Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Pemasaran dalam Membangun Brand Awareness (Studi Kasus Partipost) Aileen Belinda; Riris Loisa
Prologia Vol 3, No 1 (2019): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v3i1.6112

Abstract

Perubahan model bisnis merupakan tantangan bagi para pelaku bisnis sehingga mereka harus berinovasi agar tidak tertinggal oleh konsumen yang semakin terdigitalisasi. Salah satu upaya untuk membangun serta meningkatkan citra perusahaan dalam era digital adalah brand awareness yang memerlukan sebuah usaha yang terus menerus untuk membangunnya. Tujuan penelitian ini mengetahui pemasaran yang digunakan Partipost dalam membangun brand awareness suatu brand. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif secara deskriptif. Penelitian menggunakan wawancara mendalam terhadap tiga orang narasumber yaitu dua orang anggota Partipost dan influencer di Partipost. Data penelitian yang didapat bersumber dari wawancara, data online, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang digunakan Partipost dalam membangun brand awareness suatu brand, dengan menggunakan beberapa unsur atau bauran komunikasi pemasaran yang saling berkaitan, akan menciptakan bentuk pemasaran yang khas oleh Partipost. Bentuk pemasaran yang digunakan adalah marketing campaign, yang bertujuan untuk membangun brand awareness. Untuk mengetahui keberhasilan membangun brand awareness ditentukan dari interaksi atau engagement pada pemasaran yang dilakukan.
Pengaruh Motif Mengakses Akun Video dalam Aplikasi Chatting terhadap Kepuasan Khalayak (Survei terhadap Generasi Milenial yang Menggunakan LINE TODAY) Parousia Parousia; Riris Loisa
Prologia Vol 4, No 2 (2020): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v4i2.6810

Abstract

Humans who continue to communicate with other humans cause the spread and acceptance of information increasingly consciously or unconsciously. This also causes a lot of renewal in various fields of life, including information technology. Now, information are more easily and quickly accessed through various existing media, including through new media and social media. The study aims to determine the effect of motives for accessing video accounts in chat applications towards audience satisfaction. This research uses social media theory, new media, and uses and gratification theory. The approach used is quantitative. The sampling technique used was non probability sampling, purposive sampling with a sample of 100 respondents who are millennials who access video accounts in a chat application (LINE TODAY). The technique of data collection is done by distributing Google Forms questionnaires consisting of 18 indicators. The final result obtained are the closeness between the two variables included in the high criteria. And there is an influence between the two variables whose direction is said to be positive.Manusia yang terus menerus melakukan komunikasi dengan manusia lain menyebabkan persebaran dan penerimaan terhadap informasi semakin meningkat secara sadar maupun tidak disadari. Ini juga menyebabkan banyak pembaharuan di berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali teknologi informasi.  Kini, informasi semakin mudah dan cepat diakses melalui berbagai media yang ada, termasuk melalui media baru dan media sosial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh motif mengakses akun video dalam aplikasi chatting terhadap kepuasan khalayak. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teori sosial media, media baru, penggunaan dan kepuasan media. Teknik sampling yang digunakan adalah non probabilitas, yaitu teknik purposive sampling dengan sampel sebanyak 100 responden yang merupakan generasi milenial yang mengakses akun video dalam aplikasi chatting (LINE TODAY). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner Google Forms yang terdiri dari 18 indikator.  Hasil akhir yang diperoleh adalah keeratan antara dua variabel termasuk dalam kriteria tinggi. Serta terdapat pengaruh antara kedua variabel yang arahnya dikatakan positif.
Pendapat Jemaat Terhadap Rebranding Organisasi Gereja (Analisis Pendapat Jemaat Nafiri Discipleship Church Central Park Jakarta) Levita Tiara Yosefin; Riris Loisa
Prologia Vol 1, No 2 (2017): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v1i2.1969

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana pendapat jemaat Nafiri Discipleship Church Central Park terhadap rebranding yang dilakukan oleh gereja tersebut, khusunya dalam hal pergantian nama dan logo. Adanya perubahan visi dan misi mengakibatkan logo dan nama gereja ikut berubah. Penelitian dilakukan berdasarkan teori rebranding, dan teori opini publik dalam paradigma postpositivis, dengan menerapkan metode studi kasus, didukung analisis deskriptif. Populasi yang ditetapkan penulis adalah jemaat Nafiri Discipleship Church Jakarta. Sampel yang diambil melalui teknik snowball adalah jemaat Nafiri Discipleship Church Central Park Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rebranding yang dilakukan Nafiri Discipleship Church berhasil, hal ini dilihat dari pendapat jemaat yang setuju dengan rebranding yang dilakukan oleh gereja dan perkembangan gereja pun makin meningkat ke arah yang positif. Namun, ada pula sebagian jemaat yang berbendapat bahwa perubahan gereja tidak terlalu terlihat secara signifikan, tergantung siapa yang menilai dan melihat perubahan tersebut.
Komunikasi Interpersonal Antara Kakak dengan Adik Kandung Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus pada Kakak yang Mempunyai Adik Kandung Penyandang Autisme) Jessica Laurance; Riris Loisa
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6351

Abstract

Basically, every family hopes to have family members healthy both physically and spiritually. That is not merely the hope of every parent, but a child who becomes a sister or a brother will also expect the same thing.  However, some families were blessed with a family member who has special needs. This study aims to investigate how interpersonal communication is established between siblings whom one of them is blessed with special needs. The main theory of this study is interpersonal communication theory which is supported by relational dialectics theory and affection exchange theory. The researcher used a descriptive qualitative approach and case study methods. The data was processed and analyzed according to the coding methods. The criteria for the selection of an informant are an older sibling who has a younger sibling with special needs that lives in the same house. The result of this study indicates that interpersonal communication is established by communicating face-to-face without medium, oldest siblings communicate by adjusting to the special needs of the younger siblings, younger siblings tend to communicate in the form of nonverbal communication, each informant experienced relational dialectics, and an exchange of affection is still possible.Pada dasarnya setiap keluarga berharap memiliki anggota keluarga yang sehat secara jasmani maupun rohani. Hal tersebut tidak hanya semata-mata harapan setiap orang tua saja, melainkan seorang anak yang menjadi kakak juga mengharapkan kehadiran adik yang sehat secara jasmani maupun rohani. Namun kenyataannya beberapa keluarga dianugerahi anggota keluarga yang berkebutuhan khusus. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi interpersonal yang terjalin antara kakak dengan adik kandung yang berkebutuhan khusus. Teori utama penelitian ini yaitu teori komunikasi antarpribadi yang didukung dengan teori dialektika relasional dan teori pertukaran kasih sayang. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan metode studi kasus. Teknik pengolahan dan analisis data adalah dengan pengodean. Kriteria pemilihan informan yaitu seorang kakak yang mempunyai adik kandung berkebutuhan khusus dan tinggal satu rumah dengan adiknya. Temuan penelitian ini adalah komunikasi interpersonal masih terjalin, komunikasi dilakukan dengan tatap muka tanpa medium, bentuk komunikasi kakak menyesuaikan kebutuhan adik, bentuk komunikasi adik umumnya berbentuk nonverbal, setiap informan mengalami dialektika relasional, dan pertukaran kasih sayang masih mungkin terjadi.
Konstruksi Realitas Kehidupan dalam Video Klip Lagu Tong Hua Tivanny Claranita; Riris Loisa
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3944

Abstract

Video klip lagu merupakan salah satu bentuk media Audio Visual Aids (AVA) yang terdiri dari gambar dan lirik. Pada umumnya, lagu berisi pesan-pesan yang berkaitan dengan realitas. Melalui lagu Mandarin “Tong Hua” (Dongeng), sebuah realitas dikonstruksi. Dongeng dapat dipahami sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi dan tidak masuk akal. Jika mendengar kata “dongeng” tak jarang manusia akan membayangkan kehidupan yang bahagia di dalam sebuah kerajaan. Lantas, dalam realitas kehidupan sering terjadi hal-hal yang tidak membahagiakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam terkait makna realitas kehidupan manusia dan bagaimana mengkonstruksinya. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa teori yang relevan, seperti konstruksi realitas kehidupan, dan semiotika. Dengan menggunakan acuan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode semiotika Roland Barthes untuk mengkaji makna denotasi, konotasi, dan mitos. Melalui penelitian ini, melahirkan nilai objektivitas dan subjektivitas, serta ditemukan makna yang berkaitan dengan realitas dan dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan bukan merupakan sebuah realitas, melainkan subjektivitas dan untuk membangun kebahagiaan menjadi realitas membutuhkan proses internalisasi yang sangat panjang. Proses tersebut mencakup tindakan-tindakan non verbal serta mitos dan budaya nilai tradisional untuk membuktikan bahwa manusia dapat hidup bahagia jika percaya dan bekerja keras.
Analisis Gaya Komunikasi Kepemimpinan Kharismatik (Kepemimpinan Dewa Osiris dalam film “God of Egypt”) Widyanilam Rossian; Riris Loisa
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6150

Abstract

Pemimpin, peran yang mempunyai pengaruh dalam organisasi maupun suatu negara. Tidak ada negara tanpa kepemimpinan. Pemimpin adalah elemen paling penting dalam negara. Terdapat banyak sekali pengertian dan konsep mengenai gaya kepemimpinan, tergantung bagaimana pemimpin memperdalam konsep tersebut. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Bagaimana gaya komunikasi kepemimpinan kharismatik?. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif, dianalisis dengan teori komunikasi organisasi, gaya kepemimpinan. Tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh penulis adalah mengetahui gaya komunikasi kepemimpinan kharismatik Dewa Osiris dalam film “God of Egypt”. Objek penelitian adalah gaya komunikasi kepemimpinan kharismatik Dewa Osiris dalam film “God of Egypt”. Osiris menganut 2 gaya komunikasi yang berbeda, yaitu komunikasi aristokrasi dan komunikasi egaliter. Kedua gaya komunikasi tersebut berjalan secara berkesinambungan dalam kepemimpinan Osiris sebagai raja Mesir.
Komunikasi Pedagogi dalam Pengembangan Diri Siswa-Siswi SMA Mayciel Chen; Riris Loisa
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2439

Abstract

Komunikasi merupakan unsur penting dalam pedagogi. Namun, terkadang pesan yang disampaikan guru sebagai komunikator, ditafsirkan berbeda oleh siswa sebagai komunikan. Padahal, pedagogi tak hanya sebatas komunikasi akademis, tetapi juga untuk pengembangan diri siswa-siswi. Perumusan penelitian ialah memahami bagaimana komunikasi pedagogi dalam pengembangan diri siswa-siswi SMA. Melalui teori komunikasi, yang dipadukan dengan pedagogi, dan pengembangan diri siswa-siswi SMA. Penelitian dilakukan di SMA Damai Jakarta Barat. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus. Pengumpulan data diperoleh secara observasi, dan wawancara mendalam. Dalam analisis data, peneliti menggunakan koding kualitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi pedagogi dalam pengembangan diri siswa-siswi dilakukan dengan berfokus pada komunikasi yang bersifat interaktif, dengan mengedepankan potensi siswa yang dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Masyarakat dan Kearifan Budaya Lokal (Bentuk Pela Masyarakat di Negeri Batu Merah Kota Ambon Pasca Rekonsiliasi) Osbert Montana; Riris Loisa; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3930

Abstract

Konflik Maluku yang berlangsung selama lebih dari empat tahun, tidak saja memperburuk hubungan-hubungan kemanusiaan atau hubungan lintas agama, hubungan agama dan masyarakat, tetapi juga meperlihatkan retaknya kehidupan masyarakat Maluku secara keseluruhan. Keadaan ini membuat agama kehilangan momentum untuk menjadikan agama yang melayani dan membebaskan manusia. Situasi seperti ini menjadi masalah serius ketika agama harus mengambil sikap terhadap pluralisme. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan sebuah toleransi untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Maluku khususnya Ambon menjadi salah satu daerah yang memelihara toleransi dan kerukunan dengan jumlah penduduk 50% beragama Kristen dan 50% lainnya beragama Islam. Dahulu, konflik perbedaan bukan sebuah masalah di Maluku karena komunikasi yang sangat kuat. Namun kini masyarakat Ambon kembali seperti dahulu dalam berinteraksi, baik dengan yang seagama maupun dengan yang berbeda agama. Perbedaan hampir sudah tidak terlihat lagi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus dan dengan tujuan untuk mengetahui peran dari kearifan budaya lokal Pela dalam komunikasi antar budaya umat beragama kota Ambon komunikasi seperti apa yang terjadi antara masyarakat di Ambon yang berbeda agama dan melihat bentuk-bentuk Pela masyarakat pasca rekonsiliasi sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi hubungan saling membahagiakan atau hubungan yang sangat positif antar masyarakat (Kristen-Islam) di Ambon serta bersepakat untuk bersama-sama mengurangi penderitaan sehingga tidak terjadi konflik seperti yang telah terjadi sebelumnya.
Peran Buzzer Politik dalam Aktivitas Kampanye di Media Sosial Twitter Felicia Felicia; Riris Loisa
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3906

Abstract

Pada awalnya, istilah buzzer hanya digunakan untuk mempromosikan produk-produk tertentu dengan atau tanpa imbalan. Namun, sejak tahun 2014 saat pemilihan umum secara langsung terjadi di Indonesia, buzzer mulai memasuki dunia politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran buzzer politik dalam aktivitas kampanye politik di media sosial Twitter dan aktivitas buzzer politik. Beberapa konsep yang dijadikan landasan dalam penelitian ini adalah komunikasi politik dalam bentuk kampanye politik, new media, dan media sosial. Jenis penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah pihak yang bekerja sebagai buzzer di media sosial Twitter dengan imbalan tertentu, buzzer sukarelawan, serta pihak yang menjaring masyarakat untuk ikut tergabung menjadi buzzer. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah kicauan atau tweet yang dituliskan oleh buzzer sukarela maupun buzzer dengan imbalan tertentu. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa buzzer profesional atau buzzer dengan imbalan tertentu berperan untuk memperluas suatu informasi melalui aktivitas retweet terkait narasi dan hashtag harian hingga dapat dilihat oleh masyarakat dalam bentuk trending topic.
Self-Disclosure dalam Komunikasi Antarpribadi pada Pasangan Suami Istri Beda Agama Elysabath Martin; Riris Loisa; Roswita Oktavianti
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2430

Abstract

Pernikahan beda agama bukanlah hal yang baru di Indonesia. Namun fenomena ini masih menjadi isu kontroversial setiap kali diperbincangkan. Pernikahan beda agama merupakan salah satu bentuk hubungan antarpribadi yang kompleks, baik sebelum dan sesudah pernikahan terjadi, khususnya dalam hal penyingkapan diri (self disclosure). Maksud dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana self-disclosure yang dilakukan oleh pasangan suami-istri beda agama dengan pasangannya. Penelitian ini didasari teori komunikasi antarpribadi, self-disclosure dan Jendela Johari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pernikahan beda agama, komunikasi pada pasangan suami-istri beda agama tetap terbuka satu sama lain. Hal ini menandakan terjadinya keterbukaan pada open self mengenai hal-hal umum yang memang sudah seharusnya diketahui oleh diri sendiri dan pasangan. Perbedaan agama dalam hubungan rumah tangga menyebabkan komunikasi sedikit terhambat karena tidak ingin menimbulkan konflik. Ini memperlihatkan bahwa terjadi hidden self pada komunikasi pasangan suami-istri beda agama terkait keinginan orang tua yang menginginkan anaknya dapat menganut agama yang sama. Kendati demikian, pasangan suami-istri beda agama cenderung memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan.