p-Index From 2021 - 2026
2.679
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online PIPER
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

UPAYA PERBAIKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS DENGAN PEMBERIAN POC Azolla microphylla Herlina Kurniawati; Ratri Yulianingsih; Listi Wahda
Publikasi Informasi Pertanian Vol 17, No 1 (2021): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v17i1.507

Abstract

Jagung manis (Zea mays Saccharata) adalah salah satu tanaman serealia di Indonesia,selain sebagai tanaman bahan pangan pokok pengganti beras dalam upaya diversifikasi pangan,jagung juga merupakan pakan ternak. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil produksi jagungadalah penambahan POC Azolla microphylla. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhPOC Azolla microphylla terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis, dan mengetahui dosisnyadalam menghasilkan pertumbuhan dan hasil jagung tertinggi. Penelitian ini menggunakan metodeeksperimen lapangan dan menggunakan rancangan lingkungan dengan pola rancangan acakkelompok. Perlakuan pada penelitian ini adalah POC Azolla microphylla yang terdiri dari limataraf yaitu B0 = Tanpa POC Azolla microphylla, B1 = 60 ml POC Azolla microphylla/ liter air/m2,B2 = 120 ml POC Azolla microphylla/ liter air/m2, B3 = 180 ml POC Azolla microphylla/liter air/m2, B4 = 240 ml POC Azolla microphylla/liter air/m2. Parameter yang diamati adalah tinggitanaman (cm), berat kotor dan berat bersih tongkol (gram). Data dianalisis dengan sidik ragamkemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberianPOC Azolla microphylla berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagungmanis. Pemberian 240 ml POC Azolla microphylla/liter air/m2 memberikan rerata pertumbuhandan hasil tertinggi yang ditunjukkan oleh peubah tinggi tanaman dengan rerata tertinggi yaitu 155,96cm, rerata berat tongkol kotor terberat yaitu 421,55 g, dan rerata berat tongkol bersih terberatyaitu 299,35 g.
Penggunaan Bokashi Kulit Buah Rambutan Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea resptans Poir) Herlina Kurniawati
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 31 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i31.442

Abstract

Kangkung darat merupakan sayuran yang bernilai ekonomi dan sebaranya cukup luas. Upaya yang dapat dilakukan agar produksi kangkung darat dapat ditingkatkan adalah dengan mengunakan pupuk organik dalam bentuk bokashi kulit buah rambutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokashi kulit buah rambutan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat dan dosis bokashi yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat. Lingkup penelitian ini meliputi beberapa variabel yaitu: variabel bebas adalah pelakuan bokashi kulit buah rambutan; variabel terikat yaitu terdiri dari tinggi tanaman dan berat segar tanaman. Rancangan yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan perlakuan bokashi kulit buah rambutan terdiri dari 6 level, masing-masing level diulang sebanyak 5 kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap yang diamati dilakukan analisis ragam (Uji F) pada taraf nyata 5% dan 1%. Jika pada uji F perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata maka akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bokashi kulit buah rambutan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat. Pemberian 2,5 kg dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat, rata-rata tinggi tanaman yang dihasilkan 23,9 cm dan rata-rata berat segar per tanaman 39,65 g. Kata Kunci : Bokashi, Produksi, Kangkung Darat, Pertumbuhan, Hasil
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJAR Herlina Kurniawati
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.107 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJARPENDAHULUANPemberitaan yang akhir – akhir ini banyak diberitakan oleh media adalah mengenai kekerasan pelajar di sekolah. Pemberitaan media mengenai kekerasan pelajar sendiri tidak lepas dari meningkatnya jumlah kekerasan di lingkungan dan kejadiannya tidak hanya pada saat masa orientasi, melainkan sepanjang tahun dengan berbagai modus, intensitas, dan pelaku. Data yang dirilis KPAI (Komisi perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa 1.2026 responden, 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,9 persen kekerasan dilakukan guru, 42,1 persen oleh teman sekelas, dan 28,0 persen oleh teman lain kelas. Kasus yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, berupa kekerasan kepada adik kelas dan tawuran pelajar antarsekolah mendapat perhatian dari masyarakat luas tidak terkecuali oleh pelajar itu sendiri. Baik pelaku maupun sasaran kekerasan oleh pelajar sama – sama dalam posisi sebagai korban. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu. Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Secara keseluruhan layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak menerima 686 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.Media massa dengan gaya pemberitaan yang berbeda antara media satu dengan yang lain saling berlomba dalam memberitakan peristiwa kekerasan pelajar untuk menarik perhatian masyarakat tidak terkecuali bagi pelajar itu sendiri. Pemberitaan kekerasan pelajaryang diberikan oleh media massa menimbulkan efek yang berbeda pada masing – masing khalayak yang mengkonsumsinya. Hampir sepanjang waktu mereka diberi informasi mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar mulai dari pemukulan, pengerusakkan, perkelahian antar pelajar yang terkadang berakhir dengan pembunuhan.Pemberitaan berita kriminal mempunyai tipologi yang berbeda – beda, ada yang menampilkan langsung korban dan pelaku ada yang tidak, bahkan ada media yang memberitakan proses terjadinya kriminal secara terperinci dengan pola investigasi dimana hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dari khalayak (Kuswandi, 2008:50). Berita kekerasan pelajar termasuk dalam kategori berita kriminal, maka berita – berita kekerasan pelajar yang ada di media massa mengikuti penyajian berita kriminal pada umumnya. Berita kekerasan tersebut diberitakan oleh media dengan pola yang dapat menyebabkan rasa simpati terhadap korban, bahkan bisa berwujud perasaan ngeri akibat efek dramatisasi sehingga menjadi hal yang wajar jika para pelajar tersebut merasakan kengerian ketika mereka mengkonsumsi berita kekerasan pelajar tersebut.Penelitian ini termasuk dalam tipe eksplanatif, dimana penelitian ini merupakan penelitian dengan menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih variabel yang diteliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X) yang berpengaruh terhadap variabel terikat, yaitu tingkat kecemasan pelajar (Y). teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kultivasi / Cultivation Theory, Teori Penguatan / Reinforcement Theory, Teori Ketergantungan / Depedency Theory.PEMBAHASANPada penelitian ini hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian di lapangan melalui 76 responden yang berprofesi sebagai pelajar SMA, menunjukkan bahwa berapapun tingkat terpaan pemberitaan mengenai kekerasan pelajar tingkat kecemasan yang mereka rasakantermasuk dalam kategori tinggi. Terpaan pemberitaan kekerasan pelajar merupakan faktor yang menimbulkan kecemasan bagi pelajar namun bukan menjadi faktor satu – satunya yang menjadikan pelajar tersebut menjadi cemas. Faktor – faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menerima efek media ini meliputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta pengalaman, kelompok sosial dimana individu menjadi anggota, dan hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi (Rakhmat, 2004:204). Sedangkan kecemasan yang timbul di diri pelajar terhadap kasus kekerasan pelajar yang banyak terjadi di kalangan pelajar saat ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, faktor lingkungan sekolahTerpaan pemberitaan kekerasan pelajar yang tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan pelajar membuat hasil penelitian tidak sesuai dengan Teori Ketergantungan (Depedency Theory). Pada teori ini dijelaskan bahwa semakin orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, maka semakin penting peran media dalam hidup orang tersebut, sehingga semakin besar pengaruh yang dimiliki media. Namun dalam perkembangannya, khalayak semakin kritis dalam menerima berbagai informasi yang diberikan oleh media. Mereka membutuhkan media dalam mencari berbagai informasi mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka namun dalam menerima pesan di media informasi tersebut akan disaring, dipikirkan, dan dan dipertimbangkan apakah mereka mau menerima pesan dari media massa tersebut atau tidak. Walaupun peristiwanya sama namum pelajar akan menanggapi secara berbeda – beda, sesuai keadaan diri mereka masing – masing. Secara psikologis pelajar mempersepsi stimuli sesuai dengan karakteristik personalnya atau dapat dikatakan bahwa pesan diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda. Seperti dijelaskan dalam Teori Pengolahan Informasi individu bekerja bagai biokomputer yang rumit, dengan kapasitas dan strategi pengelola informasi tertentu.Teori ini menggunakan analogi mekanis untuk menggambarkan dan menafsirkan bagaimana individu mengambil dan memaknai banjir informasi yang diterima indera masing – masing setiap saat setiap harinya (Baran, 2010:311). Setiap hari pelajar terekpos dengan berbagai informasi mengenai kekerasan pelajar dalam jumlah yang besar oleh media massa, mereka menyaring berbagai informasi sehingga hanya sebagian kecil saja yang mencapai pikiran sadar mereka. Hanya sebagian kecil saja dari informasi tersebut yang menarik perhatian dan diproses sehingga hanya menyimpan sedikit informasi ini dalam memori jangka panjang. Khalayak bukanlah seorang penerima ataupun penghindar informasi, namun mereka telah membangun mekanisme canggih untuk menyeleksi informasi yang tidak penting atau tidak berguna.Teori Pengolahan Informasi memiliki potensi yang besar untuk mengeksplorasi beragam konten di media. Bagaimana pelajar merangkai kemampuannya dalam merangkai kemampuan kognitif alamiah mereka untuk memahami dan menggunakan berbagai konten di media. Pelajar yang merupakan usia peralihan dimana awalnya terpesona dan ketakutan oleh pemberitaan kekerasan yang diberikan oleh media pada akhirnya membuat pembedaan yang kompleks terhadap apa yang diberitakan. Pelajar mulai mengerti bahwa pemberitaan kekerasan pelajar yang diberitakan oleh media tidak selalu seperti fakta yang ada, dengan pengemasan berita yang berlebihan mereka tidak akan langsung menerima segala informasi yang diberikan. Ketakukan dan kecemasan terhadap kekerasaa pelajar tidak langsung muncul setelah mereka mengkonsumsi pemberitaan di media.PENUTUPKesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hipotesis penelitian ini tidak terbukti, yaitu tidak ada pengaruh antara terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkatkecemasan pelajar. Berapapun terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X), tingkat kecemasan pelajar (Y) tergolong tinggi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lain yang turut memengaruhi hasil penelitian mengenai pengaruh terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkat kecemasan pelajar. Beberapa faktor lain tersebut antara lain seperti faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, dan faktor lingkungan sekolah.Saran•Media dalam memublikasikan berita mengenai kekerasan pelajar lebih memperhatikan peraturan yang ada, agar tidak sekedar melihat sisi komersilnya saja namun juga dapat menjadi sumber informasi dan juga pembelajaran bagi masyarakat. Media massa memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat untuk ikut mendidik anak bangsa.•Pihak sekolah dapat membentuk hubungan secara egaliter (setara) dan tidak ada keharusan penghormatan secara berlebihan baik antarpelajar, termasuk dengan guru agar tidak terjadi penghormatan berlebihan dari yunior kepada senior yang mengarah pada tindakan bullying yang banyak terjadi di lingkungan sekolah.•Pelajar adalah kalangan muda yang memiliki energi besar, namun kurikulum pendidikan tidak mampu menampung kekuatan tersebut. Energi pelajar yang besar itu seharusnya disalurkan oleh sekolah secara proporsional. Jika pelajar hanya dituntut secara kognitif dalam kurikulum, mereka tentu kesulitan menyalurkan kelebihan energinya dalam hal-hal lain yang positif akhirnya terjadilah kekerasan dan tawuran.•Orangtua dapat menciptakan komunikasi yang baik dengan anak agar mereka dapat menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami ketika berada di lingkungan sekolah. Sehingga orangtua dapat memperhatikan pergaulan anak dengan kelompokteman sebayanya di lingkungan tempat anak menimba ilmu maupun tempat mereka bermain.DAFTAR PUSTAKABaran, Stanley J & Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan (Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future). Jakarta: Salemba Humanika.Effendy, Onong Uchjana. (1990). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hernandez, Roger E. (2005). Remaja & Media. Bandung: PT Intan Sejati.Javanovich, Harcourt Brace. (1993).Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa (Analisis Interaktif Budaya Massa). Jakarta: Rineka Cipta.Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss. (2008). Theories of Human Communication. 9th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.Morissan. (2010). Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Nurudin. (2010). Kutu – Kutu Media: Seksualitas dalam Globalisasi Media. Yogyakarta: Mata Padi Presindo.Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Risnawita, S & M.Nur Ghufron. (2011). Teori – Teori Psikologi. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.Sarwoko, Bambang. (1989). Konsep Dasar: Pendidikan Luar Sekolah. Semarang: IKIP Seamarang Press.
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJAR Herlina Kurniawati
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.107 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemberitaan yang akhir – akhir ini banyak diberitakan oleh media adalah mengenai kekerasan pelajar di sekolah. Pemberitaan media mengenai kekerasan pelajar sendiri tidak lepas dari meningkatnya jumlah kekerasan di lingkungan dan kejadiannya tidak hanya pada saat masa orientasi, melainkan sepanjang tahun dengan berbagai modus, intensitas, dan pelaku. Data yang dirilis KPAI (Komisi perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa 1.2026 responden, 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,9 persen kekerasan dilakukan guru, 42,1 persen oleh teman sekelas, dan 28,0 persen oleh teman lain kelas. Kasus yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, berupa kekerasan kepada adik kelas dan tawuran pelajar antarsekolah mendapat perhatian dari masyarakat luas tidak terkecuali oleh pelajar itu sendiri. Baik pelaku maupun sasaran kekerasan oleh pelajar sama – sama dalam posisi sebagai korban. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu. Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Secara keseluruhan layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak menerima 686 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.Media massa dengan gaya pemberitaan yang berbeda antara media satu dengan yang lain saling berlomba dalam memberitakan peristiwa kekerasan pelajar untuk menarik perhatian masyarakat tidak terkecuali bagi pelajar itu sendiri. Pemberitaan kekerasan pelajaryang diberikan oleh media massa menimbulkan efek yang berbeda pada masing – masing khalayak yang mengkonsumsinya. Hampir sepanjang waktu mereka diberi informasi mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar mulai dari pemukulan, pengerusakkan, perkelahian antar pelajar yang terkadang berakhir dengan pembunuhan.Pemberitaan berita kriminal mempunyai tipologi yang berbeda – beda, ada yang menampilkan langsung korban dan pelaku ada yang tidak, bahkan ada media yang memberitakan proses terjadinya kriminal secara terperinci dengan pola investigasi dimana hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dari khalayak (Kuswandi, 2008:50). Berita kekerasan pelajar termasuk dalam kategori berita kriminal, maka berita – berita kekerasan pelajar yang ada di media massa mengikuti penyajian berita kriminal pada umumnya. Berita kekerasan tersebut diberitakan oleh media dengan pola yang dapat menyebabkan rasa simpati terhadap korban, bahkan bisa berwujud perasaan ngeri akibat efek dramatisasi sehingga menjadi hal yang wajar jika para pelajar tersebut merasakan kengerian ketika mereka mengkonsumsi berita kekerasan pelajar tersebut.Penelitian ini termasuk dalam tipe eksplanatif, dimana penelitian ini merupakan penelitian dengan menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih variabel yang diteliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X) yang berpengaruh terhadap variabel terikat, yaitu tingkat kecemasan pelajar (Y). teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kultivasi / Cultivation Theory, Teori Penguatan / Reinforcement Theory, Teori Ketergantungan / Depedency Theory.PEMBAHASANPada penelitian ini hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian di lapangan melalui 76 responden yang berprofesi sebagai pelajar SMA, menunjukkan bahwa berapapun tingkat terpaan pemberitaan mengenai kekerasan pelajar tingkat kecemasan yang mereka rasakantermasuk dalam kategori tinggi. Terpaan pemberitaan kekerasan pelajar merupakan faktor yang menimbulkan kecemasan bagi pelajar namun bukan menjadi faktor satu – satunya yang menjadikan pelajar tersebut menjadi cemas. Faktor – faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menerima efek media ini meliputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta pengalaman, kelompok sosial dimana individu menjadi anggota, dan hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi (Rakhmat, 2004:204). Sedangkan kecemasan yang timbul di diri pelajar terhadap kasus kekerasan pelajar yang banyak terjadi di kalangan pelajar saat ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, faktor lingkungan sekolahTerpaan pemberitaan kekerasan pelajar yang tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan pelajar membuat hasil penelitian tidak sesuai dengan Teori Ketergantungan (Depedency Theory). Pada teori ini dijelaskan bahwa semakin orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, maka semakin penting peran media dalam hidup orang tersebut, sehingga semakin besar pengaruh yang dimiliki media. Namun dalam perkembangannya, khalayak semakin kritis dalam menerima berbagai informasi yang diberikan oleh media. Mereka membutuhkan media dalam mencari berbagai informasi mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka namun dalam menerima pesan di media informasi tersebut akan disaring, dipikirkan, dan dan dipertimbangkan apakah mereka mau menerima pesan dari media massa tersebut atau tidak. Walaupun peristiwanya sama namum pelajar akan menanggapi secara berbeda – beda, sesuai keadaan diri mereka masing – masing. Secara psikologis pelajar mempersepsi stimuli sesuai dengan karakteristik personalnya atau dapat dikatakan bahwa pesan diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda. Seperti dijelaskan dalam Teori Pengolahan Informasi individu bekerja bagai biokomputer yang rumit, dengan kapasitas dan strategi pengelola informasi tertentu.Teori ini menggunakan analogi mekanis untuk menggambarkan dan menafsirkan bagaimana individu mengambil dan memaknai banjir informasi yang diterima indera masing – masing setiap saat setiap harinya (Baran, 2010:311). Setiap hari pelajar terekpos dengan berbagai informasi mengenai kekerasan pelajar dalam jumlah yang besar oleh media massa, mereka menyaring berbagai informasi sehingga hanya sebagian kecil saja yang mencapai pikiran sadar mereka. Hanya sebagian kecil saja dari informasi tersebut yang menarik perhatian dan diproses sehingga hanya menyimpan sedikit informasi ini dalam memori jangka panjang. Khalayak bukanlah seorang penerima ataupun penghindar informasi, namun mereka telah membangun mekanisme canggih untuk menyeleksi informasi yang tidak penting atau tidak berguna.Teori Pengolahan Informasi memiliki potensi yang besar untuk mengeksplorasi beragam konten di media. Bagaimana pelajar merangkai kemampuannya dalam merangkai kemampuan kognitif alamiah mereka untuk memahami dan menggunakan berbagai konten di media. Pelajar yang merupakan usia peralihan dimana awalnya terpesona dan ketakutan oleh pemberitaan kekerasan yang diberikan oleh media pada akhirnya membuat pembedaan yang kompleks terhadap apa yang diberitakan. Pelajar mulai mengerti bahwa pemberitaan kekerasan pelajar yang diberitakan oleh media tidak selalu seperti fakta yang ada, dengan pengemasan berita yang berlebihan mereka tidak akan langsung menerima segala informasi yang diberikan. Ketakukan dan kecemasan terhadap kekerasaa pelajar tidak langsung muncul setelah mereka mengkonsumsi pemberitaan di media.PENUTUPKesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hipotesis penelitian ini tidak terbukti, yaitu tidak ada pengaruh antara terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkatkecemasan pelajar. Berapapun terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X), tingkat kecemasan pelajar (Y) tergolong tinggi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lain yang turut memengaruhi hasil penelitian mengenai pengaruh terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkat kecemasan pelajar. Beberapa faktor lain tersebut antara lain seperti faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, dan faktor lingkungan sekolah.Saran•Media dalam memublikasikan berita mengenai kekerasan pelajar lebih memperhatikan peraturan yang ada, agar tidak sekedar melihat sisi komersilnya saja namun juga dapat menjadi sumber informasi dan juga pembelajaran bagi masyarakat. Media massa memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat untuk ikut mendidik anak bangsa.•Pihak sekolah dapat membentuk hubungan secara egaliter (setara) dan tidak ada keharusan penghormatan secara berlebihan baik antarpelajar, termasuk dengan guru agar tidak terjadi penghormatan berlebihan dari yunior kepada senior yang mengarah pada tindakan bullying yang banyak terjadi di lingkungan sekolah.•Pelajar adalah kalangan muda yang memiliki energi besar, namun kurikulum pendidikan tidak mampu menampung kekuatan tersebut. Energi pelajar yang besar itu seharusnya disalurkan oleh sekolah secara proporsional. Jika pelajar hanya dituntut secara kognitif dalam kurikulum, mereka tentu kesulitan menyalurkan kelebihan energinya dalam hal-hal lain yang positif akhirnya terjadilah kekerasan dan tawuran.•Orangtua dapat menciptakan komunikasi yang baik dengan anak agar mereka dapat menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami ketika berada di lingkungan sekolah. Sehingga orangtua dapat memperhatikan pergaulan anak dengan kelompokteman sebayanya di lingkungan tempat anak menimba ilmu maupun tempat mereka bermain.DAFTAR PUSTAKABaran, Stanley J & Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan (Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future). Jakarta: Salemba Humanika.Effendy, Onong Uchjana. (1990). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hernandez, Roger E. (2005). Remaja & Media. Bandung: PT Intan Sejati.Javanovich, Harcourt Brace. (1993).Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa (Analisis Interaktif Budaya Massa). Jakarta: Rineka Cipta.Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss. (2008). Theories of Human Communication. 9th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.Morissan. (2010). Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Nurudin. (2010). Kutu – Kutu Media: Seksualitas dalam Globalisasi Media. Yogyakarta: Mata Padi Presindo.Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Risnawita, S & M.Nur Ghufron. (2011). Teori – Teori Psikologi. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.Sarwoko, Bambang. (1989). Konsep Dasar: Pendidikan Luar Sekolah. Semarang: IKIP Seamarang Press.
PEMANFAATAN MOL BATANG PISANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TERUNG UNGU Herlina Kurniawati; Ratri Yulianingsih; Yulianus Yulianus
Publikasi Informasi Pertanian Vol 18, No 1 (2022): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v18i1.620

Abstract

Produksi terung di Kabupaten Sintang perlu ditingkatkan. Tanah yang masih cukup tersediauntuk mengusahakan tanaman terung di Kabupaten Sintang adalah tanah PMK. Tanah PMK mempunyaiketerbatasan yaitu kandungan hara seperti unsur hara yang rendah, bahan organik rendah. Meningkatkanproduksi terung dapat dilakukan dengan memberikan MOL batang pisang. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh MOL batang pisang terhadap pertumbuhan dan hasil terung ungu padatanah PMK dan mengetahui dosis MOL batang pisang yang menghasilkan pertumbuhan serta hasilterung ungu pada tanah PMK. Ruang Lingkup penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabelterikat. Dalam penelitian ini adalah dosis MOL batang pisang sebagai variabel bebas. Tinggi tanaman,jumlah buah, dan berat buah per tanaman sebagai variabel terikat. Penelitian ini menggunakan metodepercobaan lapangan, percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuanpada penelitian ini adalah MOL batang pisang, yang terdiri dari lima taraf yaitu: P0(tanpa MOL batangpisang), P1 (5 ml MOL batang pisang per liter air/petak), P2 (10 ml MOL batang pisang per liter air/petak), P3 (15 ml MOL batang pisang per liter air/petak), dan P4 (20 ml MOL batang pisang per literair/petak). Data dianalisis dengan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ)pada taraf nyata 0,05 dan 0,01.Hasil penelitian diketahui bahwa Mol Batang pisang berpengaruh terhadaphasil tanaman terung pada tanah PMK yang terukur dari jumlah buah dan berat buah per tanaman.Pemberian 20 ml MOLbatang pisang/liter air menghasilkan jumlah buah dan berat buah tertinggi denganrata-rata jumlah buah 2,10 buah/tanaman dengan berat buah rata-rata 750,50 gr/tanaman.
PERANAN PUPUK KOMPOS KOTORAN KAMBING DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU Herlina Kurniawati; Markus Sinaga; Azmi Syahril
Publikasi Informasi Pertanian Vol 18, No 2 (2022): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v18i2.673

Abstract

Meningkatkan produksi kacang hijau dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Penambahankompos kotoran kambing berfungsi untuk meningkatkan aktivitas mikroba tanah,memperbaiki sifatfisik dan kimia tanah, dan meningkatkan ketersediaan hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh pemberianpupuk kompos kotoran kambing terhadap pertumbuhan dan hasil kacanghijau,serta dosis pupuk kompos kotoran kambing yang memberikan pertumbuhandan hasil terbaik kacanghijau. Penelitian ini menggunakanmetode eksperimen lapangan dengan pola dasarRancangan AcakKelompok (RAK) berupa 5 ulangan dan 5 taraf perlakuan yaitu, N0=tanpa pemberian pupuk komposkotoran kambing, N1=0,5 kg pupuk kompos kotoran kambing/m2, N2= 1 kg pupuk komposkotorankambing m2, N3= 1,5 kg pupuk kompos kotoran kambing/m2, N4= 2 kg pupukkompos kotorankambing/m2. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman(cm), jumlah polong, dan berat biji (gr).Data dianalisis dengan analisis sidikragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ pada selangkepercayaan95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupukkompos kotoran kambingberpengaruh tidak nyata pada parameter tinggi tanaman,namun berpengaruh nyata pada jumlah polongdan berat biji. Pemberian dengan dosis 2 kg/m2 menghasilkan pertumbuhan danhasil terbaik kacanghijau. Dengan rata-rata jumlah polong 10,83 danrata-rata berat biji 8,43.
PEMANFAATAN BATANG PISANG SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium cepa L) Herlina Kurniawati; nurhadiah nurhadiah; Oregen Rivaldo
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19, No 1 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i1.774

Abstract

Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang bermanfaat. Kebutuhan Bawangmerah di Indonesia mengalami peningkatan sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatanproduksi bawang merah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk organik cair (POC) dari batangpisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh POC batang pisang terhadap pertumbuhandan hasil tanaman bawang merah, dan mengetahui dosis pemberian POC batang pisang terbaik untukpertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian ini menggunakan metode eksprimen lapangan danmenggunakan rancangan lingkungan dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK), perlakuan adalahPOC batang pisang yang terdiri dari enam taraf perlakuan yaitu B0 = Tanpa POC batang pisang; B1 =2,5 ml POC batang pisang; B2 = 5 ml POC batang pisang; B3 = 7,5 ml POC batang pisang; B4 = 10 mlPOC batang pisang; dan B5 = 12,5 ml POC batang pisang. Parameter yang diamati adalah tinggitanaman (cm), jumlah umbi (buah), dan berat umbi (gram). Data dianalisis dengan analisis sidik ragamkemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa POCbatang pisang berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman namun tidak berpengaruh terhadapjumlah umbi bawang merah dan berat umbi bawang merah. Pemberian 12,5 ml POC batang pisangmemberikan rerata tinggi tanaman tertinggi yaitu 16,40 cm.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR D.I GROW TERHADAP HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogea, L.) Kurniawati, Herlina; Melki, Natalia Feronika
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.927

Abstract

Produksi kacang tanah di Kabupaten Melawi masih rendah yaitu 12,24 kuintal per ha per tahun, dengan luas 136 hektar. Rendahnya produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produksi adalah kurang tepatnya pengolahan tanah dan nutrisi tanaman, diantaranya pemupukan  yang harus diberikan seperti pupuk organik cair D.I Grow. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair D.I Grow terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah; dan mengetahui dosis pupuk organik cair DI Grow yang memberikan pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima ulangan, perlakuan dalam penelitian ini adalah pemberian pupuk DI Grow yang terdiri dari enam taraf perlakuan. D0 = tidak diberi D.I Grow; D1 = 2,5 ml D.I Grow per liter air; D2= 5 ml DI Grow per liter air; D3 = 7,5 ml D.I Grow per liter air; D4 = 10 ml D.I Grow per liter air; dan D5 = 12,5 ml D.I Grow per liter air. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan uji BNJ pada taraf 95% dan 99%.Hasil pengamatan dan analisis data diketahui bahwa pupuk organik cair D.I Grow berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah, dan pemberian pupuk organik cair D.I Grow 7,5 ml per liter air memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat polong isi dan berat biji per tanaman dengan rata-rata 73,00 gram dan 26,25 gram.
PERANAN KOMPOS SEKAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG KUCAI (Allium schoenoprasum L) Sukasih, Nining Sri; Kurniawati, Herlina; Sinaga, Markus; Saputra, Korin
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.936

Abstract

Sekam padi m erupakan limbah pengolahan padi. Pembuatan kompos berbahan sekam padi merupakan salah satu Upaya pemanfaatan limbah pengolahan padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan kompos sekam padi terhadap tanaman bawang kucai dan mengetahui dosis kompos sekam padi yang memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi pada tanaman bawang kucai. Penelitian ini  menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 5 taraf perlakuan dengan 5 ulangan. Dosis kompos sekam padi terdiri dari , 0 kg kompos sekam, 1 kg kompos sekam pad, 2 kg kompos sekam padi, 3 kg kompos sekam padi dan 4 kg kompos sekam padi. Parameter yang diamati  tinggi tanaman dan berat segar tanaman . Hasil penelitian menunjukan bahwa parameter tinggi tanaman dan berat segar tanaman bawang kucai berperanan nyata pada pemberian dosis kompos sekam padi sebanyak 4 kg dengan rerata tertinggi yaitu tinggi tanaman 39,40 cm, jumlah umbi 2,50 dan berat segar tanaman 31,60 gr.
PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG KETAN (Zea mays var Cerantina) DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR KULIT BUAH-BUAHAN Kurniawati, Herlina; Nurhadiah, Nurhadiah; Karlina, Devi
Publikasi Informasi Pertanian Vol 20 No 1 (2024): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v20i1.1118

Abstract

Hasil jagung ketan di Kabupaten Sintang lebih rendah dari potensi produksinya, oleh karenanya perlu ditingkatkan. Peningkatan hasil jagung ketan di Kabupaten Sintang dapat dilakukan dengan  pemberian pupuk organik, salah satunya adalah pupuk organik cair dari kulit buah-buahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair kulit buah-buahan terhadap pertumbuhan dan hasil jagung ketan serta mengetahui konsentrasinya yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik. Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor perlakukan dalam penelitian ini adalah Pupuk Organik Cair (POC) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan dan 5 kali pengulangan. Lima taraf perlakuan yang dimaksud sebagai berikut: P0 = Tanpa POC kulit buah-buahan per petak, P1 = 10%  POC kulit buah-buahan per petak, P2 = 20%  POC kulit buah-buahan per petak, P3 = 30%  POC kulit buah-buahan per petak, P4 = 40% POC kulit buah-buahan per petak. Parameter dalam penelitian ini adalah diameter batang, berat tongkol kotor, dan berat tongkol bersih. POC kulit buah-buahan tidak berpengaruh pada parameter diameter batang namun berpengaruh pada berat tongkol kotor dan berat tongkol bersih. Berat tertinggi akibat pemberian POC kulit buah-buahan dicapai pada konsentrasi 20% POC per petak, pada konsentrasi tersebut menghasilkan rerata berat tongkol kotor  152 g dan rerata berat tongkol bersih 137 g.