Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PESISIR DI PULAU MAHUMU KECAMATAN TAMAKO KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Eunike Irene Kumaseh; Costantein Imanuel Sarapil
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.482

Abstract

Pulau Mahumu yang terletak pada koordinat 3 24’11,970” LU dan 125 34’ 2,382” BT (KKP, 2012). Pulau Mahumu merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jarak tempuh dari ibukota Kecamatan Tamako yaitu 8 km dan jarak tempuh dari ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu 53 km, dengan menggunakan perahu motor. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai Petani yaitu sebesar 53,14 % dan kemudian diikuti oleh nelayan sebesar 40 %. Kondisi sosial budaya di Kampung Mahumu yaitu masyarakat memiliki tingkat solidaritas yang tinggi, serta sifat kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai – nilai kearifan lokal di Pulau Mahumu dalam kaitannya dengan pengelolaan wilayah pesisir di Pulau Mahumu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengamatan (observasi), wawancara mendalam (indepth interview) serta studi kepustakaan. Pengamatan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengamati situasi dan kondisi lingkungan serta perilaku masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Pulau Mahumu mempunyai rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. Kearifan lokal di Pulau Mahumu seperti menoma, tidak boleh memotong pohon bakau, serta gotong royong membangun rumah. Kearifan lokal tersebut menjaga keberlangsungan hidup di pulau kecil dan keberlanjutan sumber daya laut dan perikanan. Kearifan lokal yang ada di Pulau Mahumu merupakan daya tarik tersendiri dalam pengembangan wisata bahari pada Klaster Teluk Dagho. Mahumu Island is located at the coordinates of 3° 24'11.970" North Latitude and 125° 34' 2.382" East Longitude (KKP, 2012). Mahumu Island is one of the islands included in the administrative area of ​​​​Tamako District, Sangihe Islands Regency. The distance from the capital of Tamako District is 8 km and the distance from the capital of Sangihe Islands Regency is 53 km, by using a motor boat. Most of the population work as farmers, which is 53.14% and then followed by fishermen by 40%. The socio-cultural conditions in Mahumu Village are that the community has a high level of solidarity, as well as a high level of kinship and mutual cooperation. This study aims to describe the values ​​of local wisdom on Mahumu Island in relation to the management of coastal areas on Mahumu Island. The method used in this research is observation (observation), in-depth interview (in-depth interview) and literature study. Observation is a technique of collecting data by observing environmental situations and conditions as well as community behavior. The results showed that the people on Mahumu Island had a high sense of solidarity and kinship. Local wisdom on Mahumu Island, such as menoma, is not allowed to cut mangrove trees, and mutual cooperation in building houses. This local wisdom maintains the survival of small islands and the sustainability of marine and fishery resources. The local wisdom that exists on Mahumu Island is the main attraction in the development of marine tourism in the Dagho Bay Cluster.
DINAMIKA EKONOMI PENDAPATAN NELAYAN DI PULAU MATUTUANG KECAMATAN KEPULAUAN MARORE KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Irene Kumaseh
Jurnal Ilmiah Tindalung Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Tindalung
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jit.v8i1.498

Abstract

Pulau Matutuang mempunyai hamparan terumbu karang seluas 2 ha, padang lamun seluas 1,5 ha pada zona pasang surut, serta hamparan pasir putih seluas 250 meter. Hasil tangkapan nelayan biasanya langsung dijual ke pasar atau nelayan yang berasal dari negara tetangga Filipina yang mempunyai modal yang besar dan teknologi pengolahan hasil perikanan yang jauh lebih memadai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika pendapatan nelayan di Pulau Matutuang yang membawa hasil tangkapan mereka ke Pulau Sangihe besar ataupun yang dijual kepada nelayan dari negara tetangga Filipina. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara dan observasi pada nelayan di Pulau Matutuang Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe. Analisa data secara deskriptif kualitatif disebut pula dengan kuasi kualitatif atau desain kualitatif semu. Besarnya pendapatan nelayan dihitung dengan menggunakan persamaan dimana = keuntungan/ Profit, = Total pendapatan/ Total revenue, = Total biaya/ Total Cost.Besarnya pendapatan nelayan per bulan berkisar pada Rp 4.320.000,- Rp 14.400.000,-. Alat tangkap yang banyak digunakan yaitu hand line dan long line, dengan hasil tangkapan yaitu ikan Kurisi (Sahamia) dan ikan demersal lainnya. Faktor yang mempengaruhi dinamika pendapatan nelayan di Pulau Matutuang yaitu faktor cuaca. Pekerjaan sampingan yang dilakukan nelayan saat cuaca buruk adalah dengan berkebun, menanam ubi, pisang, kelapa, dan cengkeh. Matutuang Island has a stretch of coral reefs covering an area of ​​2 ha, seagrass beds covering an area of ​​1.5 ha in the tidal zone, and a stretch of white sand covering an area of ​​250 meters. The catches of fishermen are usually sold directly to the market or fishermen from neighboring country Philippines who have large capital and more adequate processing technology for fishery products. This study aims to look at the dynamics of fishermen’s income on Matutuang Island who bring their catch to Sangihe Island or sold to Filipino fishermen. Data collection was carried out by collecting data directly through interviews and observations of fishermen on Matutuang Island, Marore Islands District, Sangihe Islands Regency. Descriptive qualitative data analysis is also called quasi-qualitative or quasi-qualitative design. The amount of fisherman's income is calculated using the equation =TR-TC, where = profit/profit, TR = total income/total revenue, TC = total cost/total cost. 14,400,000,-. Most fishing gear used are hand line and long line, with the catch being Kurisi fish (Sahamia) and other demersal fish. The factor that influences the dynamics of fishermen's income on Matutuang Island is the weather factor. The side jobs that fishermen do when the weather is bad are gardening, planting sweet potatoes, bananas, coconuts, and cloves.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kegiatan Pembibitan dan Penanaman Mangrove di Pantai Salurang, Kepulauan Sangihe Frets Jonas Rieuwpassa; Indra Wibowo; Wendy A. Tanod; Jaka F.P. Palawe; Eko Cahyono; Stevy I. M. Wodi; Novalina M. Ansar; Obyn I. Pumpente; Aprelia M. Tomasoa; Usy N. Manurung; Eunike I. Kumaseh; Fitria F. Lungary; Herjumes Aatjin; Christian A. Manansang; Steward I. Makawekes; Anggraini Barlian; Walter Balansa
Wikrama Parahita : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/jpmwp.v7i1.5336

Abstract

Mangrove memainkan peran sangat krusial bukan saja sebagai pelindung pesisir pantai tetapi juga sebagai tempat perkembangbiakan dan hunian beragam organisme dan sebagai sumber berbagai bahan bioaktif berpotensi medis. Kerusakan vegetasi mangrove di Kampung Salurang Kabupaten Sangihe yang merupakan daerah hilir akibat aktivitas tambang di daerah hulu menyebabkan penurunan drastis hasil tangkapan ikan di kampung Salurang dan musnahnya berbagai sumber bahan bioaktif potential. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memulihkan vegetasi mangrove yang telah rusak di kampung Salurang. Tahapan kegiatan pengabdian meliputi (1) survei dan konsultasi dengan pemerintah kampung untuk menentukan lokasi penanaman dan tanggal pemberian materi penyuluhan, (2) pendampingan untuk pembibitan mangrove oleh tim kepada masyarakat, (3) pelaksanaan kegiatan mencakup pemberian materi kepada masyarakat termasuk pemuda dan siswa sekolah menengah pertama dan penanaman mangrove bersama masyarakat. Hingga saat ini, sekitar 76% dari 95% mangrove yang ditanam tumbuh dengan baik dan pertumbuhannya masih terus dipantau. Kegiatan ini memiliki implikasi penting bukan saja untuk lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir tetapi juga untuk melindungi organisme simbion mangrove maupun mangrove itu sendiri sebagai sumber berbagai bahan bioaktif potensial.
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan di Pulau Kawaluso Kabupaten Kepulauan Sangihe Costantein Imanuel Sarapil; Eunike Irene Kumaseh; Raemon Raemon; Ganjar Ndaru Ikhtiagung
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12, Issue 2, June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the fishermen's level of household income in Kawaluso Island and the factors that affect the fishermen's income. This research was conducted in Kawaluso Island, Kendahe Sub District, Sangihe Islands Regency from July to September 2022. The data used is primary data obtained through interviews with fishermen using a questionnaire. Secondary data includes the data of population from BPS (Central Bureau of Statistics) of Sangihe Islands Regency, journals and other references. The sampling method used was a purposive sampling method, implemented through selecting fishermen in Kawaluso Island. This study used multiple regression methods where this study used multivariate with one matrix dependent variable. The multiple analytical methods were completed using the SPSS program. The catches together have a significant effect on the income of fishermen in Kawaluso Island, Kendahe Sub District, Sangihe Islands Regency. Age and catch simultaneously have a significant effect on fishermen's income on Kawaluso Island. The catch partially has a significant effect on the income of fishermen in Kawaluso Island. The fishermen's average income is IDR 3,000,000, so the fishing business for fishermen is a profitable business in Kawaluso Island.
REDUCED MODULES ARE ABELIAN Eunike Irene Kumaseh; Yohanis A. R. Langi
d\'Cartesian: Jurnal Matematika dan Aplikasi Vol. 1 No. 1 (2012): 2012
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/dc.1.1.2012.530

Abstract

Sediment Transport and Economic Social Effect of Bowone People Mining Sangihe Islands Regency Kumaseh, Eunike Irene; Sarapil, Costantein Imanuel; Ikhtiagung, Ganjar Ndaru
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.48734

Abstract

This study aims to determine the magnitude of the sedimentation rate and the prediction of sediment transport in Binebas Bay as the scope of the Bowone people's mine run-off disposal area, as well as the socio-economic impacts on the community and especially for fishermen. Sediment diameter measurements were carried out by taking sediment samples at each station using a sediment trap. Sediment traps made of pipes will be installed at each station and the height of the sediment will be measured using a ruler every 2 weeks for 3 months. The research data were analyzed using the comparative method, namely the results of measuring the sediment rate in the field compared to the calculation results according to Engelund. The sediment rate in the waters of Binebas Bay which is close to the people's mining in Bowone Village is 0,058943 m3/year. Sediment transport in the waters of Binebas Bay is  m3/m*s. Sedimentation is still relatively low (small) in the waters of Binebas Bay. Socially, people's mining activities in Kampung Bowone have a positive impact where there is the availability of employment opportunities for the community. Economically, people's mining activities increase people's income. However, the negative impact is environmental damage. Keywords: sediment transport; socio-economic impact; people's mine; Bowone village; Sangihe Islands Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya laju sedimentasi dan prediksi transport sedimen di Teluk Binebas sebagai lingkup wilayah buangan run-off tambang rakyat Bowone, serta dampak sosial ekonomi bagi masyarakat dan khususnya bagi nelayan. Diameter sedimen diukur dengan mengambil sampel di tiap Stasiun. Perangkap sedimen dibuat dari pipa dan diukur tinggi sedimennya tiap 2 minggu  selama 3 bulan. Data penelitian dianalisis kemudian dilakukan komparasi antara hasil pengukuran laju sedimentasi di lapangan dengan hasil perhitungan transportasi sedimen menurut Metode Engelund. Laju sedimen di perairan Teluk Binebas yang dekat dengan pertambangan rakyat Kampung Bowone yaitu sebesar 0,058943 m3/ tahun. Transpor sedimen di perairan Teluk Binebas yaitu  m3/m*s. Sedimentasi masih tergolong rendah (kecil) di perairan Teluk Binebas. Secara sosial, kegiatan pertambangan rakyat di Kampung Bowone memberikan dampak yang positif dimana terdapat ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat. Secara ekonomi, kegiatan pertambangan rakyat meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun, dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan. Kata kunci: transport sedimen; dampak sosial ekonomi; tambang rakyat; kampung bowone; kepulauan sangihe
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA IKAN CAKALANG BEKU (KATSUWONUS PELAMIS) DAN IKAN DEMERSAL BEKU DI PULAU BEENG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Sarapil, Costantein Imanuel; Kumaseh, Eunike Irene; Bawias, Ishak; Ikhtiagung, Ganjar Ndaru
Epigram Vol 21 No 01 (2024): Volume 21 No. 01 Tahun 2024
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v21i01.6479

Abstract

The research aims to conduct a feasibility analysis of the frozen fish business in Beeng Village, Center South Tabukan District to improve the welfare of fishermen. In the feasibility analysis of frozen skipjack tuna business, the BCR value = 5.19. This means that the BCR value is> 1, so this indicator shows that the frozen skipjack tuna business is worth continuing. The NPV value is IDR 37.142.857,- which is positive and the IRR is 94%. This shows that the frozen skipjack tuna business is worth continuing. Meanwhile, in the feasibility analysis of the frozen demersal fish business, the BCR value was 16.43, NPV IDR 72.845.714, IRR 43%. BCR value > 1, NPV is positive, so this business is worth continuing.  
Kondisi Hidro-Oseanografi di Pulau Marore, Sangihe Kumaseh, Eunike Irene; Sarapil, Costantein Imanuel; Patras, Mareike Doherty; Tatontos, Yuliana Varala; Ikhtiagung, Ganjar Ndaru
Jurnal Manajemen Pesisir dan Laut Vol 3 No 01 (2025): Jurnal Manajemen Pesisir dan Laut
Publisher : Program Studi Teknik Kelautan Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/mapel.v3i01.6320

Abstract

Pulau Marore, termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kepulauan Marore, merupakan sebuah pulau yang terletak di kawasan perbatasan Indonesia dengan Pulau Balut dan Pulau Saranggane (Filipina). Penelitian ini bertujuan untuk penentuan karakteristik hidro – oseanografi yang lebih tepat di Pulau Marore, demi perencanaan & pelaksanaan pembangunan yang tepat sasaran bagi masyarakat di wilayah pesisir dan pulau – pulau kecil. Metode perhitungan pasang surut menggunakan Metode Admiralty. Dalam penentuan perhitungan tinggi dan periode gelombang diperoleh dengan menggunakan metode Hind Casting (metode peramalan gelombang laut berdasarkan data kecepatan angin yang terjadi di beberapa waktu sebelumnya dan peta lokasi yang ditinjau. Sedangkan untuk penentuan pola arus dilakukan pengukuran secara in-situ di lokasi penelitian. Arah angin dominan di Pulau Marore yaitu arah Timur Laut. Intensitas arah gelombang bulan Januari – Februari di wilayah perairan Pulau Marore hingga Pulau Miangas bisa mencapai 4 – 5 meter. Pada bulan Agustus – September, kondisi perairan menjadi lebih ekstrim, intensitas arah gelombang mengarah ke Samudera Pasitik yaitu arah Utara – Barat Laut Perairan Sangihe - Talaud, serta tinggi gelombang bisa mencapai lebih dari 5 meter. Jenis pasang surut di Pulau Marore yaitu semi-diurnal, 2x terjadi pasang dan 2x terjadi air surut. Arus terjadi sebesar 0,33 m/s. Perbedaan kemiringan morfologi dasar yang berpengaruh langsung terhadap tinggi gelombang yang terjadi di sekitar pantai. Gelombang datang dari laut lepas tidak mengalami peredaman energi oleh dasar laut, sehingga gelombang pecah di daerah pantai. Kondisi hidro – oseanografi di Pulau Marore terbilang ekstrim, sehingga perlu adanya perencanaan pembangunan struktur pelindung pantai yang lebih kuat dari struktur pantai pada umumnya.
HANDLINE DALAM PENANGANAN PASCABENCANA ALAM BAGI KELOMPOK NELAYAN DI KAMPUNG LEBO KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Kumaseh, Eunike Irene; Sarapil, Costantein; Ikhtiagung, Ganjar Ndaru; Erlin Puspaputri
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v4i2.315

Abstract

Secara administratif, Kampung Lebo merupakan wilayah Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara, dengan luas wilayah sebesar 6,59 km2. Jumlah penduduk 1.317 jiwa yaitu 489 KK, yang terdiri atas Laki – laki 809 jiwa dan perempuan 508 jiwa. Pada Tanggal 3 Januari 2020, Kampung Lebo dan beberapa kampung di sekitarnya mengalami bencana alam banjir bandang, yang memakan korban jiwa sebanyak 3 orang. Bantuan penyediaan handline dapat membantu nelayan di Kampung Lebo untuk memperbaiki penghidupan mereka yang lebih baik. Handline atau Pancing ulur terdiri atas beberapa komponen yaitu gulungan tali, tali pancing, mata pancing, dan umpan buatan. Solusi yang dilakukan yaitu pemberian alat tangkap Handline bagi nelayan yang mengalami musibah dan pemberian pengetahuan bagi nelayan tentang manajemen keuangan hasil penjualan ikan. Metode pengabdian yaitu memberikan penyuluhan dan pelatihan, pendampingan, dan monitoring serta evaluasi. PKMS Handline memberdayakan kelompok nelayan di Kampung Lebo dalam usaha penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap handline, bagi masyarakat lokal disebut Bawaede. Hasil tangkapan ada yang dijual dan ada juga yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari – hari. Nelayan dapat lebih efektif menangkap ikan dan membantu meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Administratively, Lebo Village is an area of ​​Manganitu District, Regency of Sangihe islands, Province of North Sulawesi, with an area of ​​6,59 km2. Total population is 1.317 people 489 households, consisting of 809 men and 508 women. On January 3rd, 2020, Lebo Village and surrounding villages experienced a flood, which killed 3 people. Handline assistance can help fisher in Lebo Village to improve their livelihoods. Handline consists of several components, namely roller, fishing line, hook, and artificial bait. The solution taken is providing Handline for fisher who experienced disaster and providing knowledge for fisher about financial management of fish sales. The method is providing counseling, training, mentoring, monitoring and evaluation. PKMS Handline empowers groups of fisher in Lebo Village to catch fish using handline, for the local community it is called Bawaede. The catch is sold and used for daily consumption needs. So the handline assistance can help improve the economic life of local community and the fishing ability of the fisher group.
HANDLINE IKAN DEMERSAL BAGI KELOMPOK NELAYAN DI KAMPUNG BENGKETANG KECAMATAN TABUKAN UTARA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Kumaseh, Eunike Irene; Sarapil, Costantein Imanuel
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v6i2.441

Abstract

Sebagian besar nelayan di Kecamatan Tabukan Utara merupakan nelayan sambilan tambahan, artinya nelayan yang sebagian kecil pendapatannya berasal dari perikanan. Kampung Bengketang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Tabukan Utara. Sebagian besar penduduk di Kampung Bengketang memiliki pekerjaan sebagai nelayan sebesar 44 persen, dan menggunakan alat tangkap pancing ulur (Handline). Pengadaan Hand line ikan demersal ini merupakan salah satu upaya bagi nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Metode pengabdian yang dilakukan yaitu memberikan penyuluhan, pendampingan, dan monitoring serta evaluasi bagi kelompok nelayan di Kampung Bengketang. Alat tangkap ikan demersal umumnya disebut Sasalensing bagi masyarakat lokal. Hasil tangkapan nelayan seperti ikan Kerapu (Goropa), ikan Kuwe (Bobara), ikan Kurisi, serta ikan Cakalang, dimana merupakan ikan ekonomis penting. Ada yang dijual dan ada juga yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi keluarga sehari – hari. Kegiatan PKMS ini telah membantu meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Most of the fishermen in North Tabukan District are additional part-time fishermen, meaning that most of the fishermen's income comes from fishing. Bengketang Village is included in the administrative area of ​​North Tabukan District. Most of the population in Bengketang Village have jobs as fishermen by 44 percent, and use handline fishing gear. The procurement of this demersal fish hand line is one of the efforts for fishermen to increase fisherman catches. The service method used is to provide counseling, assistance, and monitoring and evaluation for groups of fishermen in Bengketang Village. Demersal fishing gear is generally called Sasalensing for local people. The catches include grouper (Goropa), Kuwe fish (Bobara), Kurisi fish, and skipjack tuna, which are economically important fish. Some are sold and some are used for daily family consumption needs. This PKMS activity has helped improve the economic life of coastal communities.