I Wayan Runa
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik & Perencanaan, Universitas Warmadewa

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Perencanaan Dan Perancangan Fasilitas Rest Area di Kecamatan Selemadeg Tabanan I Putu Gede Adi Purusa Maha Wiranata; I Wayan Widanan; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.10.2.6306.309-317

Abstract

The Denpasar - Gilimanuk highway route crosses the coastal area in the Selemadeg area, Tabanan district. The national road that crosses this coastal area is a road that connects Tabanan Regency & Denpasar City, Bali Province and is an accident-prone route, where there are lack of road facilities such as signs and street lighting at night. The number of bumpy roads accompanied by a forest situation that is often assumed by local people to be a scary situation motivates traffic accidents in this area. When crossing the Denpasar - Gilimanuk highway, there are sporadic locations that provide stopovers or rest areas. Gas stations are also difficult to find along this road. Because of that, Rest & Service Areas (TIP) or generic claims to use a rest area are one of the facilities that must be found on a provincial road. As the name implies, this rest area is used as a resting place for road users. In addition to making human rest, the facilities in the rest area can also be used as a place to rest vehicles. The rest area that you want to build is a type B rest area where the facilities are ATM centers, toilets, stalls or kiosks, minimarkets, prayer rooms, restaurants, green open spaces, & parking lots. This rest area also has natural & culinary tourism, apart from resting, visitors can also enjoy the natural scenery and take selfies in this area.
Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar I Made Pasek Satya Bhuana; I Wayan Runa; Agus Kurniawan; I Wayan Parwata
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1575.374 KB)

Abstract

Menggali potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, mengenal potensi secara mendalam menjadi agenda penting bagi suatu kawasan. Selain memiliki objek wisata sawah yang berundak-undak, Tegallalang sejatinya memiliki keberagaman warisan budaya baik warisan budaya dalam wujud benda maupun warisan budaya tak benda. Tegallalang telah memiliki beberapa aspek-aspek yang dapat menguatkan lingkungan binaan pada suatu kawasan yang menjadi tujuan wisata heritage, diantaranya memiliki situs bersejarah yang terdapat pada Pura yang berlokasi di kawasan Desa Tegallalang, selanjutnya Desa Tegallalang memiliki tradisi ritual Ngerebeg, kemudian memiliki barang-barang warisan seperti lontar yang termasuk unsur kesusastraan, dalam hal potensi wisata alam ialah dalam hal persawahan, dan terakhir ciri khas kesenian masyarakat Desa Tegallalang menekuni seni rupa, seni musik dan tari tradisional. Perencanaan penataan seluruh wantilan yang ada di Desa Tegallalang akan menjadi penunjang kebutuhan ruang publik sebagai bagian dari fasilitas infrastruktur wisata pusaka. Penambahan ruang-ruang yang lebih spesifik untuk fungsi tertentu akan memberikan kenyamanan lebih bagi penggunanya, seperti fasilitas toilet, dan fasilitas ramah anak. Bangunan yang tergolong arsitektur tradisional Bali kali ini akan menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Desa Tegallalang sebagai destinasi wisata pusaka. Untuk mengetahui potensi yang ada maka diperlukan pengamatan dengan studi literatur, survey lapangan, serta wawancara dengan narasumber yang terkait, dan metode pengumpulan data lainnya yang dapat mendukung. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi kemudian mengembangkannya, serta mendapatkan keuntungan dari potensi yang ada bagi masyarakat luas.
Pengembangan Kawasan Taman Magenda Payangan Bali Sebagai Wisata Spiritual I Wayan Suky Luxiana; I Wayan Runa; I Wayan Parwata; Agus Kurniawan
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2462.051 KB)

Abstract

Goa Pesiraman Bhatari lingsir, Pura Dalem Agung Payangan (Taman Magenda) merupakan misteri Keangkeran Pura Dalem Agung Payangan dikarenakan Pura Dalem ini sebagai tempat melinggihnya sekaligus Parahyangan ida Bhatari Dalem lingsir. Taman Magenda terletak di Payangan yang merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Gianyar yang berada diketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan wilayah bukit Kintamani Bangli sehingga daerah ini terkenal sangat subur terutama dalam pertanian maupun perkebunan sayur-mayur,kopi,coklat dan lain-lain. Pada jaman dahulu nama Payangan adalah Parahyangan yang berarti Kahyangan dikarenakan jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya ke Nusa Dawa (Bali) tempat ini adalah pancer Hyang suci berstana dengan kata lain Bumi Parahyangan adalah sebagai stana tempat melinggihnya para Hyang Bhatara-Bhatari di Bali sehingga pada jaman dahulu bernama Parahyangan yang secara singkat pada saat ini pengucapannya menjadi Payangan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk memanfaatkan potensi warisan budaya pura untuk dikelola menjadi kawasan yang tertata dan nyaman dikunjungi oleh umat Hindu, Taman Magenda sangat berpotensi sebagai wisata spiritual karena alam yang masih asli namun belum ada infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai ke objek tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Tujuan teknik pengambilan sampel menggunakan informan dan menggunakan informan kunci. Hasil penelitian adalah dimana dalam pengolahan dibagi menjadi tiga zona yaitu zona utama (penataan areal utama pura, perkerasan pada jalan setapak, pembuatan toilet dan ruang ganti bagi pengunjung. Zona kedua adalah berupa fasilitas penunjang berupa wantilan sebagai tempat pertunjukan dan pesandekan. Zona ketiga yang dikatagorikan ke dalam area service penataan tempat parkir, loket, lesehan dan warung. Prinsip atau konsep yang digunakan dalam pengembangan adalah konsep ekowisata yaitu konservasi, partisipatif, pendidikan, ekonomi dan kepuasan pengunjung.
Desain Detail Konservasi Pura Pajinengan Gunung Tap Sai Di Kabupaten Karangasem I Putu Andi Wira Adnyana Adnyana; I Nyoman Warnata; I Wayan Runa; I Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Pajinengan Gunung Tap Sai terletak di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang selanjutnya disebut Pura Tap Sai. Pura terletak di lereng barat laut Gunung Agung dan banyak umat ke pura untuk memohon keselamatan dan anugerah. Tap Sai berasal dari kata matapa sai sai (bertapa atau semedi setiap hari). Pada halaman utama (utamaning mandala) Pura terdapat pelinggih Lingga Yoni yang dililit akar pohon yang dipercaya umat sebagai tempat memohon anak atau keturunan, jodoh, segala permasalahan kesehatan, memohon obat, dan juga rezeki. Setelah persembahyangan di utamaning mandala, maka setiap umat (pemedek) akan diberikan seikat (11 Buah) dupa untuk melakukan permohonan khusus di Lingga Yoni. Pura juga memiliki tiga palinggih utama untuk memuja Dewi Sri, Dewi Rambut Sedana, dan Dewi Saraswati. Keberadaan pura ini di tengah hutan sehingga suasana alamnya tenang, damai, dan sakral. Oleh karena itu pura ini juga menjadi daya tarik masyarakat untuk kegiatan spiritual maupun untuk berwisata. Dengan jumlah masyarakat yang berkunjung ke Pura Pajinengan Gunung Tap Sai semakin meningkat, maka perlu adanya penataan mandala pura agar mampu menampung jumlah pengunjung secara optimal dan tentunya aman bagi para penyandang disabilitas, mengingat kondisi mandala pura yang cukup tinggi seperti terasering dikarenakan kontur tanah yang miring. Berdasarkan permasalahan di atas maka metode pelaksanaan pada tahun ke-3 ini adalah melalui desain detail konservasi pura. Pengumpulan data berupa penjajakan ke Pura untuk memperoleh data dalam proses desain detail konservasi pura. Desain detail pura agar lebih unik atau khas termasuk desain bangunan penunjang dan material pelinggih serta sirkulasi bagi para penyandang disabilitas. Jajak pendapat/wawancara dan sosialisasi juga dilaksanakan untuk mengoptimalkan desain detail konservasi Pura. Luaran akhir dari Program adalah desain detail konservasi pelinggih pura. Sebagai luaran akademis adalah publikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional ber-ISSN. luaran lain seperti video tayang di Youtube dan berita di koran.
Arsitektur Kontekstual Sebagai Tema Rancangan Desain Sanggar Seni Tari Ramah Disabilitas Di Gianyar, Bali: bahasa indonesia Ni Kadek Ari Manik Lukita; I Putu Hartawan; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.1.6916.72-77

Abstract

The theme is an idea that underlies the design and is translated into the design concept. The theme of a work will give character or impression to the final design, and as much as possible give a message or make the building able to communicate with its environment. Based on the goal to be achieved, which is to provide comfort for design users, especially persons with disabilities, hereby the determination of contextual themes is a classification of contextual areas in architecture related to the environment, surrounding conditions, society, culture. The method presented in planning design proposals is a qualitative analysis method obtained through direct surveys using literature study data and field work with observations and interviews with informants. The results obtained were in the form of data on the number of people with disabilities in Gianyar Regency, data on community interest in dance in Gianyar Regency, and data on the strategic location of design proposals.
Strategi Pengelompokan Kandang Anjing Pada Pusat Konservasi Anjing Liar di Padang Galak, Denpasar: bahasa indonesia Komang Junida Aryadi; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri; I Wayan Runa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.1.7107.18-26

Abstract

Dogs and humans benefit from each other, but the Denpasar City Agriculture Service (2019) states that only 30% of the total dog population in Denpasar are owned/cared for and the rest are wild dogs. The author wants to raise this issue in order to improve the quality of life for stray dogs. The Wild Dog Conservation Center facility in Padang Galak Denpasar aims to address the problem of dogs that are not owned or live on the streets. However, proper planning and design is needed to provide adequate facilities and be able to accommodate the community so that they can be treated according to their classification.
Implementasi Arsitektur Tradisional Bali Berbasis Ekowisata Di Desa Bukian I Wayan Suky Luxiana; I Wayan Runa; I Wayan Parwata; Agus Kurniawan
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.7.2.2023.61-68

Abstract

Arsitektur tradisional bali adalah microkosmos dari alam raya sebagai makrokosmos. Arsitektur tradisional merupakan sebagai wadah untuk membina dan menempatkan manusia secara individu maupun kelompok agar selaras dengan alam semesta. Desa Bukian merupakan salah satu Desa yang ada di Kabupaten Gianyar dimana Desa Bukian dikategorikan sebagai desa tua di Bali yang masih khas arsitektur Balinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk Menginventarisasikan dan mengevaluasi data untuk dianalisa dan dikatagorikan sebagai dasar peramalan kemungkinan-kemungkinan masa depan untuk perancangan masa kini dari kenyataan masa lalu. Melalui penelitian dengan ukuran dalam “meter”, terhadap rumah tinggal di Desa Bukian dengan beberapa variable dari segi fungsi berdasarkan antropometri pemiliknya dan mengimplementasikan Arsitektur Tradisional Bali tersebut dengan konsep ekowisata sebagai bentuk pariwisata berkelanjutan.Untuk melindungi, membina dan mengembangkan Arsitektur Tradisional Bali Berbasis Ekowisata diperlukan penelitian. Dengan penelitian didapat berbagai kenyataan masa lalu sebagai materi pembahasan untuk mendapatkan bentuk-bentuk dari perlindungan, pembinaan dan pengembangan secara umum dan perancangan secara khusus arsitektur tradisional. Penelitian ini menggunakan mixed method yang berarti pula menggunakan data kuantitatif maupun kualitatif. Pengimplementasian Arsitektur Tradisional Bali berbasis ekowisata di Desa Bukian dengan cara konservasi dengan mempertahankan atau sedikit mengubah untuk mempertahankan ciri khas Arsitektur tradisional tersebut dengan mempelajari ukuran, fungsi dan bentuk Arsitektur tersebut. Partisipasi diterapkan dengan cara menyebar kuisioner untuk mengetahui kenyamanan ruang dan bentuk dan mendapat pemahaman untuk mempertahankan ciri khas Desa melalui Arsitektur itu sendiri. Segi Pendidikan adalah masyarakat dapat mempelajari tentang Arsitektur Tradisional dengan dibuatkan Model melalui aplikasi baik dari proses, dan cara pengerjaan dan Animasi Arsitektur tradisional Bali. Dari segi ekonomi masyarakat tidak perlu bingung mencari tukang atau undagi yang mempatok harga mahal dan bisa dikerjakan secara gotong royong sehingga biaya dapat ditekan. Kepuasan pengunjung daplikasikan dengan berkunjung saja sudah merasa nyaman dan berkeinginan berkunjung kembali itu dapat dilihat dari keramah tamahan dan magnet yang dipancarkan oleh arsitektur tradisional Bali tersebut.