Articles
Gender dan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir
Endang Mei Yunalia;
Idola Perdana Sulistyoning Suharto;
Wahyu Sukma Samudera;
Nurul Fatehah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v17i4.11099
Background: Adolescence is a period of rapid development in the physical and psychological aspects. Negative judgments from other people on the physical aspect and appearance are one of the things that can cause distress for adolescents. Distress that may occur is that adolescents feel dissatisfied with their physical condition or appearance and compare their physical condition with the physical condition of other people to affect functional ability, which is called body dysmorphic disorder.Purpose: To determine the correlation between gender and the risk of body dysmorphic disorder in late adolescents.Method: This research is a correlational analytic study with a cross sectional approach. Respondents in this study were 191 adolescents who were selected using the cluster sampling technique. Data collection used a body dysmorphic disorder tendency questionnaire with a validity and reliability test value of Cronbach's Alpha α = 0.722. The research data were analyzed using the Chi-Square Test.Results: Most of the respondents were women as many as 134 respondents or 70.2% and as many as 63 respondents or 33.0% had a moderate risk of body dysmorphic disorder, and as many as 62 respondents or 32.5% had a high risk of body dysmorphic disorder. The results of the analysis using the Chi-Square Test obtained a value of 0.000 <0.05 so that it can be concluded that H0 is rejected and H1 is accepted.Conclusion: There is a significant correlation between gender and the risk of developing body dysmorphic disorder in late adolescence.Keywords: Body Dysmorphic Disorder; Gender; Late AdolescentsPendahuluan: Masa remaja merupakan masa dimana perkembangan pada aspek fisik dan psikologis berkembang dengan pesat. Penilaian negatif dari orang lain terhadap aspek fisik dan penampilan merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan distress bagi remaja. Salah satu bentuk distress yang mungkin terjadi yaitu remaja merasa tidak puas dengan kondisi fisik ataupun penampilannya dan membandingkan keadaan fisiknya dengan keadaan fisik orang lain hingga mempengaruhi kemampuan fungsional atau yang disebut dengan body dysmorphic disorder.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir.Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 191 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kecenderungan body dysmorphic disorder yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan nilai Alpha Cronbach’s α = 0.722. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 134 responden atau 70.2% dan sebanyak 63 responden atau 33.0% memiliki resiko kecenderungan body dysmorphic disorder kategori sedang, dan sebanyak 62 responden atau 32.5% memiliki resiko kecenderungan body dysmorphic disorder kategori tinggi. Hasil analisis dengan Uji Chi-Square didapatkan nilai 0,000<0,05 sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima.Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir.
Perilaku Sedentary pada Remaja Akhir Berdasarkan Banyaknya Akun Media Sosial yang Dimiliki
Etika, Arif Nurma;
Agnes, Yeni Lufiana Novita;
Yunalia, Endang Mei;
Prayogi, Ines Septiya
Holistic Nursing and Health Science Vol 6, No 2 (2023): November
Publisher : Master of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/hnhs.6.2.2023.76-85
Non-communicable diseases including cardiovascular disease, diabetes and cancer are the number 1 killers in the world. According to the Indonesian Ministry of Health, the incidence of non-communicable diseases in Indonesia increase every year. One of the main factors causing non-communicable diseases is sedentary lifestyle. Sedentary lifestyle are activities that all types of activities need very little caloric (< 1.5 METs). Currently, the use of social media among adolescents is massive. This study aims to identify sedentary behavior in late adolescents based on the amount of social media they have. This research was a correlational analytical research with a cross sectional approach. The sample were 193 students of the Faculty of Health in Kediri. The data were collected using snowball sampling. The instrument used in this study was a modified Sedentary Behaviour Questionary (SBQ). The data obtained were analyzed using the Spearman Rank Test. The results of this study showed that 49.7% performed high sedentary behavior. 42% of late adolescences have 4/more social media accounts, 90.7% of late adolescences use social media daily. The results of the Spearman rank test obtained p-value: 0.031 so there was a relationship between the amount of social media and sedentary behavior, and also p-value: 0.036, Correlation Coefficient: 0.615 so that there was a strong relationship between frequent use of social media with sedentary behavior. From the results of the study, it is recommended to reduce the intensity of social media, so that sedentary behavior can also be minimized, and prevent non-communicable diseases.
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH GIZI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI DESA KARANGREJO KECAMATAN NGASEM KABUPATEN KEDIRI
Ramayanti, Eva Dwi;
Yunalia, Endang Mei
Nursing Sciences Journal Vol 8 No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Kadiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30737/nsj.v8i2.6132
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Balita merupakan anak yang umurnya dibawah lima tahun, pada masa ini berlangsung proses tumbuh kembang yang sangat pesat. Maka diperlukan pola asuh gizi yang sangat penting bagi berlangsunya tumbuh kembang pada balita. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Antara pola Asuh Gizi Dengan kejadian Stunting Pada Balita di Desa Karangrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu dan balita stunting sebanyak 35 orang dengan menggunakan tehnik total populasi. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi. Menggunakan kusioner dan lembar pengumpul data. Analisis bivariat menggunakan uji spearmant rank. Hasil penelitian dengan statistik diperoleh p-value 0,002 < 0.05. ada Hubungan Antara Pola Asuh Gizi Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Krangrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri . Hampir seluruh (97%) dari responden mengalami stunting dengan pola asuh gizi yang tidak baik. Berdasarkan data tersebut dapat diintepretasikan bahwa hampir seluruh responden balita yang mengalami pola asuh gizi yang tidak baik mengalami stunting. Bagi petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan pelayanan posyandu kepada balita yang mengalami stunting, Serta memberikan penyuluhan kepada orangtua mengenai pola asuh gizi yang baik agar nutrisi balita terpenuhi.
The Effect of Emotional Intelligence on Aggressive Behavior in Late Adolescence
Arif Nurma Etika;
Endang Mei Yunalia
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2020): November
Publisher : Universitas STRADA Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30994/sjik.v9i2.496
The high incidence of aggressive behavior in adolescence needs further study, So, it is necessary to explore what factors influence aggressive behavior in adolescence. The purpose of this study was to determine the effect of emotional intelligence on aggressive behavior in late adolescence. This study was quantitative research, A cross-sectional analytical study was done in this research. The sample in this study consisted of 191 students at a private university in Kediri. The sampling technique used simple random sampling and the data analysis used a Spearman rank test. Based on the results of the Spearman test, the p-value was 0.003 with a correlation coefficient of -0.212. This shows that there is a relationship between emotional intelligence and aggressive behavior. The higher a person's emotional intelligence, the lower level of aggressive behavior. It means That Emotional Intelligence gave an effect on aggressive behavior, but only a low effect.
Emotional Intelligence on Peer Conformity in Late Adolescence
Endang Mei Yunalia;
Arif Nurma Etika
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2020): November
Publisher : Universitas STRADA Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30994/sjik.v9i2.502
Self-identity development in adolescents marked by the joining of youth in peer groups that can foster peer conformity. Emotional intelligence is needed by adolescents so that adolescents can avoid negative conformity. The aims of this research is analyze the correlation between emotional intelligence and peer conformity in late adolescence. This correlational analytic study was conducted on 191 respondents at “X” University who were selected using simple random sampling technique. The emotional intelligence was measured using a questionnaire that adapted Goleman's theory, while peer conformity was measured using a peer conformity questionnaire. Emotional intelligence and peer conformity data were analyzed using Spearman Rank test. Spearman Rank test showed p value 0.001 <α (0.005), r value = -0.245, so there is a correlation between emotional intelligence and peer conformity in adolescents with a negative correlation. That is, the higher level of adolescent emotional intelligence results in lower conformity with peers.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN ADL (ACTIVITY DAILY LIVING) PADA LANSIA THE CORRELATION BETWEEN FAMILY SUPPORT AND ELDERLY DAILY LIVING ACTIVITIES INDEPENDENCES
Yunalia, Endang Mei
Journal of Nursing Care and Biomolecular Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : STIKes Maharani Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32700/jnc.v1i1.6
Usia lanjut merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia, yaitu bagian dari proses kehidupan yang akan dialami oleh setiap individu. Lansia mengalami berbagai macam perubahan diantaranya perubahan fisik dan psikologis. Hal tersebut membuat lansia mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari – hari sehingga dukungan keluarga sangat dibutuhkan lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian ADL pada lansia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner kemandirian ADL (Indeks Barthel). Berdasarkan uji korelasi Spearman Rank (Rho) diperoleh p value 0,018, sehingga p < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian ADL (activity daily living) pada lansia. Dari penelitian ini diharapkan keluarga lebih berperan aktif dalam mendukung aktivitas sehari – hari pada lansia sehingga lansia lebih mandiri dalam menjalankan kelangsungan hidupnya sehari – hari.
Perbedaan Efektivitas antara Terapi ROM Aktif dan Pasif terhadap Nilai ABI (Ankle Brachial Index) pada Penderita Neuropati Diabetik
Ramayanti, Eva Dwi;
Yunalia, Endang Mei;
Susmiati, Susmiati;
Karingga, Devangga Darma
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 15 No 3 (2025): Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang dapat menimbulkan Peripheral Artery Disease (PAD). Untuk mendeteksi PAD pada penderita DM tipe 2 dilakukan pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI). Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui perbedaan efektivitas antara ROM aktf dan pasif terhadap nilai ABI pada penderita neuropati diabetik dikelurahan Bujel Kota Kediri tahun 2025. Desain penelitiab pre eksperimen Two group desaign dengan metode pre-post dan post-post test design. Populasi penelitian ini yaitu semua penderita neuropati diabetik di kelurahan Bujel kota kediri sebanyak 46 orang dan jumlah sampel di tiap kelompok sebanyak 23 orang menggunakan total sampling. Intervensi yang diberikan yaitu ROM aktif dan pasif pada ekstremitas sebanyak 1 kali setiap hari, selama 2 minggu. Data dikumpulkan dengan mengukur nilai ABI diawal terapi sebagai pre test dan menilai nilai ABI setelah terapi selama 2 minggu sebagai post test. Uji statistik yang digunakan Wilcoxon dan Manwhietney. Hasil penelitian menunjukan sebelum diberikan ROM aktif dan sebelum ROM pasief sebagian besar repsonden mempunyai nilai Abi pada rentang onstruktif ringan sedangkan setelah diberikan terapi ROM kedua kelompok mempunyai ABI normal. Kesimpulan dalam penelitian ini ada pengaruh pemberian terapi ROM baik aktif maupun pasif terhadap nilai ABI pada penderita neuropati diabetik di kelurahan Bujel Kota kediri tahun 2025. Ada perbedaaan efektiviats antara nilai ABI setelah diberikan Rom aktif dan ROM pasif. Responden dengan terapi ROM aktif lebih signifikan mengalami perbaikan nilai ABI daripada responden dengan terapi ROM Pasif. Pada ROM aktif penderita DM bsia lebih leluasa melakukan ROM secara efektif dan efesien sehingga perfusi pada ektrmitas bisa meningkat dimana nilai ABI akan cendering lebih baik.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS BERMAIN GAME ONLINE DENGAN KEJADIAN INSOMNIA DAN STRES PADA MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK DI UNIVERSITAS KADIRI TAHUN 2019
Ula, wiwit Ruhailatul;
nr, kun ika;
yunalia, endang mei
Jurnal Mahasiswa Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Universitas Kadiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30737/jumakes.v1i1.455
Correlation between the intensity of playing online games with insomnia incidence and stress in the Faculty of Engineering students at the University of Kadiri in 2019.Insomnia is a difficulty starting to maintain sleep, while stress is a feeling of tension and pressure. Most of the Faculty of Engineering students at the University of Kadiri play online games until they forget their time so they have an impact on insomnia and stress. This study is aiming to find out the correlation between playing online games with insomnia incidence and stress in the Engineering Faculty students at the University of Kadiri in 2019. This study included correlational analytic research with a cross sectional approach. The population of this study was the 5th semester students of the Faculty of Engineering at Kadiri University with a total of 56 with a sample of 48 students. The sampling technique using the simple random sampling method. Data analysis techniques use the spearman rank test with sig α = 0.05. Based on the results of the spearman rank test on variable relationship intensity of playing online games with the incidence of insomnia obtained p-value 0,000 and the correlation coefficient of r = 0.771 can be concluded Ho rejected H1 accepted, that means there is a correlation between playing online game with insomnia incidence in the Faculty of Engineering students at the University of Kadiri in 2019. With the intensity of a strong correlation and the results of the spearman rank test on the correlation variable intensity of playing online games with the occurrence of stress, obtained p-value 0,000 smaller than α = 0.05 and correlation coeffitien of r = 0.811 can be concluded Ho rejected H1 accepted, that means there is a correlation between playing online games with stressful incidence among students of the Faculty of Engineering at the University of Kadiri in 2019 with a very strong correlation strength. The higher the intensity of playing online games, the higher the incidence of insomnia and stress experienced. It is recommended for students to be able to control the durration of playing online games so as not to experience addiction which can cause students to go through the incidence of insomnia and stress.  Keywords: intensity of playing online game, insomnia, stress, students.Â
PENGARUH PELATIHAN MENGGOSOK GIGI DENGAN METODE STORYTELLING TERHADAP KEMAMPUAN MENGGOSOK GIGI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH
Meto, Meto;
Anugraheni, Ifana;
Yunalia, Endang Mei
Jurnal Mahasiswa Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Kadiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30737/jumakes.v2i1.1272
Ketrampilan menggosok gigi pada anak usia prasekolah perlu dilatih agar anak memiliki ketrampilan menggosok gigi, salah satu cara yang dapat digunakan adalah menggosok gigi dengan metode bercerita. Hasil survey awal yang dilakukan menunjukkan masih rendahnya ketrampilan menggosok gigi anak prasekolah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan menggosok gigi menggunakan metode storytelling terhadap kemampuan menggosok gigi pada anak praskolah. Penelitian Pre Eksperimen ini menggunakan rancangan One Group Pretest dan Posttest dengan jumlah sampel 70 responden yang dipilih dengan metode Purposive Sampling. Hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Wilcoxon menunjukkan p-value = 0,000 (α ≤ 0,05), artinya ada pengaruh pelatihan menggosok gigi dengan metode story telling terhadap ketrampilan menggosok gigi pada anak usia prasekolah. Melatih anak usia prsekolah dalam menggosok gigi menggunakan metode bercerita ini sesuai untuk diterapkan pada anak usia prasekolah karena dengan metode bercerita pesan yang disampaikan lebih mudah diterima oleh anak. Kata kunci— Pelatihan menggosok gigi, Prasekolah, Storytelling
Efektifitas Pemberian Terapi Senam Otak Terhadap Tingkat Demensia Pada Pra Lansia Usia 45-59 Tahun
Devi, Yustika Kusuma;
Rahmayanti, Eva Dwi;
Yunalia, Endang Mei
Jurnal Mahasiswa Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Kadiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30737/jumakes.v6i2.6497
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia di atas 60 tahun. Pada tahap ini manusia mengalami perubahan fungsi tubuh akan rentan mengalami Demensia. Demensia adalah penyakit degeneratif akibat kematian sel yang meliputi kemunduran daya ingat dan proses berpikir. Salah satu cara penanganan Demensia adalah aktivitas fisik dengan senam otak. Senam otak adalah latihan berbasis gerakan tubuh sederhana yang dapat dilakukan dinama saja dan kapan saja. Desain penelitian ini menggunakan pre-experiment dengan metode one group pre-test post-test design. Populasi penelitian ini adalah seluruh pra lansia umur 45-59 tahun. teknik sampling menggunakan probability sampling dengan cara simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian dengan uji statistik yang diperoleh adalah nilai p 0,025 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa H₀ ditolak H₁ diterima yaitu menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian terapi senam otak terhadap tingkat Demensia pada pra lansia di Desa Nglongsor Kabupaten Trenggalek Tahun 2024. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pra lansia dapat melakukan terapi senam otak sebagai langkah pencegahan terjadinya Demensia dimasa lansia.