Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

POTRET MASYARAKAT NELAYAN PENANGKAP IKAN DI PULAU LIPANG KECAMATAN KENDAHE KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE PROPINSI SULAWESI UTARA Costantein Imanuel Sarapil; Joneidi Tamarol; Eunike Irene Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara geografis, Pulau Lipang berada di 354’29.51” Lintang Utara dan 12523’03.00” Bujur Timur. Sebagian besar penduduk Pulau Lipang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Penelitian ini berupaya untuk memotret kehidupan masyarakat nelayan penangkap ikan di Kampung Lipang melalui pendekatan sosiologis. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dimana metode ini lebih banyak menganalisis permukaan data dan memperhatikan proses – proses kejadian suatu fenomena. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Hubungan sosial yang tinggi bagi nelayan di Pulau Lipang dimana solidaritas yang ditunjukkan saat bergotong-royong, atau saling membantu pada kegiatan sosial lainnya. Kondisi ekonomi nelayan di Pulau Lipang tergolong rendah. Rata – rata pendapatan nelayan setiap kali menangkap ikan yaitu Rp 100.000,-. Tingkat Pendidikan yang masih rendah. Jenis perahu yang digunakan yaitu perahu katir jenis pumpboat. Adanya peran perempuan dalam menopang ekonomi rumah tangga, dimana perempuan melaut dan menjalankan usaha warung/kios. Margin pemasaran (M) untuk ikan Sahamia , , pemasaran untuk ikan dapat dikatakan efisien. Margin pemasaran untuk ikan Tongkol , , maka pemasaran ikan tongkol dapat dikatakan efisien, tapi tidak maksimal. Geographically, Lipang Island is located at 3°54’29.51" North Latitude and 125°23'03.00" East Longitude. Most of the people at Lipang Island live as fishermen. This research seeks to photograph the lives of fishing communities in Lipang island through sociological approach. The research method used is descriptive qualitative where this method analyzes more data and pays attention to the processes of a phenomenon. Data is collected by interview and observation. High social relations for fishermen on Lipang Island where solidarity is shown when working together, or helping each other in other social activities. The economic condition of fishermen on Lipang Island is low. The average income of fishermen is IDR 100,000. Education level is low. The type of boat used is pumpboat. The role of women in sustaining the household economy would be catching fish and selling the fish they caught. Marketing margin (M) for fish stocks are M = 20,000, = 67%, F = 60%, marketing for fish can be said to be efficient. Marketing margin for Tuna are M = 7,500, = 50, F = 50%, then marketing Tongkol can be said to be efficient, but not optimal.
PERBANDINGAN CAHAYA LAMPU BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN CUMI – CUMI (Loligo Sp.) DI PERAIRAN KELURAHAN PANANEKENG KECAMATAN TAHUNA BARAT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Yunikson Palatangara; Mukhlis Abdul Kaim; Costantein Sarapil; Eunike Irene Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 5 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan laut Sulawesi Utara banyak mengandung kekayaan laut yang terdiri dari jenis-jenis ikan dan biota laut lainnya yang mempunyai nilai ekonomis penting baik untuk pasaran lokal maupun ekspor. Salah satu jenis-jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis penting yang ada di perairan Sulawesi utara adalah cumi-cumi (Loligo Sp.). Potensi cumi-cumi di perairan Sulawesi terlebih khusus di perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe sangat besar. Di Kelurahan Pananekeng masyarakat nelayan penangkap cumi-cumi dalam melakukan operasi penangkapan menggunakan kombinasi lampu warna hijau dan biru. Hal ini mendasari peneliti untuk mengetahui kombinasi warna yang efektif untuk mendapatkan hasil tangkapan cumi-cumi. Metode praktek yang digunakan secara deskriptif kualitatif yaitu pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dokumentasi dan diskusi. Pada pendekatan ini, peneliti memuat suatu gambaran yang kompleks. Metode perbandingan merupakan suatu metode pengkajian atau penyelidikan dengan mengadakan perbandingan di antara dua objek kajian atau lebih untuk menambah dan memperdalam pengetahuan tentang objek yang dikaji. Hasil tangkapan yang diperoleh selama operasi penangkapan berjumlah 257 ekor, di mana kombinasi warna cahaya yang paling dominan terhadap hasil tangkapan cumi-cumi adalah kombinasi cahaya warna hijau-biru (51,8%), dibandingkan dengan kombinasi cahaya warna merah-hijau (31,5%) dan merah-biru (16,7%). North Sulawesi's marine waters contain a lot of marine wealth consisting of species of fish that have important economic value both for local and export markets. One of the most economically important type of fish in the waters of North Sulawesi is squid (Loligo sp.). The potential of squid in the waters of Sulawesi especially in the waters of the Sangihe Islands Regency is very large. In Pananekeng Village, squid fishing communities use a combination of green and blue lights so that this becomes the basis of research to find out effective color combinations to get squid catches. The practice method used is descriptive qualitative data collection such as interviews, observation, documentation and discussion. In this approach, researchers carry a complex picture. Comparison method is a method of study or investigation by making comparisons between two or more objects of study to add and deepen knowledge about the object being studied. The result of the catch are 275 squids, the dominant of the lamp’s colors are mixing blue and green color for the outcome of the catching. The most dominant color combination of light squid catches is the combination of light green-blue (51.8%), compared to the combination of red-green (31.5%) and red-blue (16.7%) .
KONTRIBUSI PERAN PEREMPUAN PESISIR TERHADAP KEBUTUHAN EKONOMI KELUARGA DI KAMPUNG PETTA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Kumaseh; Ganjar Ndaru Ikhtiagung; Erlin Puspaputri
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i1.368

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi peran perempuan pesisir dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan berapa besar presentase kontribusi perempuan dalam menopang ekonomi keluarga di Kampung Petta Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan yaitu kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra. Karena itu, obervasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya untuk menghimpun data penelitian. Rata - rata keuntungan perempuan pesisir Rp 160.000 / hari, rata - rata pendapatan Rp 2.750.000, serta besar kontribusi perempuan pesisir terhadap kebutuhan ekonomi keluarga yaitu sebesar 46,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa Perempuan pesisir mempunyai peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga di Kampung Petta. Perlu adanya kebijakan Pemerintah yang memberikan peluang bagi para perempuan pesisir untuk mengembangkan usaha mereka dan berkontribusi secara aktif bagi masyarakat. This study aims to determine the contribution of the role of coastal women in fulfilling the economic needs of the family and how much is the percentage in contribution of women in supporting the family economy in Petta Village, Tabukan Utara District, Sangihe Islands Regency. Data collection was carried out by observation, namely human daily activities using the eye senses as their main aid in addition to other senses such as ears, smell, mouth, and skin. Therefore, observation is a person's ability to use his observations through the work of his senses and is assisted by other senses to collect research data. The average profit for coastal women is Rp. 160,000 / day, the average income is Rp. 2,750,000, and the contribution of coastal women to the economic needs of the family is 46,5 %. This shows that coastal women have an important role in fulfill the needs of families in Petta Village. There needs a government policy that provides opportunities for coastal women to develop their businesses and contribute actively to society.
KAJIAN SOSIAL EKONOMI TERHADAP POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM LAUT DAN PESISIR DI PULAU BEBALANG KECAMATAN MANGANITU SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Costantein Imanuel Sarapil; Ganjar Ndaru Ikhtiagung; Erlin Puspaputri
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v6i2.378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan sumber daya alam laut dan pesisir di Pulau Bebalang Kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulawesi Utara. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara dan observasi di tengah masyarakat Pulau Bebalang. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan menggunakan analisis SWOT dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan Pulau Bebalang. Pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan data primer di Kantor Kampung Bebalang, serta kuisioner yang dijalankan untuk 40 orang masyarakat Kampung Bebalang. Pemanfaatan sumber daya alam pesisir dan bawah laut di Pulau Bebalang merupakan gabungan aspek lingkungan, sumber daya manusia, serta faktor sosial ekonomi masyarakat. Potensi wilayah pesisir seperti pantai berpasir, serta potensi bawah laut di Pulau Bebalang seperti kekayaan terumbu karang dan lamun, dapat dikembangkan ke berbagai bidang seperti wisata bahari, tour & travel, konservasi, dan lain sebagainya. Namun, perlu juga memperhatikan adanya ancaman. Rekomendasi strategi untuk pengembangan potensi Pulau Bebalang berada pada kuadaran I artinya Progresif. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi Pulau Bebalang dalam kondisi prima dan mantap sehingga dapat berkembang lebih maju. Kondisi ini memungkinkan dalam peningkatan pendapatan masyarakat sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan. This study aims to examine the potential utilization of marine and coastal natural resources in Bebalang Island, Manganitu Selatan District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province. Data was collected by collecting data directly through interviews and observations in the community of Bebalang Island. The research method used is descriptive qualitative and uses SWOT analysis in making decisions for the development of Bebalang Island. Data were collected by collecting primary data at the Bebalang Village Office, as well as a questionnaire which was run for 40 people from Bebalang Village. The utilization of coastal and underwater natural resources on Bebalang Island is a combination of environmental aspects, human resources, and community socioeconomic factors. The potential of coastal areas such as sandy beaches, as well as the underwater potential of Bebalang Island, such as the richness of coral reefs and seagrass, can be developed into various fields such as marine tourism, tours & travel, conservation, and so on. However, it is also necessary to pay attention to threats. The recommended strategy for developing the potential of Bebalang Island is in the I consciousness, which means Progressive. This shows that the development of Bebalang Island's potential is in a prime and steady condition so that it can develop more advanced. This condition makes it possible to increase people's income while maintaining environmental sustainability.
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN PANCING ULUR DI KAMPUNG KARATUNG II KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Costantein Imanuel Sarapil; Yafet Takasabare
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v7i2.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kampung Karatung II terletak di Kecamatan Manganitu dengan jumlah penduduk 991 jiwa. Pendapatan nelayan di Kampung Karatung II bergantung pada hasil tangkapan. Jenis ikan hasil tangkapan pada umunya yaitu ikan Selar (Selaroides sp.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2020 di perairan Kampung Karatung II Kecamatan Manganitu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi terhadap para nelayan. Pendapatan nelayan pancing ulur di Kampung Karatung II yaitu sebesar Rp 1.250.000,- per bulan. Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Utara No. 330 Tahun 2020, upah minimum Provinsi Sulawesi Utara tahun 2020 Rp 3.310.723,- (tiga juta tiga ratus sepuluh ribu tujuh ratus dua puluh tiga rupiah) setiap bulan, dengan demikian pendapatan nelayan di Kampung Karatung II termasuk dalam kategori rendah. This study aims to determine the income of hand line fishermen in Karatung II Village, Manganitu District of Sangihe Islands Regency. Karatung II Village is located in Manganitu District with population of 991 people. The income of fishermen in Karatung II village depends on the catch. The kind of fish caught is Selar (Selaroides sp.). This research was carried out in September to October 2020 in the waters of Karatung II village, Manganitu District. Data collection techniques were carried out by interviewing and observing the fishermen. The income of hand line fishermen in Karatung II Village is Rp. 1,250,000 per month. Based on the Decree of the Governor of North Sulawesi No. 330 of 2020, the minimum wage of North Sulawesi Province in 2020 was IDR 3,310,723 (three million three hundred ten thousand seven hundred and twenty three rupiahs) every month, and therefore, the income of fishermen in Karatung II Village is categorized as a low income.
IbM Pengenalan Alat Tangkap Bubu Rangka Besi untuk Menangkap Kepiting di Kampung Beeng Mukhlis Abdul Kaim; Joneidi Tamarol; Eunike Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 1 (2017): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.112 KB)

Abstract

Perikanan tangkap adalah usaha perikanan yang paling dominan di Kabupaten Kepulauan Sangihe karena dari total produksi perikanan mencapai 90 persen. Usaha penangkapan kepiting masih menggunakan bubu tradisional yang terbuat dari anyaman bambu di mana dalam waktu tertentu akan cepat rusak dan dapat mengakibatkan lolos/hilangnya hasil tangkapan. Sehingga, perlu dilakukan pengembangan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Sasaran program pengabdian pada masyarakat ini adalah Kelompok Nelayan di Kampung Beeng Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, dimana mereka memiliki tingkat ekonomi yang rendah. Masyarakat mendapatkan 12 unit alat tangkap bubu rangka besi, dimana juga merupakan salah satu bentuk luaran dari kegiatan pengabdian ini. Pusat Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Nusa Utara memiliki staf penyuluh yang sudah memiliki kualifikasi dalam mengembangkan IPTEKS bagi masyarakat khususnya dalam teknologi penangkapan ikan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Kampung Beeng dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut survey, kegiatan pengabdian yang meliputi penyuluhan mengenai cara pembuatan bubu rangka besi, pemasangan dinding bubu, pembuatan mulut bubu dengan menggunakan ember plastik dan pembuatan kantong umpan serta cara pemasangannya (demonstrasi). Penyuluhan mengenai umpan serta cara dan waktu pengoperasian bubu rangka besi. Kegiatan pengabdian diharapkan memberikan wawasan baru bagi para kelompok nelayan Kampung Beeng untuk menangkap kepiting bakau tanpa merusak lingkungan. Dan juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
PKM PERBAIKAN PERAHU PENANGKAP IKAN JULUNG – JULUNG DI KAMPUNG PALARENG KECAMATAN TABUKAN SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Julius F. Wuaten
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 2 (2018): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.618 KB)

Abstract

Kearifan lokal yang ada di Kampung Palareng yaitu kebudayaan menangkap ikan Julung – julung dengan alat tangkap soma giop dan perahu penangkap ikan julung – julung, dimana merupakan penunjang kelangsungan hidup kelompok nelayan yang ada di sana. Kekayaan budaya ini hampir punah karena keterbatasan dana untuk melakukan perbaikan dan perawatan terhadap perahu penangkap ikan julung – julung. Perahu penangkap ikan Julung – julung yang ada di Kampung Palareng sudah usang dan lapuk. Sehingga, perlu untuk melakukan perbaikan perahu penangkap ikan julung – julung. Program PKM di Kampung Palareng diharapkan dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat nelayan yang ada di sana. Serta, dengan adanya perbaikan perahu penangkap ikan julung – julung ini merupakan langkah penguatan kearifan lokal yang hampir punah. Tahapan kegiatan pengabdian pada masyarakat yaitu survey, pengenalan dan sosialisasi tim PKM, pelatihan masyarakat, perbaikan perahu penangkap ikan julung – julung, monitoring dan penguatan kearifan lokal soma giop.
MODIFIKASI ALAT TANGKAP BUBU LOKAL UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN KELOMPOK NELAYAN DI PULAU BEENG LAUT KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 3 (2019): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat tangkap Bubu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Somba bagi masyarakat lokal, merupakan alat tangkap yang sudah cukup lama digunakan oleh kelompok nelayan penangkap ikan di Kampung Beeng Laut. Namun, keterbatasan konstruksi alat tangkap bubu yang terbuat dari anyaman bambu, mendorong Tim Pengabdi untuk memodifikasi alat tangkap tersebut menjadi lebih tahan lama. Sehingga dengan adanya modifikasi alat tangkap Bubu yang menggunakan besi dan tali jaring bahan PE multifilament, selain lebih tahan lama, juga membantu mengurangi biaya dan waktu pembuatan alat tangkap sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan penangkap ikan demersal. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga kelompok nelayan yang menjadi mitra. Mitra diharapkan dapat melakukan penangkapan ikan yang ramah lingkungan dengan menggunakan modifikasi alat tangkap somba. Tim PKM memberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai modifikasi dari alat tangkap somba, serta pelatihan teknik pengoperasiannya. Target luaran yang dihasilkan berupa jurnal ilmiah dan produk alat tangkap somba yang diberikan kepada mitra. Tim PKM juga memberikan penyuluhan tentang ekosistem pesisir dan perencanaan keuangan bagi mitra. Jumlah alat yang diberikan bagi kelompok nelayan yang ada di kampung Beeng Laut yaitu 15 unit bubu, 5 buah cool box, 5 buah kacamata air, dan 3 ujung besi untuk pembuatan alat tangkap Jubi. Hasil yang diperoleh belum maksimal yaitu 1 – 3 ekor ikan per Bubu, karena pengaruh faktor cuaca. Bubu or better known as Somba by the local people in Beeng Laut Island is a fishing gear that has been used by the people for generations. However, bubu made of bamboo is less durable, motivating our community service team (shorthened for team PKM) to modify the traditional fishing gear to last longer in the sea. The modified bubu is made of iron and multifilament polyethylene (PE) ropes. In addition to being more robust in the sea, this type of bubu is cheaper and requires shorter time to build, therefore possibly increasing the local fishermen’s income. This community service aimed to improve the welfare of our local fishermen partner and encouraged them to practice environmentally friendly fishing method by using the modified bubu. Our PKM team mentored and trained the local fishermen on how to modify Somba and equipped them with necessary fishing techniques. Targated outputs of this PKM include one published scientific article and a few somba fishing gears as final products of this community service. The team also introduced the local people to coastal ecosystems and financial planning. Moreover, the team provided fishermen partner with both fishing and auxiliary fishing tools such as fifteen units of Bubu, each five pieces of cool box and goggle and three iron rods for spears. Unfortunately, during tryout of the modified bubu, the fishermen caught only 1-3 fish due to wheather.
The Socio-economic Conditions of Fishers on Indonesia's Beeng Laut Island Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Irene Kumaseh; Getruida Nita Mozes
Indonesian Journal of Geography Vol 54, No 1 (2022): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.60546

Abstract

This study aimed to determine the socio-economic conditions related to marketing margins of demersal fish in Beeng Laut Island, Sangihe Archipelago Regency, North Sulawesi Province, Indonesia, using survey methods with interview and questionnaire techniques. Most fishers on Beeng Laut Island have a primary school education, houses constructed using wood, and an age range of 20 to 30 years. Margin marketing demersal fish on Channel marketing III (P à Pp à Pe à Ka) and Channel IV (P à Pp à Rm à Ka) is inefficient due to the limited electricity supply. This has an indirect effect on fish quality due to a lack of readily available ice to handle catches. Increased demersal fish marketing efficiency may result in a significant revenue for fishers. Therefore, the government should boost energy availability to enable people create and purchase ice to aid with fish preservation. It should also establish cooperatives for fishers and provide alternative work, such as conservation activities or marine tourism development.
Penanganan Pasca Tangkap Ikan Julung-Julung untuk Peningkatan Ekonomi Kelompok Nelayan di Kampung Palareng, Sangihe Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Irene Kumaseh
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 12, No 2 (2021): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v12i2.7004

Abstract

Sumberdaya ikan Julung-julung yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang bernilai ekonomis penting. Salah satu usaha penangkapan ikan tersebut berada di kampung Palareng. Penangkapan ikan Julung-julung menggunakan alat tangkap yang disebut giop merupakan pukat cincin atau mini purse seine. Permasalah Mitra yaitu sumberdaya perikanan ikan Julung-julung yang ada di kampung Palareng sangat melimpah tapi tidak ditunjang dengan fasilitas seperti Cool Box dan pengolahan yaitu alat pengasapan ikan sehingga hasil tangkapan yang melimpah hanya langsung dijual dengan harga yang rendah. Tahapan pelaksanaan PKM yaitu Survey, Pembangunan Rumah Pengasapan Ikan Julung-julung, Penyuluhan Penanganan Pasca Tangkap Ikan dan Pemberian Cool box, Pendampingan kepada Masyarakat, serta Monitoring & Evaluasi. Dengan adanya Rumah Pengasapan Ikan Julung-julung membantu masyarakat di Kampung Palareng khususnya kelompok nelayan yang ada untuk lebih efektif dan efisien dalam pengolahan ikan Julung-julung. Harga jual ikan asap Julung-julung Rp 1.000,-/ekor, dibandingkan dengan harga jual ikan Julung-julung mentah Rp 250/ekor. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya keuntungan nelayan pada setiap ekor ikan asap Julung-julung yaitu Rp 750.-/ekor. Jika maksimum pengolahan dalam sekali pengoperasian Rumah Pengasapan ikan ada 2500 ekor, maka besar keuntungan yang diperoleh yaitu 2500 14×">  Rp 1.000,- = Rp 2.500.000,-. Kegiatan PKM Penanganan Pasca Tangkap Ikan Julung- julung (Hemiramphus sp) di Kampung Palareng Kecamatan Tabukan Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Propinsi Sulawesi Utara telah membantu meningkatkan ekonomi kelompok nelayan pengolah ikan. Masyarakat diharapkan dapat terus mengembangkan usaha yang ada untuk semakin menaikan taraf hidup nelayan.