Claim Missing Document
Check
Articles

Abortion Due to Fetal Defects (Legal Analysis of Legislation and Fatwa of Ulama Mufti Bayan Linnas Number 68): Aborsi Karena Cacat Janin (Analisis Hukum Terhadap Peraturan Perundangan dan Fatwa Ulama Mufti Bayan Linnas Nomor 68) Abdullah, Arifin; Binti Hassan, 'Affaf
El-Hadhanah : Indonesian Journal Of Family Law And Islamic Law Vol. 4 No. 1 (2024): El-Hadhanah: Indonesian Journal of Family Law and Islamic Law
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/hadhanah.v4i1.3491

Abstract

Abortion is a word that symbolizes a crime in which the perpetrator must be punished because it is considered to have taken away a human being's right to life. However, sometimes abortion has to be carried out because if the pregnancy continues, the mother's life will be at stake due to the disability suffered by the occupant of her womb. Defects experienced by the fetus must be declared by a recognized medical expert in the field of pregnancy. This research question is how the laws and fatwas from Malaysian mufti clerics conclude the legal status of abortion due to fetal defects. In this research the author uses library research methods and is normative juridical in nature. Malaysia does not have specific laws governing abortion, so everything related to abortion will refer to Penal Code Section 312-316 (Act 574). Dr. Zulkifli Mohamad Al-Bakri, former Minister of Religion and Mufti of the 7th Federal Region stated in an article uploaded to Bayan Linnas No. 68 states that abortion is divided into two laws, namely mandatory if it has not reached the age of 120 days and haram if it has reached the age of 120 days or more unless the fetus being impregnated threatens the mother's life then it is permitted. Here it can be concluded that abortion is permitted if there is harm to the mother. If there is no harm, it is prohibited and forbidden.
Pendampingan Pengenalan Huruf Hijayyah pada Anak-anak Melalui Metode Iqra (Studi di Desa Pakat Jeroh, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah) Nufus, Hayatul; Abdullah, Arifin; Nur Mahdi, Muhammad; Maulana, Farid; Ningsih, Pria; Deva Sari, Putri; Ti Safur; Mira Hayami; Alfahran
Jurnal Riset dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Riset dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jrpm.v4i2.4472

Abstract

Pendampingan pengenalan huruf hijayyah kepada anak-anak melalui metode iqra bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana efektivitas metode iqra dalam pendampingan terhadap anak-anak untuk mempelajari dan mengenali huruf hijaiyyah?, (2) Bagaimana efektivitas metode iqra terhadap pembelajaran huruf-huruf bersambung dalam membaca Al-Qur’an?, (3) Bagaimana pengaruh metode iqra dalam meningkatkan kesadaran anak terhadap pentingnya membaca Al-Qur’an dalam kehidupan mereka?. Penelitian ini dilakukan dengan metode pendampingan, pembinaan dan praktik melalui teknik observasi dan wawancara. Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pakat Jeroh, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah ini diikuti sebanyak 15 anak. Metode pelaksanaan kegiatan ini melalui pendampingan, pembinaan dan praktik. Evaluasi kegiatan dilakukan setiap 5 kali dalam seminggu melalui tes baca Qur’an dengan Iqra. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan pengenalan huruf hijayyah kepada anak melalui metode iqra berjalan sesuai dengan yang direncanakan dan sesuai dengan harapan tim pelaksana pengabdian, yaitu: pertama, anak mampu mengetahui serta mengenal jelas huruf-huruf yang terdapat dalam al-Qur’an dengan benar, karena banyak huruf hijayyah yang serupa namun berbeda bacaannya seperti huruf ح dengan huruf خ dan ه, huruf ا dan ع, huruf ك dan ق, huruf ظ dan ض dan sebagainya. Kedua, anak mampu membaca al-Qur’an dengan huruf-huruf yang bersambung dan ketiga, bertambahnya kesadaran anak akan pentingnya membaca Al-Qur’an.
Polarization of Judge Considerations in Waqf Disputes at Aceh's Syar'iyah Cour Abdullah, Arifin; Sholihin, Riadhus; Habibi, Muhammad
Media Syari'ah : Wahana Kajian Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Sharia and Law Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jms.v25i1.16999

Abstract

To protect waqf property, the Waqaf Law and KHI demand that waqf conflicts be settled peacefully to reach a win-win solution. However, Sharia Court judges still frequently decide waqf disputes in Aceh with a win-lose outcome; as a result, they do not protect waqf assets. This study evaluates Indonesian normative law using a qualitative method and court rulings. Field and library research yielded primary, secondary, and tertiary data. The study discovered three models of waqf conflicts in the Syar'iyah Court: waqf disputes that look at the parties' positions, which influences court evidence; waqf disputes that look at movable and immovable waqf assets; and models that look at both. Waqf property is either productive or unproductive. Second, the parties' reasons for settling the Waqf Dispute at Syar'iyah Court were: 1) Peace and 2) Interest factors to achieve legal certainty. Third, Syar'iyah Court judges only assess events, legal facts, and evidence in dispute settlement, not waqf asset protection. This research hopes to give Syar'iyah Court judges a legal umbrella to actively resolve waqf conflicts.Untuk melindungi harta benda wakaf, UU Waqaf dan KHI menuntut agar konflik wakaf diselesaikan secara damai untuk mencapai win-win solution. Namun, hakim Mahkamah Syariah masih sering memutuskan sengketa wakaf di Aceh dengan hasil menang-kalah; akibatnya, mereka tidak melindungi aset wakaf. Studi ini mengevaluasi hukum normatif Indonesia dengan menggunakan metode kualitatif dan putusan pengadilan. Penelitian lapangan dan kepustakaan menghasilkan data primer, sekunder, dan tersier. Studi ini menemukan tiga model konflik wakaf di Mahkamah Syar'iyah: sengketa wakaf yang melihat posisi para pihak, yang mempengaruhi pembuktian di pengadilan; sengketa wakaf yang menyangkut harta benda wakaf bergerak dan tidak bergerak; dan model yang melihat keduanya. Harta wakaf bisa produktif atau tidak produktif. Kedua, alasan para pihak menyelesaikan Sengketa Wakaf di Mahkamah Syar'iyah adalah: 1) Perdamaian dan 2) Faktor kepentingan untuk mencapai kepastian hukum. Ketiga, hakim Mahkamah Syar'iyah hanya menilai peristiwa, fakta hukum, dan bukti dalam penyelesaian sengketa, bukan perlindungan harta benda wakaf. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan payung hukum kepada hakim Mahkamah Syar'iyah untuk secara aktif menyelesaikan konflik wakaf.
YURIDICAL ANALYSIS SYUF`AH RIGHTS IN LAND SALE AND PURCHASE TRANSACTIONS (Case Study In Darussalam District) Nurhisam, Luqman; Abdullah, Arifin; Fauzan, Faisal; Nurdianti, Nurdianti
Dusturiyah: Jurnal Hukum Islam, Perundang-undangan dan Pranata Sosial Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/dusturiyah.v13i2.20466

Abstract

Land buying and selling transactions are closely related to people's lives which are a benchmark for whether or not the public understands land buying and selling transactions as regulated in Islamic law and Indonesian positive law. Disobedience in carrying out land sale and purchase transactions can lead to disputes which result in disputes in the future in society. Land buying and selling transactions that occur in the Darussalam sub-district community are the object of research conducted to see how the process of buying and selling land occurs whether there is an application of syuf`ah rights according to the provisions in fiqh muamalah and Islamic law. In this study, the main focus of the research is how the practice of buying and selling land in Darussalam sub-district, how is the existence of the application of syuf`ah rights that occur in society and how is the juridical analysis of syuf`ah rights in buying and selling land. The method used in this study is the method qualitative and sociological juridical with the type of field research (field research) and library research (library research). Research data were analyzed by means of descriptive analysis. Based on the analysis, it shows that land buying and selling transactions are in accordance with the applicable land sale provisions, in practice the community enforces syuf`ah activities in the process and becomes a necessity in land buying and selling transaction activities, but there are still those who do not carry them out due to a lack of understanding of syuf'ah rights . In this study, it was found that not all local people know the mention of syuf`ah rights in their daily lives, mention of syuf`ah rights in general is often referred to as "neighboring rights". The implementation of neighbor rights is still being used and continues to grow in society.Keywords: Islamic Law, Fiqh Muamalah, Syuf`ah Rights, Land Management, Land Purchase Transactions
PERAN PEMERINTAH TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI GARAM DI GAMPONG CEBREK KABUPATEN PIDIE MENURUT HUKUM ISLAM Armaya Halidasari; Arifin Abdullah
Al-Mudharabah: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol. 2 No. 2 (2021): Al-Mudharabah : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-mudharabah.v3i2.2013

Abstract

Produksi merupakan pekerjaan berjenjang yang memerlukan kesungguhan manusia, pengorbanan yang besar, dan kekuatan yang terpusat dalam lingkungan tertentu untuk mewujudkan daya guna material dan spiritual. Produksi merupakan faktor utama kegiatan ekonomi. Di Kabupaten Pidie, terdapat usaha produksi garam yang terletak di gampong Cebrek, dalam menjalankan usaha tersebut tidak terlepas dari masalah yang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat kendala apa yang di hadapi petani garam dan bagaimana peran pemerintah dalam mengatasi kendala tersebut, serta bagaimana perspektif ekonomi Islam terhadap peran pemerintah pada kegiatan produksi garam. Peran yang dilakukan oleh pemerintah harus sejalan dengan aturan syari’at. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian mendapati bahwa kendala yang di hadapi oleh petani garam di gampong Cebrek harus segera ditangani oleh dinas terkait demi kelancaran produksi dan menghasilkan garam dengan kualitas terbaik. Adapun pemerintah yang terkait dalam usaha produksi garam ini adalah Dinas Kelautan dan Perikanan. Berdasarkan hasil penelitian, selama ini dinas kelautan dan perikanan belum sepenuhnya menjalankan kewajiban yang harus dilakukan terhadap peningkatan produksi garam di Gampong Cebrek. Dalam perspektif ekonomi Islam, pemerintah yang memiliki kekuasaan dalam mengatur rakyat termasuk dalam aktivitas ekonomi, harus dapat memegang kokoh pada landasan Al-Qur’an dan Sunnah dalam menjalankan kewenangannya berlaku adil agar sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dalam bingkai Syari’ah.
KEPASTIAN HUKUM TERHADAP HAK KONSUMEN DI ERA DIGITAL PADA TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE: Studi Kasus Pada Onlineshop Hadia Collection Arifin Abdullah; Almiftahul Ramadhan
Al-Mudharabah: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol. 3 No. 1 (2022): Al-Mudharabah : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-mudharabah.v4i1.2017

Abstract

Kepastian Hukum pada transaksi jual beli online menurut Undang-Undang dan tinjauan dari hukum islam terhadap Hak Konsumen pada transaksi jual beli online. Penelitian ini dilakukan di Onlineshop Hadia Collection. Pertanyaan dalam penelitian ini yaitu, Bagaimana Bentuk Tanggung Jawab Penjual Terkait Pemenuhan Hak Konsumen Dalam Jual Beli Di Era Digital pada Online Shop Hadia Collection, Bagaimana Pandangan Fiqh Muamalah Terhadap Tanggung Jawab Penjual Terkait Pemenuhan Hak Konsumen Dalam Jual Beli Di Era Digital Pada Online Shop Hadia Collection, Data penelitian ini dihimpun melalui metode penelitian lapangan (field research), wawancara (interview) dan dokumentasi, selanjutnya dihimpun dari metode penelitian kepustakaan (library research) yaitu memaparkan dan memberi penilaian apakah penerapannya tersebut sesuai dengan undang-undang dan dalam perspektif hukum islam. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa perundang-undangan yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum perlindungan konsumen pada transaksi jual beli online Undang-Undang Nomor. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Bentuk perlindungan konsumen pada jual beli online menurut Undang-Undang diantaranya berupa kepastian hukum bagi konsumen dan pelaku usaha jual beli online, memberikan sanksi pidana kepada pelaku usaha yang merugikan konsumen, dan melindungi hak dan kewajiban konsumen. Bentuk perlindungan hukum jual beli online menurut hukum Islam adalah berupa larangan dalam Al-Quran dan hadis tentang jual beli gharar, praktik penipuan dan larangan berbuat curang. Pembatalan jual beli online dan ganti rugi serta penerapan hak khiyar dalam jual beli online juga merupakan bentuk dari perlindungan konsumen jual beli online
The Legislative Role of Women in the Formation of Qanun in DPRA 2014-2019 Period Review from an Islamic Perspective: Peran Legislatif Perempuan Dalam Pembentukan Qanun Di DPRA Periode 2014-2019 Tinjauan Dari Perspektif Islam Abdullah, Arifin
El-Hadhanah : Indonesian Journal Of Family Law And Islamic Law Vol. 2 No. 1 (2022): El-Hadhanah: Indonesian Journal Of Family Law And Islamic Law
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/hadhanah.v2i1.1739

Abstract

Role is participation in activities both in the institution and in the community. One of the roles and positions of women in the DPRA is in the process of forming Qanun. Qanun is a legal product made by the DPRA together with the governor of Aceh which is regulated in Law no. 11 of 2006 concerning the Government of Aceh. In this case, the formulation of the problem is how the role of women during the sultaniah period until now and how the position of women as long as the woman was involved in the formation with a review of Islamic law. The purpose of this research is to find out and examine how the role of women in the formation of Qanun in the DPRA during their tenure as members of the legislature is to find out the obstacles and opportunities faced by female politicians in forming the Qanun. The author conducts qualitative research using an empirical normative approach, namely legal research regarding the application of normative legal provisions (codification, laws or contracts) in action on every particular legal event that occurs in society. Sources of data taken by the author, through primary data sources and secondary data. The primary data source is through field research, namely by conducting interviews with members of the DPRA. Meanwhile, secondary data sources are through library research, namely documents and lists of related reading books. The results of the research carried out by the author are that the role of women in the process of forming the qanun is only as a member who proposes, gives opinions and critiques, it is rare for a woman to be the chairman when drafting the qanun, in Islam women are only as input providers who decide, namely Rasulullah as in the Hudaibiyah agreement.
An Analysis of Wahbah Az-Zuhaili's Views on Interfaith Marriage and Its Implementation in Indonesian Legal Context Abdullah, Arifin; Amri, Aulil; Nadia, Varatun; Khalidi, Muhadi
MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum Vol. 4, No. 2 (Desember 2024)
Publisher : MAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum published by the Islamic Criminal Law Program of the Sharia and Islamic Economics Department at the Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/maqasidi.v4i2.3526

Abstract

Marriage is a very important need in family and a social life that is pleasing to Allah, therefore in choosing a husband and wife, Islam strongly recommends that everything be based on religious norms so that the life companion has commendable morals, there is no balance to a belief. However, the problem is that it is forbidden for Muslim men to marry polytheistic women and marriage between Muslim women and infidel men. Meanwhile, Wahbah Az-Zuhaili's opinion that Muslim men and women are different from the opinions of other scholars. This research is with the formulation of the problem: How does Wahbah Az-Zuhaili think about interfaith marriage and how is the review of Islamic law about interfaith marriage in Islamic law thinking according to Wahbah Az-Zuhaili. This research is a type of library research. whose research object is the opinion and legal istinbath used by Wahbah Az-Zuhaili. The data collection method of this research uses a method of collecting legal materials, journals, and so on. The data analysis is qualitative, that is, the analysis is carried out by grouping data, presenting the results of the analysis in the form of a narrative, and drawing conclusions. Based on the results of this study, Wahbah Az-Zuhaili knew that it is forbidden to marry a Muslim man to a polytheistic woman, interfaith marriage, a Muslim woman to an infidel man, marriage between a Muslim man and a woman who is an expert in the book. The legal identity used by Wahbah Az-Zuhaili himself is QS. Al-Baqarah Al-Mumtahanah Al-Maidah. But the woman whose books are referred to is only the descendants of the children of Israel who still hold fast to the original book that was handed down to the Prophet Moses and the Prophet Jesus AS. As a defect, the prophets Moses and Jesus were sent only for the Bani Israel.
THE CONVERSION OF MITRA DHUAFA COOPERATIVE OF BIREUEN DISTRICT INTO SHARIAH SCHEME: An analysis of Indonesia legal norm and Fiqh Muamalah Muhammad Abrar; Arifin Abdullah; Muslim
Al-Mudharabah: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Vol. 5 No. 2 (2024): Al-Mudharabah: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-mudharabah.v5i2.7369

Abstract

The Aceh government requires all financial institutions to operate based on sharia principles, in its implementation there are still obstacles in the conversion process, such as the Mitra Dhuafa Cooperative in Bireuen Regency. The problem is that sharia principles have not been fully implemented in service products and the separation of capital made by cooperatives from conventional ones which still contain usury. The question in this study is how the implementation of Sharia principles in the Mitra Dhuafa cooperative and what are the obstacles faced in the conversion process. This research uses descriptive analysis method to describe systematically, factually, and accurately about the implementation of sharia conversion in Mitra Dhuafa Cooperative. The approach used is a case study with a qualitative research type. Research data were obtained from primary and secondary sources through literature study and interviews with related parties. Data analysis is carried out by systematically compiling information obtained from interviews, field notes, and other documents so that it can be understood and interpreted properly. The results showed that although Mitra Dhuafa Cooperative has converted to a sharia system, there are still some things that are not fully in accordance with sharia principles, especially in the management of capital and sources of funds and product services that are not fully sharia principles. In the perspective of fiqh muamalah, the management of initial funds after converting to sharia must be clean from the elements of usury and gharar, it is also important for cooperatives to provide education to members to understand how the Islamic banking system. It needs support from various cross-sectors to evaluate the constraints and challenges faced by financial institutions after being converted to sharia.
PTT DALAM TUNGGAKAN GAJI (Studi Implementasi Pembayaran Gaji PTT Di Kantor Kecamatan Obi Utara) Hi. Ibrahim, Abdul Halil; Suaib, Rahmat; Abdullah, Arifin
JURNAL GOVERNMENT OF ARCHIPELAGO - JGOA Vol 3 No 2 (2022): JGOA Volume 3 Nomor 2 September 2022
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Ternate-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Pembayaran Gaji PTT di Kantor Kecamatan Obi Utara, dengan menggunakan tipe dan jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif yang bisa dipahami sebagai serangkaian prosedur yang digunakan dalam pemecahan masalah yang diselidiki/diteliti dengan menggambarkan keadaan obyek-obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang ada. Adapun sumber data yang digunakan yakni data primer dan data sekunder. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, wawancara dokumen dan bantuan data sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi pembayaran gaji Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kantor Kecamatan Obi Utara belum sesuai dengan harapan dari para pegawai PTT dan belum sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor 04 Tahun 2010 tentang pengangkatan PTT di Kabupaten Halmahera Selatan. Dikatakan belum sesuai harapan, dikarenakan pelaksanaan pembayaraan gaji PTT sering terjadi keterlambatan antara 4 sampai 5 bulan. Padahal dalam ketentuan SK Bupati pembayaran gaji PTT itu per triwulan (3 bulan), dan penyalurannya langsung dimasing-masing instansi/lembaga dimana para PTT itu bekerja. Keterlambatan dalam pelaksanaan pembayaran gaji PTT dikarenakan terdapat berbagai kendala-kendala yang dihadapi antara lain (1) Minimnya anggaran pendapatan daerah, (2) Belum terdata secara akurat keberadaan PTT dimasing-masing instansi/lembaga, dan (3) Sistem atau cara pembayaran gaji PTT yang tidak tepat dan tidak adanya kontrak dari pimpinan.