Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Perencanaan dan Perancangan Wellness Center Di Desa Kelusa, Payangan, Gianyar, Bali Nadya Mihiro Putri; Ni Wayan Nurwarsih; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.10.1.5264.105-114

Abstract

Mental health is an important aspect in realizing overall health. However, in most developing countries, mental health problems have not been prioritized. The Coronavirus-19 (COVID-19) pandemic has made mental health an important issue in the world. The World Health Organization (WHO) identifies mental health as an integral component of the response to COVID-19. The COVID-19 pandemic with its massive transmission and high mortality rate causes problems that lead to mental disorders. A community-based approach can expand the scope of mental health services during the COVID-19 pandemic. The public will be required to live in a new normal state to maintain mental health and safety. Wellness Center is a place for people to recover their mental wellness which is located in a quiet, quiet, safe and comfortable place. The activities that can be done at the Wellness Center include yoga, meditation, sports, self-indulgence, and self-healing.
Perencanaan Dan Perancangan Fasilitas Rest Area di Kecamatan Selemadeg Tabanan I Putu Gede Adi Purusa Maha Wiranata; I Wayan Widanan; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.10.2.6306.309-317

Abstract

The Denpasar - Gilimanuk highway route crosses the coastal area in the Selemadeg area, Tabanan district. The national road that crosses this coastal area is a road that connects Tabanan Regency & Denpasar City, Bali Province and is an accident-prone route, where there are lack of road facilities such as signs and street lighting at night. The number of bumpy roads accompanied by a forest situation that is often assumed by local people to be a scary situation motivates traffic accidents in this area. When crossing the Denpasar - Gilimanuk highway, there are sporadic locations that provide stopovers or rest areas. Gas stations are also difficult to find along this road. Because of that, Rest & Service Areas (TIP) or generic claims to use a rest area are one of the facilities that must be found on a provincial road. As the name implies, this rest area is used as a resting place for road users. In addition to making human rest, the facilities in the rest area can also be used as a place to rest vehicles. The rest area that you want to build is a type B rest area where the facilities are ATM centers, toilets, stalls or kiosks, minimarkets, prayer rooms, restaurants, green open spaces, & parking lots. This rest area also has natural & culinary tourism, apart from resting, visitors can also enjoy the natural scenery and take selfies in this area.
Fasilitas Penunjang Industri Kain Endek di Kota Denpasar, Bali: bahasa indonesia Muliadi Arisasmika Arsitektur; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 2 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.2.7021.179-186

Abstract

For a city to thrive, it needs a Creative Hub, which can be a place for social interaction and communication between various groups. Creative Hubs function as dynamic areas that provide employment options, educational opportunities, corporate development opportunities, and networking opportunities. It also encourages more intensive innovation in the creative field for the benefit of the local community and region. In general, Creative Hubs are facilities or containers, both physical and virtual, that can connect communities or creative activists by providing a dynamic space so that new innovations and creativity can be born. Because of its nature as a center, the creative hub only covers part of the area. However, activities in the creative hub connect talents, skills, and disciplines in the creative community. Planning and Designing Creative Hub Facilities in Denpasar City, Bali can later become a support for the endek fabric industry in addition to the availability of other facilities that can support activities for creative industry players. So it is hoped that this design can be able to facilitate young people in Denpasar City and is expected to build and increase activities for creative economic actors who will produce products of economic value.
Strategi Pengelompokan Kandang Anjing Pada Pusat Konservasi Anjing Liar di Padang Galak, Denpasar: bahasa indonesia Komang Junida Aryadi; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.1.7107.18-26

Abstract

Dogs and humans benefit from each other, but the Denpasar City Agriculture Service (2019) states that only 30% of the total dog population in Denpasar are owned/cared for and the rest are wild dogs. The author wants to raise this issue in order to improve the quality of life for stray dogs. The Wild Dog Conservation Center facility in Padang Galak Denpasar aims to address the problem of dogs that are not owned or live on the streets. However, proper planning and design is needed to provide adequate facilities and be able to accommodate the community so that they can be treated according to their classification.
Implementasi Arsitektur Tradisional Bali Berbasis Ekowisata Di Desa Bukian I Wayan Suky Luxiana; I Wayan Runa; I Wayan Parwata; Agus Kurniawan
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.7.2.2023.61-68

Abstract

Arsitektur tradisional bali adalah microkosmos dari alam raya sebagai makrokosmos. Arsitektur tradisional merupakan sebagai wadah untuk membina dan menempatkan manusia secara individu maupun kelompok agar selaras dengan alam semesta. Desa Bukian merupakan salah satu Desa yang ada di Kabupaten Gianyar dimana Desa Bukian dikategorikan sebagai desa tua di Bali yang masih khas arsitektur Balinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk Menginventarisasikan dan mengevaluasi data untuk dianalisa dan dikatagorikan sebagai dasar peramalan kemungkinan-kemungkinan masa depan untuk perancangan masa kini dari kenyataan masa lalu. Melalui penelitian dengan ukuran dalam “meter”, terhadap rumah tinggal di Desa Bukian dengan beberapa variable dari segi fungsi berdasarkan antropometri pemiliknya dan mengimplementasikan Arsitektur Tradisional Bali tersebut dengan konsep ekowisata sebagai bentuk pariwisata berkelanjutan.Untuk melindungi, membina dan mengembangkan Arsitektur Tradisional Bali Berbasis Ekowisata diperlukan penelitian. Dengan penelitian didapat berbagai kenyataan masa lalu sebagai materi pembahasan untuk mendapatkan bentuk-bentuk dari perlindungan, pembinaan dan pengembangan secara umum dan perancangan secara khusus arsitektur tradisional. Penelitian ini menggunakan mixed method yang berarti pula menggunakan data kuantitatif maupun kualitatif. Pengimplementasian Arsitektur Tradisional Bali berbasis ekowisata di Desa Bukian dengan cara konservasi dengan mempertahankan atau sedikit mengubah untuk mempertahankan ciri khas Arsitektur tradisional tersebut dengan mempelajari ukuran, fungsi dan bentuk Arsitektur tersebut. Partisipasi diterapkan dengan cara menyebar kuisioner untuk mengetahui kenyamanan ruang dan bentuk dan mendapat pemahaman untuk mempertahankan ciri khas Desa melalui Arsitektur itu sendiri. Segi Pendidikan adalah masyarakat dapat mempelajari tentang Arsitektur Tradisional dengan dibuatkan Model melalui aplikasi baik dari proses, dan cara pengerjaan dan Animasi Arsitektur tradisional Bali. Dari segi ekonomi masyarakat tidak perlu bingung mencari tukang atau undagi yang mempatok harga mahal dan bisa dikerjakan secara gotong royong sehingga biaya dapat ditekan. Kepuasan pengunjung daplikasikan dengan berkunjung saja sudah merasa nyaman dan berkeinginan berkunjung kembali itu dapat dilihat dari keramah tamahan dan magnet yang dipancarkan oleh arsitektur tradisional Bali tersebut.
Desain Detail Konservasi Pura Pajinengan Gunung Tap Sai Di Kabupaten Karangasem I Putu Andi Wira Adnyana Adnyana; I Nyoman Warnata; I Wayan Runa; I Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Pajinengan Gunung Tap Sai terletak di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang selanjutnya disebut Pura Tap Sai. Pura terletak di lereng barat laut Gunung Agung dan banyak umat ke pura untuk memohon keselamatan dan anugerah. Tap Sai berasal dari kata matapa sai sai (bertapa atau semedi setiap hari). Pada halaman utama (utamaning mandala) Pura terdapat pelinggih Lingga Yoni yang dililit akar pohon yang dipercaya umat sebagai tempat memohon anak atau keturunan, jodoh, segala permasalahan kesehatan, memohon obat, dan juga rezeki. Setelah persembahyangan di utamaning mandala, maka setiap umat (pemedek) akan diberikan seikat (11 Buah) dupa untuk melakukan permohonan khusus di Lingga Yoni. Pura juga memiliki tiga palinggih utama untuk memuja Dewi Sri, Dewi Rambut Sedana, dan Dewi Saraswati. Keberadaan pura ini di tengah hutan sehingga suasana alamnya tenang, damai, dan sakral. Oleh karena itu pura ini juga menjadi daya tarik masyarakat untuk kegiatan spiritual maupun untuk berwisata. Dengan jumlah masyarakat yang berkunjung ke Pura Pajinengan Gunung Tap Sai semakin meningkat, maka perlu adanya penataan mandala pura agar mampu menampung jumlah pengunjung secara optimal dan tentunya aman bagi para penyandang disabilitas, mengingat kondisi mandala pura yang cukup tinggi seperti terasering dikarenakan kontur tanah yang miring. Berdasarkan permasalahan di atas maka metode pelaksanaan pada tahun ke-3 ini adalah melalui desain detail konservasi pura. Pengumpulan data berupa penjajakan ke Pura untuk memperoleh data dalam proses desain detail konservasi pura. Desain detail pura agar lebih unik atau khas termasuk desain bangunan penunjang dan material pelinggih serta sirkulasi bagi para penyandang disabilitas. Jajak pendapat/wawancara dan sosialisasi juga dilaksanakan untuk mengoptimalkan desain detail konservasi Pura. Luaran akhir dari Program adalah desain detail konservasi pelinggih pura. Sebagai luaran akademis adalah publikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional ber-ISSN. luaran lain seperti video tayang di Youtube dan berita di koran.
PKM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN ARTEFAK BUDAYA SEBAGAI WISATA DESA DI DESA SIANGAN, KECAMATAN GIANYAR, KABUPATEN GIANYAR Agus Kurniawan; I Wayan Runa
Jurnal Abdi Daya Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Abdi Daya Vol.3 No.1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.3.1.2023.25-33

Abstract

The Traditional Siangan Adult Village can be found 31 kilometers northeast of Denpasar City. As a spiritual tourist village, this village has cultural potential to develop. Seven ancient sites, natural beauty, local art, and cultural traditions can all be used as a tourist attraction in the Siangan Adult Village. The indigenous village community has not fully appreciated the potential of cultural heritage to be used as a starting point for spiritual tourism. To support the tourist growth of Siangan Village, it is necessary to empower the public to inventory the heritage of cultural artifacts and its use as a tourist attraction. The Foundation Sentir Bali as a partner in the Community Partnership Programme (PKM) is expected to be able to cope with the following problems: (1) the entire cultural heritage that exists in the Adult Siangan Village has not been inventorized, (2) the historical background of the cultural patrimony existing in the Village Siangan, and (3) it has not yet been used as a spiritual tourist base. By carrying out the inventory of cultural reserves in Siangan Village and managing the cultural reserve as a tourist attraction, PKM is a form of empowerment of the community in the use of cultural reservoirs. Planning as a spiritual pathway. Archaeological documentation techniques and public archeological approaches are used in the implementation of cultural reserve management models. Partners together with the community will recognize the importance of the cultural reserve as the foundation of spiritual tourism, which implies the well-being of the community, as a result of this strategy.
Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar I Made Pasek Satya Bhuana; I Wayan Runa; Agus Kurniawan; I Wayan Parwata
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.5.1.2022.41-49

Abstract

Menggali potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, mengenal potensi secara mendalam menjadi agenda penting bagi suatu kawasan. Selain memiliki objek wisata sawah yang berundak-undak, Tegallalang sejatinya memiliki keberagaman warisan budaya baik warisan budaya dalam wujud benda maupun warisan budaya tak benda. Tegallalang telah memiliki beberapa aspek-aspek yang dapat menguatkan lingkungan binaan pada suatu kawasan yang menjadi tujuan wisata heritage, diantaranya memiliki situs bersejarah yang terdapat pada Pura yang berlokasi di kawasan Desa Tegallalang, selanjutnya Desa Tegallalang memiliki tradisi ritual Ngerebeg, kemudian memiliki barang-barang warisan seperti lontar yang termasuk unsur kesusastraan, dalam hal potensi wisata alam ialah dalam hal persawahan, dan terakhir ciri khas kesenian masyarakat Desa Tegallalang menekuni seni rupa, seni musik dan tari tradisional. Perencanaan penataan seluruh wantilan yang ada di Desa Tegallalang akan menjadi penunjang kebutuhan ruang publik sebagai bagian dari fasilitas infrastruktur wisata pusaka. Penambahan ruang-ruang yang lebih spesifik untuk fungsi tertentu akan memberikan kenyamanan lebih bagi penggunanya, seperti fasilitas toilet, dan fasilitas ramah anak. Bangunan yang tergolong arsitektur tradisional Bali kali ini akan menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Desa Tegallalang sebagai destinasi wisata pusaka. Untuk mengetahui potensi yang ada maka diperlukan pengamatan dengan studi literatur, survey lapangan, serta wawancara dengan narasumber yang terkait, dan metode pengumpulan data lainnya yang dapat mendukung. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi kemudian mengembangkannya, serta mendapatkan keuntungan dari potensi yang ada bagi masyarakat luas.
Pengembangan Kawasan Taman Magenda Payangan Bali Sebagai Wisata Spiritual I Wayan Suky Luxiana; I Wayan Runa; I Wayan Parwata; Agus Kurniawan
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.5.1.2022.31-40

Abstract

Goa Pesiraman Bhatari lingsir, Pura Dalem Agung Payangan (Taman Magenda) merupakan misteri Keangkeran Pura Dalem Agung Payangan dikarenakan Pura Dalem ini sebagai tempat melinggihnya sekaligus Parahyangan ida Bhatari Dalem lingsir. Taman Magenda terletak di Payangan yang merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Gianyar yang berada diketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan wilayah bukit Kintamani Bangli sehingga daerah ini terkenal sangat subur terutama dalam pertanian maupun perkebunan sayur-mayur,kopi,coklat dan lain-lain. Pada jaman dahulu nama Payangan adalah Parahyangan yang berarti Kahyangan dikarenakan jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya ke Nusa Dawa (Bali) tempat ini adalah pancer Hyang suci berstana dengan kata lain Bumi Parahyangan adalah sebagai stana tempat melinggihnya para Hyang Bhatara-Bhatari di Bali sehingga pada jaman dahulu bernama Parahyangan yang secara singkat pada saat ini pengucapannya menjadi Payangan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk memanfaatkan potensi warisan budaya pura untuk dikelola menjadi kawasan yang tertata dan nyaman dikunjungi oleh umat Hindu, Taman Magenda sangat berpotensi sebagai wisata spiritual karena alam yang masih asli namun belum ada infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai ke objek tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Tujuan teknik pengambilan sampel menggunakan informan dan menggunakan informan kunci. Hasil penelitian adalah dimana dalam pengolahan dibagi menjadi tiga zona yaitu zona utama (penataan areal utama pura, perkerasan pada jalan setapak, pembuatan toilet dan ruang ganti bagi pengunjung. Zona kedua adalah berupa fasilitas penunjang berupa wantilan sebagai tempat pertunjukan dan pesandekan. Zona ketiga yang dikatagorikan ke dalam area service penataan tempat parkir, loket, lesehan dan warung. Prinsip atau konsep yang digunakan dalam pengembangan adalah konsep ekowisata yaitu konservasi, partisipatif, pendidikan, ekonomi dan kepuasan pengunjung.
Pengabdian Masyarakat Program Bedah Rumah Penyandang Disabilitas I Gusti Agung Putu Eryani; I Wayan Runa; Made Mas Surya Wiguna; Ni Komang Indra Mahayani
Jurnal Sutramas Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Tiingan Bebandem, Karangasem oleh Dosen Fakultas Teknik dan Perencanaan sebagai bentuk memperbaiki masalah kemiskinan dengan program bedah rumah. Rumah merupakan kebutuhan primer untuk tinggal dan menetap dipenuhi bagi setiap orang, tidak adanya rumah yang layak bagi keluarga menyebabkan ketelantaran anggota keluarga dan kesejahteraan social keluarga. Sebuah rumah yang layak huni dirancang dengan memperhatikan kondisi fisik penggunanya, khususnya bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus (disabilitas). Hal tersebut berpengaruh terhadap desain rumah yang harus disesuaikan sehingga dapat digunakan dengan mudah sesuai kebutuhan penggunanya. Selain mengentaskan masalah kemiskinan, Melalui program bedah rumah ini diharapkan penyandang disabilitas di desa dapat membantu aksesibilitas yang nyaman karena keterbatasan fisik yang dimiliki seseorang. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan observasi informan panitia program dan mitra (Puspadi Bali), keluarga miskin penyandang disabilitas, dan tokoh masyarakat. Keberhasilan bedah rumah yang memiliki kebutuhan khusus (disabilitas) dapat dikembangkan lagi di daerah lainnya.