Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Prevalensi Gangguan Elektrolit Serum pada Pasien Diare dengan Dehidrasi Usia Kurang dari 5 Tahun di RSUP Dr. Sardjito Tahun 2013-2016 Rosyida Avicennianing Tyas; Wahyu Damayanti; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.276 KB) | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.37-42

Abstract

Latar belakang. Hingga saat ini, diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan dunia, terutama di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Salah satu komplikasi lanjutan dari dehidrasi pada diare adalah gangguan elektrolit serum. Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi gangguan elektrolit serum pada pasien diare dengan dehidrasi serta karakteristik klinis pasien dan hubungan antara derajat dehidrasi terhadap gangguan elektrolit serum.Metode. Penelitian retrospektif dengan rancangan cross sectional menggunakan data rekam medis. Perbedaan dianalisis menggunakan uji Chi-square.Hasil. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria adalah 173 pasien, 115 pasien yang memiliki data rekam medis lengkap. Tujuh puluh di antaranya mengalami gangguan elektrolit serum. Jenis gangguan elektrolit serum terbanyak dialami adalah hipokalsemia (17,34%). Dari 173 pasien diare dengan dehidrasi, 64,74% berjenis kelamin laki-laki, 43,35% berusia 12-35 bulan, 83,24% mengalami muntah, 52,6% mengalami demam, 4,62% mengalami dehidrasi berat. Penelitian ini tidak membuktikan adanya hubungan signifikan antara derajat dehidrasi terhadap gangguan elektrolit (p=0,243).Kesimpulan. Prevalensi gangguan elektrolit serum pada pasien diare dengan dehidrasi pada anak adalah 40,46%.
Prevalensi Tanda dan Gejala serta Keterlibatan Tim Multidispliner dalam Perawatan Paliatif Pasien Leukemia Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Samalalita Rahmatina; Sri Mulatsih; Eggi Arguni; Sudadi Sudadi
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.185-90

Abstract

Latar belakang. Perawatan paliatif pada anak masih jarang diteliti terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu kategori pasien yang memerlukan perawatan paliatif adalah anak dengan kanker. Leukemia merupakan kanker dengan prevalensi terbesar pada anak.Tujuan. Mengetahui karakteristik, prevalensi tanda dan gejala, serta keterlibatan tim multidispliner dalam perawatan paliatif pasien leukemia anak di RSUP Dr. Sardjito.Metode. Desain penelitian adalah cross sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien berusia kurang dari 18 tahun yang didiagnosis leukemia pada tahun 2015 di RSUP Dr. Sardjito.Hasil. Empat puluh enam pasien anak dengan leukemia dianalisis. Sebanyak 34 pasien merupakan pasien leukemia limfoblastik akut (LLA) dan 12 sisanya merupakan pasien leukemia mieloblastik akut (LMA), 20 pasien berusia berusia 1-4 tahun, dan 26 pasien berjenis kelamin perempuan. Sepuluh pasien meninggal, 18 pasien sembuh atau telah selesai menjalani terapi, dan 18 pasien lainnya tanpa keterangan sehingga disimpulkan masih menjalani terapi. Tanda dan gejala dengan prevalensi tertinggi adalah demam (40 pasien), nyeri (38 pasien), mual (32 pasien), dan muntah (27 pasien). Fase induksi memiliki prevalensi tanda dan gejala tertinggi dibanding fase lainnya. Tiga kelompok tenaga kesehatan yang selalu terlibat dalam perawatan paliatif adalah residen anak/dokter spesialis anak/konsultan onkologi anak, perawat, dan dokter spesialis anestesi.Kesimpulan. Fase induksi memiliki prevalensi tanda dan gejala tertinggi dibanding fase lain sehingga memerlukan perawatan paliatif suportif lebih banyak. 
Status Nutrisi sebagai Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Sarah Buntubatu; Eggi Arguni; Ratni Indrawanti; Ida Safitri Laksono; Endy P. Prawirohartono
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.928 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.226-32

Abstract

Latar belakang. Risiko kematian pada anak dengan sindrom syok dengue (SSD) tinggi. Obesitas diduga sebagai faktor risiko SSD tetapi hasil penelitian sebelumnya masih kontroversial.Tujuan. Mengevaluasi overweight atau obes sebagai faktor risiko SSD pada anak.Metode. Penelitian case control pada anak (0-18 tahun) yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan April 2012 sampai Maret 2015 dengan infeksi dengue, yang ditegakkan berdasarkan kriteria WHO 2011 dan hasil uji serologi darah atau NS1. Analisis statistik dikerjakan dengan analisis multivariat dan stratifikasi. Kemaknaan faktor risiko dilaporkan sebagai odds ratio (OR) denganinterval kepercayaan 95%.Hasil. Dilaporkan 264 anak terdiri dari 88 kasus (SSD) dan 176 kontrol (non SSD) diikutkan dalam penelitian ini. Anak dengan overweight atau obesitas mempunyai risiko SSD 2,29 kali dibanding bukan overweight atau obes OR=2,29; IK95%:1,24-4,22) dan perempuan mempunyai risiko SSD 1,84 kali lebih tinggi dibanding laki-laki (OR=1,84; IK95%:1,08-3,14). Jumlah trombositmerupakan modifier, yaitu anak overweight atau obes dengan angka trombosit <20.000/μL mempunyai risiko 3,26 kali dibanding anak dengan SSD dengan overweight atau obes dengan angka trombosit ≥20.000/μL (OR=3,26;IK95%:1,22-8,72).Kesimpulan. Overweight atau obes dan jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko untuk SSD dan jumlah trombosit <20.000 /μL merupakan modifier.
Faktor Prediktor Kematian Anak dengan Infeksi HIV yang Mendapat Terapi Antiretrovirus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan RSUP Dr. Kariadi Semarang Dyah Perwitasari; Eggi Arguni; Cahya Dewi Satria; MMDEAH Hapsari
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.321 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.204-8

Abstract

Latar belakang. Kasus infeksi HIV pada anak di Indonesia semakin meningkat dengan angka kematian yang cukup tinggi. Angka kematian anak HIV yang menjalani terapi antiretrovirus disebabkan oleh berbagai faktor.Tujuan. Mengetahui faktor prediktor yang memengaruhi kematian anak dengan infeksi HIV yang telah mendapat terapi antiretrovirus.Metode. Penelitian studi kasus-kontrol dengan matching usia pada anak dengan infeksi HIV yang mendapat terapi ARV di RSUP Dr. Sardjito dan RSUP Dr. Kariadi dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2013. Kelompok kasus adalah pasien meninggal dan kelompok kontrol adalah pasien yang hidup setelah mendapat terapi ARV. Data diambil dari catatan medis dengan kuesionerterstruktur. Data dianalisis dengan SPSS 17.0.Hasil. Didapatkan 96 anak dirawat dengan infeksi HIV dan menggunakan terapi ARV selama periode penelitian. Dua puluh pasien meninggal setelah menerima ARV sebagai kasus dan 20 pasien hidup sebagai kelompok kontrol. Pada analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi, stadium klinis WHO, ketaatan kunjungan, lama terapi ARV terhadap kematian. Pada analisis multivariat, ketidaktaatan kunjungan memiliki OR 13,8 (IK95%: 1,04-184,02) dengan nilai p<0,05 dan lama terapi ARV ≤6 bulan memiliki OR 22,133 (IK95%: 1,202-407,60).Kesimpulan. Ketidaktaatan kunjungan ke Poliklinik dan lama terapi ARV ≤6 bulan merupakan faktor prediktor yang berpengaruh terhadap kematian pada anak dengan infeksi HIV yang mendapat terapi ARV. Namun, lama terapi ARV ≤6 bulan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kematian.
Acute Kidney Injury sebagai prediktor kematian pada SIndrom Syok Dengue di RSUp dr. Sardjito Budyarini Prima Sari; Eggi Arguni; Cahya Dewi Satria
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.857 KB) | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.252-9

Abstract

Latar belakang. Sindrom syok dengue (SSD) merupakan salah satu dari spektrum kompleks dan berat infeksi dengue. Tatalaksana SSD masih merupakan tantangan besar, khususnya pada kondisi yang terjadi komplikasi multiorgan. Acute kidney injury (AKI) sebagai salah satu penyakit ginjal terkait infeksi dengue perlu diperhitungkan dampaknya pada SSD.Tujuan. Untuk menentukan frekuensi, keparahan, dan prediktor mortalitas pada pasien SSD berdasarkan kondisi AKI.Metode. Kami melakukan penelitian kohort retrospektif pada anak usia 1 bulan sampai 18 tahun yang dirawat di RSUP dr. Sardjito dengan diagnosis sindrom syok dengue sejak Januari 2010 sampai Desember 2015. Kami menggunakan data produksi urin dan rumus formula Pottel untuk menghitung laju filtrasi glomerulus. Uji chi square digunakan untuk menganalisis hubungan antara data klinis dan luaran pasien sindrom syok dengueHasil. Dari 151 anak yang memenuhi kriteria, kondisi gangguan ginjal akut terjadi pada 65 pasien (43%). Berdasarkan kriteria pRIFLE, 42 (62%) pasien termasuk ke derajat risk, 23 (35%) pasien derajat injury. Angka kematian pasien SSD di RSUP 21,2% dan secara signifikan paling tinggi terdapat pada kelompok AKI (p=0,000) terutama pada kelompok derajat injury (p=0,001) dengan RR 2,656 (IK 95%: 1,494-4,721). Di kelompok AKI, hanya koagulasi intravaskular disseminata (KID) yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian (P=0,003) dengan RR 2,483 (IK 95%: 1,318-4,677).Kesimpulan. Insiden AKI pada SSD lebih tinggi dari yang diperkirakan dan berhubungan dengan kematian pasien SSD.
Profil Klinis dan Laboratoris Infeksi Sitomegalovirus Kongenital di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Ruth Kania Permatasari; Agung Triono; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 22, No 5 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.5.2021.297-303

Abstract

Latar belakang. Sitomegalovirus (Cytomegalovirus/CMV) kongenital merupakan infeksi yang menimbulkan beban kesehatan yang berat bagi anak dan keluarga. Manifestasi infeksi CMV kongenital, antara lain, jaundice, trombositopenia, mikrosefali dan kalsifikasi intrakranial. Di Indonesia, data mengenai profil klinis dan laboratoris infeksi CMV kongenital belum banyak dilaporkan, terutama di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Tujuan. Mengetahui profil klinis dan laboratoris infeksi CMV kongenital pada pasien anak di RSUP Dr. Sardjito.Metode. Penelitian observasional ini dilakukan dengan melihat rekam medis pasien usia kurang dari 2 tahun dengan infeksi CMV kongenital, yang dirawat inap di RSUP Dr. Sardjito dari Januari 2012 sampai Juli 2017. Hasil. Selama periode penelitian terdapat 36 pasien dengan infeksi CMV kongenital. Manifestasi klinis yang paling mendominasi adalah tetraparesis spastik (12,5%), mikrosefali (25,81%), hepatomegali (22,86%), sensory neural hearing loss (SNHL) (23,81%), atrofi cerebri (40,00%), dan kalsifikasi intrakranial (72,73%). Manifestasi laboratoris ditemukan IgG positif 100%, IgM positif 30,30%, antigenemia positif 100%, anemia 50,00%, neutropenia 40,00%, peningkatan SGPT 61,11%, dan bilirubinemia 75,00%. Kesimpulan. Manifestasi klinis berdasarkan pemeriksaan klinis yang paling banyak ditemui adalah mikrosefali dan manifestasi laboratoris yang paling banyak ditemui adalah IgG positif dan antigenemia positif.
Faktor Risiko Hipospadia pada Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta F. Jerry Tangkudung; S. Yudha Patria; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.609 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.396-400

Abstract

Latar belakang. Dilaporkan peningkatan kejadian hipospadia dan faktor risiko, salah satunya adalah paparan pestisida. Faktor risiko lainnya adalah riwayat obstetri dan riwayat pada masa neonatus.Tujuan. Mengetahui faktor risiko terjadinya hipospadia pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol yang dilakukan sejak tahun 2008-2011 di rumah sakit Dr. Sardjito dengan menggunakan catatan rekam medis. Besar subjek penelitian 120 subjek. Data dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil. Terdapat 120 anak yang diteliti, 60 (50%) anak dengan hipospadia dan 60 (50%) tanpa hipospadia. Anak yang lahir dari ibu dengan usia saat hamil lebih dari 35 tahun memiliki faktor risiko lebih tinggi dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 35 tahun adjusted odds ratio (AOR: 4,17; IK95%: 1,12-15,49), sedangkan lokasi tempat tinggal dekat dengan areal persawahan (OR: 1,93: IK95%: 0,90-4,13), riwayat lahir prematur (OR: 2,13; IK95%: 0,97-4,52); berat badan lahir rendah (OR: 3,14; IK95% 0,94-10,5), hipertensi pada ibu selama kehamilan (OR: 2,47; IK95%: 0,71-85) dan diet vegetarian selama kehamilan (OR: 1,00; IK95%: 0,06-16,3).Kesimpulan. Usia ibu lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya hipospadia pada anak.
Profil Klinis dan Laboratoris Ensefalopati Dengue pada Anak di RSUP Dr. Sardjito Afiarina Dhevianty; Eggi Arguni; Agung Triono
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.423-9

Abstract

Latar belakang. Ensefalopati dengue merupakan manifestasi neurologis infeksi dengue yang paling sering. Belum banyak penelitian yang menjelaskan gambaran ensefalopati dengue pada anak.Tujuan. Mengetahui gambaran klinis dan laboratoris anak dengan ensefalopati dengue.Metode. Penelitian menggunakan metode retrospektif. Data diambil dari rekam medis anak (1-18 tahun) dengan ensefalopati dengue dengan luaran hidup maupun meninggal yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito sejak Januari 2010 hingga Desember 2016. Manifestasi yang diamati adalah perdarahan gastrointestinal, kejang, syok, hepatitis akut, gagal ginjal akut, pemanjangan prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (APTT), kadar hematokrit, leukosit, dan trombosit. Rekam medis anak dengan riwayat gangguan fungsi ginjal, hati, dan koagulasi serta rekam medis yang tidak lengkap dieksklusi. Analisis data dengan uji independent t-test atau Mann Whitney.Hasil. Terdapat 81 anak dengan ensefalopati dengue dan 25 di antaranya meninggal. Mayoritas anak menunjukkan manifestasi perdarahan gastrointestinal, syok, sepsis, hepatitis ringan, dan gagal ginjal akut. Profil laboratoris memperlihatkan peningkatan SGOT yang lebih tinggi dari SGPT, pemanjangan PT dan kadar kreatinin yang lebih tinggi pada kelompok meninggal.Kesimpulan. Kelainan ensefalopati pada infeksi dengue merupakan suatu kondisi yang serius dengan angka kematian yang tinggi (30.86%). Perdarahan gastrointestinal, syok, sepsis, hepatitis ringan, gagal ginjal akut pada mayoritas pasien. Pemanjangan PT dan kadar kreatinin lebih tinggi pada kelompok meninggal. 
Petanda Imunofenotip CD10 Sendiri Atau Bersama CD3 Atau CD13/CD33 sebagai Faktor Prognosis Luaran Terapi Fase Induksi Leukemia Limfoblastik Akut Anak Eggi Arguni; Sasmito Nugroho; Sri Mulatsih; Sutaryo -
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.260-6

Abstract

Latar belakang. Kegagalan terapi masih menjadi penyumbang terbesar bagi mortalitas anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA). Ekspresi CD10 menentukan diferensiasi sebagian besar leukemia sel B. Petanda imunofenotip untuk LLA sel T, yaitu CD3, dan myeloid antigen, yaitu CD13/CD33, dengan jumlah kecil juga terekspresi pada B-ALL. Tujuan. Mengetahui pengaruh ekspresi CD10 sendiri atau bersama dengan CD3 atau CD13/CD33 terhadap luaran terapi fase induksi LLA anak.Metode. Desain penelitian menggunakan nested case-control. Sampel penelitian merupakan pasien LLA anak yang baru terdiagnosis di INSKA RSUP Dr Sardjito Yogyakart Januari 2006-Desember 2009, dilengkapi pemeriksaan imunofenotip saat penegakan diagnosis. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untuk menentukan faktor prognosis independen terhadap luaran terapi. Hasil. Seratus enam puluh tujuh pasien diikutsertakan dalam penelitian ini. Faktor usia dan ekspresi CD10 merupakan faktor prognosis independen yang menentukan luaran terapi fase induksi. Kelompok usia <1 tahun dan >10 tahun akan mengalami gagal remisi (OR 3,1; IK95%: 1,271-7,625; p=0,013), dan LLA anak dengan CD10 negatif akan mengalami gagal remisi 2,7 kali lebih tinggi dibanding CD10 positif (IK95%: 1,171-6,232; p=0,020). Kesimpulan. CD10 negatif merupakan faktor prognosis independen terhadap kejadian gagal remisi. Ekspresi imunofenotip CD10 bersama CD3 dan CD13/CD33, bukan merupakan faktor prognosis bagi luaran terapi fase induksi. 
Validasi Kriteria Diagnosis Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan American Academy of Pediatrics 2011 pada Anak Usia 2-24 Bulan Ikhsan Trinadi; Eggi Arguni; Kristia Hermawan
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.359 KB) | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.17-20

Abstract

Latar belakang. Gejala klinis infeksi saluran kemih (ISK) pada anak yang tidak spesifik dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis. Keterlambatan penanganan berkaitan dengan risiko terbentuknya parut ginjal. Tahun 2011 American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan panduan klinis diagnosis ISK anak usia 2-24 bulan dengan akurasi yang baik. Penggunaan lokal kriteria ini belum divalidasi.Tujuan. Validasi kriteria diagnosis ISK AAP 2011 pada anak usia 2-24 bulan di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.Metode. Penelitian cross sectional periode Januari 2013 hingga Juni 2015 dilakukan terhadap anak usia 2-24 bulan dengan demam yang memiliki data urinalisis dan kultur urin. Hasil penilaian kriteria AAP dibandingkan dengan pemeriksaan kultur urin.Hasil. Berdasarkan hasil kultur didapatkan 21 pasien menderita ISK, sementara 64 pasien di diagnosis diare akut, demam dengue, pneumonia, dan infeksi CMV. Didapatkan sensitifitas, spesifisitas, rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif kriteria diagnosis AAP 2011 adalah 85,7%, 92,2%, 11,0%, dan 0,2%.Kesimpulan. Kriteria AAP 2011 bisa digunakan sebagai alat diagnostik yang reliable untuk memprediksi ISK pada anak.