Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Two Face Personality in Identity Falsification and Catfishing Behavior on Online Dating Tinder Kristy, Amelya; Krisdinanto, Nanang; Akhsaniyah, Akhsaniyah
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol 7, No 1 (2023): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v7i1.26102

Abstract

This research stems from using online dating, originally used to make it easier for users to find friends, relationships, or partners. However, online dating is often used to practice catfishing or identity fraud. This phenomenon arises as an implication of the ease of creating more than one personal account, which is used as a reflection of the identity that the perpetrator wants to display. This topic is related to the theme of computer-mediated communication (CMC), which allows individuals to communicate asynchronously, which makes it easier for perpetrators to find victims. This research aims to find out the experiences of catfishing perpetrators and how they interpret the experience of doing so. This research uses the phenomenological method, where each informant constructs meaning through their intersubjective side. Data collection techniques were conducted through in-depth interviews to obtain results from a first-person perspective. The results of this research describe the experience of catfishing perpetrators interacting and finding victims in online dating applications. In addition, the research also found that the perpetrators interpreted their catfishing practice not only as the fulfillment of sexual desires but also as the fulfillment of desires that are not in the real world (wanting to be praised, recognized, and have a sense of pride). The experiences and meanings of the research subjects reflect modernity and the fulfillment of sexual desires online. Unlike several previous studies, this phenomenological research can see the depth of the essence of catfishing behavior because it uses original data extracted from the perpetrator’s experience (first party).
Momen Kritis Jurnalisme: Problematika Media Sosial dan Disiplin Verifikasi di Jawa Timur: Journalisms Critical Moment: When Journalism Depends on Social Media and Loses the Discipline of Verification Maria Barbara Apul, Merlina; Krisdinanto, Nanang
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 8 No. 2 (2023): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v8i2.10542

Abstract

Pandemi Covid-19 memunculkan situasi yang disebut momen kritis jurnalisme yang bisadilihat dalam lima hal, yaitu titik balik, transformasi, titik awal, akselerasi, dan penghancuran. Padasaat yang sama, perkembangan media sosial yang menjadi kian esensial dalam proses produksiberita atau praktik jurnalistik. Kedua hal ini memunculkan problem yang kompleks dalam prosesproduksi berita, terutama terkait dengan disiplin verifikasi dan posisi media sosial. Penelitian inibertujuan untuk menguraikan pergulatan atau problematika yang dialami jurnalis Surabaya dalammemproduksi berita pada situasi pandemi. Metode yang digunakan adalah studi kasus, dan datadikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta kajian literatur. Temuan penelitian inimerefleksikan terjadinya pergulatan yang dialami jurnalis dalam menjalankan praktik jurnalistikprofesionalnya pada masa pandemi. Momen kritis jurnalisme yang ditimbulkan oleh pandemisemakin mengakselerasi penggunaan media sosial dalam praktik jurnalistik hingga pada tarafketergantungan. Ketergantungan ini menjadi problem dalam jurnalisme mengingat informasimedia sosial yang dijadikan sumber berita merupakan hasil produksi warga yang tidak memilikikompetensi profesional dalam jurnalisme. Selain itu, pandemi juga mengakibatkan terjadinyamomen kritis jurnalisme yang bersifat titik balik (turning point) berupa pengabaian terhadap berbagaiaspek rutinitas di lapangan, atau proses reportase yang dilakukan jurnalis digital di lapanganterutama terkait disiplin verifikasi.
Produksi Video Profil Campus Ministry untuk Memecahkan Problem Komunikasi di Masa Pandemi Covid-19 Krisdinanto, Nanang; Chandra, Christopher
Artinara Vol 1 No 2 (2022): Jurnal Artinara Juni 2022
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/art.v1i02.47

Abstract

Datangnya pandemi Covid-19 membuat Campus Ministry Universitas Kampus Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memiliki problem komunikasi terhadap segenap warga kampus yang dilayaninya. Padahal, keberadaan Campus Ministry sebagai salah satu unit layanan di kampus UKWMS amat penting, karena unit ini bertugas melayani warga kampus di bidang kerohanian atau keagamaan. Selama ini, Campus Ministry belum memiliki sarana komunikasi yang bisa disebarkan secara digital sebagai salah satu solusi komunikasi di masa pandemi. Karena itu, program pengabdian masyarakat ini bertujuan mengajak Campus Ministry sebagai mitra untuk memproduksi video profil untuk dijadikan sebagai media komunikasi dan promosi di masa pandemi. Kegiatan ini selama empat bulan (September – Desember 2021) dengan melibatkan Tim Abdimas (yang terdiri atas dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS) bersama tim dari Campus Ministry sebagai mitra. Program ini dijalankan melalui empat tahapan, yaitu pra-produksi, produksi, pasca-produksi, dan evaluasi. Luaran yang dihasilkan adalah video profil Campus Ministry yang bisa digunakan sebagai media komunikasi dan promosi yang disebarkan melalui media sosial seperti Instagram, Youtube, maupun Facebook. Melalui program ini, Campus Ministry mendapatkan solusi atas problem komunikasi atau promosi yang dlalami selama masa pandemi. Kata Kunci: Video Profil, Campus Ministry, Problem Komunikasi, Pandemi.
Bourdieu dan Perspektif Alternatif Kajian Jurnalistik Nanang Krisdinanto
Jurnal Kawistara Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.75088

Abstract

Naskah ini merupakan literature review yang mengelaborasi pikiran Pierre Bourdieu tentang jurnalisme yang dapat digunakan sebagai perspektif alternatif dalam memahami dinamika praktik jurnalistik. Ada dua hal yang membuat pikiran Bourdieu menarik dan penting untuk dikaji dalam konteks jurnalistik. Pertama, perspektif Bourdieu masih jarang digunakan untuk memahami, mengutai, atau menginvestigasi dinamika yang terjadi dalam praktik jurnalistik. Padahal, konsep-konsep kunci seperti arena, habitus, dan modal dapat digunakan untuk menyingkap berbagai dinamika yang terjadi di dalam praktik jurnalistik. Kedua, orientasi teoritik Bourdieu mampu membuka ruang untuk memahami praktik jurnalistik tanpa harus terjebak ke dalam dikotomi perspektif yang kaku di antara perspektif ekonomi politik/organisasional/budaya dan perspektif cultural studies. Konsep kunci Bourdieu dapat digunakan untuk mengungkap kompleksitas praktik jurnalistik yang diabaikan masing-masing perspektif. Konsep kunci Bourdieu juga dapat membuat peneliti terhindar dari bahaya mereduksi praktik jurnalistik menjadi hanya sekadar proses makro (seperti politik, ekonomi, atau budaya yang berbasis struktur sosial objektif), atau sebaliknya hanya sebatas proses mikro (yang berbasis kebebasan atau kreativitas subjek). Dengan kata lain, konsep kunci Bourdieu digunakan sebagai alat analisis yang mampu mengkoneksikan dinamika praktik jurnalistik dengan struktur politik, ekonomi, sosial, atau budaya yang melingkupinya
Impact of Communication Technology on Student Behavior During Lectures Rachmat Kriyantono; Reza Safitri; Noveria Anggraeni Fiaji; Wisnu Wijanarko; Nanang Krisdinanto; Rohmah Nia Chandra Sari; Monica Trivena Nainggolan; Muhammad Hafidz Daros Airlangga; Atma Amanda Putri
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 21 No. 2 (2024)
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jik.v21i2.7634

Abstract

Technological advancements have impacted education, influencing student behavior across different eras—1990s, 2000s, and today. This survey-based research uses conventional sampling techniques and supports the theory of technological determinism, showing how communication technology affects behavior, thought patterns, and social interactions. Face-to-face communication has largely been replaced by online interactions. The study finds that chatting remains a common activity while waiting for lecturers, and highlights a decline in reading habits. Instead, frequent use of mobile phone has become prevalent. The research underscores how technology reshapes both learning environments and student habits.
RUNTUHNYA EKSKLUSIVITAS PEMBERITAAN: KAJIAN TERHADAP MOMEN KRITIS JURNALISME PADA MASA PANDEMI COVID-19 Krisdinanto, Nanang; Apul, Merlina Maria Barbara
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 13, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Master of Communication Science Program, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/interaksi.13.2.263-281

Abstract

The Covid-19 pandemic created a critical moment in journalism that changed the journalistic production process and forced journalists to adapt their professional journalistic practices. On the other hand, the pandemic emerged when journalism transformed towards digital platforms that changed journalistic practices to be influenced by social media. This research looks at how journalists struggle to adapt their professional journalistic practices to digital challenges and the Covid-19 pandemic. This research uses a qualitative approach, case study method, and data collection techniques in the form of in-depth interviews and observations of online media journalists in Surabaya. The research findings show that the pandemic creates a critical moment of journalism in the form of destruction or accelerated destruction of the value of news exclusivity that has long prevailed in journalistic practice. This happened due to internal pressure from the editorial team, limited coverage mobility during the pandemic, and the development of digital applications making journalists carry out the practice of sharing news or information through digital groups.
Media masih Pilar Demokrasi? Hartiana, Theresia Intan Putri; Lapalelo, Putra Aditya; Krisdinanto, Nanang
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 14 No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v14i1.9617

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi kecurigaan atas perubahan rutinitas dan praktik kerja jurnalistik sebagai akibat dari perubahan teknologi, disrupsi informasi, kemerosotan ekonomi, dan praktik politik-ekonomi media, yang mungkin mempengaruhi peran media sebagai alat kontrol demokrasi. Penelitian ini ingin melihat apakah faktor-faktor pelemahan kerja jurnalistik tersebut mempengaruhi kualitas isi berita media saat proses peliputan berita yang ada hubungannya dengan demokrasi dan kepentingan rakyat. Apa lagi selama ini perspektif jurnalistik menekankan bahwa alat pembingkaian berita milik media harus dijalankan guna tujuan kepentingan umum dan menjaga pilar demokrasi. Mengambil kasus pemberitaan “Pernyataan Sikap Civitas Akademik Jawa Timur tentang Pemilu 2024 oleh 3 portal berita, Jawa Pos, Kompas, dan Detik”, dan menggunakan model bingkai Entman, penelitian ini diharapkan bisa memberi gambaran apakah media masih menjalankan perannya sebagai alat kontrol demokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga media masih meletakkan komponen pembingkaian masing-masing untuk menunjang proses demokrasi, melalui bingkai demokrasi jujur dan adil. Namun peran kontrol demokrasi ini masih sangat berkaitan erat dengan praktik ekonomi-politik media.
Anomali dan teori hirarki pengaruh terhadap isi media Nanang Krisdinanto
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i1.1243

Abstract

Teori hirarki pengaruh terhadap isi media dikenalkan oleh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, yang menjelaskan pengaruh internal dan eksternal media terhadap isi pemberitaan.2 Keduanya membagi pengaruh tersebut ke dalam lima level, yaitu pengaruh individu pekerja media (individual level), rutinitas media (media routines level), organisasi media (organizational level), luar media (extramedia level), dan ideologi (ideology level). Teori ini menjadi penting dalam studi media karena isi media diasumsikan memiliki implikasi penting dalam perubahan sosial. Teori ini juga menarik karena menawarkan perspektif alternatif dalam memahami isi media, yang sebelumnya lebih sering dilihat sebagai sesuatu yang netral dalam melaporkan realitas, atau setidaknya dianggap menyajikan representasi yang fair tentang realitas (tanpa distorsi atau setidaknya dengan distorsi minimal). Dalam perspektif ini, media diasumsikan pasif, sekadar medium (media as channels), yang hanya menyampaikan realitas apa adanya, bertumpu pada konsep-konsep positivistik seperti objektivitas, dan tidak membawa dampak pada perubahan sosial. Sebaliknya, Shoemaker dan Reece berangkat dari asumsi media berperan aktif membentuk realitas, media as participants, bahwa media tidak netral bahkan bisa memanipulasi realitas melalui penekanan atau penghilangan elemen-elemen tertentu dari realitas, dan memosisikan media massa sebagai agen perubahan sosial. Dengan asumsi ini, Shoemaker-Reece membawa teorinya sebagai alternatif atau bahkan kritik terhadap teori-teori media (jurnalistik) mainstream yang cenderung posivistik. Mengikuti kerangka berpikir Thomas Kuhn, teori ini bisa disebut sebagai jawaban atas terjadinya ”anomali” ketika teori (jurnalistik, komunikasi massa) lama yang positivistik tidak mampu lagi menjelaskan gejala/fenomena.
Implementasi Share dan Rating Sebagai Dasar Kebijakan Pemrograman Yuk Keep Smile (YKS) Trans TV Kanthy Mayangsari; Nanang Krisdinanto; Finsensius Yuli Purnama
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i2.1392

Abstract

Aplikasi pemograman di Trans TV yang didasarkan oleh nilai rating dan share nampak dalam pemograman Yuk Keep Smile (YKS). Hal itu terlihat pada signifikansi yang tinggi pada hubungan antar rating dan share dengan perpanjangan penayangan dan durasi yang ditambah. Dengan menggunakan metode studi kasus, peneliti ingin mengetahui implementasi share dan rating sebagai dasar kebijakan pemrograman Yuk Keep Smile (YKS) Trans TV. Dalam penelitian ini, ditemukan adanya interaksi televisi, audience dan pengiklan yang saling tarik menarik dalam menjalankan masing-masing fungsinya. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa nilai rating dan share bukan satu-satunya poin yang dipertimbangkan dalam pemutusan suatu program, akan tetapi banyak poin penting lainnya antara lain adalah nilai jual program tersebut, kebijakan KPI, penerimaan masyarakat, trend di masyarakat, kebijakan dari manajemen Trans TV. Selain itu, apabila rating dan share menjadi dasar kebijakan pemograman yang berorientasi pada keuntungan. Maka akan cenderung mengabaikan fungsi media dan fungsi sosial sebagai pengguna ranah publik. Sehingga penyusunan pemograman yang dibuat oleh Trans TV ini selain mengabaikan fungsi televisi sebagai media massa juga berdampak pula pada P3 dan SPS yang dikeluarkan pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berupa teguran tertulis
Kampanye Berujung Paradoks (Bias Gender dalam Corporate Advertising I#Lovelife Karena Aku Perempuan Indonesia) Vergiana Lestari; Yuli Nugraheni; Nanang Krisdinanto
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2019)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v8i1.1944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya paradoks yang terdapat pada corporate advertising PT. Astra Aviva Life. Peneliti menggunakan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengkaji tanda-tanda bias gender pada corporate advertising PT. Astra Aviva Life yang mengusung tema emansipasi. Melalui analisis semiotika Charles Sanders Peirce, peneliti menemukan adanya paradoks. Di satu sisi, perusahaan mengadakan kampanye dengan mengajak perempuan untuk menerapkan apa yang disebut PT. Astra Life sebagai emansipasi modern. Namun di sisi lain, perusahaan kembali menarik kembali perempuan kr dalam permasalahan domestik (domestifikasi), glass ceiling, subordinasi, dan stereotype. Perempuan digambarkan selalu berada dalam wilayah domestik dan terlihat lemah, namun tidak berlaku bagi laki-laki yang bertolak belakang dengan sifat stereotip yang ada pada perempuan. Perempuan juga terlihat kembali digambarkan dengan kecantikan fisiknya menggunakan riasan wajah, tetapi tidak dengan laki-laki yang tidak mengutamakan penampilan. Corporate advertising I#LoveLife Karena Aku Perempuan Indonesia berisikan ketidaksesuaian pesan antara nilai perusahaan dan brand image-nya (Love Li, yaitu Respect. Pada akhirnya, konten dalam iklan perusahaan tersebut dapat mendistorsi upaya perusahaan dalam memperoleh brand image yang mengajak perempuan untuk menerapkan apa yang disebut PT. Astra Life sebagai emansipasi modern.