Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Kompres Bawang Merah Terhadap Penurunan Panas Pada Mahasiswa Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Saputra, Muhammad Ramli; Kurniawan, Fery
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 1 No. 1 (2023): JUNI
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit dan hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Penduduk remaja adalah bagian dari penduduk dunia dan memiliki sumbangan teramat besar bagi perkembangan dunia. Demam   merupakan salah satu   keluhan   utama   tersering yang dialami oleh setiap orang tanpa terkecuali salah satunya pada remaja. Demam pada  umumnya  tidak berbahaya tetapi demam tinggi dapat membahayakan. Penanganan demam secara  nonfarmakologi  dapat  diberikan  kompres  air  hangat, seperti bawang merah. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Kompres Bawang Merah Terhadap Penurunan Panas pada Mahasiswa Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018. Penelitian tentang pengaruh kompres bawang merah terhadap penurunan panas pada mahasiswa di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa di tahun di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang dengan menggunakan pengambilan sampel purposive sampling yang berjumlah 17 responden. Waktu penelitian pada bulan Juni 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan uji statistik yang digunakan adalah uji t-dependent/ berpasangan dengan batas kemaknaan dengan alpha = 0,05 sehingga bila hasil analitik statistik p < 0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh. Hasil penelitian ini didapatkan Rata-rata suhu tubuh sebelum dilakukan kompres bawang merah adalah 37,941 oC (95% CI: 37,787-38,095), dengan standar deviasi 0,3001 oC. Rata-rata suhu tubuh setelah dilakukan kompres bawang merah adalah 37,353 oC (95% CI: 36,992-37,714), dengan standar deviasi 0,7019 oC. Ada pengaruh kompres bawang merah tehadap suhu tubuh di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018 (p Value = 0,004). Disarankan Bagi Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada khususnya mahasiswa untuk dapat melakukan kompres bawang merah atau menyarankan kepada keluarga untuk melakukan kompres bawang merah sebelum dilakukan pemberian  secara farmakologi.
Health Status of Seagrass Meadows Around the Special Economic Zone (SEZ), West Likupang, North Sulawesi Satriani; Imran, Zulhamsyah; Kurniawan, Fery; Perdinan; Digdo, Akbar Ario
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 1 (2024): January
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i1.5908

Abstract

Seagrass ecosystems offer valuable ecosystem services but are highly vulnerable to physical damage caused by human activities and rapid environmental change. Currently, there is very limited information available on monitoring and reporting the health of seagrass beds in Indonesian waters. This study aims to assess the species composition, density, diversity index, percentage of seagrass cover, health condition, and identification of threats to seagrass ecosystems around the West Likupang Special Economic Zone (SEZ), North Sulawesi. The method used was a seagrass watch with line transects and quadrant-shaped frames measuring 50x50 cm2. Transect lines were established through the seagrass ecosystem area at 50 m. There were three line transects at each station 25 m apart. Quadrant frame measuring 50x50 cm2. West Likupang has eight seagrass species including C. rotundata, E. acoroides, H. pinifolia, H. uninervis, H. ovalis, O. serrulata, S. isoetifolium, dan T. hemprichii. The health status of the seagrass is currently healthy, with a dense percentage of coverage. The identification of potential risks from anthropogenic activities such as the household disposal of waste at sea, gleaning, the use of boat anchors and propellers, and the construction of infrastructure in coastal areas, such as hotels and harbonurs, pose significant threats.
Meningkatkan model deteksi estimasi distribusi musiman padatan tersuspensi total di perairan Selat Madura, Indonesia Cahyo, Ali Mas'ud Dwi; Damar, Ario; Kurniawan, Fery; Hidayat, Adrian
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 11 (2024): November
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i11.8605

Abstract

High TSS causes siltation around coastal areas in the Madura Strait. TSS impacts water quality and habitat health. It's necessary to know that TSS distribution can vary each season. The algorithm detects TSS distribution by processing Landsat-8 satellite image data. However, existing algorithms are sometimes only suitable for some instances, so the results do not correspond to actual conditions. Therefore, this paper wants to build a better detection model using Laili's algorithm to determine whether satellite image analysis can explain the exact conditions. Laili's algorithm detection was validated and corrected against field data via a correlation test. It’s necessary to know the spatial distribution pattern of data attribute values using the Moran Index. The results TSS in the dry season is 5-18 mg/L and covers an area of up to 4 km; in the rainy season, it is 5-22 mg/L and can cover an area of up to 7.8 km. Moran's Index results show that spatial autocorrelation in the distribution pattern results in a cluster pattern. These results show that the detection model is relatively reasonable and can be used as training data to detect the distribution of TSS in the Madura Strait in subsequent years.
Determining Tourism Area Using TOPSIS Analysis in the Dampier Strait Conservation Area Zulfikar, Anisa Kusumadewi Zulfikar; Yonvitner, Yonvitner; Kurniawan, Fery; Hidayat, Adrian
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No 10 (2024): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10i10.8695

Abstract

The Dampier Strait regional conservation area is one of the conservation areas included in the Raja Ampat Regency marine conservation area, which has high potential for developing tourism activities. The most important aspect in the use of natural resources for tourism purposes is their suitability to support tourism activities. The challenge faced is the difficulty if the potential for beach tourism, snorkeling and diving to be developed simultaneously. The aim of this research is to determine areas for ecotourism and recommend appropriate locations. Data analysis is determining ecotourism areas using the Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). TOPSIS is used because it is able to rank the selected alternatives that are closest to the positive ideal and furthest from the negative ideal solution. The criteria used are tourist carrying capacity, accommodation, accessibility, number of international tourists, number of domestic tourists and suitability area. The results of this TOPSIS analysis are that Sauwandarek, Marandanweser and Arborek are areas that can be used as an alternative area for carrying out beach tourism, snorkeling and diving activities. Areas that can be developed into ecotourism activities are Yeben Kecil and Tanjung Putus.
Analisis Perubahan Garis Pantai dan Resiliensi Ekologis Pesisir Kabupaten Tangerang Provinsi Banten: Analysis of Coastline Changes and Ecological Resilience in Tangerang Coastal Area, Banten Province Kurniawan, Fery; Astuti, Ella Yuni; Damar, Ario
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v15i3.42885

Abstract

Wilayah pesisir Kabupaten Tangerang mengalami perubahan secara terus-menerus yang disebabkan faktor alam maupun aktivitas manusia. Perubahan yang terus terjadi ini, dapat merubah tingkat resiliensi ekologi yang ada di pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai tingkat resiliensi berdasarkan dinamika perubahan garis pantai dan kondisi ekologi, serta kaitannya dengan penggunaan dan penutupan lahan di pesisir Kabupaten Tangerang. Analisis data terdiri atas pengolahan citra satelit Landsat, analisis penggunaan/penutupan lahan (LULC), dan laju perubahan garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), pengolahan data oseanografi, dan penilaian resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Tangerang memiliki tingkat resiliensi rendah dengan dinamika perubahan garis pantai lebih dominan erosi daripada akresi. Laju perubahan garis pantai berkorelasi positif dengan LULC. Erosi terjadi pada kawasan yang dominan lahan tambak dan sedikit mangrove, sedangkan akresi terjadi di daerah muara sungai dan kawasan industri.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERFORMA PENGELOLAAN SUMBER DAYA TERUMBU KARANG DI PULAU PAHAWANG, KABUPATEN PESAWARAN Marietadewi, Astrid; Taryono, Taryono; Kurniawan, Fery
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.115-125

Abstract

 Ekosistem terumbu karang banyak dimanfaatkan sebagai destinasi wisata bahari khususnya snorkeling. Ekosistem terumbu karang di Pulau Pahawang menghadapi tekanan akibat aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan. Kerangka kerja Institutional Analysis Development (IAD) digunakan sebagai pendekatan untuk mengevaluasi pengaruh variabel eksogen yaitu kondisi biofisik, atribut komunitas dan aturan yang digunakan (rules-in-use) terhadap interaksi antar aktor dan pengelolaan ekowisata dengan menggunakan metode analisis structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) untuk menguji hubungan kausal antar variabel laten. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan ekowisata dan rules-in-use memiliki pengaruh signifikan terhadap performa pengelolaan, sedangkan peran aktor belum menunjukkan kontribusi signifikan. Atribut komunitas terbukti mempengaruhi aktor, terutama melalui kesamaan karakteristik dan tingkat pemahaman masyarakat. Meskipun terdapat inisiasi konservasi antara pihak akademisi dan masyarakat, implementasi pengelolaan masih terkendala oleh minimnya koordinasi antar pihak, dominasi aktor eksternal, serta keterbatasan kapasitas lokal. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk penguatan pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antar stakeholder dan penerapan aturan yang efektif dalam mendukung pelestarian terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.Pahawang Island, Pesawaran Regency, Lampung Province has a coral reef ecosystem and is used as a primary resource for marine tourism, especially for snorkeling. The coral reef ecosystem on Pahawang Island faces pressure from environmentally unfriendly tourism. The Institutional Analysis Development (IAD) framework is used as an approach to evaluate the influence of exogenous variables, namely biophysical conditions, community attributes and rules-in-use on interactions between actors and ecotourism management using the structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) analysis method to test the causal relationship between latent variables. The results show that ecotourism management and rules-in-use have a significant influence on management performance, whereas the role of actors does not. Community attributes have been shown to influence actors, especially through similarities in their characteristics and levels of community understanding. Although there is a conservation initiative between academics and the community, its implementation is still constrained by limited coordination among parties, the dominance external actors, and limited local Capacity. Community education and empowerment are the keys to strengthening sustainable ecotourism management. This study emphasizes the importance of synergy between stakeholders and the implementation of effective regulations to support coral reef conservation and improving the welfare of coastal communities
English: Stadia hidup, pertumbuhan, dan kesesuaian habitat Clupeiformesdi Teluk Biru, Selat Bali Nazal, Muhammad Faris; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Kurniawan, Fery; Lumban-Gaol, Jonson
Habitus Aquatica Vol 7 No 1 (2026): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.7.1.8

Abstract

Teluk Biru, yang merupakan daerah penangkapan bagan apung di Selat Bali, berperan penting dalam mendukung produksi perikanan ikan Clupeiformes di Muncar dan wilayah sekitar Selat Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi spesies dan pola pertumbuhan hasil tangkapan Clupeiformes di Teluk Biru dan keterkaitannya dengan parameter lingkungan. Pengambilan contoh dilakukan selama musim barat (Desember 2023, Februari 2024) dan musim peralihan-1 (Maret–April 2024). Analisis data mencakup penilaian komposisi spesies, hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, variabilitas spasio-temporal parameter oseanografi, dan Analisis Korespondensi Kanonik. Tangkapan Clupeiformes selama kedua musim terdiri atas enam spesies, dengan adanya variasi bulanan pada spesies dominan. Sebagian besar individu merupakan fase yuwana, kecuali Spratelloides delicatulus yang banyak ditemui stadia dewasanya. Mayoritas spesies memiliki pertumbuhan alometrik positif dan berada dalam kondisi pertumbuhan yang baik (FK > 1,00). Parameter fisik-kmiawi perairan berbeda signifikan antarwaktunya dan mendukung kehidupan ikan di dalamnya. Klorofil-a cenderung menurun pada musim barat dan meningkat menjelang musim peralihan-1, berbanding terbalik dengan suhu permukaan laut. Terdapat empat parameter lingkungan utama yag berasosiasi dan berpengaruh signifikan terhadap komposisi ikan Clupeiformes, yakni suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan klorofi-a. Status sumber daya Clupeiformes di Teluk Biru berada dalam lingkungan yang sesuai, namun mengalami tekanan penangkapan dari bagan apung, terutama pada anak-anak ikan.
PROFIL EKOSISTEM MANGROVE DI AREA REHABILITASI MANGROVE KABUPATEN TANGERANG Damar, Ario; YONVITNER; Kurniawan, Fery; Al Amin, M. Arsyad; Ridwan, Muhammad; Solihat, Ai
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 6 No 1 (2022): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/COJ.6.1.33-49

Abstract

Kawasan mangrove di Kabupaten Tangerang adalah kawasan mangrove dalam proses rehabilitasi, yang merupakan upaya dalam mengatasi permasalahan degradasi mangrove, salah satunya karena alih fungsi lahan. Umumnya, alih fungsi lahan di kawasan mangrove Kabupaten Tangerang dijadikan sebagai lahan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis mangrove, indeks nilai penting, dan penutupan mangrove yang berada di kawasan mangrove alami dan rehabilitasi Kabupaten Tangerang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari hingga Maret 2022 ditiga desa (stasiun) yaitu Desa Ketapang, Desa Patramanggala, dan Desa Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang. Pengambilan data vegetasi mangrove berdasarkan tiga kategori yaitu pohon pada transek berukuran 10 × 10 m2, anakan pada transek berukuran 5 × 5 m2, dan semai pada transek berukuran 2 × 2 m2. Hasil penelitian yang didapatkan ditemukan lima jenis mangrove dari tiga desa (stasiun) yaitu Avicennia marina, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Bruguiera cylindrica. Penutupan mangrove tertinggi di Desa Tanjung Pasir sebesar 80,99% yang dijumpai pada substasiun 3, masuk dalam kriteria baik dan sangat padat. Penutupan mangrove terendah di Desa Tanjung Pasir terdapat pada substasiun 2 yaitu 34,91%, masuk dalam kategori rusak dan jarang. Persen tutupan mangrove tertinggi dari tiga desa (stasiun) yaitu terdapat pada substasiun 3 berdasarkan Kepmen LH No. 201 tahun 2004 masuk kedalam kategori baik dan sangat padat. Kata kunci: mangrove, pesisir, penutupan kanopi.