Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGGALO Nova Arikhman; Syarifah Darma; Sevilla Ukhtil Huvaid; Hary Budiman; Sri Oktarina; Agustika Antoni; Syukra Alhamda
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 17, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v17i1.30981

Abstract

Penyakit jantung koroner disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan peningkatan timbulnya kolestrol yang mempersempit pembuluh diseluruh tubuh termasuk pembuluh koroner. Tingginya angka kejadian penyakit jantung koroner di Puskesmas Nanggalo mencapai 2,30%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan kejadian penyakit jantung koroner pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo Kota Padang tahun 2024 (Laporan Puskesmas, 2023). Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan case control yang dilakukan pada bulan November 2023 – Mei 2024. Populasi penelitian yaitu 130 lansia dan sampel sama yaitu 130 lansia (65 kasus : 65 kontrol). Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Pengolahan data dengan aplikasi komputerisasi. Analisis data dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi-square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk menentukan variabel yang paling dominan. Hasil analisis univariat menunjukan sebanyak 67,7% lansia memiliki kebiasaan merokok, 69,2% tidak memiliki riwayat keluarga penderita PJK dan 63,8% lansia memiliki aktivitas fisik berat. Hasil analisis bivariat menunjukan ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok (p-value 0,001), genetik (p-value 0,002) dan aktivitas fisik (p-value 0,001).Keyword: Penyakit Jantung Koroner, Lansia, Faktor Risiko, Penuaan, Penyakit Kardiovaskular. 
Edukasi dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Sebagai Upaya Peningkatan Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Masyarakat di Nagari Lubuk Gadang Barat Daya Hendri Devita; Vitri Yuli Afni Amran; Nurhamidah Rahman; Nirmala Sari; Dian Eka Nursyam; Putri Engla Pasalina; Sevilla Ukhtil Huvaid; Jem Khairil; Annisa Wahyuni
Jurnal Vokasi Vol 10, No 2 (2026): Juli
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/vokasi.v10i2.9682

Abstract

Angka kematian akibat henti jantung di luar rumah sakit (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA) masih tinggi dan sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan pemberian pertolongan pertama. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat awam dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat awam dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari, khususnya Resusitasi Jantung Paru (RJP), di Nagari Lubuk Gadang Barat Daya, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang partisipatif, dengan metode pelaksanaan meliputi tiga tahap, yaitu koordinasi dengan mitra terkait, pelaksanaan berupa edukasi melalui ceramah dan tanya jawab yang dilanjutkan dengan demonstrasi serta simulasi praktik RJP secara langsung oleh peserta, dan evaluasi melalui pre-test dan post-test terhadap pengetahuan serta keterampilan peserta. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Agustus 2025 di Masjid Baiturrahman Liki dan diikuti oleh 110 peserta yang terdiri dari perangkat nagari, kader posyandu, ibu-ibu PKK, dan masyarakat sekitar. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi serta meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan BHD. Mitra, yaitu Wali Nagari, Kepala Jorong, Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Selatan, dan Puskesmas Sangir, memberikan dukungan penuh terhadap keberhasilan kegiatan. Pelatihan BHD berbasis komunitas seperti ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, mengurangi keterlambatan pertolongan, dan menurunkan angka kematian akibat henti jantung di luar fasilitas kesehatan.