Limbah panen kakao berupa kulit buah, daun, dan ranting di perkebunan rakyat umumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan masih sering dibakar atau ditumpuk, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan hilangnya potensi bahan organik tanah. Program pengabdian ini bertujuan memberdayakan petani kakao melalui penerapan inovasi Tabung Pupuk Ramah Lingkungan–Kakao (TAPURALIN-K) berbasis ekonomi sirkular sebagai solusi pengelolaan limbah panen berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Buket Bata, Kabupaten Aceh Timur, dengan melibatkan 50 petani menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi awal, sosialisasi, demonstrasi teknis, praktik mandiri, serta monitoring dan evaluasi. Hasil angket awal menunjukkan hanya 6% petani pernah mengolah limbah kakao, sementara praktik pembakaran masih dominan. Monitoring Oktober–November 2025 menunjukkan perubahan signifikan: 94% petani mempertahankan lubang TAPURALIN-K aktif, 72% rutin memasukkan limbah panen, dan 68% tidak lagi membakar limbah. Hasil ini menunjukkan perubahan perilaku awal petani serta keberlanjutan penerapan inovasi di tingkat petani. Inovasi ini terbukti sederhana, mudah diterapkan, dan berkontribusi terhadap perubahan perilaku, peningkatan kapasitas teknis, serta terbentuknya praktik pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular yang berpotensi direplikasi pada perkebunan rakyat di daerah lain.