasion as a channel for sea water to flow inland include the Pasir Kencana Beach area, east of the Slamaran Beach’s Jetty and around the Banger River’s Jetty Wilayak pesisir Kota Pekalongan, khususnya di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara yang meliputi Kelurahan Kandang Panjang, Kelurahan Panjang Wetan, Kelurahan Krapak Lor dan Kelurahan Degayu telah mengalami banjir rob yang semakin luas dari tahun ke tahun. Kejadian ini berdampak pada rusaknya infrastruktur dan tergenangnya lahan sehingga sangat mengganggu wilayah pemukiman, kawasan perekonomian, lahan budidaya serta aktivitas masyarakat. Alur sungai di dekat muara dan abrasi pantai merupakan jalur masuknya air laut yang mengakibatkan banjir rob tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses abrasi dan akresi yang menyebabkan perubahan garis pantai yang berakibat pada rusaknya tanggul pantai dan akhirnya menjadi pintu masuknya air laut ke daratan. Hasil penelitian ini daharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penanggungan banjir rob dengan mencegah abrasi pantai pada titik-titik yang krusial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simulasi matematis untuk mendapatkan perubahan garis pantai berdasarkan konsep transport sedimen sejajar pantai (longshore transport) sebagaimana disampaikan dalam modul integrated littoral processes and coastline kinetics modelling by Mike 21. Tinggi gelombang signifikan dan periodenya dihitung dengan metode Sverdrup Munk Bretchneider (SMB) dari data angin. Garis pantai yang digunakan pada simulasi model merupakan hasil digitasi foto yang dicuplik melalui GeoEYE ESRI. Sedangkan data sedimen diperoleh dengan pengambulan sampel di lapangan dan analisis granulometri di laboratorium. Hasil penelitian menujukan pada musim barat akresi terbesar sebesar 25 m terjadi di sebelah barat jetty Pantai Slamaran dan abrasi terbesar adalah sebesar 10.23m di sebelah barat tanggul pantai-jetty barat Sungai Banger. Sedangkan pada musim timur akresi tertinggi adalah sebesar 15,2m terjadi di sebelah timur Jetty Sungai Loji dan abrasi terbesar 13.5m terjadi di Pantai Pasir Kencana. Lokasi abrasi yang menjadi alur mengalirnya air laut ke daratan diantaranya adalah area Pantai Pasir Kencana, sebelah timur Jetty Pantai Slamaran dan di sekitar Jetty Sungai Banger hingga Pantai Degayu.
Variasi Temporal Karakteristik Arus di Perairan Tanjung Jati Kabupaten Jepara Baskoro Rochaddi; Aris Ismanto; Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 2 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i2.11073

Abstract

The waters of Tanjung Jati, Jepara Regency, are quite strategic areas due to the utilization of the coastal areas and waters. One water parameter that is important to study and has a high enough influence on other parameters is ocean currents. The purpose of this study is to determine the characteristics of the ocean currents that occur in the waters of Tanjung Jati, by temporal variation in 2020 and 2021. The results show that the smallest current velocity is in the most basic layer; this is likely due to the influence of the friction force on the bottom of the water, while the greatest velocity is on the layer near the surface. Current characteristics show a relationship between current velocity, current direction, and water level that occurs in each layer of water. This relationship can be seen by the decrease in current velocity at the lowest tide and the highest tide, and vice versa. The current velocity increases at low tide. The highest optimal velocity at low tide towards tide compared to tidal currents towards ebb. The direction of this optimal current is northeast. The movement of the current at tide towards the ebb is towards the West - Southwest, while the current movement during the tide towards the tide is towards the East - Northeast direction. The direction of the dominant current that occurs in the waters of Tanjung Jati B, Jepara, is towards the East-Northeast domination at low tide and towards the West-Southwest domination at low tide. Details on the current characteristics of each layer in 2020 and 2021 have not changed significantly.  Kawasan perairan Tanjung Jati Kabupaten Jepara merupakan Kawasan yang cukup strategis dikarenakan pemanfaatan wilayah pesisir maupun perairannya. Terkait hal tersebut, sal;ah satu parameter perairan yang penting untuk diteliti dan mempunyai pengaruh cukup tinggi terhadap parameter lainnya adalah arus laut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik arus laut yang terjadi di perairan Tanjung Jati, secara variasi temporal tahun 2020 dan 2021. Hasil penelitian menunjukkan Kecepatan arus terkecil berada pada layer paling dasar hal ini kemungkinan terjadi karena pengaruh gaya gesek dengan dasar perairan, sedangkan kecepatan paling besar berada pada layer dekat permukaan. Karakteristik arus seperti yang terlihat menunjukan adanya hubungan antara kecepatan arus, arah arus dengan elevasi air yang terjadi pada setiap lapis air. Hubungan ini dapat dilihat dengan adanya penurunan kecepatan arus pada saat muka air surut terendah dan pasang tertinggi dan sebaliknya kecepatan arus meningkat pada saat pasang menuju surut. Kecepatan optimal tertinggi pada saat arus surut menuju pasang dibandingkan dengan arus pasang menuju surut. Arah arus optimal ini adalah timur laut. Pergerakan arus pada saat pasang menuju surut adalah ke arah Barat – Barat Daya sedangkan pergerakan arus pada saat surut menuju pasang adalah ke arah Timur – Timur Laut. Arah arus dominan yang terjadi di kawasan Perairan Tanjung Jati B, Jepara adalah ke arah dominasi Timur- Timur Laut pada saat surut menuju pasang dan ke arah dominasi Barat-Barat Daya pada saat air pasang menuju surut. Detil pada karakteristik arus tiap layer pada tahun 2020 dengan 2021 tidak mengalami perubahan secara signifikan.
Co-Authors Adiprabowo, Samuel Radityo Agus Hartoko Agus Indarjo Ahmad Fikri Delardi Akbar Nurrahman Putra Akbar, Luis Figo Sagita Desario Alfi Satriadi Amalya, Afroh Andi Dwi Pramulya Andri Ramdhani Anindya Wirasatriya Aradea Ramadhan Hakim Arintika Widhayanti, Arintika Astuti, Rohmatun Dwi Ayuk Milasari Azhary, Abrar Dalisfasha Azis Rifai Aziz Rifai Aziz Rifai Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Bayu Munandar Bayu Priyono, Bayu Beselly Putra, Sebrian Mirdeklis Candisukma Marsha Serodja Chrisna Adhi Suryono Denny Nugroho Sugianto Dimas Nopriansyah Djoko Rubyanto Durmont Siahaan Dwi Haryanti, Dwi Haryanti Dwi Haryo Ismunarti Dwi Haryo Ismunarti Efendi, Usman Elia Hendri Astuti, Elia Hendri Elis Indrayanti Erfando, Wahyu Erinne Natalie, Erinne Fajrin, Muhamad Nur Al Farid Muldiyatno Fernandito Suryo Hutomo Galuh Permatasari Geby Ayunda Gentio Harsono Gentur Handoyo Gentur Handoyo Ginnia Julianti Utomo Hadi Endrawati Hakim, Aradea R. Hanah Khoirunnisa Hariyadi Hariyadi Hendry Siagian Hendry Siagian Heriyoso Setyono Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heryoso Setiyono Ika Bagus Priambodo Ilham Panra, Ilham Ilyas, Riyanti Maharani Indra Budi Prasetyawan Ishak Putra Pangururan, Ishak Putra Jarot Marwoto Jihadi, Muhammad Shulhan Julian Saputra Kunarso Kunarso Kusuma, Prima Danu Lilik Maslukah Lintang Fauzia Ichsari Lusi Swastika Dewi Lutfi Agung Mardiansyah Ma&#039;ariq Badrutamam S. Maharani, Galung Dhiva Mahinsha, Amryl Naufal Ilham Majhic Aryono Maria Kurniawati Lena Liwun Maro, Jahved Ferianto Maya Eria Br Sinurat, Maya Eria Br Muh Dandi Firmansyah Muh Yusuf Muhamad Herdadi Ramadhan, Muhamad Herdadi Muhammad Chusnul Marom Muhammad Helmi Muhammad Helmi Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muslim Muslim Muslim Muslim Nabilah Rizki Nadira, Audria Izza Nugraha Syafutra Nugroho Agus D Nur Azhar Fahrian Nuriyati Nuriyati Nusratina, Rina Hazrina Ory Kristanto Oscar Agustino Osen Faber Romario Tampubolon Parichat Wetchayont Perwira, Akmal Yazid Petrus Subardjo Pinardo Sidauruk, Pinardo Prahandhy Kusuma, Novian Prayogi Prayogi Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Putranto Kondang Wijaya Putri, Nia Oktaviani Annisa Radhwarana, Amani Rahutri Rahmadiana Andini Rahmat Hidayat Rahmat Yolansyah Putra Ramdhani, Andri Renaning Wulan Mahardika Rifa’i, Aziz Rikha Widiaratih Rina Rina Ritonga, Maura Dhia Khanza Rudhi Pribadi Safikri, Ilham Salman Asatidz Shafira Tsanyfadhila Shidqirrohman, Naufal Siahaan, Eirene Sharon Siddhi Saputro Siddhi Saputro Siswantoputri, Ummy Zulaichah Sri Redjeki Sri Yulina Wulandari Sugeng Widada Suprajitno Munadi Suryani, Oda Gracia Ariela Suwignyo, Tyo Syafiq Muhammad Aziz Tagore, Rafa Fahrezi Talitha Rahma Damayanti Tamara Centong Mandey Taufiq Hidayat Tissa Permatasari Putri Tony Hadibarata, Tony Tri Abdul Hidayat Tridhia Cahyadi, Alifalah Wahyu Budi Setyawan Warsito Atmodjo Widianingsih Widianingsih Widiaratih, Rikha Widyani, Afidhah Puspita Wisman Fabrisse Doloksaribu Wisnu Dewanto Yanthi Sepriana Siagian, Yanthi Sepriana Yoga Yuniadi Zulfa, Istna Nabila