Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Julhadi Julhadi; Zul Akhyar; Desi Asmaret; Saifullah SA
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1533

Abstract

Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan himpunan norma hukum yang disusun sebagai pedoman dalam penyelesaian perkara perdata Islam di lingkungan peradilan agama di Indonesia. KHI lahir sebagai respon terhadap kebutuhan akan kodifikasi hukum Islam yang aplikatif dan kontekstual dalam sistem hukum nasional. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis posisi KHI dalam sistem hukum Indonesia, menelaah dasar hukum pembentukannya, serta mengevaluasi penerapannya dalam praktik peradilan. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, studi ini mengkaji peraturan perundang-undangan, literatur hukum, serta putusan pengadilan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa KHI, meskipun bukan produk legislasi formal (undang-undang), memiliki kekuatan hukum mengikat sebagai pedoman resmi bagi hakim peradilan agama. Namun demikian, terdapat tantangan dalam penerapannya, terutama terkait dinamika sosial dan perkembangan pemikiran hukum Islam kontemporer. Oleh karena itu, diperlukan upaya revisi dan penyempurnaan KHI agar tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan hukum masyarakat muslim di Indonesia.
ADAPTASI BUDAYA DAN ISLAM PROGRESIF: PERAN MUHAMMADIYAH DALAM TRANSFORMASI MASYARAKAT JAWA Harli Selian; Rinaldi; Desi Asmaret; Dasrizal Dahlan
TADBIRUNA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2023): TADBIRUNA
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51192/jurnalmanajemenpendidikanislam.v4i2.1578

Abstract

Muhammadiyah, as a modernist Islamic organization in Indonesia, has significantly contributed to transforming Javanese society since its founding in 1912 by KH Ahmad Dahlan. This article explores how Muhammadiyah addresses the complexities of local cultural dynamics through cultural adaptation and a progressive approach. Grounded in pure Islamic values, Muhammadiyah leverages positive cultural aspects, such as communal cooperation (gotong-royong), to strengthen its mission. Its strategies include modern education, religious practice reforms, and inclusivity principles, creating harmony between Javanese traditions and Islamic teachings. This study employs a descriptive-qualitative analysis with a historical approach to investigate Muhammadiyah's contributions in education, health, economic empowerment, and women's roles through Aisyiyah. The findings reveal that Muhammadiyah not only succeeded in purifying Islamic teachings but also built a more progressive, tolerant, and inclusive society. By emphasizing contextualization, Muhammadiyah created a relevant and adaptive model of Islamic propagation, establishing itself as a symbol of progressive Islam responsive to socio-cultural changes in Java
INTELIGENSIA/CENDEKIAWAN ISLAM SEBAGAI SEBUAH KELAS SOSIAL BARU: SEBUAH HARAPAN DAN PERJUANGAN EKSISTENSI DAN JATI DIRI SERTA BEBAN SEJARAH DAN MASA DEPAN Yuldafriyenti Yuldafriyenti; Tamrin Kamal; Saifullah Saifullah; Desi Asmaret; Julhadi Julhadi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41039

Abstract

Inteligensia atau cendekiawan Islam berada dalam posisi unik untuk membantu umat Islam menghadapi kesulitan-kesulitan modernitas. Salah satu perkembangan signifikan dalam dinamika sosial dan intelektual umat Islam adalah munculnya ulama Islam sebagai kelas sosial baru. Baik secara politik maupun intelektual, para pemikir Islam Indonesia telah mengalami pasang surut. Metode yang digunakan yakni Kualitatif dengan desain studi literature atau library research. Kemudian dilakukan dengan meninjau sumber bacaan yang terkait dengan topik penelitian yang dibahas, serta dengan meninjau studi dokumen dari penelitian sebelumnya yang berkaitan konsep. Data dikumpulkan dengan meliat buku, jurnal ilmiah serta sember digital. Hasil penelitian membahas mengenai pengertian inteligensia atau cendekiawan, peran cendekiawan muslim. Cendekiawan Islam dapat dipandang sebagai kelas sosial baru yang terbentuk melalui proses pendidikan modern, baik di lembaga-lembaga Islam tradisional maupun institusi pendidikan sekuler.
Teologi Al-Ma'un dan Gerakan Islam Berkemajuan: Rekonstruksi Pemikiran KH Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah Apris Yaman; Desi Asmaret; Julhadi; Syaifullah
Journal of Social, Educational and Religious Studies Vol. 2 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Suria Academic Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the thought of KH Ahmad Dahlan in shaping the Islamic reform movement through Muhammadiyah, focusing on the concepts of tajdid, Al-Ma’un theology, and their relevance to the development of Progressive Islam. The research employed a qualitative approach using a library research method based on primary and secondary sources related to KH Ahmad Dahlan’s thought, the history of Muhammadiyah, and scholarly studies on Islamic reform in Indonesia. Data were analyzed through content analysis and a historical-interpretative approach to examine the relationship between religious ideas, social transformation, and the institutionalization of Islamic movements. The findings reveal that Ahmad Dahlan’s concept of tajdid was not limited to the purification of Islamic beliefs and practices but was also directed toward social transformation through education, healthcare services, philanthropy, and community empowerment. Al-Ma’un theology served as the primary foundation linking individual piety with social responsibility, which was subsequently manifested through Muhammadiyah’s various charitable and social institutions. The study concludes that KH Ahmad Dahlan’s thought represents a model of transformative Islam that integrates spirituality, rationality, and social concern. This model remains highly relevant in addressing contemporary challenges, including educational development, social inequality, digital transformation, and the strengthening of religious moderation.
Transformasi Gagasan Pendidikan Islam dalam Lintasan Sejarah: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Canduang) Syofrianisda; Saifullah; Desi Asmaret; Julhadi
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 6 No 1 (2025): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v6i1.395

Abstract

Kajian ini membahas transformasi gagasan pendidikan Islam melalui telaah kritis terhadap pemikiran Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Canduang), seorang ulama terkemuka Minangkabau yang berperan besar dalam pembentukan sistem pendidikan Islam lokal pada abad ke-20. Dengan pendekatan historis-analitis, studi ini mengeksplorasi bagaimana Inyiak Canduang memformulasikan konsep pendidikan yang berlandaskan tauhid, memperkuat nilai-nilai akhlak, serta mengadaptasikan tradisi Islam dengan adat Minangkabau dalam merespons tantangan zaman kolonial dan modern. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan beliau mengalami transformasi dinamis: dari model tradisional berbasis surau menuju model pendidikan formal yang lebih terstruktur, tanpa melepaskan akar-akar budaya lokal. Telaah ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya mengenai peran inovatif ulama lokal dalam menghadirkan sintesis antara agama, adat, dan modernitas.