Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

HUKUM ZAKAT PERHIASAN EMAS DALAM PERSPEKTIF ISLAM (STUDI KOMPARASI ANTARA MAZHAB HANAFI DAN MAZHAB SYAFI’I) Rosmita Rosmita; Kasman Bakry; Sri Reski Wahyuni Nur; Maryam Maryam; Yulianti Yusuf
Ar-Risalah Media Keislaman Pendidikan dan Hukum Islam Vol. 22 No. 1 (2024): (April 2024)
Publisher : LPPM IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/ar-risalah.v22i1.2072

Abstract

This study aims to determine the law of zakat on gold jewelry according to the Ḥanafī and Syāfi'ī schools as well as the similarities and differences between the two schools. To get answers to the above problems, the type of research used is qualitative research in the form of library research focused on manuscript and text studies. The research results found are; First, according to the Ḥanafī school of thought, gold jewelry is obliged to pay zakat based on general and specific arguments regarding the law of gold zakat. Second, the Syafi'i School views that zakat on gold jewelery is not obligatory to pay. Third, the similarity of the views of the Ḥanafī school and the Syāfi'ī school regarding the law of zakat on gold jewelry is their agreement that it is obligatory to pay zakat on gold jewelry worn by men. The two schools of thought also agree that it is obligatory to pay zakat on gold jewelry that is forbidden to be used by women or men. The difference between the two schools of thought is their difference in looking at the gold jewelry, the Hanafi school views it in terms of the basic material of gold jewelry so that the law is the same as gold which is not used as jewelry that must be paid zakat while the Syāfi'ī school views that gold jewelry has already been paid. is no longer judged as mining goods because it has changed its form so that it is the same as goods used to meet human needs so that zakat is not obligatory to be issued.
Ijtihad Intiqa’i dan Insya’i Sebagai Solusi Terhadap Penentuan Hukum Zakat Kekayaan Investasi Ar-Rahmany, Mursyidin; Sari Rahayu, Solihah; Bakry, Kasman; Kamsiah, Kamsiah; Yasir, Muhammad; Abdullah Lawang, Karimuddin
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 2 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i2.4417

Abstract

Kewajiban zakat didasarkan Al-Qur`an, al-Sunnah, dan Ijma`para ulama. Jenis-jenis harta yang wajib dikeluarkan zakat sudah disebutkan dalam dalil-dalil syar’i, namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, harta dan kekayaan seseorang juga semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan hidup manusia. Sekarang sudah muncul beberapa jenis harta dan kekayaan baru, karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Perkembangan ini melahirkan kreasi dan produk-produk baru, baik berupa penggalian hasil potensi alam, mengeksploitasi kekayaan maupun hasil potensi sumber daya manusia, bahkan mengalahkan pertumbuhan jenis-jenis harta kekayaan konvensional. Maka, dengan demikian, perlu ada sebuah penelitian untuk menemukan metode baru dan dalil-dalil yang dapat digunakan dalam menetapkan hukum zakat kekayaan investasi. Motode penelitian yagn diginakan dalam kajian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur berdasarkan bahan dokumen berupa buku atau kitab fikih. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penalaran dalam menginterpretasikan makna harta wajib zakat, perlu memasukkan kekayaan investasi. Ilat dan dalil-dalil yang digunakan dalam menetapkan kewajiban zakat kekayaan investasi mengacu pada ijtihad intiqa’i dan insya’i dengan membandingkan pendapat yang telah ada kemudian menganalogikannya dengan kekayaan investasi.