Articles
KAJIAN TERHADAP EKSPRESI BENTUK ARSITEKTUR VERNAKULAR BENGKULU MASJID AGUNG DI PROVINSI BENGKULU
Ceuta Wulandari;
Agus Budi Purnomo;
Moh. Ali Topan
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.3370
Arsitektur Vernakular adalah arsitektur yang terbentuk dari kebiasaan masyarakat. Dan banyak dilihat pada bangunan rumah tinggal, sehingga muncul pertanyaan mengenai ekspresi bentuk arsitektur vernakular yang terbentuk pada bangunan public seperti masjid. Tujuan penelitian untuk mengetahui ekspresi bentuk arsitektur vernakular Bengkulu pada bangunan Masjid. Metode peneltian yang digunakan adalah metode Deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi kasus dan studi literatur.Selanjutnya untuk mengungkap ekspresi bentuk vernakular yang terbentuk pada Masjid Agung dilakukan melalui analisa elemen dari tiap bangunan masjid yang ada. Penelitian ini menghasilkan bahwa ekspresi bentuk vernakular yang ada pada masjid di Bengkulu terlihat pada bentuk bangunan, bentuk atap, dan pintu masuk masjid.
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH REJANG LEBONG PADA BANGUNAN MASJID DI BENGKULU
Idfi Febianita Hanan;
Agus Budi Purnomo;
Nuzuliar Nuzuliar
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.3418
Masyarakat provinsi Bengkulu mayoritas beragama islam, sehingga jumlah bangunan ibadahnya cukup banyak, hal ini menimbulkan kekhawatiran pada aspek kearifan local setempat, yang tidak lagi di terapkan. sehingga penelitian ini bertujuan untuk melestarikan kearifan local pada bangunan masjid dengan menggunakan metode kualitatif. pembahasan ini menggunakan tiga bangunan masjid yang ada di Bengkulu yaitu masjid jamik, Masjid Baitul Izzah dan Masjid Sultan Abdullah. Hasil pembahasan yang didapat adalah masjid jamik memiliki seluruh aspek yang terapkan pada bangunan yaitu berupa atap, bukaan depan, dan ornament bangunan. Sedangkan masjid Baitul Izzah tidak memenuhi aspek tradisional pada bangunannya, dan Masjid Sultan Abdulan pada bagian atapnya tidak memenuhi aspek tradisional. Tetapi pada bagian depan bangunan dan ornament yang digunakan mampu memenuhi aspek arsitektur tradisional rumah rejang yang menjadi acuan pada penelitian ini.
KONSERVASI ENERGI TERMAL DI DAERAH IKLIM TROPIS LEMBAB STUDI KASUS: GEDUNG C KAMPUS A, UNIVERSITAS TRISAKTI
Lili Kusumawati M;
Erni Setyowati;
Agus Budi Purnomo
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.3448
Bangunan di pusat kota memberikan permukaan memantulkan dan menyerap radiasi panas matahari, yang berdampak pada peningkatan panas terhadap lingkungan yang beriklim tropis sehingga menambah kebutuhan untuk mendinginkan ruang dalam gedung. Apabila ventilasi alam tidak mencukupi maka dibutuhkan penghawaan buatan untuk mendinginkan ruangan supaya nyaman bagi penghuni gedung, berarti menambah biaya yang harus dikeluarkan untuk AC supaya nyaman beraktifitas.Tulisan ini sebagai studi awal penelitian yang mengangkat masalah pengaruh iklim tropis terhadap selubung bangunan dengan batasan penelitian salah satu aspek dari iklim yaitu cahaya matahari, studi kasus pada Gedung C kampus A Universitas Trisakti Grogol Jakarta. GedungC diambil untuk mewakili blok bangunan yang ada di Kampus A.Penelitian dilakukan dengan studi pustaka yang berkaitan dengan iklim dan sinar matahari kemudian berlanjut dengan studi kasus dengan meninjau posisi dan bentuk masa, pembayangan yang mengurangi cahaya matahari serta lingkungan sekitar gedung. Tujuan dan manfaat penulisan ini untuk membuktikan bahwa selubung dan posisi bangunan sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari, serta mengetahui nilai perpindahan panas pada gedung berdasarkan pada SNI 6389-2011, melalui rumus OTTV. Dari hasil perhitungan, maka diperlukan disain yang tepat pada bentuk dan jenis selubung, dan perlunya mempertimbangkan penggunanan material yang tepat untuk mendapatkan nilai transfer panas kedalam bangunan agar membantu meminimalkan kebutuhan energi pengkondisian udara buatan.
KRITERIA DESAIN TAMPAK GEDUNG REKTORAT BINA NUSANTARA TERHADAP PREFERENSI SIVITAS AKADEMIK
Rivanus Dewanto;
Agus Budi Purnomo
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2019 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.5719
Tampak bangunan merupakan salah satu komponen arsitektur yang sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap desain bangunan secara keseluruhan. Dari beberapa fenomena yang terjadi dewasa ini banyak desain tampak bangunan dibuat tidak didasari dari apa yang dibutuhkan oleh pengguna bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah variable variable arsitektur yang dipakai sebagai acuan dalam mendesain tampak bangunan rektorat bina nusantara dapat mempengaruhi preferensi penilaian dari pengguna bangunan atau sebaliknya, terdapat beberapa desain tampak bangunan rektorat yang dibuat terlebih dahulu untuk dipakai sebagai alat ukur yang didasarkan dari paradigma arsitektur seperti bentuk, warna, material dan identitas. Penerapan metodologi yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan survey preferensi untuk hal “indah” dan “senang” kepada beberapa responden yang mana dalam hal ini representasi responden adalah semua pengguna bangunan didalam sivitas akademik bangunan tersebut. Goals yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui variable variable arsitektur apa saja yang paling kuat dan berpengaruh dalam penilaian preferensi pengguna.
OPTIMALISASI PENERAPAN EFESIENSI ENERGI PADA FASAD PERPUSTAKAAN NASIONAL
Syakura Alhamnovanda;
Agus Budi Purnomo;
Jimmy Siswanto
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2019 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.5720
Energi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi energi. Perpustakaan merupakan bangunan publik untuk mencari informasi, dimana penggunaan listrik pada hal ini sangat di perhatikan untuk operasional peralatan, pengkondisian ruang dan terutama pada keperluan penerangan. Sehingga perencanaan pembangunan perpustakaan harus cermat terutama dalam fasad bangunan. Bangunan perpustakaan memiliki tuntutan yang tinggi terhadap efisiensi energi dengan tetap memperhatikan kenyamanan termal dan kelayakan. Fasad merupakan elemen terluar pada bangunan. Dalam penghematan energi yang menyangkut fasad, selubung bangunan, bukaan, teksture bangunan dan orientasi bangunan berkaitan erat terhadap efisiensi energi. Dengan menerapkan fasad yang berpengaruh pada efisiensi energi akan mempengaruhi pula pada produktivitas pengguna gedung dan daya energi yang digunakan dalam gedung.
TEORI PENDEKATAN PUITIS DALAM PERANCANGAN RUANG IBADAH
Adizar Yudha;
Agus Budi Purnomo;
Mohammad Ali Topan
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2019 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/semnas.v0i0.5749
Dalam melaksanakan ibadah dan agar ibadah tersebut diterima oleh Allah SVVTumat muslim hams mencapai suatu kekhusyu'an, untuk mencapai kekhusyu'anini diperlukannya ketenangan dan kenyamanan seseorang dalam menjalankanibadah. Oleh karena itu, ruang-ruang yang terdapat di dalam masjid yangdiperuntukkan untuk beribadah harus dapat membentuk kesan tenang dannyaman yang dapat diciptakan melalui pendekatan puitis.Teori yang akan dikajiyaitu teori — teori yang berhubungan dengan aspek kenyamanan visualseseorang dalam suatu ruang, kriteria kekhusyu'an dalam melaksanakan ibadah,dan aspek pendekatan puitis dalam arsitektur. Metode yang dipakai dalam studiini adalah metode komparatif dengan mengumpulkan, menganalisa, danmenghubungkan teori — teori mengenai pendekatan puitis dan kenyamananvisual seseorang dalam suatu ruang lalu dibandingkan dengan studi — studipreseden. Hasil studi menunjukan kenyamanan_ visual yang tercipta daripendekatan puitis memptewai irama bukaan yang penempatannya ada padabagian atas-bawah serta dári besar kecilnya bukaan. Rima bukaan yang berasal dan pengulangan bentuk bukaan dan dimensi bukaan kecil-besar-kecil dan rima bukaan yang datang dan i atas-bawah. Dengan kedua aspek irama dan rima ini yang berorientasi pada side multirateral lighting dan tcp lighting, maka pemakai ruang yang pada hukumnya harus beribadah berorientasi kearah bawahdiharapkan dapat fokus, lalu menciptakan suatu kekhusyu'an karena cahayadatang dan i samping dan dan i atas dengan intensitas yang tidak tinggi namuntetap mendapatkan kualitas pencahayaan ruang ibadah yang baik.
IMPLEMENTASI KEARIFAN LOKAL PADA ATAP BANGUNAN KOMERSIAL HOTEL DI KOTA CIREBON
Agus Saladin;
Agus Budi Purnomo;
Sri Tundono
Prosiding Seminar Nasional Pakar Prosiding Seminar Nasional Pakar 2018 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/pakar.v0i0.2624
Arsitektur tradisional merupakan perwujudan dari kearifan lokal masyarakatnya.Namun demikian, kearifan lokal ini secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan.Penelitian ini bertujuan untuk memahami kearifan lokal pada arsitektur tradisional,dan implementasinya pada bangunan-bangunan modern masa kini. Metodepenelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode pengumpulan datadilakukan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, dan wawancara. Metodeanalisis menggunakan metode deskriptif interpretif, dengan melakukan deskripsiserta interpretasi mengenai implementasi kearifan lokal pada wujud fisik arsitektur.
PENATAAN EFISIENSI SIRKULASI RUANG DALAM DAN RUANG LUAR UNTUK DISABILITAS PADA STASIUN MRT LEBAK BULUS
Filsen Putasix Lase;
Agus Budi Purnomo;
Nuzuliar Nuzuliar
Prosiding Seminar Nasional Pakar Prosiding Seminar Nasional Pakar 2019 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25105/pakar.v0i0.4159
Dalam mencapai kemudahan, kemandirian serta kesejahteraan aksesbilitas bagi penyandang disabilitas sehngga diperlukannya fasilitas berupa aksesbilitas yang sangat memadai, terpadu, dan berkesinambungan. Pentingnya fasilitas untuk aksesbilitas bagi disabilitas terutama pada bangunan pelayanan publik agar dapat mencapai suatu tempat baik didalam maupun diluar bangunan tanpa hambatan dan tidak membuat mereka merasa tersisihkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari fasilitas pada aksesbilitas serta penerapanya bagi pengguna disabilitas khususnya pada Stasiun MRT yang diawali dengan observasi yaitu simulasi keberangkatan dan kedatangan penumpang penyandang disabilitas. Untuk mengetahui cara penerapanya dengan menganalisis hasil dari simulasi yang berupa titik hambatanya.
STUDI WINDOW-TO-WALLRATIO PADA KANTOR PEMERINTAH DI JAKARTA SELATAN
Melisa Imam Dwiana;
Agus Budi Purnomo;
Nuzuliar Rahmah
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Idealog Vol 5 No 1
Publisher : Universitas Telkom
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25124/idealog.v5i1.2749
Government offices are buildings that are expected to be a good example of energy-efficient buildings. Many efforts can be done to save energy, one of them is to pay attention to the design of the facade. Windows as openings in the facade can be arranged so that the sun's heat does not result in an increase of energy to cool the room also reducing the use of lights during the day. One od the aspect that can be used to assess window opening performance is Window-to-Wall Ratio (WWR). The ratio is obtained by dividing the total opening area of the wall using glass by the total surface area of the building envelope. The purpose of this research is to study the value of WWR from government office buildings in South Jakarta. This study use front elevation of 20 government office buildings in South Jakarta as a case study. The results of this study are the average WWR value of government offices which were later compared to the average WWR of similar offices from other literature. From the results of the study, an average WWR value of 24.6% was obtained, which is still in the range of WWR in other studies.Keywords : Energy Saving, Building Envelope, Government Office, Window-to-Wall Ratio (WWR)
PERSEPSI PEJALAN KAKI DENGAN KEBERADAAN PEDESTRIAN DI PATH STUDI KASUS: KAWASAN PASAR MINGGU, JAKARTA
Asri Budiarto;
Nurhikmah Nurhikmah;
Agus Budi Purnomo
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (681.427 KB)
|
DOI: 10.25105/pdk.v4i1.4029
Manusia di dalam ruang kota melakukan pergerakan dan bersirkulasi dari satu ruang kota ke ruang kota lainnya. Manusia menggunakan jalan atau path bergerak menuju tempat tujuannya. Elemen Paths atau jalur jalan adalah salah satu elemen pembentuk kota sebagai jalur sirkulasi manusia dari sebuah ruang kota ke ruang kota lain. Hubungan antar ruang kota dalam konfigurasi spasial bisa dipetakan dalam peta yang menandakan hubungan masing-masing ruang kota tersebut. Penelitian dalam kawasan Pasar Minggu ini dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah jumlah pedestrian mempengaruhi persepsi manusia kepada path. Data penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara singkat kepada pengguna path di kawasan Pasar Minggu. Dalam penelitian ini dihipotesa bahwa di kawasan Pasar Minggu keberadaan pejalan kaki diamati pada path berkorelasi dengan persepsi manusia terhadap ruang tersebut.