Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ROUX-EN-Y GASTRIC BYPASS DAN SLEEVE GASTRECTOMY DI RS SUMBER WARAS 2022-2023 Andhita, Rafa Hasna; Limas, Peter Ian
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27259

Abstract

Obesitas didefinisikan dengan akumulasi lemak abnormal dengan nilai ambang IMT (Indeks Massa Tubuh) > 30, obesitas telah berkembang menjadi epidemi menurut WHO dengan lebih dari 4 juta orang meninggal pada tahun 2017. Bedah bariatrik merupakan salah satu pengobatan yang efektif untuk obesitas morbid. Prosedur bariatrik yang paling umum adalah adalah Sleeve Gastrectomy dan Roux-en-Y Gastric Bypass. Mengetahui perbedaan penurunan berat badan Pasca Roux-en-Y Gastric Bypass dan Sleeve Gastrectomy di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat pada tahun 2022-2023.Desain penelitian ini adalah observasional retrospektif dengan pendekatan Cohort. Besar sampel sebanyak 128 pasien yang diperoleh dari rekam medis Rumah Sakit Sumber Waras serta dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Diantara 128 pasien (LSG: usia rata-rata, 41,77 tahun; 100% perempuan; rata-rata IMT 37,26 dan RYGB: usia rata-rata, 38,53 tahun; 90,6% perempuan dan 6% laki-laki; rata-rata IMT 38,58) .Dua metode yang diuji menunjukkan signifikansi dalam penurunan berat badan dan persentase penurunannya (p < 0,05). Metode LSG memiliki tingakat korelasi 0,600,  artinya pada kategori kuat sedangkan metode RYGB memiliki  tingkatkorelasi 0,801, menunjukkan hubungan yang sangat kuat. Dapat disimpulakan bahwa keduanya efektif dalam menurunkan berat badan. LSG lebih aman dengan risiko komplikasi pasca-operasi lebih rendah daripada RYGB. Namun, LSG dapat menyebabkan defisiensi zat besi dan vitamin D lebih rendah, serta kelainan kalsium dan fosfor yang lebih sedikit. Perdarahan pasca-operasi lebih jarang terjadi pada LSG. RYGB memiliki tingkat perbaikan yang tinggi pada gastroesophageal reflux. Metode Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB) lebih efektif dalam menurunkan berat badan pada pasien obesitas dibandingkan metode Sleeve Gastrectomy (LSG).
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PASIEN APENDISITIS SEBELUM DAN SAAT PANDEMI COVID-19 DI RS HAJI DARJAD SAMARINDA PERIODE 2019-2020 Khamila, Shifa; Limas, Peter Ian
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 1 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v29i1.24833

Abstract

Apendisitis merupakan peradangan akut pada apendiks vermiformis yang disebabkan oleh obstruksi luminal. Penyebab obstruksi luminal beragam, termasuk fecal stasis, fekalit dan hiperplasia limfoid, neoplasma, dan parasit seperti ascaris yang menyumbat. Indonesia memiliki insiden apendisitis akut tertinggi di Asia Tenggara yaitu dengan prevalensi 0.05%. Saat pandemi terjadi peningkatan penundaan konsultasi dan tindakan operasi yang menyebabkan banyak pasien mengalami komplikasi menjadi gangren, apendisitis perforasi atau pembentukan abses peri-apendikular. Jumlah pasien apendektomi menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan minggu-minggu sebelum Covid-19. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakteristik pasien apendisitis sebelum dan saat pandemi Covid-19 di RS Haji Darjad Samarinda periode 2019-2020. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain studi potong lintang (cross sectional). Penelitian ini menggunakan 184 responden yang didapatkan jumlah pasien apendisitis sebelum pandemi COVID-19 yaitu tahun 2019 sebanyak 92 pasien dan jumlah pasien apendisitis saat pandemi COVID-19 yaitu tahun 2020 sebanyak 92 pasien. Diperoleh terdapat perbedaan karakteristik berupa jenis kelamin dan kadar leukosit pasien, dimana pasien laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dan pasien yang mengalami leukositosis lebih banyak dan dengan nilai p < 0,001 (nilai p < 0,05). Untuk karakteristik yang lain seperti usia (p = 0,672), diare (p = 1), nyeri kuadran kanan bawah (p = 0,684), suhu tubuh (p = 1), denyut nadi (p = 1), dan lama rawat (p = 0,201) tidak terdapat perbedaan pada tahun 2019 dan 2020 karena nilai p > 0,05.
SKRINING ANTROPOMETRI PADA PRIA DAN WANITA USIA PRODUKTIF DALAM RANGKA PENCEGAHAN OBESITAS DI KALAM KUDUS II, KELURAHAN DURI KOSAMBI, JAKARTA Limas, Peter Ian; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Jap, Ayleen Nathalie; Destra, Edwin
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32326

Abstract

Obesity is a condition that occurs when the body has too much fat and is not balanced with the amount of muscle it has. Obesity is an increasing health problem and has a major impact on mortality and morbidity. Anthropometrics has an important role in screening a person's health status, one of which is obesity, so that by carrying out anthropometric screening, it is hoped that prevention and management of a person's health status can be correlated with obesity. This community service activity is carried out using the PDCA method which focuses on anthropometric screening and health education. Anthropometric screening measures parameters such as body weight, height, waist circumference, and hip circumference, which are important indicators for evaluating the risk of developing obesity. Therefore, anthropometry plays an important role in identifying risks and enabling the rapid and effective implementation of early interventions. Education regarding the importance of physical activity and healthy eating habits is included in this activity, so it is hoped that it can become a basis for maintaining and improving the quality of life and long-term health for the community. ABSTRAK Obesitas adalah kondisi yang muncul saat tubuh memiliki jumlah lemak yang terlalu tinggi dan tidak seimbang dengan jumlah otot yang dimiliki, obesitas merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat dan mempunyai dampak besar terhadap mortalitas dan morbiditas. Antropometri memiliki peran penting dalam skrining status kesehatan seseorang, yang salah satunya adalah obesitas, sehingga dengan dilakukannya skrining antropometri, diharapkan dapat dilakukan pencegahan dan tatalaksana terhadap status kesehatan seseorang yang terkorelasi dengan obesitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan metode PDCA yang berfokus pada skrining antropometri dan edukasi kesehatan. Skrining antropometri mengukur parameter seperti berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul, yang merupakan indikator penting untuk mengevaluasi risiko terjadinya obesitas. Oleh karena itu, antropometri berperan penting dalam mengidentifikasi risiko dan memungkinkan penerapan intervensi dini secara cepat dan efektif. Edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan sehat diikutsertakan dalam kegiatan ini, sehingga diharapkan dapat menjadi landasan bagi menjaga dan meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang bagi masyarakat
Wound Dehiscence Pasca-Laparatomi: Sebuah Laporan Kasus Ahsan, Ahsan; Arifin, Mohammad; Limas, Peter Ian
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 12 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i12.7277

Abstract

Wound dehiscence is a serious postoperative complication characterized by the reopening of the surgical incision wound and is reported to occur in about 0.5–3.4% of abdominopelvic surgery cases. These complications generally appear on the 5th to 8th day postoperatively, especially in the proliferation phase of the wound healing process. Various risk factors play a role in the occurrence of wound dehiscence, including surgical wound infection, poor nutritional status, anemia, and comorbid diseases such as uncontrolled diabetes mellitus. The case report discusses a 46-year-old male patient with a history of uncontrolled diabetes mellitus who experienced wound dehiscence after undergoing an exploratory laparotomy. Patients complain of detached wound sutures accompanied by pain and signs of local infection. Clinical and laboratory examinations show the presence of leukocytosis, anemia, and hypoalbuminemia that worsen the wound healing process. Management is carried out through reoperation to close the wound and give broad-spectrum antibiotics to control infection. The results of the treatment showed a gradual improvement in the patient's clinical condition. This case confirms the importance of early detection of risk factors, control of comorbidities, and appropriate surgical and medical treatment in preventing advanced complications such as evisceration and sepsis. A comprehensive approach is indispensable to improve the outcomes of patients with postoperative wound dehiscence.
Skrining dan Edukasi Status Gizi melalui Pengukuran Lingkar Tubuh dan Lemak Subkutis di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat: Nutritional Status Screening and Education through Body Circumference and Subcutaneous Fat Measurement in Kota Bambu Subdistrict, West Jakarta Limas, Peter Ian; Santoso, Alexander; Goh, Daniel; Mahendri, Ryan Daffano Putra; Philo, Andrew
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.114

Abstract

Pendahuluan: Status gizi merupakan faktor penting dalam menentukan kesehatan masyarakat karena berhubungan erat dengan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Namun, penilaian status gizi sering kali hanya terbatas pada indeks massa tubuh (IMT), padahal distribusi lemak tubuh juga berperan besar dalam menentukan risiko kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran sekaligus melakukan skrining status gizi melalui pengukuran antropometri sederhana. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA) yang mencakup edukasi kesehatan, pemeriksaan lingkar tubuh (perut, panggul, leher, lengan atas, dan betis), serta pengukuran tebal lemak bawah kulit menggunakan kaliper pada delapan titik tubuh. Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan rata-rata lingkar perut 89,21 cm, panggul 98,93 cm, dan rasio pinggang-panggul 0,90, dengan variasi ketebalan lemak subkutis pada biseps, trisep, suprailiaka, dan skapula. Histogram distribusi memperlihatkan pola lingkar tubuh yang relatif normal, namun tebal lemak bawah kulit menunjukkan sebaran lebih lebar dengan outlier pada nilai tinggi. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pengukuran antropometri menyeluruh sebagai langkah deteksi dini risiko metabolik. Skrining berbasis antropometri sederhana dapat diintegrasikan dalam program komunitas sebagai upaya preventif sekaligus mendorong penerapan pola hidup sehat.