Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Kompres Bawang Merah Terhadap Penurunan Panas Pada Mahasiswa Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Saputra, Muhammad Ramli; Kurniawan, Fery
Jurnal Lantera Ilmiah Keperawatan Vol. 1 No. 1 (2023): JUNI
Publisher : CV. Q2 LANTERA ILMIAH INSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit dan hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi anak. Penduduk remaja adalah bagian dari penduduk dunia dan memiliki sumbangan teramat besar bagi perkembangan dunia. Demam   merupakan salah satu   keluhan   utama   tersering yang dialami oleh setiap orang tanpa terkecuali salah satunya pada remaja. Demam pada  umumnya  tidak berbahaya tetapi demam tinggi dapat membahayakan. Penanganan demam secara  nonfarmakologi  dapat  diberikan  kompres  air  hangat, seperti bawang merah. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Kompres Bawang Merah Terhadap Penurunan Panas pada Mahasiswa Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018. Penelitian tentang pengaruh kompres bawang merah terhadap penurunan panas pada mahasiswa di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa di tahun di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang dengan menggunakan pengambilan sampel purposive sampling yang berjumlah 17 responden. Waktu penelitian pada bulan Juni 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan uji statistik yang digunakan adalah uji t-dependent/ berpasangan dengan batas kemaknaan dengan alpha = 0,05 sehingga bila hasil analitik statistik p < 0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh. Hasil penelitian ini didapatkan Rata-rata suhu tubuh sebelum dilakukan kompres bawang merah adalah 37,941 oC (95% CI: 37,787-38,095), dengan standar deviasi 0,3001 oC. Rata-rata suhu tubuh setelah dilakukan kompres bawang merah adalah 37,353 oC (95% CI: 36,992-37,714), dengan standar deviasi 0,7019 oC. Ada pengaruh kompres bawang merah tehadap suhu tubuh di Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada Palembang Tahun 2018 (p Value = 0,004). Disarankan Bagi Asrama Gemilang 1 STIK Bina Husada khususnya mahasiswa untuk dapat melakukan kompres bawang merah atau menyarankan kepada keluarga untuk melakukan kompres bawang merah sebelum dilakukan pemberian  secara farmakologi.
Analisis Perubahan Garis Pantai dan Resiliensi Ekologis Pesisir Kabupaten Tangerang Provinsi Banten: Analysis of Coastline Changes and Ecological Resilience in Tangerang Coastal Area, Banten Province Kurniawan, Fery; Astuti, Ella Yuni; Damar, Ario
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v15i3.42885

Abstract

Wilayah pesisir Kabupaten Tangerang mengalami perubahan secara terus-menerus yang disebabkan faktor alam maupun aktivitas manusia. Perubahan yang terus terjadi ini, dapat merubah tingkat resiliensi ekologi yang ada di pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai tingkat resiliensi berdasarkan dinamika perubahan garis pantai dan kondisi ekologi, serta kaitannya dengan penggunaan dan penutupan lahan di pesisir Kabupaten Tangerang. Analisis data terdiri atas pengolahan citra satelit Landsat, analisis penggunaan/penutupan lahan (LULC), dan laju perubahan garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), pengolahan data oseanografi, dan penilaian resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Tangerang memiliki tingkat resiliensi rendah dengan dinamika perubahan garis pantai lebih dominan erosi daripada akresi. Laju perubahan garis pantai berkorelasi positif dengan LULC. Erosi terjadi pada kawasan yang dominan lahan tambak dan sedikit mangrove, sedangkan akresi terjadi di daerah muara sungai dan kawasan industri.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERFORMA PENGELOLAAN SUMBER DAYA TERUMBU KARANG DI PULAU PAHAWANG, KABUPATEN PESAWARAN Marietadewi, Astrid; Taryono, Taryono; Kurniawan, Fery
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.115-125

Abstract

 Ekosistem terumbu karang banyak dimanfaatkan sebagai destinasi wisata bahari khususnya snorkeling. Ekosistem terumbu karang di Pulau Pahawang menghadapi tekanan akibat aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan. Kerangka kerja Institutional Analysis Development (IAD) digunakan sebagai pendekatan untuk mengevaluasi pengaruh variabel eksogen yaitu kondisi biofisik, atribut komunitas dan aturan yang digunakan (rules-in-use) terhadap interaksi antar aktor dan pengelolaan ekowisata dengan menggunakan metode analisis structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) untuk menguji hubungan kausal antar variabel laten. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan ekowisata dan rules-in-use memiliki pengaruh signifikan terhadap performa pengelolaan, sedangkan peran aktor belum menunjukkan kontribusi signifikan. Atribut komunitas terbukti mempengaruhi aktor, terutama melalui kesamaan karakteristik dan tingkat pemahaman masyarakat. Meskipun terdapat inisiasi konservasi antara pihak akademisi dan masyarakat, implementasi pengelolaan masih terkendala oleh minimnya koordinasi antar pihak, dominasi aktor eksternal, serta keterbatasan kapasitas lokal. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk penguatan pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antar stakeholder dan penerapan aturan yang efektif dalam mendukung pelestarian terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.Pahawang Island, Pesawaran Regency, Lampung Province has a coral reef ecosystem and is used as a primary resource for marine tourism, especially for snorkeling. The coral reef ecosystem on Pahawang Island faces pressure from environmentally unfriendly tourism. The Institutional Analysis Development (IAD) framework is used as an approach to evaluate the influence of exogenous variables, namely biophysical conditions, community attributes and rules-in-use on interactions between actors and ecotourism management using the structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) analysis method to test the causal relationship between latent variables. The results show that ecotourism management and rules-in-use have a significant influence on management performance, whereas the role of actors does not. Community attributes have been shown to influence actors, especially through similarities in their characteristics and levels of community understanding. Although there is a conservation initiative between academics and the community, its implementation is still constrained by limited coordination among parties, the dominance external actors, and limited local Capacity. Community education and empowerment are the keys to strengthening sustainable ecotourism management. This study emphasizes the importance of synergy between stakeholders and the implementation of effective regulations to support coral reef conservation and improving the welfare of coastal communities
English: Stadia hidup, pertumbuhan, dan kesesuaian habitat Clupeiformesdi Teluk Biru, Selat Bali Nazal, Muhammad Faris; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Kurniawan, Fery; Lumban-Gaol, Jonson
Habitus Aquatica Vol 7 No 1 (2026): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.7.1.8

Abstract

Teluk Biru, yang merupakan daerah penangkapan bagan apung di Selat Bali, berperan penting dalam mendukung produksi perikanan ikan Clupeiformes di Muncar dan wilayah sekitar Selat Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi spesies dan pola pertumbuhan hasil tangkapan Clupeiformes di Teluk Biru dan keterkaitannya dengan parameter lingkungan. Pengambilan contoh dilakukan selama musim barat (Desember 2023, Februari 2024) dan musim peralihan-1 (Maret–April 2024). Analisis data mencakup penilaian komposisi spesies, hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, variabilitas spasio-temporal parameter oseanografi, dan Analisis Korespondensi Kanonik. Tangkapan Clupeiformes selama kedua musim terdiri atas enam spesies, dengan adanya variasi bulanan pada spesies dominan. Sebagian besar individu merupakan fase yuwana, kecuali Spratelloides delicatulus yang banyak ditemui stadia dewasanya. Mayoritas spesies memiliki pertumbuhan alometrik positif dan berada dalam kondisi pertumbuhan yang baik (FK > 1,00). Parameter fisik-kmiawi perairan berbeda signifikan antarwaktunya dan mendukung kehidupan ikan di dalamnya. Klorofil-a cenderung menurun pada musim barat dan meningkat menjelang musim peralihan-1, berbanding terbalik dengan suhu permukaan laut. Terdapat empat parameter lingkungan utama yag berasosiasi dan berpengaruh signifikan terhadap komposisi ikan Clupeiformes, yakni suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan klorofi-a. Status sumber daya Clupeiformes di Teluk Biru berada dalam lingkungan yang sesuai, namun mengalami tekanan penangkapan dari bagan apung, terutama pada anak-anak ikan.
PROFIL EKOSISTEM MANGROVE DI AREA REHABILITASI MANGROVE KABUPATEN TANGERANG Damar, Ario; YONVITNER; Kurniawan, Fery; Al Amin, M. Arsyad; Ridwan, Muhammad; Solihat, Ai
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 6 No 1 (2022): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/COJ.6.1.33-49

Abstract

Kawasan mangrove di Kabupaten Tangerang adalah kawasan mangrove dalam proses rehabilitasi, yang merupakan upaya dalam mengatasi permasalahan degradasi mangrove, salah satunya karena alih fungsi lahan. Umumnya, alih fungsi lahan di kawasan mangrove Kabupaten Tangerang dijadikan sebagai lahan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis mangrove, indeks nilai penting, dan penutupan mangrove yang berada di kawasan mangrove alami dan rehabilitasi Kabupaten Tangerang. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari hingga Maret 2022 ditiga desa (stasiun) yaitu Desa Ketapang, Desa Patramanggala, dan Desa Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang. Pengambilan data vegetasi mangrove berdasarkan tiga kategori yaitu pohon pada transek berukuran 10 × 10 m2, anakan pada transek berukuran 5 × 5 m2, dan semai pada transek berukuran 2 × 2 m2. Hasil penelitian yang didapatkan ditemukan lima jenis mangrove dari tiga desa (stasiun) yaitu Avicennia marina, Avicennia alba, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Bruguiera cylindrica. Penutupan mangrove tertinggi di Desa Tanjung Pasir sebesar 80,99% yang dijumpai pada substasiun 3, masuk dalam kriteria baik dan sangat padat. Penutupan mangrove terendah di Desa Tanjung Pasir terdapat pada substasiun 2 yaitu 34,91%, masuk dalam kategori rusak dan jarang. Persen tutupan mangrove tertinggi dari tiga desa (stasiun) yaitu terdapat pada substasiun 3 berdasarkan Kepmen LH No. 201 tahun 2004 masuk kedalam kategori baik dan sangat padat. Kata kunci: mangrove, pesisir, penutupan kanopi.
MODEL MANAJEMEN MUTU BERBASIS KEPATUHAN REGULASI UNTUK PENINGKATAN KINERJA PELAYANAN DI TERMINAL UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI (TUKS) WILAYAH KERJA KSOP PEKANBARU Nur Fauziah, Gradina; Kurniawan, Fery; Nurhidayanti, Andi
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI MARITIM Vol. 26 No. 2 (2026): Maret
Publisher : UNIMAR AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33556/jstm.v26i2.496

Abstract

The purpose of this conceptual study is to formulate a quality management model for port services at Terminals for Own Interest (TUKS), focusing on regulatory compliance aspects, based on an in-depth analysis of the Cooperation Agreements (PKS) between the Port Authority and Harbour Master’s Office (KSOP) Class II/III Pekanbaru and various TUKS operators. TUKS is a crucial element in the national logistics chain, whose operations are highly dependent on the legal framework stipulated in the PKS, covering aspects of maritime safety, security, and environmental protection (Angkasa & Darmawan, 2024). The method used is qualitative document analysis (PKS) to identify primary quality variables: Regulatory Compliance and Partnership Sustainability. The analysis results show that the PKS serves as a quality instrument that obligates TUKS operators to meet minimum operational standards. The proposed model is the "Compliance-Driven Quality Management (CDQM)" which places the fulfillment of rights and obligations within the PKS as the primary indicator of quality performance. CDQM emphasizes (1) Requirement Alignment (PKS, Laws, PM), (2) Quality Processes based on PKS Milestones, and (3) Quality Review Mechanisms (Addendum/Dispute Resolution Clauses) (Hidayat et al., 2025). The implementation of this model is expected to improve TUKS operational efficiency and ensure maritime safety and security in port waters.